Minggu, 04 Maret 2012

Ambe Masih Sakit

Cerpen Emil Akbar
Dimuat di Kompas, 4 Maret 2012

Di kampungku, Tana Toraja, aura kematian sering kali berembus seperti angin. Jika terlihat secarik kain putih melambai di halaman tongkonan, itu pertanda ada orang yang masih hidup meski sudah mati, �to makula�. Di sini, kematian dirayakan dengan biaya yang tak sedikit.Inilah akibatnya.

Sudah hampir sepuluh tahun Ambe terbaring di dalam erong, seolah menanti upacara rambu solo yang tak kunjung dilaksanakan oleh sanak keluarga. Sebab, tak ada dana atau belum dan jauh dari mencukupi walau kami tengah mengupayakannya. Hingga hari ini.

Pagi tak lagi halimun. Kulihat Indo sedang sarapan dengan Ambe yang masih sakit, terbujur kaku di dalam peti mati itu. Nyawanya menjelma arwah, tapi tetap tinggal kendati tidak menyatu dengan jasad. Menderitakah ia menjadi bombo?

�Selamat pagi, Ambe. Aku mau berangkat.�

Cahaya matahari, yang bangkit menembus celah dinding di sumbung, menimpa tubuh Ambe yang susut dan pakaian kebesarannya tampak berdebu.

�Hati-hati, Anakku. Semoga dalle-mu hari ini berkah. Berkat dari langit.� Jawaban Indo seperti doa.

Sering kulihat rona wajahnya tak ada duka meski ia sudah lama berkabung. Mungkin karena itu hatinya tak lagi berkabut. Menjalani hari dengan bahagia walau keadaan seperti ini. Ia mengantar kepergianku sampai depan pintu. Aku tahu, ia selalu menaruh harap agar aku cepat dapat uang untuk upacara kematian Ambe. Letihkah Indo merawat Ambe?

Cuma tongkonan ini yang kami punya atau yang tersisa. Indo hanya istri kedua Ambe. Katanya, dulu banyak kerabat tidak setuju ketika mereka menikah dan kakak-kakak tiriku menerima dengan syarat menuntut pembagian harta sebagai ahli waris mendiang ibu mereka. Sekarang, Ambe tak memiliki harta peninggalan, bahkan buat perayaan kematiannya sendiri. Anak-anaknya terdahulu pun seperti tak peduli. Tinggallah aku dan Indo yang menanggung beban. Berat, entah sampai kapan kami mampu menahan.

Aku pulang membawa hasil yang lebih dari biasanya walau aku tidak menjadi guide. Lumayan. Ukir-ukiran aku hampir habis dan beberapa lembar tenunan Indo laku. Dibeli oleh turis asing dan lokal yang lalu lalang. Sebenarnya masih siang meski sudah menjelang sore. Dan, aku mendapatkan kejutan kecil.

Margaretha Sua datang berkunjung. Dari Makale ke Rantepao menempuh jarak yang tak jauh. Ia perempuan mamasa dan sudah jadi pegawai. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu dengannya. Kami tidak sering bersama setelah ia pindah mengikuti orangtuanya. Kami duduk di kolong alang. Alih-alih melepas rindu, wajahnya malah mendung membawa kabar tak baik.

�Upta, dia ingin segera melamarku,� segan perempuan itu berucap. Bibirnya seperti bunga yang kusuka, tapi ia mengeluarkan sengat.

�Kau mau menerimanya?� Aku mengumpulkan perasaanku yang tadi berhamburan untuk mengatakan itu.

�Aku cuma dikasih waktu sedikit buat berpikir,� ujarnya pelan dan tergugu, barangkali isak.

�Etha, bilang saja kalau kita hanya bisa sampai di sini.� Aku terempas seperti udara sisa di hidungnya.

Margaretha Sua menatapku kisruh, �Aku tidak mau jadi biarawati.�

Ia terlalu dirasuki cerita tantenya yang hidup selibat lantaran ditinggalkan kekasihnya yang tak mau menunggu. Upacara kematian bapaknya, kakek Margaretha Sua, tertunda lama. Kini perempuan di hadapanku takut berlomba dengan kematian neneknya.

�Maafkan aku.�

�Aku yang minta maaf.�

Margaretha Sua pergi, pelan-pelan mengabur dari penglihatanku ditelan tikungan jalan. Mungkin ia membawa luka atau lega? Ia seperti tidak setia.

Petang di ambang hari. Senja melumuri langit. Seketika bayangan gelap datang dari barat. Sementara aku tengah memandang di bukit utara itu yang dipenuhi tebing-tebing. Gunung-gunung batu yang di kakinya rimbun belukar rimba. Semak-semak raksasa yang tak habis untuk dikuak.

Mungkin Tuhan menjelma hutan hingga belantara itu dihuni arwah-arwah. Segala yang sudah mati hidup di sana seperti alam baka. Rindukah Ambe untuk ke sana sebagai tomembali puang? Bergabung dengan tau-tauyang asyik bertengger atau bernaung di pohon-pohon suaka ketika malam tiba bagai mengulang masa kanaknya. Seperti apakah kehidupan di puya?

Dan, sampai kapan aku harus menanggung? Tabunganku tidak akan genap sekeras apa pun aku berusaha. Maafkan aku, Ambe, bila aku mengeluh. Aku sedang patah hati, mungkin putus asa. Indo tidak bisa dibujuk.

�Adalah larangan melakukan rambu tuka, apalagi rampanan kappa, apabila rambu solo belum diselenggarakan. Ambemu masih sakit. Rohnya masih terkatung-katung di alam sana.� Kata Indo seolah memegang kukuh wasiat Ambe. Tapi, aku menerka ini kemauannya.

