Minggu, 30 Januari 2011

Jerit Sunyi Bidadari

Cerpen Karkono Supadi Putra
Dimuat di Malang Post, 30 Januari 2011

Malam Jumat Pon, Kemukus kembali mementaskan keramaiannya. Beribu manusia beragam asa dari segala penjuru tumpah ruah. Dari yang sekadar mengejar ceria hingga yang mengejar tahta, ngalap berkah. Dari yang menghampiri wisata religi hingga yang menikmati wisata birahi. Dari pejabat yang bergelimang harta hingga kere yang tak punya modal.

Ratih hanya diam, bergayut di daun jendela. Matanya jalang menusuk rembulan yang merekah: purnama nan jumawa. Namun, indah purnama serasa tak berdaya merayunya dalam kilau yang menawan. Dia terpenjara dalam kesepian panjang tak bernama. Merindukan sesosok lelaki idaman yang lama tak juga datang.

�Sudah larut malam, kenapa kamu tidak segera dandan?�

Ratih menoleh ke arah sumber suara, pada Mayang, teman kerjanya yang masih sibuk menyisir rambutnya. Dia sudah rapi dengan make up tebal dan pakaian menggoda.

�Malam ini aku absen. Malas!� jawab Ratih tak bersemangat. Perlahan dia menutup daun jendela, lalu duduk di atas ranjang empuk bersprei merah jambu.

�Aneh. Ini adalah malam yang spesial, Gunung Kemukus begitu ramai dikunjungi orang. Kamu jangan banyak tingkah Tih, ini kesempatan kita untuk meraup uang sebanyak-banyaknya.�

�Mayang, aku kangen dengan Mas Topan. Sudah lama aku menantikan kedatangannya. Tapi...�

�Apa? Kamu jangan gila!�

�Sungguh May, aku benar-benar merindukannya. Sepertinya aku sudah jatuh cinta kepadanya.�

�Simpan saja cintamu itu, Ratih. Manusia seperti kita ini sudah tak layak membicarakan cinta. Kita sudah tidak punya cinta. Lagipula, apa untungnya kamu mencintai Topan, dia hanya pemuda desa yang miskin harta. Ya masih mending kalau Pak Suryo, konglomerat yang menggilaimu itu. Sudahlah, ayo segera dandan, nanti Bu Suri marah-marah,� tanpa menunggu apa jawaban Ratih, Mayang segera berlalu dari kamar, barangkali tamu langganannya sudah menunggu. Sementara itu, Ratih masih terpaku di tempat duduknya. Malam ini dia memang kehilangan gairah untuk keluar kamar menyambut tamu lelaki hidung belang yang mampir di kedai Bu Sumi. Dengan sedikit malas, wanita berambut panjang itu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Namun, belum sempat punggungnya merasai kenyamanan saat beradu dengan kasur, tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Ternyata Bu Suri: sang mucikari.

�Ratih, kamu ini apa-apaan? Mengapa kamu malah enak-enakan tiduran? Lihat, tamu-tamu sudah banyak berdatangan, ayo segera dandan dan menemui mereka!�

�Maaf Bu, malam ini saya kurang enak badan. Saya...�

�Kamu jangan banyak alasan, Tih. Rombongan Pak Suryo sebentar lagi datang, mereka pasti membawa banyak uang. Kamu jangan bikin ibu kecewa, Pak Suryo itu hanya mau sama kamu,� dengan nada suara keras Bu Suri memotong kata-kata Ratih.

�Maafkan saya, Bu. Saya mohon, malam ini saja!�

�Tidak bisa! Kamu harus menemui dan melayani Pak Suryo.�

Menghindari konflik dengan sang mucikari, Ratih pun akhirnya mengalah.

�Iya-ya Bu, sebentar lagi saya dandan,� katanya dengan sedikit kesal. Pak Suryo? Mendengar namanya saja Ratih ingin muntah. Lelaki tua yang kata orang adalah pejabat yang terhormat itu memang sering memberinya banyak uang. Namun, sama sekali Ratih tidak mencintainya. Dan, sebenarnya Ratih juga tak terlalu senang mendapatkan pemberian uang darinya, uang itu paling-paling hasil korupsi, uang rakyat. Meski Ratih tak paham dunia politik, tetapi hatinya merasa sakit jika tahu ada pejabat yang seperti Pak Suryo. Jika dia saja begitu tega membohongi istri dan anak-anaknya, apa tidak mungkin akan lebih mudah untuk membohongi rakyat?

Dalam hati dia masih berharap agar lelaki pujaannya akan datang malam ini: Mas Topan, bukan Pak Suryo.

***

Ratih sudah rapi. Aroma wangi menyeruak dari tubuhnya yang tinggi semampai. Pak Suryo ternyata belum datang. Diam-diam Ratih mempunyai ide untuk keluar kedai. Kontan saja, saat suasana kedai begitu ramai, Ratih mencuri kesempatan untuk hengkang.

Tak ada yang mengetahui kalau Ratih keluar kedai. Ratih seketika membaur dengan keramaian pengungjung Kemukus yang meluber, memenuhi jalan-jalan di objek wisata yang hanya hari-hari tertentu saja ramai dikunjungi orang. Namun, apa yang terjadi dengan Ratih seolah kontras dengan kenyataan yang ada. Dia merasa sepi di tengah keramaian, menangis dalam kegembiraan banyak insan. Aroma kembang setaman, kemenyan, rokok, bahkan alkohol berbaur menjadi satu. Ah, bukankah selama ini aroma itu yang mengakrabiku? Aroma yang pada awalnya tak pernah bisa aku menikmatinya. Semua aku paksa merasuk dalam hidupku, hingga tanpa terasa, aku telah menggumuli semuanya dalam rentang masa lebih dari lima tahun, gumam Ratih dalam hati. Ada yang bergemuruh di dalam dadanya. Ia seperti ingin lari dari dunia yang mengungkungnya selama ini.

Ratih memilih duduk di bawah pohon nagasari tak jauh dari Sendang Ontrowulan, di kaki Gunung Kemukus, sebuah bukit rimbun puluhan kilometer arah utara dari Kota Solo. Di sini lebih sepi dibanding di atas bukit, di puncak Kemukus. Di sana, Pangeran Samodro dan Dewi Ontrowulan dimakamkan, dan hingga kini ramai dikunjungi orang dengan beragam tujuan. Ratih mencoba mengembarakan angan, agar gelisah jiwa sirna. Agar gundah gulana tak lagi menerpa. Sebatang rokok menemaninya melawan hawa dingin, menghangatkan.

Mendadak, ingatannya kembali tertambat pada sosok lelaki tampan yang beberapa waktu ini menyesakki dadanya. Mengisi ruang-ruang kosong khayalnya: Topan. Di tempat ini, terakhir kali dia bertemu Topan. Jika boleh memilih, sungguh dia ingin mengulang masa, memutar waktu. Dia ingin tidak meninggalkan desa dan melarikan diri ke Kemukus ini. Dia ingin mengenal Topan beberapa jeda waktu yang lalu. Lalu bisa merasai indah pernikahan bersamanya, meski tanpa gelimang harta, hidup sederhana, hanya berbekal cinta. Namun, mungkinkah sang waktu sanggup terulang?

�Malam Mbak,... sendirian aja. Bisa menemani saya?� sosok lelaki mamakai kaos hitam tiba-tiba sudah berdiri di depan Ratih. Ratih tak berselera menjawab ajakan lelaki itu.

�Ini sudah malam, tapi saya belum mendapat pasangan. Sayang kan jauh-jauh dari Surabaya terpaksa tak membawa hasil hanya gara-gara tidak lengkap melakukan ritual. Mbak belum ada tamu kan?�

Lelaki itu mendekati Ratih. Ratih gegas bangkit, serasa muak melihat lelaki itu. Ritual? Untuk mencapai mimpi yang didamba, harus berhubungan badan dengan bukan pasangan kita, bukan suami atau istri kita? Logika Ratih tak kuasa mencernanya? Namun, bukankah selama ini hal itu yang selalu bercokol di benak Ratih dan kebanyakan pengunjung Kemukus? Dengan dalih melengkapi ritual, bahkan perbuatan yang sulit dinalar pun menjadi halal dilakukan.

�Ngaca dulu kalau mau ngajak-ngajak orang!� kata Ratih ketus sambil buru-buru berlalu.

�Woo...lonthe[1]!� samar terdengar makian lelaki itu. Ratih tak menggubrisnya. Dia segera berlari, menembus keramaian malam. Bayang-bayang Topan telah membuatnya gelisah, bahkan seperti jengah dengan realita yang sebenarnya telah mengisi hari-hari dalam kehidupannya selama ini.

***

Saat baru saja memasuki kedai Bu Suri, mendadak Ratih menemukan sepasang mata yang menyala di tengah remang cahaya. Darahnya terkesiap, berdesir. Ratih mengenali mata itu. Sepasang mata yang membuat sang waktu pucat pasi di hadapannya. Lalu, dalam beberapa hening jeda, lidah Ratih seperti kelu, tak kuasa memahat kata.

�Ratih, ijinkan aku bicara!� ucap Topan dalam ketergesaan. Serangkum logika spontan Ratih putar. Buru-buru Ratih menggandeng tangan lelaki itu, lalu berjalan tergesa ke samping kedai. Di sini sepi.

�Akhirnya kamu datang, Mas?� tanya Ratih dengan suara pelan. Dia masih gamang dengan kehadiran lelaki pujaannya: antara senang dan serasa tak percaya.

�Ratih, aku menyerah. Aku akui aku tak bisa meninggalkanmu. Aku telah kalah dengan cinta,� kata Topan dengan mata menyorotkan kesungguhan. Ratih lekat memandangi wajah Topan, juga matanya. Dia masih tak percaya dengan apa yang baru saja Topan ucapkan.

�Benarkah, Mas?�

�Iya. Aku sudah mencoba untuk melupakanmu, tetapi gagal. Sekarang kamu ikut denganku. Aku akan ikuti apa saja kemauanmu, yang penting aku bisa selalu bersamamu. Aku juga siap untuk melamarmu. Kamu terlalu indah untuk menjadi kembang di Kemukus ini Ratih. Kamu adalah bidadari, tempatmu bukan di sini.�
Kali ini dada Ratih penuh sesak dengan bunga. Bunga aneka rupa dari negeri yang hanya ada bahgia bertahta di sana. Sudah lama dia ingin pergi dari Kemukus ini, meniti sisa hidup dalam harmoni suami istri, bukan sebagai wanita pemuas nafsu birahi beragam lelaki.

