Selasa, 25 Oktober 2011

Ayahmu Mati

Cerpen Desi Puspitasari
Dimuat di Jawa Pos, 16 Oktober 2011)

AKU sedang merencanakan pembunuhan terhadap ayahku. Laki-laki itu baru saja berteriak padaku�dan aku balas berteriak padanya. Tidak ada yang salah menurutku, bagian berteriak. Seperti hukum fisika�ada aksi, akan ada reaksi bukan? Aku adalah seorang manusia, punya hati, punya perasaan, dan punya luka.

Seorang laki-laki yang bernama ayah dan memiliki nama alias suami dari ibuku, menurut buku psikologi anak jaman sekarang, melakukan kekerasan fisik semasa aku masih kecil. Ketika aku melakukan kesalahan, atau bahkan ketika aku tidak tahu apa salahku, dengan mudah saja ia mencubit�cubitan yang begitu besar, di bagian paha. Meninggalkan memar biru keesokan hari, yang tak terlihat oleh ibu. Ketika suatu hari, seekor kucing menumpahkan deretan kaleng catnya, tanpa bertanya, ia memukul punggungku dari belakang menggunakan kuas raksasa yang masih basah oleh cat.

Aku berteriak ada apa.

Ia balas berteriak, �Kau menumpahkan catku, sialan! Tidakkah kau tahu aku hidup dan mendapat uang dan membiayai sekolahmu dari cat itu! Sialan!�

Oiya, dia memaki. Psikologi anak jaman sekarang mengatakan jangan pernah mengatakan �tidak� atau �jangan� pada anakmu�tapi ayahku mengumpat. Sempurna.

Selalu ada saat pertama bagi setiap anak. Waktu duduk di bangku SD aku belajar matematika. Aku tidak tahu bagaimana harus meletakkan satu-satuan lambang dari rumus matematika, dan aku membutuhkan waktu lebih untuk itu. Bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan rasa ketertarikan tinggi terhadap salah satu atau jenis mata pelajaran tertentu, tapi ia tidak mengerti itu. Ia menjelaskan segalanya dengan nada tinggi dan pensil yang ditekan kuat-kuat hingga patah ujungnya. Aku tidak mendapatkan apa-apa dari pelajaran matematika kecuali rasa takut dan air mata.

Aku lebih cenderung menyukai pelajaran bahasa Indonesia�dan mendapat mimpi buruk pada pelajaran matematika.

Ayahku juga suka membanting barang. Menurutku, seharusnya ia menyalurkan kelebihan tenaganya dengan menjadi atlet gulat. Setidaknya ketika ia membanting manusia lainnya dan menang, ia akan mendapatkan uang. Ketika ibuku melakukan kesalahan, atau salah ucap, atau ketika ia tidak sependapat dengan suaminya, ayahku melempar tutup panci�atau, tepatnya, membanting tutup panci hingga penyok. Pada saat lain, ketika aku membantu ibuku memasak di dapur dan mengetahui wujud panci yang sekarang, aku bertanya padanya ada apa. Ia hanya menjawab, �Waktu itu ayahmu sedang naik darah.�

Oh iya. Tentu saja. Ibuku sebenarnya tertekan. Hanya saja ia tidak pernah mengatakannya pada ayah. Pada usia lima atau tujuh tahun aku sering menemui ibuku menangis di dalam kamar sambil menulis-nulis di kertas. Aku bertanya apa yang ditulisnya. Ia tidak menjawab, hanya terisak. �Lebih baik aku mati. Aku sudah tidak tahan lagi. Lebih baik aku mati.�

Yah, kematian memang sebuah jalan keluar dari segala permasalahan hidup.

Tapi ibuku tidak melakukan itu. Ia terus bertahan hanya untuk satu alasan. Diriku.

�Seorang anak itu artinya begitu besar bagi seorang ibu.�

Yap! Dan belum tentu untuk seorang ayah. Seorang laki-laki tidak pernah merasakan betapa sakitnya memiliki vagina yang �robek� begitu lebar untuk jalan keluar seorang bayi. Ia tidak tahu betapa perih jahitan yang disematkan kemudian. Proses kelahiran yang lancar. Pada proses kelahiran yang �bermasalah�, tentu akan lebih �menderita� lagi. Agama mengganjarkan surga bagi seorang perempuan yang mati saat melahirkan. Tapi seorang ibu tidak pernah berpikir mengenai surga ketika sedang berjuang mati-matian melahirkan bayinya. Ia hanya berpikir, �Anakku selamat!�

Sedang laki-laki hanya mampu menunggu dengan cemas di luar ruangan dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Sungguh cengeng. Kata siapa laki-laki lebih tegar ketimbang perempuan? Kalau sampai ada seorang laki-laki yang berani menyakiti istri atau perempuan mana pun, maka ia berhak dikutuk menjalani proses kelahiran seorang diri. Kupikir itu balasan yang setimpal.

Begitu. Ayahku adalah seorang yang keras. Saat kondisi hatinya sedang baik, maka ia menjadi ayah yang menyenangkan dan bisa diajak bicara. Tapi ketika kondisi hatinya buruk, maka jangan bertanya. Wajarnya seorang manusia memang begitu.

Tapi ia telah berteriak padaku. Menyalahkan setiap keputusanku. Memojokkanku dengan setiap pertanyaan. Ia berteriak bahwa kebiasaanku bangun siang membuatku tidak segera bertemu jodoh.

Bangun siang adalah sebuah kesalahan. Aku menulis hingga subuh, dan baru tidur setelahnya, maka bangun siang adalah sebuah kesalahan.

Aku tidak segera ketemu jodoh. Sempurna. Aku baru saja putus cinta. Padahal aku dan pacarku, mantan, sudah membicarakan hal serius�mengenai hubungan yang sebaiknya dilanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Pernikahan. Tapi kemudian hubungan itu kandas. Putus cinta itu menyakitkan. Dan aku dituduh tidak pernah memikirkan hal serius satu itu.

Putus cinta itu menyakitkan.

Tidak bisakah ia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya�memojokkanku dengan kata-kata menyakitkan?

Bahkan ketika aku bangkrut, tidak memiliki uang serupiah pun, pembayaran royalti buku masih tenggang beberapa bulan dan belum satu pun cerita pendekku yang dimuat, maka kupikir kembali ke rumah dan berlindung untuk sementara adalah pilihan bagus. Kupikir keluarga adalah sebuah pilihan bagus untuk kembali, bukan? Karena semua orang bilang keluarga adalah segalanya. Tapi bagi ayahku tidak. Ia mengusirku. Ia bilang seharusnya aku belajar hidup mandiri.

