Rabu, 30 Desember 2009

Wajah-wajah Senja

Cerpen Irfan Hidayatullah
Dimuat di Republika, Minggu, 27/12/2009



Aku di belakang mereka. Sama-sama antre. Bedanya, aku pake dasi, mereka pake seragam satpam. Aku mendengar apa yang mereka perbincangkan. Aku mendengar apa yang meraka inginkan. Aku juga mendengar petugas koperasi itu sedikit tidak ramah menerima mereka. Tapi, aku hanya bisa membayangkan wajah mereka saat berbicara di antara mereka dan berbicara dengan petugas koperasi itu.

Hari ini sebenarnya tidak terlalu sore, bahkan masih jauh dari waktu pulang kerja. Tapi, ruangan ini senja, bahkan seperti akan datang badai. Padahal, aku hanya mendengarkan mereka berbicara, tanpa melihat wajah mereka. Ya, aku di belakang mereka. Sama-sama antre. Bedanya, aku pake dasi, mereka pake seragam satpam.

"Pinjaman sebelumnya masih tersisa lima ratus ribu, Kang. Dan, potongan gaji Akang tidak hanya dari koperasi kan? Tinggal berapa sekarang gaji, Akang?" petugas koperasi itu bertanya retoris dengan nada minor. Dan, tak ada jawaban.

Aku mendengar suara tergeregap dan tak jelas keluar dari mulut satpam pertama. Satpam kedua hanya pasrah menunggu giliran berbincang dengan petugas koperasi yang nyaris judes itu. Petugas koperasi itu cantik sebenarnya, tapi di dahinya menggelayut senja yang sama, bahkan lebih senja dari nada bicara kedua satpam itu.

Hampir lima belas menit mereka tak beranjak dari depanku. Dan, aku sadar bahwa aku sedang antre. Aku di belakang mereka. Aku merasa sama dengan mereka. Sungguh, hanya mereka memakai seragam satpam dan aku pakai dasi.

Begitulah dia tak berdaya dengan kenyataan yang ada. Dia berada di antara mereka. Ibunya dan kedua adiknya yang perlente semua. Ibu mereka selalu mendapatkan tawaran hadiah dari kedua adiknya. Semua akan dikabulkan apa pun bentuk permintaan ibu, bahkan bila ibu meminta naik haji lagi atau sekadar umrah. Namun, anehnya, sang ibu tak pernah meminta apa pun. Ibunya hanya tersenyum padanya. Padanya seorang.

Kini, sang ibu terbujur sakit. Napasnya tinggal satu-satu. Dan, yang ada di depan ibu tua itu bukan kedua adiknya yang perlente itu, tapi dia dengan sayap senyapnya. Saat itu, siang terik di luar sana, tapi senja terpampang jelas di wajahnya, tidak di wajah ibunya yang telah sumerah. Napas satu-satunya berulaskan senyum. Ibaratnya, senja itu telah disaput oleh keindahan lembayung yang berwarna oranye. Matahari yang akan turun ke bawah bumi menyisakan keindahan yang membuat orang yang melihat fenomena tersebut menghela napas dan kemudian mengeluarkan HP masing-masing yang pada umumnya telah berkamera itu. Mereka akan mengabadikan momen pergantian matahari dan bulan itu dengan lega dan penuh keindahan. Namun, tidak dengan senja yang ada di wajahnya.

"Ibu harus segera dirawat di rumah sakit agar segera diambil tindakan medis," ujar laki-laki dengan dahi senja itu pada ibunya yang ternyata masih bisa diajak bicara, tapi menjawab terbata itu.
"Tidak usah, Komar. Biar ibu rela dijemputnya malam ini."
"Ibu mau menunggu mereka agar ibu bisa dibawa ke rumah sakit. Agar ibu bisa dibawa dengan mobil pribadi, padahal saya bisa pinjam mobil tetangga untuk membawa ibu ke sana."
"Jangan bodoh, Komar. Kamu tahu selama ini ibu tak mengharapkan harta mereka karena ibu tahu dari mana harta itu mereka dapatkan. Sudahlah, anakku, ibu sudah siap menunggu saat itu tiba."
"Tidak. Ibu harus ke rumah sakit saat ini juga!" Ia beranjak dengan tergesa.

Kini, giliran satpam kedua berhadapan dengan petugas koperasi itu. Dan, petugas itu tak banyak berkata, selain menyodorkan selembar kertas hasil kotretan. Di sana, tertera Rp 100.000. Si satpam kedua ini hanya mengangguk pasrah seraya menandatangani berkas peminjaman uang walau gaji per bulannya hanya tinggal seratus ribu. Sungguh, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Saat satpam itu berbalik, aku juga melihat senja yang siap badai di sana.

Kini, ketiga kakak beradik itu kumpul di ruang tunggu sebuah rumah sakit. Mereka saling bisu. Wajah sang kakak tak ramah melihat adik-adiknya yang perlente itu baru saja melecehkannya. Sementera itu hiruk pikuk para penunggu dan erangan sakit para pasien kelas tiga seolah satu-satunya suasana yang tercipta.

"Kang, please, buka pikiran kolot Akang. Yang terpenting kesehatan ibu, Kang. Biar ibu dipindahkan ke VIP dan kami yang menanggung biaya itu semua," salah satu adiknya berkata dengan sungguh, lirih, di telinga kanan sang kakak.

"Yang menghendaki ini semua ibu. Aku hanya menuruti kehendak ibu. Jika kalian mampu, silakan lobi ibu agar mengikuti kehendak mulia kalian," kata sang kakak sambil beranjak meninggalkan mereka berdua.

Kedua adik kakak itu saling berpandangan. Beberapa menit kemudian, mereka beranjak menemui sang ibu yang tergolek lemas di salah satu ranjang di antara deretan ranjang yang berpenghuni orang sakit, di antara berbagai erangan dan bau bacin badan orang-orang sakit serta para penunggunya. Para penunggu yang bergeletakan di bawah ranjang besi itu mengipas-kipas badan mereka karena hawa yang memang panas. Beberapa di antara penunggu itu ada yang membacakan Yasiin di telinga pasien yang ditunggunya. Dan, pasien itu megap-megap.

Kedua kakak beradik yang berpakaian perlente itu menghampiri sang ibu dangan wajah yang hampir muntah karena jijik melihat fenomena kelas tiga di rumah sakit itu. Di wajah sang ibu, senyum mengembang menyambut mereka.
"Aku tahu apa yang akan kalian ucapkan, tapi ibu tetap akan seperti ini. Ibu ikhlas."
"Iya. Kami mengerti, Bu. Tapi, mengapa dengan kami? Izinkan kami berbakti kepada ibu dengan harta dan perhatian kami. Mengapa ibu begitu mengandalkan dan--maaf--mengagungkan Kang Komar, padahal kami melihat ia tersiksa dengan beban membiayai kesembuhan ibu. Lagi pula, bagaimana ibu bisa sembuh di ruangan yang kacau seperti ini? Ibu berhak mendapatkan hak yang lebih dari kami berdua. Kami pun berhak mendapatkan pengakuan ibu, kasih sayang ibu, dengan menerima perhatian kami."
"Ah, sudahlah. Ibu hanya mengikuti naluri tua ibu. Sudahlah. Kalian cukup mendoakan ibu. Jika Allah berkehendak menyembuhkan ibu, di kelas berapa pun ibu dirawat, insya Allah akan sembuh."

Kata-kata itu seolah mengunci segala kemungkinan yang bisa diupayakan. Mata sang ibu mulai terpejam, tanda mereka harus meninggalkannya. Ia telah menutup dialog itu. Sang adik kakak dengan pakaian perlente itu meninggalkan sang ibu dengan wajah senja mereka. Senja tanpa saputan lembayung.

"Sudahlah, Dik. Kita sudah berupaya. Apa peduli kita dengan wanita tua yang keras kepala itu dan apa peduli kita dengan si dosen kere yang dianakemaskan ibu kita."

Kini, giliranku berhadapan dengan petugas koperasi itu. Petugas yang cantik sebenarnya, tapi senja bergelayut di matanya. Baru saja satpam kedua telah pergi dengan amplop di tangannya dan seulas senyum getir di wajahnya.

"Wah, kok tumben pake dasi, Pak. Habis nyidang, ya?" sapa petugas koperasi itu berusaha ramah, tapi kejudesannya tak bisa tertutupi.
"Iya, nih, Teh. Anu, saya mau bawa uang pinjaman. Aplikasinya sudah saya isi kemarin."
"Tapi, gaji Bapak akan habis karena potongan bank cukup besar."
Aku tertegun mendengar kalimat terakhir. Aku hanya melemparinya senyum.
"Nggak apa-apa, Teh. Sudah terlalu biasa bagi dosen III b seperti saya. Yang penting kan lancar mengembalikannya. Iya, nggak?"

Dia menengadah melihat televisi di ruang tunggu kelas tiga rumah sakit itu. Televisi 19 inci yang disimpan di dinding atas salah satu sisi ruang tunggu itu. Televisi yang disangkari besi begitu kokoh dengan gembok besar di ujung kanan bawahnya itu. Televisi yang sudah agak buram warnanya itu. Televisi yang sedang mengabarkan ditangkapnya petugas KPK karena diduga menerima suap.
Dan, kini, wajahnya betul-betul senja.

Senin, 21 Desember 2009

Bulan Merah




Cerpen Aveus Har
Dimua di Suara Pembaruan, Minggu 20/12/2009


Masih terlalu siang untuk bulan. Matahari sedang hendak beranjak. Masih terlalu siang pula untuk Pardi. Para pedagang sedang hendak menggelar lapak. Masih terlalu dini memang. Hari baru menjelang Ashar.

Jumilah, istri Pardi, pun sudah mengingatkan suaminya tadi. Tapi mana mau Pardi peduli? Dia bukan orang yang suka menunda-nunda. Dari pulang kerja sebelum minum teh hangat bikinan sang istri, dia sudah langsung mengajak bicara serius. Lalu segera ganti baju dan celana. Jumilah juga dandan cepat-cepat karena Pardi menunggu di ambang pintu. Dia memainkan kunci kontak motornya yang berbandul kelentingan. Bunyi tang-tingnya membuat Jumilah merasa diburu-buru.

Begitu sampai di Jalan Kemakmuran, Jumilah mencibiri punggung suaminya. Dalam hatinya dia bilang, "Rasain, dibilang belum pada buka, ngotot...." Tapi lengannya tetap mengait perut Pardi yang masih kempes.

Pardi tidak bilang apa-apa. Dia juga tidak mau mengakui apa-apa. Tidak terlalu penting kesalahannya kali ini. Masih ada hal yang jauh lebih penting. Lebih genting. Meski perutnya belum diisi, bukan masalah itu di pikiran Pardi.

Bulan memang terlalu dini. Toh akhirnya matahari beranjak juga. Pardi juga terlalu dini. Toh akhirnya perutnya akan terisi juga. Warung nasi urap yang hanya lesehan tikar di atas trotoar, selaksa hidangan istimewa saat lapar.

Pardi memesan seporsi. Istrinya tidak. Masih kenyang katanya. Tadi pagi dia memasak sambal goreng ati kesukaan Pardi. Biasanya dia menunggu suaminya pulang. Tapi tadi Pardi SMS bilang tidak makan siang di rumah. Jumilah mengira ada rapat di kantor suaminya. Biasanya ada nasi kateringnya.

Ternyata Pardi belum makan. "Siang ini, sampai nanti malam kita makan di luar."

Jumilah kaget. "Masakanku?"

"Kita kirimkan ke tetangga-tetangga."

Jumilah protes. Ini tidak adil, katanya. Dia sudah capek-capek masak istimewa buat suami tercinta tapi malah akan dibagi-bagi ke tetangga. Dia berkata-kata dengan mata berkaca-kaca.

Pardi tahu dirinya telah menyakiti sang istri. Dia menarik napas panjang seperti menyesal. Dengan perlahan dia bertutur ihwal keputusannya. Tangis Jumilah malah tumpah. Bukan karena kengototan Pardi untuk makan di luar. Justru karena tahu Pardi punya alasan yang dia restui. Biarlah masakan istimewa kali ini dibagi-bagi.

"Tapi warungnya belum pada buka jam segini," kata Jumilah.

"Sudah," yakin Pardi.

"Kalau belum?"

"Ditunggu."

"Tidak kelaparan?"

"Tidak apa."

Jumilah tahu Pardi keras kepala. Tapi hatinya lembut seperti sutera. Itu yang membuat Jumilah suka, lalu jatuh cinta.

Sekarang Pardi lahap mengunyah nasi urap. Jumilah memandangi penjualnya. Wanita tua membuat dia teringat ibunya di kampung. Bersama siapa ibunya tiap hari? Jumilah satu-satunya anak. Itupun anak pungut dari orangtua yang tega meninggalkan bayinya di samping tempat sampah. Ibunya sudah bercerita sebelum dia bertanya.

Jumilah tidak mau mencari orangtuanya. Ibu adalah orangtuanya. Yang tidak menikah dan menjadi perawan tua. Jumilah tidak tega meninggalkan ibunya di kampung. Tapi Pardi suaminya itu diterima jadi pegawai negeri di sini. Sedang ibunya tidak ingin pergi.

Apakah ibu penjual nasi urap ini punya suami?

"Sudah tidak tahu di mana, Nak," kata ibu itu. Matanya sembab. Lalu mengalur tentang sebab. Suaminya pergi sebagai buronan polisi. Dia membacok majikannya sampai mati.

Dia punya dua anak. Perempuan semua. Yang satu menikah dan transmigrasi. Tidak pernah kembali. Yang satu punya anak, tapi tidak punya suami. Nasi urap ini yang membiayai.

Kelopak Jumilah memanas. Pardi tahu. Dia memandang istrinya. Matanya bilang, jangan menangis. Hidup memang sering tidak adil. Tapi bisa apa mereka?

Pardi membayar. Kembaliannya tidak dia minta. Hitung-hitung memberi derma. Semoga bisa menebus dosa yang tidak dia berdaya.

Beberapa meter dari warung nasi urap, Pardi menghentikan motor di depan gerobak buah. Gerobak ini turun di jalan. Tidak di trotoar. Jalan itu menjadi sempit sedang kendaraan semakin banyak di kota ini. Bayangkan saja, lima ratus ribu bisa membawa motor gres dari dealer. Tak peduli bulan-bulan besok kepayahan dikejar-kejar setoran.

Jumilah memilih apel. Belum tentu setahun sekali dia makan apel. Pardi membayarnya tanpa menawar. Padahal dia tahu itu kemahalan. Hanya terpaut sedikit dengan harga di supermarket. Di sana memang mahal karena butuh banyak biaya. Anehnya laku juga.

