Minggu, 31 Januari 2010

Percakapan Pengantin

Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Koran Tempo, 31/01/2010

Percakapan mereka adalah gayung bersambut sepasang hati yang marun merahnya. Percakapan yang mengetuk gendang telinga penduduk langit. Percakapan sederhana dari sebuah kampung yang tak tertitik dalam peta, tak tertilik oleh sesiapa, pun tak terbetik dalam kabar. Namun, bila para nabi dan istri mereka, para sahabat nabi dan istri mereka, para tabi'in dan istri mereka, juga para wali dan istri mereka kita lupakan, maka percakapan pengantin yang belum genap setengah hari itu adalah mantra paling mustajab dalam peradaban. Jadi, petiklah pelajaran berkasih yang menjuntai dari dahan keajaiban yang tumbuh dari pohon ketulusan yang mereka tanam.

Sepatutnya, perkawinan mereka adalah pertautan tak lazim. Oh, mereka sama-sama tulikah? Sama-sama pengkor kakinyakah? Sama-sama juling matanyakah? Tidak. Mereka tak berkekurangan serupa itu. Mereka masih dapat mendengar dengan jernih, berjalan tanpa sengal, dan melihat dengan terang. Mereka dapat saling meningkahi setiap tutur.

Ah, bila pun berpadunya hati mereka mengandung pikatan, siapa yang memedulikannya. Laki-laki tukang parang. Perempuan tukang ladang. Perihal apa yang layak dipicing untuk memaku mata pada perkawinan itu? Dua anak manusia yang memakai mulut jiran untuk menyambung undangan, baru menghelat cinta di hadapan penghulu, baru membongkar tarup di pekarangan rumah....

Maka, helat itu adalah perayaan yang jauh dari ingar-bingar sebuah perkawinan. Tetamu yang datang kurang dari seperempat undangan. Lebih ramai oleh anak-anak yang merincah. Bermain kejar-kejaran, menanti ayam kampung telanjang ditiris dari kuali, bergelak dengan mulut penuh remahan ubi jalar�. sebagian bapak-bapak dan ibu-ibu bagai bersepakat menajur rencana lain pada Ahad itu.

Ya, perkawinan sepasang yatim-piatu itu dilindas teriknya cuaca. Terpanggang sengat yang menudung bumi. Namun begitu, pantang mereka merunduk dagu, melumur asam di muka, apalagi menanak dengki di dada, pada tak seberapa orang yang datang. Gula-gula masih tertabur di sepasang katupan bibir, melengkung di bawah hidung yang bagai mengendus tabiat buruk orang-orang kampung....

"AH, aku bersyukur sekali, Dik. Teman-teman pandai besi banyak yang membantu hajatan tadi. Walapun kau tahu, mereka hanya tak enak hati melakukannya. Karena Kakak karib mereka dalam memanggang besi." Lelaki itu baru saja mengatup pintu kamar.

Mempelai wanita yang sedari tadi duduk di depan kaca, menoleh. "Aku mengerti, Kak," jawabnya setelah mendengar lenguhan napas suaminya barusan. Ah, kau pasti sangat lelah, batinnya.

Tak banyak memang yang membantu perhelatan mereka. Bahkan saat bemasak, satu hari menjelang perayaan perkawinan, hanya segelintir yang datang. Tak tampak pesirah--kepala puak, kadus, lurah, dan orang-orang kantor kecamatan--yang biasanya membuka acara dengan sambutan-sambutan.

"Inilah nasib orang tak bersanak. Di tengah orang-orang kampung pun, kita bagai tak punya nasab kerabat." Laki-laki itu sudah berdiri di belakang istrinya. Matanya menatap mata perempuan itu yang terpantul di cermin.

Perempuan itu balas menatap, juga dari pantulan cermin. "Bila saja, aku tak pernah menangkap basah ibu-ibu tengah mengundang orang-orang di hajatan anaknya, mungkin aku takkan pernah mencecap lemaknya gulai umbut."

"Kau sangat suka gulai umbut, Dik?" Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya. Kali ini ia tatap langsung mata istrinya.

"O, bukan. Bukan itu maksudku, Kak!" Perempuan itu buru-buru membuang muka. Tampaknya ia belum terbiasa diperangkap mata lelaki. "Mereka mengundangku hanya menenggang, sama seperti kawan-kawan pandai besimu itu...."

"Lalu?" Laki-laki itu menepuk kecil bahu istrinya.

Perempuan itu berjalan menuju kelambu. Menyingkapnya. Duduk di tepi ranjang. Suaminya mengikuti. Kini mereka hampir berhimpitan. Hanya terluang setengah lengan jarak mereka kini.

Perempuan itu menatap mata suaminya. "Inilah nasib hidup tak berbapak, tak beribu, Kak. Bagaimana akan kita diundang orang dalam hajatan, bila orangtua sudah ditanam ketika kaki belum lunas melangkah?"

Laki-laki itu mengangguk, bagai memersilahkan istrinya meneruskan kata-katanya.

"Ah, budi memang harus dibalas budi. Madu jua harus dibalas madu...." Mata perempuan itu basah.

"Jangan sedih, Dik!" Laki-laki itu menyeka mata istrinya. "Malu pada Tuhan. Buruk alamatnya, bila di malam punai, mata kita berinai-rinai."

"Malam punai?" Perempuan itu mengenyitkan dahi. "Apanya yang punai, Kak, bila jemari kita pun tanpa inai? Aku pun tak tahu mengapa ladangku terpisah jauh dari ladang-ladang yang lain. Kakak tahu kan, hanya beberapa orang yang membantuku menugal tahun ini. Itu pun harus diupah segera bila serombongan padi bunting itu mulai merunduk."

Laki-laki itu menarik kedua ujung bibirnya ke tepi. Bagai berharap, senyumnya akan menyiram galau istrinya yang menggelegak.

"Dulu, aku tak pernah percaya pada kata-kata Wak Jasun, Dik. Ramainya hajatan orang kampung adalah buah tabiat bapak-ibu mereka. Bila kerap orangtua mereka menyambut undangan; rajin menjinjing ayam kampung, dan tak lalai mengantar beberapa canting padi dayang rindu... ke rumah hajat, maka, lapanglah jalan perkawinan anak mereka. Alamatnya, orang-orang kampung akan bersicepat mengisi buku tamu. Tarup yang ditegak pun bagai nak rubuh. Ambal yang dibentang bagai mengecil. Penganan yang terhidang dirasa selalu kurang. Ai, hajatan bertabuh-riang. Banyak nian tetamu yang datang. Berlimpahan uang disumbang. Ayam-ayam berjejalan dalam kandang. Beras-beras menggunung malam-siang. Terbayarlah semua galau yang membikin badan kadang meriang. Lunaslah hutang. Tersiarlah kabar bahwa hajatan itu elok tak kepalang...."

