Senin, 27 Juni 2011

Komidi Putar

Cerpen S Gegge Mappangewa

Dimuat di Republika, 5 Juni 2011

MATA mengantuk Ainun langsung terbelalak, tubuh Aimah yang tadi tidur di sampingnya, kini tak ada. Mendadak, jantungnya seperti lepas dari gantungannya. Seperti orang buta, meraba setiap jengkal tempat tidurnya. Dari sudut ke sudut.

�Aimah�. Mah�. Aimah, kamu di mana, Nak?� panggilnya sambil sesekali melongok ke kolong ranjang besinya. Aimah tak ada! Putrinya yang masih berumur tiga tahun itu, masih juga dipanggilnya berkali-kali. Tetap tiada!

Dia teringat perbincangan dengan suaminya tadi pagi.

�Bu, Aimah saya bawa, ya?�

�Jangan mimpi, Pa! Galang sudah kamu telantarkan.�

�Tapi dia kan cari uang.�

�Jadi, Bapak ingin punya anak karena mau menjadikannya binatang perahan? Anak kita masih terlalu kecil untuk dibebani tanggung jawab.�

Mata suaminya yang dari tadi menantangnya, kini tertunduk. Ainun pun merasa dirinya menang. Tapi kini�? Aimah yang baru saja dininabobokan, hilang. Dia yakin, pelakunya adalah suaminya sendiri. Dia keluar menembus malam yang pekat. Berjalan menuju lapangan desa yang kini ditempati pertunjukan komidi putar.

Telah hampir lima tahun, suaminya ikut keliling kampung sebagai pembalap tong edan. Penghasilannya lumayan. Di antara karyawan yang lain, suaminya yang paling tinggi gajinya, sepuluh persen dari seluruh penghasilan. Sedangkan karyawan lainnya yang bertugas di kincir, balon putar, kuda Ramayana, dan ombak asmara, semua hanya mendapat lima persen.

Apalagi, seluruh saweran dari penonton yang menyaksikan aktraksinya, masuk kantong pribadinya. Tapi, di antara karyawan lainnya juga, suaminya yang risiko kerjanya paling tinggi. Ainun pernah menonton pertunjukan suaminya, tapi dia hanya bertahan semenit. Detak jantungnya terpacu hebat, gendang telinganya terasa pecah mendengar deru motor yang sengaja dilepas knalpotnya, meraung, berputar, dan memanjati tong yang tingginya mencapai empat meter.

Dia pernah meminta suaminya berhenti bekerja, tapi mau makan apa? Toh, mati juga! Sebagai orang Bugis, suaminya punya prinsip, lebih baik mati berdarah daripada mati kelaparan. Aib! Dia pasrah saja, karena hidup memang harus diperjuangkan bahkan dipertaruhkan dengan kematian. Hingga suatu saat, suaminya datang mengeluh karena penggemar tong edan mulai berkurang. Gaji pun tak cukup lagi buat makan.

�Ya, dicukupin aja, Pak! Nanti saya yang atur. Apalagi Bapak kan makannya di komidi putar. Saya sih, asal bisa beli susu buat Galang.�

�Atau Galang saya bawa saja, cari uang bersama saya.�

�Cari uang?�

�Maksudku, Galang saya bawa saja. Pemilik komidi putar yang tanggung susu dan makanannya, bahkan pakaiannya.�

Belum diiyakan, suaminya sudah berdiri dan mengumpul pakaian Galang sendiri.

�Ibu nggak usah khawatir, kan ada saya?� kata suaminya, namun belum bisa menghapus cemasnya.

Lebih membuatnya heran, suaminya melarang dia ikut. Suaminya hanya berjanji, akan mengembalikan anaknya sekali sebulan. Saat itu, kebetulan komidi putar sedang pertunjukan di luar kampung. Seperti tertotok, dia mengiyakan saja. Barulah setelah dua hari kepergian suaminya, dia mulai menaruh curiga. Curiga untuk yang pertama kalinya. Selama ini dia memang selalu percaya kata hatinya, bahwa suaminya takkan menyeleweng.

�Suamimu laki-laki kan? Jangan mudah percaya, Ainun! Jangan-jangan dia mengambil anakmu karena dia punya istri simpanan selama ikut komidi putar.�

Tetangganya mulai ikut sumbang saran.

�Suamiku bukan lelaki seperti itu.�

�Ainun, lelaki semakin dipercaya semakin dia berpeluang memperdaya kita. Apa salahnya kamu mengunjunginya di kampung sebelah?�

Ainun pun berangkat. Berat langkahnya terangkat, tapi dia melangkah juga. Di antara keramaian pasar malam, sejenak dia berdiri mematung di dekat panggung tong edan yang sementara mengadakan pertunjukan. Awalnya dia enggan. Dia takut melihat aktraksi maut suaminya, yang terkadang berdiri di atas motor, lepas tangan, sambil mengendarai motornya mengelilingi tong. Benar-benar edan! Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari menaiki tangga.

Di tak mengerti, mengapa anaknya bisa ada dalam tong yang di dalamnya sedang mempertunjukkan aktraksi edan? Bagaimana jika motor terjatuh dan menimpa tubuh anaknya yang sedang di lantai tong?

Ternyata Galang dibonceng bapaknya. Tak ada ketakutan sedikit pun di wajah putranya, bahkan sesekali melepas tangan kanannya dari pinggang bapaknya, untuk mengambil saweran yang diberikan pengunjung.

Tepuk tangan riuh, bergemuruh, saat Galang menerima saweran itu tanpa takut, bahkan masih sempat cium jauh untuk pengunjung yang memberinya saweran. Padahal, motor yang dikendarai bapaknya sedang meliuk-liuk, memanjat, dan mengelilingi tong yang berdiameter enam meter.

Batinnya mengutuk perlakuan suaminya yang ternyata menjadikan anaknya pengemis dengan cara lain. Tubuhnya seolah terserang lumpuh layuh. Persendiannya terasa tak kuat lagi. Gravitasinya hilang, dirasakan tubuhnya melambung, saat mata anaknya yang tertuju padanya, seolah tak mengenalnya. Ainun terjatuh. Pingsan. Orang-orang mengerumuninya. Saat siuman, suaminya berada di sampingnya.

�Begitu cara kamu menjaga Galang?� sinis dia.

Galang yang melihat ibunya sudah bisa diajak bicara, langsung mendekat dan memberinya kalimat yang semakin memerihkan hatinya.

�Bu, Galang suka di sini. Saya bisa beli mainan setiap malam,� ucap Galang sambil memperlihatkan mobil-mobilan plastiknya.

�Penonton selalu ingin pertunjukan baru, Bu! Apalagi Galang laki-laki, kelak dia yang akan menggantikan saya.�

�Memang di dunia ini cuma satu pekerjaan? Harusnya Galang disekolahkan!�

�Tapi Galang belum cukup umur kan, Bu?�

�Kalau anak seperti dia sudah bisa cari uang, bebas main tanpa batas di tengah pasar malam, mana mungkin ada minat untuk sekolah lagi?�

Suaminya terdiam, membenarkan kalimat istrinya. Setiap Galang ditanya mau sekolah di mana, jawabnya pasti mau sekolah di lapangan. Galang bahkan tak mau pulang ke rumah. Juga tak mau sekolah. Padahal, usianya sudah memantaskan dia masuk TK. Dia lebih senang hidup di komidi putar, keliling kampung. Setelah Galang dirampas masa depannya, kini Aimah yang jadi sasaran.

***

Tiba di arena pasar malam, langkah Ainun bergegas menuju tong edan yang mulai mempertunjukkan aktraksi mautnya. Deru mesin motor yang memekakkan telinga, seolah tak didengarnya. Malam ini dia harus mengambil putrinya pulang, bukan karena Aimah anak wanita dan tak cocok ikut aktraksi tong edan, tapi karena dia tak ingin anaknya kehilangan masa depan.

�Aimah!� teriaknya dari bibir dinding tong edan yang sedang dipanjati motor.

�Ibu mengenal anak itu?� tanya seorang pengunjung padanya. �Dia baru dilatih. Dulu Galang, kakaknya, juga begitu. Masih takut! Tapi lama-kelamaan, akhirnya jago juga seperti bapaknya,� lanjutnya tanpa menyadari jika dia sedang berhadapan dengan ibu dari anak yang sedang dieksploitasi itu.

�Cukup, Pak! Cukup!� teriak Ainun seperti orang gila.

Dia yakin, telah terjadi sesuatu pada Aimah yang sedang dibonceng dengan tubuh yang diikatkan sarung, menyatu dengan tubuh bapaknya. Di belakang Aimah, Galang berdiri sambil berpegang di pundak bapaknya. Sesekali melambaikan tangan untuk pengunjung. Tentu saja dengan motor yang tetap pawai, melengket di dinding tong bagai reptil.

Galang melihat sosok ibunya berteriak-teriak memanggil Aimah di antara mesin motor yang menderu. Galang langsung membisiki bapaknya. Selintas dia melihat wajah suaminya seperti pencuri yang ketangkap basah dengan barang bukti di tangan. Mungkin merasa bersalah, dia menurunkan motornya ke dasar tong.

Ainun berlari menuruni panggung tong. Tapi saat tiba di pintu tong yang telah terbuka, dia mendapatkan suaminya, panik, mengguncang tubuh Aimah.

�Mengapa dengan Aimah, Pak?�

Suaminya tak pernah menyangka jika akan terjadi sesuatu pada diri Aimah. Tubuh kecil itu tetap kaku. Dingin. Ainun yang menyaksikannya ikut beku. Sayangnya, saat dia siuman, dia tak bisa membawa Aimah pulang. Allah telah duluan membawa Aimah pulang. (*)

Kembang Putih di Atas Perahu (2)

Cerpen Benny Arnas
dimuat di Pikiran Rakyat, 26 Juni 2011

ADAKAH YANG LAYAK kupedulikan ketika aku mampu membuat Tuhan terkesiap?!

Aku tak peduli, bila tersebab doa ini aku akan dibenci orang-orang, dihujat para ulama, dihardik para malaikat, atau bahkan dikutuk arwah para wali, tabiin, dan nabi. Aku tak peduli! Aku yakin, Kau tidak akan memandangku sebagai hamba yang gila atau perempuan yang haus perhatian atau ibu yang kejam. Aku tahu Kau sangat bijaksana. Kau akan memerintahkan Raqib dan Atit, dua malaikat pencatat amal baik dan buruk itu, untuk menyerahkan catatan mereka kepada-Mu. Aku bisa membayangkan, betapa terbirit-biritnya kedua pesuruh-Mu itu. Mereka memang terbuat dari cahaya, namun atas perintah mendadak itu, aku yakin, mereka tak serta-merta meluncur dalam kecepatan candela. Kepala mereka akan bergasing pula bila harus melakukan sesuatu di luar acuan; catatan amal hanya akan dibuka bila seseorang di bawah tanggungjawab mereka mengucapkan �selamat tinggal� pada dunia! Atau, jangan-jangan, karena doa itu, Kau akan meminta Izrail segera melingkari kedua tangannya di leherku? Ah, aku tak boleh berburuk sangka kepada-Mu. Kau sangat bijaksana. Kau akan mencari tahu mengapa aku mengirimkan doa itu. Aku pikir, memanggil Raqib dan Atit menghadap, bukanlah satu-satunya cara untuk mengetahui musabab meluncurnya doaku.