�Kenapa? Apakah itu menyalahi aluk?� Aku tak tahu apa aku sedang menggugat adat yang aku yakini sendiri.

�Itu sama saja kau meminta hakmu tanpa menunaikan kewajibanmu sebagai anak.� Indo seolah berkata, tunjukkan baktimu.

�Dulu Ambe pernah bilang padaku, hidup itu untuk mati. Dunia ini tempat persinggahan dan mati adalah pintu ke puya, di kehidupan yang sesungguhnya,� jelasku punya maksud

�Iya, itu betul. Lantas?� kejar Indo mencium niatku.

�Kata Ambe carilah bekal, dalle buat mati. Biar kelak tidak menyusahkan keturunanmu. Seharusnya Ambe juga begitu.� Aku tertunduk sebab lancang, ada sesal yang hinggap. Aku tak berani melihat Indo yang mungkin tengah membelalakkan mata, tak menyangka.

�Indo merasa tidak pernah kurang mengajarimu, Upta.� Ia memanggil namaku seakan aku bukan anaknya lagi. Dapat kudengar hela embusnya kecewa, �Ambemu perlu kunci untuk membuka pintu ke puya, rambu solo. Perjalanan ke sana jauh sekali butuh kendaraan, tedong bonga, agar cepat sampai.�

�Beberapa babi dan seekor kerbau aku kira sudah cukup, Indo. Tedong bonga ratusan juta harganya. Kita mana sanggup.�

�Kau ini! Ambemu keturunan tana bulaan. Bukan orang sembarangan. Kalau cuma itu, sudah dari dulu Indo melakukan rambu solo. Tak perlu menunggu bertahun-tahun. Dengar, Upta. Ini bukan asal upacara, tapi martabat yang mesti dijunjung. Kau tahu itu! Ambemu akan tersesat karena ulahmu.� Suara Indo melangit seperti bulan yang pongah.

�Aku lebih bangga kau merantau ke Papua. Di sana kau bisa dapat uang banyak ketimbang di sini. Atau kau mau mati di sana, terserah.� Indo bicara terus sebab aku seperti patung, kepala batu. Indo kenal sekali tabiatku, kalau ada mau diam tapi rusuh.

�Kau tidak bakal ada di dunia ini kalau tak ada Ambemu yang meminta kau dilahirkan.� Indo berkata tega. Napasnya panas. Kubayangkan, dulu mungkin ia hendak menggugurkan dan menguburkanku di pohon nangka, tapi dicegah oleh Ambe. Keberadaanku kau tampik, benarkah kabar itu?

�Matahari siang dan bulan malam tidak pernah bertemu. Kalau sampai itu terjadi, itu artinya kiamat! Kau boleh menikah, tapi bukan di tongkonan ini dan tanpa restu dariku,� cetusnya mengancam. Indo menarik kakinya pergi ke sumbung, kebiasaannya sesenggukan di sana. Meratapi Ambe dan nasib. Atau masa lalu yang berusaha ia tutup dan simpan.

Malam benar-benar rindang. Beberapa kerabat dan tetangga datang. Kami main kartu sampai suntuk. Aku menyuguhkan kopi dan penganan seadanya. Mereka membawa ballo. Sunyi dingin meruap.

�Upta Liman, itu bukan sepenuhnya bebanmu dan keputusan ada di tangan kakak-kakakmu yang telah abai di perantauan,� ujar Tato Randa bijak. Ia pamanku dari pihak Indo dan teman Ambe sebagai pemangku adat.

�Seperti bukan orang Toraja saja mereka itu. Mabuk di kampung orang sampai lupa kampung sendiri,� imbuh Urru, teman seprofesiku yang sudah oleng. Entah berapa gelas tuak ia tenggak.

�Kewajibanmu cuma mengingatkan meski kau harus menanggung belasungkawa yang menunda kegembiraan di tongkonan ini,� lanjut Tato Randa. Menimbulkan tanya di benakku yang keruh. Adakah rahasia yang kalian taruh?

�Kecuali kalau Indomu rela memutus hubungan dengan membayar nilai salah yang tak seberapa,� celetuk Tante Ully tak dinyana. Tanteku ini perempuan tua yang agak lain pikirannya. Ia melenggang setelah mendapat isyarat diam dari yang hadir selain aku, pergi menemani Indo di kamar. Matanya bicara padaku.

Kami kembali melanjutkan berembuk, tapi aku tidak berminat lagi. Mereka membujuk.

�Kontaklah saudara-saudaramu itu untuk segera pulang. Urusan ini harus lekas dibereskan. Kami di sini sudah siap memberikan bantuan. Nanti kami ajukan proposal ke pemda buat diikutkan program pariwisata Natal dan Tahun Baru. Babi-babi dan kerbau akan kami sumbangkan. Kurangnya kalian usahakanlah.�

Ah, bantuan ini adalah utang moral. Bakal malu jika tidak bisa mengembalikan, ketika kelak di antara mereka ada yang meninggal. Setara atau lebih dan aib akan aku tanggung bila tak mampu. Masih sakralkah perayaan kematian ini? Mereka pamit.

�Indomu sulit berdamai dengan masa lalunya. Dulu ia berbuat dosa dan mencari selamat. Orang-orang kampung tak jadi mengusirnya. Ketahuilah dari silsilah,� bisik Tante Ully sebelum pulang. Selain kakak-kakak tiriku, yang aku tahu Ambe pernah menikah dengan janda kaya punya satu anak yang tak pernah kulihat dan tidak kutahu keberadaannya.

Ambe dari manakah aku mulai merunut? Kini aku berbaring lelap di sebelahmu. Hendak menerima jawab.

