Minggu, 25 April 2010

Tobat

Cerpen Melvi Yendra
Dimuat di Republika, 25 April 2010

TEMBAKAN itu datang dari berbagai arah. Dada dan kepalanya pecah. Rusuk dan kedua kakinya rengkah. Ketika malaikat maut menghampirinya, ia melihat lambaian tangan putrinya dan terukir senyum di bibirnya.

Lelaki itu roboh dengan puluhan peluru bersarang di tubuhnya.

***

Beberapa saat sebelum penembakan

Lelaki itu keluar dari masjid, berdiri sejenak memandang ke arah kegelapan. Angin pagi menerpa wajah kerasnya. Dicobanya memejamkan mata. Sedikit saja, sebentar saja, ia merasa sangat bahagia. Entahlah, ia kini merasa benar-benar terbebas. Ia ingin pulang. Sudah lama ia ingin pulang. Ia lelah menghabiskan umurnya di jalanan. Ia bosan dengan kegelapan. Wajah anak perempuannya kini memenuhi ruang pandangnya. Ia rasanya ingin terbang saja agar cepat sampai di rumah. Ia memakai jaket kulit hitamnya dan mengenakan sepatunya. Ditariknya napas panjang sekali lagi sebelum melangkah menuruni tangga masjid.

***

Setengah jam sebelum penembakan

Sosok-sosok bersenjata itu tiarap di semak-semak, di dalam kegelapan. Sudah lebih dari satu jam. Masjid itu telah dikepung. Lelaki yang mereka tunggu ada di dalam, di saf terdepan, sedang shalat Subuh bersama empat orang jamaah lainnya. Dalam perhitungan, mustahil ia bisa lolos sekarang. Meskipun, sesungguhnya, legenda yang tersiar tentang lelaki itu masih membuat mereka gemetaran. Sejak sepuluh tahun terakhir, ia selalu lolos dari kepungan. Kabarnya, ia menyimpan ilmu kanuragan. Dan, kabarnya punya indra keenam.

�Kenapa tidak kita serbu sekarang saja, ndan?� bisik seorang anggota pasukan kepada komandannya.

�Kau ingin menyerbu orang yang sedang sembahyang? Markas tidak akan suka. Wartawan akan senang menulis berita kita telah menodai rumah Tuhan,� sahut sang komandan.

�Ia bisa saja lolos lagi,� kata anggota pasukan pesimis.

�Tidak lagi. Masjid ini telah dikepung. Ia tidak akan bisa mengelabui kita kali ini,� sahut sang komandan, yakin.

�Bagaimana kalau lelaki itu keluar duluan? Pasti terjadi kericuhan,� tanya anggota pasukan sekali lagi.

�Tidak akan ada bedanya buat kita. Itu sudah risiko tugas. Biarkan markas yang akan menjawab semua caci maki masyarakat,� sahut sang komandan dan menyuruh anak buahnya diam.

Mereka menunggu. Menit demi menit berlalu. Shalat Subuh pun usai. Setelah zikir dan doa yang singkat, satu per satu jamaah keluar dari masjid dan pulang. Tak satu pun di antara mereka yang sadar, ada pasukan polisi sedang ber sembunyi di kegelapan. Masjid itu berada jauh dari rumah-rumah penduduk, di pinggir jalan yang sepi, di tengah persawahan.

Lelaki yang mereka incar belum juga keluar. Ia masih duduk di saf terdepan. Menundukkan kepala, sedang berdoa.

