Minggu, 28 November 2010

Mengejar Kupu-kupu

Cerpen Noor H. Dee
Sumber: Kupu-Kupu dan Tambuli. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 2008

Usia pagi masih belia. Matahari baru saja merangkak dari balik ranting-ranting pepohonan. Mega-mega bersepuh susu berarak lambat melintasi cakrawala. Terlihat Aryani berlari-lari kecil mengejar kupu-kupu di halaman rumahnya yang rumputnya sangat terpelihara. Papanya sedang duduk di beranda membaca koran. Mamanya sedang berada di dalam kamar menonton televisi.

Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan rambutnya yang dibiarkan tergerai itu melambai-lambai ke sana-ke mari mengikuti gerak-gerik tubuhnya yang saat itu terlihat begitu lincah dan gemulai. Ia berlari-lari, melompat-lompat, dan sesekali hampir terjatuh karena semangatnya yang menggebu-gebu itu membuat ia lupa untuk mempedulikan keseimbangan tubuhnya. Tetapi, setiap kali ia ingin terjatuh, dengan cepat dan cekatan ia langsung menyeimbangkan gerakannya itu, sehingga ia tidak sampai terjatuh. Kedua tangannya yang mungil itu terlihat begitu gemulai menggapai-gapai udara, mencoba meraih kupu-kupu.

Kupu-kupu genit. Kupu-kupu centil. Kupu-kupu bersayap biru. Terbang rendah di atas kepala Aryani. Kupu-kupu bersayap biru itu terus melayang-layang dengan kepakan sayapnya yang anggun, seperti sengaja menggoda Aryani supaya terus mengejarnya. Kupu-kupu itu melayang-layang, berputar-putar, terkadang harus melesat dengan cepat setiap kali ingin terenggut oleh jari-jari kecil Aryani, yang walaupun kecil tetap saja bisa meluluh-lantakkan kedua sayapnya yang meskipun indah tetap saja begitu rapuh dan mudah hancur.

Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dengan pandangan mata berbinar-binar. Mulutnya menganga. Ia terus mengejar.

Kupu-kupu melayang ke kiri.
Aryani ikut berlari ke kiri.
Kupu-kupu melesat ke kanan.
Aryani terus membuntuti.
Kupu-kupu berputar-putar.
Aryani melompat-lompat.

�Aku tangkap kamu. Aku tangkap kamu,� ujar Aryani sambil terus memburu.

Aryani tidak tahu dari mana kupu-kupu itu berasal. Kupu-kupu itu hadir begitu saja, tanpa permisi, di luar jendela ketika ia sedang asik bermain boneka sendirian di dalam kamar. Ketika melihat kupu-kupu itu, ia langsung berseru,�Kupu-kupu! Kupu-kupu!�, dan ia langsung mengejar. Boneka yang saat itu berada di genggamannya langsung ia lemparkan begitu saja ke atas tempat tidur. Kedua orang tuanya tidak ada yang tahu kalau anaknya yang mungil itu kini sudah berada di halaman rumah sedang mengejar kupu-kupu bersayap biru. Papanya masih asik membaca koran di beranda. Mamanya masih setia menonton televisi di dalam kamar.

Dan, tibalah Aryani di depan pintu pagar rumahnya yang terbuka lebar. Sekejap ia terdiam. Langkah-langkah lari kecilnya terhenti. Ia melihat kupu-kupu itu melayang-layang di depan pintu pagar rumahnya. Kupu-kupu itu membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Aryani. Mereka berdua saling beradu tatap. Kupu-kupu itu terlihat seperti menggoda. Di telinga Aryani, kupu-kupu itu seperti mengeluarkan suara.