�Kenapa Ambe menikahi Indo?� tanyaku seakan rohnya masih bersemayam dalam tubuh.

�Karena aku mencintai Indomu.�

Lama kutatap Ambe. Kuperhatikan saksama.

�Apakah Indo mencintai Ambe?�

Sebab ia terlalu lansia buat jadi Ambe.

�Tanyakan itu pada Indomu.�

Ia seolah tersenyum serupa sunggingan orang yang tidak punya gigi. Aku terjaga.

Pagiku dibuka dengan kedatangan tamu. Ribut, suara Indo ramai di halaman ketika aku menuruni tangga. Lelaki itu lagaknya seperti turis lokal dengan badan tambun. Tubuh Indo bergetar, kusut dan berantakan, menghalanginya masuk.

�Aku punya hak atas rumah tongkonan ini, aku ahli warisnya!� tuntutnya tanpa melepas kacamata riben di wajahnya.

�Kamu siapa?� aku maju di muka Indo.

�Aku anak dulu dari Indoku. Istri pertama Ambemu. Tongkonan ini akan kujual. Pembelinya sudah ada. Sertifikatnya masih atas namaku, belum ada balik nama.� Jelasnya beruntun.

�Rantedoping, ahli waris sudah berpindah tangan sejak kau pergi dan tak ada kabar. Biar nanti adat yang menentukan.� Indo bersikeras.

�Siapa ahli warisnya, kau?�

�Bukan. Upta Liman, anakmu.�

Baru kulihat airmata Indo menetes. Lelaki itu menatapku nanap dan aku terlongo saat Indo hampir rebah pingsan. Kupeluk Indo yang begitu ringkih.

Toddopuli 2 STP 8


Catatan:
Ambe: ayah
Indo: ibu
Tongkonan: rumah adat orang Toraja
To makula: orang mati yang belum diupacarakan, masih dianggap sakit
Erong: peti mati
Rambu solo: upacara kematian khas Toraja
Bombo: roh yang menunggu upacara
Sumbung: bagian belakang rumah tempat menyimpan mayat
Dalle: rezeki
Alang: tempat menyimpan padi miniatur tongkonan
Rambu tuka: upacara kegembiraan
Rampanan kappa: pesta pernikahan
Aluk: adat
Tomembali puang: roh yang sudah diupacarakan berwujud setengah dewa
Tau-tau: boneka kayu, wujudnya menyerupai orang yang diupacarakan
Puya: surga
Ballo: tuak
Tana bulaan: kaum bangsawan tertinggi

Selasa, 28 Februari 2012

Anak Ibu (3)

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jawa Pos, 26 Februari 2012

Anak yang baik adalah anak yang dapat memelihara hati ibunya.


Alun-alun Surga

Seorang wanita. Seorang ibu. Melahirkan. Membesarkan. Merawat. Apa yang sebenarnya ia lakukan kepada anaknya? Begini. Seorang anak. Anak satu-satunya. Anak perempuan. Anak manis. Gadis periang. Bermain dengan teman-teman. Sebayanya. Semua laki-laki. Ibu khawatir. Kita akan pindah, Nak. Anak mengangguk. Ah, anak yang baik. Kau tak takut kehilangan teman-teman? Anak menggeleng. Ah, anak yang baik. Mereka pergi. Mengembara. Ke desa. Ke desa. Desa demi desa. Teman demi teman. Kebaikan demi kebaikan. Keganjilan demi keganjilan. Kebaikan demi kebaikan. Keburukan demi keburukan. Kebaikan demi kebaikan. Keanehan demi keanehan. Kebaikan demi kebaikan. Stop! Kita tinggal di sini. Bermainlah. Ke alun-alun. Jumpai teman-teman. Kau sudah beroleh pelajaran dari pengembaraan, bukan? Anak tersenyum. Senyum yang merah. Senyum yang manis. Lalu mengangguk. Anggukan yang melegakan. Apa, Nak? Katakanlah. Anak menyerbu. Memeluknya. Lalu terisak. Pekebun yang baik takkan lelah membawa bibit ke mana-mana. Pada sepetak tanah. Yang subur menyuburkan. Pekebun yang baik takkan lelah melindungi bibit. Di bawah awan-gemawan. Yang suci mensucikan. Ibu tersenyum. Merenggangkan pelukan. Menatap mata Anak. Mata yang celik. Mata yang berbinar. Bagai ada kunang-kunang yang terperangkap. Di dalam matanya. Dan anak yang baik selalu percaya: Seorang ibu takkan menyiramnya dengan air keras. Ibu menyipitkan sebelah mata. Lalu tertawa. Anak juga tertawa. Pecah-rincah! Anak mencium punggung tangan Ibu. Pergi. Ke alun-alun desa. Ke alun-alun surga.