***

Satu jam sebelum penembakan

Ustaz Ramli menghela napas untuk kesekian kalinya. Ia gemetaran begitu lelaki asing itu selesai berkisah. Tak mudah baginya menerima kenyataan bahwa ia kini sedang berhadapan dengan seseorang yang mengaku telah membunuh 23 orang manusia. Degup jantungnya berkejaran dengan putaran biji tasbihnya. Saat ini, Ustaz Ramli benar-benar ingin Tuhan memberinya petunjuk jawaban apa yang harus diberikannya kepada lelaki itu. �Jadi, Ustaz, apakah Tuhan akan menerima tobat saya?�

Ustaz Ramli sudah sering mendapat pertanyaan seperti itu, tetapi belum pernah yang seperti ini. Untuk menjawab pertanyaan itu, ia menceritakan kisah yang diambil dari salah satu hadis Nabi Muhammad SAW. Dahulu kala, pada zaman umat-umat terdahulu, ada seorang pembunuh kejam yang telah membunuh 99 orang. Namun, setelah beberapa waktu, pembunuh itu sadar dan ingin bertobat. Maka, mulailah ia mencari seorang alim untuk menyatakan tobatnya. Namun, ketika berhasil menjumpainya, sang alim malah membentak pembunuh yang ingin bertobat tersebut dan mengatakan bahwa tidak ada ampunan bagi seorang pembunuh. Karena marah, si pembunuh pun membunuh sang alim. Sehingga, genap 100 orang yang telah ia bunuh.

Setelah itu, sang pembunuh merasa menyesal dan kembali meneruskan perjalanannya untuk mencari orang alim lain untuk menyatakan tobatnya. Maka, saat menemui orang alim kedua, ia berkata, �Apakah ada jalan untuk bertobat setelah saya membunuh 100 orang?� Si orang alim menjawab, �Ada. Pergilah ke dusun di sana karena banyak orang yang taat kepada Allah. Berbuatlah sebagaimana perbuatan mereka. Dan, janganlah engkau kembali ke negerimu karena negerimu adalah tempat para penjahat.� Dan, pergilah pembunuh itu. Di perjalanan, mendadak maut menjemputnya.

Maka, bertengkarlah Malaikat Rahmat dan Malaikat Siksa, memperebutkan roh si pembunuh. Berkata Malaikat Rahmat, �Orang ini telah berjalan untuk bertobat kepada Allah dengan sepenuh hatinya.� Lalu, berkatalah Malaikat Siksa, �Orang ini belum pernah berbuat baik sama sekali.�

Maka, diutuslah seorang malaikat lain untuk menjadi hakim di antara dua malaikat itu. Malaikat yang ketiga berkata, �Ukur saja jarak antara dua dusun yang ditinggalkan dan yang dituju. Maka, ke mana orang ini lebih dekat, masukkanlah ia kepada golongan orang sana.� Setelah diukur, didapatkan lebih dekat jaraknya ke dusun baik yang ditujunya kira-kira sejengkal. Maka, dipeganglah roh orang ini oleh Malaikat Rahmat.

�Jadi, aku masih bisa bertobat?� tanya lelaki itu setelah mendengar cerita Ustaz Ramli.

�Tentu saja, pintu rahmat Allah selalu terbuka luas untuk orang-orang yang ingin bertobat,� jawab Ustaz Ramli.

�Tapi, saya tidak tahu caranya, Ustaz. Jadi, mohon ajari saya,� kata si lelaki.

Belum sempat menjawab, beberapa jamaah datang. Waktu Subuh telah masuk dan azan segera dikumandangkan.

�Setelah Subuh, mampirlah ke rumah. Rumah saya di ujung jalan sana, rumah ketiga dari sebelah kanan. Saya akan tuntun Saudara untuk bertobat,� sahut Ustaz Ramli. Si lelaki mengangguk, kemudian pergi mengambil wudhu.

Sehabis shalat dan berzikir, Ustaz Ramli menghampiri si lelaki.

�Saya pulang duluan. Saya tunggu di rumah,� kata sang Ustaz. Si lelaki yang ingin bertobat mengangguk dan melanjutkan doanya sendirian.

***

Dua jam sebelum penembakan

Ustaz Ramli terpaksa berhenti mengaji. Lelaki berjaket kulit hitam berbadan kekar itu masuk ke dalam masjid terhuyung-huyung. Mulanya, ia berpikir lelaki itu salah satu preman kampung yang mabuk dan terdampar di tempat itu. Namun, melihat lelaki itu sadar dan segar bugar, Ustaz Ramli mengoreksi dugaannya.