�Mas Topan, bawa aku pergi sekarang juga Mas. Aku ingin hidup bahagia bersamamu, menjadi istrimu yang sah, membina keluarga bahagia.�
Kedua insan itu dirubung serangkum bahagia.

Namun, tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan penuh amarah. Lelaki pemilik mata itu seperti tak kuasa menahan gejolak yang bergemuruh di dalam dada. Api cemburu membakar seluruh rasa dan logikanya.

�Ratih... kamu harus mati, wanita kurang ajar!� sebuah suara menggelegar mengagetkan Ratih dan Topan. Saat pemilik suara itu mendekati keduanya, buru-buru Ratih mengajak Topan menyingkir.

�Siapa laki-laki ini, Tih?� tanya Topan dalam keterkejutan. Ratih dengan cekatan berlari sambil menggandeng Topan.


�Sudahlah Mas, sebaiknya kita pergi. Kita tak cukup punya daya untuk melawan dia. Dia punya segalanya, percuma saja kita meladeninya. Ayo cepat kita pergi dan tinggalkan Kemukus ini!� suara Ratih tersengal beradu dengan nafas yang memburu.

�Iya, tapi dia siapa? Dan kenapa kita harus lari seperti ini?�

�Dia Pak Suryo�.�

�Hai..jangan lari�!!! Tunggu!!!�

Meski disergap keterkejutan dan ketidaktahuan akan keberadaan lelaki berkumis tebal dan berperawakan tinggi besar itu, Topan mengikuti saja kata-kata Ratih. Mereka terus berlari, menyelinap mencari jalan menuruni bukit Kemukus.

�Pak Suryo itu siapa?�

�Dia punya banyak uang, dan dengan uang itu dia bisa membuat segalanya menjadi mungkin, termasuk membeli cinta dariku dan itu berarti memisahkan kita berdua.�

Topan baru paham dengan yang telah terjadi setelah mendengar kata-kata Ratih barusan. Setelah itu, Topan kian mempercepat langkah kakinya, lincah menerobos setiap keramaian. Keduanya tak menghiraukan lagi pandangan orang-orang di sekitar, juga rasa lelah yang mendera.

Sementara, lelaki yang tak lain adalah Pak Suryo itu pun menyerah.
�Kamu boleh pergi Ratih, tetapi aku akan selalu mendapatkan Ratih-Ratih yang lain� Hahahaha�dasar bocah bodoh��




Footnote:

[1] Pelacur dalam bahasa Jawa.

Rabu, 19 Januari 2011

Mayra

Denny P. Cakrawala

Dimuat di AngsoDuo.Net, 16 Januari 2011 dan Jambi Independent, 10 Januari 2011


Tiba-tiba saja darah mengalir dari rak buku di dalam kamar tidurku. Aku terpana. Tak percaya. Bagaimana bisa? Atau aku sudah gila karena terlalu sering keluar masuk dunia imaji? Mungkin saja darah itu hanya salah satu bagian dari imajinasi yang tengah aku bangun, di lembar Microsoft Word Pentium3-ku? Aku memang seorang penulis yang selalu bermain-main dengan imajinasi. Sehingga sering sulit membedakan realitas sungguhan dengan realitas rekaan.

Aku menyentuh darah yang telah menggenangi lantai kamarku dengan jari telunjuk. Seperti seorang detektif ketika menemukan jejak darah di tempat kejadian perkara. Asli! Benar-benar darah sungguhan! Tapi bagaimana bisa? Aku mencium darah di ujung telunjuk tanganku. Masih segar. Seperti baru keluar dari lubang aorta serta vena yang terkoyak.

Sebenarnya aku tak harus menduga kalau diriku gila, hanya karena sebuah darah yang mengalir tiba-tiba, kalau saja itu berasal dari dalam lemari pakaianku. Mungkin saja ada orang yang telah melakukan pembunuhan. Lalu menyimpan jasadnya di lemari pakaianku. Dengan maksud untuk menjebakku. Tapi itu saja sudah tidak masuk akal. Karena siapa pula yang mau menjebak aku? Aku toh bukan siapa-siapa yang perlu ditakuti. Aku tak pernah memiliki musuh. Atau ada yang diam-diam telah menganggap aku sebagai ancaman? Atau barangkali hanya bangkai tikus? Tapi siapa yang cukup iseng membunuh tikus dan menyimpannya di lemari pakaianku? Apa pun jawabannya, semua hanya sebuah kemungkinan, jika darah itu mengalir dari lemari pakaian. Kenyataannya, darah itu mengalir dari rak buku. Mungkin seekor kecoa sedang sial tergencet di antara buku-buku? Tapi lagi-lagi tetap saja sulit diterima akal sebab bukankah kecoa tidak mengueluarkan darah semacam itu?

Ah, aku mungkin sudah gila. Agar tak bertambah merasa gila, aku mencoba membongkar buku-buku yang berbaris rapi seperti prajurit tentara sedang upacara di rak paling atas, tempat aliran darah itu berasal. Semula aku memindahkan buku-buku itu sekaligus ke atas ranjang tidurku. Sehingga tak menyisakan satu buku pun di rak paling atas. Namun, tak ada makhluk apa pun di sana yang bisa kucurigai terluka hingga mengeluarkan darah. Jadi, aku kembalikan lagi buku-buku itu ke tempat semula. Aku baru saja ingin membongkar buku-buku di rak tengah. Namun, urung kulakukan. Darah itu mengalir dari rak paling atas, mana mungkin sumber darah berasal dari rak tengah. Kecuali darah itu bisa mengalir ke atas melawan gravitasi Bumi. Kalau pun memang bisa begitu, rasanya kurang kerjaan sekali darah itu.
Jadi aku menduga kalau darah itu keluar dari dalam salah satu buku yang ada di rak paling atas.

Kedengarannya memang gila. Tapi bisa saja kan? Siapa yang bisa menjamin kehidupan ini waras-waras saja? Tonton saja berita kriminal di layar kaca. Apakah waras namanya kalau ada seorang bapak yang menghamili anak kandungnya sendiri? Kalau realitas dunia nyata sudah menawarkan kegilaan serupa itu, apa masih kedengara gila jika aku menduga darah itu keluar dari dalam buku cerita? Seekor dinosaurus yang telah punah ribuan tahun saja bisa dihidupkan kembali. Dan itu terjadi dalam buku cerita! Kenyataan itu membuat aku segera membuka lembar demi lembar buku yang ada di rak paling atas. Tak satu buku pun di rak atas yang tidak terkena darah. Jadi, untuk menemukan sumbernya aku harus memeriksa satu per satu.

Aku baru saja mengambil buku bersampul hijau yang ditulis oleh Jenarayu�pengarang favoritku. Sebelum sempat aku memeriksa lembar demi lembar halamannya, tiba-tiba saja buku itu memberat di tanganku. Aku tak cukup kuat menahannya, sehingga buku itu terjatuh ke lantai dengan posisi membuka. Bersamaan dengan itu, sesosok tubuh molek melejit begitu saja dari dalam buku itu. Terhuyung-huyung, sebelum ambruk di lantai dengan tubuh menelungkup. Menggelinjang-gelinjang. Meregang nyawa. Lalu terdiam. Tak lagi bergerak. Sebilah pisau menancap di punggungnya.

Ini benar-benar seperti di dalam buku cerita. Namun, nyata. Karena terjadi di dalam kamarku. Seorang perempuan berambut kelam. Bertubuh aduhai. Mengenakan gaun hitam yang membuat kedua pundak jenjangnya dapat dinikmati mata�kecuali yang tersembunyi di balik helai-helai rambutnya yang sedikit melebihi bahu. Keluar begitu saja dari dalam buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh pengarang favoritku, saat buku itu terjatuh dengan posisi membuka. Aku menyentuh pergelangan tangannya. Tak ada kehidupan mendetak di sana. Perempuan itu mati! Siapa orangnya yang telah dengan keji menancapkan sebilah pisau ke punggungnya?!

�Aku,� sebuah suara dari balik punggungku, �hahahaha... mampus juga dia!�

Aku terdiam beberapa jenak, tak lantas menoleh ke belakang. Kegilaan apa lagi yang mungkin aku temui? Suara tawa itu belum juga reda. Aku menolehkan kepala ke arah suara. Sungguh aku tak menduga kalau suara itu berasal dari seorang gadis berseragam putih biru. Suaranya terdengar lebih dewasa dari usianya. Namun, bukankah kedewasaan tidak diukur dari suara dan jumlah angka yang kautulis di kolom usia pada lembar biodata?

Seragam sekolah yang dikenakan gadis yang wajahnya rupawan itu berlumur darah. Ada bekas sayatan pisau panjang melintang di salah satu pipinya. Dia memandang ke arahku sambil terus tertawa. Seperti seorang yang telah kehilangan akalnya.

�Siapa kamu?�

�Kau mengenal saya,� katanya setelah meredakan tawa, �bukankah kau telah berkali-kali membaca buku itu?� Jari telunjuknya mengarak ke buku yang tergeletak di lantai dengan posisi membuka. Buku karya Jenarayu, penulis pujaanku.

�Aku sedang tidak berselera menjawab teka-teki.�

�Melukis Jendela,� katanya, �kau masih mengingat ceritanya kan? Pisau itu yang dulu kugunakan untuk menyayat pipiku.�

�Mayra? Kamu Mayra?!�

�Apa masih perlu kujawab pertanyaanmu?�

Aku mungkin sudah gila. Namun, sulit untuk tidak memercayai perkataannya. Lalu siapa perempuan yang dibunuhnya itu? Aku menyibak helai-helai rambut yang menyembunyikan wajah perempuan dengan sebilah pisau menancap di punggungnya. Sekalipun radiasi monitor komputer telah membuat rabun penglihatanku, rasanya tak akan sampai membuatku tak lagi mengenali wajah perempuan itu. Dia ...

�Jenarayu. Penulis pujaanmu!�

Wajahku mengeras. Mempertegas api yang berkobar di mataku. Aku berdiri. Menghadap ke arah gadis yang wajahnya sedingin musim salju. Membakarnya dengan tatapan. Aku mungkin hanya satu dari sekian banyak pembaca buku Jenarayu. Tapi siapa orangnya yang tidak terbakar melihat seorang yang dipujanya mati dengan cara yang mengenaskan?

