Senin, 25 Juli 2011

Janin

Cerpen Mashdar Zainal

Dimuat di Surabaya Post, Ahad 23 Juli 2011

MULA-MULA, pada malam tamansari, aku meluncur dari sulbi seorang Adam. Menyembur seperti kembang api yang memercikan berjuta-juta sel bakal kehidupan. Lantas bagai seekor kecebong aku menelusuri lorong rahim yang pekat. Aku melesat mendahului jutaan sel bakal nyawa untuk dapat memeluk sebuah ovum matang seorang hawa, yang kelak hendak menyimpan surgaku di telapak kakinya.

***

Kini, aku telah mejadi janin yang menyatu dengan ibuku, mengikuti gerak dinamisnya yang lembut. Barangkali aku seperti parasit yang menghisap seluruh intisari hidup yang masuk ke dalam tubuh ibuku. Mulai dari sesuatu yang manis yang menimangku dalam pusaran hangat yang nyaman, sampai gelegak cadas tajam yang membuat dada ibuku sesak dan berdarah. Acapkali aku terendam dalam tungku tuba yang mendidih, ketika ibuku menangis tak henti-henti.

�Menurutmu, apakah kita benar-benar lahir dari dua jiwa yang saling mencintai?� tanyaku suatu kali pada bakal kembaranku.

�Kalau mereka tak saling mencintai, bagaimana mungkin kita ada.�

�Mungkin saja. Keberadaan kita hanya soal fisik. Penyatuan tubuh dengan tubuh. Bukan pertalian hati dengan hati.�

�Apa kau tahu, mengapa lelaki itu tidak segera menceraikan ibu?�

�Tentu saja; kita. Lelaki itu akan menunggu sampai kita lahir. Setelah kita lahir, lelaki itu akan merebut kita dari tangan ibu. Setelah itu barulah dia akan menceraikan ibu.�

�Mengapa begitu?�

�Apa kau tidak merasakan, guncangan-guncangan kecemasan yang kerap menghimpit dada ibu?�

�Ya. Ibu tahu, lelaki itu sama sekali tidak mencintainya. Tapi anehnya, pada lelaki itu, mengapa ibu terus mengendus seperti anjing yang minta dikasihani oleh tuannya?�

�Barangkali ibu kita memang bodoh. Mencintai lelaki yang sama sekali tidak mencintanya.�

�Untunglah, di sini, kita berdua. Tak bisa kubayangkan, aku terpanggang dalam rahim panas ini, dan hanya sendiri. Bisa-bisa aku meleleh seperti santan kental yang bergejolak karena api.�

�Sudahlah, bagaimanapun kita punya hak untuk melihat dunia, kelak. Kita harus bertahan.�

�Bagaimana kalau alam mayapada di luar sana, ternyata lebih menyeramkan dari pada tungku tuba ini? Apa tak pernah menyembul ke benakmu? Barangkali, kembali ke langit lebih baik.�

�Kau tahu? Ada kekuatan besar yang mendampingi kita. Kita tak perlu khawatir.�

***

Berbilang waktu panjangku sudah sekitar 16 cm dan bobotku sekitar 35 gram. Dengan bantuan scan, ibu dapat melihat kepala dan tubuhku yang bergerak-gerak. Ibuku senang sekali saat merasakan gerakanku yang pertama. Gerakanku bisa dengan mudah dideteksi dengan USG.

�Mas, aku sudah bisa merasakan, si kecil sudah mulai menggeliat, peganglah di sini.� Pinta ibuku pada lelaki itu. Lelaki itupun meletakkan telapak tangannya yang berotot pada bagian perut ibuku.

�Ya, aku juga bisa merasaknnya.� Ucap lelaki itu datar. Baru kali ini aku merasakan sentuhan tangan lelaki itu. �Semoga kau melahirkan anak lelaki yang sehat.� Lanjutnya.

Aku selalu merasa lebih nyaman, jika lelaki itu ada di dekat ibu. Sebagaimana ibu merasakan kenyamanan itu. Namun itu tak pernah berlangsung lama. Sepertinya lelaki itu hanya peduli padaku, dan bukan pada ibu. Selalu, setelah melihat kondisi kandungan ibu normal, lelaki itu segera beringsut. Lewat perasan ibu aku bisa tahu, kemana lelaki itu pergi. Lelaki itu pasti pergi untuk menemui perempuan itu. Perempuan yang mungkin akan menggantikan posisi ibuku, setelah aku lahir. Perempuan yang telah mempunyai tempat di hati lelaki itu.

�Kau mau ke mana lagi, Mas?� tanya ibu, bergetar.

�Ada urusan penting di kantor. Aku tak bisa berlama-lama.�

�Urusan penting apa lagi, Mas? Selalu urusan penting. Lalu kapan Mas punya waktu buat saya?�

�Kau tak perlu merajuk seperti itu. Kehamilan tak harus membuatmu menjadi manja. Seperti anak kecil saja.�

Dan, kurasakan dada ibuku mulai sesak. Seperti ada gejolak yang hendak ia teriakkan keras-keras ke telinga lelaki itu.