�Assalamu �alaikum,� sapa Ustaz Ramli.

Lelaki itu tak menjawab. Ia mendekat dan menyalami sang Ustaz.

�Tolong saya, Pak Ustaz,� katanya lirih.

Ustaz Ramli kini benar-benar kaget. Lelaki di depannya bersimbah air mata. Ia menangis sesenggukan.

�Apa yang bisa saya lakukan untuk Saudara?� tanya Ustaz Ramli waswas campur bingung.

�Saya ingin bertobat.�

Ustaz Ramli terdiam.

***

Dua setengah jam sebelum penembakan

Tiba-tiba saja, lelaki itu merasa letih. Kakinya perih. Di sebuah persimpangan, ia berhenti berlari. Ia pikir, para pengejarnya sekarang sudah kehilangan dirinya.

Matanya melihat puncak sebuah masjid, kecil di kejauhan. Sayup-sayup terdengar suara bacaan Alquran dari pengeras suara.

Tiba-tiba, ia merasa sangat rapuh.

***

Tiga setengah jam sebelum penembakan

Ia keluar dari rumah besar itu tanpa kesulitan. Suara anjing menggonggong, tapi di sana, di kejauhan. Di salah satu belokan, ia berhenti karena telepon genggamnya bergetar. Sebuah pesan singkat datang dari nomor yang sangat ia kenal:

Selamat ulang tahun, Ayah. Semoga panjang umur dan selalu bahagia. Ayah lagi di mana? Ayah sudah janji, di hari ulang tahun Ayah yang ke-45 ini, Ayah akan pulang dan tak akan pergi lagi. Fitri ada kado untuk Ayah. Ayah pasti suka. Salam sayang selalu, Fitri dan Ibu.

Ia memejamkan mata. Membayangkan wajah Fitri, anaknya yang masih kecil dan istrinya di rumah. Sudah berapa lama ia tidak pulang? Ia sudah tidak ingat. Entah mengapa, ia teringat akan putrinya. Ia pernah berjanji untuk menemani putrinya itu.

Ia ingin menangis, tapi terlambat. Air matanya sudah menetes membasahi pipinya. Tiba-tiba ia tersenyum. �Preman ternyata masih punya nurani,� batinnya.

Lelaki itu membuka mata ketika mendengar suara mencurigakan di suatu tempat tak jauh dari tempatnya berdiri. Naluri memerintahnya untuk segera berlari.

Ia pun berlari, tak berhenti.

***

Empat jam sebelum penembakan

Ia berdiri di pinggir tempat tidur besar itu. Lelaki yang harus ia bunuh sedang mendengkur sendirian di atas ranjang. Tampak tenang. Terlihat tanpa dosa.

Ia sebenarnya tidak terlalu menyukai pekerjaannya. Pembunuh bayaran bukanlah pekerjaan yang baik, ia tahu. Namun, pekerjaan ini kadang-kadang memberi lebih dari sekadar uang. Ia sering merasa puas setelah mengeksekusi para maling ini. Kadang-kadang ia merasa sedang menunaikan tugas suci. Ia seakan-akan adalah algojo yang ditunjuk untuk menghukum mati para pelaku korupsi.

Tiap kali sebelum membunuh, ia tak lupa berdoa agar dosa-dosanya diampuni.

***

Dua jam setelah penembakan

Ustaz Ramli kembali ke masjid karena lelaki yang ingin bertobat itu tak kunjung mengetuk pintu rumahnya. Di halaman masjid, ia menemukan banyak bercak darah yang telah coba ditutupi dengan tanah.

Ustaz Ramli merinding.