�Mengapa kau membunuhnya?� suaraku bergetar, �lewat sebuah cerpen dia telah melahirkanmu!

Bukannya berterima kasih! Sungguh tak tahu budi!�

�Berterima kasih katamu?�

�Ya!�

�Awalnya aku bangga karena diciptakannya dengan wajah cantik. Meski aku ditempatkan di tengah keluarga yang tak lengkap. Ia yang membuat aku hanya memiliki ayah yang tak peduli padaku tanpa tahu siapa ibuku. Tapi kaulihat luka di pipiku?� Mayra memperlihatkan bekas luka di pipinya, �dia menyebabkan luka ini.�

�Tapi bukankah kamu sendiri yang menyayatnya dengan pisau?�

�Memang aku sendiri yang menyayatnya, tapi dia yang menulis cerita. Aku hanya menjalankan saja apa yang telah dia tuliskan dalam cerita itu.�

�Tapi itu, kan, hanya sebuah adegan dalam cerita fiksi. Tidak benar-benar terjadi.�

�Apakah kaulupa kalau aku adalah tokoh fiksi?� katanya, �aku tokoh fiksi yang hidup dalam dunia fiksi.

Maka, apa yang terjadi terhadapku di dalam dunia itu adalah sebuah kenyataan. Realitas yang harus kujalani. Untuk apa? Untuk memuaskan penulis seperti Jenarayu, serta pembaca sepertimu!�

�Ah, aku sungguh-sungguh tak mengerti!�

�Kau tak akan pernah bisa mengerti, kau tidak berasal dari dunia fiksi. Kau tak akan pernah mengerti, betapa aku merasa muak harus menerima teror setiap pergi ke sekolah. Mereka selalu melecehkanku!

Mereba-raba payudara dan kemaluanku! Jangan kaupikir teman-teman sekolahku itu menikmati perlakuan mereka terhadapku. Mereka sesungguhnya tak ingin melakukan perbuatan cabul itu. Tapi Jenarayu telah memaksa mereka dengan menuliskan cerita seperti itu. Menurutmu, apakah aku tak pantas membunuhnya karena dia telah menyebabkan tokoh-tokoh yang dia ciptakan menderita? Atau kau malah menikmatinya?�

�Apanya?�

�Adegan-adegan pelecehan itu!� nada suaranya meninggi, �kau menikmatinya kan?�

�Ehm ... mungkin.�

�Tak usah munafik. Katakan saja yang sejujurnya.�

�Ehm ... sedikit.�

�Sampai onani?�

�Hah?!?! Tak sampai sejauh itu!�

�Tapi kau menikmatinya kan?�

�Aku tak perlu menjawabnya.�

�Karena kau memang menikmati!� tudingnya.

�Kau tidak bisa memaksa orang untuk tidak menikmati apa yang Jenarayu tulis dalam cerpen itu.�

�Dasar lelaki!�

�Apa pun alasannya, kau tetap tak dibenarkan membunuh. Lagi pula, mengapa tokoh-tokoh cerita lainnya dalam buku itu tak merasa keberatan dengan apa yang telah dituliskan Jenarayu? Hanya kamu saja yang merasa tidak puas.�

�Huh!� Mayra mendengus, tertawa sinis, �kau pikir, aku bekerja sendirian?�

�Maksudmu, kau tidak membunuh Jenarayu sendirian?�

�Ya! Mereka semua ada di belakangku. Hyza, Maha, Manusya, Nayla, dan Mem ... ah, aku tak sampai hati menyebut namanya. Dia benci sekali pada perbuatan Jenarayu yang telah memberinya nama sama dengan nama kemaluan wanita!�

�Aku bisa mengerti kalau mereka marah pada Jenarayu, akhir cerita mereka tidak membahagiakan. Tapi bagaimana dengan kamu? Bukankah di akhir cerita Melukis Jendela kamu menikah dengan pemuda berkuda yang memiliki dada bidang dan kulit cokelat kemerah-merahan terbakar matahari? Bahkan, dari pemuda itu, kamu memiliki dua orang putri yang cantik-cantik serupa dirimu. Tidakkah kau cukup puas membalaskan perlakuan lima anak berandalan yang suka melecehkanmu di sekolah dengan cara memotong alat vital mereka? Semua itu dituliskan Jenarayu untuk membuat kamu bahagia! Masihkah kamu mengingkarinya?�

�Membahagiakan katamu?�

Aku menganggukkan kepala.

�Aku benar-benar kecewa kepadamu.�

�Kecewa? Kepadaku?�

�Kalau saja kau bukan seorang penulis yang karyanya telah dimuat di media, aku bisa mengerti jika kau tidak memahami akhir cerita yang sesungguhnya. Tapi kau seorang penulis!�

�Aku masih tak mengerti maksudmu.�

�Sekarang kau tak hanya mengecewakanku.� Mayra mengempaskan tubuhnya di atas kursi yang ada di dalam kamarku, �Tapi benar-benar membuat aku berpikir kalau kau seorang yang dungu!�

�Hei!� Aku menuding wajahnya dengan telunjukku, �Jangan sembarangan bicara kamu!�

�Tak usah marah. Kenyataannya kau memang tak sepintar kelihatannya. Semestinya kau tahu makna ungkapan �melukis jendela� dalam cerpen itu. Melukis hampir tak beda dengan menulis. Hanya medianya saja yang tak sama. Sekarang aku tanya, kenapa kau menulis cerita?�

Aku meletakkan tubuhku di sisi Mayra, �Aku menulis karena ada yang ingin aku sampaikan. Aku menulis karena dengan menulis aku bisa melakukan apa yang tidak dapat aku lakukan dalam kehidupan nyata.�

�Artinya?� Mayra memandangku. Dia tak menunggu jawabanku, �Apa yang kamu tulis itu merupakan harapan atau keinginan yang tidak bisa kamu wujudkan dalam kehidupan nyata. Sama seperti ketika aku melukis. Aku berusaha mewujudkan apa yang aku inginkan dalam kanvas atau kertas gambar.�

�Lalu makna dari jendela itu?�

�Seharusnya tidak perlu aku jelaskan lagi.� Matanya melirik ke arahku menyiratkan sebuah kekecewaan mendalam.

Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Belum pernah aku merasa sedemikian bodohnya di hadapan seorang gadis berseragam putih biru. Seharusnya aku memang tidak menanyakan hal itu. Jendela adalah media yang menyatukan dunia di dalam kamar dengan dunia di luarnya. Jadi, bisa dikatakan, Mayra melukis jendela karena berharap bisa melarikan diri dari dunianya menuju dunia yang benar-benar sesuai dengan harapan serta keinginannya. Aku mengangguk-anggukkan kepala.

�Kau sudah mengerti sekarang?�

�Aku mengerti. Bagian akhir dari cerita itu tidak sungguh-sungguh terjadi. Kau hanya membayangkannya saja. Bukan begitu?�

�Tentu saja. Mana ada seorang gadis yang baru kelas satu sekolah menengah pertama menikah lantas punya dua orang anak.�

�Tapi Bik Inah tidak menemukan dirimu di kamar saat ia ingin membersihkan kamarmu. Dia hanya menemukan kertas-kertas bergambar jendela yang berserakan memenuhi kamarmu.�

�Aku memang pergi meninggalkan rumah itu. Tapi tidak bertemu dengan pria berkuda yang memiliki dada bidang dan kulit cokelat kemerah-merahan karena terbakar matahari. Apalagi sampai punya anak darinya. Aku juga tidak memotong alat vital teman-teman sekolah dasarku yang sering melecehkan aku sebab mereka hanya melakukan apa yang telah Jenarayu tuliskan.�

�Jadi, akhir cerita itu tidak membahagiakan?�

�Berkat dia!� lagi-lagi telunjuk Mayra menuding Jenarayu yang terkapar di lantai kamarku bersimbah darah dengan sebilah pisau menancap di punggungnya.

Suara berderak di meja kayu menyela pembicaraan. Layar monitor komputerku bergaris-garis.

�Sepertinya ada telepon untukmu.�

Aku menyambar ponsel dari atas meja komputerku. Nama Tebing Cakrawala di layar LCD ponselku. Aku menekan tombol OK. Telepon tersambung. Belum sempat aku mengucap salam, temanku yang seorang penulis itu langsung memberondong aku dengan kepanikan.

�Den � kau pasti tak akan percaya kalau kukatakan Jenarayu keluar dari dalam buku pertamanya.

Terhuyung-huyung. Ambruk ke lantai dengan tubuh menelungkup. Menggelinjang-gelinjan. Meregang nyawa. Lalu terdiam. Tak lagi beregerak. Sebilah pisau menancap di punggungnya! Dan kau tahu siapa yang membunuhnya?�

Aku melirik ke arah Mayra. Gadis berseragam putih biru itu menyeringai puas.

Sejak aku menerima telepon Tebing, handphone-ku tak henti-hentinya berdering. Mengabarkan berita yang sama dengan yang telah Tebing sampaikan kepadaku.

Sepertinya aku memang benar-benar sudah gila!

Atau.

Aku baru saja menyelesaikan sebuah cerita?

Orang Inggris

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Koran Tempo, 16 Januari 2011

ENTAH bagaimana harus kumukadimahi. Yang terang, tiba-tiba lelaki itu hadir saja. Ia kerap menyelinap dalam mimpiku (sebagaimana dirawikan Al Ramni, kitab perihal kepercayaan orang-orang Sumatera; adapun tanda-tanda yang menyertainya menunjukkan itu adalah mimpi yang sahih). Namanya pernah menyeruak dari mulut beberapa kakek pemakan daun-yang mengaku berusia di atas 153 tahun--di paha Gunung Jempol ketika kami bercakap-cakap. Ia juga terserlah dalam ingatan tentang kehidupanku di masa lalu. (Tentu tak perlu kutanya: apakah kalian juga meyakini adanya reinkarnasi?)