Ibu yang Adil

Raja datang. Ibu masih berbaring. Istirahat. Di tempat tidur. Raja mengetuk pintu. Ibu bilang: Aku lelah sekali. Aku tahu. Ibu penasihat kerajaan. Tapi kenapa Ibu seperti melecehkan raja? Kenapa, Nak? Kau tidak suka dengan sikap Ibu? Tidak, Bu. Ibu pasti punya alibi. Kenapa melakukan itu. Ibu tersenyum. Dan bilang: Lihat lagi. Rupanya raja belum puas. Diutus perdana menteri. Kali ini Ibu bangun. Membuka pintu kamar. Terkuak setengah. Aku masih lelah, kata Ibu. Kembalilah petang nanti. Akhirnya. Diutus seorang prajurit rendahan. Pukul lima petang. Ibu gegas bangun. Membuka pintu. Menuruni anak tangga. Mempersilakannya masuk. Menyuruh Anak membuatkan teh. Teh yang mahal. Teh bunga mawar. Prajurit kikuk. Prajurit menyeruput teh. Meminumnya. Sampai habis (entah karena nikmatnya teh�entah karena gugupnya jantung). Nah, Anakku. Setiap orang punya kedudukan. Setiap pohon punya ladang. Setiap hidup harus seimbang. Setiap perkara harus ditimbang. Tunjukkan: Kepada yang bergelimang hormat, ambillah sedikit kebanggaannya. Kepada yang dibelit kehinaan, suguhkan ia kehormatan. Walaupun hanya dengan bangkit dari tempat tidur. Membuka pintu kamar. Menuruni jenjang. Membuka pintu rumah. Mempersilakannya duduk. Menjamunya. Di ruang tamu. Dengan secangkir teh.


Apakah Orang-orang Akan Menjadi Kambing Berjamaah?

Orang-orang berkerumun. Ibu dan Anak mendekati. Ikut berkerumun. Seorang wanita tua. Berjubah bludru. Berkerudung ungu. Aku adalah penyanyi dari surga! Suaranya bergema. Menggetarkan. Meremangkan. Menciutkan. Orang-orang menunggu. Kapan ia bernyanyi. Orang-orang tak sabar. Seperti apa nian. Suara dari surga itu. Ibu bertanya. Maaf, Penyanyi. Penyanyi dari surga. Suara apa yang paling susah kautiru? Ibu menanti jawaban. Orang-orang menanti jawaban. Orang-orang memeram penasaran. Suara al Kindi dan Mencius, jawab wanita itu. Orang-orang mengangguk-angguk. Ibu bertanya. Lagi. Wanita itu mendelik. Menantang. Lalu. Suara apa yang paling mudah ditiru? Wanita itu diam. Lalu terkekeh. Terbahak-bahak. Sungguh. Suaranya bergema. Menggetarkan. Meremangkan. Menciutkan. Orang-orang menunggu. Kapan ia bernyanyi. Orang-orang tak sabar. Seperti apa nian. Suara dari surga itu. Suara wanita itu. Ia menjawab: Suara malaikat, hantu, dan titah Tuhan! Orang-orang terperanjat. Tubuh mereka menggigil. Mereka takjub. Mereka ketakutan. Mereka terperangkap. Tapi tidak buat Ibu dan Anak. Ibu menggamit tangan Anak. Keluar dari kerumunan. Pergi. Meninggalkan kerumunan. Ibu, ujar Anak. Mengapa kita berlalu. Tidakkah kita ingin membuktikan kehebatannya? Seperti apa nian suaranya. Suara dari surga itu. Diam, Nak. Dia penipu! Bagaimana Ibu tahu? Kita belum pernah mendengarnya. Siapa tahu dia memang hebat. Penyanyi dari surga! Ibu menghentikan langkahnya. Menatap Anak. Belajarlah. Berkhidmatlah. Hayatilah hidup. Bila pun ia kumandangkan suara malaikat, hantu, dan titah Tuhan, apakah akan kauiyakan? Apakah orang-orang akan menjadi kambing berjamaah? Kalian tidak memiliki bandingan! Anak diam. Ya, Bu. Wanita itu takkan dapat meniru al Kindi dan Mencius. Kita hidup bersamaan dengan pandai musik jagat raya dan orang nomor dua setelah Konfusius. Dia takkan bisa meniru. Tapi kupikir. Dia bukan penipu, Bu. Lalu apa, Nak? Dia itu Iblis. Kau juga tahu dari mana ia datang, bukan? Anak mengangguk. Dari neraka!


Jangan Pulang Hanya Karena Rindu

Lonceng. Berdentang. Berdetang-dentang. Nyaring. Cempreng. Seorang anak. Berlari. Melewati pasar. Lalu permukiman. Lalu kali-kali. Lalu jembatan. Jembatan-jembatan kecil. Ibu! Seorang ibu sedang menganyam. Daun-daun pandan kering. Bersalih-silang. Membuat terindak. Semacam caping. Pengganti payung. Ibu menoleh. Air mukanya lelah. Kau pulang cepat? Tidak, Bu. Sekolah yang cepat kelar. Kenapa? Ada rapat. Rapat guru. Kau berbohong? Tidak, Bu. Kau berbohong! Ibu menunjukkan sebuah terindak. Terindak setengah jadi. Kau lihat ini? Ia menunduk. Kau lihat ini?! Ia masih menunduk. Ibu meraih dagu Anak. Mengangkatnya. Mau tidak mau. Ia menatap terindak. Crashhh!!! Terindak bagai kertas yang disobek. Hancur. Berserakan. Daun-daun cokelat muda luruh. Kenapa kau pulang cepat? Ia meneguk liur. Ia masih menatap daun-daun pandan kering yang berserakan di ujung kakinya�kaki ibunya. Baiklah, Ibu. Kalau Ibu tak percaya. Dada Ibu megap-megap. Menahan buncah. Meredam marah. Aku tak peduli, kata Anak. Aku tak peduli. Pada lonceng. Suara lonceng. Dentangnya yang cempreng. Hari ini�. Ia terisak. Kenapa? Ibu membentak. Hari ini�. Lanjutkan! Suara Ibu makin keras. Hari ini�. Aku-aku-aku. Aku-aku-aku. Sangat merindukanmu Ibu. Di sekolah tadi. Aku berpikir. Bagaimana kalau Ibu tidak ada lagi. Aku-aku-aku. Merindui. Ibu. Aku tak butuh alasan untuk itu �kan, Bu? Ibu meninggalkannya. Menekuni daun-daun pandan yang kering. Menganyam lagi. Terindak. Terindak-terindak. Untuk berteduh. Kalau-kalau di surga nanti. Masih ada gerimis. Masih boleh menangis.