Lebih-lebih ketika ia mencium aroma wangi. Aroma wangi yang asing, yang belum pernah ia cium sebelumnya. (*)

Jakarta, 4 April 2010

Jumat, 16 April 2010

Kisah Rumah Kecil

Cerpen Koko Nata


Dulu, aku sebuah rumah kecil. Aku hanya terdiri dari ruang tamu sekaligus ruang keluarga, kamar tidur sempit, dapur, dan kamar mandi. Lantai hanya terbuat dari campuran semen dan pasir. Dinding-dindingku adalah susunan batu bata kualitas rendah. Sedangkan atap terbuat dari genteng asbes. Meskipun begitu, jendela-jendelaku mampu menjaring banyak sinar matahari. Pintu-pintu sering terbuka, mengalirkan udara segar di setiap ruanganku.

Penghuniku terdiri dari ayah, ibu, putra dan putri. Sejak mahasiswa ayah sudah rajin menabung. Ketika akan menikah dengan ibu, ayah mulai membuat rumah mungil: aku. Setelah menjadi pasangan suami-istri, ayah dan ibu sedikit demi sedikit membeli perabotan. Mereka senantiasa membeli barang-barang yang betul-betul dibutuhkan. Keduanya lebih suka menabung untuk persiapan pendidikan anak-anaknya kelak.

Aku masih ingat bagaimana proses kelahiran putra dan putri. Meskipun usia mereka berbeda dua tahun, proses kelahirannya tidak berbeda! Seorang bidan yang sama menolong kelahiran mereka. Anak-anak yang lucu itu terpaksa lahir di rumah karena ayah dan ibu tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Meskipun begitu, mereka terlahir dengan selamat dan sehat.

Putra dan putri tumbuh besar dalam asuhan ibu, tanpa bantuan orang lain. Ibu menyediakan seluruh waktunya untuk mengurus keluarga. Sebelumnya ia sempat bekerja di kantor. Begitu putra lahir, ibu lebih memilih jadi ibu rumah tangga. Pagi-pagi, ia sudah bangun untuk menyiapkan segala kebutuhan ayah, putra dan putri. Terkadang ayah membantu ibu memasak. Ayah selalu membawa bekal untuk makan siang di kantor. Ibu sangat pintar mengolah bahan-bahan murah menjadi kudapan yang sangat lezat. Ibu juga gemar membuat mainan sendiri untuk putra dan putri.

Ayah bekerja mulai Senin sampai Jum�at. Sabtu dan Minggu ia khususkan untuk bermain dengan putra dan putri. Ayah memperbolehkan ibu melakukan apa saja yang disukainya di akhir pekan, sementara ia mengasuh putra dan putri. Tidak jarang ayah mengajak putra dan putri membuat masakan spesial untuk ibu. Setelah memasak, dapur kerap berantakan seperti baru saja terserang badai. Akhirnya, ibu juga yang harus turun tangan membersihkan dapur. Tawa dan canda selalu mengiringi kegiatan mereka. Aku senang mendengarnya.

Ketika Putra duduk di sekolah dasar, ayah mulai menduduki jabatan yang lebih tinggi di kantornya. Penghasilan yang diterima ayah setiap bulan meningkat, berbagai fasilitas pun Ayah dapatkan. Salah satu fasilitas itu adalah sebuah mobil. Ayah pun mulai berencana untuk memperbesar ukuranku. Ibu sangat mendukung. Putra dan Putri bertambah besar. Mereka harus sudah memiliki kamar tidur sendiri. Beberapa tahun kemudian, rencana Ayah untuk memperbesar ukuranku terlaksana. Selama proses pembangunanku, keluarga kecil tersebut harus menempati rumah lain. Untuk sementara aku berpisah dengan mereka.

Beberapa bulan kemudian aku selesai dibangun. Kini kamar tidurku ada lima. Ayah dan ibu menempati kamar depan, putra dan putri mendapat kamar sendiri. Sedangkan dua kamar lagi untuk pembantu dan tamu. Kamar mandi pun bertambah dari satu menjadi tiga, dilengkapi dengan pancuran air panas dan dingin. Hampir semua perabotan baru. Aku bagaikan terlahir kembali dalam wujud yang lebih indah dan megah.