�Saya tahu. Mas mau menemui perempuan itu lagi. Mengaku saja!� suara ibu parau tertelan isakkan kecil.

�Kau mulai lagi. Selalu kau yang memulai. Apa kau tak bisa untuk tidak bersikap memuakkan di depanku. Kau selalu curiga dan curiga.�

�Hh... apa karena saya hamil, lantas Mas kira saya tidak bisa mengawasi apa saja yang Mas lakukan di luar sana? Saya sudah tahu semuannya. Setelah bayi kita ini lahir, Mas akan menceraikan saya, kemudian Mas akan menikahi perempuan sundal itu. Iya, kan?� balas ibuku semakin sengit, suarannya kembali bergetar, beriringan dengan cairan hangat yang meleleh dari sudut matanya.

�Oooh..... jadi selama ini kamu memata-mataiku.� Lelaki itu kembali mendekati ibu, lalu mencengkram lehernya. �Ya.... bagus sekali, kamu sudah seperti anjing pelacak. Lalu kalau aku mau menceraikanmu dan menikah dengan perempuan lain, kamu mau apa?� bentak lelaki itu.

�Bapak dan Ibu takkan pernah mengizinkan Mas menceraikan saya.� Ucap ibuku, tersedak-sedak. Wajahnya hampir basah oleh air mata.

�Oh ya, siapa bilang? Sekarang aku sudah tak peduli lagi. Tak seorangpun bisa menghalangiku, termasuk orang tuaku sendiri. Sudah hampir dua tahun aku menahan geram, mempertahankan rumah tangga yang lahir lantaran perjodohan bodoh itu. Sudah hampir dua tahun pula aku belajar menyukaimu. Tapi tak pernah bisa. Kau tahu kenapa? Karena kau memang sangat memuakkan. Sekarang, apalagi yang ingin kau dengar dariku? Apa semuanya sudah jelas? Kalau semuannya sudah jelas, kau tak perlu susah-susah memataiku lagi, bukan?�

Lelaki itu melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar dari tengkuk ibuku. Sepertinya lelaki itu sangat marah karena tahu bahwa ibu selalu mengawasinya. Setelah ibu terjerembab ke tilam tebal. Lelaki itu beringsut dari kamar dengan menggebrak pintu.

Untuk selanjutnya aku gelagagapan, merasakan sedu sedan yang disimpan ibuku bersama kesunyian kamarnya. Badan ibuku bergetar oleh sesenggukan yang tak berkesudahan. Inilah puncak magma yang mengguyurku dalam rekah kerak bumi yang sempit. Setiap denyar darah ibuku seolah mengalirkan perih berkepanjangan. Akupun merasakannya. Aku ikut menangis dan meronta. Tentu ibuku juga merasakan sakit bukan main di perutnya

Hari-hari semenjak kejadian itu, ibuku lebih suka mengurung diri dalam kamar. Pekerjaannya hanya tercenung lama dan terisak lagi. Bisa kurasakan betapa rasa cinta ibuku terhadap lelaki itu tak mengenal batas. Bisa kurasakan, ibu begitu merindukan dekapan hangat lelaki itu. Demi disadarinya, lelaki yang ia cintai telah melabuhkan kehangatannya pada perempuan lain, ia kembali mengolah sedu sedan. Ia kembali mengalirkan magma itu ke degup kecil jantungku.

Sudah beberapa hari, ibu sengaja membiarkan dirinya kelaparan. Apa ibu tahu? Dengan menyiksa dirinya seperti itu, ia telah menyiksaku. Bahkan beberapa kali ia mulai nekat memukulku, memukul perutnya sendiri. Entah, apa maksudnya. Yang jelas, gelegak tuba panas itu tak pernah reda. Aku terkungkung dalam sesak dan bara yang tak berkesudahan.

Lelaki itu pun datang sesekali waktu, untuk menanyakan keadaanku.

�Bagaimana keadaan bayimu? Baik-baik saja?�

Ibuku tak menyahut. Ia tampak pucat dan kusam seperti patung di tengah pancuran, patung yang lekang dan berlumut oleh panas dan hujan.

�Soal kemarin, aku minta maaf.� Enteng sekali lelaki itu mengumbar kata maaf.

Ibuku masih mematung. Dadanya kembali berdecak-decak. Lelaki itu minta maaf? Apa maksudnya? Apa semua racun yang menyembur dari mulutnya lampau hari hanya kekhilafan lantaran emosi semata? Ibuku bertanya-tanya.

�Aku tak ingin terjadi apa-apa pada bayi kita? Kau tak harus menyiksa dirimu seperti itu. Isilah perutmu barang sesuap. Minumlah vitamin dan obat imun itu dengan teratur. Sekarang kau sedang hamil tua. Tak lama lagi kau akan jadi ibu. Jangan bersikap bodoh seperti itu. Apa kau tahu? Dengan begitu kau telah menyiksa bayimu sendiri. Apa kau sampai hati, kalau terjadi apa-apa dengan bayi kita?� lelaki itu terus berpetuah.