PADA tanggal 19 September, 230 tahun yang lalu, ia meninggalkan Benteng Marlborough. Di waktu yang sama, aku meninggalkan Lubuklinggau menuju Jambi dengan berkuda. Di Pargarradin, kami berpapasan di semacam simpang yang membelah rimba. Kami saling melempar senyum. Keheranan menyergap ketika kudapati ia tak menunggang kuda. Perasaanku mengatakan, ia akan melakukan perjalanan jauh. Keherananku bertambah kala kusadari bahwa rambutnya berwarna kuning rotan. Setahuku, tak pernah ada seorang berbau kompeni menyusuri hutan dengan berjalan kaki. (Kompeni? Ah, mengingat kata itu membuat jurang di dadaku makin menganga.) Ia bagai mengendus isi kepalaku. Ia mendekatiku dan berkata (bukan merayu), sudikah aku memberi tumpangan. Ah, ia terlalu percaya diri. Aku tak terlalu menyukai lagaknya. Lagi pula, tak lazim seekor kuda ditunggangi dua orang. Ia juga orang yang baru kukenal. Aku tak tahu apakah ia orang baik-baik atau sebaliknya. Dan belum tentu kami memiliki tujuan yang sama.

Baru saja hendak kutanggapi, ia mengulurkan tangan. Kami berjabat tangan. Erat. Ia menatapku hangat. Aku alihkan pandangan. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang tak biasa. Ia menyebutkan nama. Nama yang sangat tidak Melayu. Nama yang bisa kulafal namun tak yakin mampu kutuliskan. Baru saja kusebut namaku, ia langsung bertanya (bagai memastikan), apakah aku akan melewati Kalindang.

O, bagaimana ia tahu!

Aku memang akan ke Jambi. Namun, aku berencana menyambangi Kadras, Singkut, Gunung Ayu, dan Kalindang, terlebih dahulu. Jangan-jangan ia memang orang baik hingga Tuhan berkenan menjatuhkan keberuntungan atasnya; bagai mengutusku untuk memudahkan perjalanannya.

Tanpa meminta persetujuanku, ia menginjitkan sebelah kaki lalu melompat ke atas pelana. Duduk di belakangku. Sembari berteriak kuentakkan tali kekang. Seperti biasa kuda itu akan meringkik beberapa kejap sebelum mengangkat rendah kedua kaki depannya, dan melaju.

Kukatakan kepada Charles--demikian aku memanggil kawan baruku itu--tentang daerah tujuan akhirku. Entah, apakah ia memang tak menetapkan tujuan sebelumnya, atau sejatinya ia memang hendak ke Tanah Batanghari Sembilan, aku tak mengerti. Tiba-tiba saja ia memintaku membawanya ke Jambi. Lagi, aku memenuhi keinginannya. Ah, bagaimana aku sangat baik hati hari itu.

Aku tunaikan semua keperluanku di daerah-daerah yang kusinggahi. Membeli satu kantung tembakau di rumah pesirah di Kadras. Membeli setengah pikul terong panjang dari para petani di perkebunan rakyat di Singkut. Membeli dua ikat sapu lidi dari pembuat gula aren di Gunung Ayu. Di Kalindang sendiri, aku membeli sekeranjang kapulaga di perkebunan dekat perbatasan.

Ketika kutanya apa yang hendak ia lakukan di Kalindang, ia memintaku melupakan pertanyaan itu. Sebenarnya aku sedikit tersinggung oleh sikapnya, tapi aku berusaha tak mengambil hati. Aku tak ingin bertanya lebih jauh sebab aku memang bukan orang yang nyinyir. Ia hanya mengatakan bahwa, di Jambi nanti ia hendak berburu murai. Aku tergelak. Kukatakan, di rimba sepanjang anak Sungai Musi, burung itu juga banyak beterbangan. Ia terkejut. Ia tepuk bahuku bagai memastikan kesungguhan kata-kataku. Aku mengacuhkannya. Kukatakan dengan sedikit berseloroh, apakah karena kabar usang tentang burung itu, ia hendak membatalkan niat ikut denganku, apakah ia minta diantar balik ke rimba tempat kami bersua tadi, atau bahkan minta ditunjuki dusun-dusun di Musirawas yang terbentang di sepanjang tubir anak Sungai Musi. Ia setengah terkekeh. Aku tahu ia malu dan tak enak hati.

Sesampai di Jambi, aku antar apa-apa yang kubawa dari tempat-tempat yang kusinggahi tadi ke rumah-rumah penduduk yang memesannya. Ya, aku adalah pedagang sambungan. Demikian orang-orang menyebut apa yang kulakoni. Pekerjaan itu bukan untuk mencari untung, tapi untuk membuat pengembaraan memiliki sedikit alasan. Aku sendiri, sejak ditinggal kekasih yang mati ditembak kompeni, kerap menyusuri punggung Bukit Siguntang seorang diri.

Aku bertanya, mau ke mana lagi ia? Apakah perlu kubantu, paling tidak kukawani, berburu murai?

Ia menepuk dahi. Ugh! Aku lupa! Kita harus membeli senapan angin, katanya seolah baru menyadari kealpaannya. Atau... apakah kau membawa panah, tanyanya sambil melihat ke barang-barang bawaanku di pelana kuda.

Aku tersenyum kecil. Kutunjukkan ketapel yang sedari tadi kukalungi. Kuambil sebiji kerikil. Kupinta ia menunjuk sembarang benda. Telunjuknya mengarah ke bawah sebatang pohon. Jaraknya empat kaki dari kami. Sebuah pauh, jenis mangga-manggaan seukuran kedondong, tergeletak. (Bila ingin merasai seasam-asamnya buah, ciciplah pauh. Serta-merta muka akan kusut seperti kain santung, kain yang sudah diseterika saja permukaannya kerut seribu.) Tampaknya pauh itu baru saja jatuh dari pohon.

Kuambil kerikil sebesar biji salak. Kumasukkan ke kantung karet ketapel. Kulepas tembakan. Das! Pauh bergerak mundur sejari kelingking. Buah itu sudah mengandung kerikil. Aku tersenyum jemawa. Charles mengangguk-angguk sebelum mengacungkan jempol kanannya ke arahku. Ia memungut kerikil-kerikil yang ada di dekatnya. Ia dapat dua genggam. Disimpannya di kedua saku celana. Kuserahkan ketapel kepadanya. Kami ikatkan kuda di sebatang pohon onlen. Kami memasuki rimba.

Seperempat perjalanan, Charles mengatakan bahwa ini adalah kali ketiga ia berburu murai di situ. Kata-katanya benar atau tidak, aku tak tahu. Kupikir ia sedang menyindirku yang sedari tadi berada di depannya seolah menjadi penunjuk jalan. Kupelankan langkah. Ia berjalan di depan. Ia katakan pula, ia sudah berkeliling Sumatera sejak 10 tahun yang lalu. Dan hingga kini ia benar-benar tak tahu kalau murai tak hanya terdapat di Jambi. Kutanyakan, apakah ia pernah mengunjungi Simpang Semambang, Muara Kelingi, Suro, Karangpanggung, Maur.... Ia menggeleng. Aku tersenyum miring, mengejek.

Kelak aku akan ke sana untuk melihat murai-murai itu, ujarnya datar, seolah menyangsikan kata-kataku.

Kini ia yang balik bertanya. Tentang pekerjaanku. Matanya berbinar ketika mendengar jawabanku. Kau juga pengembara, tebakku dengan raut semringah. Ia menggeleng sebelum mengangguk ragu. Aku orang yang suka bepergian demi ilmu dan kebahagiaan, katanya. Sama saja, sambarku. Tidak, jawabnya tak kalah cepat. Aku bekerja untuk perpustakaan pribadiku di Greenwich, imbuhnya.

Perpustakaan? Aku sangat tertarik dengan perpustakaan. Terdengar sangat beradab. Maukah kau mengajakku ke sana, pintaku. Ia melipat daging dahi. Kau sungguh-sungguh, tanyanya seolah tak percaya. Aku mengangguk yakin. Baiklah, katanya. Tapi ada syarat, lanjutnya sembari menarik kedua ujung bibir melengkung ke atas. Aku tak sabar mendengarkan syarat yang ia ajukan. Ia kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar dan lebih lama.

Biarkan aku yang memimpin pengembaraan ini....

Satu bulan?

Itu sudah paling lama.

Baiklah.

Maka, bakda mendapatkan enam ekor burung murai lalu menyimpannya dalam bakul anyaman yang kubawa, ia jelaskan jalur pengembaraan. Aku menurut saja. Kami mulai mendaki bukit-bukit yang merupakan batas kekuatan kompeni. Bukit-bukit yang ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi.

Dusun pertama di balik bukit bernama Kalubak. Dusun ini terletak di tepi Sungai Musi. Kami kembali berburu murai di sini. Alangkah senangnya ia. Selanjutnya, kami menuju Kapiyong dan Paramu. Di kedua tempat ini, penduduknya mengirimkan hasil ladang ke Palembang melalui perahu-perahu dari Ogan Komering. Sebenarnya, kami ingin menumpang salah satu perahu (seperti apa nian pemandangan sepanjang anak Sungai Musi?), namun karena rasa letih mulai menyerang, kami membatalkan niatan itu.

Kami rehat di Tabat Bubut pada tanggal 10 Oktober. Ia sempat mengutarakan pendapatnya tentang daerah sekitar Sungai Musi. Dari tanahnya yang berwarna hitam malam, daerahmu benar-benar subur, ujarnya seolah-olah pakar tanah.

Pada tanggal 11 Oktober, kami hendak melintasi perbukitan dan menuju Ranna-Lebar. Tetapi kami tersesat di hutan. Perjalanan kami pun melenceng. Kami tiba di Beyol Bagus, sebuah dusun yang masih dalam kekuasaan kompeni. Kami sempat sarapan kepar--demikian penduduknya menyebut ubi jalar--yang direbus. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Raja. Sebagian perjalanan dilakukan menyusuri Ayer Bagus, anak Sungai Bengkulu. Dasar sungai ini terbentuk dari batu-batu besar. Sungai ini melewati daratan yang ditutupi rimba. Di sini, Charles mengucapkan banyak terimakasih. Ia sudah puas, rupanya. Ia ingin menikmati perjalanan sendirian sebagaimana aku--yang lagi-lagi katanya--mungkin juga ingin kembali ke Lubuklinggau. Aku akan ke Bentiring, katanya. Burung-burung murai itu untukmu saja, lanjutnya sembari nyengir.

Dengan apa kau akan ke sana, tanyaku seolah-olah mencemaskannya.

Aku selalu menggunakan jalur ini, katanya sembari menunjuk sungai yang berkelok.