Sang penjual sedang menggerutu dengan peringatan pemda. "Nyari makan saja diuyak-uyak. Mbok mendingan ngasih duit buat betulin gerobak. Ini gerobak sudah reyot, mana bisa didorong-dorong?"

Pardi tidak ikut nimbrung. Dia sekadar mendengarkan. Laki-laki berkumis tebal yang menjadi teman bicara sang penjual buah menimpal, "Kalau saya kemarin jadi dewan, tidak bakalan seperti ini."

Pantas Pardi merasa pernah melihat orang itu. Pasti dari gambar-gambar reklame pemilihan DPR lalu.

Mata Jumilah berkaca-kaca.

Bulan masih terlihat samar.

*

Usai shalat ashar, Jumilah mengajak masuk warung kacang ijo. Kali ini sang istri yang makan. Pardi masih kenyang. Dia hanya memperhatikan pasangan penjual kacang ijo itu. Ditaksir baru dua puluhan usianya. Yang perempuan menimang anak balita.

Pardi belum punya anak. Istrinya sudah pernah hamil, tapi keguguran. Beberapa kali. Penjual itu sudah punya dua anak. Mereka kawin muda. Anak pertama diasuh nenek di rumah.

Cukupkah penghasilannya?

"Alhamdulillah bisa buat makan."

"Tidak pingin kerja jadi pegawai?"

"Nggak punya duit buat sogokan."

"Kan tidak boleh jualan di sini?"

"Udah telanjur banyak pembeli. Kalau pindah nanti malah sepi."

"Kalau kena razia...."

"Lillahita'alah, Pak....:

Istri Pardi berkaca-kaca. Pardi tahu kenapa. Tapi tidak berdaya. Di langit, bulan pucat, seperti mayat. Motor Pardi melaju lagi.

Beberapa meter, menyeberang jalan, Pardi berhenti. Dia memperhatikan aneka kerajinan tangan yang dihampar pada kain terpal. Dia membayangkan rumahnya, dan mengira mana yang cukup layak untuk hiasan perumahan sederhana miliknya. Yang angsuran kreditnya masih lama.

Kerajinan tangan itu tidak terlalu bagus menurutnya. Harganya memang murah.

"Buatan anak-anak, Pak."

"Anak-anak mana?"

"Tetangga. Sebagian putus sekolah."

"Putus sekolah?"

"Iya. Saya cuma ngumpulin mereka di sanggar. Silakan kalau mau main kapan-kapan. Ini alamatnya."

"Sudah lama?"

"Belum. Tadinya kerja di pabrik, di-PHK. Bangkrut."

"Laku?"

"Lumayan, Pak. Bisa buat ulur makan tiap hari. Tidak tahu nanti-nanti. Katanya sekarang tidak boleh di sini."

Air mata Jumilah merembes. Penjual kerajinan tangan memandangnya bingung.

"Tidak apa-apa, tadi kelilipan."

Bulan redup. Ada mendung. Angin berkesiut.

u

Usai shalat maghrib di surau kecil belakang pertokoan, mereka duduk- duduk di emper toko yang tidak buka. Tidak jauh dari penjual gorengan pitate-pisang, tahu, tempe. Hanya diam. Hanya kembara pikiran.

Malam ini bulan bertahta. Tapi muram.

Usai shalat Isya', Jumilah mengajak masuk ke warung mi ayam. Memesan dua porsi, satu tanpa saus. Pardi tidak suka saus. Tapi dia menambahkan banyak sambal cabai. Mukanya sampai memerah karena kepedasan.

Jalanan di depan kian ramai. Kian sesak. Nyala terang lampu mengalahkan sinar bulan. Bulan menyepi sendiri. Angin kian berkesiut. Tapi keramaian tak terhenti. Suara musik menghentak dari penjual CD bajakan. Mal di sisi jalan sana menarik orang bagai nyala lampu menarik laron.

Deretan kaki lima mengais sisa. Jika tidak di sini, lalu di mana? Sedang laron tak pernah mencari lampu mati. Pardi paham sekali. Dadanya ngiris sekali.

"Kita pulang saja, Mas."

"Tidak sampai malam?"

"Tidak kuat." Matanya sembab.

"Besok mereka sudah tidak ada."

"Nanti di rumah saja ngomongnya."

"Dosa aku...."

"Mas...."

*

Jumilah menangis sesenggukan sepanjang perjalanan pulang. Saat berhenti di lampu merah, beberapa orang di sekitar memandang aneh. Pardi tidak hendak menegur. Dia tahu Jumilah peka perasaannya. Itu juga yang membuat dia dulu suka. Lalu jatuh cinta. Jumilah tak pernah sayang menyedekahkan uang. Meskipun kehidupan mereka belum begitu lapang. Yang penting dada selalu lapang. Begitu pernah dia bilang.

Baru setelah sampai di rumah, air matanya menuumpah ruah. Meski tidak terdengar suara. Dan Pardi tahu memang begitulah istrinya. Ketika melihat televisi menayangkan penderitaan orang papa, dia menangis. Padahal, tayangan itu sudah direka-reka penuh drama.

Apalagi sekarang. Dia merasa menjadi bagian orang yang sering disewotinya. Orang yang sewenang-wenang pada kaum papa. Orang yang makan dari penderitaan orang.

Dada Pardi buncah. Di mejanya, tergeletak salinan surat ber-kop instansi tempat kerjanya. Besok ada razia di Jalan Kemakmuran. Sesuai perda nomor sekian tahun sekian. Atas dasar kebersihan, keindahan dan ketertiban.

Di bawah surat itu terbubuh tanda tangan. Dengan nama. Dan jabatan. Pardi Susanto, SE. Kepala Satpol PP.

Di langit, bulan merah. Hujan mengepung. Enggan beranjak. *

Minggu, 20 Desember 2009

Bau Bangkai

Cerpen M. Irfan Hidayatullah
Dimuat di Pikiran Rakyat 13/12/2009



Seluruh penghuni rumah heboh dengan bau bangkai yang kucium. Padahal aku baru saja sampai rumah setelah hampir satu semester tidak pulang karena sibuk kuliah dan melakukan aktivitas kemahasiswaan lainnya, di antaranya demonstrasi. Tentu saja semua kaget, apalagi saat sekonyong-konyong aku mengajak semua orang di rumah untuk menghentikan segala aktivitas masing-masing selain mencari sumber bau bangkai itu. Ibu, adik-adikku, dan para pembantu kami yang berjumlah sekitar lima orang mendadak ikut heboh.

"Aku di ruang tamu, ibu di kamar, dan adik-adik di kamar masing-masing, Mang Jirin di lantai dua, Bi Munah di dapur, Mang Komar di taman belakang, Bi Asih di ruang tangah, dan Mang Koko di atap! Pokoknya hari ini harus ditemukan di mana sumber bau bangkai itu!" Aku memimpin pencarian. Dan mereka tak ada yang menolak. Kami pun menyebar ke tempat masing-masing untuk mencari sumber bau itu.

Tentu saja aku tahu mereka bingung, tetapi aku lebih bingung lagi karena bagaimana bisa bau bangkai yang menyengat itu tak mengganggu mereka. Kami belum sempat kangen-kangenan. Aku belum sempat memeluk ibu dan mencium tangannya. Adik-adikku juga belum sempat bersalaman dan mencium tanganku. Dan para pembantu yang sangat akrab denganku itu belum sempat bertegur sapa dan bercanda denganku. Bau bangkai di rumah kami mengalahkan itu semua. Namun, anehnya mereka tak mencium bau itu sama sekali.

Ayahku tentu sedang tidak ada. Walaupun hari ini hari Minggu, ia tetap tidak punya waktu untuk keluarga kecuali secara tiba-tiba ia mengajak kami berlibur ke suatu tempat yang tidak kami sangka-sangka. Semuanya disesuaikan dengan tampat pertemuan ayah dengan para kliennya. Ah, walaupun demikian ayah tetaplah pahlawan bagi kami karena dari keringatnyalah kami memiliki rumah besar dan nyaman dan bisa mendapatkan fasilitas hidup yang serba cukup bahkan mewah. Konon, bahkan tidak hanya kami yang ayah buat bahagia, tetapi ribuan orang. Ia mempekerjakan ribuan karyawan di perusahaannya yang memiliki cabang di hampir lima kota di negeri ini. Ah, ayah adalah sosok yang selalu kami rindukan. Ia seperti pahlawan yang fotonya sering ditempel di tembok-tembok sekolah dasar di negeri ini.

Begitu juga saat ini. Aku sedang memandangi fotonya yang tengah bersalaman dengan presiden pada suatu acara kenegaraan. Wajah ayah tidak tampak jelas karena ayah hampir membelakangi kamera. Hanya, kami betul-betul yakin bahwa itu adalah ayah. Itu betul-betul sosok ayah yang kami kenal. Posturnya, caranya membungkuk (ia memang sering membungkuk terutama pada orang yang jabatannya lebih tinggi, apalagi pada presiden), bentuk kepalanya yang lebih besar dari umumnya kepala, dan dari rambutnya yang sudah mulai kelabu. Ah, kami bangga sekali dengan foto ini, dan ibu (atas perintah ayah) selalu menyuruh Bi Asih merawat foto tersebut; membersihkannya dari debu dan mengilatkannya setiap hari. Foto itu memang hampir keramat bagi kami karena sepanjang keturunan, baik dari ayah maupun dari ibu, belum ada yang berkesempatan bersalaman dengan presiden. Betapa bangga kami. Bangga pada segala nikmat yang diberikan-Nya pada kami. Nikmat yang tidak semua orang mendapatkannya. Dan tentu saja, nikmat mempunyai ayah seperti ayah kami yang maju, kaya, dan berwibawa.

Tiba-tiba semua orang yang tengah mencari sumber bau itu sudah ada di belakangku dan semua fokus pada yang kulakukan. Ibu melihatku sambil geleng-geleng kepala, adik-adik berkacak pinggang, para pembantu pada bengong. Kini, aku tengah memegang foto itu dan mencium foto itu dari berbagai sisi dan sudutnya. Dan aku mau muntah. Bau bangkai ternyata bersumber dari foto itu. Dan sesuatu mendesak dari perutku menuju kerongkongan. Aku berlari ke kamar mandi, menyibak semua yang tengah melihat dengan aneh diriku lalu hampir semua isi perutku keluar di kamar mandi. Kepalaku serasa berputar. Rasa enek dari bau bangkai itu betul-betul tak bisa kutahan lagi. Bau bangkai yang baru kurasakan selama hidupku.

Setelah selesai dengan urusan perut, aku kembali ke ruang tamu dan foto itu. Aku melihat semua tengah membaui foto itu, seperti seekor kucing membaui benda yang disangkanya makanan. Namun, mereka saling pandang kemudian. Pandangan mata mereka begitu menyiratkan kepenasaran dan keanehan. Mereka geleng-geleng kepala. Lalu mata mereka melesatkan panah-panah ke arahku. Aku sekonyong-konyong lari ke kamar ayah dan ibu (lebih karena penciumanku menunjukkan bahwa ada sumber baru daripada karena panah pandangan mereka). Namun, bisa juga karena pandangan mereka yang memanah aku ingin segera membuktikan kebenaran tentang bau bangkai itu. Mereka mengejarku.

"Di sini bau bangkai itu semakin kuat, Bu! Ibu tidak menciumnya? Coba Ibu tengok lemari baju, pasti sumbernya di sana."

Tanpa menunggu tanggapan ibu, aku langsung mengobrak-abrik lemari baju. Namun, sebelum ibu angkat bicara memarahiku, dari luar pagar rumah kami mendengar suara klakson mobil ayah yang biasa ia bunyikan setelah memasuki gerbang otomatis rumah kami. Aku pun segera berlari ke bawah dan siap menyambut kedatangan ayah. Semua terasa hiruk-pikuk. Ada suatu yang tidak tentu di rumah kami. Keheranan dan ketidaktahuan menjadi penguasa saat ini. Hanya aku yang merasakan bau itu dan mereka seakan melihatku sebagai orang gila.

Begitulah, ayah sekarang telah berdiri di hadapan kami. Akan tetapi, kami tak bicara sepatah kata pun. Semua senyap, membisu, dan saling menunggu. Beberapa detik, beberapa menit. Dan aku nggak tahan lagi untuk memulainya, tetapi aku enggak sanggup melihat ayah yang pulang dengan kuyu , tak seperti ayah kami sebelum ini. Ia kini hadir sebagai sosok baru yang seolah menyerahkan semua beban tubuhnya ke bumi. Nglumruk, lungrah, dan seperti akan pecah.

"Jangan katakan Ayah terlibat kasus itu, Yah!" ujarku. Ayah diam.

"Maafkan Ayah, Nak... maafkan Ayah...." ia berkata dengan tertunduk. Di matanya tergenang air. Akan tetapi semua senyap, kecuali perutku yang kembali mual dan mendesak untuk dikeluarkan.

Dan aku tak bisa menahannya. Isi perut itu terus-terusan seperti berdemo dan ingin eksis. Ia menjebol dinding pertahananku. Lalu... Brusss... semua sisa isi perutku menyembur tepat di wajah Ayah. Semua menjerit.***

Bumi Sentosa, 11 November 2009

Pengembara Cinta

Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Lampung post 09/03/2008



SALAT asar berjemaah baru saja usai. Senja mulai menjelang. Burung-burung beterbangan mengepakkan sayapnya, lalu dengan riang hingap di pohon akasia di dekat pintu gerbang. Langkah kuayun keluar masjid. Menuruni anak tangga demi anak tangga. Betapa terasa senja hari ini sangat indah, ada pelangi di ufuk barat setelah seharian Kota Medan diguyur hujan. Sambil menjinjing sandal, kuarahkan pandangan ke arah timur dekat pintu gerbang masuk masjid.

Seorang anak kecil berlari-lari gembira, tak jauh dari sana, seorang lelaki tegap dan seorang perempuan duduk di bawah pohon akasia yang rindang beralas koran, mungkin orang tua anak kecil tadi. Duuuh... Alangkah indahnya membentuk keluarga yang harmonis. Lamunanku jauh ke kampung halaman, menyeberangi pulau, Purwokerto. Kepada bapakku yang mulai tua tanpa Ibu yang melayani keperluan sehari-hari beliau, sejak dua tahun yang lalu. Ibu telah menghadap-Nya. Kepada kedua adik kembarku yang masih membutuhkan banyak biaya kuliah mereka di Yogyakarta. Ahh..

"Duuuh.. Gusti Allah, betapa, indahnya menikmati kesejukan di sore ini, apalagi bila telah memiliki keluarga seperti mereka yah?" Gumamku sendiri.

"Mau disemir, Pak?" tanya seorang bocah penunggu sepatu.

"Tidak," aku tersentak kaget dan menggeleng lemah.