�Apa pedulimu?� ibu bersungut.

Kemudian lelaki itu mendekati ibu dan membelai perutnya dengan lembut. �Kau harus percaya, perempuan itu cuma rekan kerja, bukan siapa-siapa.�

Ibuku menghela nafas. Ia ingin sekali lelaki itu meyakinkannya, bahwa semua yang dikatakannya lampau hari hanya emosi semata. Tapi benarkah? Rasanya kata-kata itu mengalir begitu saja. Seperti bisa murni yang menggelegak dari empedu kedalaman hati. Ah, sudahlah. Ia benar-benar lelah untuk terus perang mulut dengan lelaki yang sebetulnya sangat ia sayangi itu. Lelaki itu ada di dekatnya, itu saja sudah cukup. Tapi, seperti sebelumnya, lelaki itu tak pernah betah berlama-lama dengan ibu. Ketika lelaki itu mulai berdiri dan merapikan jasnya. Ibu mulai tak tenang.

�Kau mau kemana lagi, Mas?� introgasinya.

�Pasti, kau pikir aku mau berkencan lagi dengan asistenku. Sudahlah, curigamu itu terlalu berlebihan. Hari ini ada pertemuan penting di kantor.�

�Tapi ini kan hari libur!�

�Iya, tapi jam kantor masuk. Khusus hari ini. Sudah kubilang, ada rapat penting. Kalau kau masih tidak percaya, ikutlah kau ke kantorku.�

Ibu terdiam. Ia berharap lelaki itu mendekatinya lalu mengucup keningnya sebelum pamit. Tapi lelaki itu pergi begitu saja, setelah membenarkan letak lehernya. Kali ini ibu benar-benar bertekad membuntutinya senidiri. Kalau sebelumnya ibu hanya membayar orang kantor untuk mengawasi suaminya selama di kantor. Kini ia benar-benar ingin tahu sendiri, apa saja yang sebenarnya dilakukan suaminya di luar kantor.

Berselang lelaki itu berangkat, ibu menyewa taksi untuk mengikuti ke mana mobil lelaki itu melaju. Dada ibu mulai di berondong kecemasan ketika mobil lelaki itu melesat melewati kantor tempat seharusnya yang ia tuju. Satu hal, lelaki itu sudah berbohong. Tidak dapat di percaya. Di sini, mata ibu berkaca retak lagi.

�Terus saja ikuti mobil itu diam-diam, Pak!� pinta ibu pada si pengemudi.

Mobil itu terus melaju, ibu terus membuntutinya. Bermil-mil jauhnya dari pusat kota. Ibu bertanya-tanya, kemana sebenarnya suaminya akan pergi. Detak jantung ibu terus melaju, semakin kencang. Perasaannya jauh dari rasa tenang. Mobil lelaki itu mulai melamban memasuki sebuah perumahan elit di pinggiran kota. Mobil lelaki itu berhenti di depan sebuah rumah petak kecil yang elegan. Seperti ada segumpal batu besar dan tajam menyumpal dada ibu. Dari kejauhan ibu melihat lelaki itu keluar dari mobilnya. Seorang perempuan muda dan anak kecil berlari menyambutnya, girang.

Dari kejauhan ibu masih bisa mendengar jelas, anak kecil itu berteriak memanggil lelaki itu, �Papaaaaa!�

Ibu benar-benar tak bisa menahan dirinya. Rasanya ia ingin mati saja. Kurasakan pula desakan hebat itu seperti menindih, meremuk tubuhku yang kecil. Lihatlah! Selangkangan ibu berdarah. Dengan air mata beruarai ibu meminta si pengemudi untuk mengantarnya pulang. Sampai di rumah ibu berjalan limbung memasuki kamarnya. Ia tak mempedulikan lelehan darah di sepanjang kakinya. Di atas dipan, ibu menangis habis-habisan. Tangis itu meresap melalui darah dan degup jantung, lalu menjelma ribuan jarum api yang menusukku bertalu-talu. Aku lemah. Sangat lemah. Aku kesakitan. Benar-benar kesakitan.

Menjelang petang, saat tangis ibu mereda. Tiba-tiba ibu menyeret meja tinggi dan kursi rias ke tengah ruang. Dinaikkannya kursi itu ke atas meja. Lantas ia memelintir seutas selendang hingga menyerupai tali. Dengan nekat ia menaiki meja dan kursi itu. Pada kipas angin besar yang tergantung di langit-langit ia mengaitkan tali itu. Erat-erat. Tanpa mempedulikanku, ia mengaitkan lehernya pula pada tali yang menganga itu. Beberapa detik kemudian....

�Brakk...� ibu menendang kursi tinggi itu. Ia meronta sendiri. Kakinya menggelinjang di udara. Tanpa pijakan kesadaran yang utuh. Lehernya tercekik oleh iman yang setipis ari. Napasnya mulai sesak. Lehernya sakit sekali. Ia meregang. Benarkah ini tak lebih sakit daripada melihat lelaki yang dicintainya berpadu kehangatan dengan perempuan lain? Ini benar-benar lebih miris.