Mari kita bicara logika dan rasional. Aku sedang tidak punya uang. Dan sedang bicara mengenai usaha mengumpulkan uang. Dan ayahku mengusulkan ide brilian�seharusnya aku belajar hidup mandiri.

Baiklah. Aku bertahan di rumah. Aku tidak mau mati kelaparan di kos-kosan. Lagipula perut berisi akan memberi kemudahan lebih bagiku untuk menulis dan menyelesaikan cerita. Laki-laki itu seperti mendapat kesempatan untuk terus mengoceh mencacatku. Hingga akhirnya� salah satu cerpen dimuat dan aku mendapat honor yang lumayan. Meski tidak seberapa, maka aku memutuskan untuk mengepak barang dan pergi. Tujuh ratus ribu adalah modal yang lumayan. Aku berpamitan pada ibuku. Restu ibu bagiku adalah segalanya. Ayah? Hm.

Maka aku pergi. Mengurus hidupku sendiri. Selamat tinggal neraka. Selamat tinggal mulut nyinyir. Aku bebas.

Bertahun-tahun kemudian ibuku kembali menelepon. Ia bilang seharusnya aku menelepon ayahku dan bicara padanya. Sebaiknya anak perempuan tidak mendiamkan ayahnya�sekasar apa pun perkataannya, sekasar apa pun perbuatannya. Sebaiknya seorang anak selalu menghormati orang tua.

Maka aku melakukan panggilan telepon. Aku memberi salam, dan ia menjawab singkat. Aku menanyakan kabar, dan ia menjawab, �Kau telepon karena diminta ibumu? Anak kurang ajar! Mulai kapan kau akan beranjak dewasa dan melakukan segalanya atas keputusanmu sendiri?�

Aku sakit hati.

Baiklah. Mungkin sebagai orang tua, ayah tepatnya, dia bukan seorang monster. Bukan seorang yang menakutkan. Bukan seseorang yang, katakanlah, penyiksa fisik. Ia hanya seorang bapak. Dan aku membencinya.

Maka aku merencanakan pembunuhan baginya. Terdengar tidak masuk akal. Terdengar tidak rasional. Tidak bisa dilogika. Aku hanya membencinya. Oiya, ketika seseorang sedang dikuasai amarah, maka setan pun akan lebih berkuasa padanya. Aku tahu. Aku memiliki pengetahuan yang cukup tentang itu. Dan aku membiarkannya. Karena seperti yang kukatakan sejak awal, �Aku seorang manusia, punya hati, punya perasaan, punya luka, punya harga diri, dan ingin diperlakukan sebagai manusia normal lainnya, seperti seorang anaknya pada umumnya.�

Di akhir telepon laki-laki itu berteriak, �Aku ingin mati! Memiliki anak perempuan sepertimu artinya sia-sia!�

�Kau juga laki-laki tidak berguna!� Aku balas berteriak. Sampai kapan ia akan terus menerus berteriak padaku! Aku sudah capek�maka aku balas berteriak! �Kau tidak tahu betapa ibu harus menahan diri sakit hati sejak dulu! Kau tidak pernah tahu��

�Kau anak kurang ajar!�

�Kau yang membentukku untuk bersikap kurang ajar! Kau tidak memberiku pilihan!�

Kenapa ketika seorang anak berperilaku buruk, orang tua seperti enggan melihat kembali ke dalam dirinya. Mereka akan dengan mudah menyalahkan anaknya begitu saja. Memang, mencari kesalahan orang lain, mencacat kekurangan orang lain, mengatakan hal-hal yang buruk mengenai orang lain adalah hal yang sangat menyenangkan. Asik! Dan merupakan hobi bagi ayahku.

�Aku ingin mati,� katanya. Lalu menutup telepon begitu saja.

Aku ingin mati. Dia sendiri yang bilang.

Maka apa sebaiknya yang kupilih untuk membunuhnya? Arsenik? Aku pulang ke rumah. Selama beberapa hari. Melepas rindu pada ibuku, dan berpura-pura ramah pada ayah. Lalu aku akan membuatkannya teh tubruk hangat dengan air mendidih langsung dari kompor. Masukkan gula pada akhirnya, tunggu air teh hingga berwarna merah karena batang teh yang tersepuh air panas. Lalu aduk. Campur beberapa serbuk arsenik ke dalam minuman. Tidak berbau. Tidak berbekas. Sempurna. Tapi aku tidak, bagaimana akhirnya ketika dia mati. Maksudku, apakah ia akan mengeluarkan busa dari mulutnya�seperti yang kulihat di film-film? Kalau iya, maka mampuslah aku. Kematian yang tidak wajar hanya akan mengundang tanda tanya dan rasa penasaran. Polisi datang dan aku dipenjara? Oh, terima kasih. Tidak.

Bagaimana dengan racun tikus. Tikus bandel yang diracun ibuku setiap kali rumah kami didatangi makhluk mengganggu tersebut, ibu meletakkan beberapa puluk nasi di kertas koran dan menebarkan serbuk hitam itu di atasnya. Saat tengah malam, tikus-tikus itu berpesta pora menyantap makanan dan beberapa jam kemudian ia mati kaku. Tapi� sepertinya membunuh seorang laki-laki yang menyumbang sperma demi membentuk jasadku, racun tikus terasa kurang elegan. Yah, dia adalah ayahku. Dan racun tikus kupikir agak kurang sopan untuknya.

Bagaimana kalau aku menyewa pembunuh bayaran? Menarik beberapa timbunan uangku lalu kuserahkan pada seseorang untuk menghabisi nyawa laki-laki itu. Tapi� aku tidak suka tampilan pembunuh bayaran. Aku mungkin tidak tahu bagaimana wujud asli mereka. Berdasar sinetron konyol di televisi, maka pembunuh bayaran itu berwujud seorang laki-laki bertubuh gempal, mengenakan jaket kulit, atau hanya kaos singlet hitam, tubuh berkeringat, bodoh, dan hanya bisa berkata, �Baik, Bos! Oke, Bos!�

Oh, tidak. Aku butuh seseorang yang lebih cerdas. Memangnya apa yang kuharapkan? Ayahku mati�dan aku berpikir terlalu rumit.

Bagaimana kalau aku menggunakan jasa tukang tenung? Sihir jarak jauh. Kirim paku dari ribuan kilometer dari tempatnya berada. Tunggu beberapa menit, maka ia akan muntah darah dan mengeluarkan ribuan paku dari mulutnya.