Kalau Lapar, Makanlah

Bila Lelah, Istirahatlah

Ibu. Ibu. Ibu, aku ingin bertanya. Ya, Nak. Aku punya tugas. Dari guru. Guru Agama. Ya. Kami dimintai pendapat. Pendapat sendiri. Kalau bisa bukan dari orang hebat. Bukan juga dari kitab suci. Ya. Apa itu, Nak? Apa. Apa. Apa. Apa hal sederhana. Hal yang dilakukan. Demi menjadi orang baik? Ibu tersenyum. Apa, Bu? Ibu masih tersenyum. Jadi �tersenyum� jawabannya. Ibu menggeleng. Lalu? Lalu apa, Nak? Anak mencubit Ibu. Pinggang Ibu. Ibu menggeliat. Geli. Sedikit nyeri. Geli. Sedikit geli. Kalau lapar, makanlah. Bila lelah, istirahatlah. Anak mengerutkan kening. Bibir monyong. Telunjuk memilin rambut sebahu. Melirik Ibu. Ibu main-mainkah? Ibu menggeleng. Cepat sekali. Ibu main-main, ya? Ibu menyentuh bahu Anak. Anak diam. Ibu mengangkat tubuh Anak. Anak diam. Ibu mendudukkannya. Di atas kursi. Anak diam. Ada yang salah, Nak? Anak diam. Katakanlah. Orang-orang yang gelisah adalah orang-orang yang hidup. Anak diam. Lalu menghela. Dua kali hela. Bukankah itu yang dilakukan kebanyakan orang, Bu? Ibu menggeleng. Anak diam. Kebanyakan orang serakah, Nak. Anak diam. Ketika lapar, mereka memikirkan kereta kencana. Ketika istirahat, mereka mengimpikan mutumanikam dari utara. Mereka tidak makan. Mereka tidak istirahat. Mereka seolah ingin menunjukkan kuasa: Manusia mampu mengerjakan segala. Kau tahu, Nak. Mereka mengejar kerumunan bebek. Alih-alih menangkap semua. Alih-alih dapat banyak. Satu pun lepas genggaman. Anak diam. Diam. Diam saja.


Seratus Tahun Menjadi Ibu

Aku mengagumimu. Ibu. Ibuku. Tinggalkanlah daun-daun pandan itu. Ibu mengangguk. Menatap Anak. Baiklah. Ada apa, Nak? Berapa lama waktu yang kubutuhkan? Untuk apa, Nak? Untuk menjadi sepertimu Ibu. Ibu tertawa. Meraih daun-daun pandan. Ibu. Jangan bercanda, Nak. Ibu tengah membuat terindak. Bukan ketupat hari raya. Aku serius. Bu. Aku sungguh. Penuh. Penuh dan seluruh. Ah, bahasamu, Nak. Anak terkekeh. Baiklah. Lima belas tahun, bagaimana? Apa?! Terlalu banyak orang mati hanya karena terkesiap, Nak? Anak jadi malu. Wajahnya memerah. Bagaimana kalau aku belajar jauh lebih sungguh-sungguh, Bu? Sungguh? Iya, sungguh! Sungguh penuh dan seluruh? Ya, penuh dan seluruh. Baiklah. Tiga puluh tahun, cukup? Anak tertawa. Ibu, aku serius! Ibu menggeleng-gelengkan kepala. Gemas. Melihat tingkah Anak. Nak, Nak, Anakku. Bila serius adalah daun� maka jawabku adalah kanopinya. Anak diam. Bila Ibu bermetafora. Pertanda ia menyebar hikmah. Baiklah, Bu. Demi Tuhan Yang Maha Segala. Ya, Nak. Demi Tuhan Yang Maha Segala. Kenapa? Ada apa? Kenapa Tuhan? Ibu. Aku bersumpah. Sumpah! Atas nama Ibu. Atas nama Tuhan, bila perlu. Berapa lamakah bila�. kuhabiskan waktuku untuk belajar. Untuk menjadimu. Ibu melotot. Seratus tahun! Anak terperenyak. Anakku, Ibu membelai rambutnya. Belajarlah dengan hati lapang. Belajarlah dengan kerendahan. Belajarlah dalam kebebasan. Orang-orang yang belajar dalam kekhawatiran takkan beroleh sesuatu apa. Kecuali lelah. Kecuali cemas. Kecuali harapan!


Aku Hanya Ingin Berdiri di Situ

Ibu melamun. Ibu rindu Ayah. Ibu banyak masalah. Ibu menikmati bulan. Ibu menikmati malam. Ibu ingin ke bulan. Ibu bersedih. Ibu gundah. Anak resah. Ia berlari. Memeluk Ibu. Dari belakang. Ia sudah besar. Tangannya bisa melingkari . Di pinggang. Pinggang Ibu. Ibu sedang melamun? Ibu menggeleng. Ibu rindu Ayah? Ibu menggeleng. Ibu banyak masalah? Ibu menggeleng. Ibu menikmati bulan? Ibu menggeleng. Ibu menikmati malam? Ibu menggeleng. Ibu ingin ke bulan? Ibu menggeleng. Ibu bersedih? Ibu menggeleng. Ibu gundah? Ibu menggeleng. Lalu. Lalu mengapa dari tadi ada di situ. Berpayung pohon duku. Melihat bulan. Memandang lepas. Ibu memberi tanda. Anak mendekat. Kau sudah pintar, Nak. Anak mendongak. Ke Ibu. Dagu Ibu. Tapi kau belum bisa menjadi jauhari. Memang tidak! Aku ingin jadi darwis. Darwis perempuan! Tidak! Kau belum bebas. Maksud Ibu? Kau belum lepas. Maksud Ibu? Makanya kau belum bisa mengepak. Anak diam. Dunia bukan cecabang pohon. Bukan meja berukir. Lalu, apakah ada alasan bagi angin untuk meriuhkan daun dan meniup debu-debu? Anak masih diam. Aku hanya ingin berdiri di sini. Di bawah pohon duku. Hanya itu. Tanpa alasan. Tanpa beban. Tanpa ikatan. Bebaskan pikiranmu, Nak. Lalu kautangkap cahayanya.