Aku sempat memicingkan mata--memastikan kesahihan kata-katanya--sebelum ia mengajakku masuk rimba di tepi sungai. Kami menebang bambu dan menebas akar beringin yang menjuntai. Kami mengikat bambu-bambu dengan akar beringin itu. Kami membuat rakit. Aku kagum kepadanya. Tak pernah terpikir olehku, aliran Sungai Gunung Raja akan membawanya ke Bentiring.

Matahari, angin, dan lambaian pohon-pohon, adalah kompas yang paling mujarab, katanya seolah menjawab pertanyaanku tentang penunjuk arah apa yang ia bawa.

Bambu sepanjang enam depa ia jadikan kayuhan. Setelah mengucapkan "sampai jumpa", ia lajukan rakit meninggalkanku yang termangu. Aku tak tahu apa yang sebenarnya baru saja kualami. Siapa nian si Charles itu. Mengapa aku sangat baik hati; menemani pengembaraannya hampir satu bulan lamanya. Mengapa pula aku... o, aku baru ingat. Ya, ketika punggung Charles ditelan kelokan sungai, aku baru sadar bahwa ia belum memberitahu kapan aku akan diajak ke negerinya. Apakah ia lupa dengan kesepakatan itu? O tidak! Aku tiba-tiba merasa diperdayai. Kuputar kepala. Menoleh kudaku. Aku cemas bila perbekalanku diambilnya. Ternyata semua masih utuh. Ah, aku makin bingung!

Aku pikir Charles takkan mengingatku lagi. Namun, dua minggu kemudian, kehadiran seorang kurir di beranda rumah panggungku, membuyarkan dugaan itu. Ia menyerahkan gulungan daun lontar sebelum pergi. Kubuka lamat-lamat. Tiba-tiba jarak antardegup jantungku makin rapat. Ah, mengapa aku jadi berlebihan seperti ini. Ya, Tuhan! Dari Charles. Charles Miller, demikian tertulis di sana. Ia masih mengingatku... bagaimana bisa? O.... Minggu depan ia akan ke Lubuklinggau. Ia memintaku menunggu di dekat rumah pesirah di simpang jalan menuju kabupatenan.

Aku terpaku. Terharu. Bahagia yang sangat. Aku bukan membayangkan seperti apa perpustakaannya, atau memastikan Greenwich itu di Belanda atau di Inggris. Aku membayangkan perjalanan panjang yang membahagiakan dengan seseorang yang gagah seperti Charles. Ya, perasaanku pernah berkebat-kebit seperti ini ketika menanti saat-saat perjumpaan dengan kekasihku dahulu, Morgan Mist, sebelum kami kedapatan tengah bergumul di rimba Selangit. Kompeni tak pernah menenggang hubungan sejenis--walaupun aku pernah menangkap basah Van de Trecht, komandan di gugus Sumatera Bagian Selatan, sedang menyodomi seorang bocah pribumi di belakang pabrik gula Meneer Lock.

Waktu itu Morgan berteriak menyuruhku pergi jauh. Sendirian ia menghadapi dua kompeni bersenjata itu. Aku tahu, ia takkan menang. Ia hanya bermaksud merepotkan mereka agar jejakku tak sempat terendus. Tiba-tiba terdengar bunyi desing di udara. Ya, Morgan rela mati demi menyelamatkanku. O.... waktu itu kuobrak-abrik rimba dengan airmata yang ruah di wajah.

Sejak itu aku memutuskan menjadi pengembara sembari berdoa, suatu waktu Tuhan akan mengirimkan Morgan yang baru untukku. Dan berlebihankah bila kukatakan, tampaknya Tuhan baru saja mengabulkannya?

ENTAH bagaimana harus kukhatimahi. Yang terang, ia tak pernah datang. Atau masa lalu memang enggan mengirimnya kepadaku? Aku yakin, ia pernah mati-matian merayu Izrail agar menunda tugasnya untuk beberapa waktu. Dan itu dilakukan bukan karena hidup yang terlanjur ia nikmati, namun karena belum tertunainya sebuah janji, mengajakku menyinggahi negerinya suatu hari.

O ya, aku juga sudah malas berdoa agar Tuhan mengirimkan Morgan yang baru, o, bukan, maksudku, Charles yang baru....

Tentang Hari Tua

Cerpen Ragdi F. Daye
imuat di Majalah Sabili, edisi no. 11 th. XVIII 20 Januari 2011

Lelaki tua itu, Gaek Rusin, tidak datang shalat berjamaah ke masjid. Meski begitu, shaf depan paling tepi selalu kosong satu sebab orang-orang tetap berpikiran bahwa Gaek pasti datang, mungkin saja dia terlambat karena suatu halangan. Bila shaf pertama itu telah penuh�maksudnya kecuali satu tempat kosong untuk Gaek, dan biasanya amat jarang terjadi�orang-orang yang terlambat menjadi makmum lebih memilih membuat shaf baru daripada mengambil alih tempat yang telah disediakan untuk Gaek Rusin. Tetapi sampai imam mengucapkan salam, Gaek Rusin tak juga datang.

�Ada apa?� Seseorang bertanya.

�Mungkin Gaek sakit.� Sahut yang lain tidak yakin.

Beberapa orang yang lain menyangkal sebab masih melihat Gaek bekerja di ladang.

�Biasanya Gaek tak pernah absen.�

Orang-orang kampung yang baru selesai menunaikan shalat Isya berjamaah sama-sama heran dengan kenyataan itu. Biasanya Gaek Rusin adalah jamaah tetap yang selalu datang ke masjid bagaimanapun keadaannya; hujan, panas, mati lampu, air mati, atau badannya demam, batuk-batuk, pilek... Tubuh tuanya yang masih kuat karena selalu bekerja di ladang tak akan dilupakan orang. Bersarung bugis, baju gunting cina warna putih, dan kopiah hitam pudar di kepala. Gaek Rusin terpatah-patah bila bicara, tetapi bila bertahlil suaranya nyaring dan fasih, merintih sedih membuat orang-orang terhanyut dalam zikir.

�Laa ilaaha illallah! Laa ilaaha illallah! Laa ilaaha illallah!� Kepalanya akan bergoyang kiri-kanan yang akan diikuti anak-anak dengan tergelak-gelak riang.

Gaek Rusin tak datang-datang lagi ke masjid untuk sembahyang, tepatnya setelah Haji Karim meninggal dan dishalatkan setelah shalat Jumat. Gaek ikut menjadi makmum, namun Magribnya dia tak muncul, Isya juga tidak, Subuh esoknya pun tidak, juga Magrib esoknya, Isya esoknya, Subuh lusanya... beberapa hari kemudian Gaek Rusin ditemukan telah beku di ladang.

*

Tentu saja, Gaek Rusin tidak secara tiba-tiba saja mati dan tercampak di ladang. Sebelumnya dia telah sering bercerita banyak dengan istrinya yang bagi orang perasa akan dianggap sebagai isyarat kepergian. Istri Gaek memang ada mengira begitu, namun dia tak terlalu mempersoalkan, sebab baginya keajaiban apalagi yang paling masuk akal terjadi atas diri seseorang yang telah usang usia selain kematian?

�Aku telah menanam durian sebatang lagi.� Beritahu Gaek suatu malam sepulang dari masjid pada sang istri yang juga sudah tua. �Fauzi suka sekali buah durian. Kau ingat ketika dulu dia pernah mendemam dua hari dua malam gara-gara kebanyakan makan durian dengan ketan?� Gaek terkekeh-kekeh sampai tersedak. Giginya tanggal hampir semua.

�Iya, engkau terlalu memperturutkan maunya, sudah jelas dia habis makan rambutan banyak-banyak. Tak tahulah aku kalau dia sampai makan buah manggis pula, mungkin tak akan pernah dia menjadi pejabat...�

�Di dekat banda garosong telah kutanam empat batang alpukat, itu buat Azra.�

�Ohya? Dia memang berhantu benar pada alpukat, itu yang membuat otaknya pintar.�

�Tapi alpukat membuat mata mengantuk.�

�Tapi nyonya-nyonya sekarang dan anak-anak gadis menjadikannya lulur untuk kecantikan.�

�Kau dulu juga memakainya?�

Istri Gaek menepuk pipi lelaki tua itu yang sudah lisut.

�Untuk Zulkifli telah kutanam ampalam di dekat kolam. Dia suka sekali yang masam-masam.�

�Tapi ladang itu sudah penuh.�

�Biar saja.�

�Tapi durian, alpukat, dan palam-palam yang sebelumnya ditanam buahnya sudah melimpah tak termakan.�

�Biar saja.�

�Lalu untuk Imah?�

�Hahaha, dia anak perempuan. Kutanam batang surian untuknya.�

�Batang surian? Itu tak bisa dimakan.�

�Buat bantu-bantu kayu api dan pembuat kasau rumahnya.�

Istri Gaek Rusin tersenyum kecil. �Apa yang kautanam untukku?�

�Untukmu?�

�Ya.� Perempuan itu memilih-milih rimah nasi yang tercecer di lapik pandan. �Kunyit, sipadeh, langkuweh, serai, ruku-ruku, dan daun salam lagi untuk masak sambal buatmu?�

�Ya, ya, tentu. Kau sudah lama tak membuatkanku sampadeh limbek.. ceps...ceps.. ceps..� Gaek berdecap-decap. �Nanti akan kucoba menahan lukah di bawah titian, untung-untung masih ada ikan limbek di sana.�

�Jadi benar, hanya itu yang kautanam untukku?�

�Tentulah, Rubana Sayang, Anak Rang Kayo Gadang dari Parak Gadang.� Gaek Rusin terkekeh-kekeh. Istrinya merajuk. Cemberut. Gaek Rusin menyungkupkan kain lap tangan ke kepala istrinya, membuat perempuan gemuk keriput itu merentak-rentak dan Gaek tertawa makin riang. �Oho, tenang! Aku telah menyiapkan sepetak tanah di ladang. Telah kutanami sekelilingnya bunga tanjung dan batang-batang jarak serta puring emas. Untuk kita.�

Air mata istrinya seketika berderai. �Tapi Zulkifli tak pulang-pulang. Juga Fauzi dan Azra. Halimah pun tak pernah mencogok.�

Gaek Rusin kontan termenung.

�Kalau aku yang mati dulu, syukurlah, ada engkau yang akan mengurus. Tapi bila engkau yang dulu, siapa yang akan menyalatkan?�

*

Dan kemudian di wajah Gaek Rusin hanya ditemukan mendung. Tak terdengar lagi dia bertutur dengan bersemangat tentang kisah-kisah dalam Tambo atau pengalaman serunya di masa Bagolak. Gaek jadi sering tercenung. Bisu mematung. Setiap akan berangkat ke ladang, sikapnya seperti orang yang akan pergi tak kembali. Raut risau dan tertekan. Bila pulang dari ladang dia begitu jerih seperti baru selesai kerja rodi.