Aku berlalu darinya. Beginilah bila pengangguran semakin banyak. Di depan masjid pun menjadi sasaran empuk mencari pekerjaan. Menjaga sandal dan sepatu, menyemir menjadi alternatif demi sesuap nasi. Kembali kuayun langkahku menuju pintu keluar Masjid Al-Mashum, Masjid Raya Kota Medan.

***

"Gimana, Mas Roso? Jadi menikahnya? Kapan?" Firman sahabat karibku bertanya. Kantin di ujung belakang kantor ini cukup ramai bila menjelang zuhur tiba. Aku dan Firman sedang menikmati makan siang.

"Sepertinya belum sekarang. Ditunda."

"Kenapa?"

"Nanti deh aku ceritakan, jangan di sini, tidak enak kedengaran orang," ujarku sambil berbisik.

"Trus bagaimana dengan Ira? Kamu kan sudah mengatakan pada keluarganya akan segera menikahinya?"

"Entahlah," aku menghela napas dengan berat. "Ahh Ira, maafkan aku yang telah menyakiti hatimu," desahku dalam hati.

Aku jadi teringat pada Ira. Gadis yang cerdas, manis, ceria dan ramah. Aku telah memilihnya untuk menjadi pendampingku kelak. Tekadku bulat. Tepat setahun aku mengenalnya. Kami bertemu dalam sebuah acara pertemuan seluruh PNS Pemda se-Sumatera Utara. Singkat cerita, aku memberanikan diri untuk mengutarakan niatku padanya, juga pada keluarganya, sebelum aku pulang ke Purwokerto, tempat keluarga besarku bermukim. Tak kuduga, tak kusangka. Cerita berganti menjadi prahara. Keluargaku kini mencegah. Padahal sebelumnya via telepon keluargaku setuju saja bila aku melamar Ira. Apa pun gadis pilihanku kelak.

Dunia seakan sempit. Dadaku terasa sesak. Keluarga besarku berbalik 90 derajat dari restu semula. Aku dihadapkan pada dua pilihan pelik. Aku terkapar dalam masalah keluarga. Klasik memang. Tapi penting. Tak jauh dari ekonomi dan budaya. Jawa-Sumatera. Ah, kenapa harus ada perbedaan? Kenapa harus ada benturan? Inikah balasan dari tak matangnya aku menyosialisasikan tentang pernikahan dini? Oh tidak, aku sudah 28 tahun! Bukan anak ABG, tapi...

Kepalaku terasa berat. "Wahai Zat Yang Maha Mengetahui, betapa hamba menjadi serbasalah," ratapku pada-Nya. Sejak kepulanganku dari Purwokerta. Acara pernikahan Mbak Sari. Aku semakin pusing. Bagaimana cara mengatakan pada Ira dan keluarganya. Haruskah aku jujur pada mereka? Pernikahan batal? Ohh Tuhan. Padahal, harapan itu sudah kutumpahkan pada Ira dan keluarganya, pada keluargaku, pada harapanku. Terasa beban ini mengimpit, diburu keinginan menggenapkan setengah din.

"Hei! Roso, Kamu melamun ya?" suara Firman menyadarkanku. Bahuku diguncangnya berkali-kali.

"Kalo masih capek, nggak usah cerita dulu deh. Makan dulu, melamun aja." aku tersenyum malu pada Firman.

***

"So, kamu sakit? Katanya mau curhat? Ayo cerita," suara Firman.

"Aku malu mengatakannya padamu, pada Ira dan keluarganya. Apa kalian bisa maklum dengan alasanku nanti?" ceritaku pada Firman di kosannya. Malam minggu begini, biasanya kami habiskan menonton acara di Metro TV atau berdiskusi hingga menjelang malam.

"Masalahnya apa? Kamu kan belum cerita padaku sejak kepulanganmu dari Purwokerto. Apa keluargamu tidak setuju?" tanya Firman sambil mendekatiku yang duduk di atas kasurnya. Kamar berukuran 3 x 3 meter ini terlihat sangat rapi, dengan sigap Ia menekan remote control mengecilkan volume TV ukuran 14 inc tepat berada di depanku.

"Pada awalnya, keluargaku setuju saja aku menikahi Ira, dari cerita-ceritaku, telah menyakinkan mereka, tapi sejak kedatangan bulek-bulekku dari Jakarta, pandangan mereka terhadap rencana pernikahanku mulai berbeda, apalagi dengan permasalahan dalam keluargaku."

"Terus bagaimana?"

"Aku sendiri bingung. Keluargaku meminta aku menunda pernikahanku dengan Ira, minimal dua tahun lagi."

"Astaga naga, lama sekali? Apa tidak ada solusi lain? Lama-lama begitu bisa disambar orang tuh," goda Firman. Aku tersenyum kecut, tidak menanggapi guyonannya.

"Eehh maaf, tapi apa emang itu alasannya? Boleh aku tahu ada apa sebenarnya? Itu pun kalo kamu nggak keberatan."

Pada Firman seorang akhirnya aku bercerita. Keluargaku sederhana. Ketika mendiang ibu masih ada di tengah kami, berbeda sekali. Ibu yang penuh semangat, ceria dan sangat disegani dari pihak keluarga. Perekonomian keluarga relatif stabil walau ada riak di sana-sini. Tapi, kami semua bisa mengenyam bangku kuliah. Tragedi bermula ketika ibu akhirnya divonis menderita stroke. Beliau menderita sekitar 5 tahun. Kami sekeluarga berusaha mengobati ibu ke mana-mana, tapi Tuhan berkehendak lain. Semua upaya telah dicoba. Dari dokter, pijat refleksi, ramuan tradisional hingga mandi rempah-rempah. Ah, bayangan ibu seakan menjelma menjadi nyata. Saat itu, apa pun kami lakukan untuk kesembuhan ibu. Dulu kami memiliki 3 toko kelontong terbesar di kotaku. Perlahan akhirnya dijual hingga tinggal satu toko kecil untuk menyambung hidup.

Tahun berganti. Mbak Sari sudah menjadi PNS, aku sudah diterima kerja di Medan, kedua adik kembarku sudah kuliah. Selama ini biaya kuliah adikku berasal dari Mbak Sari dan beberapa sokongan keluarga besar ibu. Apalah besarnya dari penghasilan toko kecil di sudut pasar yang dikelola bapak yang sudah mulai sakit-sakitan untuk biaya kuliah mereka juga perekonomian di rumah sehari-hari. Tapi aku bersyukur, keluargaku tak terlilit utang.

Niatku ingin menjaga diri, maka kuputuskan untuk segera menikah. Ibadah kan? Tapi inilah skenario-Nya. Aku terbentur dalam sebuah pilihan. Oh bagaimana? Mbak Sari baru saja menikah, otomatis biaya kuliah kedua adik kembarku ada di pundakku. Nanti bila aku menikah, tentu kebutuhan biaya hidup akan meningkat, bagaimana dengan biaya kuliah adikku?

"Fir, aku bingung! Nggak mungkin aku melepaskan cita-cita adik-adikku kan?"

"Apa sudah kamu diskusikan dengan Mbak Sari? Berbagi untuk membiayai mereka berdua misalnya?"

"Belum, aku tidak berani membebani Mbak Sari lagi."

"Kamu sudah memberitahu Ira?"

"Sudah"

"Bagaimana tanggapannya?" Aku hanya diam tak kuat menceritakan pada Firman bagaimana ekpresi Ira yang kecewa atas keputusanku.

"Aku prihatin dengan masalahmu. Sungguh. Tapi, percayalah kita menikah pasti dengan jodoh kita. Bila pun kamu dan Ira berjodoh, entah sekarang atau bahkan 10 tahun yang akan datang pasti akan bertemu. Tapi tentunya, pernikahan itu akan lebih baik bila disegerakan, asal jangan terburu-buru. Bukankah bernilai ibadah? Menggenapkan setengah din lo, tapi dipikir secara jernih, emang sih kondisi keluargamu perlu juga dipertimbangkan, tapi apa tidak ada jalan keluar yang lebih baik? Atau, mau mengambil jalan tengah?"

"Apa?"

"Kawin lari!" jawab Firman enteng. Aku melempar sebuah bantal tepat pada wajahnya. "Uuh, diajak serius malah bercanda!"

Ya, kuingat semua ini baru saja ikhtiar. Mencari istri ternyata tidak mudah yah? Apalagi untuk menikah secara cepat? Sepertinya aku harus banyak belajar dari pengalaman ini. Ternyata aku masih mentah bicara soal pernikahan.

***

Universitas Islam Indonesia (UII) hari ini cukup ramai, dipadati oleh beberapa mobil, motor, maupun angkutan umum. Prosesi wisuda baru saja berakhir. Kebahagiaan terpancar dari balik wajah manis berkerudung hijau lumut. Yanti. Ia berjalan dengan anggun berselimut kebaya, dan toga di kepalanya.

"Mas, fotokan Yanti sama Bapak di depan sana yah!" ujar Yanti menunjukkan papan nama UII di arah barat, kira-kira 500 meter dari kami berdiri.

"Ayoo.. berdiri yang rapi yah! Sip! Satu, dua, tiga!"

Klik, Aku memotret mereka, ada juga Mbak Sari bersama suami dan putranya, Bapak, Yanto dan Bulek Darmi beserta keluarganya. Aku tersenyum bahagia melihat kebahagiaan mereka.

Aku datang sendiri. Tanpa istri dan anak di sampingku. Menjelang usia 32 tahun aku memang masih lajang. Belum menikah. Ya keputusan telah kupilih. Aku melepaskan proses pernikahanku dengan Ira beberapa tahun yang lalu karena pertimbangan masalah keluarga. Apalagi soal dana persiapan pernikahan, biaya kuliah adik-adikku dan lokasi yang jauh. Tak mungkin memaksakan kondisi keluargaku untuk segera menikahkan aku dengan Ira.

Apa kabar Ira sekarang? Kurasa dia telah berumah tangga sejak pengunduran diriku. Aku tak berani mencari tahu lagi tentang keberadaannya. Biarlah aku yang mengalah. Tak apalah, demi kebahagiaan keluargaku dan keberhasilan kedua adik kembarku. Dan impianku akan segera kugenapkan. Aku akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Penasaran siapa calonnya? Sttt masih rahasia.

Medan-Bengkulu, 20 Agustus 2004

(Ide cerita dari SMS tanggl 28 Desember 2003)

Tarian Tya

Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Lampung Post, Minggu, 01/112009


SEJAK pulang sekolah, Tya tak seperti biasanya. Wajahnya muram, senyum cerianya tak tampak sama sekali. Sayur asem, ayam goreng, dan kerupuk udang kesukaannya tak disentuh. Suara komputer pun tak terdengar dari kamarnya. Padahal Tya paling senang mengetik puisi-puisinya ataupun bermain games edukatif di komputernya. Tapi siang ini? Rumah terasa sangat sepi tanpa tawa ceria Tya. Ibu sampai bingung. Anak bungsu kesayangannya menjadi mendadak 'bisu'. Aih..ada apa ya?

"Tya, buka dong pintunya," pinta Ibu lembut saat mengedor pintu kamar Tya. Sepi. Tak ada sahutan.

"Tya, anak Ibu yang cantik, ayo dong buka! Cerita sama Ibu ada apa sih, kok diam saja? Dosa lo ditanya Ibu diam saja," bujuk Ibu lagi. Kali ini ia berhasil! Pintu terkuak. Terlihat Tya dengan mata sembap.

"Ada apa, Tya? Kenapa menangis? Maaf ya, tadi Ibu tidak sempat jemput jadi pesan dengan Tante Rima, biar bareng dengan Freni, kalian kan satu kelas. Apa Tya marah sama Ibu?"

Tya menggeleng lemah.

"Lalu kenapa, Sayang?" Ibu mengusap kepala Tya dengan sayang. Bukan langsung menjawab, Tya malah nangis tersedu-sedu. Ibu semakin bingung.

"Cerita dong, Sayang, kalau diam saja, Ibu jadi bingung!," desak Ibu. Akhirnya dengan terbata-bata Tya menceritakan permasalahannya.

"Tadi di sekolah Bu Rita guru Seni Budaya dan Keterampilan memberi pengumuman, kalau dua minggu lagi akan ada pengambilan nilai praktek menari. Semua anak kelas V dibebaskan mencari kelompok sendiri paling sedikit 2 orang dan paling banyak 3 orang. Teman-teman, Ima, Freni, semua mencari teman untuk belajar tari. Tapi Tya tidak dapat kelompok! Mereka tidak mau bergabung, kata mereka Tya tak mung..mungkin bi..bisa menari dengan bagus, hu..hu..," Tya kembali menangis.

Ibu memeluk Tya dengan erat. Ibu membiarkan Tya menumpahkan isi hatinya. Tak lama, baru ibu bicara.

"Sayang, itu bukan masalah besar, Tya kan bisa berlatih sendiri, nanti Ibu bantu deh menghapal gerakannya. Emm..Ibu ada ide! Bagaimana kalau Tya sendirian saja menarinya, tapi Tya harus berlatih dengan keras agar gerakannya bagus, sehingga teman-teman tidak lagi merendahkan kemampuan Tya, bagaimana?"

"Tapi, apa mungkin, Bu?" kata Tya ragu.

"Bukankah cita-cita itu harus diperjuangkan? Kita coba dulu, nanti kita cari CD tarian daerah, kita berlatih dengan sungguh-sungguh, bagaimana?" tanya Ibu.

"Lalu syarat paling sedikit 2 orang bagaimana, Bu?.

"Tenang, nanti Ibu menemui Bu Rita dan menceritakan alasannya. Oke? Ayo kita siap berlatih!

Tya. Chytia Dewi lengkapnya. Sejak lahir memiliki kelainan pada tenggorokannya, sehingga pernah menggunakan sonde selama dua tahun. Sonde adalah selang makanan yang dimasukkan lewat hidung hingga saluran pencernaan. Namun, atas kesabaran dan perawatan yang penuh kasih sayang dari Ibu, Tya sudah tidak menggunakan sonde sejak usia 3 tahun. Tapi pertumbuhan tubuhnya cukup terganggu.

Ia pernah diterapi untuk belajar duduk maupun berjalan. Suaranya pun agak sengau dan matanya minus tiga. Tapi Tya anak yang ceria, tidak minder dan ramah. Namun cepat sensitif bila ada yang menyinggung dan mengatai dia. Tya memang tidak sama dengan anak sebayanya kalau dilihat dari beberapa kekurangan yang dimilikinya, sehingga Ibu selalu menguatkannya, bahwa cita-cita hak semua orang, dan tak boleh menyesali keadaan yang telah Tuhan anugrahkan kepada kita, termasuk fisik yang tak sempurna.

Keesokan harinya, Ibu dan Tya meminta izin pada Bu Rita. Setelah mendapat izin, mereka langsung berburu CD tarian daerah. Setelah berkeliling toko, maka mereka sepakat memilih tari Rantak dari Minang Kabau Sumatera Barat.