Pisau

Begini. Ke sini. Rebahkan kepalamu. Di pahaku. Di atas kain-kain. Katun-katun dari Asia. Aku hendak bercerita. Agar kau mawas. Agar kau tak khilaf. Jangan silap. Jangan gelap. Jangan lelap. Begini. Dengar ini. Ada cerita. Seorang ibu. Ibu yang kehilangan pisau. Pisau biasa. Tajam. Tidak terlalu tajam. Juga tidak tumpul. Ia curiga. Anak tetangga mencurinya. Ia mengamati. Terus mengamati. Tekun mengamati. Anak itu berjalan. Berjalan seperti pencuri. Dua minggu setelah itu. Ia menemukan pisaunya. Di tengah rimba. Ia terdiam. Ia menebas-nebas kerimunting. Ia pulang. Besoknya. Anak tetangganya itu berubah. Dilihatnya berubah. Jalannya berubah. Langkahnya berubah. Cara bicaranya berubah. Penampilannya berubah. Seperti anak-anak yang lain. Nah, Anakku. Bukankah manusia banyak yang seperti itu? Seperti ibu yang kehilangan pisau itu? Dongeng selesai. Anak mendengkur. Bagai gong yang bergemuruh. Meluruh. Menutup cerita.


Ia, Segala Puji Bermuara

Pujian sejati adalah kepercayaan yang diberi. Maka, sebelum kita menggali lubang. Sebagai jeda dalam sebuah kisah panjang. Kuganjalkan sebongkah pengaduan di antaranya. Antara kau dan aku. Anak dan Ibu. Gunung dan lembah. Sungai dan lubuk. Aku melahirkanmu. Kau memanggilku Ibu. Aku memanggilmu Anak. Dua beranak. Aku memercayaimu sebagai anak sebagaimana Tuhan memujiku dengan menganugerahimu. Dan aku sudah percaya. Kau tidak akan jauh-jauh. Kau hanya akan bermain. Di alun-alun. Tapi kutunggu. Kutunggu dan kutunggu. Tapi kucari. Kucari dan kucari. Kau tak kunjung menyambangi. Anakku. Begini saja. Aku yakin. Kau akan-dan-pasti datang. Menyongsongku di siang yang lekat. Aku merinduimu, Bu, serumu kelak. Sungguh. Ah, pasti begitu. Hmm, Tuhan. Kau memang menurunkanku. Kau memang meniupkan anak ke dunia. Tapi aku� seorang ibu. Mengandung. Melahirkan. Membesarkan. Merawat. Apakah masih perlu dijawab: Apa yang sebenarnya kulakukan kepada anakku? Aku lebih mengetahui. Paling mengetahui. Mungkin. Mungkin juga daripada-Mu. Maka, Kau tak perlu menculiknya. Karena aku telah memuji-Mu. Dengan memercayai-Mu. Untuk memeliharanya. Di sana. Di alun-alun. Alun-alun surga. Ambillah. Ambillah anakku!


Ibu yang baik adalah ibu yang memercayai Tuhan memelihara anaknya. (*)


Lubuklinggau, 10-11 Oktober 2011

Catatan:

Anak Ibu (1) dimuat Koran Tempo (Mei, 2009), dan Anak Ibu (2) dimuat Jawa Pos (Februari, 2011)

Selasa, 07 Februari 2012

Pohon Hayat

Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Kompas 29 Januari 2012

SEBELUM daun milik nenek gugur, nenek pernah bercerita perihal sebuah pohon yang tumbuh di tengah alun-alun kota. Kata nenek, pohon itu telah ada sejak ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu.

Tak ada yang tahu persis, kapan dan bagaimana pohon itu tumbuh. Sewaktu nenek kecil, pohon itu sudah menjulang meneduhi alun-alun kota, serupa payung raksasa. Menilik kokohnya, tampaknya akarnya telah menancap jauh ke kedalaman bumi. Batangnya pun tampak seperti lengan lelaki yang kuat dan penuh urat. Dahan dan ranting berjabar serupa jari-jemari yang lentik. Dedaunnya lebar serupa wajah-wajah yang tengah tersenyum dalam keabadian.

Kata nenek, kehidupan setiap penduduk di kota ini tersemat di tiap daun yang bertengger di cabang, ranting, dan tangkai pohon itu. Setiap kali ada satu daun yang gugur, artinya seseorang di kota ini telah lepas dari kehidupan. Satu daun artinya satu kehidupan, begitu kisah nenek.

***

Suatu ketika, aku pernah mendesak nenek untuk mengantarku ke alun-alun kota, untuk melihat langsung pohon itu. Tentu saja tanpa sepengetahuan ibu. Karena, kalau ibu tahu pasti ibu tak akan mengizinkan. Diam-diam kami pun berangkat, pelan-pelan aku menuntun nenek yang jalannya sudah tidak tegap lagi. Jarak antara rumah dan alun-alun kota sebenarnya tidak terlalu jauh. Kami cukup naik angkutan umum satu kali, tak sampai setengah jam kami sudah sampai.