Sejak wujudku berubah, terjadi perubahan pula pada keluarga kecil itu. Ibu mulai bekerja kembali. Tugas-tugas rumah tangga beralih pada seorang pembantu. Ibu tidak lagi mengantar dan menjemput Putra dan Putri sekolah. Mereka sudah berlangganan mobil antar jemput. Hari Sabtu, Ayah tidak lagi berada di rumah. Ayah sering ke luar kota. Ibu pun terkadang harus bekerja lembur di kantor. Keluarga itu hanya bertemu beberapa jam sebelum tidur. Sebelum sinar matahari merata menyinari bumi, mereka sudah pergi meninggalkan rumah.

Perabotan-perabotan mewah dan mahal juga kini mengisi ruanganku. Televisi layar datar yang lebih sering ditonton oleh pembantu. Lemari es dua pintu tempat menyimpan aneka makanan siap saji, mesin cuci dan berbagai peralatan dan perlengkapan modern lainnya. Entah kenapa, aku jadi merindukan perabotan sederhana yang dulu. Meskipun harganya murah, seluruh anggota keluarga senang memakainya.

Satu hal lagi yang sangat kurindukan adalah keceriaan saat makan bersama. Mereka sangat jarang makan bersama lagi. Aku rindu percakapan hangat mereka di meja makan. Apakah mereka juga merindukannya? Pasti. Buktinya dialog menjelang waktu makan yang sering sekali kudengar.

�Bibi sudah masak ayam kecap kesukaan nona, lho hari ini,� kata sang pembantu.

�Bibi saja yang makan. Aku sudah kenyang makan bakso sama teman-teman,� kata Putri yang masih menggunakan seragam SMP-nya.

Dulu, ayam kecap kerap diperebutkan oleh putra dan putri. Ayah dan Ibu terpaksa memotong dada ayam sama rata, agar keduanya tidak berebut lagi. Sekarang, meskipun sepiring ayam kecap dan aneka makanan lezat telah tersaji di meja makan, Putra dan Putri enggan menikmatinya. Mereka rindu. Pasti rindu. Sehingga tidak mau makan sendiri di meja makan.

***

�Wah, rumahnya sudah bagus sekali, ya. Kalau tidak salah, dulunya rumah ini kecil dan sederhana,� kata seorang bapak tua yang melintas di depanku pada temannya.

Bapak itu benar, aku dulunya si rumah mungil. Namun jika diminta memilih aku lebih suka diriku yang dulu. Kecil tetapi penuh canda tawa keluarga. Sederhana, tetapi semua anggota keluarga sering menghabiskan waktu bersama. Seringkali aku berdoa, agar aku menjadi seperti dulu saja. Mungkinkah doaku akan terkabul? Entahlah. Aku hanya rumah, rumah kecil yang sekarang megah tetapi tidak bahagia.

Minggu, 04 April 2010

Membunuh Shakespeare

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Lampung Post, Minggu, 4 April 2010








Julia, maafkan aku

baru kini aku kuasa memberitahumu

dalam kertas bergulung yang kurekat dengan

getah pohon mapel

sungguh, aku tak pernah mampu membuat puisi

-termasuk susunan kata-kata ini

yang mengantar surat ini

jauh lebih layak kaupanggil laki-laki puisi

cintailah Shakespear sebagaimana

kau pasrah disetubuhi

puisi-puisinya:

sandiwara-sandiwaranya

(Romeo, sebelum dipaksa menenggak racun itu)