Setiap hari selama 10 hari, Tya berlatih dengan giat. Ia tak mengeluh dengan gerakan tari Rantak yang kadang-kadang menghentak, melompat dan kadang memutar. "Wow, sungguh mengasikkan!," seru Tya senang.

"Lo Ibu bisa menari juga ya? Kok tak pernah cerita?" ujar Tya takjub dengan gerakan yang ditiru Ibu dari CD.

"Ibu dulu juga suka menari dan ikut dalam sanggar tari, tapi setelah kenal asyiknya menulis. Ibu berganti cita-citanya, bukan lagi jadi penari, tapi menjadi penulis he..he..," ujar Ibu sambil tertawa.

Tya pun ikut tertawa. Ibu bahagia melihat Tya sudah kembali ceria.

Tibalah pada hari yang ditentukan. Semua anak kelas V SD Pelita Harapan berkumpul di suatu ruangan, lengkap dengan pakaian tarian daerah masing-masing. Tya dengan percaya diri menggunakan pakaian Minang. Satu per satu setiap kempok menampilan tarian pilihannya.

Ima dan kempoknya menampilkan Tari Badana dari Lampung, Freni menampilkan tari Saputangan dari Maluku dan bermacam tarian daerah lainnya. Ada yang gerakannya kompak, ada juga yang salah gerakan. Sorak dan tepuk tangan mengiringi penilaian praktek menari itu.

Tibalah giliran Tya. Ia menari dengan sepenuh hati. Dari jauh Ibu memandang dengan haru. Gerakan Tya sungguh memukau.

Dengan keterbatasan fisiknya, Tya mampu menari dengan baik. Jarinya lentik menghentak sesuai dengan irama gendang. Kadang melompat dengan cepat, kemudian berganti gerakan lainnya. Teman-temannya melihat tak percaya.

"Wah..Tya juga jago menari ya," puji Ima.

"Tak disangka, ternyata Tya bisa menghapal gerakan tari Rantak yang banyak itu!" ujar Freni kagum.

"Maaf ya Tia kami pernah menolakmu bergabung di kelompok kami," ucap Ima menyesal.

Tya tersenyum. Dengan tulus memaafkan teman-temannya. Benar kata Ibu jika ingin berusaha, maka semua akan menjadi kenyataan! Seperti menari, siapa yang mengira Tya bisa menari dengan baik. Semua bisa dilakukan, asal giat berlatih. Ah, bahagianya! Di depan kelas, Bu Rita tersenyum bangga melihat keberhasilan Tya.

Nasi Goreng ala Fira

Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Lampung Post, 02/03/2008


TAHUN baru yang sepi. Ugh! Berkali-kali Fira mengeluh menyesali rencananya yang berantakan. Padahal akhir tahun 2006 begitu menyenangkan. Kumpul bersama Mama, Papa, Adik Fay dan Mbak Wulan pengasuh setianya. Namun, tahun ini? Akhir tahun 2007 yang menyedihkan! Hiks! Liburan semester I cuma di rumah aja! Papa dan mama ikut diklat sertifikasi guru di Wisma Haji Bandar Lampung. Mama guru SD dan papa guru SMP. Bayangkan, ditinggal sembilan hari! Huh sebelnya!

Tahun lalu, Fira bersama keluarga berkumpul merayakan tahun baru. Tepatnya sih bukan merayakan dengan pesta seperti orang biasanya, yang meniupkan terompet, main kembang api, atau lainnya, tapi diisi kumpul bersama keluarga, berdoa bersama agar tahun depan lebih baik lagi dan bersama-sama membuat rencana atau target prestasi di tahun baru. Namun, kini? Liburan dua minggu tidak jadi ke Jakarta! Padahal janji papa, kalau nilai Fira bagus akan jalan-jalan ke Ancol, eh malah di rumah aja dengan si kecil Fay yang baru TK nol besar, apa enaknya?

Si Fay enak, sebelum mama berangkat sudah ditinggali sekardus makanan ringan. Jajanannya banyak! Dimintain nggak boleh. Uh sebel deh!

"Kenapa sih Mama dan Papa mesti diklat barengan? Kan aku jadi korban." Fira mendengus kesal.

"Mbak Wulan!" teriak Fira. Ia baru saja bangun tidur. Kebiasaan jelek, kalau libur begini, pasti bangun kesiangan. Emang sih sudah salat subuh, tapi Fira tidak langsung bangun, apalagi terus mandi dan gosok gigi, Fira tidur lagi!

"Mbak di kamar mandi, lagi mandiin adik Fay!" teriak Mbak wulan. Kepalanya menyembul dari balik kamar mandi.

"Mbak..., Fira mau sarapan nich. Buatkan nasi goreng dong!" Teriak Fira lagi.

"Aduh, mbak lagi repot nih. Adik Fay baru mandi, belum makan juga. Atau makan nasi putih aja, Mbak sudah masakkan sayur asem dan ayam goreng, atau gimana kalo Fira buat sendiri aja yah?"

"Hah? Buat sendiri? Aku nggak bisa!" jawab Fira cepat.

"Ayo dicoba dulu, masak sih lupa resepnya, kan kita pernah buat bersama!" jawab Mbak Wulan. Kali ini Mbak Wulan sudah mengendong Adik Fay, keluar dari kamar mandi. Rambut Adik Fay basah. Adik Fay kedinginan. Badannya segera dilap dan memakai minyak kayu putih dan bedak.

"Tapi..ntar nggak enak, ah.. aku malas," rajuk Fira.

"Coba dulu, asyik lo masak sendiri itu," rayu Mbak Wulan. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Fira, siswa kelas IV SD itu menurut juga. Toh, tidak ada salahnya mencoba membuat nasi goreng. Kan pernah diajarkan Mama dan Mbak Wulan, sip deh! Fira mulai menjelajahi dapur yang selama ini jarang dijamahnya.

Fira mulai mempersiapkan bumbu-bumbunya. Emm, lagaknya seperti seorang koki profesional. Fira segera memakai celemek masak. Wih...asik juga bereksperimen di dapur yah. Oke, selanjutnya Fira mulai mengupas bawang merah, bawang putih, memetik satu tangkai cabai merah, menggilingnya halus bersama sedikit garam. Lalu menumisnya dengan sesendok mentega. Sreng! Terdengar suara mentega di wajan panas. Tak lama, tercium bau harum bumbunya.

"Wah, aku semakin lapar nih!" ujar Fira tambah semangat. Eit, hampir lupa, nasi putih mulai dituang perlahan ke atas wajan, lalu kecap dan sreng-sreng, Fira mulai mengaduknya perlahan-lahan. Nasi yang bercampur bumbu dibolak-balik agar bumbunya rata. Tidak berapa lama, jadi deh. Tapi biar lebih bergizi, Fira menggoreng telur ceplok mata sapi, kerupuk udang, mengiris timun dan tomat. Sip! Nasi goreng spesial ala Fira sudah siap!

"Mbak Wulan! Nasi gorengku sudah jadi lo!" teriak Fira bangga sambil membawa sepiring nasi goreng lengkap. Di meja makan ada dua piring lainnya. Mbak Wulan tersenyum sambil menyuapi Adik Pay yang sudah rapi.

"Wah Mbak Fira hebat," puji Mbak Wulan.

"Iya dong, koki Fira!" ujar Fira malu-malu.

"Adik mau coba nggak?" tawarnya pada Adik Fay.

"Mau dong, Adik juga mau coba masakan Mbak Fira, kalau enak, nanti kita buat restoran aja!" jawab Adik Fay. Fira dan Mbak Wulan tertawa. Fira bahagia sekali. Hari ini ia sudah bisa masak nasi goreng sendiri tanpa bantuan Mama atau Mbak Wulan.

"Nanti kalau Mama dan Papa pulang Fira mau kasih hadiah sepiring nasi goreng buatan Fira," janji Fira. Mbak Wulan dan Adik Fay mengangguk setuju. Ternyata, liburan kali ini tidak terlalu menyedihkan ya? ***


Lampung Timur, 2008

Rabu, 16 Desember 2009

Puisi Mencintai Istri

Cerpen Aveus Har
Dimuat di Kedaulatan Rakyat Bisnis 13/12/09

�Aku mencintai puisi.�

Jika mata bisa menyerukan kata, apa yang mataku serukan mendengar kalimatnya? Serupa Columbus ketika menemukan benua baru setelah pengelanaan panjang melintas samudra dengan keraguan akan penemuan telah menggelayut kah? Daratan adalah apa yang Columbus yakini ada di nun sana dan dia berjuang membuktikannya. Ia bersikukuh daratan itu ada meski semua orang meragukannya. Ia membuktikan dan namanya tertulis dalam sejarah. Columbus tegar tidak menyerah.

Dan wanita ini adalah apa yang dulu aku yakini tercipta di dunia ini untuk menemaniku. Yang bahkan waktu membuatku ragu. Lalu, ketika keyakinan goyah dan aku menyerah, wanita ini hadir menyesakkan sesal.

Dulu aku menganggap usia selaksa batas. Ketika semakin bertambah dan menua, aku merasa telah sampai batas pencarian dan mengakhiri perjalanan. Aku bukanlah Columbus yang tegar.

Wanita ini bernama Kinanti. Dia adalah jutaan kalimat indah yang terangkum membentuk puisi. Menggetar lewat tatapnya. Merasuk lewat tutur. Menggolak bersama gerak. Membuatku ingin sekejap pergi dari realita dan berharap bisa menemukan jalan mengulang waktu.

Aku menemukannya bersama desah kelu �andai saja�. Dalam sebuah kebetulan meski kuyakin ini bukan kebetulan semata. Ini adalah jawaban. Untuk sebuah keyakinanku yang telah menguap. Untuk menegaskan kepecundangan diri.

Gerimis yang menderas di suatu siang berwarna sephia. Di bawah awning toko perhiasan yang tutup di hari minggu. Dia menyendiri bersandar teralis. Menenang diri ketika orang lain ricuh dalam gegas-gegas tak ingin terjebak.

Aku tengah duduk menulis puisi di seberang jalan sejak mendung menggayut sebelum gerimis merinai dan hujan menderas. Bertirai rajutan air aku memandangi, dan meyakini dia memandangiku. Naluri menggerakkanku menyeberang meski hujan belum usai benar.

�Sedang apa kau?� Aku bertanya, dalam lantunan hasrat.
�Menunggu. Kau?� Dia balas bertanya, dengan kalimat pendek.
�Menulis puisi,� aku menunjukkan kertasku. Dan matanya berbinar. Dan alisnya bergerak. Dan dia meminta notesku. Mencermati baris-baris di lembar-lembar kumal. �Aku mencintai puisi,� katanya.

Saat itu aku merasa bertemu metamorfosis rusukku yang mustinya kutemukan pada suatu waktu saat merindu. �Benarkah?� tanyaku takjub.
�Ya. Puisi adalah kehidupan, dan kehidupan adalah puisi1,� ujarnya dengan mata syahdu yang memandangku sekilas.
�Dan engkau adalah puisi,� kataku.

�Kau juga,� balasnya dengan binar menguar. Membuatku alpa pada sinyal bahaya atas puisi hidupku. Aku laki-laki beristri. Tapi istriku tidak mencintai puisi. Baginya, hidup adalah apa yang mengalir tanpa perlu berumit-rumit mencari diksi. Kata cukuplah jika bisa dimengerti.

Aku meyakini puisi adalah jiwa diriku. Dan istriku bilang dia mencintaiku. Tapi dia tidak mencintai puisi. Bagaimana dia bisa mencintai gelas tanpa peduli isi?
Lalu bersamaku kini seorang Kinanti yang mencintai puisi. Menawarkan percakapan yang tak ingin kusudahi. Seperti anak kecil menemu teman bermain dan tak ingin pulang meski lapar mendera.

�Kau tahu apa yang kupikirkan?� tanyaku, mungkin meretas jalan untuk merayu. Aku tak tahu. Lama tak kuberkata seperti itu. Lama kalimatku mengikuti istriku: kata cukuplah jika bisa dimengerti.
�Tapi pikiran tak bisa didengar. Maka bicaralah2,� katanya, lagi-lagi mengutip baris puisi.
�Jika saja waktu ini adalah dulu.�
�Jika saja dulu adalah kini,� dia membalas sama bersayap. Kami sama-sama mengulum senyum. Dan begitu gerimis terhenti, kami pun bergandengan pergi. Menelusuri jalan dan berbincang indahnya puisi.

Waktu pun menghilang dalam putaran yang berhenti. Manusia menghitung waktu dari putaran bumi. Tapi saat ini bumi telah berhenti dan kehidupan benar-benar menjadi puisi. Dia bisa direka sesuka hati. Dia bisa di tata dari bait-bait diksi.
Tangan kami menaut kian erat memintas ruang dan waktu. Mata kami saling mengerling. Langkah kami seirama menaiki anak-anak tangga menuju ruang di atas awang.
Di luar langit masih berjelaga. Gerimis kembali turun dan menderas.

Kinanti bertanya tentang istri yang membuatku mendesah kelu dan menguak fragmen alam nyata. Dadaku perih terpilin sesal yang tak semestinya. Egoku menggeram menyembunyikan kesadaran.

�Dalam hidupku tak kujumpai wanita yang menyukai puisi sebelum ini,� ujarku. Tidak, batinku berteriak. Aku pernah menjumpainya, namun dia tidak menginginkanku. Aku pernah menjumpainya, namun dia memilih laki-laki lain. Yang sebenarnya adalah, aku tidak pernah menjumpai wanita yang mencintai puisi sekaligus yang menginginkanku mendampingi. �Dan aku menikahi istri karena waktu, dan kebodohanku yang meragu.�

Kehidupan bukanlah takdir. Hidup memang takdir, tapi kehidupan adalah pilihan. Sebagaimana mati adalah takdir namun kematian adalah pilihan. Rejeki adalah takdir sedang bekerja adalah pilihan. Dan jodoh memang lah takdir, tapi seorang istri, bagaimanapun, dia adalah pilihan. Dan aku telah memilih istri bertahun sebelum hari ini.

�Jangan katakan kau tak mencintainya,� mata Kinanti menuntut. Dan itu adalah mata batinku.
�Apa yang harus kukatakan?�
�Kau telah menikahinya.�

Batinku terpilin perih. �Wanita sepertimu lah yang kuinginkan dalam hidupku3.�
Sedang istriku, tidakkah aku menginginkannya dulu ketika kukatakan hendak menikahinya? Ketika kehidupan yang kupilih membawa kami bertemu. Ketika pertemuan kami membawa kesadaran akan kodrat. Manusia harus beranak pianak agar puisi hidup tidak berhenti.
�Kau telah menikahinya,� dia mengulang.