�Coba tangkap aku kalau memang kamu mampu! Coba tangkap aku!�

Aryani masih terdiam. Angin berembus. Daun-daun kering berjatuhan. Rambutnya yang dibiarkan tergerai itu bergerak-gerak halus. Ia menatap pintu pagar rumahnya yang terbuka lebar, seperti memang mempersilakan dirinya untuk terus mengejar. Setelah itu, ia menolehkan kepalanya ke belakang. Terlihat Papanya masih asik membaca koran. Ia mengalihkan pandangannya, menatap ke sebuah jendela yang gordennya tersibak. Di dalam kamar itu, ia melihat Mamanya masih setia menonton televisi. Tidak ada yang memperhatikan dirinya. Kemudian ia kembali menatap kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu masih berada di situ, di depan pintu pagar rumahnya. Tidak kemana-mana. Kupu-kupu itu cuma melayang-layang di tempat, seperti sedang menuggu Aryani agar segera kembali mengejarnya. Aryani berfikir sejenak. Kejar. Tidak. Kejar. Tidak. Kedua telinganya kembali mendengar kupu-kupu itu seperti mengeluarkan suara.

�Coba tangkap aku kalau memang kamu mampu! Coba tangkap aku!�

Kejar! Teriak Aryani dalam hati. Tetapi, sebelum mengejar, ia kembali menoleh ke belakang. Kedua orang tuanya masih tetap seperti tadi. Papanya sedang membaca koran. Mamanya sedang menonton televisi. Karena merasa tidak ada yang memperhatikan dirinya, ia langsung berjalan ke luar rumah untuk kemudian segera kembali mengejar kupu-kupu bersayap biru itu.

�Aku akan menangkapmu! Aku pasti akan mampu menangkapmu!�

Dan, kini Aryani sudah berada di luar pagar rumahnya.

*

Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu bersayap biru yang terus melayang-layang di dekat kepalanya. Ia berlari dengan laju yang tidak begitu cepat. Para tetangga yang melihatnya langsung bertanya.

�Kamu sedang mengejar apa, Aryani? Mengapa kamu berlari-lari seperti itu?�

�Aku sedang mengejar kupu-kupu. Aku ingin menangkap kupu-kupu.�

�Kupu-kupu? Mana kupu-kupunya, Aryani?�

�Itu! Itu! Kupu-kupu bersayap biru.�

�Mana? Kok, kami tidak melihatnya?�

�Aku melihatnya! Aku melihatnya!�

Orang-orang menatap Aryani dengan pandangan mata bertanya-tanya. Mereka sama sekali tidak melihat seekor kupu-kupu yang kata Aryani bersayap biru itu.

�Apakah kamu melihat seekor kupu-kupu yang sedang dikejar-kejar oleh Aryani itu?� tanya seseorang kepada seseorang yang lain.

�Tidak. Aku tidak melihatnya.�

�Aku juga.�

�Aku juga.�

�Kupu-kupu? Mana kupu-kupunya?�

�Entah.�

Orang-orang tidak ada yang melihat seekor kupu-kupu. Mereka hanya melihat Aryani, gadis mungil berusia delapan tahun, yang berlari-lari kecil dengan kedua tangan mungilnya yang menggapai-gapai udara, yang matanya berbinar, yang mulutnya menganga, yang rambutnya dibiarkan tergerai.

�Aryani, jangan berlari terlalu jauh. Nanti kamu tersesat!� teriak seorang tetangga kepada Aryani. Tapi, Aryani tidak mendengarnya.

*

Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan gaunnya yang berwarna kuning dengan motif bunga-bunga itu terus berkibar-kibar setiap kali kaki-kakinya menghentak-hentak permukaan aspal. Rambutnya melambai-lambai. Matanya berbinar-binar. Ah, ah, ah, mengapa matanya bisa begitu berbinar-binar padahal cuma menatap seekor kupu-kupu? Kupu-kupu yang sedang diburunya itu memang tidak dapat dipungkiri lagi keindahannya. Tetapi, bukankah kupu-kupu memang selalu seperti itu? Memang indah, memang anggun, memang aduhai�meskipun memang ada juga kupu-kupu buruk rupa yang bersayap kelabu. Tetapi, kupu-kupu yang bisa dikatakan indah itu memang selalu seperti itu, bukan? Sama seperti yang sedang dikejar-kejar oleh Aryani. Tidak ada yang aneh. Bukan sesuatu hal yang perlu diistimewakan. Namun, mengapa mata Aryani bisa terlihat begitu berbinar-binar? Selain keindahannya, keistimewaan apakah yang dimiliki kupu-kupu itu?