TUHAN, AKU MEMANG bahagia dengan kehidupan yang Kauberikan. Sungguh, aku memaknainya sebagai anugerah. Pun ketika Kumbang harus meninggalkanku demi mencari biaya persalinan. Ah, aku sangat bersyukur karena ia sudah berhasil tampil sebagai suami yang seolah-olah bertanggungjawab, sekali lagi kunyatakan; seolah-seolah bertanggungjawab! Ya, aku tak begitu berharap Kumbang akan pulang, apalagi membawa uang. Kupikir, ia telah terbang sebagai pengecut, bukan merantau sebagai pendekar. Ia tak ingin dipusingkan oleh keajaiban-keajaiban yang Kauberikan; yang tiba-tiba Kaukaruniakan di usiaku yang ke-36, di usia perkawinan kami yang ke-10. Sungguh, aku sangat tersinggung oleh kata-katanya beberapa waktu sebelum ia meninggalkan Lubuklinggau untuk bekerja di sebuah rimba di Borneo. Ia mengejek ukuran perutku seolah menganggapnya sebagai kutukan, seolah itu bukanlah hasil �pekerjaannya�. Ia bahkan sempat-sempatnya menanyakan, sebenarnya kapan terakhir kelamin kami bertukaran cairan. Aku tak pernah menanggapinya. Kupikir memang tak perlu dijawab kecuali ia memang membutuhkan perkara untuk memukulku dengan palang ruyung di balik pintu.

Ya, bakda menikah dengannya, aku hanya menjadi bidadari di pekan pertama. Selebihnya, pun hingga kini, aku lebih layak disebut budak, perempuan yang dikawini untuk menjadi kotak sampah. Kumbang akan merasa jauh lebih baik setelah membuang apa-apa yang (ia anggap) mengotori hidupnya. Sepulang dari pesta vodka di sebuah vila milik temannya, kepalanya akan terasa lebih ringan bila mencabik-cabikku dengan cambuk kuda yang ia simpan di gudang belakang. Ia akan melupakan kekalahannya di meja judi bila aku berhasil menjadi kain perca yang dapat diinjak-injak semaunya. Ia akan menjelma seekor kuda jantan yang beringas bila berhasil membuat ringkikanku menembus langit-langit sebelum terkulai nyaris pingsan di atas ranjang. Kadang aku ingin menuntut-Mu atas semua yang menderaku. Aku sangat iri kepada perempuan-perempuan yang senantiasa dicintai belahan jiwa dengan sepenuh hati, aku sangat cemburu kepada ibu-ibu yang membesarkan buah hati bersama suami yang sedia melayani segala kebawelan istri .... O, tunggu dulu! Kupikir, mereka itu belum teruji, setidaknya seperti yang tengah kujabani. Bagaimana mereka ditahbiskan purnabahagia bila semua didapat dengan kemudahan?

Ah, aku ingat kata-kata Bunda Theresa; pilihlah yang rumit kalau kau ingin yang terbaik! Sebentar! Perkaranya berbeda! Aku tidak memilih! Tapi Kau yang menyebabkanku bergumul dengan kerumitan ini. Kau yang menetapkan; aku harus lahir pada 27 Rajab, 48 tahun silam, kemudian hidup hingga kini ....

12 tahun yang lalu, aku melahirkan bayi-bayi. Bayi-bayi kembar. Kembar tiga. Perempuan semua! Ketika kupersilakan mereka keluar dari lorong yang menyumpil di antara kedua pahaku, tangisku pecah, berderai, renyai. Bukan! Bukan oleh rasa sakit melahirkan, bukan karena dukun beranak yang seolah semaunya menekan-nekan perutku, bukan karena merutuki ketidakhadiran Kumbang ketika aku bertaruh nyawa ..., tapi karena sebak yang tiba-tiba menyesak dada. Firasatku tak enak. Aku merasa ada yang aneh dengan bayi-bayi itu walaupun segera kukibaskan perasaan tak menyenangkan itu.

DAN, TERSINGKAPLAH KABUT yang membuat perasaanku tak henti berkecamuk. Aku kadang tak habis pikir. Bagaimana Kau dapat menganggapku perempuan yang sangat hebat, ibu yang pantang kalah menghadapi ujian hidup, ibu yang membangun ribuan gudang di dadanya�aku pun tak tahu, sampai kapan gudang-gudang itu kuat menampung kesabaran yang menyesakinya?

Putri-putriku memiliki kekurangan yang saling menyempurnai. Melur yang tuli, Melati bermata juling, dan Kecubung berbibir sumbing. Tak khatam pada kenyataan itu saja. Mereka semua tak panjang akal, tak lurus menangkap maksud, lamban memahami isyarat .... Penderitaan yang adisempurna, bukan? Sungguh, pita suaraku nyaris putus karena berteriak mempertanyakan ketentuan-Mu. Ya aku berharap doaku akan menembus awan, tujuh lapis langit, sebelum akhirnya membuat kau mengubah posisi duduk di Arsy. Maka, aku hanya menangis. Menangis tanpa bunyi. Kau tahu, bukan, seperih-perihnya derita adalah yang menyebabkan hati mengambil tugas mata untuk meneteskan air kesedihan? Oh, kupikir, semua hanya perkara waktu. Aku akan hancur berkeping-keping pada masanya. Kupikir doaku adalah tanda betapa aku tak mampu memegang kepercayaan yang Kauberikan ....

BAHKAN �KEAJAIBAN� PUN masih membutuhkan kata �tetapi�.

Kau lihat! Aku berbicara dengan mereka hari ini. Entah kalau orang-orang bilang kami melakukannya dengan hati. Aku lebih suka mengatakannya �dari mata ke mata�. Ini memang ketaklaziman walau aku lebih suka memaknainya sebagai keajaiban. Ya, kami dapat saling meningkahi setiap maksud sebagaimana kami tak dapat saling membohongi. O Tuhan, sejak itu aku percaya kalau mata adalah cermin yang paling jujur, isyarat yang paling manjur, dan bahasa yang paling terukur. Namun begitu, keajaiban ini tidak turun tanpa syarat. Kau tahu �kan, setelah turun dari kapal Putri Kembang Dadar, aku tiba-tiba linglung. Aku tak menyadari di mana sebenarnya kami berada. Bukan di Palembang. Juga bukan di Lubuklinggau. Mungkin di Lampung. Mungkin .... Entahlah. Kami berada di daratan yang menghadap samudera, dan tiba-tiba aku menjadi sangat bodoh! Aku bagai lupa semua keajaiban yang memeluk kami, yang menyertai kecakapan kami menyampaikan maksud. Ya, kujajakan pula rayuan tengik itu! Kukatakan bahwa petang ini kami akan menyusul sang Ayah. Mereka bergeming. Dan aku terperenyak mendapati mata-mata mereka memuntahkan kata-kata.

�Ah, bukankah Ibu bilang: Ketika menebang pohon merbau, Ayah alpa kalau tarikan sinso di tangan telah melewati garis tengah lingkar batang. Ayah baru menyadarinya ketika serombongan orang berpakaian seragam cokelat muda merazia pembalakan liar itu. Ayah gelagapan. Ayah kelabakan. Ayah salah jalan. Ayah menggubah sendiri cara bunuh diri. Ia mati ditimpa pohon yang ia tumbangkan.� Melur memicingkan sebelah matanya ke arahku. Bahunya turun-naik menaham buncah.

�Ah, mata Ibu hebat nian, ya! Bagaimana Ibu dapat berbohong seumpama memanggang kue lapis. Menutupi kebohongan yang lama dengan kebohongan yang baru. Ayah sebenarnya masih hidup, �kan? Apa-apa yang terbaca dari mata Ibu bukanlah yang sejatinya terjadi, semua hanya doa dan harapan Ibu, �kan?� Kini mata Melati yang menelanjangiku.

Baru saja hendak kulayangkan pembelaan, tiba-tiba Kecubung berkoar seolah menimpali kata-kata kedua saudaranya ....

�O, tidak! Doamu itu Ibu. Ya, doamu itu. Ibu ingin agar kita mati, �kan? Ibu ingin membunuh kita semua. Oh Melur, oh Melati ... kalian lihat! Beberapa pelepah kelapa di dekat Ibu. Ia akan mengajak kita menyusul Ayah dengan mengayuhnya. Mengayuhnya dengan tangan kita ....� Kecubung menatapku nanar sembari menggeleng-gelengkan kepala seolah-olah aku baru saja melakukan dosa besar yang tak pernah disangkanya. Ia mundur menjauhiku.

Melur dan Melati bersipandang. Mereka mengikuti apa yang Kecubung lakukan. Mata mereka menghardikku! Tatapan mereka menghakimiku! Melur mengambil sebuah pelepah kelapa. Ia meletakkannya di tubir pantai. Ombak berkejar-kejaran seolah hendak menelan perahuku itu, pelepah kelapa yang ringan, tipis, lapuk ....

�Berlayarlah, Bu!�

Oh, tidakkah mereka tahu mengapa aku membuat rencana kematian berjamaah ini?; tidakkah mereka tahu mengapa aku menumpuk kebohongan?; tidakkah mereka tahu mengapa aku mengarang doa yang tak bosan kurapalkan seperti mengingat-Mu dengan menghitung setiap ruas jemari? Ah, perkara ini terlalu berat untuk mereka mamah! (Mengapa mereka hanya dikaruniai kehebatan menelisik kata-kata yang berderet di mata, mengapa keajaiban tak menyertai pemahaman mereka tentang hidup yang tidak sederhana?).

Demi Kau yang Maha Menurunkan Keajaiban, izinkanlah aku memanjatkan doa ini untuk kesekian kalinya ....

Ya Tuhan, panggillah anak-anakku. Cabutlah nyawa mereka segera. Tak dapat kubayangkan kalau aku lebih dulu Kaupanggil. Siapa yang akan memandikan, mengenakan pakaian, memasak makanan, atau mengajak bermain mereka ...? Bagaimana mereka dapat hidup sebagaimana hamba-Mu yang lain? O tidak! Bukan aku menyangsikan Kau yang senantiasa memperhatikan hamba-hamba-Mu, tapi ... apakah Kau akan membiarkan aku meneteskan airmata darah di awang-awang ketika menyaksikan semua penderitaan mereka?

KULIHAT SEKELILING. LAUT ini tak beriak. Tak ada ombak yang ditakutkan para penumpang jet poil Sumatera-Bangka-Belitung. Oh, aku baru menyadari sesuatu. Ada yang aneh dengan pelepah kelapaku. Bagaimana aku dapat mengayuh sejauh ini? Bagaimana aku sampai luput menyadari kapan pelepah kelapa ini melebar, memanjang, memiliki geladak, buritan .... Ini bukan lagi pelepah kelapa! Ini perahu! Oh, perahuku luas, luas sekali. Tidak, ini sudah menjadi kapal, sebenar kapal!

Dan, aku makin tercekat kala mendapati beberapa wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya�tapi seolah aku sudah benar-benar dekat dengan mereka, berseliweran di kapal ini. Entah bagaimana, aku yakin mereka adalah Dewi Kwan Im, Khansa bin Amru, Hannah�salah seorang istri Elkina, dan beberapa yang berasal dari Jerusalem, Palestina, Tibet, Mongolia .... O o, pecinta anak-anak dari India yang pernah meraih Nobel Perdamaian itu pun ada di sini! Kucubit-cubit lengan, pipi, kaki, dan anggota tubuhku yang lain! Oh, ini nyata!