Kuteringat saat-saat itu. Ketika satu per satu teman yang seusia telah menikah, sebagian telah bermain bersama anak mereka, sementara aku masih belum menemukan gadis idaman. Lalu kubertemu seorang wanita, yang memberiku hari-hari menyenangkan. Yang bersamaku meniti hari bersama. Dia yang kemudian membuatku mengangguk saat bertanya akankah kami menikah.

Wanita itu, kini menjadi istriku. Menjadi ibu dari anak-anakku. Namun tak pernah bisa bersama menyelami untaian kata dalam puisi. Kehidupan lain yang kupunya dan kuhayati.

Kini, seorang wanita yang mencintai puisi, dan menginginkanku, kutemu saat hidupku tak lagi sendiri.
�Usiaku makin menua diambang batas,� keluhku, bersama petir yang menggelegar.
�Pernikahan tidak dibatasi usia. Kau tak akan menikahinya jika kau tidak menginginkannya.�

Untuk alasan apapun, aku memang menginginkannya. Kelebihan istriku kelewat banyak untuk selembar kertas A4. Ia adalah mahluk multisel dengan rambut gemerisik, yang malam hari, bila ia tidur, berbiak dengan anggun4.

Yang tak pernah bisa kumengerti adalah selalu masih ada rindu untuk sesuatu yang tidak istriku miliki. Dan Kinanti memilikinya.
Karena dia mencintai puisi.

Berpuluh tahun waktuku sebelum bertemu Kinanti, selaksa memori yang akhirnya bertepi. Memberi sela untuk menyisipkan sebait puisi di tengah hujan dan langit yang kelam. Kurengkuh Kinanti seperti bocah merengkuh mainan yang selalu membayang di pelupuk dan akhirnya bisa memiliki.

Tapi tak bisa aku seutuhnya memiliki. Dia hanyalah sebait puisi. Dia ada karena aku menautkannya dalam benak. Karena aku membawanya serta di labirin otak. Dia tertinggal di sana, bertahta, masih dengan senyum dan binar mata yang menggoda.
Mata kami beradu dalam pijar birahi. Menggulung dalam desah napas. Mencabik-cabik kesadaran. Aku terhanyut dan kian alpa. Siapa aku, siapa dia. Yang ada kini jiwa yang dahaga dan menemu oase di padang pasir kehidupan.

Dalam ruang di atas awang, di antara gerimis yang melebat dan waktu yang terhenti, aku menyibak kain dan mendekap. Berbisik puisi dan menjalin puisi. Saling mengetuk, saling memasuki5.

Penghianatan Adam atas sabda Tuhan-Nya membuat dia diturunkan ke bumi. Dan penghianatanku ini, menebar rasa perih mengusik nurani.

***

Goncangan perlahan menggoyang tubuhku. Aku masih memeluk Kinanti. Yang kini menjelma menjadi guling basah oleh keringat. Dan jutaan sperma berenang tanpa menemu labuhan hingga mati tercecer di selangka.

�Sudah siang, Mas. Katanya hari ini ada kapal hendak berangkat?� kata istriku, dalam waktu yang kembali mengada setelah terhenti di putaran mimpi. Dan ruang kembali menyekat setelah menisbi.

Aku kembali dalam puisi hidupku yang harus kurajut. Karena sesungguhnya aku telah menjadi kata dalam puisi hidup bersama istri dan anak-anak yang tidak mencintai puisi.

Tapi aku tak ingin merusak puisi hidup kami dengan memaksa Kinanti hadir senyata. Meski ia masih hidup di relung labirin benak, aku tak pernah bertemu lagi dengan Kinanti dan tak pernah mencari. Perbincangan bersamanya hanyalah imaji. Waktu yang terselam berdua dalam birahi hanyalah mimpi. Bahkan namanya pun kureka sendiri.
Yang ada, wanita itu pergi setelah sebuah mobil menghampiri. Yang ada, perkataan terakhirnya sebelum pergi adalah: �Aku mencintai puisi.�

***

00:22 waktu rumah imaji: untuk seseorang yang mengajakku berpuisi.
1. Umbu Landu Paranggi, dalam esai Wayan Sunarta.
2. Rondeau, Hans Magnus Enzensberger, diterjemahkan oleh Berthold Damsh�user dan Agus R. Sarjono.
3. Kalimat ini pernah kutemui entah di mana.
4. Kelebihan Istriku, Hans Magnus Enzensberger, diterjemahkan oleh Berthold Damsh�user dan Agus R. Sarjono.
5. Di dalam Hujam, Abdul Wachid B.S..

Selasa, 15 Desember 2009

Namaku Edelweiss

Cerpen Naqiyyah Syam
Dimuat di Majalah Sabili No. 19 Th X 10 April 2003/8 SHAFAR 1424


Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Oleh kalangan Botani, aku sering disebut tanaman sejenis perdu, dan termasuk anggota famili Compositae atau disebut juga Asteraceae (sembung-sembungan).

Bungaku kecil sebesar bunga rumput, orang lebih mengenalku dengan warna putih daripada warna lainnya. Hidupku bergerombolan di ujung dahan dengan harum yang khas. Tinggi batangku dapat mencapai 5 meter dengan daun-daun runcing dan lurus. Bungaku istimewa, tak pernah layu, mekarku abadi, sehingga aku dijuluki �bunga abadi�. Sungguh julukan inilah yang menjadi �beban� bagiku, karena banyak orang menyalahgunakan �arti� keabadianku selama ini! Keabadianku mereka sama kan dengan �cinta abadi�, cinta sepasang manusia yang tidak memiliki ikatan resmi. Ah�. Apalah arti protesku? Tho� siapa yang peduli dengan rintihanku?

* * *

Aku berada di kamar Rieska. Tersusun rapi di atas lemari belajarnya. Disampingku ada diktat kuliah, novel, majalah remaja dan�. Bunga-bunga koleksi Rieska! Tepatnya sengaja disimpan Rieska. Yap! Untuk mengenang siapa yang memberikannya! Aku memang lebih beruntung dari bunga Mawar yang menjadi pendatang baru di kamar ini. Wajahnya pucat karena air di dalam vas tersebut tak pernah diganti oleh Rieska. Sama halnya dengan nasib Suplir yang telah mengering menjadi pembatas buku, lengkap dengan spora yang masih menempel ditubuhnya, dan Anggrek yang merana karena sebagian kelopak bunganya telah mengering.

Ya�. diantara bunga-bunga milik Rieska, ternyata aku memang diperlakukan �istimewa� oleh majikanku, Rieska! Aku ditaruh di dalam kotak berwarna biru muda, berlapiskan plastik transparant. Aku sangat senang dengan perlakuan baik Rieska, tapi�. aku sangat resah dengan label hitam yang bertuliskan �Cinta Abadi� yang melekat manis di atas plastik kotak ini.

* * *

�Kamu beruntung yah, Weis, tempatmu empuk,� komentar Mawar suatu hari saat Rieska sudah pergi kuliah.
�Iya�. Weis, kamu nggak perlu ganti-ganti air sepertiku!� ujar Anggrek sedih.
�Ah�. Kalian bisa aja!� ujarku pelan.

�Tapi�. Benar kan memang kamu anak emas-nya Rieska! Apa karena kamunya pemberian Ari pacar Rieska si anak gunung itu?� kali ini suara Suplir dari balik buku angkat bicara. Ya� aku memang pemberian Ari Jaya Saputra kekasih Rieska. Ari mengambilku ketika dia mendaki gunung Ciremai, Jawa Barat. Aku diberikan kepada Rieska tepat ketika Rieska ultah yang ke-22 tahun, tepatnya enam bulan yang lalu.

�Ah�. Itukan pikiran kalian saja kalo aku bahagia ada di sini, sebenarnya aku nggak terlalu bahagia kok tinggal di sini!� ujarku.
�Kok bisa? Mengapa?� tanya Mawar keheranan.
�Nggak bahagia gimana? Diperlakukan istimewa kok nggak senang, nggak bersyukur kamu!� suara Anggrek ketus.

�Weiss�, seharusnya kamu bersyukur dengan keadaanmu saat ini, jangan belagu deh pura-pura nggak senang� timbal Suplir.
�Maksudku�. aku bersyukur kok Rieska menjagaku dengan baik di sini, tapi�. yang membuat aku sedih Rieska selalu beranggapan kalo kesegaran bungaku yang abadi menjadi simbol keabadian cinta Ari padanya, padahal�.�
�Padahal apa? Maksud kamu apa sih? Aku jadi nggak ngerti!� suara Suplir terdengar pelan memotong pembicaraanku. Tampaknya susah payah ia berbicara dibalik lembaran buku dairy Rieska.

�Iya� nih Weis, maksud kamu itu apa?� tanya Mawar lagi. Aku berusaha menjelaskan kepada mereka, tentu saja dengan bahasa kami kaum bunga-bungaan.
�Aku ingin sekali Rieska menyadari keberadaan kita. Rieska seharusnya berpikir ada apa dibalik kekuasaan Allah yang telah menciptakan kita. Mereka seharusnya menjaga kita dengan baik, bukankah mereka diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi ini? Manusia seharusnya menyayangi dan merawat kita. Mereka seharusnya berfikir coba kalo nggak ada Mawar, Anggrek, Suplir atau bunga lainnya bagaimana? Dunia pasti suram tanpa penyejuk mata. Beda kalo ada kita, mereka akan merasa senang dan tentram bila memandang si Mawar yang sedang mekar, Suplir yang segar, atau Anggrek yang �.dan seharusnya manusia yang melihat �keabadianku� sebagai contoh bagaimana mengabadikan hatinya sebagai rasa syukur ke hadirat Illahi� suaraku pelan, mataku mulai berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tertumpah.

�Kamu benar Weis, seharusnya manusia memang balajar dari fenomena alam, seperti kita! Lihat bungaku, berwarna merah menawan, wangi semerbak. Allah sengaja menciptakan duri-duri kecil dibatangku untuk menjaga kehormatanku dari serangan makhluk yang jahil, agar tidak mudah dipetik begitu saja. Kamu juga kan Weis, hidup ditepi jurang, sehingga diperlukan perjuangan bagi siapa yang ingin memetikmu. Ah� seharusnya manusia menyadari hal itu, mencontoh kita! Indah tapi tak mudah diraih! Berbeda dengan manusia, coba saja lihat kaum wanitanya? Masih banyak diantara mereka yang belum menyadari betapa pentingnya menjaga kehormatan diri, mereka dengan mudahnya dipegang sembarang orang, pake� wangi-wangian yang merangsang syahwat lelaki, berbicara dengan suara yang mendesah, dan bangga mengubar aurat mereka. Sebenarnya mereka tahu nggak sih kalo prilaku seperti itu dosa?� ujar Mawar prihatin.

�Kok kamu tahu banget,War perubahan manusia begitu?� tanyaku heran pada Mawar.
�Jelas dong aku tahu, aku kan pernah tinggal di taman depan rumah Asep, teman kuliah Rieska, sehingga setiap hari aku bisa melihat dunia di luar sana� jelas Mawar.
�Ah sudahlah� sekarang emang zaman edan, yang pria berjas rapi menutup seluruh aurat, eh� wanitanya berpakaian seksi minim bahan, apa itu namanya nggak kebalik dunia sekarang?� sahut Suplir yang dulunya tinggal di teras depan rumah Bayu pacar Rieska yang ketiga.

�Eh.. iya juga yah, kemarin malam aku dengar di TV kalo aborsi semakin merajalela, koran-koran berbau porno semakin meluas, kemana sih hati nurani mereka?� suara Aggrek pelan. Anggrek memang pernah dibawah Rieska ke ruang keluarga dekat TV. Semua terdiam dengan pikiran masing-masing, mereka berdzikir memuji asma Allah.

* * *

�Ari�� ada yang ingin ku katakan� terdengar suara Rieska di ruang tamu. Malam ini hanya mereka berdua yang ada di rumah, mama dan papa serta kedua orang kakaknya Rina dan adiknya Shanty pergi ke pesta pernikahan relasi papanya.
�Ada apa?� tanya Ari, mereka berdua duduk di sofa.
�Aku�aku �. Telat tiga minggu!Aku�ha�mil, Ari!�
�Hah? Kamu�hamil?� tanya ari keheranan, ini diluar dugaannya.
�Iya, kita harus segera menikah, Ari! Aku takut papa dan mama akan marah!� ujar Rieska gusar.
�Tidak! Aku tidak mau menikah sekarang! Kamu harus mengugurkan kandunganmu!�
�Ari! Aku nggak mau, ini anak kita! Kamu harus bertanggungjawab!� teriak Rieska bercampur tangis.
�Nggak, aku nggak mau, mungkin saja itu anakmu dengan pacar kamu yang lain!� cibir Ari.
�Ari� teganya kamu ngomong begitu, ini anak kamu Ari! Anak kita!�
�Pokoknya tidak! Kamu harus mengugurkannya, harus, titik!�
�Tidak! Aku nggak mau!�
�Harus!� paksa Ari menarik tangan Rieska dengan keras.Tangis Rieska semakin kencang.

* * *

�Ari jelek! Lelaki brengsek!� teriak Rieska ketika masuk ke kamar. Ia menghembaskan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk disertai suara pintu dibanting dengan keras. �Ada apa yah?� batinku bertanya penasaran.
�Hu�.hu�., katanya cinta, katanya sayang, buktinya? Kamu jahat!� teriak Rieska lagi, semakin keras terdengar. Rieska menangis, air matanya menetes memasahi kemeja kotak-kotaknya.
�Eh� kawan-kawan, Rieska kenapa yah?� tanyaku pada Mawar, Anggreka dan Suplir.
�Nggak tahu, tidak seperti biasanya yah? Mungkin� Rieska ribut dengan Ari, atau berantem ama papa atau mamanya� tebak Anggrek.
�Ari�. Ka..mu�kejam! Ngakunya setia, cinta setengah mati, setia sampai akhir zaman, tapi mana? Kamu �. Hu�.hu� Cinta? Ah� Ari � ngaku cinta abadi? Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi meninggalkanku dalam keadaan begini, kamu lelaki tak bertanggungjawab! Apa yang harus aku katakan pada mama dan papa?� tangis Rieska semakin keras terdengar. Rieska bingung harus bagaimana.

Tiba-tiba. Rieska berjalan dengan tergesa menuju meja belajarnya, meraih kotak mungil yang disimpannya dengan penuh kasih sayang selama ini.
�Percuma kamu berikan aku dulu bunga Edelweiss kalo cintamu bukan cinta abadi, tapi cinta murahan! Ngakunya cinta, tapi mengapa kamu tinggalkan aku dalam keadaan begini?� tangis Rieska sambil membuka kotak mungil itu lalu membuang seluruh bunga Edelweiss ke dalam tempat sampah yang berada tepat di samping meja belajar. Melihat pristiwa tersebut, bunga lainnya, Mawar, Suplir dan Anggrek menjerit histeris!
�Ja��ngan��!!� teriak Mawar, Suplir dan Anggrek serentak. Tapi terlambat! Edelweiss telah dibuang ke dalam tong sampah yang bercampur dengan sampah lainnya.