Tak berselang lama dari suara gebrak kursi jatuh itu, kudengar pintu kamar digedor-gedor dari luar.

�Iiin...! Buka pintunya In! Iin!� suara lelaki itu.

Tak mungkin ibuku menjawab. Ia sudah seperti capung yang terperangkap jaring laba-laba. Aku tersentak. Sama sekali tak kudengar lagi detak jantungnya. Akupun mulai merasakan sesak. Jatah napasku terasa lepas di pergelangan ari-ari. Lamat-lamat kudengar pintu didobrak. Lelaki itu tercengang melihat ibu yang melayang mengenaskan. Ia berteriak, meraih ibu, menurunkanya, dan segera melarikannya ke rumah sakit.

�Bayinya masih bernapas, Pak? Kita butuh tindakan cepat.� Kata seorang dokter.

Beberapa saat kemudian, seperti ada sebuah benda dingin yang menyentuh rahim ibuku. Aku terguncang-guncang hebat. Tuba, darah, barangkali air mata. Semua melebur dalam blender yang dahsyat. Aku gelagapan. Napasku seperti tersumpal. Aku memejamkan mata. Menyerahkan semua pada kekuatan terbesar yang selama ini membuatku bertahan. Kurasakan placenta yang mula-mula melilitku terlepas oleh koyakkan-koyakan kasar. Tuhan! Benarkah, aku harus meninggalkan dunia sebelum aku menyambanginya?

Rahim ibuku terasa payah. Bersama darah, aku mengapung ringan seperti debu yang di sedot vacum cleaner. Sedotan itu semakin kuat, dan semakin kuat. Maka rahim itu melepasku seperti biji leci yang terlempar dari mulut basah.

�Aow.... aow....� benar-benar jelas aku mendengar gaung itu.

�Putra Anda kembar, Pak.� kata seorang dokter pada lelaki itu, kata-kata yang gagu, rekah ucap yang ragu.

Lelaki itu tercekat. Matanya terbelalak, bibirnya hanya gemetaran. Ia tak percaya melihat bayinya memiliki dua kepala, dua tubuh yang saling berhimpit, tiga tangan, dan dua kaki. Ia memejamkan mata, menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Barangkali ia berusaha mengingat, bagaimana cara menyebut nama Tuhan.]*

Malang, 2009-2011

Tautan

Ilustrasi SciFi and Fantasy Art a fetus by Yana P. Vaseva

Selasa, 12 Juli 2011

Yunirah

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Pikirian Rakyat, 10 Juli 2011

Kamu pasti tidak akan percaya bila kukatakan bahwa temanku yang menjadi pembantu rumah tangga memberikan jari jempolnya untuk diisap anak majikan yang masih balita, agar anak itu berhenti menangis. Itu dilakukan karena istri sang majikan sering memanggilnya dengan kata-kata sangat kasar yang mengiris hati dan sangat pelit dengan makanan. Gajinya juga sering telat, sehingga kiriman uang ke kampung untuk biaya sekolah dua anaknya menjadi tertunda.

Temanku lainnya mencampur susu untuk anak majikan dengan ludahnya. Ia kesal dengan majikan perempuan yang cerewet dan majikan laki-laki yang sering meraba-raba buah dadanya. Majikan laki-laki itu juga mengancam akan membuat cerita palsu tentang pencurian dan akan melaporkannya ke polisi bila ia mengadu pada istrinya.

Aku tidak seperti dua temanku itu meskipun aku juga pernah mendapat perlakuan yang hampir sama ketika bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Saudi Arabia dan Malaysia. Memang ada keinginan untuk membalas perlakuan mereka, tapi aku takut penjara. Pasti ibuku yang sudah tua akan lebih menderita.

Aku kini berada di Jakarta, kembali bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebenarnya aku sudah tidak ingin lagi bekerja sebagai pembantu. Tapi tidak ada pekerjaan lain yang bisa kulakukan, dan ibuku butuh uang untuk berobat. Aku tidak mengerti penyakit apa yang dideritanya. Kata dokter paru-paru basah dan penyakit lainnya yang namanya sampai sekarang tidak aku ingat. Tapi kata sepupuku yang telah menjanda empat kali, ibuku terkena guna-guna. Katanya guna-guna itu ditujukan padaku dan datangnya dari seorang laki-laki yang lamarannya aku tolak. Tapi guna-guna itu meleset dan menimpa ibuku.

Entah guna-guna itu benar atau tidak, ketika bertemu lelaki itu di pasar, ia tersenyum penuh kemenangan sambil mengipas-ngipas uang di depan dagangannya. Ia lalu berkata keras-keras pada seorang lelaki lain yang duduk di dekatnya bahwa ia akan menikahi perawan berumur 16 tahun minggu depan. Perawan kencur itu akan menjadi istri keempatnya. Dan ia berkata akan tetap awet muda sepanjang masa. Aku menjadi semakin jijik dan ingin rasanya melempar segumpal ludah.