Kembali ke Masa Depan

Di meja kayu yang terbuat dari bonggol beringin, gadis dengan syal biru pastel itu menyeracau pada pemuda yang duduk di hadapannya. Ia geram karena pemuda itu tak ingin mengajaknya jalan-jalan. Padahal ia tak minta diantar ke mana-mana. Tidak ke Italia, Jepang, atau Amerika. Ia hanya ingin kembali ke kampungnya yang kini tak lagi bernama. Tak lama, perempuan itu menyiramkan jus terong belanda di gelas kristal bertiang setinggi telunjuk ke laki-laki itu. Mungkin ia terlalu kesal. Namun, ajaib, pemuda itu malah bersimpuh dan mengucapkan sesuatu yang sangat diatur lenggok bahasanya. Oh, jangan-jangan ia sedang merayu. Dan tampaknya berhasil. Wajah gadis itu tiba-tiba merah ceri. Tak lama, mereka sudah berjalan bergandengan. Menyusuri jalan setapak yang dipagari krisan kuning yang berbaris dekat batu apung yang diserakkan di kiri-kanan jalan.

Ketika mereka pergi, kudekati meja kayu tempat mereka berselisih tadi. Betapa takjubnya aku ketika tempat duduk laki-laki tadi tiba-tiba menggeliat. Tak lama, terdengar suara dari situ.

"Aku tahu, Julia. Kau ingin kembali ke masa depan demi menyongsong kenangan itu. Namun, adakah yang kuasa membawamu selain puisiku."

Ah, pasti kursi itu menyadur rayuan Romeo tadi.

Laki-Laki Puisi itu Bukan Kekasihnya

Gadis itu mencangkung di sudut kamarnya. Ia mengeret selimut sampai ke sana. Sebenarnya bukan langit yang berkrayon gelap yang membuatnya menggigil. Namun karena telah dapat ia bayangkan, sebentar lagi bumi akan kuyup. O bukan juga! Bukan perihal hujan. Mungkin petir yang menyambar-nyambar. Blitz yang kadang-kadang dicorongkannya pada orang-orang yang tengah melamun-ria. Dia trauma. Pada suara gelegar langit, pada muntahan laut, pada gemeretak tanah, pada kumparan angin.... Ayahnya disambar petir ketika tengah memetik kelapa muda untuknya. Ibunya digulung tsunami ketika menyusur pantai di selatan kota. Adiknya ditimbun reruntuhan menara kastil ketika gempa. Kakaknya digulung puyuh yang datang tiba-tiba di siang lengang.

"Kenyataan pahit memang berserakan dalam hidupku. Namun, adakah yang mampu meluruhkan rindu?" katanya suatu waktu.

Tak lama, seorang laki-laki mengetuk pintu. Ia hampir saja melonjak kegirangan bila tak segera menyadari bahwa yang datang adalah bukanlah yang dinanti-nantikannya. Namun, ia tak ingin menampakkan keterkejutan. Gegas ia memeluk laki-laki itu. Menangis tersedu-sedan di balik punggungnya.

"Ada apa, Sayang? Mana satpam? Mana pembantu-pembantumu?"

Gadis itu masih menangis.

"Oh, keparat! Mereka makan gaji buta saja!"

Tangis itu makin pilu.

"Aku tahu cuaca sangat tak bersahabat. Namun, keinginanku untuk menghadiahimu sebuah puisi membuat semuanya tak berarti, Sayang." Laki-laki itu merenggangkan pelukan. Ia tatap mata perempuan itu lekat-lekat. "Sudahlah. Aku sudah membawa puisi untukmu...." Laki-laki itu menyeka air mata si gadis. Di tangan kirinya sebuah gulungan kertas digengam erat.

"Mengapa kau yang ke sini, Shakespear?" tanya gadis itu lirih, hampir tak terdengar.

"Maksudmu? Kau lebih mengharapkan Romeo?" Laki-laki itu mengernyitkan dahi. "Kau harus tahu, akulah yang membuat semua puisinya!"

"O ya?" Gadis itu mendongak dengan wajah diseri-serikan (ah, aktingnya begitu sempurna). "Kalau begitu, aku alihkan rindu itu padamu." Mata celik itu berbinar. "Takkan ada yang mengalahkan rinduku ini."