Perempuan itu meneguk liur. Lalu menengadah ke langit-langit.

"Apa yang kau pandang, Dik?" Laki-laki itu menggamit tangan istrinya. "Seandainya cicak-cicak itu mengerti percakapan kita, apakah mereka bisa berkabar?"

Perempuan itu balas menggamit. "Ya, bukan perihal cicak-cicak itu tak kuasa berkabar, Kak." Ia menoleh suaminya. "Namun, kita sama malangnya dengan mereka. Apakah kita bisa berkabar? Boleh menuntut atas perlakuan tak lazim ini? O bukan, perlakuan ini bukan tak lazim, Kak!"

Laki-laki itu balas menoleh.

"Perlakuan ini tak berhakim, Kak!" Perempuan itu meringis.

"Dik," Dielusnya kepala istrinya yang tak bersanggul lagi. "Kelak, bila kita bersua dengan bapak dan emak. Kita tanyakan saja pada mereka. Mengapa mereka tak menunggu kita besar dulu baru berjazirah ke Lubuk Senalang? Mengapa mereka tak menyambut undangan orang-orang kampung dulu, agar kawinan anaknya tak kerontang serupa tadi siang? Oh, mereka jua tak meninggalkan kabar bahwa bunga sedap malam yang mencuat dekat nisannya, adalah taklimat agar kita jangan mengeram durja."

Perempuan itu tertawa. Dijatuhkannya leher di bahu lelaki itu. "Bisa saja kau bermain kata, Kak." Dicubitnya sebelah lengan suaminya.

"Jadi, Dik. Lekaslah kita kubur muram. Kakak yakin, bujang-bujang kampung tak tahu bahwa kau adalah kembang tanjung di lereng Bukit Bakung...." Masih dibelainya rambut perempuan itu.

Perempuan itu tersenyum sendiri. Tersanjung oleh pujian lelaki tempatnya bersandar kini.

"...hanya bujang yang berperangai sultan saja yang kuasa menderik tebing licin di bukit itu, bukan?"

Laki-laki itu membuka-buka mulutnya--berteriak tanpa pekik--bagai merasakan geli oleh cubitan sang istri di dadanya.

"Oh, hendak tertawa aku, Dik, bila ingat bagaimana kita menanak rindu. Kita hanya bercinta dari silauan mata, tangan yang bertepuk, dan kening yang bersitindih. Tuhan benar-benar menyayangi kita kan, Dik?" Diciumnya kini kening istrinya.

Perempuan itu mendongak. "Ya, Kak. Tuhan telah mengirimkan lelaki yang juga berkekurangan sepertiku agar kita tak saling menguak aib yang menyertai lidah-lidah kita. Maka, senyummu adalah seroja yang bertaburan, desahmu adalah pengaduan, gamitan tanganmu adalah permohonan, belaianmu adalah hiburan, tatapanmu adalah tangkai kesepian yang harus segera dipetik. Betul seperti itu kan, Kak?"

Kini, balas lelaki itu yang menggelitik pinggang istrinya. "Aku yang harusnya menjadi pujangga di malam ini. Mengapa pula kau yang merayuku, hah?"

Perempuan itu mengambil bantal dan memukulkannya dengan manja ke punggung suaminya. "Siapa yang merayumu, tukang parang! Dasar, perasaan tak berpantang!"

Bergelutlah mereka malam itu. Sumringah rayalah ranjang itu. Ranjang yang menjadi saksi percakapan ajaib sepasang pengantin. Maka, derit peraduan itu adalah lintang pukang cinta yang pecah geladak, lenguhan dan erangan pengantin baru yang hendak mengangkat seperiuk rindu di atas nyala tanakan yang berarang-arang....

Sementara itu, makin pekat kelam yang menangkup malam, segaris cahaya bening nila dari sebuah rumah papan, menguncup tajam menembus langit, berlapis-lapis langit. Mengabar pada penghuni yang takjub seketika. Siapa yang bermikraj setelah Muhammad?

Rumah papan itu dikerumuni orang-orang kampung. Takzimnya, tak ada yang aneh dari rumah itu. Almanak bergambar seorang artis dangdut dengan gitarnya masih bertengger dekat jam dinding yang tinggal satu jarumnya. Piring-piring seng masih tertata rapi di rak aluminium yang berkarat salah satu tiangnya. Gorden merah yang sudah lusuh masih menjuntai di kusen pintu kamar. Parang-parang pesanan penduduk masih terbaris di sudut dapur. Arit, pangkur, dan terindak, caping dari daun bengkuang, masih mencangkung dekat jamban belakang. Hanya satu pemandangan yang agak tak biasa. Di dalam kamar. Seprai anyar itu sudah kusut. Bantal-bantal berserakan. Kelambu pula tersingkap setengah.

"Ke mana pengantin baru tu minggat?"

"Oi, sudah kalian tengok di seberang? Apa tukang parang itu memukul besi di gubuk simpang? Apa perempuan itu sudah berladang dekat Belalau?"

Orang-orang menggeleng. "Tak ada, Pak Pesirah. Mereka hilang!"

"Mungkinkah berbulan madu?"

Orang-orang tergelak serta merta. Berbulan madu? Nak ke mana tukang parang dan tukang ladang merayakan perkawinan? Ke bulankah? Ke langitkah?

"Sudahlah!" Pesirah melerai tawa orang-orang yang berkerumun. "Ambil saja pelajaran. Bila menggelar sedekahan, undang saja yang bapak-ibunya pernah meramaikan hajatan kita atau orangtua kita. Bila tak, tak usahlah kalian anggap. Tak perlu pula menenggang, hingga merasa perlu berhormat pada undangan yang diantarnya. Ini adat kampung. Pusaka nenek moyang! Nah, tukang kabar pula, walapun pengantin itu jiran, tak lihat kalian macam mana ganjilnya mereka? Bukan hanya perkara tak berbapak-tak beribu, tapi, pernah tercatat dalam adat bahwa bujang bisu meminang gadis bisu, hah?"

Tetamu hajatan kemarin dan para tukang kabar, merunduk. Ah, memang salah kami, Pak Pesirah.