Oh, tidak. Aku mengernyit ngeri. Bayangan itu begitu menakutkan dan menjijikkan. Ibuku akan terlalu repot ketika membersihkan jasadnya. Aku tidak mau merepotkan ibuku. Lagipula, aku akan menanggung dosa yang terlalu berat ketika menggunakan sihir. Aku hanya ingin ayahku mati, dan aku memanggul dosa besar. Yah, berharap kematian orang tuaku sebenarnya sudah merupakan sebuah dosa. Tapi ketika dosa itu bisa diperkecil takarannya�maka aku mencoret tukang sihir.

Atau aku mengirim surat kaleng? Menulis satu demi satu dosa yang diperbuatnya mulai dari saat aku kecil. Setiap perkataan yang menyakitkan hati. Setiap perbuatannya yang menyakiti hati. Lalu�

Telepon berdering.

Ibuku menelepon. Dia menangis. Aku bertanya ada apa. �Ayahmu mati. Kecelakaan.�

�Kapan?�

�Baru saja. Ia masuk rumah sakit dan berpesan, �Jangan bilang pada anak perempuanmu. Diam saja. Jangan membuatnya khawatir. Kalau aku sudah sembuh dan keluar rumah sakit, ketika dia pulang, baru kita cerita seperti bukan kejadian luar biasa�.�

Ibuku menangis lagi. �Ayahmu mati.� (*)

Serwit

Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Jurnal Nasional, 23 Oktober 2011

SEPULANG dari kerjanya���mengajar, buru-buru Hasbi ke ruang tengah, menengok meja makan. Tercenunglah ia sebentar di sana. Ditiliknya menu-menu �orang kota� yang dipesan istrinya dari resto: nasi putih yang dibungkus kertas tipis yang ada tulisannya, fried chiken lengkap dengan saus dan sambal sasetnya, serta segelas plastik minuman kola. Hasbi hanya memandangi menu-menu itu dengan mata malas.

Hasbi benar-benar merindukan dapur rumahnya mengepul, merindukan masakan-masakan rumah semacam menu-menu yang dimasak emaknya (almarhumah). Memang menu emaknya tak ada yang mahal-mahal, tapi rasanya selalu mantap. Macam seruwit, tempoyak, belide asap, terasi kangkung lalapan, tempe lawas, semua akan jadi menu istimewa setelah tersentuh tangan ajaib emaknya. Lamat-lamat Hasbi terngiang tutur almarhumah emaknya.

�Bujang, sudah lengkap umur kau buat naik puadai. Tunggu apa pula kau ini? Kalau kau memang srek sama muli-nya Haji Madun, siapa itu namanya? Ida atau siapa itu? Ya, itulah� pokoknya cepat-cepatlah kau nikahi dia. Tapi, ingat kata-kata emak. Dari gemulai tangannya, si Ida itu, tak pandai masak dia. Apalagi bikin seruwit. Maka itu, mumpung Emakmu ini masih sehat, belajarlah kau bikin seruwit."

Itu dia. Mula-mula emak memang gamang ketika mengizinkan Hasbi meminang Ida. Tapi apa boleh cakap, Hasbi sudah cinta mati sama perempuan itu. Tak elok, kata emaknya, memutus pertalian jiwa dua orang yang sudah cocok. Maka dengan syarat, emaknya meloloskan ia memperistri Ida. Syarat yang tak rumit sebenarnya, hanya bikin seruwit.

�Bujang, apa kau pernah dengar upacara minum teh di Jepang? Ya, nyeruwit ini, ibarat upacara minum teh-nya kelurga kita. Sudah turun temurun dari canggah buyutmu. Kelak, kalau kau menikah dan punya anak, janganlah kau lupakan upacara nyeruit ini. Kau ni orang Lampung, walau laki, kau juga harus tahu cara bikin seruwit. Kau tularkanlah nanti ajaran emakmu ini pada si Ida. Kau ni anak tunggal, apa kata uwak, pakcik kau nanti bila istrimu tak pandai masak, tak bisa bikin seruwit!"

***

Ida memang tipe orang yang tak bisa dipaksa. Setiapkali ada waktu senggang, dan Hasbi mengajaknya bikin seruwit (supaya dia bisa), Ida selalu menolak. Macam-macam saja alasannya.

�Seruwit lagi, seruwit lagi! Abang saja bikin sendiri."

�Ayolah, Da. Mumpung longgar. Biar kuajarai kau bikin seruwit. Kau ni orang Lampung. Harus bisa kau bikin seruwit." Hasbi merajuk.

�Paling tidak kan, sebulan sekali, Abang sudah nyeruwit di rumah pakcik Mahmud atau Uwak Amir. Tidakkah itu cukup buat mengobati ngidammu, Bang?"

�Bukan begitu, Da. Sekali waktu, gantian lah kita yang ngundang mereka."

�Akhir pekan ni buat istirahat, Bang! Relaksasi. Abang pula, apa tidak capek. Senin sampe Jum�at ngajar di kampus, berangkat pagi pulang sore. Sabtu-Ahad ni kita pake buat nyantai-nyantai saja, Bang!"

�Aduh, Da. Malu Abang sama uwak juga pakcik. Putus pula undangan kita buat nyeruit bareng. Dulu... Da," Hasbi menerawang, �sewaktu emak masih hidup, keluarga Abang nih yang paling rajin undang dun sanak buat nyeruit bareng, di rumah Abang ni."

�Abang kan bisa bikin seruwit, kenapa tidak Abang saja yang bikin, lalu undanglah uwak, pakcik semua."

Bagaimana lagi Hasbi musti menjelaskan. Pandai nian istrinya berbalas kata. Tidakkah bapaknya yang haji itu mengajarinya bagaimana bersikap santun pada suami. Untung saja perangai Hasbi lemah lembut dan tidak bisaan. Sekali dia cakap dan istrinya menimpali, lekas-lekas cakap ia sudahi. Hasbi tak mau memaksa istrinya yang memang keras kepala. Kalau Hasbi tak sabar, bisa-bisa pertengkaran yang akan jadi perhiasan rumah tangga. Apalagi Ida tengah mengandung. Ah, sudahlah. Lain waktu saja, selalu begitu pasrah Hasbi.

Maka setelah gagal mengajak istrinya, Hasbi bertindak sendiri. Berbelanjalah ia ke pasar terdekat. Di borongnya ikan patin segar, terong ungu, limau kunci, mentimun, dan daun singkong. Tak lupa pula ia memesan tempoyak jadi ke makcik Nurul. Diraciknya sendiri bumbu-bumbu itu. Dengan luwes Hasbi melumat cabai, terasi, dan bumbu-bumbu dalam cobek besar. Dicucinya sendiri daun singkong dan direbusnya dengan air yang dibubuhi sedikit garam. Digorengnya ikan patin segar dengan hati-hati. Sepanjang Hasbi memasak, sesekali saja Ida menengok ke dapur, lalu kembali ke depan tivi. Hasbi geleng-geleng sambil tersenyum.