Aryani mengejar kupu-kupu. Kini ia sudah berada jauh dari rumahnya. Ia berlari di atas trotoar, tanpa peduli dengan asap-asap hitam yang menyembur dari lubang knalpot dan mengganggu pernafasannya. Sesekali ia terbatuk, tetapi ia tidak peduli. Dari matanya yang berbinar itu, tidak tampak secuil pun tanda-tanda untuk berhenti. Meskipun sudah berpuluh-puluh peluh mencuat dari dalam pori-pori dan menyelimuti segenap tubuhnya, ia masih saja terus berlari-lari, terus melompat-lompat, dengan kedua tangan menggapai-gapai udara, mencoba meraih kupu-kupu bersayap biru itu.

Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dan tubuhnya yang mungil itu telah diselimuti peluh. Orang-orang yang sedang berada di pinggir jalan menatapnya dengan pandangan mata bertanya-tanya.

�Lihat, gadis kecil itu seperti sedang mengejar sesuatu.�

�Lihatlah, mata gadis kecil itu berbinar-binar.�

�Ih, orang tua macam apakah yang membiarkan anak gadisnya bermain di pinggir jalan? Kasihan gadis itu. Kasihan.�

�Bisa tertabrak ia nanti.�

�Tetapi, gadis kecil itu sedang mengejar apa, ya?�

�Barangkali ia sedang mengejar sesuatu.�

�Sesuatu apa?�

�Entah.�

Tidak ada yang tahu kalau Aryani sebenarnya sedang mengejar kupu-kupu bersayap biru.

Aryani mengejar kupu-kupu. Kini ia berada di tengah jalan. Lalu lintas menjadi kacau. Sebuah sedan berhenti tiba-tiba ketika Aryani melintas. Seorang sopir taksi membanting setirnya dan seorang penumpang di belakangnya berteriak sambil beristighfar. Seorang pengendara sepeda motor yang merasa tidak punya cukup waktu untuk menginjak rem, dengan terpaksa manabrak taksi tersebut. Orang-orang yang berada di pinggir jalan sebagian besar menutup matanya karena tidak tega melihat bagaimana tubuh pengendara sepeda motor itu melayang-layang di udara dan kemudian tersungkur ke aspal dengan posisi kepala di bawah. Jalan raya menjadi macet. Klakson-klakson berbunyi memekakkan telinga. Orang-orang yang berada di dalam mobil langsung mendekatkan kepalanya ke jendela. Beberapa pengendara sepeda motor menghentikan lajunya dan melepas helmnya. Semua orang penasaran ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan, terlihatlah Aryani sedang berlari-lari seperti sedang mengejar sesuatu.

Aryani mengejar kupu-kupu. Aryani mengejar kupu-kupu dengan peluh bercucuran dan membasahi gaunnya. Berpuluh-puluh jembatan telah ia seberangi. Berpuluh-puluh kelokan telah ia lalui. Namun kupu-kupu itu belum juga berhasil ia raih. Kupu-kupu itu begitu lincah. Aryani belum memutuskan untuk menyerah.

Tiba-tiba, kupu-kupu itu berhenti. Entah mengapa. Dengan sisa tenaga, Aryani langsung melompat dengan tangan terjulur ke depan. Hap! Aryani berhasil. Kupu-kupu itu kini sudah berada di dalam genggamannya. Karena takut terlepas, Aryani menguatkan genggamannya.

Aryani membuka telapak tangannya dengan sangat hati-hati. Dan tampaklah seekor kupu-kupu yang mengerikan. Sayapnya yang biru itu kini rusak dan patah-patah. Tubuhnya gepeng dan mengeluarkan cairan entah apa.

�Hiii...�

Aryani membuang kupu-kupu itu dengan perasaan jijik. Tetapi, kupu-kupu itu tak dapat terlepas dari telapak tangannya. Kupu-kupu itu menjadi lengket, merekat, semakin merekat. Aryani merasakan kupu-kupu itu merasuk ke dalam tubuhnya. Tiba-tiba tubuh Aryani mengeluarkan sinar. Putih. Amat putih. Menyilaukan. Setelah itu, sinar itu menghilang dan Aryani berubah menjelma seekor kupu-kupu.