Orang-orang bubar. Kembali ke rumah masing-masing. Mengurung perasaan ganjil yang berlipat-lipat. Bukan memikirkan petuah kepala puak, namun masih memercik galau itu. Ke mana sepasang pengantin bisu mengeret badan di malam punai? Ke bulankah? Ke langitkah? ***

Lubuklinggau, 01 November 2009

Minggu, 17 Januari 2010

Glucklich

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Pembaruan, 17/01/2010

Kini, tahun-tahun gugur melahirkan tahun-tahun baru. "Ibarat tunas pohon ek yang mengitari pabrik- pabrik keju Algau, An."

Begitu kau mengumpamakan Desember yang diusir Januari empat tahun lalu. Oh Meir, aku begitu tolol, ya? Mencintai engkau, wanita yang tak mencintaiku. Tapi, mengapa kau seolah nyaman ketika bersamaku, Meir? Tidakkah itu artinya kau pun merasai apa yang kurasakan. Ya, lagi pula, bukankah kau sendiri dulu pernah bilang begini: kata orang bijak, bila kau merindukan seseorang, sejatinya orang itu pun merasakan hal yang sama. Ah, aku tak percaya itu, Meir. Maksudku, bila pun kau merinduiku, aku yakin itu hanya seperduapuluh dari rinduku yang menyala-nyala!

Bumi Itu bulat, An.

Lagi, aku terngiang kata-katamu itu. Kau sangat memercayainya walaupun sudah kutanyakan apa maksudmu dengan postulat itu. Bumi itu bulat, titik! Apalah istimewanya, Meir!

Aku ingat sekali, kau hanya tersenyum kala itu. Lalu, kau pegang jemariku. Lebih tepatnya, meremas tanganku. Kau bisikan kata-kata dalam bahasa yang tak kumengerti. Bahasa Jerman, kira-kira begitu pikirku. Kau juga tersenyum (lagi-lagi meremas tanganku), ketika kutanyakan, dengan gaya berseloroh, bagaimana perasaanmu bila suatu saat aku meminangmu, menikahimu.

"Glucklich!"

Selain guten morgen yang berarti selamat pagi, dan madchen yang berarti gadis, aku tak tahu apa-apa tentang bahasa Jerman.

*

KAU katakan bahwa Hannover bukanlah kota kecil. Sangatlah mahfum bila kau menjadikan keberangkatanmu ke sana, sebagai jenjang karier yang takkan kau sia-siakan. Kau terus saja bercerita perihal perusahaan keju Wolfsburg yang akan menjadi tempatmu berdikari. Kau tegaskan, kau satu-satunya orang Indonesia yang dipekerjakan di sana. Bahkan, mungkin pula, satu-satunya wanita Asia Tenggara yang berhasil memakai seragam biru dengan bros menyerupai pohon cemara kecil di dada kananmu.

"Orang-orang di sana sudah tahu tentang keberangkatanmu, Meir?" Hebat! Aku pun tak tahu bagaimana pertanyaan itu dapat menyusup di antara riuh-rendah ceritamu tentang tempat kerja-barumu itu.

"Ya. Klinso, dia yang akan menjemputku?"

"Klins...?"

"Klinso!"

"Oh, Klinso. Kau sudah sangat dekat dengannya, ya?"

Kau tertawa renyah. "Facebook, An. Facebook!" Kau menaik-nurunkan alis bagai menunjukkan betapa bangga kau mendapat teman lelaki dari luar negeri.

"Oooo...!" Ah, bibirku yang monyong tiba-tiba terlalu basi untuk menutupi ketaknyamanananku atas pembincangan ini. "Dia pasti teman yang baik, ya Meir?"

Kau sumringah. " Dia single, An. 27 tahun. Aslinya dari Texas.

"Mmm...," kau mengangguk-angguk seolah memikirkan sesuatu. "Sebentar," telunjukmu memilin ujung rambutmu. "Mengapa kau tampak antusias tadi, An?"

"Kapan?" tanyaku pura-pura tak sadar. Sungguh, itu refleks saja. Aku matigaya bila ceritamu sudah mengindikasikan betapa kau akan semakin jauh dariku. "Yang mana, Meir?" Kembali aku berpura-pura.

"Sudahlah, An. Forget it!"

Oh, untunglah.

"O ya, aku akan take off besok jam delapan. Katanya sih transit di Singapura dulu. Dan, itu berita gembira, An!"

"Ya, kebetulan sekali, ada temannya Klinso di Orchad Road yang akan ke Jerman pula. Jadi barengan deh!"

"Laki-laki?"

"Madchen, An!"

"Syukurlah, Meir."

"Maksudmu?"

"Maksudku, syukurlah kau punya teman di pesawat nantinya."

Ooooh, sudah sebegitu dekatnyakah kau dengan Klinso, Meir...?

*

KAU bodoh, An! Mengapa kau ucapkan selamat tinggal padanya bila kau masih mau mencoba?!

Tidak, aku tidak mengucapkan selamat tinggal.

Tapi kau lepas ia ke Jerman?

Tidak. Aku bahkan tak ke bandara pagi itu.

Sekarang dia di Hannover, kan?

Ia bekerja di sana.

Bersama Klinso?

Ya, temannya.

Termasuk teman tidur.

An, An..... Jangan pernah menyerah bila kau merasa masih sanggup.

Jangan sesekali mengatakan kau tak mencintainya jika kau tidak dapat melupakannya!

BUGGGG!

Kutiupi tanganku yang terasa panas berdenyar-denyar. Aku baru saja meninju tembok. Oh, keparat! Aku berhalusinasi lagi. Oh, tiba-tiba kepalaku berat.

Kau harus percaya bumi ini bulat, An.

Untuk apa.

Untuk harapanmu yang tak pernah mati pada Meir.

Maksudmu?
Percaya sajalah.

*

KAU mengirim e-mail. Kau ceritakan bahwa Hannover adalah kota yang sangat indah. Kau sering ke taman kota hanya untuk melihat gerombolan burung dara menyongsong para pengunjung yang merelakan telapak tangan mereka (yang dipenuhi dry-corn) dipatut mereka. Kau selalu membawa kamera-digitalmu ketika bepergian. Termasuk memfoto unggas-unggas jinak itu. Tak jarang kau minta difoto oleh Klinso-ah Klinso lagi, Klinso lagi, bila kau berada di antara kerumunan burung. Kau tampak sangat bahagia.

Segera kubuka Facebook. Kusearch Mira Sugita.

Not Found!

Oh, apakah kau telah meremoveku dari pertemanan FB-mu? Atau kau telah menutup account FB-mu? Atau kau kini aktif ber-twitter-ria? Atau....

Ups! Kulihat profile. Sebuah tagging foto terbaru. Ada wajahmu di sana. Kubaca tulisan pengirim di atas foto: Meir Sugern. O, kau sudah mengubah namamu menjadi sangat Jerman.