�Seruwit bikinan Abang sudah siap ni, Da. Tak sudikah kau mencobanya? Rasanya mantap ini, macam bikinan emakku." Hasbi berteriak dari dapur.

�Cepat sekali kau bikinnya, Bang." Balas Ida dari ruang tengah. Perlahan Ida mendekati suaminya yang bau asap dapur.

�Apa kubilang, bikin seruwit tuh mudah. Aku saja yang laki bisa, apalagi kau."

�Coba ya, Bang." Ida mencomot daun singkong rebus dan mencocolnya ke sambal seruwit yang sudah terhidang rapi di cobek kecil.

�Jangan banyak-banyak sambalnya. Pedas itu!"

�Aku kan suka pedas, Bang."

�Bagaimana?"

�Uhfff... Mantap memang, Bang. Jadi inget seruwitnya almarhumah emak."

�Maka itu, sudilah kau belajar bikin seruwit."

�Iya, bang! Iya. Lain kali, kalau ada waktu luang, Ida janji. Belajar bikin seruwit."

�Nah, itu baru istri Abang."

***

Minggu depan Hasbi bertekad ingin mengundang uwak, pakciknya. Tak ada rugi memang, ia belajar bikin seruwit pada ahlinya: almarhumah emak. Tak akan lagi ia memaksa-maksa Ida. Cukuplah ia disindir dengan sikap, lambat laun pasti akan luluh juga.

Tanpa ba-bi-bu, minggu pagi Hasbi bergegas ke pasar. Ditinggalkannya Ida seorang di rumah. Toh, Ida masih sibuk dengan urusan cucian. Tak ada salahnya ia berangkat sendiri. Dibelinya bahan-bahan nyeruwit sebagaimana layaknya. Diraciknya sendiri bumbu-bumbu itu. Berjibakulah Hasbi dengan perkakas dan asap kompor.

�Sebentar ya, Bang. Selepas menjemur ini Ida bantu." lirik Ida sambil menyangking bak cucinya. Hasbi tersenyum manis. Bertambah saja cintanya pada Ida. Sejatinya Ida memang perempuan yang kalem, meski kadang kala keras kepala dan menjengkelkan.

�Ida selesai. Bang. Sekarang apa yang bisa Ida bantu?" Ida mendekati suaminya yang masih sibuk dengan bumbu-bumbu.

�Duduklah kau yang manis. Lihat saja bagaimana Abang meramu menu istimewa ini. Abang tahu, kau masih kepayahan. Amblilah napas dulu."

�Iya, Bang. Ida akan simak baik-baik, seperti apa koki Ida ni bikin seruwit."

�Kalau kau bikin seruwit, Abang sarankan kau pilihlah ikan patin, atau baung yang masih segar. Layis atau ikan Mas juga boleh. Kau gorenglah ikan-ikan tu, kau panggang juga bisa. Selepas itu kau racik bumbu-bumbu lainya, kau bikinlah sambal terasinya, kau pangganglah terung unggunya, kau rebuslah daun singkongnya. Tempoyaknya jangan sampai lupa. Oh ya, supaya lebih mantap kau tambahlah isi mentimun tuh. Kalau bahan-bahan sudah siap, kau aduklah semuanya dalam satu wadah. Dan seruwit siap dihidangkan."

�Tampaknya tak sulit-sulit amat, Bang."

�Memang tak sulit. Abang saja butuh waktu setengah hari buat belajar bikin seruwit dari emak. Dan hasilnya..."

�Iya lah, Bang, Ida tak sangsi itu."

�Oh ya, Da. Kalau kau suka lalapan mentah, bolehlah kau petik pucuk daun jambu mente, atau kemangi. Kalau kau suka jengkol, ya jengkol. Tapi kalau Abang paling suka kacang panjang. Bagaimana?"

�Oke, Bang. Ida sudah ada bayangan."

�Sebenarnya, Da, bagi keluarga kita ni, nyeruwit tu tak ubahnya alat. Alat buat ngikat silaturrahim ke sanak kerabat, ke pakcik, uwak, sodara-sodara jauh. Dulu sewaktu emak muda, upacara nyeruit nih, dilakukan paling sedikit seminggu sekali. Bergantian pula. Kalau minggu ini di rumah Wak Amir, minggu depannya di rumah Pakcik Mahmud, dan minggu berikutnya di rumah emak. Begitu seterusnya."

�Iya, Bang, bener. Sekarang Ida ngerti. Kenapa Abang bersikeras macam almarhumah emak." Ida manggut-manggut.

***

Paripurna sudah, para kerabat Hasbi sudah pada datang. Pakcik Mahmud beserta keleuarga besarnya, tak ketinggalan pula uwak amir beserta istri dan anak cucunya. Hasbi mengelar karpet di ruang tengah. Menu-menu dikeluarkan satu persatu. Mereka duduk bersila, melingkar layaknya acara tahlilan. Setelah sedikit mukaddimah dan berkirim doa, pesta nyeruit pun dimulai.

�Mmm... mantap nian seruwit kau ni, Hasbi. Persis bikinan emak kau. Terasinya kerasa. Siapa yang bikin?" Pakcik Mahmud berkomentar. Hasbi dan ida saling melempar pandang.

�Si Ida ini Pakcik, yang bikin." Sahut Hasbi. Ida melonggo, memicingkan mata ke suaminya.

�Tak rugi kau punya istri macam dia ni. Sudah cantik, pinter masak pula." Uwak amir urun tutur. Ida tersipu-sipu.

�Serbatnya juga silahkan dicuba! Ida juga yang bikin itu. Tak pakai gula itu, tapi pakai madu. Iya, kan, Da?" Hasbi berkoar lagi.

Ida menekuk muka, �Iya." Lirihnya.

Selepas para kerabat pulang, Ida memberondong Hasbi dengan pertanyaan dan protes.

�Kenapa pula abang, ni. Pakai bilang aku segala yang meracik seruwit. Manalah aku bisa? Kalau mereka bertanya ini-itu. Bagaimana harus kujawab, Bang?"

�Sudahlah, Da. Abang cuma mau, mereka tu bangga sama kau, istri Abang yang cantik dan pintar masak ni."

�Abang nyindir Ida, ya?" Ida memukul ringan lengan suaminya. Hasbi malah cekikikan.

�Kau cantik, itu tak diragukan. Kau pandai masak pula, kan?"
Ida terdiam. Tapi senyumnya mengembang. Senyum malu-malu.