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Teringat anak-anakku. Aku memutar kepala. Mataku membelalak, mencari-cari titik daratan Sumatera yang aku tinggalkan. O o, kini, giliran aku yang terkesiap! Bukan! Bukan karena mendapati pelepah ini telah menjelma perahu Nuh. Bukan pula karena tak pernah terpikir kalau pelepah ini benar-benar akan membawaku menjumpai Kumbang (setiba di Kalimantan aku akan membeli mandau untuk memenggal kepalanya!). Bukan!!!

Aku terpana pada apa yang samar-samar ditangkap mata. Di daratan Sumatera yang mulai kabur dari pandangan, kulihat serombongan burung beterbangan di sana, di tempat aku memulai kayuhan, di tempat anak-anakku mendorong pelepah kelapa tadi. Adakah itu gerombolan burung gagak? Tengkukku bergidik tiba-tiba. Apa gerangan yang terjadi dengan Melati, Melur, dan Kecubung di tepian sana? Mataku hangat. Pipiku basah. Perasaan gembira dan sedih bersigesek dalam dada. Belum pernah kurasakan kecamuk yang ganjil seperti ini sebelumnya.

Oh, benarkah Tuhan baru saja mengabulkan doaku? (*)

Minggu, 19 Juni 2011

Koma

Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Surabaya Post, Minggu 19 Juni 2011


SUDAH berbulan-bulan ia mencari pekerjaan kesana kemari dengan selembar ijazah yang ia bangga-banggakan. Namun hasilnya nihil. Maka dengan geram ia membakar selembar kertas yang ia dapatkan setelah mendengkur di bangku kuliah selama bertahun-tahun itu. Ia merasa dipecundangi. Ia merasa bahwa dirinya sangat tidak berguna.

Maka ia mengurung pikirannya dalam sangkar kepalanya, seperti tubuhnya yang berhari-hari hanya mendekam dalam kamar. Perlahan ia merasakan tubuhnya terasa berat bagai batu. Sendi-sendinya membeku. Beberapa waktu, ia merasa kepalanya sering pusing. Urat tubuhnya nyeri dan bagai dipelintir setiap kali bergerak. Iseng-iseng ia memeriksakan diri ke dokter. Seperti tanpa perhitungan, dokter memvonis bahwa ia terserang gejala stroke. Ha? Di usia semuda itu? Ia sendiri tak percaya. Ibunya juga tak percaya. Beberapa tahun lalu ayahnya meninggal oleh penyakit yang sama. Usia ayahnya memang uzur, jadi mafhum bila penyakit itu menjemputnya. Tapi ia, usianya belum genap tiga puluh. Sulit sekali ia menerima itu. Pasti dokter salah periksa.

Bagai bencana bertubi-tubi. Setelah ia membakar ijazahnya, lalu divonis stroke, tunangannya pun memutuskan hubungan dengan sepihak. Katanya, ibunya tak mengizinkan ia bersuami pengangguran yang sakit-sakitan. Sejak itulah, ruang kepalanya yang sempit terasa semakin penuh. Berat sekali. Bagai menyangga batu puluhan ton. Maka untuk meredakan itu semua, ia memutuskan untuk menenggak puluhan butir obat sakit kepala sekaligus. Obat itu ia tenggak bersama air soda dengan kadar alkohol tinggi. Awalnya sejuk-sejuk saja, hingga tenggorokannya bagai tercekik dan perutnya bagai mendidih. Sejak itulah, ia tertidur lama. Ia memulai perjalanan baru�

***

Ia bagai berdiri di sebuah lorong gelap dengan titik cahaya di ujung yang jauh, sangat jauh, hingga bagai mustahil ia menjangkaunya. Lorong itu sepi. Mati. Hanya ada warna hitam dan udara yang tampaknya telah lama membeku. Pengap. Ruang yang sangat aneh, pikirnya. Bagai adegan dalam mimpi-mimpi. Atau jangan-jangan ia memang tengah bermimpi?

Ia terus berlari, mengejar titik cahaya yang berkilat di kornea matanya. Aku harus ke sana. Dari titik cahaya itu, seperti ada bayangan yang memantul ke bola matanya. Ia dapat melihat. Ibu dan kakak perempuannya yang masih lajang membentangkan tangan, mengulurkan sambutan. Orang-orang yang pernah ia temui juga berdiri di sana. Manajer-manajer perusahaan yang pernah ia datangi bagai berebut menyambutnya. Tersenyum ramah. Dari bibir-bibir itu bagai hendak meloncat berbagai kabar baik. Kau berkompeten. Kau diterima. Kau bias bekerja di sini. Berapa gaji yang kau minta. Kapan kau bisa mulai bekerja.

Ia terus berlari, tak sabar menyongsong kabar gembira itu. Namun, secepat apapun ia berlari ia bagai tak beranjak, tetap berdiri di tempat yang sama. Jauh di sebrang titik cahaya, orang-orang itu terus meneriakinya. Memacunya supaya lebih cepat berlari. Kemarilah! Kami menunggumu. Berlarilah agak cepat. Kami berdiri di sini untukmu. Ia kembali bangkit. Berlari semakin cepat. Napasnya tersengal-sengal. Kakinya sedikit keram. Ia tak memedulikan. Ia masih terus berlari.

Barangkali Tuhan harus membantunya. Ia ingin merapal doa-doa, namun kepalanya kosong. Ia tak tahu bagaimana harus berdoa. Ia lupa tata cara berdoa. Maka ia berdoa alakadarnya. Sambil terus berlari. Memacu detak nadi. Memacu decak jantung. Ia bagai tak percaya. Sehebat inikah doa? Titik cahaya di hadapannya melebar. Bagai gerbang yang terbuka. Ia dapat menilik jelas, senyum ibunya, senyum kakak perempuannya. Ia tak sabar. Ia melompat, menerjang gerbang cahaya di mukanya. Ia kembali.

***

Matanya mengerjap. Semua tampak putih di matanya. Silau. Ia terbaring lemas di ranjang tanggung dengan seprai putih dan selimut bermotif garis-garis. Sebuah jarum infus menancap di urat venanya. Kepalanya masih sangat berat. Hanya ada ibu dan kakak perempuanya yang duduk terkantuk-kantuk di sebelah ranjangnya.

Bu, ia siuman, ia siuman. Lamat-lamat ia mendengar suara kakak perempuanya.

Ibunya melonjak dari tempat duduk. Mendekat padanya. Mengusap keningnya yang pucat. Pandangannya menangkap wajah tua itu. Wajah yang berlimpah ketulusan. Oh ibu, maafkan aku. Aku tak bisa menjadi apapun kecuali beban tempat berlabuhnya segala kekhawatiran. Maafkan aku ibu.

Tiba-tiba ia membayangkan ibunya menua diserang oleh keriput dan kekecewaan. Ini salahnya. Rasanya, ia ingin mengulang masa remaja yang telah ditapakinya. Ia ingin menghapus episode ketika ia mencakar wajah ibunya, dengan menghamili anak orang. Ia ingin membuang episode ketika ibunya digiring polisi gara-gara ia menikam teman sekelasnya. Ia ingin mendelete episode ketika ia berulang kali memeras uang ibunya dengan kasar untuk jajan perempuan dan alkohol. Ia ingin menasikh semua episode-episode buruk itu. Tapi siapa yang bisa memutar waktu. Semua sudah terlambat ketika ia menyadari sesuatu: bahwa ia telah menjadi manusia dewasa. Manusia yang wajib menempatkan dirinya.

Ah, kepalanya kembali memberat. Sakit sekali. Sebaiknya ia segera pergi, barangkali di sana ada masa lalu yang bisa ia perbaiki.

***

Ia tengah berdiri di sebuah padang gurun. Desir pasir dan desing angin bagai berkobar. Panas. Gerah. Dimana air? Di mana sungai? Sepi. Sejauh paku pandang hanya ada lautan pasir. Ia benar-benar buta arah. Tak tahu harus ke mana. Namun, di sebuah titik ia seperti melihat kilatan kecil. Kilauan mata air. Ia tersenyum. Matanya nyalang. Menyisir pusat kilauan. Ya, itu oase. Dahaganya merajalela. Ia harus kesana. Ia harus mereguk sesuatu. Hei tunggu! Ceruk matanya menangkap sesuatu. Bukankah itu ibunya, kakak perempuannya. Ahai, mereka juga ada di sana.

Ayo! Kemari! Air di sini segar sekali. Kau harus mencipaknya. Kerongkonganmu harus mencicipinya. Itu teriakan ibunya. Senyumnya semakin lebar. Ada yang menunggunya di sana. Tapi, lagi-lagi, itu tempat yang jauh sekali. Atap langit bagai dikuasai matahari, kakinya seperti menjejak abu bara. Tapi ia tak peduli. Ia berjalan semakin cepat, berlari-lari kecil dan melesat terengah-engah. Ia berlari bagai mandi. Mandi keringat. Matanya tak lepas dari tangan ibunya yang membentang, menyambut kedatangannya.

Ayo! Sedikit lagi! Ia coba mengingat Tuhan. Bukankah mengingat Tuhan adalah jalan yang memudahkan apa saja. Ya, itu pesan ibunya yang telah menembus telinganya berulang-ulang. Ayo! Sedikit lagi kau sampai. Ia melihat kakak perempuanya bermain kecipak air. Ia harus sampai. Dahaganya harus terbayar lunas. Hei, ada seorang lagi yang berdiri di sana. Bukankah itu dokter yang beberapa waktu lalu memvonis dirinya terserang gejala stroke? Ya, tidak salah lagi.

Ayo! Kau hampir sampai! Aku ada kabar gembira untukmu. Kemarin aku hanya salah deteks. Kau tidak terkena stroke. Kau sehat, afiat. Kau hanya terserang pusing biasa. Kau sehat. Dokter itu juga ikut berteriak. Ia tertawa senang. Kilatan mata air bagai tersenyum menyambutnya. Ibu, aku sampai! Ia memekik, lantas meloncat agak tinggi, terjun ke telaga jernih itu. Ia kembali.

***

Ia memicingkan matanya. Ia merasakan basah di tubuhnya. Dingin. Ia kembali sadar. Ia masih berbaring di tempat yang sama. Ranjang yang sama. Jarum infuse yang sama. Ia menoleh lemah, melirik ibunya yang tengah memeras handuk kecil dan mengusap sebagian tubuhnya.

Alhamdulillah, akhirnya kau bangun, Nak! Ibunya menggumam lirih bagai mendapat kejutan. Mulutnya bagai dibungkam. Ia masih belum sanggup berkata-kata. Ia hanya berbicara dengan tatapan mata. Ada apa denganku, Bu? Sudah hampir seminggu kau koma, jawab ibunya. Koma? Koma apa? Sesuatu dalam kepalanya kembali bekerja, ia memutar kembali semuanya: pekerjaan, ijazah, stroke, diputus oleh tunangannya� kepalanya kembali berdenyut-denyut. Ini terlalu menakutkan. Kepalanya kembali remuk bagai dihantam pendulum puluhan ton. Sebaiknya ia tidur lagi agar rasa sakit itu berkurang. Ia harus tidur. Tidur yang mungkin sedikit lebih panjang.