Seperti yang kauceritakan di e-mail, beberapa foto taggingan-mu bagai berseru: aku benar-benar bersama burung-burung itu! Kau berpose bersama seorang wanita. Kalian tampak sangat akrab. Ah, dia pasti temannya Klinso yang berangkat dari Singapura tempo hari. Kubaca keterangan foto: Luneburger Heide.

Oh, tempat apalagi ini?

Kubaca lebih lanjut. Ya ya ya, kau tengah bertamasya di sebuah sabana. Atau, mungkinkah ini padang rumput terluas di Eropa Barat, sebagaimana kauceritakan dulu.

"Dekat padang rumput luas itu, ada taman yang sangat indah, An. Namanya Lune Park. Taman itu sangat terkenal. Aku benar-benar ingin pergi ke sana."

DAMN! Bagaimana aku dapat mengingat percakapan kami menjelang keberangkatannya dulu. Ohhh....

Mengapa aku tak pernah menangkap gejala bahwa bule Jerman itu telah begitu lama mengincarmu, Meir! Oh, sialnya aku.

Segera ku-search 'Klinso". Seperti apa wajah lelaki itu!

Not found!

*

Telah kutamatkan riwayat facebook-ku. Aku memang tak mengerti bagaimana menutup account, tapi, aku telah menghapus semua data pribadi dan foto-foto, dan mengganti password dengan sejumlah angka-acak yang kutulis di kertas untuk memverifikasinya. Kemudian kubakar kertas itu. Tamat!

Tidak itu saja, setelah kubaca pesan singkatmu perihal kau sedang menikmati schooregg, keju khas Jerman yang berongga-rongga itu, klek! kumatikan ponsel. Kubuang kartu GSM-ku.

(Go to hell everything sounds and smells Meir!!!)

O o, tiba-tiba aku ingat sesuatu. Glucklich! Oh, mengapa baru kini terpikirkan olehku kata asing itu. Mungkin, itu hanyalah sepotong kata tak penting yang berarti: bercanda, gila, sinting, tak masuk akal....

Aku ingat sekali, setelah aku menanyakan pertanyaan paling gila sepanjang hayatku itu (dan kau melempar kata itu), aku menghilang darimu. Menghilang lama. Hampir satu tahun, dan kita bertemu di pergantian tahun yang kaukiaskan dengan sangat Jerman.

*

Hari-hariku bergelut dengan perulangan saja. Kesibukan yang selalu itu. Memayet kebaya pesanan beberapa teman, mengecek beberapa salon di Depok, ke twenty-one bila film-film yang dibintangi Jennifer Aniston diputar, atau sesekali membeli boneka barbie latest edition.

Aku tak tahu, telah berapa lama hidup tanpa Meir, tanpa Meir yang berbau Jerman. Terakhir, ketika sedang memilih gaun yang akan kukenakan di pesta pernikahan seorang rekan kerja di bilangan Kemang, aku menguping perbincangan dua wanita yang baru pulang dari Polandia (tentu saja mereka tak tahu kalau aku begitu memuja Meir), mereka bertemu Meir di Warsawa. Meir sudah menikah. Aku tak bertanya lebih lanjut. Termasuk apakah Meir telah punya momongan, atau jangan-jangan ia sedang hamil. (ah, lagipula, siapalah aku bagi perempuan-perempuan Warsawa itu?). Namun, adalah perih yang tak tepermanai ketika tiba-tiba mereka menyebutkan kata itu. Bahagia, demikian kutangkap arti 'glucklich'!

Oh, tentu aku tak perlu mencari-carinya nomor ponselmu hanya untuk meyakinkan bahwa Klinso pastilah seorang wanita. Oh Meir, bagai ada separuh jiwaku yang kembali. Walaupun aku tak mendapatkanmu, paling tidak, aku tahu kau pun mencintaiku.

MEIR, aku kini tahu mengapa kau katakan pertautan kita bak bumi yang bulat. Karena dunia menyerupai bola, kan? Maka ketika kita berseberangan, sejatinya kita semakin dekat. Karena aku akan tergelincir. Pun engkau. Melingkar. Lalu, lalu, lalu.... Oh, aku tahu lalu apa. Lalu kita tak bisa saling membohongi bahwa akhirnya cinta itu pun koyak-moyak tabirnya. Yang jelas, aku penting bagimu, bukan? Aku tahu, kau pasti tengah mencari-cariku. Entah, engkau akan gila karenaku atau tidak. Entah, engkau akan mati karenaku atau tidak! Kau percaya bumi itu bulat, kan? Oh, aku juga percaya. Sangat percaya.

Sangat-sangat percaya. ***

Lubuklinggau, 09 Januari 2009

Keluarga Sempurna

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Surabaya Post, 17/01/2010

AKHIR-akhir ini aku sering merasa tak tenang. Tapi sangat tak mungkin aku mengungkapkan ini pada sesiapa. Walaupun gugatan itu telah kucabut tanpa sepengetahuan istriku, namun entah mengapa, sampai hari ini, seperti telah kukatakan tadi, aku hanya memendam warna janggal dalam hati. Aku tak mau ditertawakan, apalagi dianggap tak waras. Aku benar-benar berada dalam keadaan yang tak lazim.

Sebenarnya ketaklaziman ini sudah cukup lama kurasakan. Ketika usia pernikahan kami baru seumur jagung. Tapi saat itu, ketaklaziman yang kurasakan lebih tampak sebagai adicita kehidupan yang telah menjadi nyata. Aku diserang euforia sebuah ektase berkeluarga yang mahalangka di zaman ini.

Sungguh, sebenarnya apa yang kami alami lebih berwujud utopia bagi sebagian besar pasangan suami-istri, bahkan bagi yang telah berkeluarga selama puluhan tahun sekalipun. Singkat kata, pada saat itu�juga saat ini, aku benar-benar merasa beruntung. Paling beruntung mungkin. Dan aku yakin, apa yang kurasakan juga dirasakan oleh istriku�walaupun tak pernah diungkapkannya. Ah, aku juga tak pernah mengungkapkannya.

....

Ketika semua telah berjalan lebih dari dua tahun, tepatnya ketika beberapa bulan yang lalu, Tio lahir ke dunia. Kami mendapatkan energi kebahagiaan yang baru. Menambah paripurna ketaklaziman itu.