Puncaknya adalah Jumat itu sepulang mengantar jenazah Haji Karim ke pandam pekuburan. Mukanya pias berkabung. Dia tak ke ladang sore harinya. Hanya termenung di belakang rumah. Menatap kosong batang-batang jambu paraweh dan saus yang buahnya berjatuhan terbuang. Tak ada lagi anak-anak yang bergelayut berebut buah-buah ranum. Di seruas dahan jambu ada seutas tali sisa ayunan puluhan tahun silam.

Gaek Rusin terkenang lengking tawa anak-anaknya. Ayunan yang berkelebat. Bedil-bedil pelepah pisang. Semburan biji jambu paraweh. Ribut pertengkaran. Cekikik Halimah dan Azra mandi hujan. Fauzi yang suka bernyanyi dendang sambil memanjat dari cabang ke cabang. Zulkifli yang pernah diikatnya di pangkal batang saus karena ketahuan mencuri uang...

Istri Gaek Rusin telah berdiri di belakang lelaki tua itu dengan tak kalah murung. Gaek Rusin tahu tapi tetap menatap ke depan. �Tadi anak Haji Karim yang menjadi imam.�

Istrinya menghela napas. �Aku telah minta tolong pada Roby anak Si Tini untuk menulis surat pada Fauzi, Azra, dan Zulkifli, juga Halimah. Aku menyuruh mereka pulang.�

*

Bukankah telah belasan atau berpuluh kali mereka mengirim surat dengan bantuan anak-cucu tetangga? Hasilnya nihil. Jangankan batang hidung mereka, surat balasan pun tak tiba. Mereka telah pergi seperti batu jatuh ke lubuk. Hilang.

Setelah shalat Subuh yang begitu lama di lantai rumah disertai air mata, Gaek Rusin pamit pada istrinya pergi ke ladang. Istrinya memasukkan botol air minum ke dalam tas pandan rajutan beserta pisang rebus, tetapi Gaek menolak.

�Hari ini aku puasa,� Katanya.

Pagi remang-remang. Dua orang tua saling memandang.

�Jadi kau antarkan beras dan uang zakat kepada garin masjid?�

Istri Gaek Rusin mengangguk.

�Durian Fauzi yang dekat pagar telah berbunga kembali...�

Istri Gaek Rusin menekur.

�Di dahan ampalam telah bisa dipasang buaian...�

Istri Gaek Rusin menyusut ingusnya yang meleleh dari hidung.

�Ladang kita begitu subur dan indah.�

�Aku akan membuatkan sampadeh untukmu.� Istrinya berbalik ke dapur. �Janganlah pulang terlalu petang.�

*

Petang sebelum matahari hilang, seorang penjerat burung menemukan Gaek Rusin telah beku di dekat sebuah lubang di ladang yang dikelilingi anak bunga tanjung, batang jarak, dan puring-puring emas yang belum lama ditanam.[*]

Kamis, 06 Januari 2011

Tedong Bonga untuk Nenek

Cerpen Sri Lestari (Tary)
Pemenang 2 Lomba Cerpen Femina 2010

Aku memeluk kepala tedong bongaku untuk terakhir kalinya. Bulu-bulunya yang putih dan halus menyentuh pipiku. Kuelus sejenak lehernya dan kupandangi penampilannya yang gagah siang ini. Mengenakan kalung dari bulatan-bulatan kayu yang dijalin rapih dan kain merah berumbai kuning yang diikatkan di kedua tanduknya, ia sangat tampan. Matanya yang hitam menatapku lalu mengerjap perlahan, seolah ingin mengatakan salam perpisahan.

�Kau tampan, sudah�� bisikku di telinganya.

Ia mengibaskan ekornya lalu menekankan moncongnya lembut ke lenganku. Biasanya, setelah itu ia akan berlari memutari tubuhku. Tetapi ikatan di simbuang kali ini tidak mengizinkan ia berlari dengan bebas seperti yang selalu ia lakukan setiap kali aku memujinya.

Seorang lelaki menepuk pundakku. Aku berbalik dan dadaku berdesir saat melihat la bok duatalan di tangan lelaki itu. Tiba-tiba aku ketakutan. Dalam beberapa tahun terakhir, tangan berotot lelaki itu sudah menebas delapan ribu tedong. Semua pengunjung selalu puas melihat atraksinya menebas leher-leher tedong. Sigap dan tepat. Dalam sekali tebas, kepala tedong langsung terlepas dari lehernya dan menggelinding di halaman upacara kematian.

Dan sebentar lagi, lelaki ini akan menebas leher tedong bongaku.

Sekali lagi aku mengelus kepala tedong bongaku sambil berbisik,� Selamat jalan, sudah. Kita pasti bertemu lagi di puya.�

Tedong bongaku melenguh lirih sambil menatapku tenang. Aku tak melihat ketakutan sedikitpun melintasi mata hitamnya. Apakah ia sudah siap menjadi kendaraan nenek menuju puya? Lelaki itu memberiku isyarat untuk menepi. Mataku memanas ketika lelaki itu menuntun tedong bongaku menuju pelataran upacara. Orang-orang berdiri mengelilingi pelataran upacara dengan wajah antusias. Anak-anak memegang bambu dan menunggu. Dadaku berdebar kencang saat la bok duatalan di tangan kanan lelaki itu mengayun cepat dan dahsyat menebas leher tedong bongaku. Darah muncrat bagaikan pancuran. Sebelum tedong bongaku roboh, anak-anak berebut mencolokkan bambu ke lehernya untuk menadahkan darah.

Pandanganku mengabur. Sebelum duniaku gelap, aku melirik Mama duduk tegak di antara delapan saudaranya yang lain. Mama mengangguk padaku sambil tersenyum bahagia.

***

�Lai, badanmu panas dan wajahmu pucat. Kau sakit?� tanya Mama sambil menempelkan telapak tangannya di keningku.

Aku hanya diam. Upacara rambu solo nenek masih berlangsung dua hari lagi, tetapi aku tidak kuat mengikuti rangkaian upacara itu. Badanku lemas dan dadaku selalu berdebar kencang setiap mengingat tedong bongaku.

�Makan, sudah�� bujuk Mama sambil menyodorkan sepiring nasi dengan lauk pa�piong.

Aku melotot melihat pa�piong yang bambunya sudah terbuka. Apakah daging pa�piong itu daging tedong bongaku? Ada nyeri yang menelusup ke dadaku. Nyeri itu berubah menjadi bara yang membakar setiap aliran darahku. Aku tidak mungkin memakan daging tedong bongaku! Bagaimana mungkin mama memberikan daging itu padaku untuk kumakan? Bukankah mama tahu aku sangat menyayanginya?

�Makan, sudah�� ulang mama sambil menganggukkan kepalanya.

Aku menatap mata mama yang menyorot teduh. Kata-kata sepupuku yang nyinyir terngiang lagi di telingaku, �mamamu ingin dapat warisan paling banyak, karena itu dia mengorbankan tedong bonga kesayanganmu. Kasihan sekali orang miskin seperti kalian, berharap-harap warisan.�

�Makan sendiri kalau kau ingin makan, mama akan bantu beres-beres di rumah nenek.�

Saat mama beranjak dari tepi pembaringan, aku menyambar tangannya. Mama kembali berbalik dan menatapku. Matanya penuh tanda tanya.

�Jadi mama menggadaikan tedong bongaku berapa?�

Mama terkejut. �Maksudmu apa, Lai?�

�Mama mengorbankan tedong bongaku untuk mendapatkan warisan paling besar dari nenek �kan? Karena tedong bongaku paling mahal! Lai tahu mama bosan hidup miskin. Tetapi kenapa mama harus menggadaikan tedong bonga Lai?�

�Lai? Mama tidak mengerti apa yang kau katakan.�

�Mama bilang ingin mengorbankan tedong bonga Lai untuk kendaraan nenek di puya! Tapi sebenarnya mama ingin mendapatkan warisan paling banyak!�

�Diam, sudah!� bentak mama dengan wajah memerah.

�Aku tak menyangka mama pembohong!�

Tiba-tiba tangan kanan mama menyambar wajahku hingga aku terjengkang. Mama menamparku! Darah di sekujur tubuhku semakin mendidih. Air mataku mulai mengalir membasahi pipi. Aku tak menyangka, mama melakukan ini.

�Kau harus belajar mendengar dengan baik, Lai�� suara mama terdengar seperti menggeram lalu pergi meninggalkanku.

Membayangkan mama mendapatkan bagian warisan terbesar dari tedong bongaku, dadaku sesak. Mendadak ada kekuatan yang membuatku bangkit dari pembaringan. Dengan langkah tertatih-tatih aku menuju lemari dan mengeluarkan sleuruh bajuku. Aku harus pergi!

***

Malam mengatupkan matanya yang lelah. Aku menggigil kedinginan saat membuka pintu. Kegelapan seperti barisan raksasa yang hendak menerkamku. Tetapi, tekadku sudah bulat. Aku ingin meninggalkan mama dan rumah ini. Aku belum tahu hendak melangkahkan kaki kemana. Tetapi seorang temanku yang menjadi calo tenaga kerja di Makale pernah bercerita tentang nikmatnya hidup di ibukota.

�Ke Jakarta, sudah. Wajah manismu akan mendatangkan rezeki,� kata temenku itu.

Apa benar wajahku mendatangkan rezeki? Dulu aku tidak pernah berpikir apapun tentang itu, tetapi sekarang aku mulai memikirkannya. Aku berharap tawaran temanku itu masih berlaku.

Angin malam menerpa tubuhku. Aku merapatkan jaket kusam yang kukenakan lalu menutup pintu. Mama belum pulang dari rumah nenek atau mungkin malam ini tidak pulang. Nenek memiliki banyak tanah dan harta. Pembagian warisan itu pasti membutuhkan waktu lama. Dadaku kembali bergejolak. Aku berjalan tergesa meninggalkan halaman, tetapi tiba-tiba aku mendengar suara lenguh yang khas. Mendadak aku menghentikan langkah.

�Bonga?� jeritku lirih.