Begitu sampai di alun-alun kota, nenek langsung mengajakku ke pusat alun-alun, tempat di mana pohon itu berada. Kami berteduh di bawahnya, nenek duduk dengan napasnya yang terdengar ngik-ngik. Kepala nenek mengadah ke atas. Aku pun menirukannya.

�Banyak sekali misteri dan kehidupan di atas sana,� gumam nenek.

Lelah menengadahkan kepala, aku pun menunduk. Tampak daun-daun kering berserakkan di mana-mana, sebagian terinjak-injak oleh kakiku.

�Nek,� aku menjawil lengan nenek.

�Ya?�

�Apakah daun-daun kering yang berserakkan di bawah ini adalah jasad orang-orang yang sudah mati?�

�Ya, daun-daun itu adalah jasad tilas mereka dari pohon kehidupan.�

�Berarti jasad tilas ayah ada di antara daun-daun kering itu?�

�Mungkin. Tapi nenek kira, kini, jasad ayahmu sudah menyatu kembali dengan tanah.�

�Nek,�

�Ya?�

�Mengapa daun-daun kering itu tidak dibersihkan atau dibakar saja.�

�Tak perlu, lambat laun mereka juga akan kembali ke muasalnya, tanah, melebur menjadi tanah. Dari tanah kembali ke tanah.�

Kepalaku kembali menengadah, �Kalau daun-daun kemuning yang ada di atas sana itu siapa?�

�Mereka adalah orang-orang tua yang masih hidup di kota ini, mereka-mereka yang sudah lama bertengger di atas pohon kehidupan.�

�Apakah mereka akan segera gugur.�

�Tentu saja, Nak. Gugur adalah takdir mereka.�

�Apa Nenek ada di antara salah satu daun kemuning yang ada di atas sana, yang siap gugur itu?�

�Nenek tak tahu. Itu rahasia yang di atas, tak seorang pun berhak tahu.�

Aku terus menengadahkan kepala, mencari-cari di mana letak daun milik nenek, milikku, dan juga milik ibu.

�Nek,�

�Ya?�

�Tunas-tunas daun yang tersemat di pucuk pohon itu, pasti adalah bayi-bayi yang baru lahir di kota ini, ya, kan?�

�Ya. Benar, memang kenapa?�

�Berarti, sekarang, aku berada di antara daun-daun muda yang bertengger di atas sana?�

�Ya. Tentu saja.�

�Artinya, masa gugurku masih sangat lama, ya, Nek?�

Nenek mengernyitkan dahi, �Siapa bilang? Setiap lembar daun kehidupan yang ada di atas sana adalah rahasia. Tak ada seorang pun yang tahu. Gugur adalah hak semua daun, dari yang kemuning, yang masih segar dan hijau, bahkan yang masih tunas pun bisa saja patah dan gugur.�

Aku terdiam. Mencerna kata-kata nenek.

***

Sepulang dari alun-alun kota, nenek mengeluhkan kaki tuanya yang keram. Beberapa hari berikutnya nenek terbaring sakit. Ibu menyebut penyakit nenek dengan �penyakit orang tua�. Musabab itulah ibu tidak memarahiku ketika kukatakan, bahwa sebenarnya akulah yang menyebabkan nenek sakit. Kian hari penyakit nenek kian parah. Tubuh nenek mati separuh. Tak bisa digerakkan. Nenek berak dan buang air kecil pun di tempat. Dengan sabar ibu mengurusinya. Barangkali memang itu kewajiban seorang anak. Ketika ibu masih bayi, pasti nenek juga melakukan hal yang sama.

Kian hari tubuh nenek kian kering. Bahkan ia sudah tidak sanggup lagi bicara. Saat itu aku benar-benar takut. Takut ditinggalkan nenek. Takut kehilangan nenek. Tiba-tiba aku teringat pohon itu. Daun-daun kemuning itu. Tanpa izin ibu aku beringsut pergi menuju alun-alun kota. Aku berdiri di bawah pohon itu dengan kepala tengadah. Berjaga-jaga jika sewaktu-waktu sebuah daun gugur dari sana. Tapi tidak, detik itu aku tak ingin ada satu daun pun gugur dari sana. Tapi seperti kata nenek, daun-daun di atas sana adalah rahasia. Tak seorangpun berhak tahu atas rahasia itu.

Berjam-jam aku berdiri di bawah pohon itu. Tak tampak satu daun pun yang gugur. Nenek hanya sakit tua biasa. Ia akan segera sembuh, bisikku dalam hati. Ketika aku beranjak pergi meninggalkan pohon itu, tiba-tiba angin berhembus. Sekilas hembus. Beberapa daun dari pohon itu melayang-layang di udara dan akhirnya rebah di tanah. Aku terdiam menyaksikannya, lalu pergi dengan rahasia yang masih mengepul kepala.

Sampai di rumah, tiba-tiba ibu memelukku dengan isakkan lirih, �Nenekmu sudah pergi�.

Bujur tubuh nenek mengingatkanku pada daun kemuning yang rebah di tanah, di alun-alun kota beberapa saat lalu.

***

Seiring usia, masa kecilku hilang dilalap masa. Sebagai remaja yang bebas, aku pun merantau dari kota ke kota. Satu hal yang kemudian kusadari, setiap kota yang kusinggahi selalu memiliki pohon besar yang tumbuh menjulang di alun-alunnya. Hal itu mengingatkanku pada cerita nenek tentang pohon kehidupan di alun-alun kotaku. Namun, geliat zaman menyulap cerita itu menjadi cerita picisan yang sulit untuk dipercaya.