* * *

Namaku Edelweiss alias Anaphalis javanica. Biasanya aku tumbuh di dataran tinggi atau puncak-puncak gunung. Kali ini aku berada dalam gengaman seorang pemuda bernama Rahman. Ia mengamatiku dari tadi sambil terus berdzikir memuji asma Allah.
�Ya� Rabb yang Maha Kuasa, satu lagi telah Kau tunjukkan kebesaran-Mu. Menciptakan bunga Edelweiss yang tahan layu dan tak lelah diterpa angin, tanpa pemudar dan tanpa kekeringan. Ya� Rabb, seperti ini jugakah semangat saudara-saudaraku di Palestina dalam menghadapi serangan Yahudi demi merebut kembali hak mereka atas Masjid Al-Aqsa? Ya� Allah, kuatkan hati-hati kami untuk merebut itu semua� lirih suara Rahman menyejukan hatiku.

Aku hanya tumbuhan tanpa nyawa tapi aku merasakan betapa ia seorang pemuda yang �berhasil� mengenali alamnya dan terus berdzikir melihat ke-Esaan penciptanya. Aku Edelweiss tersenyum bahagia dalam genggamannya.

Minggu, 13 Desember 2009

Nenek Kakao

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Pembaruan 06/12/2009


Pernakah kalian melihat para hakim resam mukanya dan berair matanya, ketika salah satu dari mereka dengan suara tersendat-sendat membacakan putusan atas seorang terdakwa?

Di sebuah negeri, hal itu pernah terjadi. Tepatnya, baru saja terjadi.

Tapi, jangan takluk pada pengantar cerita ini. Di negeri itu, para pengadil yang masih menganggap hati adalah jantung (yang bila mati seonggok daging merah itu, maka matilah dirinya, sekujur tubuh dan jiwanya) hanya segelintir. Mungkin beberapa hakim itu saja�atau juga beberapa polisi di kampung Entah Berantah.

*

Adalah Nenek Kakao�begitu orang-orang kampung kini memanggilnya (bagai menamainya); seorang perempuan 55 tahun yang kala itu teduduk layu di hadapan para pengadil. Tangannya beberapa kali mengarimukkan ujung baju kurung lusuhnya atau meremas tangan satunya lagi. Wajahnya benyai. Mulutnya tak sekali-dua komat-kamit, mengharap Tuhan menghadiahkan keberuntungan atas dirinya.

Nenek Kakao hanya seorang buruh di sebuah ladang jagung di kampungnya. Saban hari ia mencabuti rumput yang mengitari batang, membuang pelepah-pelepah yang sudah menguning, atau pada waktu-waktu tertentu; menaburkan semacam serbuk putih yang dipercayai (ia tahu dari majikannya) dapat membuat jagung besar-besar bonggolnya ketika panen tiba.

Hari-hari Nenek Kakao adalah kejadian-kejadian yang terulang dengan sendirinya. Bakda solat subuh, menyiapkan singkong rebus dan kopi setengah pahit buat suaminya. Lalu ke ladang dengan sebilah arit di tangan. Bila hari agak tinggi, ia akan pulang; menyiapkan makan siang (lagi-lagi buat suaminya). Bakda zuhur, gegas ke pondok di ladang; menyelonjorkan kaki karena letih yang mengerubung badan. Barulah jelang asar, Nenek Kakao pulang. Selalu begitu.

Ya, bagi Nenek Kakao, hidup adalah itu-itu saja. Solat lima waktu, ke ladang jagung, menanak dan memasak, mengurus suami.... Ia tak pernah menyeling hidup dengan berhibur atau menyeruput berita di hadapan TV. Paling hanya sekilas tahu bahwa ada berita yang selayaknya dibincangkan di kedai simpang. Ia hanya sempat mendengar kabar tentang orang-orang kaya yang katanya mencuri uang republik sampai berjuta-juta, bahkan lebih banyak dari itu. O, ada uang yang lebih banyak dari juta-juta? Nenek Kakao tak hendak menyuat tanya. Gigi-giginya kerap bergemerutup bila kabar-berita itu singgah di gendang telinga. Bukan, Nenek Kakao bukan kesal (apalagi iri) pada keserakahan mereka. Namun, sungguh, tak paham ia bagaimana manusia dapat bertabiat serupa itu. Takkah mereka takut dengan Munkar dan Nakir yang sudah menanti di kerajaan kubur? Takkah mereka merinding membayangkan Malik yang menyeretnya ke belanga yang menyala-saga? Oh, setidaknya di dunia; di mana nak mereka simpan uang yang bilangannya lebih dari juta-juta itu? Apakah mereka mengidap penyakit yang lebih garang dari ta�un hingga biaya berobat pun harus dengan segunung rupiah? Yaaa Rahman, dengan uang yang berlimpah itu, sangat mahfum bila mereka dicurigai, dikuntit orang-orang yang amanahnya meluruskan yang berkelok dan menanyakan yang ganjil. Ya, Pak Polisi dan Pak Hakim sangatlah hebat penciumannya!

Namun kegelisahan Nenek Kakao bagai tak bermuara bila ia dapati kabar yang lebih menyesakkan. Orang-orang itu belum dipenjara Pak Polisi! Pak Hakim belum mengetuk palu bahwa mereka berdosa! O, mana Pak Presiden? Apa orang-orang serakah itu Dajjal dari Khurasan? Atau mereka Ya�juj dan Ma�juj yang telah merobohkan Tembok Zulkarnain? Kepala Nenek Kakao bagai terpelintir. Bumi terlampau cepat bergasing rupanya!

*

Hari itu, Nenek Kakao tak khusyuk solat subuhnya. Masih terbayang olehnya pembicaraan Mak Gaik, Wak Lukik, Bi Jum, dan Mang Sur, di kedai Nek Sangkut. Mereka membincangkan kakao yang sedang naik harganya. Mereka acap mencuri kakao dari perkebunan milik sebuah perusahaan besar di utara kampung.

�Tak apalah. Kita hanya mengambil dua-tiga keranjang. Tiadalah orang-orang kaya itu memerkarakannya, Jum!�

�Ya, lagi pula, tanah yang dipakai untuk berkebun ini kan tanah kampung kita, Kik!�

�Kita jua tak saban musim mencuri, bukan? Hanya karena harga kakao sedang naik. Itu saja, Sur!�

�O ya Gaik, kau ajaklah Minah ni bergabung. Macam mana kau, tetangga sendiri ditinggal, Gaik!�

Maka, Mak Gaik pun menceramahi Nenek Kakao.

�Oi Minah! Tak lelah kau berkawan dengan miang-miang pelepah jagung tu! Cobalah sekali-kali kau menyusup ke kebun kakao! Ambil saja barang satu keranjang, kau bentang terpal di Pasarpucuk. Kau hamparkan saja di sana. Sebelum abis Duha, pasti kau menenteng dua kilo beras ke rumah!�

Nenek Kakao masih bingung. Entahlah, ia tahu itu haram. Tapi, tak kuasa bibirnya menyuat bantah.

�Ya Minah!� Kali ini Nek Sangkut turut serta. �Bila takut kau menyusup. Kau bersiasat saja di kandang kawat. Jadi tukang awas. Bila ada Mandor Lisau atau Mandor Buing, kau berilah tanda! Macam mana, hah?�

Nenek Kakao pun masih diam. Ternyata Nek Sangkut jua maling. Atau orang-orang kampung sudah jadi maling semua? Ohh.... Ia putuskan meninggalkan kedai Ia risau. Ohhh... tak kuasa ia menggambarkan seperti apa risau itu. Yang terang, terbayang olehnya, suaminya yang mengidap kaki gajah. Terbayang olehnya anak-anak tetangga yang selalu numpang makan di gubuknya. Terbayang olehnya betapa nikmatnya sekali-kali makan gulai ikan sungai, atau sekadar sambal tomat campur teri goreng.... sekali-kali ditinggalkanlah cabe giling dan garam, tak apa-apa kan? Batinnya berhibur. Ya, ingatan Nenek Kakao tak sampai pada anak-anaknya yang jauh merantau. Meninggalkan (kini, pasti sudah melupakan) ia dan suaminya di gubuk yang berlapik tanah....

�Oi Minah, kami tunggu kelam subuh di bawah pohon pinang, di hulu kebun!�

*

Jantungnya bagai hendak melompat dari ceruk dada. Keringatnya berjuntai-juntai. Beberapa kali dibetulkannya gulungan kain di pinggang. Lamat-lamat ia mengatur langkah. Sudah hampir terang pagi itu, baru tiga buah kakao yang dipetiknya. Sementara teman-temannya yang lain, ada yang hampir beroleh dua keranjang. Mereka memetik kakao seolah batang-batang rendah itu adalah kepunyaan mereka. Nenek Kakao makin gemetar. Tumitnya serasa lunglai. Kesemutan tiba-tiba. Oh, lupa ia bila darah rendahnya kerap kumat bila berdiri terlampau lama....

�Mandor Buinggggggggggg!!!!!!�

�Lisauuuuuuuuu!!!�

�Lariiiiiiii!!!!!!�

Tubuh Nenek Kakao menggigil hebat. Ia bagai patung yang mengonggok di tengah kebun. Hanya membelalak, menatap teman-temannya yang menyelinap-tiarap di bawah kandang kawat, sebelum lenyap di balik semak-semak rimba. Kini, tak ada lagi Mak Gaik, Wak Lukik, Bi Jum, Mang Sur, Nek Sangkut, dan teman-temannya yang lain. Hanya dua orang berbadan tegap, berwajah beringas, berdiri di hadapannya. Mata mereka merah menyala. Bagai hendak melumatnya bulat-bulat. Bagai hendak merajamnya kuat-kuat. Bagai hendak mengaum, �ternyata kau tali-pukangnya, hah?!�

Tiga buah kakao di tangan Nenek Kakao jatuh ke daun-daun basah yang menyelimuti tanah kebun. Dua orang mandor itu memungutnya. Dan bagai orang-orangan sawah, mereka menyeret Nenek Kakao ke pos jaga. Ke hadapan bos kebun kakao!

*

�Maafkan kami, Minah! Bukan maksud meninggalkan kau, tapi kau saja yang tak sigap!� Mak Gaik memberi isyarat pada teman-temannya agar membantunya berdalih.

�Ya, Minah! Kami pula tak menyangka bila mandor-mandor bengal itu melaporkan kau ke polisi di kecamatan,� imbuh Wak Lukik.

�Sudahlah,� Minah mengeluarkan beberapa guci dan piring tua dari lemari kayu tak berukir di sudut gubuknya. �Tak usah kalian ributkan lagi. Aku minta tolong kalian bawa barang-barang ini ke los keramik di pasar. Tolong jual. Tak ada ongkos aku nak ke kecamatan. Harus bersidang aku di sana. Entah esok-esok, mungkin sudah di penjara pula aku menanak dan memasak....�

Teman-temannya tak banyak bicara. Mereka membawa satu-satu barang itu. Tak lama, mereka sudah pulang membawa beberapa puluh ribu ke hadapan Nenek Kakao.

�Sebenarnya semua jumlahnya enampuluh ribu, Minah! Tapi, kami ambil sepuluh ribu untuk ongkos dan beli ketan. Tak ada ganjal perut kami pagi tadi, Minah.�

Minah langsung menyerobot uang itu. �Tolong kabarkan pada Mang Lihin, aku tak ke ladang....�

�Ya,� potong Bi Jum. �tentulah maklum majikanmu itu, Nah. Kabar kau yang diperkarakan ke polisi sudah mengembara ke mana-mana....�

*

Perempuan tua itu teduduk layu di hadapan para pengadil. Tangannya beberapa kali mengarimukkan ujung baju kurung lusuhnya atau meremas tangan satunya lagi. Wajahnya benyai. Mulutnya tak sekali-dua komat-kamit, mengharap Tuhan menghadiahkan keberuntungan atas dirinya. Bukan, bukan karena takut dijerujikan. Ia tak nyaman dengan sidang yang berulang-ulang. Mendengarkan seorang laki-laki�yang belakangan ia tahu kalau namanya Jaksa (nama yang aneh!)�mengungkit-ungkit tiga buah kakao yang dicurinya. Jaksa bahkan membesar-besarkannya menjadi tiga kilo! Oh, sungguh, tak paham Nenek Kakao dengan semua yang didengarnya, semua yang berlaku di hadapannya. Cepatlah khatam sidang-menyidang ini, rutuknya. Tak ada lagi barang di rumah yang akan dijual untuk ongkos ke gedung ini! Siapa pula nanti yang mengurus suamiku! Sudah hampir dua bulan ini, kerjaku bolak-balik kampung-kecamatan saja!

�....menjatuhkan hukuman kepada terdakwa atas nama Minah satu setengah bulan penjara...!� kata-kata hakim yang bermuka resam dan mata berair itu, sedikit tersendat. Memang, mereka adalah si kerah putih yang masih sebenar marun daging jantungnya. Tapi, apalah daya, hukum harus ditegak. Tak ada pilah-pilih salak!

Dan dipukullah palu hakim beberapa kali ke meja kayu. Takzimnya, Nenek Kakao nak bertanya perihal sebuah kabar-berita yang ia dengar akhir-akhir ini. Tentang orang-orang kaya yang mencuri uang republik sampai lewat bilangan juta-juta, yang tak jua dipenjara. Tapi ia takut kalau kabar itu tak sahih. Jangan-jangan orang-orang kedai saja yang berlahar mulutnya, batinnya. Resahnya pula bagai terobati, bila terkenang Aliman dan Mursal, dua bujang tanggung dekat rumahnya yang sampai kini masih dikurung karena mencuri ayam kampung Bi Murni, dan menggoda Halimah, anak gadis Haji Jami�at..... ***

Lubuklinggau, 22 November 2009
Bakda berita divonisnya Nek Minah satu setengah bulan penjara hanya karena mencuri tiga buah kakao di perkebunan kakao di kampungnya, daerah Banyumas.

Bangku Belakang

Cerpen Sofie Dewayani
Dimuat di Koran Tempo 17/05/2009



PADA hariku yang lelah, warnet adalah tempat istirah. Di dunia maya aku bisa menyapa teman-teman lama. Ceria, tertawa, seperti dulu waktu SMA. Cerita nostalgia, kabar bahagia, terpampang bergantian seperti pajangan. Mataku menelan lembar demi lembar layar, menyusuri kota demi kota. Teknologi memang gila. Ruang dan waktu dirangkumnya dalam satu sentuhan jemari saja.