***

Kali ini ia tengah berlari-lari kecil di hamparan padang rumput. Luas dan indah. Angin yang dihirup beraroma bunga rumput. Tapi ia sendiri. Sepi. Hanya ada lautan rumput setinggi lutut dan semilir angin. Ia berhenti sejenak dari larinya. Berdiri. Memejamkan mata. Membentangkan tangan. Duhai, indahnya tempat ini. Tapi ia tahu, ia tak akan bertahan dalam kesendirian. Maka ia kembali berlari-lari kecil, ia harus mencari seseorang, ia harus menemukan teman. Hei, lihatlah! Di seberang sana ia melihat sebuah pohon yang menjulang. Pohon yang rindang.

Di bawah pohon itu, ia melihat meja prasmanan yang sangat besar, dengan taplak putih dan aneka makanan dan buah-buahan di atasnya. Ia sangat mengenal orang-orang yang duduk mengitari meja itu. Ada ibunya, kakaknya, dan satu lagi�

Hei! Kemarilah! Mempelaimu sudah menunggu. Itu suara ibunya lagi. Di tengah-tengah, antara ibu dan kakak perempuanya, ada dua buah kursi berhias bunga, di kursi yang satunya gadis itu duduk. Ia mengenakan gaun pengantin putih tulang. Rambuhnya bersanggul bunga dan kerudung tipis. Mempelaimu sudah menunggu lama! Desah ibunya lagi. Gadis itu tersenyum dan mengangkat wajah. Aku akan menerimamu apa adanya, bibirnya yang berbalur lipstik tipis bergerak. Hatinya berbunga. Ia berlari menggasak rumput-rumput setinggi lutut yang menghalangi langkahnya. Ia terus berlari.

Dalam larinya, ia mengucap syukur berkali-kali sambil berdoa, semoga itu bukan mimpi. Ia terus berlari. Sesekali matanya tengadah ke langit, seperti mengucapkan terima kasih. Ia tersengal-sengal tak bisa mengucapkan apa-apa ketika sampai di depan kekasihnya. Tiba-tiba ia merasa menjadi mempelai yang paling bahagia. Setelah mengecup tangan ibu dan kakak perempuanya, ia mengecup kening calon istrinya. Sejuk. Ia kembali.

***

Ia mengakhiri senyumnya ketika rasa sakit tiba-tiba menjalar di uratnya. Seorang perawat tengah menancapkan sebuah jarum ke selang infusnya. Ia merasakan sesuatu berdesak-desakan menguasai tubuhnya, merasuk di tubuhnya, dan itu sakit sekali. Tiba-tiba ia kembali teringat kekasihnya. Ia kembali sadar, bahwa ia telah diperdayai mimpi-mimpi. Lahir dan bathin sama menyakitkannya. Ia melirik ibu dan kakak perempuanya yang dengan setia menungguinya. Kelenjar air matanya sesak melihat dua perempuan yang berpeluk itu. Sejak itu ia memutuskan, bahwa ia takkan lagi menyusahkan mereka.

Berat yang menindih kepanya sedikit berkurang. Namun sesak di dadanya meluncur dan menendang bertubi-tubi. Sakit sekali. Ia tertidur lagi dan berharap tak kembali.

***

Ia mendapati dirinya mematung di tengah jembatan panjang. Jembatan bersepuh cahaya putih. Hanya warna putih. Di ujung jembatan yang satu, ia hanya melihat kabut putih yang sangat tebal. Di ujung yang lain, ia kembali melihat ibunya dan kakak perempuanya berteriak. Entah apa yang mereka katakan, ia tak begitu jelas mendengarnya. Beberapa orang yang ia kenal juga melambaikan tangan di sana, para manajer-manajer yang melempar surat lamarannya, dokter yang memvonisnya terserang gejala stroke, juga kekasihnya yang mentah-mentah mengkhianatinya. Mereka semua melambaikan tangan, memintanya kembali. Di mata mereka bagai tersemat janji, bahwa keadaan akan membaik. Pekerjaan, penyakit, pertunangan, semua bukan masalah yang tak bisa di atasi. Mereka melambaikan tangan bagai berjanji.

Ah, tidak. Mereka hanya menawarkan mimpi. Tapi? Ia hendak melangkah. Ragu. Ia kembali menoleh ke ujung jembatan yang satu. Dari kabut tebal itu, matanya terbelalak, perlahan ia melihat ayahnya tersenyum lebar dengan wajah berseri. Tanpa beban.

Kemarilah, Nak! Mereka hanya merayumu. Kemarilah! Hiduplah bersama ayah. Di sini tak ada lagi kebohongan. Di sini hanya ada ketulusan. Di sini takkan ada orang yang menyakitimu. Percayalah! Bisik ayahnya. Bagai tersihir. Ia memalingkan tubuhnya ke arah ayahnya. Ia terlalu bosan dengan mimpi dan sakit yang bertubi-tubi. Tak perlu berpikir lagi. Ia harus segera berlari sebelum termakan rayuan itu. Setapak, dua tapak, ia mulai berlari. Sejenak ia menoleh pada orang-orang yang berteriak di belakangnya. Ia tak peduli.

Aku datang, Ayah! Teriaknya panjang. Ia menilik ke belakang. Ibunya menangis. Kakak perempuanya menangis. Ia tak menggubris. Maafkan aku Ibu, Kakak! Aku tak hendak lagi menjadi beban bagi kalian. Ia terus berlari. Berlari. Semakin cepat. Ia menubruk tubuh ayahnya dan sama-sama tergelincir ke dalam lautan kabut. Lautan kabut yang tiba-tiba meremang. Menghitam. Gelap. Gulita. Buta.

***

Di sebuah zaal, seorang wanita baya dan anak perempuanya terisak tanpa suara. Mengguncang-guncang tubuh kurus yang membiru terbujur kaku.***

Pasuruan, Februari 2011

Selasa, 14 Juni 2011

Kidung dari Langit

Cerpen Mashdar Zainal

Dimuat di Radar Surabaya, 12 Juni 2011

Cerpen ini meraih juara dua Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) ROHTO 2010



Di sana, di tempat-tempat itu selalu kulihat mereka. Mereka yang melewati titian hidup dengan nafas berat tersengal-sengal. Mereka yang selalu menapaki jejak demi rasa lapar yang tak pernah jinak. Mereka yang mengaburkan cinta demi dahaga yang terus melata.



Di sana, di tempat-tempat itu, selalu kulihat mereka�



Di persimpangan raya, di mana lampu merah gemar menyala, kulihat dua orang anak berparas baja, yang seorang menggamit luka di pangkal muka, yang satunya menimang balutan perban sepanjang lengan. Mereka berlomba-lomba memungut iba dari Sang Hidup yang barangkali dititiskan pada orang-orang yang matanya enak dipandang.



Pula di sana, di stasiun, gudang iblis berjibun, juga kulihat seorang lelaki tua yang tak memiliki kelopak mata. Maka, dua liang menganga di wajahnya. Pita suaranya seolah tak punya jeda untuk selalu berkamit serupa pawang peminta hujan, seolah lagu-lagu itu dapat menggiring mendung yang akan menghujankan koin-koin berkerak ke mangkuknya yang kerap berisi keluh kesah. Masih seperti yang lalu-lalu, ia digandeng perempuan gendut berbedak tebal yang setia, setia menuntun si buta, setia menguras tandas recehnya.



Tak lupa pula, di sana, di terminal, pondok si lugu menjadi bebal. Juga kujumpai lelaki baya berkaki pengkor, ia menggelosor di kaki-kaki kursi tunggu penumpang, menjilati kaki-kaki bersepatu yang kemudian berdiri mengorek receh yang terselip dalam saku-saku mereka. Mulut itu acap kali menggumam do�a bagi siapa saja yang masih menganggapnya manusia.



Dan tentu saja, di alun-alun kota, panti si Sekar bermain mata, menawarkan tubuhnya yang beraroma lezat seperti pizza hangat. Di sana kusua juga, perempuan tua bermata tinta sebelah merah. Ia menimang bayi yang disulap jadi boneka. Ia mengambah setiap muka, memamerkan bayinya yang busung lapar, yang butuh beras untuk membaluti tulang. Mereka-mereka, kesemuanya itu, memiliki harapan yang sama untuk meneruskan novel kehidupan mereka.



Awalnya, aku hampir tak percaya waktu pertama kali memergoki kedatangan mereka. Aku melihat mereka datang pagi-pagi buta, saat dunia masih terkantuk-kantuk. Mereka datang diantar van mengkilat, serupa anak-anak sekolah dengan mobil jemputan yang istimewa. Mereka diturunkan satu persatu dari mobil mewah itu untuk menyelinap ke penjuru keramaian kota yang masih lengang melata. Di sana, para peminta-minta yang tuna itu akan menghabiskan hari, menggantungkan harapan mereka di bawah terik matahari yang tak punya belas kasihan. Mereka akan kembali dijemput malam nanti, jauh selepas isya�, saat jalan-jalan kembali menjadi sepi.



Sejujurnya pertanyaan di benakku berjibun-jibun. Kenapa hampir semua dari para pengemis itu tuna dan menyedihkan? Ataukah sengaja, ada orang yang mengoleksi makhluk-makhluk cacat itu untuk meraup rupiah? Memang cukup masuk akal, koin receh itu akan mudah tumpah oleh wajah-wajah mereka yang miris. Semakin menyedihkan, semakin menguntungkan. Begitulah yang ada dalam syakwa dugaku. Meski begitu, aku tak pernah ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Bagiku, receh-receh yang sering ku letakkan pelan-pelan ke tangan-tangan dan mangkuk-mangkuk mereka sudah mewakili kepedulianku.



Selain di tempat-tempat di mana iblis suka menjelma menjadi manusia, masih ada satu tempat lagi yang belum kusebutkan, tempat yang dekat dengan sesuatu yang tenang; di pintu gerbang sebuah masjid�inilah yang sebenarnya hendak kuceritakan.



Di sana, di tepian gerbang masjid raya, setiap usai sholat Jum�at sampai bedung maghrib gagah tertambat, aku selalu melihat gadis kecil itu. Gadis tujuh tahun berwajah rembulan, dengan kerlingan mata yang bagai menyimpan sebuah dunia. Dunia yang penuh dengan kupu-kupu.



Gadis kecil itu selalu duduk di tepian gerbang. Rambutnya yang kusam tertutup kerudung tipis yang suka terbang digoda angin. Ia duduk bersila beralas kardus, kedua tangannya mencengkram erat nampan bambu yang berisi tahu goreng dan cabai hijau.



Setiap bedug maghrib bertalu, gadis kecil itu selau tampak terburu-buru, mengucap salam lalu hilang di jemput perawan malam. Setiap wajah rembulan itu pergi, rembulan di langit tak pernah sabar untuk menggantikanya. Seolah ia setia berdiam di pucuk kubah dan tak mau enyah menggantikan posisi gadis kecil itu.



Namun sungguh, hatiku gelisah. Sudah tiga Jum�at aku tak lagi melihat gadis kecil berwajah terang itu. Kemanakah gerangan dia? Apakah dia sudah tidak berjualan lagi? Ataukah dia sedang sakit? Perlukah aku menyisir rumah-rumah kardus sepanjang tepi sungai yang pernah ia ceritakan, untuk menjumpainya kembali? Ah, aku merindui gadis kecil itu. Merindui suaranya yang merdu, yang suka menyayikan lagu-lagu berbahasa arab. Merindui rembulan jernih dan kupu-kupu di matanya yang kerap membuatku menyendiri, memaknai hidup.