Setiap manusia pasti akan pergi ke muasalnya. Tak ada hubungannya dengan pohon dan daun-daun. Tapi entahlah, hati kecilku selalu mengatakan bahwa cerita nenek itu benar adanya. Aku jadi bertanya-tanya, apakah setiap pohon yang ada di alun-alun kota adalah pohon kehidupan yang menyimpan rahasia kehidupan setiap penduduknya? Entahlah, kukira itu juga sebuah rahasia.

***

Meski hidup dalam rantauan, aku selalu pulang ke kota ibu, kota lahirku, paling tidak setahun sekali. Setiap lebaran fitri. Dan benar, setiap tahun, alun-alun kotaku selalu mengalami perubahan. Taman, bangku-bangku, air mancur, bahkan kini di sisi-sisi jalan sudah ditanami ruko-ruko berderet. Mulai dari pengamen, pengemis, topeng monyet, penjual tahu petis keliling, bahkan tante-tante menor, semua tumplek blek di alun-alun kota. Satu-satunya hal yang tidak berubah adalah pohon itu. Pohon itu masih tampak kokoh dari waktu ke waktu. Setiap aku melihat pohon itu, rol film dalam kepalaku kembali berputar, menayangkan bocah kecil dan neneknya yang tengah asyik berbincang tentang kehidupan di bawahnya.

Tahun berlalu-lalang seperti manusia-manusia yang datang dan pergi di alun-alun kota. Kian tahun, pohon itu kian rimbun, penduduk kota kian merebak. Namun entahlah, daun-daun yang bertengger di pohon itu tampak kusam dan menghitam, warna hijau seperti pudar perlahan. Barangkali kian waktu kian banyak serangga dan hama yang hinggap di sana. Membuat sarang, mencari makan, membuang kotoran dan beranak pinak di sana. Aku jadi bertanya-tanya, apakah itu artinya, para manusia yang hidup di kota ini juga terserang hama? Entahlah.

***

Aku tak pernah menyalahkan waktu, tapi memang banyak sekali hal berubah oleh waktu. Kudengar dari ibu, kini, kota kelahiranku telah jauh berubah. Kian waktu, pepohonan kian habis. Sawah-sawah mulai ditumbuhi rumah-rumah. Tempat ibadah kian melompong. Muda-mudi lebih suka keluyuran ke mall dan bioskop-bioskop. Gadis-gadis, kini tak sungkan lagi mengenakan pakaian setengah jadi. Para bujang pun lebih suka bergerombol di pinggir-pinggir jalan ditemani botol, kartu, dan gitar. Gadis hamil diluar nikah menjadi kabar biasa. Merentet kemudian, banyak ditemukan bayi-bayi dibuang di jalan. Sengketa dan pembunuhan merajalela.

Barangkali orang-orang di kotaku memang sudah terserang hama. Seperti daun-daun di pohon kehidupan yang kian kusam di alun-alun kota. Berkali-kali ibu menggumamkan syukur, aku menjadi seorang perantau yang merekam berbagai pohon kehidupan, tanpa melupakan kenangan.

Di zaman yang sudah berubah ini, ruang tak pernah menjadi penghalang. Meski ruang kami berjauhan, setidaknya, setiap seminggu sekali, aku dan ibu saling bertukar kabar, bersilang doa.

�Kian waktu, dunia kian renta, Nak, seperti juga ibumu. Dari itu, pandai-pandailah engkau menempatkan diri,� begitu nasihat ibu yang terakhir yang sempat kurekam. �Kian waktu, daun-daun itu pun akan luruh satu persatu dan habis. Suatu saat nanti, akan tiba masanya, pohon itu akan tumbang tercabut dari akarnya. Semua sudah tercatat dan tersimpan rapi dalam perkamen rahasia yang tergulung di atas sana.

�Kita hanya manusia yang naif dan rapuh, yang tak tahu apa-apa. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu nanti pohon kehidupan melepaskan kita dari tangkainya�,� ibu membisikkan nasihat-nasihat itu dengan suara serak. Tiba-tiba aku teringat kerutan yang berombak di dahinya, juga rambutnya yang mulai pecah memutih.

Terbayang dalam kepalaku, bahwa kini, mungkin, daun ibu telah menguning dan siap luruh. Tiba-tiba aku ingin pulang, kembali terlelap dalam pangkuan ibu yang hangat. Namun, sebelum langkahku sampai di tanah lahir, telah kudengar kabar, bahwa bencana besar telah melanda kotaku. Merebahkan seluruh kota setara dengan tanah. Ada yang mengatakan, bencana yang menimpa kota itu adalah sebuah cobaan. Ada pula yang mengartikan bencana itu sebagai peringatan. Namun, juga tidak sedikit yang mengemukakan bahwa bencana itu merupakan azab. Entahlah.

Ketika aku kembali ke kota itu, yang kutemui hanya kota yang mati. Dengan sisa-sisa kenangan, aku merelakan ibu, merelakan kotaku, merelakan tilas masa kecilku. Bersama air mata, semua kularung ke udara.

Aku merangkak mendatangi alun-alun kota yang telah porak poranda. Dari kejauhan, pohon itu masih tampak menjulang meski compang-camping. Di bawah pohon itu, tubuhku gemetar memandangi satu-satunya daun yang masih bertengger di sana.

�Suatu saat nanti akan tiba masanya, pohon itu akan tumbang tercabut dari akarnya. Semua sudah tercatat dan tersimpan rapi dalam perkamen rahasia yang tergulung di atas sana,� kata-kata ibu kembali mengiang di telinga. (*)

.

.

Malang, 5 Juli 2011