Tio adalah penegas semua kebahagiaan baru yang akan kami lalui di perjalanan hidup berikutnya. Dan semuanya berjalan begitu mulus, tanpa celah. Sungguh, tampaknya, apabila suatu hari kami ribut besar, aku yakin tak akan pernah ada kata �perpisahan�, karena Tio ada di tengah-tengah kami. Kami pasti mampu melaluinya dengan baik-baik saja. Tapi, ah, itu hanya impian. Itu tak mungkin terjadi. Kami terlalu bahagia. Dan tampaknya kebahagiaan ini akan terus berlangsung.

Tapi karena itu pula, aku makin yakin bahwa apa yang kami, lebih tepatnya aku rasakan, adalah benar-benar sebuah ketaklaziman. Ketaklaziman yang benar-benar akut.

Bayangkanlah. Aku adalah suami dengan keluarga kecil yang SE-LA-LU bahagia. Istriku tak pernah marah. Ia tak pernah mengeluh kalau uang belanja kurang. Tak pernah ada piring terbang yang menyentang-perenang di dapur. Tak juga pernah ada repetan tak henti bila si buah hati merengek di tengah malam. Istriku tak pernah seperti itu. Tak pernah, tak pernah, dan tampaknya tak akan pernah. Sekali lagi, ini adalah mahaimpian�bagi banyak orang�yang menjadi ketaklaziman dalam dunia kecil kami, keluarga yang begitu indah dan tak seperti kebanyakan.

***

�MI, kok nggak pernah marahin Papi sih?�

Istriku hanya tersenyum.

�Lho kok malah senyum, Mi?�

�Ya iyalah. Pertanyaan kok seperti itu, Pi! Bagaimana kalau pertanyaan itu Mami kembalikan ke Papi?� Istriku masih mengulum senyum. Tangannya sigap mengganti popok Tio.

Aku termangu.

�Setiap apa yang kita perbuat itu ada sebabnya, Pi.�

�Memangnya Papi nggak pernah berbuat salah ya, Mi?� Tanganku membantu mengalihkan popok basah Tio ke pinggir kasur mungilnya.

�Hmm,� istriku kembali tersenyum simpul, �kita ini manusia, Pi. Artinya, kita bukanlah makhluk yang sempurna secara sifat dan kelakuan.�

�Jadi?� Aku makin mendesaknya.

Wanita rupawan itu baru saja selesai mengganti popok. Ia tampak tak terlalu memedulikan pertanyaan lanjutanku. Senandung lirih meluncur dari bibir merah delimanya. Tio tertawa kecil. Ah, sebentar lagi Tio akan terlelap juga. Aku percaya sekali pada kemampuan istriku dalam menjalankan tugasnya. Paling tidak dalam hal membuat Tio merasa nyaman dengan semua sentuhan dan canda-keibuannya.

Istriku masih bersenandung kecil, meninabobokkan permata hati kami. Dia tampaknya tak melihatku yang tiada berkedip menatap mata indahnya. Aku masih menunggu jawaban.

�Mi,� kupegang tangannya yang lembut.

Dia memandangku. Wajahnya memerah.

�Lanjutkan dong jawabannya tadi, Sayang.�

�Yang mana, Pi?� Dia sudah siap melepas senyum manisnya.

�Yang tadi, Mi?� Cubitan kecilku mampir di pipi kejalnya.

Istriku berlari kecil. Aku mengejarnya. O o, dia menuju kamar. Kami saling kelitik. Berlemparan bantal. Canda lepas, tawa renyah, dan celotehan manja berebutan meluncur dari bibir kami, tepatnya dari hati-hati kami, hingga akhirnya kami kelelahan sendiri. Terkapar di spring bed empuk ini.

Tiba-tiba kami sudah saling berhadapan saja. Ia menatapku dalam. Di matanya ada begitu banyak metafora yang menyeruak. Semuanya indah-indah, sangat indah. Seindah dirinya sendiri. Ada mawar kemesraan, melati kasih, anggrek cinta, anyelir setia, dan heharuman lain yang menyeruduk dada.

Ah hampir saja kukecup bibir merah delimanya kalau saja Tio tidak tiba-tiba menyenandungkan tangisan manjanya. Tampaknya kami harus menunda semuanya. Kubiarkan saja istriku menyalibkan telunjuknya di bibirku yang hanya beberapa senti di hadapan wajahnya. Ia menggantinya dengan kecupan hangat di keningku seraya membisikkan, �Anak kita cemburu, Pi.�

Aku tersenyum kecil.

Maka, istriku tak pernah lagi melanjutkan jawabannya. Mungkin karena aku pun mulai terlupa dengan pertanyaanku sebelumnya.

***

SUNGGUH, sejatinya aku tak pandai menyimpan perasaan �mahabahagia� ini sendirian. Maka, entah bagaimana, akhirnya kutumpahkan semua di buku harianku. Kebiasaan baru setelah berkeluarga, demikian aku menyebutnya. Sebenarnya, tak ada hal�yang kupikir�pribadi dan layak kuanggap privacy, terhadap istriku, terhadap catatan-catatan kegelisahan itu. Catatan yang senantiasa kuukir dengan penuh gaya dan estetika; seakan-akan menunjukkan perasaan terdalam dan kesungguhanku dalam meresapi setiap kata di dalamnya.

Setiap pengujung hari, ketika telah selesai kuukir setiap kisah-harianku, pernah terbersit keinginan untuk sama-sama membacanya dengan istriku. Tapi entah mengapa, tak pernah mampu kumembangunkan bidadari surga yang tertitis ke dunia tersebut. Bidadari yang akhirnya mencari luahan hati, dan kebetulan manusia naif sepertiku tak akan mungkin menolak mahakarya Tuhan yang begitu indah itu.

Ah, engkau begitu sempurna, istriku. Semoga aku segera menemukan titik-titik kelemahanmu, agar aku benar-benar percaya bahwa engkau bukan peri jadi-jadian yang hanya menumpahkan warna merahmuda di kehidupan lelaki yang begitu mencintaimu ini.

Salahkah aku, Tuhan? Salahkah aku dengan semua keabsurdan ini?

***

AKHIR-akhir ini, kami makin sibuk dengan aktivitas masing-masing. Walaupun aku (boleh dikatakan) hampir tak pernah sempat bercanda kecil lagi dengan Tio karena saban hari selalu pulang kerja larut malam, dan harus pergi lagi bakda Subuh, namun buah hati kami tersebut sudah bisa berceloteh kecil�kata istriku. Kudengar juga darinya, bahwa paling tidak, kata-kata �Papi� dan �Mami� telah mampu diproduksi oleh pita suaranya yang masih muda.

Ah, esok aku ingin meluangkan waktu bercanda dengan Tio. Mungkin itu bisa membuatku lupa pada ketaklaziman yang mendarahdaging dalam kehidupan kami.