�Tahu...! Tahu...! Kak tahu, Kak...!" aku teringat kata-katanya yang polos, "Kalau kakak mau membeli tahu buatan mamak saya ini, saya akan menyanyikan sebuah lagu buat kakak.�



Itulah kali pertama aku menatap matanya yang jernih yang di dalamnya terasa hidup berjuta kupu-kupu adi warna. Maka, aku tak bisa menjelaskan mengapa aku tergoda untuk menghampiri gadis mungil itu.



�Benarkah?" aku menghampirinya."Nama kamu siapa?�



Ia tersenyum,�Anjum!�



�Anjum? Anjum saja?� tanyaku lagi.



�Anjum Basyariah!� Balasnya tersipu.



�Namamu bagus sekali. Dan benarkah, kamu mau menyayikan sebuah lagu buat kakak? Kau bisa menyanyi?�



�Tentu. Apa kakak bersedia membeli tahu buatan mamak saya ini?�



�Ya. Baiklah, kalau begitu kakak ambil tahu buatan mamak kamu itu. Sepuluh ya...!�



�Sepuluh Kak!?� ujarnya girang, matanya bertambah bening, memperjelas kupu-kupu yang menari di dalamnya.



�Iya, sepuluh!� Aku meyakinkannya. �Satunya berapa?� tanyaku kemudian.



�Lima ratus, Kak!� sahutnya,�Kalau kakak mengambil sepuluh... berarti saya harus menyanyikan sepuluh lagu dong, buat kakak!?� lanjutnya, tetap tersenyum.



�Memangnya harus begitu?� godaku.



Ia hanya menjawab dengan senyum, senyum yang tak pernah putus.



�Baiklah� Untuk kakak, kamu cukup menyanyikan satu lagu saja, tapi lagunya harus enak didengar. Bagaimana?� tawarku.



�Tentu!� jawabnya singkat."Sekarang kakak simak, ya....!" beberapa detik kemudian matanya mulai terpejam, bibirnya mulai menggumam...



Hmm� Kam hasanat ladzatan lil mar�i qaatilatan... Min haitsu lam yadri annas suma fi dasami... Wahsya dasaisa min ju�in wa min syiba�in... Farubba mahmashotin syarum minat tukhomi...



....Sudah berapa kali kelezatan membunuh manusia...., tanpa ia tahu, justru racun tersimpan dalam lezatnya hidangan. Maka... takutlah akan tipu daya dalam lapar dan kenyang, seringkali rasa lapar lebih buruk daripada kekenyangan.....



Subhanallah, aku merinding mendengarnya. Di antara deru bising kendaraan dan hiruk pikuk orang-orang yang menguing seperti kawanan kumbang sengat, lagu itu tersentil syahdu mendayu. Seolah menyirep suara-suara tak karuan yang membising. Dengan sangat perlahan, seolah ada sesuatu yang terbang menemui keindahan yang ada di langit.



Apakah gadis kecil itu paham dengan apa yang ia nyanyikan?



Subhanallah, suara gadis itu terlampau lembut, selembut sutera firdaus yang berkibar dihembus angin. Terkadang liukan suaranya yang meninggi, membuncah seperti seruling Daud di tengah malam. Aku terpejam mendengarkan lagu itu, membiarkan si gadis kecil menggamit jariku dan menuntunku menemui negeri hijau yang penuh dengan bambu-bambu kuning dan bunga-bunga rumput. Aku merasa menemukan dunia di atas langit, dunia yang penuh dengan puisi-puisi dan gesekan biola. Aku seperti menemukan sesuatu yang telah lama kurindukan, sesuatu yang memiliki altar berkilau di negeri malakut, sesuatu yang bersinggasana di atas awan. Ya, aku menemukanya, dalam lagu itu, dalam suara itu, dalam gadis kecil itu.



Aku serasa terbangun dari mimpi indah saat gadis kecil itu menepuk lenganku.



�Bagaimana, Kak, lagunya?� tanyanya.



Aku tergagap membuka mata setelah terdiam lama. Aku menatap kembali kupu-kupu di matanya, �Lagumu itu seperti lagu dari surga. Aku tak bisa mengungkapkannya.� Balasku.



�Benarkah? Lalu kenapa kakak memejamkan mata? Apa lagu saya membuat kakak mengantuk?�



�Untuk menghayati keindahan, terkadang mata kita memang harus terpejam. Kamu juga melakukanya. Kamu menyanyi sambil terpejam, kan?�



Lagi-lagi, gadis kecil itu tersenyum.



Sejak Jum�at itu, setiap Jum�at sore aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan gadis kecil itu, sampai senja merembang. Tak terasa, aku telah menjadi seorang pelanggan tetap sekaligus teman baik gadis itu. Rupanya gadis kecil itu tak sependiam yang kukira. Dari bibirnya yang tipis itu, ia kerap bercerita tentang banyak hal. Tentang rumah kardusnya yang berkali-kali larung setiap musim hujan tiba. Tentang bunga bakung yang tumbuh indah di keranjang sampah. Tentang kucingnya yang beranak lima dan berbelang sama.. Tentang ayahnya�yang kata mamaknya�telah lama merantau ke surga dan suka mengirimkan uang jajan setiap tanggal 10 Muharram. Tentang mamaknya yang suka menggoreng tahu dengan tirisan minyak bawang. Tentang adiknya yang berusia lima tahun, yang suka bermain balap kecoak. Juga tentang bintang berbentuk bunga yang setiap malam menjagai atap rumahnya dan mengajaknya bernyanyi. Dan masih banyak lagi.



"Kenapa kamu hanya berjualan pada hari Jum'at saja?" tanyaku padanya suatu kali.



"Karena, supaya Anjum bisa menemui bapak di perantauanya, di surga."



"Mengapa begitu?" selidikku.



"Karena, kata mamak, kalau Anjum pingin ketemu bapak, Anjum harus mau menuruti setiap kata-kata mamak."



"Memangnya, mamak Anjum bilang apa saja?"



"Mamak bilang, kalau mau ketemu bapak, Anjum harus jadi anak yang jujur, rajin sholat, rajin ngaji, juga berbakti pada orang tua. Nah, selain hari Jum'at, Anjum harus ngaji, itu perintah mamak, Anjum tak boleh membangkang. Selagi Anjum ngaji, mamak berkeliling kampung menggendong adik, sabil teriak: 'Tahu� Tahu�.', begitu�.." Ia tertawa lepas saat menirukan mamaknya berteriak menawarkan tahu dagangannya.



Sepertinya itu tawa lepasnya yang terakhir kali, yang masih ku ingat. Beberapa Jum'at berikutnya ia tampak selalu murung, hingga aku menemuinya yang terakhir kali, ia masih murung dan lebih pendiam. Setiap kali aku mendekatinya dan menanyakan apakah dia baik-baik saja, dia selalu mengangguk, anggukan yang tak kuyakini artinya.



"Baiklah, akan kuborong semua tahu yang kamu jajakan hari ini. Bagaimana?" ujarku lembut, berusaha mencari senyumnya yang hilang.



"Iya, Kak. Terima kasih." Itu saja jawaban yang keluar dari bibir mungilnya.



"Apa kamu tidak ingin menyanyikan satu lagu pun, untuk kakak?" aku mencari perhatianya.



Ia mengangguk lesu. Setelah lama sekali, baru bibirnya bergerak. Namun sepertinya ia menyanyi hanya untuk dirinya sendiri.



Hmm�. Dunya laa tarham� Dunya laa tarham�

��Duhai dunia kau tidak berbelas asih padaku��



Lagu itu dibawanya dalam dayuan-dayuan dalam. Hingga lagu itu berakhir, aku mendapati setitik air dari matanya yang terjatuh pada nampan yang dipangkunya, titik itu luruh pula dan mengembang pada taplak meja merah pekat berbatik putih, yang ia lipat sebagai tutup nampan. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Aku ingin membenamkan gadis kecil itu ke dalam dinding dadaku, tapi kemasyghulan telah membuatku diam. Tanpa gerak, tanpa suara.



Itulah, terakhir kali aku menjumpainya, hingga beberapa hari berikutnya, aku mendengar kabar dari seorang bocah laki-laki yang menggantikannya berjualan di pintu gerbang masjid. Bocah laki-laki itu bilang kalau Anjum dibawa ke Jakarta oleh temannya teman Almarhum bapaknya, kabarnya Anjum mau di sekolahkan disana.



Setelah kejadian itu, rembulan yang biasa begadang di puncak kubah lebih sering bersembunyi di balik mendung, cahyanya meredup. Setelah kejadian itu pula, seusai sholat Jum�at aku tak lagi duduk berlama-lama di tepian gerbang masjid bersanding dengan gadis kecil penjual tahu. Aku lebih banyak berdiam diri di dalam masjid, terkadang sampai tertidur di sana.



Beberapa bulan tidak melihat rembulan dan kupu-kupu dalam wajah gadis kecil itu, rupanya kehidupanku masih bisa berjalan sebagaimana biasa, bahkan tak lebih buruk dari sebelumnya. Namun, lagu-lagu itu, seperti selalu mengiang di telingaku, memaksaku untuk membiasakan diri untuk bangun tengah malam, menyendiri di bibir balkon, menatap jentera langit, mencari bintang berbentuk bunga yang sering ia ceritakan. Hingga pada sebuah malam, aku bertemu Anjum dalam mimpiku.



Dalam mimpi itu hanya ada kami berdua, di sebuah oase di tengah padang gurun yang pasirnya kemuning bening seperti butiran madu beku. Tiba-tiba saja Anjum sudah berdiri di belakangku dengan menggenggam tongkat kecil panjang yang berkilauan. Ia menyanyikan sebuah lagu yang maha indah. Lagu yang paling indah yang pernah kudengar selama hidupku. Lagu yang sama sekali tidak beraroma lagu apapun yang ada di dunia. Saat melantunkan lagu itu wajah Anjum sudah menjelma purnama penuh, suaranya jauh lebih merdu dari yang kudengar sebelumnya. Hanya saja�..



Hanya saja, aku mendapati kupu-kupu indah yang biasa menari di matanya terberangus kecoklatan, gersang, dan menjadi bangkai. Kelopak mata Anjum seperti terkelupas, lalu bola matanya menjadi bola pingpong kering yang meleleh, sama sekali tidak bergerak ataupun berkedip. Baru kusadari bahwa tongkat yang ia pegang telah menjadi matanya.



Ya Tuhan�, siapakah yang mengambil sinar mata itu?



Mulutku gagu, ragu, �Anjum..., penglihatanmu? Maksudku, apakah pengelihatanmu baik-baik saja?�



�Ouh, itu. Kakak tak usah khawatir, saya baik-baik saja.�



�Tapi��



�Baiklah, supaya kakak tidak penasaran saya akan menceritakan semuanya� balasnya.



Aku masih tergugu, menunggu hikayat merdu yang hedak menyembul dari ujung lidahnya. Maka ketika rasa penasaranku menggumpal sampai ke ubun-ubun, Anjum pun mulai membuka mulutnya. Bagai seorang pendongeng ia meriwayatkan bahwa dirinya telah didatangi makhluk bermuka merah, bertanduk, dan berekor lancip seperti mata anak panah. Ia berujar bahwa makhluk itu datang karena terusik oleh kidung-kidung yang dinyanyikannya. Lantas, makluk itu marah dan meminta pita suaranya.