Nyonya dan Tuan di tempat kerjaku sekarang lumayan baik. Malah Tuan pernah memberiku uang tambahan tanpa sepengetahuan Nyonya. Tapi ternyata kebaikan Tuan tersembunyi di balik niat jahat. Dia berhasil membuat aku tidak sadar pada suatu malam. Akibatnya perutku menggelembung.

�Aku selama ini tidak punya pembantu sebaik kamu, Yun.� Kata Nyonya. Ia bersandar di bale bengong di serambi belakang. Kedua kakinya menjulur. Helai-helai rambut putih membuatnya makin terlihat tua.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Tanganku terus memijat-mijat kedua kaki Nyonya. Daun-daun anthurium dalam pot yang berada sepanjang tembok pembatas dengan rumah tetangga di halaman yang cukup luas itu bergoyang-goyang. Semilir angin sore membuatku merasa nyaman, sedikit meredakan kegundahan hati yang sejak lama mengendap dan mulai menggerogoti perasaan. Tapi Nyonya merapatkan syal lebar yang menutupi leher, punggung, dan dadanya.

�Aku kadang menyesal telah menikah dengan suamiku, Yun.�

Aku tahu Nyonya, aku bisa merasakan. Aku juga menyesal.

�Ini semua karena ibuku sangat takut aku menjadi perawan tua.� Suara Nyonya gemetar, dan terdengar bagai bercampur penyesalan. �Akhirnya aku tahu, aku bukan menikah dengan manusia, melainkan kucing garong yang selalu lapar.�

Tuan bukan kucing garong, Nyonya. Ia macan garong.

�Boleh saya tanya, Nya?�

Ia mengangguk.

�Sudah berapa pembantu yang bekerja di sini?�

�Sudah banyak, Yun. Semuanya muda-muda. Tapi semuanya menjadi mangsa suamiku.� Ia lalu menangis. Badannya semakin terlihat lemah. Seperti sudah tidak ada lagi sisa-sisa tenaga yang melekat.

�Aku mengusir mereka, Yun.� Kata Nyonya lagi. �Semula aku hendak membunuh mereka. Tapi akhirnya aku sadar, suamikulah yang bersalah.�

Mendengar kata-katanya, kudukku berdiri. Satu detak jantung menghilang. Angin sore tiba-tiba tak lagi kurasakan sejuk. Perutku kejang sesaat.

Nyonya kembali menangis. Seperti ada dendam yang tak mampu dibungkamnya dan tak mungkin untuk dilaksanakan. Dendam itu melilit seluruh tubuhnya hingga dagingnya perlahan-lahan rontok, menampakkan kerangka tubuh yang selama ini menopangnya dan semakin lama semakin rapuh.

Kupandang wajah Nyonya yang meredup. Pipinya semakin menjorok ke dalam. Mata sayunya berkedip tanpa tenaga. Sekilas ia mirip dengan ibuku. Mereka berdua sedang menanggung beban berat. Lambat laun ada perasaan sayang bercampur kasihan padanya. Lalu tiba-tiba penyesalan muncul, bertaut dengan perasaan berdosa.

Tiba-tiba perutku mules. Ada yang bergerak-gerak. Aku menundukkan badan agar mules itu hilang. Sedapat mungkin aku menyamarkan penderitaan, agar beban Nyonya tidak bertambah. Kenapa mules di perutku semakin hari semakin menjadi, padahal aku telah mengikatnya erat dengan kain panjang dan minum berbagai macam obat. Inikah tanda-tandanya?

Anjing peliharaan Tuan menggonggong. Pasti binatang itu melihat orang asing lewat di depan pagar rumah. Meskipun lehernya terikat rantai besar dan kokoh, aku takut sekali dengan anjing hitam bertubuh tambun itu. Taringnya seperti siap merobek-robek dada dan perutku. Tiba-tiba anjing itu kembali menggongong. Keras sekali. Nyonya menutup telinga.

�Cepat Yun, beri anjing sialan itu makanan.� Kata Nyonya. �Aku sudah muak mendengar gonggongannya. Mirip suara suamiku.�

Aku pergi sambil menahan rasa nyeri di perut. Di dapur kutemukan dua paha ayam goreng. Segera kuberikan pada anjing yang langsung melahapnya. Aneh, aku semakin takut pada binatang itu. Seperti ada setan di dalam tubuhnya. Terpancar pada matanya yang merah menyala begitu melihatku.

***

Malam tiba. Ikatan di perutku semakin kukencangkan sehingga rasa sakit sedikit reda. Tapi ikatan itu juga kumaksudkan untuk menekan perutku agar tidak terlalu menonjol. Aku tak ingin Nyonya tahu. Aku tak ingin menambah bebannya. Ia telah rapuh, sama seperti ibuku di kampung.