Aryani yang telah menjadi seekor kupu-kupu itu pun melayang-layang di udara, mencari jalan untuk pulang. Dalam terbangnya ia menangis.

*

Aryani sang kupu-kupu kini sudah berada di depan rumahnya. Ia melihat Papanya masih membaca koran di beranda. Mamanya masih asik menonton televisi di dalam kamarnya. Aryani sang kupu-kupu menangis. Kedua orang tuanya tidak ada yang mengetahui bahwa anaknya yang mungil itu telah berubah menjelma seekor kupu-kupu.

Dengan perasan yang begitu terluka, ia memasuki halaman rumahnya dan terbang menghampiri jendela kamarnya. Tetapi, di dalam kamarnya itu ia melihat dirinya sedang bermain boneka, yang tiba-tiba saja langsung menatap ke arahnya.

Ia melihat dirinya menunjuk-nunjuk ke arahnya, sambil berteriak.

�Kupu-kupu! kupu-kupu!�

Rabu, 17 November 2010

Dalam Ruang

Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Tribun Jabar, Minggu, 14 November 2010

DI sebuah ruang, terjadi sidang. Para hulubalang yang biasanya tidur di sudut-sudut sambil menurunkan kursinya hingga sosoknya tidak bisa terlihat dari depan, atau diam-diam mengeluh, �Kapan selesainya? Ngantuk!� kini semua menjadi naga. Saling berdiri dengan telunjuk ditegakkan, membusungkan dada agar terlihat kamera televisi. Ini kesempatan bagus, karena posisi menentukan prestasi. Yang duduk di pojok, mengambil Blackberry yang bergetar, ada tulisan, �Aku sudah nunggu lama nih, Om.� Buru-buru dibalasnya, �Sebentar ya. Ini ada yang lebih penting. Kesempatan buat unjuk gigi.� Lalu dengan angkuh dimatikan BB-nya.

Salah seorang teriak, �Tidak bisa! Kita harus ambil keputusan bulat! Ingat, ini demi negara dan bangsa! Berapa banyak rakyat kecil yang tertindas, sementara banyak orang besar yang terninabobokan di ranjang sintal! Kalau begini terus kapan bisa selesai? Ini sudah berlarut-larut!�

Tepuk tangan membahana diiringi teriakan setuju. Ada pula yang berteriak, �Allahu Akbar!� Walau mungkin maknanya tak dipahami.

Tak mau kalah dengan ucapan garang itu, salah seorang yang berdiri di muka berjarak tiga meter angkat suara. �Bila memang harus ada keputusan bulat, itu pemaksaan namanya! Kita bisa voting dalam menengarai kasus semacam ini! Ini kasus pelik! Kalau pun berlarut-larut karena belum ada titik temu!�

�Atau memang sengaja dilarutkan lalu dibuang dalam lorong panjang?!�

Ruangan terhormat yang dipenuhi orang-orang terhormat itu seolah mau runtuh dengan teriakan dan tepukan tangan bergemuruh. Di luar langit menghitam pekat. Awan berjalan lambat ingin bertindak sebagai saksi.

�Hei, jaga mulut, Saudara! Saudara menuduh!�

�Menuduh seperti apa? Ini sudah kenyataan!!�

Makin gaduh makin penuh pesona, begitu beberapa ungkapan dalam hati para anggota sambil melirik kamera televisi. Biar terlihat bekerja. Ini kesempatan mengubah image era lama menjadi era terbaru. Biarkan semua berteriak, tinggal menyisipkan kata saja.

Seseorang yang sejak tadi dilumur kemarahan tak kuasa menahan bisikan untuk maju ke muka. Pohon-pohon khuldi bertumbuhan begitu saja. Semua memetik, menikmati dan mengubah taman Firdaus menjadi arena adu banteng. Microfon di meja depan diraihnya, lalu mengguntur bersuara, �JANGAN BERLAGAK BODOH! SAUDARA MEMANG MENGULUR WAKTU!!�

Gema menghantam dinding ruangan, memantul-mantul ke langit ke tujuh, membangunkan Bhuraq yang sedang terlelap. Malaikat berbisik, �Jangan ikut campur, karena kita tak akan mampu meniupkan kesejukan dalam suasana itu.� Bhuraq pun menjadi penonton.