�Kalau makhluk itu meminta pita suaramu, mengapa sekarang kamu masih bisa bernyanyi? Bahkan suaramu lebih merdu.� Aku menanggapinya.



�Aku berhasil mengelabuhi makluk bodoh itu. Hik..hik�,� balasnya sambil cekikikan, �aku mengatakan pada makhluk itu bahwa yang menyanyikan lagu-lagu itu bukan aku, tetapi kupu-kupu yang ada dalam mataku.�



Aku menyatukan kedua alisku sebagai ungkapan kebingungan. Anjum memperhatikan rautku yang penuh dengan pertanyaan. Maka tanpa kuminta ia melanjutkan ceritanya.



�Awalnya makhluk itu tidak percaya, lantas kusuruh ia untuk menengok kedua mataku. Setelah makhluk itu meneropong kedua mataku, serta merta ia menjerit. Aneh sekali, bukan? Aku baru tahu kalau ternyata makhluk itu antipati dengan segala jenis keindahan yang ada di alam ini, termasuk kidung-kidung yang sering kunyanyikan. Makhluk itu terlihat begitu gerah, maka tak lama-lama, ia segera mencongkel mataku dan membakar kupu-kupu itu.�



�Kamu membiarkan kupu-kupu itu mati?�



�Kakak tenang saja. Kupu-kupu itu tak pernah mati, hanya saja ia berhamburan ke taman yang mungkin lebih luas dan lebih indah dari mataku. Dan yang paling penting, dengan pita suaraku ini, aku masih bisa mengundang mereka. Kakak tahu? Sekarang kupu-kupu itu menjadi lebih indah dari sebelumnya. Ada kekuatan yang telah mengubah sayap-sayap mereka yang rapuh dengan sutera bermanik yakut. Kalau kakak mau, aku akan mengundang kupu-kupu itu, sekarang.�



�Aku senang dengan kabar itu. Tapi kau�. Kau kini harus melihat dengan sebatang tongkat.�



�Hai, ada hal yang masih belum saya jelaskan pada kakak. Tentang pengelihatan saya ini. Sekarang saya bisa melihat banyak hal tanpa mata, dan semuanya terasa lebih jelas.�



�Kamu� Ah, seperti mimpi saja. Kamu menghayal.� Aku mengabaikan ceritanya.



�Kakak tidak percaya?�



�Aku bukan tidak percaya? Aku hanya��



�Baiklah, tapi bagaimana kalau sekarang saya bisa melihat semut rang-rang yang merangkak di balik kerah baju kakak.�



Kali ini aku merasa lebih bodoh dari biasanya, tak bisa memahami ungkapan-ungkapan gadis kecil itu. Tiba-tiba kurasakan ada cubitan kecil di tengkukku. Setalah kuraba-raba aku mendapati seekor semut rang-rang hampir tercitas di sana.



Aku merasa semakin bodoh dan ling-lung. Aku ingin minta penjelasan lebih, namun, lagi-lagi gadis kecil itu membungkam mulutku dengan eufoni surganya. Ia terus menyanyi sepanjang perjumpaan kami dalam mimpi itu, hingga aku terperanjat saat alam sadar menarikku tiba-tiba ke sisinya yang kasar.



Aku tergagap. Wajahku basah oleh keringat. Malam mengaum tepat di puncaknya. Aku berjalan limbung mendekati bibir balkon. Kidung itu masih seperti tertinggal di kepalaku. Mengiang-ngiang seperti kumbang. Saat kutengadahkan wajah ke langit, aku seperti kembali bermimpi, aku melihat gugusan bintang berjajar-jajar, sumringah seperti kelopak bunga yang sedang mekar.



Malang, 05 Juni 2009 � 17 Agustus 2010







Footnote

[1] Petikan kasidah Burdah karya Al Bushiry



Ilustrasi lukisan karya David Coalburn "Goodbye Blue Sky"

Rabu, 08 Juni 2011

Dua Jago Pedang

Cerpen Asep Sofyan
dimuat di Jurnal Nasional, Minggu 5 Juni 2011

Akhirnya dua jago pedang itu berpapasan di tepi hutan.

�Tuan yang berjuluk Pedang Kilat?�

�Kau si Pedang Menari?�

Keduanya berdiri tegak, berhadapan dalam jarak tiga tombak.

�Silakan.�

�Silakan.�

Tapi keduanya tak membuka satu gerakan pun. Tidak juga sekadar mengayunkan tangan untuk meraih gagang pedang yang tergantung di pinggang.

�Saya dengar anda tidak pernah memulai serangan,� ucap Pedang Menari.

�Kudengar kau juga demikian,� sahut Pedang Kilat.

�Tapi untuk pendekar sehebat Tuan, saya tidak keberatan memulai duluan.�

�Bagus. Aku tak suka buang-buang waktu.�

�Tapi masalahnya, kalau saya mendahului menyerang Tuan, tentu pedang Tuan akan menyabet leher saya dengan sekali tebas. Begitulah yang saya dengar terjadi pada orang-orang.�

�Lalu?�

�Saya tidak mau itu terjadi pada saya.�

�Omong kosong!� Pedang Kilat mendengus. �Aku tahu kau sedang memancingku untuk menyerang duluan.�

�Hehehe, bukankah Tuan tidak suka buang-buang waktu?�

�Hmmh, mungkin kali ini aku harus membuat kekecualian.�

�Jadi anda akan menyerang lebih dulu?�

�Sedang kupertimbangkan. Tapi jika itu kulakukan, kau akan mempelajari jurusku, mempermainkanku, lalu membunuhku perlahan-lahan, sebagaimana biasa terjadi pada orang-orang.�

Pedang Menari tersenyum. �Tapi tentu Tuan tidak sama dengan orang-orang itu.�

�Ya, aku memang tidak ingin sejenis dengan mereka.�

Keduanya tertawa.

Kedua pedang masih tersoren di pinggang. Kedua tangan masing-masing menggantung dengan santai di engselnya. Kedua kaki pun tak bergerak sama sekali, lurus menyangga tubuh, sama sekali tidak mirip kuda-kuda dari jurus apa pun. Atau barangkali begitulah sikap siaga seorang pendekar level tinggi.

Satu jam berlalu. Posisi kedua jago pedang masih tetap seperti itu.

�Rupanya benar kabar yang saya dengar, anda tidak pernah membuka gerakan,� ucap Pedang Menari.

�Baru satu jam,� sahut Pedang Kilat.

�Ya, ya, bahkan lima hari lima malam pun anda sanggup menunggu. Dan salah satu dari kita pasti akan kehilangan kesabaran.�

�Untuk orang sepertimu, lebih lama lagi pun tak masalah.�

Pedang Menari terkekeh. �Ternyata Tuan pandai pula menyanjung.�

Pedang Kilat tidak menanggapi. Dan kembali keduanya diam. Menunggu.

Waktu terus bergulir. Belum ada tanda-tanda salah satu dari dua jago pedang itu akan memulai pertarungan. Posisi berdiri mereka masih terlihat santai seperti sebelumnya.

�Ngomong-ngomong,� kata Pedang Menari, �kalau kita seperti ini terus, apa mungkin kita bertarung?�

�Hmmm�, apa kau mulai tak sabar?�

�Tapi tak terelakkan lagi, kita memang harus bertarung. Tuan dianggap sebagai pendekar pedang terbaik di wilayah barat, sedangkan saya di wilayah timur. Dunia persilatan mengharapkan kita berdua bertemu, lalu bertarung untuk menentukan siapa yang terbaik di seantero kawasan.�

�Jadi kau bertarung untuk memenuhi harapan orang-orang?�

�Ah, Tuan benar. Seharusnya memang tidak seperti itu. Kita toh bukan boneka yang mesti patuh pada kehendak sesuatu di luar kita. Tapi sejak tadi saya bertanya-tanya, jika dua pendekar berjumpa, mestikah keduanya saling mengadu jiwa?�

�Hmmm�.�

�Tampaknya orang seperti kita tidak punya pilihan. Walau kita menolak menjadi wayang di tangan dalang, jalan pedang yang kita tempuh telah membawa kita pada titik di mana kita tak bisa berbelok lagi. Apalagi jika mengingat tujuan kita mempelajari ilmu pedang.�

�Memang apa tujuanmu belajar pedang?�

�Haha�, mungkin Tuan berbeda. Tapi saya ingin menjadi yang terbaik, jika mungkin sampai tak seorang pun yang melebihi pencapaian saya.�

�Dan sekarang, apakah kau sudah mencapai tingkatan itu?�

�Sayangnya, di depan saya masih ada si Pedang Kilat.�

�Kalau begitu lekas singkirkan aku.�

�Saya tahu Tuan pun punya keinginan yang sama. Itulah sebabnya, meski sejak tadi kita diam saja, kita pun tak rela beranjak dari sini.�

�Hahaha�, benar kata orang, kau ternyata sangat gemar bicara.�

�Ah, jadi malu saya. Padahal apa yang saya katakan itu sebetulnya telah sama-sama kita paham.�

�Untung ucapanmu ada bobotnya. Memang harus diakui, di hati kecil kita, pasti kita pun ingin tahu siapakah di antara kita yang lebih unggul.�

�Hehehe, masalahnya, kita sama-sama tak pernah mau menyerang lebih dulu.�

Hari mulai beranjak senja. Langit pun meredup. Sekeliling sunyi. Terlalu sunyi malah, sehingga Pedang Menari tak bisa menahan diri untuk berkomentar.

�Posisi kita di sini semestinya tak mengganggu burung-burung untuk berkicau dan serangga-serangga hutan untuk bercerocet. Apalagi menjelang malam begini, biasanya mereka jadi lebih cerewet. Aneh. Kita yang hendak bertarung, kok malah mereka yang tegang.�

�Hmm, memang aneh,� Pedang Kilat menyahut pendek.

�Tentu orang-orang itu telah menguntit Tuan sejak dari barat. Yah, maklumlah, hidup orang seperti Tuan ini memang sudah mirip selebritas. Apa pun yang dilakukan pasti jadi sorotan. Apalagi ketika mereka melihat Tuan pergi ke arah timur, tentulah itu satu berita besar.�

�Kau bicara tentang dirimu juga.�

Keduanya tertawa.

�Menyenangkan rasanya bisa berbincang dengan orang dari level setara,� kata Pedang Menari.

Rupanya tempat itu tidak sesunyi kelihatannya. Puluhan orang, atau mungkin ratusan, bersembunyi di berbagai sudut gelap, ingin menyaksikan duel paling ditunggu sedunia. Telah berjam-jam mereka berdiam, menahan hembusan nafas, mata nyaris tak pernah berkedip, khawatir kehilangan momen yang pasti sulit diulang.