"Ya. Tapi, mengapa kau memertanyakan kepulanganku, Julia? Bukankah kau telah mendapatiku di sini?"

"Aku memang mendapatkanmu, tapi...." Gadis itu bagai bergumam.

Tiba-tiba laki-laki itu terhenyak. Gulungan kertas di tangannya terjatuh. Terdengar bunyi senak dari kerongkongan.

Gadis itu berbalik arah. Membuka pintu. Menerobos hujan yang bergumul dengan halilintar.

"Tapi kau telah membuatku kehilangan rindu itu...." Kali ini ia bercakap pada langit yang marah.

Telah Seberapa Kuyup Kau oleh Puisiku?

Aku akan datang kelak, gumam laki-laki itu.

Pada malam yang sangat dulu, gadis yang hendak ia sunting itu ditelan hujan lagi. Ia tahu sekali. Ya, dulu, Julia takluk oleh hujan yang ia guyur dalam kata-kata.

Awalnya adalah mendung. Lalu rinai. Deras. Hujan pun makin rimbun. Renyai. Ia ingat sekali. Kala itu Julia menelepon. Gadis itu mengungkapkan betapa ia merindukan laki-laki puisi. Ia ingin pemuda itu membacakan beberapa puisi untuknya.

Laki-laki itu tahu betapa bengkak tagihan telepon yang akan dibayar bila ia penuhi permintaan itu. Maka, ia merubah suaranya se-Romeo mungkin.

"Tutup telepon ini, Sayang. Keluarlah. Hitung hujan satu-satu. Lalu, ceritakan padaku. Telah seberapa kuyup engkau oleh puisiku...."

Bakda itu, gadis itu tak pernah menghubunginya lagi.

Laki-laki itu tak pernah tahu kalau Julia terus memintal rindu. Berhelai-helai rindu. Lalu menjahitnya. Kadang memayetnya di beberapa bagian. Setiap hari ia selalu mengenakannya.

Gadis itu ketakutan sendiri bila hujan turun. Ya, itu pertanda Romeo akan menyerangnya dengan puisi yang bertubi-tubi. Namun, itu tak akan pernah menamatkan rindunya. Hingga, Romeo menelepon bahwa ia akan pulang. Ia bilang akan melucuti pakaiannya di malam pertama perjumpaan mereka setelah hampir setahun tak bertemu. Dan gadis itu merasa kematian akan segera menyambanginya. Hayat rindunya akan segera khatam.

"Oh, takkan ada yang boleh mencurinya, merebutnya, apalagi melepas rindu itu dari tubuh yang sudah bersekutu dengan waktu."

Pelukan Berdarah

Mereka bilang: ketika puisi dihadiahkan, maka penulisnya tak ada lagi. Namun, sepertinya tak berlaku bagi Romeo. Ya, bila Julia mengeja larik yang bertipografi itu, tiba-tiba lidahnya mati. Ia tak menemukan kata-kata di sana, selain wajah seseorang yang melemparnya ke masa lalu. Maka, gegas ia berharap agar hari ini bumi tak lagi mandi. Namun, permintaannya tertolak. Hujan menggila. Merajam bumi tak alang kepalang. Suara seng berkereokan. Ia mencangkung di sudut kamar. Selimut yang dieretnya dari ranjang, menutupi kakinya hingga sebatas lutut.

Ia tangkupkan kedua tangannya di kaca jendela yang mulai berkabut. Ia tatap jalan setapak yang meliuk di taman krisan dekat rumah. Meja bonggol-beringin itu sudah berlubang di sana-sini. Entah, ia bagai mendapati gelas kristal yang dulu pernah ia tinggalkan di sana, kini bertengger dekat salah satu kaki kursi yang terbuat dari anyaman damar yang sudah mencokelat. Ia serta merta mundur beberapa langkah ketika kilat tiba-tiba menyilaukan pandangan.

Pintu diketuk. Ia sibakkan gorden. Ia ambil sebilah pisau di dapur. Ia selipkan di pinggangnya. Ia gegas menyambut laki-laki itu. Laki-laki puisi, itu yang dia harapkan datang.