Aku juga ingin melupakan gerutuan teman-teman kantorku tentang rumahtangga mereka. Tentang istri yang pemarahlah, istri tak pandai masaklah, istri tak bisa dandanlah.... Belum lagi masalah anak nakal, anak yang sering melawan orangtua... dan masih banyak lagi. Singkat kata, mereka benar-benar dituntut ekstra keras dalam mengemudikan bahtera agar tak karam. Tak jarang mereka mengungkapkan betapa irinya mereka padaku. Di pandangan mereka, keluarga kami adalah keluarga yang rukun, damai, dan harmoni. Dan itu benar. Tapi, takkah mereka tahu bahwa aku juga mendambakan berlelah-lelah dengan keringat usaha yang keras, demi merasakan tantangan kerumahtanggaan yang sebenarnya? O sungguh, mengapa rumahtanggaku tak tampak seperti bahtera? Kalaupun kami memiliki bahtera, kami melepasnya di tengah kolam yang tak terlalu dalam. Tentu saja tanpa paus, hiu putih, singa laut, gurita raksasa, apalagi badai dan ombak ganas, yang siap menggoyahkan atau mengaramkan bahtera tersebut.

Kami benar-benar melaju tanpa hambatan. Mengitari perairan yang kami buat sendiri. Tanpa riak, sekecil apapun itu. Mungkin kalau pun bahtera kami karam karena terlalu sumringah dengan kebahagiaan yang tak lazim ini, kami hanya akan menyikapinya dengan tertawa. Tapi ah, hal seremeh-temeh itu pun tak pernah kami rasakan, karena sejatinya kami memang tak berbahtera. Maksudku, tak seperti yang orang lain awaki.

Ah, mungkinkah, semuanya disebabkan aku yang memilih istri sempurna seperti dia?

***

SIANG itu, aku pulang cepat karena ada reparasi beberapa bagian bangunan kantor, termasuk ruang kerjaku. Dan istriku masih melayaniku seperti biasa�maksudku untuk ukuran wanita sesempurna dia. Ketika kutanyakan perihal Tio, ia hanya tersenyum sambil menyendokkan nasi yang masih menguapkan awan-awan hangat.

�Makan dulu, Pi.� Senyum-manisnya masih menyimpul di sana.

Aku lahap sekali makan hari ini. Tak biasanya istriku masak gurami goreng asam-manis, tempe bacem, sayur lodeh, dan lalap kubis muda dengan sambal asem, secara bersamaan. Uiih, benar-benar lezat. Istriku sampai berulangkali menyedokkan nasi untukku. Ketika kutanyakan apakah ada yang spesial hari ini, istriku diam saja. Tetap tersenyum. Aku yakin pasti ada kejutan untukku.

Selesai makan, istriku mengajak ke kamar, tempat di mana Tio terlelap. Kami duduk di antara buah hati kami.

�Pi,� Istriku menatapku dalam, seolah melarangku mencium kening Tio. �Tangguhkan sejenak. Mami mau bicara.�

Wajahku menjauh dari Tio. Tampaknya ini hal serius.

Tiba-tiba istriku melepas lenguh. Cukup panjang. Bagai mengempas beban berat yang menjejali setiap lekuk tubuhnya.

�Ada apa, Mi?� tanyaku heran.

�Pi.�

�Ya.� Aku mengernyitkan dahi.

�Pi,� istriku mendekat. Ia menggenggam tanganku erat.

Aku kikuk.

�Papi begitu sempurna,� bisikan dari bibir merahnya nyaris mencium telingaku. �Setidaknya menurutku,� lanjutnya.

�K.... k... kau juga, Mi....� Aku kikuk. Wajahku memerah.

Tiba-tiba istriku menjauh.

�Apalagi semenjak Tio hadir di rumah ini. Kita benar-benar bahagia, Mi. Tak alang kepalang��

�Buah hati kita juga yang telah membuat kesempurnaan ini makin sempurna,� potong istriku seolah melanjutkan kalimatku. Ia menatapku dalam.

�Hidup kita seakan-akan tak beriak, Mi.� Giliran aku yang menatapnya dalam.

�Ada riaknya kok, Pi.�

Aku mengernyit tajam.

�Perasaan papilah yang membuat bahtera kita beriak. Dan sebenarnya, tidak hanya Papi yang merasakan riak itu. Maksudku, ketaklaziman ini juga kurasakan. Nah, ketaklaziman inilah yang meriakkan semuanya. Dan itu lebih berbahaya dan penuh tantangan dibandingkan dengan gerutuan rekan-rekan kerja Papi, dibandingkan curhat-curhat teman-teman pengajian Mami, tentang rumah tangga mereka.� Dengan senyum khasnya yang membentuk lesung mungil di kedua pipinya, istriku selalu memberikan penjelasan yang membuatku tak kuasa untuk bertanya lebih jauh. Tapi sungguh, kata-katanya hari ini telah membuatku sadar bahwa ketaklaziman ini adalah hal luar biasa yang dapat meruntuhkan semuanya. Dan yang terpenting adalah, aku baru saja menyaksikan dan mendengarkan suatu pernyataan yang begitu menohok: Ketaklaziman ini bukan hanya milikku! Ia juga milik istriku!

�Pi,� istriku memalingkan wajah ke arah Tio, �Mami telah mendaftarkan gugatan cerai atas dasar kesempurnaan dalam berumahtangga.�

Aku terngaga.

�Papi juga telah mendaftarkan hal serupa satu tahun-an yang lalu, kan? Atas dasar yang sama, kan?� istriku seolah menyampaikan sebuah berita gembira.

�Tapi saat itu, Tio�� aku tak mampu melanjutkan kata-kata ketika istriku mengeluarkan buku harianku dari balik bantal. Tampaknya ia baru saja selesai membacanya. Aku merasa tersudut.

�Ya, saat itu Tio belum hadir di tengah-tengah kita. Bahkan Papi juga belum tahu kalau Mami tengah mengandung.�

Wajahku pasi.

�Papi jangan cemas dan merasa bersalah seperti ini. Lagi pula tak ada aib, cerita miring, atau hal buruk lainnya yang dapat menurunkan derajat Papi di mataku. Apalagi meruntuhkan bagunan kebahagiaan sempurna keluarga kita.� Istriku meletakkan buku harian itu di tanganku, seakan-akan memintaku menyimpannya di tempat yang tak mungkin diketahuinya lagi. �Benar, Pi. Kesempurnaan ini tak lazim. Kita kerap berbohong pada diri sendiri, pada perasaan kita.�

Aku balik memandang Tio.