�Aku punya ide,� kata Pedang Kilat. �Bagaimana kalau kita berlomba-lomba membunuh orang-orang itu. Siapa yang korbannya lebih banyak, dialah yang menang.�

�Wah, itu terlalu kejam, Tuan.�

�Kejam? Orang sepertimu masih kenal kata kejam?�

�Hehehe, alasan saya terdengar moralis ya? Mungkin lebih tepatnya, saya tidak biasa membunuh orang cepat-cepat.�

�Hmmh, kalau begitu apa kau punya ide lain untuk pertarungan kita?�

Pedang Menari memasang wajah berkerut. �Ide Tuan tadi itu bagus. Tinggal dilaksanakan saja.�

�Lalu idemu sendiri apa?�

�Nanti akan diketahui setelah Tuan melaksanakan ide tersebut.�

Pedang Kilat berpikir sejenak. �Baik,� ucapnya. Berbareng dengan itu, tiba-tiba tubuhnya melenting ke sebuah pohon agak jauh di sebelah kanan. Dedaunan pohon luruh dari rantingnya ketika Pedang Kilat mencabut pedangnya di udara. Terdengar jerit panik dari seseorang yang bersembunyi di dahan pohon. Ingin ia melompat, namun geraknya telah terkunci dari jauh oleh pedang si Pedang Kilat yang mengincar lehernya.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Pedang Menari pun telah melejit ke arah yang sama. Dalam hatinya, Pedang Kilat bertanya-tanya ide apa yang akan dilakukan Pedang Menari. Ia sudah bersiap-siap jika diserang dari belakang. Malah itulah yang dikehendakinya, sebab dengan itu berarti pertarungan dimulai.

Namun apa yang dilakukan Pedang Menari ternyata lebih mengejutkan. Beberapa jengkal lagi pedang si Pedang Kilat hampir menusuk leher orang malang di pohon itu, mendadak pedang si Pedang Menari memukul pedangnya dari samping dengan kekuatan yang seimbang.

Kejut di wajah Pedang Kilat bukan alang kepalang. Namun perubahan itu hanya sekejap, sebab begitu kakinya menjejak tanah, kembali ia melesat dengan pedang menyabet ke balik semak-semak tak jauh dari situ. Orang yang bersembunyi di balik semak hanya sempat berdiri, namun tubuhnya mendadak kaku saat hendak melompat. Itulah keistimewaan jurus si Pedang Kilat. Angin serangannya saja cukup membuat musuh lumpuh tak bisa bergerak.

Serangan kedua ini membuyarkan keheningan yang sebelumnya masih coba dipertahankan para penonton di kawasan tepi hutan itu. Mereka paham apa yang dikehendaki Pedang Kilat, dan segeralah mereka berhamburan menjauh, takut kalau-kalau Pedang Kilat menyasar ke arah mereka.

Kembali Pedang Kilat mesti menahan kejutnya, sebab Pedang Menari tahu-tahu telah tiba di hadapannya dan menahan pedang yang sedianya akan memotong tubuh orang di balik semak.

Pedang Kilat mendengus. Ekor matanya menangkap sebuah bayangan melayang turun dari pohon di samping kirinya. Secepat kilat ia meluncurkan pedangnya ke sana. Namun sekali lagi pedang si Pedang Menari berhasil memapak serangannya.

Pedang Kilat terjajar ke belakang. �Idemu sungguh bagus sekali!�

Pedang Menari tersenyum. �Pedang Tuan sangat cepat.�

�Tapi pedangmu jauh lebih cepat dan kuat.�

Pedang Menari masih tersenyum. Pandangan matanya seakan bertanya, apa lagi selanjutnya.

Pedang Kilat paham. Lalu katanya, �Kau tentu tahu, cara termudah untuk menyelamatkan orang-orang itu adalah dengan menyerangku dari belakang. Dengan begitu tak mungkin aku meneruskan seranganku pada mereka atau tubuhku akan jadi daging cincang. Tapi kau tak memilih cara itu. Kau malah mendahului gerakanku dan menangkis pedangku. Baru kali ini aku merasa gentar. Aku benar-benar tak menyangka ada orang yang bisa melakukan ini terhadapku.�

Pedang Menari terdiam.

�Oleh karena itu aku mengaku kalah,� ucap Pedang Kilat lalu �pletak�, pedangnya ia patahkan dengan dua jari.

Pedang Menari tersentak. Bukan karena begitu mudahnya jari-jari Pedang Kilat mematahkan pedang, tapi karena Pedang Kilat mematahkan pedangnya sendiri.

�Selama ini aku tak pernah kenal apa itu kekalahan,� kata Pedang Kilat lagi. �Mulanya kusangka rasanya pasti sangat menyakitkan. Tapi setelah bertanding denganmu, ternyata rasanya cukup melegakan.�

�Tuan�?�

�Hahaha� Mulai saat ini, kaulah Dewa Pedang yang sesungguhnya.�

�Mengapa Tuan melakukan ini?�

�Sudah kubilang, aku tak mau sejenis dengan orang-orang yang pernah bertarung denganmu. Mereka mati secara perlahan-lahan dalam kehinaan sebab sampai detik terakhir tak juga menyadari ketololannya. Biarlah aku mati dengan caraku sendiri.�

Pedang Kilat duduk bersila lalu memejamkan kedua matanya. Pedang Menari memperhatikan dengan tertegun. Kewaspadaan yang telah tertanam dalam darahnya membuat dia tak begitu saja beranjak mendekati lawan. Terlalu banyak intrik dan taktik licik di dunia persilatan. Tingkah Pedang Kilat mungkin salah satunya.

Pedang Menari menyarungkan pedangnya. Tapi ia masih menunggu. Ia tetap berdiri di situ hingga malam turun. Ketika bulan sabit muncul di langit barat, barulah ia bergerak. Dengan hati-hati disentuhnya tubuh si Pedang Kilat. Tubuh itu terguling ke belakang dengan pose masih duduk bersila.

Pedang Menari menghela nafas panjang. �Aku keliru mengenalnya.�

Setelah menguburkan mayat bekas musuhnya sebagai penghormatan terakhir, Pedang Menari berlalu dari situ dengan membawa sebuntal rasa galau yang tak pernah ia kenal. []

Ciater, 2011

Ilustrasi karya Zeen http://zeen84.deviantart.com

Tamu

Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Surabaya Post, 5 Juni 2011

Rumah kami tidak terlalu besar, tapi juga tidak bisa dibilang kecil. Rumah kami memuat 3 kamar yang masing-masing berukuran 4x5 meter, 3 kamar madi, sebuah ruang keluarga�tempat anak-anak menonton TV, sebuah ruang baca sekaligus perpustakaan pribadi, sebuah dapur yang bersebelahan dengan garasi, dan sebuah ruang tamu berukuran 4x6 meter. Di depan rumah ada taman yang tidak terlalu luas, tapi lebih dari cukup untuk ditanami berbagai macam bunga serta membuat pancuran dan kolam ikan. Di rumah, kami tinggal berlima. Saya dan istri, dua putra kami yang semuanya masik duduk di bangku SD (yang besar sudah kelas empat, yang kecil baru masuk kelas satu), dan seorang khadimah yang bertugas memasak dan mengurus rumah.

Rumah kami terasa mati meski tak pernah sepi. Setiap hari jerit anak-anak dan suara bising Play Station sudah menyambut kami setiap kali pulang kerja di sore hari. Rumah kami juga terang benderang, lampu-lampu besar berhias kristal menempel dan menggantung di mana-mana, namun dalam hati kecil kami, kami merasa rumah kami sangat redup dan suram.

***

Suatu malam, sepulang dari pengajian, kami langsung ambruk di pembaringan. Bahkan aku tak sempat mengucapkan selamat malam pada istriku. Begitu juga dia. Kami sama-sama letih. Dan pada malam itulah�jauh selepas malam, lelaki itu datang. Kami mendengar bel berbunyi. Sesekali sayup-sayup suara pintu diketuk. Aku tak menggubris sama sekali. Biasanya, sekali saja ada bel berbunyi, pembantuku yang akan langsung membukakan pintu. Tapi aneh sekali, lebih dari lima kali, dan bel itu masih terus berbunyi, diiringi ketukan pintu sesekali. Terpaksa aku bangkit dari tidur sambil mengumpat dalam hati.

�Siapa sih, bertamu malam-malam begini. Tak tahu aturan.� gumamku masih setengah sadar.

Aku berjalan sempoyongan, mendekati pintu. Dengan mata yang masih setengah mengatup, kutarik grendel pintu. Kutarik gagang pintu itu pelan-pelan�telah kusiapkan pula muka masam. Dan mataku terbelalak ketika daun pintu telah kubuka lebar. Seorang lelaki dengan perawakan tinggi sudah beruluk salam sambil melempar senyum. Entah bagaimana kujelaskan ketampanannya, dibalik kulit wajahnya seperti tersimpan butiran cahaya yang terus berpendar. Entah musabab apa, aku seperti tersihir oleh cahaya di wajahnya. Maka rasa kantukku seperti hilang begitu saja, hatta lelaki itu kupersilahkan masuk. Ketika aku hendak beranjak untuk memanggil pembantuku�supaya membuatkan segelas teh atau kopi, lelaki itu melarangku.

Lelaki itu mengaku bernama Ahmad. Ia bilang, ia mengenalku, bahkan ia bersikeras menyatakan bahwa aku juga sangat mengenalnya. Entahlah, setelah kutilik wajahnya beberapa kali, aku memang merasa pernah mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Namun entah kapan, entah di mana, aku lupa.

�Maaf, sudah menggangu istirahat, Tuan.� Tuturnya lembut.

�Oh, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong ada keperluan apa bertamu malam-malam begini, apa ada sesuatu yang sangat mendesak.� Balasku.

�Oh, tidak, saya hanya ingin bermalam saja di rumah Tuan yang hangat ini.�

Pernyataanya sesungguhnya cukup ganjil, bagaimana mungkin ada orang ingin menginap di rumah orang lain tanpa alasan yang jelas, datang malam-malam buta pula. Namun lagi-lagi, entah kenapa, semua yang meluncur dari mulutnya terasa benar dan tidak mengada-ada.

�Memangnya Tuan berasal dari mana.� Aku mencoba mengorek sesuatu tentang dirinya.

�Tuan tahu saya dari mana. Hanya saja Tuan lupa.� Balasnya enteng. Namun lagi-lagi, aku tidak memperslahkannya. Semua yang meluncur dari mulutnya terdengar mantap.

�Sebentar, sebentar, siapa ya?� aku mengetuk-ketuk jidadku sendiri. Kupicingkan mata ke lelaki itu. Dan lelaki itu hanya tersenyum.

�Tak perlu dipaksa, nanti Tuan juga akan tahu siapa saya.�

�Siapa, ya?� aku masih penasaran.

�Mmm� bolehkan saya numpang sholat sunnah. Apa ada mushola di rumah Tuan?� ucapnya tiba-tiba.

Aku terantuk, dan tak tahu harus menjawab apa, �oh, maaf. Tak ada mushola khusus di rumah saya. Saya menggelar sajadah di sebelah ranjang, dan biasanya saya sholat di sana.�

�Oh tidak apa-apa. Sholat bisa di mana saja.�

Segera saya antar lelaki itu ke kamar tamu, saya ambil sajadah yang masih terlipat dalam lemari.

�Silahkan!� lirihku.

Lelaki itupun menggelar sajadahnya ke arah kiblat. Aku mengintip ia dari balik pintu. Beberapa kali aku menepuk kepala, mengingat-ingat, kapan terakhir kali aku sholat malam. Sebulan yang lalu? Setahun yang lalu? Dua tahun yang lalu? Lima tahun yang lalu? Entahlah! Aku benar-benar lupa. Tiba-tiba aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.

Hampir setengah jam aku menunggunya di ruang tamu. Aku kembali terkantuk-kantuk.