....

Ia peluk laki-laki itu. Erat sekali. Ia menangis. Menangis karena rindu tak tertanggungkan. Rindu tak tepermanai. Ia ingat sekali, bakda diboyong dari taman krisan satu tahun lalu, ia dikurung olehnya, laki-laki puisi palsu itu. Anehnya laki-laki itu meninggalkan nomor telepon Romeo untuknya.

"Aku dapat saja memisahkan kalian, namun cinta adalah keajaiban yang tak boleh dihentikan, bukan?" Ia terbahak-bahak seraya memberi kode agar para pengawalnya menyeret Romeo keluar.

O ya, laki-laki itu juga membayar para profesional untuk mengawasi dan memenuhi kebutuhan Julia. Dari satpam, tukang antar makanan, tukang cuci, hingga tukang rias. Dan kemarin, telah ia kirim semua orang bayaran itu bertamasya ke langit. Ia benar-benar yakin, hari ini mereka menangis hingga awan tak kuasa menampung air mata mereka. Ya, mereka hendak mengadu pada sang tuan yang kini dipeluknya.

Tak lama, Julia merenggangkan pelukan. Setelah bercakap sedikit, mata laki-laki itu membelalak. Terhenyak. Sebilah pisau telah tertancap di dadanya yang tak bidang itu.

Perempuan itu pergi. Menerobos hujan. Merayakan kematian Shakespear. Merayakan rindu yang takkan pernah mati.

Percakapan di Liang Lahat

Oh, bila kejadian ini disaksikan oleh orang-orang yang memuja mereka, pasti banyak yang terhenyak.

Bukan! Bukan karena Julia memaki-maki Romeo yang membawa setangkai bunga matahari. Bukan pula karena terlampau kasar cercaannya. Tapi.... Ah, nantilah kalian akan tahu sendiri. Ini adalah satu dari cerita yang tak pernah diumumkan.

Ialah ketika pemuda itu menanyakan mengapa Julia tak membalas puisi yang dikirimnya malam itu. Julia balik bertanya, bukahkah Shakespearlah yang menulis semuanya.

"Apalagi ia juga yang mengantarnya," lanjutnya. "Takkah kau tahu betapa aku membenci Shakespear, hah?! Aku benar-benar lelah terus berpura-pura mencintaimu, Romeo."

"Berpura-pura?"

"Ya. Kupikir kaulah laki-laki puisi itu." Julia melipat kedua tangannya di dada.

"Shakespeare juga telah meracuniku sebelumnya, Julia," wajah Romeo itu tiba-tiba sayu.

"Dan si tua bangka itu telah terlebih dahulu berkoar pada dunia, bahwa kita mati karena cinta yang sejati, sehidup semati!" Dada Julia turun naik meredam sesak.

"Malam itu," bibir Romeo bergetar, "Aku hanya ingin berbagi, Julia. Dan aku tak cukup lelaki untuk mengutarakannya tanpa basa-basi. Ya, aku berharap, puisi tak membuatku lemah sebagai kekasih."

"Ja... ja... ja... di," Julia gagu, "Benar puisi itu kau yang menulisnya, Romeo?"

Romeo mengangguk. "Tapi aku tak layak menjadi laki-laki puisi sebagaimana kau bayangkan."

Hening.

"Malam itu, Shakespear memintaku menulis puisi untukmu. Hanya puisi yang malam itu. Selebihnya karya Shakespear." Romeo jujur. "Yang menyambut teleponmu di malam ketika kau merinduiku, pun Shakespeare..." Romeo tertunduk.

"Sudahlah. Kalaupun kau benar mencintaiku, tak demikian dengan aku. Mungkin bila kita diberi waktu hidup lebih lama, dunia akan tahu bahwa kita hanya diperbudak pengarang hebat itu untuk saling memuja."(*)

Lubuklinggau, 09 Februari 2010