Pemilik microfon, yang merasa berhak menguasai persidangan, mengambil paksa. Sesaat saling genggam dan saling tarik membahana. Tenaga yang dikerahkan bukan lagi sepersepuluh dari biasa, total penuh bersinergi dengan iblis yang menyeringai bahagia.

Puluhan blitz menemani hujan yang mulai turun di luar. Kilat-kilat kecil makin mempertajam wajah-wajah serigala yang merasa dirinya bagaikan dewa ketenangan. Semua merasa dilingkupi kebenaran dan sesekali tetap melirik kamera televisi sambil berbisik dalam hati, �Sudah makin gagahkah aku?�

Beberapa orang dari masing-masing kudu mencoba melerai. Semakin dilerai bacot semakin kuat menerjang. Kaki tangan siap memukul tapi merasa beruntung karena dibatasi jarak hingga tak benar-benar memukul dan dipukul.

Sidang ditunda setengah jam ke depan.

Kesempatan pun dipergunakan. Kamera televisi, lampu blitz, suara reporter menghiasi sekarang. Masing-masing berusaha bersuara dan memperlihatkan diri menjadi manusia. Salah seorang diam-diam menebang pohon khuldi. Sebagian memilih duduk merokok. Si Om menghidupkan BB-nya, mengetik dengan gerakan yang lebih terlatih ketimbang menulis laporan, �Sepertinya akan lama, Beb. Sebaiknya kita tunda dulu. Saat ini seluruh lapisan masyarakat pasti menonton. Aku tak mau ketinggalan. Siapa tahu dengan kegarangan bacotku ini, aku akan dapat jabatan dan kehormatan lain.�

Para reporter terus melaporkan secara langsung. Rating bisa drastis naik. Tayangan yang nyaris terjadi baku hantam ditayangkan. Suguhan yang bisa mengenyangkan. Para penonton dari layar kaca ada yang berdecak menyalahkan satu pihak, ada pula yang membela satu pihak, ada yang menggeleng-geleng pedih, ada yang tertawa bahagia, ada yang langsung mematikan televisi dan menyuruh anak-anaknya main sepeda.

Setengah jam kemudian sidang dilanjutkan. Bukan mengarah pada yang lebih baik, justru kian merajai kemarahan. Beberapa orang menyerbu sambil melayangkan tonjokan. Yang diserbu tak mau kalah. Yang masih punya nurani tapi sudah punya modal bila voting akan menyebut lantang, �Abstain!�, berusaha melerai. Jas mahal yang baru dari londry, ada pula yang baru membeli, menjadi acak-acakan. Rambut klimis setelah tiga jam di salon demi menghadiri sidang terhormat, hanya butuh sekian menit untuk dirapihkan, tapi itu pun sudah tergerus kemarahan.

Semua kembali duduk dengan dasamuka yang meluap-luap.

�Tenang, Saudara-saudara!� salah seorang berdiri �Kita ini orang-orang terhormat, duduk pula di kursi terhormat dan dipilih dengan cara terhormat! Pakailah nurani masing-masing!!�

�Hei, jangan asal bicara kau! Apakah kau sendiri punya hati nurani?�

�Heiiii!! Saudara bicara apa?�

�Tak usah kau berlagak tuli! Yang kutanyakan, apakah kau sendiri punya hati nurani? Aku yakin kau tak berani menjawab, kalau pun kaujawab, sudah pasti kebohongan yang kaubeberkan!�

�Bila aku tak punya hati nurani, tak mungkin kulontarkan ini agar kalian tenang!�

�Kau tak memberi solusi apa-apa! Jangan banyak bacot! Duduk saja dengan manis dan tunggu gajimu bulan ini, bulan-bulan berikutnya sampai genap masamu duduk di ruangan terhormat ini!!�

Darah pun menggelegar naik dengan sepasang pelipis berdenyut keras. Agak nyeri di bagian kanan kepala, tak sadar iblis telah bertengger di sana. �Jangan kurangajar!!�

�Hei!! Kau yang kurangajar!�

�Kau menantang!�

�Siapa pun kutantang di sini karena menghalangi jalanku!!�

�Kau tak menghargai sidang ini!�

�Berapa harganya telah kubayar tau!!�

Tinju kembali melayang. Di tempat latihannya, para juara tinju dunia di mana pun berada, asyik menonton dari layar kaca dan mempelajari teknik-teknik terbaru dalam bertinju sambil bergumam, �Aduhai, cara tinju mereka lebih hebat dariku! Ini harus dijadikan dokumentasi agar aku bisa mempelajari teknik bertinju seperti itu! Yak! Jab! Upper cut! Jab! Jab!�

Ring tinju terbesar di dunia tercipta begitu saja. Para pesertanya pun tak lazim, bila harus berhadang satu lawan satu, kali ini bergerombol. Para pelajar yang membawa gesper, batu dan parang, membuang atribut itu untuk menyerang lawannya. Mereka semua duduk menonton televisi di sebuah warung rokok sambil ribut mempelajari cara menyerang lawan sambil satu sama lain bersalaman bahagia dan berbisik, �Kita dapat pengetahuan yang bagus bagaimana cara menyerang. Berangkaaat!!�

Kejadian itu telah mengubah semuanya. Harga saham dipastikan bakal jatuh besok. Perbankan kacau balau. Beberapa perusahaan merugi karena para karyawan berhenti sejenak bekerja. Beberapa orang langsung menjual mobilnya dan menukarnya dengan dollar. Sebagian menghisap rokoknya lalu mengangkat telepon dan berucap, �Selamat! Berhasil!�

Suasana sidang semakin tak karuan. Bahasan awal terlupakan dan lebih menomorsatukan kemarahan yang nampaknya telah membudaya. Betapa mengasyikan, tinggal menunggu reporter yang akan mengetuk pintu rumah atau kantor untuk mewawancarai. Tinggal membeli piala atau tanda penghargaan di Tanah Abang yang akan dipajang di balik kursi mewah yang bisa diputar. Lalu mempersiapkan wajah garang agar terlihat penuh semangat membela kebenaran.

***
Tiba-tiba seseorang yang sejak tadi memperhatikan dan hanya duduk di sudut ruangan berdiri, �Hei, hentikan, hentikan�.� Yang bertikai tak peduli. Seseorang itu akhirnya terpaksa memukul meja sambil teriak, namun kelembutan masih ada di sana, �Ayo hentikan, hentikan!!�

Seiring pukulan pada meja, pertikaian itu terhenti.

Seseorang itu tersenyum, �Ayo, rapikan baju kalian lagi.� Mereka merapikan baju masing-masing. �Sidang yang bagus dan memuaskan. Tapi lain kali jangan ribut seperti itu ya.�

�Tapi semalam kan di televisi seperti ini.�

�Bukan semalam, kemarin siang!�

�Iya, tapi kan tetap di televisi! Iya kan, Bu Guru?�

�Sudah, sudah� ayo� ayo berdiri semua. Yang jadi anggota, yang jadi reporter, yang jadi ibu dan yang jadi bapak, kembali ke kelas ya.�

Mereka tertib melangkah, bergandengan tangan pula. Seseorang itu menghela napas setelah sosok terakhir keluar dari ruangan, �Mereka benar-benar telah menjiplak para pembesar� ini sungguh berbahaya� terlalu mengerikan.� Sesorang itu menghela napas panjang, ada kegelisahan yang tertoreh tajam. �Besok, aku akan mengajarkan cara bersidang yang baik.�

Pelan-pelan seseorang itu menutup pintu ruangan, masih sempat dipandanginya tulisan besar pada dinding : SEDANG BELAJAR SIDANG.

Pintu pun ditutup dan saatnya untuk pulang�***



Mutiara Duta, 20 Sepember 2010