Tak heran orang menyebutnya dunia maya. Jejaring pertemanan ini meleburkan peristiwa dan masa. Aku bisa tergelak oleh kisah lama, tersenyum memandangi potret kelabu masa remaja. Aku menyeletuk sekadarnya, tapi lebih sering menyaksikannya saja. Aku tak ingin beranjak dari bangku belakang. Seperti dulu, waktu SMA.

Sayang Tino tak tahu bagaimana nikmatnya. Katanya, bernostalgia seperti itu membuang waktu saja. Padahal aku tahu diam-diam dia ingin tahu kabar teman-teman lama.

"Semua menanyakan kamu," aku meyakinkannya. "Harno kirim salam. Dia kerja di perusahaan penerbangan. Bambi sudah jadi bos sekarang. Kardiman sudah lama tinggal di Jerman. Vina, Karina, Mira, sudah punya anak remaja. Kamu pasti nggak percaya, Bian jadi kandidat pilkada."

"Hebat," celetuknya. Namun matanya tak lepas dari roda sepeda di tangannya.

"Memangnya kamu tahu semua itu dari mana?" Tino membetulkan letak kacamatanya dengan punggung tangannya. Jemarinya berlumur gemuk. Sebuah rangka sepeda terburai di depannya, tak berbentuk. Aku membungkukkan tubuh, agar suaraku mengalahkan deru bajaj yang terbatuk-batuk.

"Dari internet tentu. Ayo, kapan kita ke warnet sama-sama? Aku yang bayar. Nanti kutunjukkan foto-foto mereka. Kamu bisa bikin akun Facebook, lalu ngobrol dengan mereka."

"Buat apa? Aku akan memamerkan apa?" Dia tertawa. Aku diam saja.

"Aku bukan lagi komandan upacara, Sam." Tino berdiri lalu melempar lap yang bergemuk seperti jemarinya. Tak ada yang akan mengira bahwa bibirnya yang kehitaman itu pernah berteriak lantang memimpin upacara bendera. "Aku bukan siapa-siapa," ujarnya.

"Aku juga bukan, No." Tawaku terdengar mengambang.

"Aku malas. Kalau aku menang undian, boleh deh aku kontak mereka." Dia tertawa.

"Apa kamu pernah cerita tentang aku?" Tino tak mengangkat kepalanya. Tangannya sibuk mengusap jeruji sepeda.

Aku menggeleng. Bengkel ini terlalu kusam dan temaram, tak seperti pendar dunia maya yang menentramkan. Di sana, semuanya harus sempurna, tampak bahagia. Foto keluarga terpajang. Anak-anak berpose lucu menggemaskan. Keluarga berpelukan mengumbar tawa, berlatar eksotika tempat wisata. Semuanya harus indah untuk dikenang, seperti masa-masa SMA.

"Lagipula, apa iya mereka akan ingat aku?" gumamnya.

"Dibandingkan teman-teman kita, kamu nggak berubah sejak SMA," jawabku.

Tino mengerlingku. Senyumnya masam. Aku memalingkan mataku ke arah kali yang kehitaman di bawah jembatan. Siapapun akan mengakui bahwa Tino tak banyak berubah. Dia tidak botak, tidak gendut. Rambutnya pun tak memutih. Dia hanya terlihat sedikit tua, dan kusam. Juga letih, ringkih. Legam, mengisut oleh garang debu jalanan.

Dulu, bangkuku dan bangku Tino bersebelahan. Karenanya, kutahu pasti Tino tak pernah mencatat pelajaran. Buku catatannya penuh berisi gambar-gambar. Dia hanya belajar dari fotokopian catatan teman-teman perempuan. Dia juga setia kawan, rajin membagi contekan. Tak seperti aku yang suka menyendiri di sudut bangku belakang, Tino punya banyak teman. Meskipun bukan yang paling pintar, kutahu otak Tino lumayan. Karenanya banyak yang heran ketika dia tak lolos ujian masuk universitas idamannya. Sejak itu, dia berpindah dari kota ke kota. Konon, mencari peruntungan.

Saat melihatnya di sini tiga tahun lalu, aku segera mengenalinya. Dia masih Tino yang sama: Tino yang teguh pendirian, juga makin keras kepala. Memikirkan itu, aku urung memberitahunya tentang rencana reuni SMA minggu depan. Tak mungkin dia mau datang. Kurahasiakan keputusan yang barusan kuniatkan: aku akan datang. Aku bosan tak terlihat. Aku bosan duduk di bangku belakang.

UNTUNG pamanku meminjamiku Kijangnya. Tak mungkin aku menyambangi kafe hotel bintang lima ini dengan menumpang kopaja. Tak akan kubiarkan bajuku tercemari peluh dan aroma debu jalanan. Semuanya harus tampak sempurna, seperti foto-foto yang kupajang di Facebook sana.

Di kafe itu, aku segera mengenali teman-temanku. Harno tampak menyolok dengan tubuhnya yang tambun dan rambut keperakan. Vina, Karina, datang dengan suami dan anak-anak mereka. Kardiman yang baru dua hari tiba dari Jerman membagi-bagi gantungan kunci dan cokelat. Tersipu-sipu, aku menyembunyikan senyum ketika mereka bertanya mengapa badanku tak memuai seperti mereka. "Rajin berolahraga saja," ucapku sambil menjejalkan sekeping keripik ke mulutku. Aku melirik Kardiman. Fasih sekali lidahnya mengeja nama-nama makanan asing ini kepada pelayan. Pad thai, tom yam, ah, entah apa lagi.

"Sama seperti dia," kataku kepada pelayan yang menanyakan pesanan, sambil menunjuk Kardiman. Semua tertawa.

"Mana istri dan anakmu, Sam?" Kardiman menatapku sambil menyeruput jus berwarna merah muda.

"Oh, istriku sedang ada urusan kantor ke Singapura. Anakku ada di rumah sama neneknya."

"Bisnis kamu sukses ya?"

"Begitu sajalah, Man. Lumayan."

"Ada yang tahu kabar Tino, ketua kelas kita?" Bian tiba-tiba berseru dari ujung meja, memecah silang cerita tentang guru-guru SMA. Kardiman mengangkat bahunya. Entah mengapa, aku merasa jadi pusat perhatian semua mata.

"Kabarnya dia sekarang berwiraswasta. Aku juga sudah lama nggak ketemu dia," sahutku. Kureguk teh hangat cepat-cepat. Untung saja, pelayan datang mengedarkan beberapa pinggan makanan.

"Jadi, gosip tentang dia punya bengkel sepeda itu bener, nggak?" Karina berseru di tengah kesibukan piring-piring makanan diedarkan. Aku mengangkat bahu. Yang lain membisu, sibuk memulai suapan pertama.

"Tanpa bantuan Tino pasti aku nggak lulus," Kardiman menggumam, "Ingat nggak, dia menyalin jawaban ujian matematika di atas tisu, lalu kita edarkan dari bangku ke bangku?"

Harno, Bian, Vina, tergelak hingga bahu mereka terguncang. Aku mengunyah mie bertabur udang bernama pad thai itu pelan-pelan. Bian menyambung ceritanya tentang sukses contekan yang terus berulang hampir di setiap ujian. Entah mengapa, makanan ini terasa aneh di lidah. Aku meletakkan sendokku dengan diam. Lidahku yang ingin mengucapkan sesuatu seperti teriris tajam.

Aku ingat sesuatu yang seperti sengaja terlupa. Kisah sukses contekan itu bumbu yang berlebihan. Tino sempat kepergok membagi contekan, namun dia tak mengaku kepada siapa contekan itu diberikan. Tino dihukum menghormat tiang bendera di tengah lapangan upacara selama dua jam. Sendiri saja.

Aku ingat semuanya. Aku, si penghuni bangku belakang. Pad thai ini terlalu manis rasanya. Sup ikan bernama tom yam itu terlalu asam. Tak ada rasa yang akurat. Namun, hidangan ini lumat dengan lahap. Yang terlihat harus tampak sempurna, meskipun menyembunyikan borok atau luka. Menentramkan, seperti kenangan lama.

KULETAKKAN dua bungkus pad thai itu di meja makan. Memang aku tak suka, tapi biarlah Yanti dan Restu mencicipi menu restoran hotel bintang lima. Aku akan tidur nyenyak malam ini, setelah mengukir prestasi merasai pad thai. Tersenyum geli, aku mengenang tawaranku untuk membayar semua tagihan di restoran tadi. Basa-basi basi. Tentu saja Bian memenangkan perdebatan soal pembayaran tagihan. Aku tahu dia tak akan membiarkan dirinya ditraktir teman. Pelan-pelan, kulepas sepatu kulit pinjaman dari paman yang sesungguhnya sangat kesempitan. Seandainya Tino hadir di reuni ini, semua lakon ini tak akan sesempurna ini.

Kubuka tirai yang menjadi pintu kamar, menguarkan aroma obat nyamuk bakar. Yanti tertidur dengan mulut terbuka, pasti kelelahan menjahit baju pelanggan. Dia tak tahu aku menghadiri reuni malam ini. Dia tak tahu suaminya telah mengobral cerita tentang seorang istri yang sedang dinas ke Singapura, di sebuah hotel bintang lima. Dia hanya tahu bahwa sewa rumah petak ini belum terbayar hingga dua bulan.

Mungkin aku akan memberanikan diri berbicara kepada Tino besok pagi. Siapa tahu dia punya sedikit uang yang bisa kupinjam. Kutahu dia selalu setia kawan, seperti tiga tahun lalu, saat dibantunya aku membuka kios majalah di depan bengkel sepedanya. Diajarinya aku mereparasi sepeda, seperti dulu saat diajarinya aku matematika. Selama aku mengenalnya, tak pernah dibiarkannya aku sendirian. Tak pernah dibiarkannya aku terpuruk di bangku belakang.***

Urbana, 11 Januari 2009

Ketika Tuhan Berjubah Putih

Cerpen Sofie Dewayani
Dimuat di Republika 25/03/2007



Masjid kami seperti gua muram yang terasing dari gegap-gempita keriangan menjelang Natal. Hanya di masjid ini, orang berjalan gegas menyelamatkan badan dari gigitan angin dingin yang nakal. Masjid ini tempat berteduh sesekali, sedangkan toko dan mall di luar sana kemayu oleh dekorasi warna-warni, kerlip lampu serupa ceria kembang api, juga arus pembeli yang bagai tak mati-mati.

Tentu tak ada yang memikat dari masjid sepi. Karenanya kami mengunjunginya seperti membagi basa-basi. Tak hanya sekali dua kali, kami terdampar di tengah sesak arus pembeli di toko-toko yang wangi. Bagaimana bisa memalingkan mata dari kenikmatan berbelanja, di hamparan pajangan benda-benda menggugah selera yang harganya menggoda?

Begini. Sebenarnya saya mengidamkan mantel tebal warna ungu, yang harganya tak pernah terjangkau saku. Mantel lama saya semakin menipis tampaknya, dengan lapisan busa yang menua. "Namanya juga mantel loak. Boleh dong, sekali-kali saya beli barang baru," rayu saya.

Suami saya hanya tersenyum saja, tahu tabiat saya. Oh, dia juga sedang bermimpi ternyata. Idamannya kamera digital merek terbaru yang didiskon seratus lima puluh dolar dari harga semula! Tunggu hingga usai Natal, saat semua obral jatuh ke titik terendah, kata saya.

Saya tak tahu anak-anak mengidamkan apa. Saya tak berani bertanya. Saya bukannya tak melihat mata-mata kecil penuh harap yang diterpa kilau etalase kaca. Boneka-boneka Santa Claus di sana menyapa jenaka dari tumpukan mainan aneka rupa. Ya. Ini Natal, musim belanja saat anak boleh bermimpi setahun sekali. Namun anak-anak saya tahu diri bahwa mereka hanya boleh menyaksikan semuanya dari tepi. Memang, mereka pasti akan merecoki saya dengan pertanyaan yang itu-itu lagi,

"Nanti Santa Claus akan datang kemari?"

"Nggak dong, Sayang. Kita kan nggak merayakan Natal."

Tetapi, kemarin si bungsu melontarkan pertanyaan yang tak biasa,

"Lalu kenapa ibu ikut-ikutan belanja Natal?"

Saya tertawa (salah-tingkah, sebenarnya).

"Nggak kok, hanya melihat-lihat saja."

Dia diam, namun wajahnya tampak tak terpuaskan oleh jawaban saya. Ah, apa yang bisa saya katakan kepada bocah empat tahun? Suatu saat nanti dia akan mengerti seni belanja yang nikmat oleh sensasi menghemat. Ya, kendali bisnis tak bisa kita hindari. Tetapi apa salahnya membeli mimpi setahun sekali?

Natal sudah dua hari lewat. Namun pagi ini, rupanya anak-anak masih menyimpan auranya di meja makan. Awalnya, putri kecil saya bercerita tentang temannya yang mendapat hadiah perangkat Barbie dengan aksesoris pewarna rambut. Entah bagaimana, adiknya menyahut,

"Kenapa kita nggak punya Santa Claus?"

"Karena kita nggak merayakan Natal."

"Kenapa Tuhan kita nggak seperti Santa Claus?"

Kakaknya terdiam. Ditatapnya saya yang pura-pura sibuk mengolesi roti panggang.

"Kan Tuhan sudah beri adik semuanya?" kata saya. Klise, seperti biasa. Entah mengapa, pagi ini selai stroberi memucat warnanya. "Udara, buku-buku cerita, juga semua makanan yang adik suka...." Saya berdiri tergesa. Saya tahu jawaban saya seperti mengambang di udara. "Iya sih, semuanya. Kecuali... mainan mobil remote control yang aku minta," sahutnya, sambil menopang dagunya.

"Soalnya, kamu nggak pernah mengucapkannya dalam doa...!" sahut kakaknya tiba-tiba.

"Katanya Tuhan maha tahu segalanya? Jadi, nggak perlu bicara keras-keras, kan?" kilah adiknya. Saya menyembunyikan senyum, saat kemudian saya dengar dia berkata,

"Aku mau Tuhanku berbaju merah lucu dan selalu tersenyum seperti Santa Claus itu. Jubah putih Tuhan jelek dan nggak lucu. Dia juga nggak pernah tersenyum kepadaku."

Saya mengernyitkan kening. Jubah putih?

"Nggak perlu mendebatnya. Imajinasi liarnya itu bukan tandingan kita. Nanti dia akan mengerti juga," Suami saya berkata di benak saya. Kadang-kadang, rasanya memang tak sabar menunggu anak-anak cepat dewasa. Saya nyalakan keran air. Piring bekas sarapan tiba-tiba sudah menumpuk saja. Teman saya, seorang aktivis gereja, bercerita bahwa dia tak berbelanja Natal tahun ini.

"Di sini, Natal sudah kehilangan makna. Saya ingin, anak-anak merayakan Natal dengan sederhana saja," katanya.