�Tio tak bersalah. Namun ia akan membuat semuanya berubah, Mi.�

Kami sama-sama memandang anak kami semata wayang tersebut.

�Peluklah ia, Pi,� istriku memandangku datar. �Peluklah ia untuk terakhir kalinya.�

Aku mendongak. Menatap matanya tajam. Terakhir kalinya?

�Takkah Papi sadar, sejak Papi disibukkan pekerjaan di kantor, Papi tak pernah bercumbu dengan anak kita?�

Aku menggamit bibir hingga membentuk garis. Aku merasa bersalah.

�Papi juga tak tahu kalau kita tak pernah lagi mendengarnya merepotkan kita dengan tangisan manjanya, bukan?�

Aku mencium pipi Tio yang mendingin. O Tuhan, mengapa aku baru menyadari tubuhnya yang sudah membiru.

�Urusan cerai kita bicarakan nanti, Mi,� Aku gegas bangkit. �Papi ngeluarin mobil dari garasi dulu. Kita bawa Tio ke dokter atau rumah sakit!� aku panik.

�Tio telah meninggal, Pi.�

Aku terhenyak.

�Kalau berharap ini mimpi. Sebenarnya kita sudah lama hidup dalam mimpi orang kebanyakan, dan kita telah meraihnya. Tidakkah itu sudah cukup, Pi?�

Aku tak bisa menjawab. Lebih tepatnya, aku tak mampu memahami kata-kata istriku. Aku pun tak sadar ketika telah berada dalam pelukan hangatnya. Kami sama-sama menangis. Kami telah memutuskan untuk meninggalkan semua kesempurnaan yang bersedekap dengan ketaklazimannya ini.

Kami segera menuju kamar mandi, memandikan Tio, sebelum menyolatkan dan menanamnya dengan cara yang lazim. Ah, mungkin ini satu-satunya kelaziman yang benar-benar coba kami lakonkan, sebelum kelaziman-kelaziman lain yang akan kami temui dalam kehidupan kami yang baru nanti, kehidupan kami masing-masing. Kami akan berpisah. ***

/Lubuklinggau, September 2009

Glucklich

Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Suara Pembaruan, 17 Januari 2010







Kini, tahun-tahun gugur melahirkan tahun-tahun baru. "Ibarat tunas pohon ek yang mengitari pabrik- pabrik keju Algau, An."

Begitu kau mengumpamakan Desember yang diusir Januari empat tahun lalu. Oh Meir, aku begitu tolol, ya? Mencintai engkau, wanita yang tak mencintaiku. Tapi, mengapa kau seolah nyaman ketika bersamaku, Meir? Tidakkah itu artinya kau pun merasai apa yang kurasakan. Ya, lagi pula, bukankah kau sendiri dulu pernah bilang begini: kata orang bijak, bila kau merindukan seseorang, sejatinya orang itu pun merasakan hal yang sama. Ah, aku tak percaya itu, Meir. Maksudku, bila pun kau merinduiku, aku yakin itu hanya seperduapuluh dari rinduku yang menyala-nyala!

Bumi Itu bulat, An.

Lagi, aku terngiang kata-katamu itu. Kau sangat memercayainya walaupun sudah kutanyakan apa maksudmu dengan postulat itu. Bumi itu bulat, titik! Apalah istimewanya, Meir!

Aku ingat sekali, kau hanya tersenyum kala itu. Lalu, kau pegang jemariku. Lebih tepatnya, meremas tanganku. Kau bisikan kata-kata dalam bahasa yang tak kumengerti. Bahasa Jerman, kira-kira begitu pikirku. Kau juga tersenyum (lagi-lagi meremas tanganku), ketika kutanyakan, dengan gaya berseloroh, bagaimana perasaanmu bila suatu saat aku meminangmu, menikahimu.

"Glucklich!"

Selain guten morgen yang berarti selamat pagi, dan madchen yang berarti gadis, aku tak tahu apa-apa tentang bahasa Jerman.

*

KAU katakan bahwa Hannover bukanlah kota kecil. Sangatlah mahfum bila kau menjadikan keberangkatanmu ke sana, sebagai jenjang karier yang takkan kau sia-siakan. Kau terus saja bercerita perihal perusahaan keju Wolfsburg yang akan menjadi tempatmu berdikari. Kau tegaskan, kau satu-satunya orang Indonesia yang dipekerjakan di sana. Bahkan, mungkin pula, satu-satunya wanita Asia Tenggara yang berhasil memakai seragam biru dengan bros menyerupai pohon cemara kecil di dada kananmu.

"Orang-orang di sana sudah tahu tentang keberangkatanmu, Meir?" Hebat! Aku pun tak tahu bagaimana pertanyaan itu dapat menyusup di antara riuh-rendah ceritamu tentang tempat kerja-barumu itu.

"Ya. Klinso, dia yang akan menjemputku?"

"Klins...?"

"Klinso!"

"Oh, Klinso. Kau sudah sangat dekat dengannya, ya?"

Kau tertawa renyah. "Facebook, An. Facebook!" Kau menaik-nurunkan alis bagai menunjukkan betapa bangga kau mendapat teman lelaki dari luar negeri.

"Oooo...!" Ah, bibirku yang monyong tiba-tiba terlalu basi untuk menutupi ketaknyamanananku atas pembincangan ini. "Dia pasti teman yang baik, ya Meir?"

Kau sumringah. " Dia single, An. 27 tahun. Aslinya dari Texas.

"Mmm...," kau mengangguk-angguk seolah memikirkan sesuatu. "Sebentar," telunjukmu memilin ujung rambutmu. "Mengapa kau tampak antusias tadi, An?"

"Kapan?" tanyaku pura-pura tak sadar. Sungguh, itu refleks saja. Aku matigaya bila ceritamu sudah mengindikasikan betapa kau akan semakin jauh dariku. "Yang mana, Meir?" Kembali aku berpura-pura.

"Sudahlah, An. Forget it!"

Oh, untunglah.

"O ya, aku akan take off besok jam delapan. Katanya sih transit di Singapura dulu. Dan, itu berita gembira, An!"

"Ya, kebetulan sekali, ada temannya Klinso di Orchad Road yang akan ke Jerman pula. Jadi barengan deh!"

"Laki-laki?"

"Madchen, An!"

"Syukurlah, Meir."

"Maksudmu?"

"Maksudku, syukurlah kau punya teman di pesawat nantinya."

Ooooh, sudah sebegitu dekatnyakah kau dengan Klinso, Meir...?

*

KAU bodoh, An! Mengapa kau ucapkan selamat tinggal padanya bila kau masih mau mencoba?!

Tidak, aku tidak mengucapkan selamat tinggal.