Tuan pulang saat aku sedang mempersiapkan makan malam. Nyonya sudah duduk. Tidak ada sapaan ketika Nyonya dan Tuan bertemu di ruang makan. Tuan hanya bertanya apakah aku sudah memberi makan anjing kesayangannya. Aku mengangguk. Kulihat matanya berkedip kepadaku. Matanya juga merah, seperti mata anjing peliharaannya yang kulihat tadi sore. Perutku tiba-tiba mual, seperti ingin muntah. Dan ingin rasanya aku muntah di wajahnya, agar mata itu tertutup dan tak pernah lagi berkedip padaku.

Malam merambat ke tengah. Aku terbangun ketika mendengar gonggongan anjing. Perutku sangat sakit. Celana karet yang kukenakan terasa basah. Kupegang perutku dengan kedua tangan, tapi rasa mules semakin menjadi. Aku kalut, lalu bangun dan berlari ke luar. Pikiranku mengatakan mungkin Nyonya atau Tuan bisa membantu.

Aku menuju kamar Nyonya yang sedikit terbuka. Kudorong perlahan daun pintu. Kamar terang. Tampak tubuh Nyonya yang ringkih sedang terlelap. Tarikan nafasnya terdengar bagai peluit rusak, membuat aku sangat iba. Tidak, ia tidak boleh tahu. Jika tahu, pasti hidupnya tidak akan lama lagi. Sama saja aku membunuh ibuku sendiri.

Aku menuju ruang tamu yang temaram. Tuan bersandar di sofa dan terlelap. Dengkurnya menyerupai geraman anjing kesayangannya. Di atas meja berserakan botol-botol minuman. Televisi menyala. Ada adegan seorang wanita pirang telanjang bulat dengan dua lelaki kekar. Mereka tengah bergumul. Aku bertambah mual. Satu telapak tangan menutup mulut dengan cepat. Kupalingkan pandangan ke arah Tuan. Celananya sedikit terbuka. Kembali ada suara gonggongan anjing. Seketika muncul kebencian yang teramat dalam pada Tuan. Lalu seolah ada bisikan bertubi-tubi. Rasa mules sedikit mereda.

Aku berlari ke meja makan. Ada pisau besar yang sangat tajam dekat potongan kue bolu. Segera kuraih pisau itu dan kembali ke ruang tamu. Kebencianku pada Tuan semakin memuncak. Kedua pahaku yang terasa basah tak lagi kupedulikan. Tuan telah menghancurkan perempuan: aku, Nyonya, dan para pembantu sebelumnya.

Dengkur Tuan membuat hatiku semakin terbakar. Genggaman pada pisau semakin erat. Kali ini dengan dua tangan. Pisau itu kuangkat tinggi-tinggi. Aku mengarahkan pada dadanya, bukan perutnya yang menyerupai perutku. Pandanganku ke sekeliling kabur. Semuanya seolah tanpa bentuk. Aku tak sadar, kaki bagaikan tak berpijak. Aku rasanya seperti menjatuhkan pisau ke lantai, lalu berlari ke luar rumah. Seketika ada kekuatan yang mendorongku bersandar pada dinding.

Entah berapa lama, tiba-tiba aku mendengar suara bayi. Bayi itu muncul di antara kedua kakiku yang mengangkang. Kudekap mulut bayi agar Tuan dan Nyonya tidak mendengar. Aku terkejut mendengar gonggongan anjing. Aku teringat ibu, dia pasti sedang kelelahan dan merasakan sakit sambil terbaring di ranjang reot berkelambu suram yang dipenuhi darah nyamuk.

Anjing kembali menggonggong. Kali ini tanpa henti. Suaranya menusuk telinga. Aku tak tahan. Kepalaku pusing. Aku seolah melayang. Lalu muncul wujud ibu yang terbangun dari tempat tidurnya. Ia melotot dan menunjuk kepadaku dengan kebencian. Aku kalut, lalu berjalan sempoyongan dan melemparkan bayi ke dekat anjing. Sekilas kudengar ada suara kunyahan.

Entah berapa lama kemudian, semua kekalutan sirna. Hening. Tidak ada lagi gonggongan anjing, bahkan hembusan angin. Yang kutahu, aku bersandar di tiang rumah dengan posisi duduk tanpa tenaga. Tangan dan kakiku seolah tak bertulang. Pintu sedikit terbuka. Ada cahaya televisi yang menerangi tubuh Tuan. Aku bisa melihat, ada pisau yang menancap di ubun-ubunnya. Darah hitam telah menutup matanya yang merah. Aku yakin, mata itu kini tak lagi mampu berkedip pada setiap wanita cantik. Aku ingin tersenyum, tapi kedua bibirku seperti disatukan dengan lem. Aku hanya ingin tidur, ngantuk sekali. Dan kemudian semuanya menjadi gelap.


Ilustrasi: Lukisan Bambang Widjoyono

Rabu, 06 Juli 2011

Yang Menjadi Akar Kayu

Cerpen Alizar Tanjung
Dimuat di Koran Tempo, 3 Juli 2011


�KITA akan menjadi akar, Sayang. Kemudian berurat ke dalam tanah. Terus menuju inti bumi. Menjadi akar tunggang yang tidak terduga-duga.�

Kemudian kamu berdiri memeluk tubuhku dari belakang. Jilbabmu mengenai pundakku.