***

Di usia kandungan Ida yang kian tua. Rasa cinta Hasbi bertambah-tambah. Seolah tak rela ia melihat istrinya bersusah-susah. Tak ada lagi ia paksa-paksa si Ida buat belajar bikin seruwit. Bahkan Hasbi menyarankan istrinya untuk segera mengambil cuti. Kandungannya butuh istirahat. Sudah delapan bulanan. Dengan takdhim pula, ida menuruti saran suaminya. Mengambil perlop. Jadi, Hasbi berangkat ke kampus, dan ida yang menyiapkan sarapan di rumah. Sarapan tak perlu berat-berat. Kalaupun Ida malas masak. Hasbi sendiri yang akan berpesan lauk-pauk ke warung makcik Nurul. Pun pagi-pagi Hasbi sudah mencuci beras dan menyolokkan rice coocker. Jadi, Ida tak perlu repot-repot. Biarkan Ida nyaman dengan kandungannya, begitu pikir Hasbi.

Ida jadi terkagum-kagum dengan sikap suaminya, benar-benar penyabar dan pengertian. Tiba-tiba Ida menyesal, dia merasa selama ini telah menyakiti Hasbi, tak pernah menuruti kata-katanya, selalu membangkang bila diajak bicara. Diam-diam ia terisak. Dia merasa sangat beruntung beroleh suami macam Hasbi. Ingin rasanya ia menyusul Hasbi ke tempat kerjannya, mengucup tangannya agak lama, dan meminta maaf. Ida tercenung lama. Beberapa saat kemudian ia tersenyum menuju dapur.

***

Sepulang dari kerjanya, Hasbi terkejut setengah mati. Ia hampir tak percaya. Dilihatnya meja makan yang penuh dengan aneka macam masakkan. Tapi satu tatapnya tertuju: seruwit. Buru-buru Hasbi meletakkan tas dan melingkar di hadap meja makan.

�Percaya tak percaya. Sedap tak sedap. Itu, Ida yang bikin, Bang." Tutur Ida kalem.

Hasbi menggeleng-geleng kepala. �Ini benar-benar kejutan paling menyenangkan yang pernah Abang dapat, Da. Kau tahu itu?" Hasbi mendekati istrinya dan mengucup keningnya agak lama.

�Ayolah Abang cuba! Moga tidak mengecewakan." Gumam Ida.

�Kau mau bikin seruwit saja, itu sudah bikin Abang senang bukan kepalang. Pun kalau rasanya kelewat masin, Abang akan tetap santap."

Ida tersenyum. Menunggu suaminya mencoba masakan yang telah susah payah diraciknya. Ida mengambilkan sepiring nasi buat suaminya. Pun Hasbi mulai mencicipi seruwit yang sudah tertata di hadapannya. Ida deg-degan. Tak sabar menunggu komentar dari suaminya. Setelah beberapa kunyah. Hasbi terdiam sejenak.

�Tak enak, ya, Bang?" lirih Ida.

Hasbi menatap istrinya saksama. Menyiapka kata-kata.

�Bagaimana, Bang?" Ida penasaran.

�Abang akan buka kedai, dan seruwit bikinanmu akan jadi menu utamanya. Kedai Seruwit Hasida: Hasbi-Ida." Ucap Hasbi yakin.

Mereka saling tatap lalu tertawa agak panjang. Seolah saling memastikan, bahwa hari-hari mereka ke depan akan dipenuhi dengan kejutan-kejutan. ***

Malang, 2010, 2011

Catatan:
Seruwi adalah makanan khas provinsi Lampung, yaitu masakan ikan yang digoreng atau dibakar dan dicampur sambel terasi, dan tempoyak (olahan durian).

Ilustrasi lukisan Warung-Warung Akrilik di atas kanvas 120 X 80 CM, KARYA BAL-Q

Kamis, 20 Oktober 2011

Uban Hitam

Cerpen Ayi Jufridar
Dimuat di Jawa Pos, 30 Oktober 2011

LIMA belas tahun sudah Merlyn Getty tidur bersama Gunawan di ranjang rumah dan beberapa ranjang hotel yang pernah mereka singgahi. Sudah tidak terhitung percintaan yang pernah mereka nikmati tidak hanya di ranjang, tetapi di ruang mana pun yang menurut mereka aman dan nyaman untuk melakukannya. Sebegitu dekatnya Merlyn dengan Gunawan sehingga ia hapal terhadap setiap jengkal tubuh lelaki itu sehapal pada tubuhnya sendiri. Ia mengetahui setiap perubahan apa pun yang terjadi di tubuh Gunawan, mulai dari yang kecil lebih-lebih perubahan besar. Kantung di bawah mata yang kian nyata kendati Gunawan pernah rajin meredamnya dengan potongan mentimun atas permintaan Merlyn, perut yang kian buncit, sampai beberapa helai bulu hidung Gunawan yang sudah memutih menjadi perhatian Merlyn ketika lelaki itu tertidur pulas setelah lelah bercinta.

Kalau bulu hidung yang pendek dan tersembunyi dalam liang kecil dan gelap masih terlihat Merlyn Getty, tentulah mengherankan bila ia abai terhadap beberapa helai uban yang mulai menghiasi kepala Gunawan. Merlyn tidak pernah melihatnya dalam setiap kebersamaan mereka yang paling intim sekalipun, konon lagi ketika menemani Gunawan sarapan atau sekadar mengantar Gunawan sampai teras depan ketika lelaki itu berangkat kerja. Perhatiannya tidak tertuju ke atas kepala Gunawan, tetapi ke hati lelaki itu. Sedangkan ketika mereka bercinta, pikiran Merlyn mengembara entah ke mana.

Merlyn tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berlebihan atau tidak masuk akal dengan beberapa helai uban yang luput dari perhatiannya. Ia jadi ingat pengakuan beberapa teman sebelum ini. Seorang temannya baru menyadari suaminya memiliki pusar di atas dahi setelah 11 tahun mereka berumahtangga. Temannya yang lain tidak mengetahui ada tahi lalat tersembunyi di bagian paling intim suaminya. Yang terakhir ini menurut Merlyn keterlaluan karena ia menganggap perempuan itu tidak melakukan apa pun untuk menyenangkan suaminya sebelum mereka menyatu dalam sebuah kebersamaan yang penuh desah.

Kedua kasus di atas, menurut Merlyn, berbeda dengan uban karena rambut putih itu tidak muncul sejak Gunawan lahir sebagaimana pusar di puncak dahi.