Saya tersenyum saat itu, mengiyakannya. Saya ingin berkata, bahwa hura-hura belanja seperti ini membuat harga banyak barang jadi terjangkau untuk pendatang seperti saya. Namun tentu saya diam saja. Tiba-tiba, saya merasa bersalah sudah latah menodai hari suci yang berharga baginya.

Ah, siapa peduli. Lagipula mantel ungu itu diobral lagi hingga tiga puluh persen. Saya melihatnya di iklan televisi pagi ini. Setelah makan siang, kami berbenah cepat-cepat. Saya menelepon suami, mengingatkannya tentang rencana belanja hari ini. Lima belas menit kemudian, kami sudah menjemputnya di kampus. Jalanan seperti berkilau oleh hujan es semalam.

Dingin menggigit tulang. Embun menggenangi kaca mata suami saya saat digantikannya saya di belakang kemudi. Dia memutar kunci. Namun, mobil tak menggerung sama sekali. Bahkan semua lampu mati. Dua kali, tiga kali, hingga entah berapa kali kunci itu dihentakkan. Sia-sia. Kini, penantian berganti keluh dan umpat. Anak-anak meratap, merutuki hawa dingin mobil tanpa penghangat.

"Padahal aki mobil ini baru diganti," cetus suami putus asa. Saya menggigil bukan karena dingin. Terhempas dari penantian panjang itu seperti terjatuh di jalanan berlapis es yang licin. Suami saya menelepon perusahaan asuransi. Mobil derek akan datang tak lama lagi. Saat saya gandeng anak-anak ke halte bis, mereka menangis. Pipi mereka memerah tak terlindung dari gigitan angin dingin yang garang. Saya mengumpat dalam-dalam, menyesali reklame obral besar-besaran yang seperti sengaja terpampang nyalang.

Hah, kurang ajar!

Mobil kami masih menginap di bengkel hingga hari ini. Aneh, tak biasanya ia berulah seperti ini. Aki sudah diganti yang baru, namun masalahnya bukan itu. Kemarin, teknisi bengkel meminta suami saya untuk membeli busi baru.

"Apa dia yakin masalahnya itu?" Saya tatap suami saya, ragu.

"Yah, kita turuti saja. Siapa tahu?"

"Siapa tahu gundulmu!"

Dua ratus dolar sudah tandas, bukan untuk kamera digital, atau mantel ungu baru!

"Ya sudah.... Memang obral Natal kali ini jatah mobil kita." Getir tak tersembunyi dari tawa suami saya. Dan dia tak berani menatap mata saya. Jumat ini, masjid masih sepi. Entah hening apa yang tak mau pergi, saat gempita Natal tak lagi mengepung kota ini. Saya sedang membantu putri saya melepas mantelnya ketika saya sadari si bungsu tak lagi berdiri di sisi. Saya melihat sekeliling, dia bahkan tak terlihat di sudut mana pun juga. Saya hendak memanggil suami saya ketika pintu lorong terbuka. Imam masjid, yang asli Irak itu, muncul dari sana, membimbing anak saya. Senyum mengembang di balik janggut tebalnya. Anak saya mencengkeram jubah putihnya, dan tangan kirinya menggenggam lolipop merah muda. Melihat matanya yang basah, saya tersenyum lega.

"It's okay. Tadi dia menangis kebingungan di depan pintu," kata Imam sebelum berlalu.

Si bungsu menghambur memeluk saya, tangisnya pecah. Suami saya, entah dari mana datangnya, menggendongnya. Tangis si bungsu reda di pelukan ayahnya.

"Tadi aku diselamatkan oleh Tuhan, dan dia memberiku ini," katanya sambil mengangkat lolipopnya tinggi-tinggi.

Suami saya menatap saya tak mengerti. Saya tersenyum geli. Jadi Tuhan berjubah putih itu....

Si bungsu meneruskan celotehnya tentang Tuhan, dan tiba-tiba saya terhenyak. Duh, saya nyaris menjelma bocah empat tahun. Hampir saja saya memakaikan mantel ungu itu pada Tuhan.***

Urbana, Februari 2007

Rabu, 02 Desember 2009

Orang-orang Kampungmu

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jurnal Bogor 22/11/2009



AWALNYA antara iya dan tidak aku memenuhi ajakanmu wak�tu itu. Namun, demi melihat engkau yang begitu se�nang hati bila aku mengunjungi tanah kelahiranmu, maka aku pun akhirnya menganggukkan kepala. Se�sung�guhnya bukan itu saja yang menggenapkan alasan kedatanganku ini. Aku ingin membuktikan kebenaran anggapan miring mereka tentang kampungmu dan tabiat orang-orang di dalamnya.

�Cukuplah aku saja yang ke sana. Kampung sekali daerahnya!�

�Orangnya panas! Cepat tersinggung! Mau marah saja bawaannya!�

�Dulu, bibiku sempat ke sana. Pulang hanya bawa baju di badan. Ditodong dia�.�

Itu kata kawan-kawanku di seberang sana yang dikutip dari orang-orang yang katanya pernah ke kampungmu. Itulah yang merangsangku menginjakkan kaki di salah satu daerah di Sumatera Selatan ini. Aku sengaja tak mengutarakan hal ini padamu. Takut engkau merasa tersinggung. Ya, aku tahu kau bukan orang yang sensitif. Tapi, kemungkinan salah paham itu tetap ada. Kau bisa saja beranggapan: Alasanku berlibur selama lima belas hari di kampungmu berada satu tingkat di bawah alasan kepenasaranku terhadap celotehan-celotehan mereka.

***

SATU fakta telah terkuak!

Tanah kelahiranmu dapatlah kusebut sebagai kota yang tengah berkembang. Di sini berdiri beberapa kampus swasta, SMA-SMK nasional, mal, butik, distro, pusat kebugaran, kafe, hall, hotel berbintang tiga, lapangan futsal, bahkan ada bandara-walaupun kabarnya jarang (atau memang tidak) difungsikan.

Aku telah mengabadikan semua dalam kamera digitalku. Bahkan aku juga sempat mengambil rekaman pertandingan futsalmu dengan anak-anak salah satu kampus swasta di sini. Untuk ukuran daerahmu, lapangan futsal tersebut cukup me�gah. Ini bukti: beberapa tahun ke depan kampung halamanmu akan menyamai Palembang. Aku yakin itu.

***

KAU sedikit pun tak menaruh curiga ketika aku memintamu untuk mengenalkanku pada teman-temanmu.

�Tenang sobat, kau akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai suku di daerahku. Yaa� bukannya aku ingin me�nunjukkan betapa luasnya pergaulanku, ta�pi� ya begitulah�.� Kau mengakhiri kalimatmu dengan tertawa ngakak. Aku suka itu. Kau meyakinkanku bahwa kau tak me�ngendus �penelusuranku�.

Aku kaukenalkan dengan Nanu. Pe�muda sebayaku ini berasal dari keluarga su�ku Col. Alamak, nada (bukan isi) bi�ca�ranya tinggi sekali. Berdengking-dengking. Ia seolah tengah berbicara dengan seorang tuli atau manula. Kalimatnya disingkat-singkat. Ditambah pula, ia kerap berbicara dalam kecepatan yang ekstra. Belum lagi bila tengah memamerkan bahasa-daerahnya padaku. Aku seperti mendengar pembacaan mantra saja.

Tapi� aku suka itu. Selain gaya bicaranya yang tak lazim Nanu tak suka menanam tebu di bibir. Ia pun cepat mengakrabkan diri. Bahkan dalam beberapa kali kunjunganku (tentu saja bersamamu) ke kediamannya, sudah dua kali aku diajak makan malam bersama ayah-ibunya yang bekerja menyadap karet saban pagi hingga petang. Aku pun dikenalkan dengan teman-temannya. Ternyata mereka berlatar belakang etnis yang tak berbeda dengannya. Bertemu mereka, aku seolah melihat Nanu-Nanu yang bergerombol.

***

KAU mengenalkanku dengan Sunar, putri pesirah-semacam Kades. Aku juga berkenalan dengan teman-temannya. Ada yang dari Suro, Karang Panggung, Binjai, Mandi Aur�. Kami cepat akrab. Pun ketika mereka mengajakku andun (sebuah kata yang menambah perbedaharaan istilah lokalku); menghadiri hajatan prnikahan, bersamamu aku memenuhinya.

Kami andun ke Karang Panggung.

Ya Tuhan, di sana aku hampir tidak dapat melanjutkan kunjungan dari rumah panggung satu ke rumah panggung lainnya. Perutku bagai mau meletus. Semua�nya berawal dari ketaktahuan sekaligus kerakusanku.

Ketika menyelesaikan anak jenjang rumah pertama, kami disuguhkan ma�kan�an yang benar-benar asing-bagiku. Tuan rumah menghidangkan nasi beras pulut, ikan seluang goreng, sambal tampuyak, bunge kates rebus, ditambah pula air kelapa muda yang sudah dicampurkan gula merah parut.

Setelah kau memberikan kode untuk menghormati tuan rumah (aku tahu arti�nya: santaplah hidangan itu!), aku pun men�cobanya. Kau seperti mengulum se�nyum ketika melihatku dengan lahap me�nyantap hidangan. Aku tak memedulikanmu. Jujur, makanannya benar-benar enak.

Aku baru berhenti ketika orang-orang dusun itu mengeluarkan batuk kecil. O o, ternyata mereka memerhatikanku sedari tadi. Aku malu. Dan bertambah malu ketika tawa mereka pecah mendengar sen�dawaku yang tiba-tiba. Baru mengertilah aku arti kuluman senyummu itu. Ada tiga puluh sembilan rumah lagi yang mesti dinaiki. Masing-masing harus dihormati tuan rumahnya. Matilah aku! Kau pura-pura tak memedulikan kebingunganku. Aku tahu, dalam hati, kau terbahak-bahak!

***

RUPIT. Awalnya aku pikir itu nama salah satu temanmu. Kau tertawa hingga mengeluarkan air mata, ketika dengan percaya dirinya aku menyapa teman yang baru kaukenalkan padaku dengan nama itu. Merah-masailah airmukaku. Malu samsai.

Ternyata nama temanmu itu Kap. Tetap unik, seunik nama dusunnya. Te�rang�nya, ia anak yang ramai. Tabik! Perangai kami seirama. Kami pun bercerita panjang lebar tentang banyak hal. Tentu saja, selaku �pencari-bukti�, kuberi ruang lebar-lebar baginya untuk banyak bercerita. Selain untuk mengetahui tabiatnya, aku juga mendapat banyak pengetahuan tentang kampungnya-yang juga kampungmu.

Dari Kap, aku dijejali nama-nama daerah yang sangat menarik didengar. Mand Angin, Selangit, Lubuk Ngin, Pauh, Muara Kuis, Pulau Kidak, Cecar� Alamak, kapan kita ke sana? Aku benar-benar bergairah.

Ternyata Kap adalah gambaran orang-orang Rupit-dan daerah sekitar-pada umumnya.

�Banyak orang bilang kami orang-orang yang sombong, apalagi kawan-ka�wanku yang dari Bingin Teluk itu. Mungkin mereka mengatakan itu karena kami memiliki perkebunan karet, kelapa sawit, dan katanya, tambang emas. Tapi itu pandangan orang sekali lalu saja. Yaaa� kami seperti orang kebanyakanlah, Kawan!� Ia menepuk pundakku. Aku ter�se�nyum. Lebih mirip menyeringai.

Kita diajaknya jalan-jalan ke Mandi Angin. Ada perkebunan kelapa sawit yang sangat luas di sana. Dia sempat mena�nya�kan berapa lama aku akan menghabiskan waktu di kampungmu. O o, aku baru sadar. Sudah hampir setengah bulan aku di sini.

Beberapa hari lagi, jawabmu.

Lusa, aku menegaskan.

Sungguh, bila tak memikirkan mid-semester yang akan dilaksanakan dua hari lagi, aku masih ingin tinggal di kampungmu.

***

AKU benci malam ini.

Kau membelikanku tiket kereta api kelas bisnis. �Selain karena aku tak punya cukup uang, kelas eksekutif tidak akan membuatmu merasa berada di kampung orang,� katamu sebelum memecah tawa seraya meninju perutku.

Kau juga minta maaf kalau selama di kampung halamanmu, kau merasa ada hal-hal yang tak selayaknya aku dapatkan. Buru-buru kukatakan bahwa semuanya mengasyikkan. Aku mendapatkan banyak teman. Justru aku merasa agak menyesal tidak dapat bertemu dengan teman-temanmu dari beberapa daerah yang pernah kausebutkan itu: Sukamanah, Su�ka�merindu, Megang Sakti, Karang Dapo, atau Petanang, tempat rumah dinas walikota�

�Yang penting, selama perjalanan darat kita kemarin, kau tak melihat bajing loncat itu, kan?!� Kami tertawa lagi. Ah, aku benar-benar kena kali ini.

Petugas stasiun mengumumkan beberapa menit lagi kereta api akan berangkat. Kau mengantarku hingga ke tempat duduk. Setelah memberikanku dua kotak-kardus oleh-oleh, kau memelukku erat. �Itu pempek, pokat, dan gula merah,� bisikmu.

Aku tersenyum tipis sebelum mengucapkan terimakasih dengan lirih. Ah, bukankah nanti bisa kubeli di Palembang?

�Itu sebagai bukti bahwa kau pernah ke kampungku,� Kau seolah dapat membaca pikiranku. �Mungkin dengan yang ada di Palembang, rasa pempeknya agak sama, tapi cobalah cukanya. Berbeda. Nah, untuk pokat dan gula merah, jangankan orang di seberang sana, mereka yang dari Pa�lembang saja selalu membawanya sebagai buah tangan.�

Kereta bergemerudupan. Kau buru-buru turun dan berdiri di luar, dekat jendela tempatku duduk. Kereta berangkat pe�lan-pelan. Kau melambaikan tangan. Ti�ba-tiba kurasakan mataku hangat. Basah.

Sebuah suara dari sampingku berta�nya: �Temanmu itu pasti baik sekali, ya?� Aku mengangguk tanpa menoleh. Aku masih mengusap mata. �Orang Linggau dan Musi tak beda dengan orang keba�nya�kan, bukan?� lanjut suara itu.

Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Orang-orang di bangku lain sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang membaca, ngobrol dengan kawan sebangku, makan biskuit, bermain ponsel, juga ada yang sudah membentangkan kardus di antara tempat duduk; bersiap tidur.

Aku memejamkan mata. Mengantar tidur dengan mengingat kawan-kawan ba�ru sebagaimana menghitung jumlah dom�ba di padang rumput yang luas. Oh, aku tak sabar menyumpal bacot besar mereka yang sok tahu di seberang sana.***

Lubuklinggau, 19 April 2009

Untuk orang-orang Lubuklinggau: berbanggalah!!