�Kita akan diselimuti akar serabut. Akar itu makin lama makin menyebar dan membesar dan kita benar-benar telah menopang batang yang kokoh. Kemudian kita terkurung dalam tanah. Lambat laun menjadi tanah.�

Tubuh kita menggigil terkena angin malam. Diam-diam kita telah menjadi sepasang makhluk yang mesra. Cahaya bulan cemburu. Pohon-pohon yang seperti hantu di lereng tebing Gunung Talang membuat segala sesuatu begitu dekat, begitu akrab.

�Sekarang kita masih manusia. Kita memiliki sepasang kaki, sepasang tangan, sepasang mata, sepasang telinga, satu mulut, satu hidung, dan satu kepala. Lengkapnya tubuh yang sempurna. Lengkap dari apa yang Abang bayangkan,� katamu. �Segala yang ada sempurna menjadi milik kita. Kecuali, ya, kecuali hanya tubuh kita yang milik Tuhan.�

Tanganmu masih berdiam di lingkaran pinggangku.

�Kau tidak akan mengerti, Sayang. Hidup begitu sempurna. Hingga kita tenggelam dalam kesempurnaan.�

�Hsss,� katamu. Jemarimu yang menempel di dua bibirku. Tangan itu telah lebih dahulu menjadi akar-akar kayu yang berserabut. Lebih dari apa yang aku bayangkan. �Dengarkan! Ada sesuatu yang bicara dengan kita. Sesuatu yang amat sempurna di balik daging kita.�

Kita kemudian terdiam. Lama.

�Tidak ada, Sayang.�

�Percayalah. Sesuatu yang membisik kepada kita!�

Kita diam.

�Tidak ada, Sayang. Itu hanya suara angin.�

�Suara daging.�

�Ya, suara daging, Sayang. Suara daging yang bercerita.�

�Coba Abang duduk?� katamu menarik dua tanganku sambil memutar badanku. Lalu mendudukkan aku di kursi yang membelakangi jendela yang terbuka. Kau duduk bersimpuh di depanku.

�Di mana kau mendapatkan jilbab secantik ini? Jilbab hitam yang sesuai dengan malam.�

�Tidak penting, Abang. Hal terpenting, aku tampil anggun di depan Abang.�

�Sudahlah kalau begitu.�

�Percayalah Abang kita masih sepasang manusia. Kita sepasang manusia yang melebihi kesempurnaan malaikat dan bidadari.�

�Aku tidak percaya, Sayang.�

�Kenapa?�

�Aku telah lama menjadi akar kayu.�

�Aku tidak percaya.�

�Aku telah menjelma jadi akar tunggang dan akar serabut. Aku telah menembus inti bumi. Telah aku temukan mata air.�

�Barangkali hanya mimpi. Saat ini Abang benar-benar menjadi manusia yang sempurna.�

�Kemudian aku menjelma jadi akar yang semakin lama semakin keras dan dalam, semakin lama semakin bercabang. Abadilah aku menjadi akar.�

�Abang sebaiknya duduk dengan tenang. Coba Abang rasakan degup jantungku. Ada suara halus yang begitu sempurna dan tulus.� Kamu merabakan tanganku ke dadamu.

�Aku masuk dalam serat-serat batu. Menembus dari tanah-tanah keras. Masuk lebih jauh menembus kegelapan.�

�Hsss.� Kamu merapatkan dua cinta bibirmu. Kita diam. Aku merasakan kehangatan balutan jilbabmu. Kita sepasang akar kayu yang makin lama makin menyatu. Kamu menyelinap ke dalam hatiku sebagai sayap putih.

�Abang,� katamu memegang dua tanganku.

Dua tanganmu terasa sangat halus. Aku pernah memegang pucuk daun kulitmanis. Ayah dahulu suka memintaku mengambil pucuk kulitmanis yang bewarna merah hati ayam. Pucuk muda. Pucuk itu untuk benda bermain adikku. Adikku akan sangat suka merobek-robeknya. Kemudian ia akan memintaku, melalui ayah, untuk kembali mengambilkannya. Oh, Sungguh lembut pucuk itu. Kelembutan kulitmu melebihi kelembutan pucuk kulitmanis.