Merlyn tidak menemukan uban itu, melainkan uban itulah yang menemukannya tadi pagi ketika ia masuk ke kamar mandi dan Gunawan ada di sana dengan handuk putih yang melilit di pinggang. �Ternyata aku sudah tua,� katanya seperti kepada diri sendiri karena ia berdiri di depan cermin yang berkabut sambil menyibak rambutnya yang tebal lurus sampai sedikit menutup daun telinga. Merlyn masih tidak peduli dengan pengakuan itu karena Gunawan sudah berusia 46 tahun. Justru keterlaluan bila ia tidak menyadari ketuaannya sehingga bertingkah seperti pemuda belasan tahun ketika melihat gadis-gadis belia di luar sana. Ketika Gunawan memutar tubuhnya dan menundukkan kepala di depan wajah Merlyn sambil meminta dicabuti ubannya, seketika itulah Merlyn terkejut. Tanpa sadar ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur dinding. Wajahnya pucat pasi serupa air muka orang yang baru saja berjumpa dengan sesuatu yang paling menakutkan seumur hidupnya.

Bagi Merlyn, sesuatu yang menakutkan itu bukanlah hantu karena ia tidak pernah melihatnya meski sangat percaya makhluk itu ada. Ia pernah melewati masa-masa yang penuh hantu, tetapi tidak pernah satu kali pun melihat meski bisa jadi justru hantu itu sedang melihatnya. Hantu sungai, hantu kuda, hantu api, hantu emas, segala jenis hantu ada pada masa itu, tetapi Merlyn hanya mendengar nama mereka saja. Ketika papanya pergi dan mama mulai sering memukulnya, ia selalu berharap berjumpa dengan hantu apa pun yang akan mengajak dirinya dan dua adiknya pergi. Mereka bertiga sering mandi di alur Kapuas ketika air sedang pasang dengan kayu gelondongan sebagai perahu. Orang dewasa yang menggunduli hutan di sana menakuti dengan kisah hantu buaya yang memangsa anak kecil agar mereka segera menyingkir. Merlyn dan kedua adiknya justru bermain di sana sampai malam menjelang agar hantu buaya datang dan membawa mereka ke dalam dunia buaya. Namun, hantu buaya tidak pernah datang, yang datang justru air bah bercampur lumpur yang membuat ia dan kedua adiknya nyaris mati tenggelam. Sampai beberapa tahun setelah kejadian itu, ia harus rutin memeriksakan diri ke dokter karena paru-parunya tercemar lumpur.

Merlyn Getty bukannya menyesali keputusannya bermain di Kapuas ketika air sedang pasang, melainkan menyesali kenapa tidak mati saja. Dua kali sudah ia mengundang kematian, tetapi kematian tidak menghampirinya ketika diharapkan. Setelah kematian yang gagal di Kapuas, kehidupannya menjadi lebih sulit. Papanya tidak pernah pulang lagi, yang belakangan ternyata sudah kabur dengan anak gadis orang setelah menghamili perempuan muda itu. Mamanya bekerja di sebuah pabrik tripleks sebagai buruh kasar. Ia pergi pagi dan pulang menjelang malam dengan tubuh yang kelelahan. Semakin lelah mamanya bekerja, semakin sering ia memukuli Merlyn dan kedua adiknya. Sampai kemudian Merlyn dikirim ke tantenya di Cilacap. Tantenya itu adalah adik mama, tetapi mereka beda ayah. Suami tantenya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan perminyakan nasional, dan cukup sukses sehingga dua tahun berturut-turut menjadi karyawan teladan. Mereka mempunyai dua anak lelaki, tetapi tidak satu pun lahir dari rahim tante. Merlyn mengira nerakanya sudah berakhir ketika ia dikirim ke Cilalap, tapi ternyata di sanalah ia menemukan neraka yang sesungguhnya dari perilaku dua anak tante yang seharusnya menjadi saudara sepupunya, juga dari perilaku tante dan lebih-lebih dari suaminya.

Kedua sepupunya itu sering menjamahi tubuhnya yang sedang tumbuh ketika orang tua mereka tidak ada di rumah. Seorang di antaranya kemudian diterima sebuah perguruan tinggi terkemuka di Yogya dan itu amat disyukuri Merlyn. Namun, nerakanya belum berakhir karena sepupunya yang lain merasa sudah menguasai Merlyn seorang diri. Ketika Merlyn Getty memberanikan diri untuk melawan, hanya satu kali perlawanan secara fisik dan ancaman akan mengadukan ke polisi, sepupunya itu berhenti untuk selamanya. �Satu kali saja kamu berani menyentuhku lagi, kita akan berjumpa di pengadilan!�

Merlyn kelas dua SMA ketika itu. Sedang mekar-mekarnya dengan darah Banjar dan China yang mengalir dalam tubuhnya yang semampai dan proporsional. Kelebihan itulah yang menggoda pamannya untuk mulai menyentuhnya justru setelah kedua anaknya berhenti. Mulanya hanya di tangan ketika ia meminta bantuan Merlyn. Setelah itu dianggap biasa, naik ke pipi lalu turun lagi ke pinggul dan mulai berani naik lagi ke dada. Ketakutan Merlyn bahwa sentuhan itu akan turun lagi ke bagian lain, menjadi kenyataan. Setiap pagi, pamannya bangun lebih subuh dan menyelinap ke kamarnya. Dia melarang Merlyn mengunci pintu. �Jangan pernah bilang ke siapa pun, terutama tantemu!�

Merlyn tidak berani membalas ancaman itu sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap sepupunya. Mengadu ke malaikat pun tidak akan dipercayai kalau lelaki yang menjadi tokoh masyarakat itu melakukan perbuatan tak senonoh. Paman menggunakan pengaruhnya agar bebas melakukan apa pun terhadap dirinya. Orang-orang sekitar sangat menghormatinya. Merlyn bisa melihat pada hari-hari besar seperti Idul Fitri, pejabat kepolisian di Cilacap, jaksa, dan hakim, sering bertamu ke rumah. Ancaman �kita akan berjumpa di pengadilan� seolah tak berlaku untuk membalas kekurangajaran pamannya.

Salah satu kebiasaan lelaki itu adalah meminta bantuan Merlyn untuk mencabuti ubannya, ada atau tidak ada istrinya di rumah. Bila tantenya di rumah, pekerjaan itu tak terlalu menakutkan. Begitu tantenya di luar, itulah kesempatan paman untuk menggerayangi tubuhnya ketika tangannya sibuk mencari uban. Dua tangan bekerja bersamaan, satu mencari uban dan yang lain mencari kenikmatan. Puncaknya, ketika tante tak ada di rumah, paman memerkosanya. Itulah hari paling buruk dalam hidup Merlyn sehingga ia nekat mengiris nadi dengan pecahan botol.