�Kalau Tuan mengantuk. Sebaiknya Tuan istirahat saja.� Suaranya membuatku terhenyak.

�Oh, sudah selesai. Tidak, saya tidak mengantuk.�

�Maaf, apa Tuan ada Al-Quran?� ia kembali bertanya.

�Al-Quran?� Aku tertohok. �Oh ya, sebentar-sebentar.� Aku bangkit dan berjalan ke dalam kamar. Aku sudah mulai deg-degan. Jujur, aku tidak tahu apakah di rumahku ada Al-Quran atau tidak. Tapi aku terus mencari. Mustahil seorang muslim tak punya Al-Quran di rumahnya. Aku terus mencari, membongkar lemari dan buku-buku. Hingga kitab itu kutemukan di antara tumpukan buku-buku lawas yang tak pernah kubaca. Ia begitu usang dan berdebu. Aku memeluk kitab itu dengan lega, dan entah kenapa aku ingin menangis. Segera aku berlari memui lelaki itu di ruang tamu. Ia masih di sana, matanya terpejam, tapi mulutnya merapal surah-surah yang tak kutahu.

�Maaf. Ini Al-Qurannya.� Kuserahkan kitab itu padanya dengan tangan gemetar. Tapi lelaki itu tersenyum. Ia mulai membuka mushaf itu dan membacanya. Ia sudah membaca beberapa ayat saat aku menyelanya.

�Maaf. Nanti kalau Tuan hendak instirahat, silahkan beristirahat di kamar tamu saja. Anggap saja rumah sendiri.� Kataku, sebelum memohon diri untuk kembali ke kamar.

Aku berjalan lesu ke kamar. Kulihat istriku masih mendengkur. Dari dalam kamar. Kudengar suara lelaki itu melantunkan ayat-ayat dengan sangat sempurna dan merdu. Entah kenapa aku tak bisa tidur lagi. Ingin kubangunkan isteriku, tapi melihat tidurnya yang sangat pulas, niat itu kuurungkan.

Pikiranku kemali pada lelaki itu, lelaki yang bertamu malam-malam dan sekarang tengah membaca mushaf di ruang tamu. Hal itu seharusnya sangat aneh. Sangat sangat aneh. Tapi tidak untuk malam itu. Kucoba utuk memejamkan mata kembali, namun gagal. Maka kuputuskan untuk kembali ke ruang tamu. Di sana, lelaki itu masih duduk terpaku dengan mushaf di pangkuanya. Ia melihatku datang, lantas ia menyudahi bacaanya. Ia bagai bersiap-siap untuk kuajak berbincang-bincang panjang.

�Rumah Tuan lumayan besar, ya!� komentarnya tiba-tiba.

�Yah� Alhamdulillah. Ini patut saya syukuri.�

�Tuan suka membaca?� Tanyanya lagi.

Tiba-tiba aku sangat bersemangat dengan pertanyaannya, �ouh, aku punya perpustakaan pribadi.� Sambutku girang. �Mau melihat-lihat?� lanjutku.

�Dengan senang hati.� Balasnya singkat, tetap tersenyum.

Aku bangkit dan melenggang menuju perpustakaan pribadi kebangganku. Sampai di ruang buku, lelaki itu kembali berkomentar, �Wow, buku Tuan banyak sekali. Buku apa saja ini?�

�Oh� Insya Allah komplit. Mulai dari ensiklopedi, kamus, filsafat, pendidikan, bahkan sastra dan novel juga banyak.�

�Mmm� ada Siroh Nabawiyah?� celetuknya.

Aku terdiam di tempatku berdiri. Membeku. Kembali aku tertohok.

�Perjalanan hidup Rasulullah sangat menarik bukan untuk kita baca?�

Aku hanya mengangguk.

�Saya yakin Tuan punya banyak buku Siroh Nabawiyah.� Katanya lagi.

�Oh, tentu.� Aku berbohong.

�Beliau teladan kita. Nabi kita. Namnya kita agung-agungkan, bagai seorang idola. Alangkah lucu jika kita tidak tahu menahu bagaimana kisah hidupnya. Betul bukan?� uangkapnya lagi. Sungguh, kata-katanya bagai sebilah tombak yang menusuk ke ulu hatiku. Aku hanya gemetar.

�Oh. Di mana rak buku-buku Sirohnya?� lelaki itu langsung ke point pertanyaan.

�Sungguh maaf, buku-buku Siroh koleksi saya dipinjam seorang teman untuk refrensi tugas kuliah, dan belum dikembalikan.�

�Ooo� Kalau kitab hadits, tentu Tuan punya.�

�Kitab Hadits?� aku seperti orang bodoh.

�Iya. Shahih Bukhori atau Shohih Muslim. Tuan punya, kan? Hadits adalah sumber hukum ke 2 setelah Al-Quran. Tentu Tuan punya. Saya yakin.�

�Iya. Termasuk kitab hadits, juga dipinjam teman saya. Ada Riyadhus Sholihin. Jami�us Shaghir juga ada. Tapi ya itu, semua ada pada teman saya.� Kilahku lagi. Dalam hati aku berdoa, semoga nama-nama kitab hadist yang kusebutkan tidak ada yang salah.

�Ooo�� kembali lelaki itu ber�o� panjang.

Aku sangat lega, lelaki itu memakluminya. Namun, kebohongan yang telah melesat dari mulutku beberapa saat yang lalu bagai sebilah cambuk yang terus melecutkan rasa bersalah dan tidak nyaman. Kami masih berjibaku dengan bukubuku. Membacanya sekilas dan mengembalikannya ke rak. Hingga beberapa saat kemudian, lelaki itu berpamitan untuk beristirahat. Aku mengantarnya sampai kamar tamu. Namun sampai di ruang keluarga mendadak ia berhenti di depan tivi.

�Ini apa? Besar sekali. Cermin, ya?� kembali ia melontarkan pertanyaan aneh.

�Oh, ini tivi. Biasa buat hiburan anak-anak.� Kataku.

�Kalau ini?�

�Ini PS, game. Buat hiburan anak-anak juga.�

�Sangat berguna, ya, untuk hiburan anak-anak.� Komentarnya bagai sebuah sindiran. Dan aku menelanya mentah-mentah. Rasanya sepat. Mushola saja tak ada, al-quran usang tak terbaca, kitab siroh dan hadits tak pernah terpikirkan untuk mengoleksinya, sedangkan tivi terpajang di ruang keluarga bagai benda kebanggaan yang sangat berharga. Oo... bagaimana kuhadapi ini?

***

Selepas kuantarkan lelaki itu ke kamar tamu. Aku ngeloyor ke kamar. Pikranku berkecamuk tidak karuan. Sekali lagi kutengok istriku yang masih tertidur dengan mulut menganga. Kali ini, dengkuranya terdengar sangat menjijikan. Aku kembali berjalan keluar kamar. Kutilik kamar tamu tempat lelaki itu beristirahat, sudah tertutup. Aku berjalan menuju kamar anak-anak. Mereka juga masih pulas. Maka kuputuskan untuk keluar rumah. Aku duduk di bangku taman depan. Dingin sekali. Kutilik langit. Bintang-bintang berpendar bagai hendak menjatuhkan diri. Siapa gerangan lelaki itu?

Aku kembali masuk ke dalam, ke perpustakaan. Kugeledah satu demi satu buku-buku di sana. Aku sendiri tak percaya kalau aku tidak punya buku-buku tentang Rasulullah. Nyatanya, memang tak satupun kudapatkan buku tentang Rasulullah di sana, apalagi kitab hadits. Aku ingat, aku memang tak pernah membeli kitab hadits, sama sekali. Aku menggelengkan kepala. Ada yang salah denganku.

Tiba-tiba aku teringat buku-buku anakku. Mereka semua kusekolahkan di sekolah islam terpadu. Tentu di sana ada pelajaran Siroh. Segera aku menghambur ke kamar anakku. Kegeledah meja belajar mereka. Dan di sana kutemukan buku modul tipis: Siroh Nabawiyah. Serta merta kupeluk buku itu. Kubuka satu persatu buku itu. Di halaman-halaman awal kutemukan bab pertama tentang Masyarakat Islam Sebelum Rasulullah, kubaca sekilas. Kubuka halaman berikutnya, tentang Kelahiran dan Masa Kecil Rasulullah. Kubaca dengan saksama, tak terasa mataku berair. Kubaca lagi halaman demi halaman, hingga aku tertidur di kamar anakku sambil mendekap buku itu.

***

Aku terbangun oleh suara tarhim yang bagai menyilet telinga. Aku tergeragap. Pertama kali yang singgah dalam kepalaku adalah lelaki itu. Lelaki berwajah cahaya yang datang tengah malam tadi. Kutengok kamar tamu tempatnya beristirahat. Masih tertutup rapat. Barangkali ia kelelahan, pikirku.

Kulihat Nani, pembantuku, sudah menyiapkan teh hangat di ruang keluarga.

�Sudah bangun, Pak.� Sapanya.

�Iya. Alhamdulillah, bisa bangun pagi. Mmm� Nani?�

�Ya, Pak?�

�Tolong tamunya dibikinkan juga, ya, tehnya!�

�Tamu?� Nani balas bertanya seperti orang bingung.

�Iya. Semalam bapak ada tamu. Sekarang masih istrirahat di kamar tamu.�

�Di kamar tamu?� Nani masih seperti orang ling-lung. �Tapi, barusan saya dari kamar tamu, di sana tidak ada siapa-siapa.� Jelasnya.

�Ha? Bercanda kamu. Wong semalam saya sendiri kok yang ngater dia ke kamar.�

�Lho? Bener, Pak. Barusan saya beresin kamar tamu, dan tidak ada siapa-siapa. Tak ada juga bekas-bekas orang tidur di sana.�

Aku mengernyitkan dahi. Daripada berdebat kuputuskan untuk langsung beringsut ke kamar tamu, dan Nani benar, di sana tidak ada siapa-siapa. Buru-buru kutengok kamar mandi, barangkali ia sedang ke kamar mandi. Tapi di kamar mandi juga tidak ada siapa-siapa. Aku semakin bingung dan heran. Apa semalam aku mimpi?

Hingga matahari meninggi, otakku masih kacau dipenuhi pertanyaan-pertanyaan. Bahkan ketika anak-anak berpamitan hendak berangkat ke sekolah. Aku masih seperti orang ling-lung. Hingga anakku yang paling kecil mengguncang-guncangkan tanganku. Ia berisyarat ingin membisikkan sesuatu. Maka telingaku kudekatkan pada mulutnya yang mungil.

�Abi, Abi! Semalam ada tamu, ya?� ia mendesis bagai membisikkan sebuah rahasia.

Aku terhenyak. Kepalaku kembali pada sosok lelaki yang semalam kuakrabi.

�Memangnya adik tahu, kalau semalam ada tamu?� aku menanggapi pertanyaan itu sambil mengusap wajahnya yang polos. Ia mengedip-ngedipkan matanya.

Detak jantungku kian memburu, �Memangnya, adik kenal sama tamu kita semalam?�

�Memangnya Abi gak kenal?� Ia balik bertanya. Sebelum bibirku bergerak untuk menjawab pertanyaanya, ia sudah kembali bersuara, �Kalau Abi baca buku sirohku, pasti Abi kenal��, sambungnya singkat, sebelum mengecup tanganku, mengucap salam, lalu melesat berangkat.***