�Aku sungguh menikmati malam ini, Abang. Burung-burung melintasi bulan. Sayapnya menari di antara bulat bulan. Kabut-kabut menjelma melati dan anggrek putih dalam bulan.�

�Oh, Sayang, kau saksikanlah. Tanganku telah mulai berakar. Akar itu tumbuh dari sela-sela jari. Akar-akar itu tumbuh serabut dan berjuntai-juntai. Tidakkah kamu saksikan tanganku yang mulai berbentuk kayu. Mengeluarkan aroma batang kulitmanis. Aroma itu menyibak jilbabmu.�

�Tidak, Abang. Tangan Abang tetap kuning langsat. Seperti kulit orang-orang kita. Tangan Abang memiliki kelenturan kabut bulan. Percayalah Abang. Jemari Abang seperti jemari yang pernah mengeluarkan air susu untuk nabi Ibrahim.�

�Perhatikanlah, Sayang. Kakiku mulai bertumbuh akar. Tidakkah kau lihat akar-akar itu telah melilit betis dan pahaku. Akar-akar itu menjalar dan melingkar serupa ular. Akar itu bercabang-cabang dan terus membiak. Betapa akar-akar itu telah kayu. Ia telah mulai menembus lantai dan mencari tanah. Akan terus semakin dalam dan sebentar lagi memaku diriku di kursi ini, Sayang.�

�Abang, lihatlah kaki Abang tetap utuh berjuntai di kursi ini. Kaki Abang akan tetap lentik, bagaikan kaki burung elang yang bebas Abang bawa terbang tinggi kapan pun Abang mau. Rambut kaki Abang, bulu kaki cendrawasih. Tentulah akan tetap menawan.�

�Tidakkah kau perhatikan, Sayang, kini seluruh tubuhku adalah akar yang menjulai-julai? Rambutku adalah rambut-rambut akar serabut. Dari mataku telah keluar dua akar yang sama-sama mencari tanah. Mataku telah melekat pada akar. Tinggal mulutku yang tetap bicara padamu, Sayang.�

�Abang, kau bermata hitam cantik. Bertitik putih mutiara di tengahnya.�

Kemudian kita berbicara bisik-bisik. Hanya hati kita saja saling mendengar. Dan akar itu telah menjalar kepadamu. Aku terkesiap melihat tubuhmu yang mulai berubah. Tangan-tanganmu menjelma akar. Jemari-jemarimu jadi akar yang mencari tanah menembus lantai. Dua kakimu menjadi akar tunggang yang menyatu. Dalam sekejap hidung, mata, kepalamu telah pula menjadi akar. Apa kau tidak menyadari kesempurnaan telah mencukupkan takdir kita?

�Ah, Sayang kita berdua telah sempurna menjadi akar. Tapi apa gunanya akar kayu tanpa ada batang.�

�Untuk apa gunanya batang, Abang? Batang hanya melihatkan kepongahannya saja. Batang mengeliat-ngeliat kepada langit. Kemudian menunjuk-nunjuk kepada angkasa, seolah akan ia menembus cakrawala. Padahal ia hanya setinggi pucuk daun.�

�Batang bagian dari akar, Sayang. Batang yang melahirkan akar.�

�Bukankah tubuh kita yang telah melahirkan akar. Tanpa akar tidak akan tegak batang. Batang hanya bagian dari simbol kecil kehidupan atas. Kemudian batang akhirnya akan lapuk dan kembali kepada tanah.�

�Tanpa batang tidak akan ada akar.�

�Batang telah cukup dengan tubuh kita, Abang.� Jilbabmu meliup-liup di atas akar. Sebentar-sebentar dibalut dingin angin malam. Kemudian kita berdiam untuk sesaat. Tubuh kita makin merapat. Kaki kita menyatu menjadi akar tunggang yang semakin besar dan dalam.

�Sangat ibalah daun dan batang, Sayang. Batang akan mati, daun akan gugur. Terpisah batang dan daun. Daun jatuh ke bumi meninggalkan batang dan ranting. Batang dan ranting tidaklah kita izinkan di akar kita.�

�Duhai Abang, batang dan daun adalah pecinta siang. Sebab itu bergerak ke matahari. Kita adalah pecinta malam, sebab itu kita bergerak ke dalam gelap bumi. Aduhai kasihanlah kita yang jadi akar, Abang.�

�Beruntunglah kita, Sayang. Kita tetap lembab dan tumbuh menjalar dalam.�

�Tersiksalah kita menembus keras tanah dan batu.Tersiksalah kita karena lembab tanah dan dingin air.�

�Itu sudah takdir, Sayang.�

�Oh, betapa Abang yang penyabar sekarang. Mari kita terus menjalar dan mengakar, Abang. Tunggu sebentar, Abang. Bagaimana kiranya kalau kita dipisahkan batu atau para penggali lubang?�

�Maksudmu penggali batubara atau pembuat terowongan jalan kereta api bawah tanah?�

�Sejenisnya.�

�Oh, jangan kau baca itu, Sayang. Kau tahu�.�

�Hsss.� Kamu merapatkan akar tanganmu ke akar bibirku.

�Bagaimana kalau itu terjadi. Oh, sempurnalah menjadi akar yang tersiksa. Kita lari dari kemanusian karena tersiksa atas kesempurnaan.�

�Itu hanya andai-andai, Abang. Kita akan semakin dalam ke dalam inti bumi. Tidak akan ada yang akan menggangu. Kecuali�.�

�Kecuali apa, Sayang?�

�Kecuali, kecuali kita sempurna jadi akar. Kita akan bertemu panas bumi. Kita lumat jadi abu.�

�Oh, Sayang. Atas kesempurnaan akar pulakah kita akan menjadi abu?� (*)

.