Ketika tante pulang dan melihatnya bermandikan darah, paman mengaku baru saja memarahinya karena kedapatan berada di tempat bilyar bersama teman-teman cowoknya. Pamannya benar, sehari sebelumnya ia kedapatan di meja bilyar selama jam belajar dengan sejumlah teman sekolahnya. Mereka sering bolos sekolah dan baru kali itu kedapatan. Di rumah Merlyn memang anak pendiam, tapi di sekolah ia bandel. �Mungkin karena itu dia bunuh diri,� kata paman tanpa panik sedikit pun. Bahkan ketika ia membawa Merlyn ke rumah sakit, ia sempat berbisik di telinga, �Dasar bodoh. Sudah kuberikan surga dunia, kau malah ingin ke neraka. Bunuh diri itu dosa besar, tahu!� Pamannya tidak berkata tentang hukum menzinahi keponakan sendiri.

Uban itulah yang menjadi pintu neraka bagi Merlyn. Setelah mendapat pengobatan, dia kabur dari rumah dan menjadi istri simpanan seorang bangsawan di Malaysia. Mereka berpisah dua tahun kemudian dan Merlyn bertemu dengan statusnya sebagai janda kembang serta Gunawan sebagai duda beranak satu. Sebelum menikah, ia sudah menceritakan semua masa lalunya kepada lelaki itu, kecuali soal uban pamannya. Tak disangkanya uban di kepala Gunawan telah membuka kembali rahasia masa lalu yang sudah dikuburnya dalam-dalam.

�Aku tidak ingin lagi melihat uban di kepalamu!� cetus Merlyn sambil memutar tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.

�Aku sudah tua, sudah pantas beruban. Kamu tidak bisa menolak kodrat.�

Masih sempat didengar ucapan Gunawan itu sebelum ia benar-benar lenyap dari kamar mandi. Merlyn tidak menolak Gunawan menjadi tua, tidak menolak rambut putih tumbuh di lubang hidungnya atau di tempat lain. Namun, Merlyn tidak ingin melihat uban di atas kepala Gunawan. Dia ingin uban itu berubah hitam atau ia akan kabur dari rumah bila Gunawan memaksa untuk mencabutinya. (*)

Senin, 03 Oktober 2011

Surat

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Republika 2 Oktober 2011

Saya tak tahu. Sebenarnya ini surat ke berapa yang ditulis. Surat-surat sebelumnya telah bersitumpuk di sudut-sudut rumah kayu saya yang sempit, di sudut kamar saya yang tentu juga sempit, di kotak-kotak lemari cokelat pias tanpa ukir, beberapa di celah-celah ventilasi dapur. Surat-surat itu bukannya suratsurat yang tak layak kirim. Pun, bukan kumpulan surat yang tak rampung (yang kebanyakan diremas orang-orang sebelum membuangnya di kotak sampah atau di sembarang tempat). Kertas-kertas (yang kini sudah menguning) itu adalah suratsurat jadi. Surat-surat siap kirim. Namun, sungguh, saya bagai tak tergerak mengantarnya ke kantor pos. Atau sekadar memasukkannya di kotak pos di simpang jalan raya. Saya bukan meragukan jasa pos. Toh, saya juga bisa mengirimnya via agen-agen jasa pengiriman swasta, bukan? Ini tentang kebingungan. Kebingungan yang lebih mengerucut pada keraguan. Beberapa catatan yang kerap menyergap bila keinginan untuk mengirimnya muncul adalah sebagai berikut:

Pertama, akankah dibaca surat-surat itu? Kedua, bila pun dibaca, tentulah si pembaca akan menilik nama pengirimnya. Ah, siapalah saya. Ketiga, apakah saya tak tampak berlebihan dengan isi suratsurat itu?

Mungkin saya ini memang tipe orang peragu. Tapi... ada baiknya saya tepikan sifat itu. Saya pikir tak ada ruginya bila diceritakan sedikit tentang nasib beberapa surat yang pernah saya tulis itu.

Adalah Pak Lijan, kepala sekolah tempat saya meng ajar, yang pertama kali memergoki saya menulis surat. Memang dasarnya tak percaya diri, gemetaranlah saya ketika itu. Pak Lijan mengambil kertas itu. Tak lama ia terkekeh. Melemparkan surat itu ke arah saya. Ya, melemparkan. Bukan memberikan. Lalu ia mengatakan (di antara kekehannya yang membuat rasa hormat kepadanya kini berkurang) bahwa tak ada gunanya guru honorer seperti saya menulis semua itu. Apa pun, di dunia ini, tak ada yang gratis. Termasuk sekolah. Bila pun bebas SPP dan uang bangunan, apakah sekolah juga mesti membelikan para siswa tas, sepatu, seragam, buku, dan alat tulis?

Saya cerna kata-katanya. Ada pula benarnya. Tapi..., ya, tapi bukankah di republik ini, pendidikan itu adalah hak? Bukan kewajiban! Maksud saya, bila itu adalah hak, maka berikanlah. Berikanlah dengan seutuhnya. Semuanya. Atau, saya yang salah mengartikan �hak� dalam pendidikan itu? Sayang, saya tak sempat menanyakan semua risau itu kepada kepala sekolah itu. Dia sudah keburumeninggalkan saya. Saya hanya sempat melihat ia menyeringai ke surat yang tergeletak di dekat ujung sepatu saya. Ketika itu, saya tiba-tiba miris. Surat yang berisi kegelisahan saya itu tampaknya senasib dengan penutup kaki saya yang butut.

Saya juga pernah menuliskan surat yang bercerita tentang seorang kawan seperjuangan. Perempuan 56 tahun di kampung seberang. Ibu Hoi, demikian saya memanggilnya. Saya cukup akrab dengannya bukan hanya karena ia adalah guru yang sangat saya kagumi, namun juga untuk alasan yang tidak penting: karena saya juga sangat suka makan gorengan. Saya sering membeli gorengannya ketika tiga kali seminggu harus ke perpustakaan kota demi menuntaskan hobi membaca saya.

Ya, selain menjadi PNS di sebuah SD, Ibu Hoi juga nyambimenitipkan gorengan di warung yang terletak dekat gerbang SD. Sudah 32 tahun ia mengajar. Ia tak tahu (juga tak paham) apa itu sertifikasi, bonus yang paling guru bincangkan. Dapat gaji dua kali, kata mereka. Dan, Ibu Hoi tampaknya tak terlalu tertarik di luar perannya sebagai guru dan penjual gorengan. Ia seolah menikmati sekali hidup. Setelah mengajar, saban sore ia mengitari kampung dengan kereta tuanya. Bertandang dari rumah ke rumah. Ibu Hoi juga menjadi penjahit keliling.

�Ibu senang saja melakukannya. Selain menambah uang belanja, banyak bertandang, panjang umurnya,� demikian selorohnya suatu waktu.