Aku menoleh ke sana ke mari tetapi tidak menemukan apapun. Kutinggalkan tas pakaian di pojok halaman lalu aku berjalan menuju samping rumah. Sampai di depan kandang yang sekarang kosong aku berhenti. Apakah arwah tedong bongaku masih berkeliaran di sini? Bukankah ia telah mengantarkan nenek ke puya? Tetapi suara apa yang terdengar barusan? Aku sangat yakin suara itu adalah suara tedong bongaku.

Air mataku kembali mengalir. Aku terjatuh lemas di depan kandang. Kedatangan tedong bonga kecil bertahun-tahun yang lalu di kandang ini kembali memenuhi kepalaku. Waktu itu ayah baru saja meninggal. Berbulan-bulan aku sangat sedih kehilangan ayahku. Mama tak pernah bisa menghiburku lagi karena dia pun sedih kehilangan ayah. Kehidupan kami yang miskin semakin memburuk.

Kemudian nenek datang membawa bayi tedong bonga. Semua sepupuku iri melihat pemberian nenek padaku. Bagaimana tidak? Tedong bonga ini setelah besar nanti akan berharga ratusan juta rupiah! Semua orang akan berebut untuk mendapatkannya. Jika tedong bonga ini dikorbankan, ia akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya bagi orang yang telah mati. Dan nenek memberikannya kepadaku! Tetapi aku memahami alasan nenek.

�Tedong bonga ini sangat manis. Ia akan menghibur kesedihanmu. Tersenyumlah, sudah,� kata nenek seraya mengambil tanganku untuk mengelus punggung bayi tedong bonga itu dan tersenyum padaku.

Aku memeluk bayi tedong bonga itu dan merasakan kehangatan tubuhnya. Ia melenguh lirih lalu menatapku dengan pandangan bersahabat. Sejak pertama menyentuh tubuhnya, aku menyukainya. Di sudut halaman, aku melihat mata mama berkaca-kaca.

�Kalau bonga besar nanti, apa aku harus mengorbankan dia untuk seseorang, nek?� tanyaku.

Nenek tersenyum dan menghela nafas. �Lai, hidup bonga akan berarti jika ia dikorbankan. Tetapi itu juga tergantung keikhlasanmu. Jika kau tidak ikhlas mengorbankan bonga, lebih baik tidak kau lakukan. Tetapi jika kau ikhlas, bonga akan menjadi kendaraan terbaik menuju puya. Dan dia juga akan mendapatkan tempat yang baik di puya.�

Aku mengangguk-angguk mengerti.

�Jangan berpikir itu dulu, Lai. Rawatlah bonga. Semoga ia bisa menghiburmu dan kalian menjadi sahabat yang baik,� lanjut nenek.

Kami memang ditakdirkan menjadi sahabat. Sejak kehadiran tedong bonga yang lucu itu hari-hariku kembali berwarna. Mama senang melihatku kembali ceria. Perlahan-lahan aku bisa melupakan kesedihanku di tinggalkan ayah. Setiap hari aku mengajak bonga jalan-jalan mencari rumput, memandikannya di sungai dan bersama-sama melihat matahari tenggelam. Setelah bonga besar dan kuat aku sering menungganginya sambil bermain. Kami seperti memahami bahasa masing-masing. Setiap aku merasa sedih, bonga akan mengusap-usapkan moncongnya ke lenganku. Begitu juga saat bonga sakit, aku akan mengusap-usap kepalanya sambil mendengarkan lenguhan-lenguhan kesakitannya.

Aku dan bonga tumbuh bersama. Tetapi hari-hari tak selamanya indah. Banyak yang iri atas persahabatan indahku dengan bonga. Hal-hal buruk harus kami hadapi. Sepupu-sepupuku yang jahat itu sering menyakiti bonga. Mereka tidak bisa menerima kenyataan nenek memberikan bonga padaku.

�Hei orang miskin! Kamu tidak pantas memelihara tedong bonga itu. Pasti besok dia mati sudah!� ejek mereka saat aku mengajak bonga mencari rumput.

Dan esoknya bonga benar-benar sekarat. Aku menangis ketakutan tidak tahu harus berbuat apa. Untunglah mama sangat cekatan menangani masalah ini. Mama memberikan bonga ramuan dari daun-daunan. Beberapa jam kemudian bonga sembuh seperti sedia kala. Menurut mama, bonga keracunan. Ada orang yang telah memaksa bonga untuk minum racun itu. Aku geram mendengar kata-kata mama. Kejadian itu berlangsung beberapa kali, tetapi bonga bisa lolos dari maut.

Sampai kemudian hari itu datang. Nenek meninggal dan semua keluarga sepakat mengadakan pesta kematian rambu solo setahun kemudian. Aku melihat mama sangat kebingungan. Semua saudaranya kaya-raya dan dengan mudah bisa membeli tedong di pasar meskipun tidak sekelas tedong bonga. Tetapi, mama memang tidak memiliki uang sedikitpun untuk membeli tedong atau babi korban. Aku tak sampai hati melihatnya kebingungan.

�Mama bisa mengorbankan bonga kalau mau�� kataku ragu-ragu.

Mama menggeleng. �Tidak lai. Bonga itu sahabatmu.�

�Tidak apa Ma, mungkin hidup bonga lebih bermanfaat kalau di korbankan. Lagipula bonga itu pemberian nenek,� lanjutku berusaha meyakinkan mama dan diriku sendiri.

Mama menatapku lama. Ia mencari keyakinan dari kata-kataku.

�Kau yakin akan mengorbankan bonga?�

Dan aku mengangguk. Pasti.

Lalu apa yang kusesali sekarang? Bukankah aku sendiri yang mengorbankan bonga untuk upacara kematian nenek? Kenapa aku menyalahkan mama? Aku hanya tidak ingin hati mama tergoda warisan nenek sehingga langkah bonga tersesat tidak sampai ke puya. Dan kenyataannya mama memang tergoda!

Air mataku kembali mengalir.

�Maafkan mama, Lai��

Suara itu mengejutkanku. Aku berbalik dan melihat mama berdiri di belakangku menjinjing tas pakaianku. Pipi mama basah oleh air mata. Aku tercekat melihat wajah mama yang tua dan menderita.

�Mestinya mama tidak mengorbankan bonga karena akan membuatmu sedih. Mestinya mama membeli satu babi saja.�

Aku masih diam menatap mama.

�Warisan itu sudah dibagi-bagi. Mama memang mendapatkan warisan paling banyak karena bonga harganya paling mahal. Tetapi mama tidak mengambil warisan itu. Lebih baik mama tetap miskin daripada harus kehilanganmu.�

Aku terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan bersalah merambati dadaku. Kulirik tas pakaian di tangan mama dan aku merasa malu. Seumur hidupku, mama selalu memberikan cintanya padaku. Selalu ingin membuatku bahagia. Tetapi aku telah menuduhnya menginginkan warisan itu. Tidak tahan dengan rasa bersalah, aku berlari menubruk mama.

�Maafkan Lai, mama. Maafkan Lai.�

Mama terisak. Tangannya mengusap rambutku lalu menenggelamkan aku dalam pelukannya yang hangat. Dari kejauhan samar-samar aku seperti mendengar suara orang melakukan ma�badong. Di antara ibu-ibu yang bersedu-sedan dan pria-pria yang berteriak penuh semangat, aku melihat nenek mengendarai tedong bongaku dan melambai kepadaku.

Wajah keduanya tampak berseri-seri!

***


Daftar Istilah Tana Toraja :

1. Tedong Bonga : Kerbau belang yang harganya ratusan juta untuk upacara kematian.
2. Rambu Solo : upacara kematian Tana Toraja.
3. Pa�piong : makanan khas Toraja yang dibungkus bambu.
4. La bok duatalan : parang untuk menebas kerbau.
5. Puya : nirwana, surga.
6. Ma�badong : lagu-lagu yang dinyanyikan dalam upacara kematian untuk mengenang jenazah.

Air Keramat

Cerpen Zaenal Radar T
Dimuat di Republika, 02 Januari 2010

Sebuah makam milik seseorang yang dianggap leluhur hendak dibongkar oleh orang-orang dari dinas pekerjaan umum karena akan terkena proyek pembangunan jalan tol. Ketika makam digali, air muncrat dari sisi dalam tanah makam. Air itu terus mengalir tiada henti, seperti air pancuran yang keluar dari mata air pegunungan. Entah kenapa air itu menyembur begitu melimpah sehingga warga antre mengambilnya dan meyakini bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan.

"Saya yakin ini bukan air sembarangan! Ini air keramat!"

"Makanya, saya mau minta buat anak saya yang perawan tua, supaya cepet-cepet kawin!"

"Saya juga mau meminumnya, siapa tahu cepet dapet kerjaan!"

Demikianlah. Semua warga berbondong-bondong memanfaatkan air yang keluar dari dalam makam tersebut. Meskipun belum terbukti kemanjurannya, warga berlomba-lomba mengambil air yang dianggap keramat.

Lama kelamaan, berita keluarnya air keramat dari dalam makam menyebar. Semakin banyak saja warga yang berdatangan. Mereka membawa botol mineral kosong, jeriken, bahkan ada yang membawa ember.

Ketika pihak dari dinas pekerjaan umum hendak melanjutkan menggali makam itu, warga pun protes. Mereka tak ingin makam itu dibongkar. Dengan keluarnya air dari dalam makam itu, mereka semakin yakin bila makam yang hendak dibongkar itu makam keramat, makam yang harus dijaga. Sementara pihak dinas pekerjaan umum harus segera membongkar makam karena pembangunan jalan tol terganjal oleh keberadaan makam yang dianggap keramat itu. Adu argumentasi pun tak bisa dihindari.

"Maaf bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Atas kesepakatan para tokoh masyarakat, makam ini kami bongkar untuk kami pindahkan, bukan dibongkar begitu saja. Nanti akan kami buatkan makam yang lebih bagus lagi!" seru salah seorang wakil dari dinas pekerjaan umum.

"Kami tidak mau tahu, Pak! Pokoknya makam ini jangan dibongkar!"

"Makam ini keramat. Kalau dibongkar, kita semua bakalan kena sial!"

"Kita ini bangsa apa sih? Seharusnya bangsa yang baik itu bangsa yang menghargai jasa leluhurnya. Ini adalah makam leluhur kita. Harus dijaga dan dilindungi!!"

"Mari kita pertahankan makam ini, agar tidak perlakukan dengan semena-mena!! Allahu Akbar ...!!"