Tapi kau lepas ia ke Jerman?

Tidak. Aku bahkan tak ke bandara pagi itu.

Sekarang dia di Hannover, kan?

Ia bekerja di sana.

Bersama Klinso?

Ya, temannya.

Termasuk teman tidur.

An, An..... Jangan pernah menyerah bila kau merasa masih sanggup.

Jangan sesekali mengatakan kau tak mencintainya jika kau tidak dapat melupakannya!

BUGGGG!

Kutiupi tanganku yang terasa panas berdenyar-denyar. Aku baru saja meninju tembok. Oh, keparat! Aku berhalusinasi lagi. Oh, tiba-tiba kepalaku berat.

Kau harus percaya bumi ini bulat, An.

Untuk apa.

Untuk harapanmu yang tak pernah mati pada Meir.

Maksudmu?
Percaya sajalah.

*

KAU mengirim e-mail. Kau ceritakan bahwa Hannover adalah kota yang sangat indah. Kau sering ke taman kota hanya untuk melihat gerombolan burung dara menyongsong para pengunjung yang merelakan telapak tangan mereka (yang dipenuhi dry-corn) dipatut mereka. Kau selalu membawa kamera-digitalmu ketika bepergian. Termasuk memfoto unggas-unggas jinak itu. Tak jarang kau minta difoto oleh Klinso-ah Klinso lagi, Klinso lagi, bila kau berada di antara kerumunan burung. Kau tampak sangat bahagia.

Segera kubuka Facebook. Kusearch Mira Sugita.

Not Found!

Oh, apakah kau telah meremoveku dari pertemanan FB-mu? Atau kau telah menutup account FB-mu? Atau kau kini aktif ber-twitter-ria? Atau....

Ups! Kulihat profile. Sebuah tagging foto terbaru. Ada wajahmu di sana. Kubaca tulisan pengirim di atas foto: Meir Sugern. O, kau sudah mengubah namamu menjadi sangat Jerman.

Seperti yang kauceritakan di e-mail, beberapa foto taggingan-mu bagai berseru: aku benar-benar bersama burung-burung itu! Kau berpose bersama seorang wanita. Kalian tampak sangat akrab. Ah, dia pasti temannya Klinso yang berangkat dari Singapura tempo hari. Kubaca keterangan foto: Luneburger Heide.

Oh, tempat apalagi ini?

Kubaca lebih lanjut. Ya ya ya, kau tengah bertamasya di sebuah sabana. Atau, mungkinkah ini padang rumput terluas di Eropa Barat, sebagaimana kauceritakan dulu.

"Dekat padang rumput luas itu, ada taman yang sangat indah, An. Namanya Lune Park. Taman itu sangat terkenal. Aku benar-benar ingin pergi ke sana."

DAMN! Bagaimana aku dapat mengingat percakapan kami menjelang keberangkatannya dulu. Ohhh....

Mengapa aku tak pernah menangkap gejala bahwa bule Jerman itu telah begitu lama mengincarmu, Meir! Oh, sialnya aku.

Segera ku-search 'Klinso". Seperti apa wajah lelaki itu!

Not found!

*

Telah kutamatkan riwayat facebook-ku. Aku memang tak mengerti bagaimana menutup account, tapi, aku telah menghapus semua data pribadi dan foto-foto, dan mengganti password dengan sejumlah angka-acak yang kutulis di kertas untuk memverifikasinya. Kemudian kubakar kertas itu. Tamat!

Tidak itu saja, setelah kubaca pesan singkatmu perihal kau sedang menikmati schooregg, keju khas Jerman yang berongga-rongga itu, klek! kumatikan ponsel. Kubuang kartu GSM-ku.

(Go to hell everything sounds and smells Meir!!!)

O o, tiba-tiba aku ingat sesuatu. Glucklich! Oh, mengapa baru kini terpikirkan olehku kata asing itu. Mungkin, itu hanyalah sepotong kata tak penting yang berarti: bercanda, gila, sinting, tak masuk akal....

Aku ingat sekali, setelah aku menanyakan pertanyaan paling gila sepanjang hayatku itu (dan kau melempar kata itu), aku menghilang darimu. Menghilang lama. Hampir satu tahun, dan kita bertemu di pergantian tahun yang kaukiaskan dengan sangat Jerman.

*

Hari-hariku bergelut dengan perulangan saja. Kesibukan yang selalu itu. Memayet kebaya pesanan beberapa teman, mengecek beberapa salon di Depok, ke twenty-one bila film-film yang dibintangi Jennifer Aniston diputar, atau sesekali membeli boneka barbie latest edition.

Aku tak tahu, telah berapa lama hidup tanpa Meir, tanpa Meir yang berbau Jerman. Terakhir, ketika sedang memilih gaun yang akan kukenakan di pesta pernikahan seorang rekan kerja di bilangan Kemang, aku menguping perbincangan dua wanita yang baru pulang dari Polandia (tentu saja mereka tak tahu kalau aku begitu memuja Meir), mereka bertemu Meir di Warsawa. Meir sudah menikah. Aku tak bertanya lebih lanjut. Termasuk apakah Meir telah punya momongan, atau jangan-jangan ia sedang hamil. (ah, lagipula, siapalah aku bagi perempuan-perempuan Warsawa itu?). Namun, adalah perih yang tak tepermanai ketika tiba-tiba mereka menyebutkan kata itu. Bahagia, demikian kutangkap arti 'glucklich'!

Oh, tentu aku tak perlu mencari-carinya nomor ponselmu hanya untuk meyakinkan bahwa Klinso pastilah seorang wanita. Oh Meir, bagai ada separuh jiwaku yang kembali. Walaupun aku tak mendapatkanmu, paling tidak, aku tahu kau pun mencintaiku.

MEIR, aku kini tahu mengapa kau katakan pertautan kita bak bumi yang bulat. Karena dunia menyerupai bola, kan? Maka ketika kita berseberangan, sejatinya kita semakin dekat. Karena aku akan tergelincir. Pun engkau. Melingkar. Lalu, lalu, lalu.... Oh, aku tahu lalu apa. Lalu kita tak bisa saling membohongi bahwa akhirnya cinta itu pun koyak-moyak tabirnya. Yang jelas, aku penting bagimu, bukan? Aku tahu, kau pasti tengah mencari-cariku. Entah, engkau akan gila karenaku atau tidak. Entah, engkau akan mati karenaku atau tidak! Kau percaya bumi itu bulat, kan? Oh, aku juga percaya. Sangat percaya.

Sangat-sangat percaya. *

Lubuklinggau, 09 Januari 2009