Ketika itu, penulisan kisahnya didorong oleh pengumuman sebuah lomba yang diadakan oleh kantor diknas kabupaten. Menulis kisah inspiratif. Hadiahnya lima ratus ribu. Pikir saya, hadiah itu dapat dibagi dua dengan Ibu Hoi kalau naskah saya menang. Saya menulis dalam bentuk surat. Kreativitas, itulah dasar saya memilih gaya berkisah seperti itu. Tapi, apa hendak dikata, satu hari menjelang dikirimnya surat-cerita itu, Ibu Hoi meninggal dunia. Setahu saya, Ibu Hoi tidak mengidap penyakit jantung atau penyakit lain yang dapat menyebabkan kematian mendadak. Jadi, menurut saya, dengan semua keluguannya menjalani kehidupan, dengan semua pengabdiannya di sekolah, kematiannya adalah satu dari kematian yang paling diimpikan.

Ketika itu saya sibuk membantu beberapa tetangga mengurus jenazahnya, menyambut para pelayat, mengundang orang-orang untuk membaca Yaasin di malam harinya... Saya pun lupa mengirimkan naskah itu. Saya baru ingat setelah nama-nama pemenang diumumkan. Kabarnya, semua tokoh yang kisahnya dituliskan, meninggal ketika naskah-naskah dinilai! Saya terperenyak. Bagaimana mungkin? Tapi, ketika mendapati kebenaran kabar itu, saya pun berprasangka baik (saya yakin, kali ini prasangka saya benar): pada kurun itu, Tuhan sedang menjemput orang-orang pilihan-Nya. Dan, itu sangat mungkin, hati kecil saya menegaskan. Entah, tiba-tiba saya tak menganggap kabar duka itu sebagai sesuatu yang layak dirutuki.

O ya, saya pula pernah menulis cerita tentang Pak Arman. Guru Agama yang kini sudah sepuh. Maklum, dia adalah guru ketika saya SMP. Saya ingat sekali. Dulu, ketika bersama teman-teman, saya dihukumnya berlari keliling sekolah 10 kali di siang bolong. Kami yang waktu itu jumlahnya lima orang memang dikenal berandal. Kami tahu kami salah. Tak hafal Asmaul Husna, tak hafal 20 ayat pertama al-Baqarah, juga masih tak hendak melancarkan bacaan Alquran. Kami juga tak bayar uang sumbangan membeli sarung dan mukena untuk mushala sekolah. Mushala yang hampir rubuh. Kami sangsi bahwa uang itu akan digunakan untuk membeli perlengkapan shalat. Kami masih trauma dengan kasus Bu Lita, wali kelas kami. Sumbangan kami yang 2.500 rupiah per orang, tak jelas ke mana perginya. Katanya hendak dibelikan sapu, kotak sampah, gorden, vas bunga, dan seprai meja. Ternyata hanya kotak sampah dan sapu yang dibeli. Masing-masing satu pula. Kami pikir, Pak Arman tak ubahnya seperti Bu Lita.

Namun begitu, alasan yang paling kami gembar-gemborkan ketika itu adalah atas nama harga diri(dalam usia bau kencur ketika itu, kami sudah bertingkah dengan dua kata yang seakan sangat kami pahami itu...)! Kami benar-benar merasa terhina ketika teman-teman (termasuk gadis-gadis yang kami taksir) menyaksikan kami yang kelelahan menjalani hukuman.

Maka, kami pun membuntuti Pak Arman pulang. Kami tak memalaknya di jalanan sepi menuju rumahnya. Ya, kami cukup cerdas. Sebagai berandalberandal yang baru disetrap, tentulah kami sangat mudah menjadi tersangka pemalakannya. Kami berencana memalaknya esok pagi saja, ketika Pak Arman keluar dari perempatan jalan rumahnya. Maka, kami menguntitnya hingga memasuki lorong di perempatan. O, kami tak tahu, bila rumahnya jauh ke dalam. Mungkin sekitar dua kilometer. Jalan kaki. Kami lelah sendiri. Dan, o, o, kami kedapatan olehnya. Tubuh kami gemetar (kami lupa bahwa Pak Arman tak tahu rencana jahat kami). Kami diajaknya duduk di lepau di bawah pohon nangka, dekat sebuah rumah yang lebih layak disebut gubuk.

Pak Arman bertanya perihal kedatangan kami. Namun, belum sempat kami menjawab, dari gubuk itu, berkeriapan anak-anak kecil (kalau tak salah jumlahnya lima orang) menyongsongnya. Mereka disuruh Pak Arman salim kepada kami. Kami pun menyambutnya dengan semringah. Tahulah kami, mereka adalah anakanak guru agama kami itu. Pun, kami tak perlu bertanya tentang siapa pemilik gubuk dekat situ, bukan?

Tak lama, muncullah seorang perempuan paruh baya. Membawakan beberapa gelas plastik dan ceret aluminium dalam nampan plastik. Kami segera menyalaminya. Mencium tangannya. Tak perlu dikenalkan pun kami tahu kalau ia istri Pak Arman.

Ketika kami melepas dahaga, Pak Arman masuk ke gubuk. Tak lama ia sudah muncul dengan menggiring sebuah sepeda motor butut. Kami bertanya, mengapa ia tak mengendarainya untuk ke sekolah. Dan... baru tahulah kami. Motor butut itu adalah sewaan. Tiga puluh ribu per hari. Pak Arman mengojek sepulang mengajar. Maka, mulai detik itu, kami bagai lupa perihal palakmemalak itu....

Kisah tentang Pak Arman itu saya tulis. Beberapa hari kemudian, saya membacanya di hadapan teman-teman ketika kelas Bahasa Indonesia. Empat teman saya yang lain pasti tahu kalau saya tidak sedang membacakan sebuah surat untuk pak presiden sebagaimana yang diminta oleh Bu Desy. Namun, tak ada yang menyela. Termasuk guru bahasa Indonesia kami itu. Saya ingat sekali, mata teman-teman saya basah ketika cerita berakhir. Ibu Desy pun permisi ke toilet. Saya tahu, dia hendak menyembunyikan mata merahnya dari kami.

Entahlah, apakah ini akan dianggap sebuah surat atau tulisan lepas, atau semacam cerita saja. Saya tak banyak berharap, sebagaimana saya tak tahu kepada siapa surat ini mesti saya kirimkan. Hanya tiba-tiba terbetik ide, saya ingin mengirimkannya ke sebuah surat kabar. Siapa tahu surat ini dimuat. Lalu dibaca banyak orang. Atau juga dibaca pak presiden! Amin. Allahumma amin.

Lubuklinggau, 2010
Untuk Istriku, Desy Arisandi