"Allahu Akbar ...!!!"

Setelah terdengar takbir, warga semakin semangat merangsek para pegawai dinas pekerjaan umum untuk menyingkir dari lokasi makam. Sementara warga yang sibuk meminta air yang dianggap keramat semakin banyak berdatangan. Mereka ternyata berasal dari berbagai pelosok daerah. Rupanya mereka tahu berita adanya air muncrat dari makam keramat bukan hanya dari mulut ke mulut, melainkan karena beberapa stasiun televisi mulai menyiarkannya. Bahkan, ada salah satu stasiun teve yang membahasnya dengan siaran langsung.

"Aneh bin ajaib, pemirsa. Dapat kami laporkan, sebuah makam yang dinyatakan sebagai makam leluhur oleh warga mengeluarkan air saat hendak digali," reporter televisi sibuk di depan kamera. Reporter tersebut mendekati beberapa warga yang telah berhasil mengambil air yang keluar dari dalam makam.

"Baik pemirsa, berikut ini akan kita dengarkan apa pendapat warga tentang air yang dianggap keramat oleh warga," reporter televisi kini menyorongkan mik ke arah salah seorang perempuan setengah baya pemegang botol mineral yang sudah diisi oleh air dari dalam makam.

"Bu, air ini buat apa?"

"Ini untuk bapak saya yang sudah lama lumpuh. Buat obat."

"Ibu percaya air ini mampu menyembuhkan bapak?"

"Ya, percaya enggak percaya, sih? Namanya juga usaha. Berobat ke dokter mahal soalnya. Jadi, coba-coba aja pake air keramat ini," ujar perempuan itu polos.

Lalu mik reporter bergeser pada lelaki paruh baya di sebelahnya. Lelaki ini memegangi jeriken yang sudah penuh.

"Kalau bapak, air keramat ini untuk apa?"

"Buat minum."

"Buat minum? Supaya apa Pak?"

Ini benar-benar pertanyaan tolol. Ternyata, tidak semua reporter televisi pintar.

"Supaya enggak haus!"

Reporter menelan ludah. Si lelaki langsung ngeloyor. Lalu, reporter kembali menatap kamera sambil menutup acara. Beberapa warga mendekat ke belakang reporter dengan harapan bisa tertangkap gambarnya. Di antara mereka melambai-lambaikan tangan ke arah kamera.

Karena orang-orang terus berdatangan, salah seorang warga berinisiatif membuat tempat parkir kendaraan. Setiap sepeda motor atau mobil yang datang diberikan karcis tanda masuk. Areal makam pun dibuatkan pagar pembatas agar orang bisa mengantre dengan tertib. Sebuah kotak amal dibuat dan diletakkan di dekat pintu masuk. Di sisi kotak ditulis, "AMAL MAKAM KERAMAT, SEIKHLASNYA".

Beberapa hari kemudian, makam keramat semakin ramai dikunjungi orang. Tempat parkir motor diperluas karena tak mampu menampung kendaraan. Kotak amal yang diletakkan di pintu gerbang makam disingkirkan, berganti dengan tiket tanda masuk makam. Setiap warga yang datang harus membeli tiket terlebih dahulu.

Sobrak, lelaki setengah baya yang bertugas menjaga tiket senang sekali karena belakangan ini hidupnya berubah makmur. Gobang, yang menjadi penanggung jawab lahan parkir juga begitu. Uang mereka bagai meluap, seperti air keramat yang mengalir dari dalam makam. Namun, kemakmuran Sobrak dan Gobang tidak disukai oleh beberapa warga sekitar, yang menganggap keduanya memanfaatkan situasi. Akan tetapi, dengan seperak dua perak, warga yang protes mampu disumpal. Ternyata, uang bisa menutupi mulut manusia.

Suatu hari, petinggi dari dinas pekerjaan umum dan beberapa tokoh masyarakat kembali datang ke makam. Mereka hendak meyakinkan warga agar tidak menganggap air yang mengalir di sekitar makam itu dianggap keramat.

"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian, air yang mengalir dari dalam makam sesepuh ini air biasa-biasa saja. Air ini keluar, seperti kita menggali sumur!"

"Tapi Pak, kami yakin ini air keramat! Soalnya, air ini keluar dari dalam makam yang baru beberapa meter digali!"

"Betul Pak!! Sumur di sekitar makam ini saja perlu delapan meter kalau mau keluar air!"

"Ini mukjizat, Pak!!"

"Sebaiknya, tokoh masyarakat jangan memihak pemerintah!! Pembangunan jalan tol ini tidak berarti apa-apa bagi kami! Kebanyakan warga cuman punya sepeda motor, sedangkan jalan tol hanya untuk pengendara roda empat!"

"Kalau memang terpaksa, jalannya dibelokan saja. Jangan sampai pembangunan ini justru merusak makam keramat!"

Semua warga terus berbicara. Mereka ingin meyakinkan petinggi dari dinas pekerjaan umum dan tokoh masyarakat serta perwakilan dari pemerintah untuk menggagalkan pembongkaran makam.

"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Pembangunan jalan tol diperuntukkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak yang diperoleh dari pengguna jalan tol itu dipergunakan untuk pembangunan! Selain itu, pembangunan jalan tol tak mungkin dibelokkan ke arah lain dengan maksud menghindari makam ini. Di mana-mana, yang namanya jalan tol itu lurus, enggak bengkok-bengkok!" kali ini yang bicara Pak Lurah, yang mulai senewen dengan tingkah warganya.

"Lho, Pak Lurah kok bukan mendukung warganya? Jangan-jangan Pak Lurah sudah disogok, ya...?"

"Pak Lurah payah!"

"Pak Lurah lupa sama leluhur sendiri!!" Pak Lurah terdiam dan tak lagi berkata-kata. Pak Lurah jadi seperti kura-kura yang disentuh kepalanya.

"Kalau memang kalian ngotot mau membongkar makam keramat ini, silakan hadapi kami!!"

"Bongkar saja kalau berani!! Kami siap mati! Kami siap zihad demi menjaga makam ini!!"

Warga semakin beringas. Para tokoh masyarakat, Pak Lurah, dan orang-orang dari dinas pekerjaan umum mengalah. Mereka akhirnya meninggalkan areal pemakaman diiringi koor ejekan para warga. Sobrak dan Gobang langsung mendekati warga sambil memberikan makanan untuk warga yang mempertahankan makam keramat.

Keesokan harinya Bapak Wali Kota datang diikuti oleh sejumlah pejabat daerah. Di antaranya terdapat Ustadz Markum, ustadz muda yang lumayan kondang dan disegani warga sekitar. Bapak Wali Kota dan rombongan disambut demonstrasi dan yel-yel oleh warga yang masih berada di sekitar makam. Mereka siap mengusir siapa saja yang hendak menggusur makam yang mengeluarkan air keramat. Tak peduli Wali Kota atau presiden sekalipun.

Ratusan satuan pamong praja tiba di sekitar makam. Mereka mengepung areal pemakaman.

"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian! Kita boleh saja beda pendapat, kita bebas saja marah, tetapi kami berharap kepala kita tetap dingin! Sesuai perintah dari pemerintah pusat, makam ini akan dipindahkan untuk kemudian diletakkan di tempat yang jauh lebih luas dan bagus lagi!"

"Tapi Pak, makam ini tidak mungkin dipindahkan. Dengan keluarnya air dari dalam makam, membuktikan bahwa makam ini memang benar-benar keramat!! Batalkan saja proyek pembanguan jalan tol itu!!"

"Allahu Akbar...!!!"

"Allahu Akbar...!!"

Ketika takbir sudah terdengar, semangat warga pun menggelegar. Ratusan satuan polisi pamong praja segera mengamankan situasi. Mereka menangkapi siapa saja yang hendak mempertahankan makam. Pertikaian pun tak bisa dihindari. Warga yang mempertahankan makam saling serang dengan satuan polisi pamong praja.

Saat yang bersamaan, datang beberapa petugas dari Perusahaan Air Minum (PAM) yang tengah bertugas sedang mencari-cari sumber kebocoran pipa yang baru terdeteksi. Langkah mereka terhenti oleh keributan antara warga dan satuan polisi pamong praja. Polisi pamong praja berhasil meredam keberingasan warga setelah mendapat bantuan tenaga dari satuan lain.

"Tenang saudara-saudara ... saya harap semua tenang!!"

Bapak Wali Kota yang baru saja mendengarkan informasi dari bawahannya, berdiri di depan semua warga yang sudah mulai reda.

"Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian. Tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap makam leluhur kita, pemerintah daerah akan tetap memindahkan makam tersebut. Selain itu, dapat kami informasikan bahwa air yang keluar dari dalam makam itu adalah air dari pipa PAM yang bocor!!"

Semua warga yang mendengarnya terbelalak. Semua saling tatap, lalu mereka menunduk malu. Kemudian Ustadz Markum berdiri di tengah-tengah warga,

"Saudarasaudara sekalian, ziarah ke sebuah makam itu dibolehkan. Nabi pun pernah menganjurkannya agar kita ingat pada kematian. Tapi, kita tak boleh berlebihan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik! Kita bisa musyrik!!"

Bapak Wali Kota mulai bernapas lega karena warga tak lagi marah,

"Sekarang, saudara-saudara sekalian saya harap membubarkan diri!!"

Semua warga pun menuruti perintah Bapak Wali Kota untuk membubarkan diri. Pembangunan jalan tol itu siap dilanjutkan kembali. Para pekerja dari PAM sibuk memperbaiki pipa yang bocor. Setelah pipa itu sudah diperbaiki, penggalian makam leluhur kembali dikerjakan. Makam itu akan dipindahkan ke lokasi yang sudah disediakan. Tetapi ajaibnya, ketika sebuah mobil pengeruk baru saja menggali, air kembali muncrat dari bagian makam yang lain. Pekerja PAM diminta untuk memeriksa apakah ada kemungkin kebocoran pada pipa-pipa mereka.

Setelah diselidiki, ternyata pipa air milik PAM baik-baik saja. Mereka bingung, dari manakah sumber air yang muncrat itu. Sampai seminggu lamanya, air dari dalam makam itu tetap mengalir. Airnya bening nan jernih. Aromanya wangi bak kesturi. Kejadian ini dirahasiakan. Semua warga meyakini itu kebocoran pipa PAM yang belum dapat diperbaiki. ***