Senin, 23 Agustus 2010

Cerita Yang Mencintai Yun Karena Yin

Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu, 22 Agustus 2010

YUN membuka pintu. Yang berdiri di sana dengan senyum cerah. Di tangan kanannya, dua bungkus lontong tahu dijinjing dalam kantung plastik berwarna merah pias. Yun segera menyambut sarapan pagi itu. Membawanya masuk. Yang membuntuti. Setelah berbincang sekenanya, Yun segera ke belakang. Yang menunggu di meja makan.Tak lama, Yun sudah membawa dua piring lontong tahu, secangkir teh setengah manis, dan secangkir kopi pahit, dalam tatakan melamin. Yang meniup-niup kecil permukaan air kopi sebelum menyeruputnya. Terdengar suara derup-derup dari bibir hitam yang berkerut-merut itu.

"Bagaimana, Bang?" Yun baru memegang telinga cangkir teh yang masih mengepulkan awan-awan halus. "Pas rasanya?" Satu teguk teh berselancar di kerongkongannya.

"Hmmm...." Mata Yang berbinar. "Seperti biasa. Pahitnya mantap, Dik!" Ia seruput lagi kopi itu.

Yun semringah. "Ayo Bang, kita makan. Tak enak kalau sudah dingin."Disodorinya sepiring lontong tahu di atas meja, dua kilan dari wajah Yang.

Yang menyambutnya. Mulai melahapnya.

Suasana sarapan sangat hangat. Mereka menyelinginya dengan membincangkan banyak hal. Tentang rencana berbulan madu kembali ke luar kota (maklum, sudah enam tahun kawin tapi belum punya anak), tentang piknik akhir pekan ke lereng Bukit Sulap, tentang Yun yang akan segera berhenti bekerja sebagai pembantu di kediaman lurah, atau sekadar menderai canda kecil yang akan membuat para tetangga iri.... ai, sangat intim. Sangat mesra. Sangat indah.

Yang juga sudah berjanji bahwa ini adalah hari terakhir Yun mencuci, menyetrika, menyapu, atau (bisa saja) memasak sekalipun. Yang sudah mencarikannya pembantu.

"Namanya Yin, Dik. Dia lima tahun lebih muda dari kau. Jangan pula kaupikir aku akan tergiur olehnya. Kautahu, sekujur tubuhnya bebercak putih karena kulit yang mengelupas. Kabarnya, ia pernah hampir mati terbakar di rumah majikannya yang lama. Jadi, mana mungkin aku silap dengan gadis buruk rupa.Pembantu pula!" Yang tertawa sambil menggelengkan kepala.

Yun mencubit pinggang Yang. "Ya, ya, ya, percaya aku, Bang!"

Yang nyengir. "Lagipula siapa yang dapat mengalahkan kecantikanmu, Dik."Yang menyentil kuncup dagu Yun.

Yun tersipu. Matanya berkedip-kedip. "O ya, Abang juga mau berhenti minum, kan?" Dibenahinya kerah kemeja lusuh Yang.

"Tak mungkinlah, Sayang."

Daging kening Yun bersilipat. "Kok...?" Yun mendongak. Menatap mata Yang yang masih semringah.

"Tak mungkinlah, Sayang." Dielusnya rambut Yun yang tergerai. "Bila berhenti minum, keringlah kerongkongan. Matilah Abang....!" Yang ngakak. Pun Yun.

"Apalagi melahap sambal cong racikanmu. Hmmm..., tak tahan pedasnya! Tentulah harus minum Abang, Dik!" Yang mengitari Yun. Ia peluk Yun dari belakang. Segera Yun gamit kedua tangan suaminya yang kini melingkar di pinggangnya itu. "Iya, Dik. Takkan Abang mabuk-mabukan lagi...."

Perasaan Yun riang nian. Air mukanya merah buah ceri. Adakah yang lebih menenteramkan selain memiliki pujaan hati yang memenuhi semua pinta? Dan ketentraman itu makin terasa karena sebelum hari ini, Yang adalah laki-laki yang kasar.Suami yang kasar.

....

Sebenarnya Yang laki-laki yang baik, suami yang bertanggungjawab. Demikian kerap Yun membela Yang ketika para tetangga kedapatan menggunjing suaminya itu. Pembelaan itu bukan tanpa alibi. Yanglah yang menyelamatkannya dari gerombolan berandal yang hendak memerkosanya beberapa tahun silam. Walaupun bakda itu Yang menolak dikatakan berjasa atas masih terjaganya kehormatan Yun.

"Kukira kau wanita itu. Ternyata hanya mirip," ujar Yang setengah berteriak ketika Yun mengucapkan terimakasih kepadanya.

Yun tak bertanya lebih jauh siapa wanita yang Yang maksud. Sebagai gadis tanpa karib yang menyeberang pulau; lari dari rumah karena tak ingin dijodohkan, Yun merasa Yang adalah laki-laki yang lebih layak menjadi pelindung dibanding Midin, juragan sapi yang sudah beristeri tiga, yang disodori orangtuanya.

Yun bersikeras meminta Yang mengajak ke kediamannya. Yang tak hirau. Namun,akhirnya luluh pula ketika Yun menceritakan semuanya.

"Aku cuma preman. Tak malu kau berkawan denganku?"

Yun menggeleng.

"Maksudku, walaupun preman, aku tinggal di kampung orang beradat. Jadi, kaupaham, kan, maksudku?"

Entah, keberanian dari mana yang menyambangi, Yun tiba-tiba mengatakan (mungkin "menawarkan" lebih tepatnya) hal itu. Yang terkesiap. Namun, siapa yang kuasa menolak gadis cantikserupa kekasih yang baru saja pergi?

Demikianlah asalmula rumahtangga Yun-Yang. Maka, dimaklumkanlah bila Yun kerap bersitegang dengan sesiapa yang, menurutnya, sok tahu tentang Yang. Bahkan, Yun lebih kerap berkoar pada diri sendiri, melawan hati kecilnya yang seolah tak lelah membingar: "Sudahlah, Yun. Apalagi yang kauharap? Takkah lebamdi sekujur tubuh sudah cukup membuatmu sulit melupakan kebejatan Yang?!"

Lalu, apakah utang budidapat membuat seseorang menjadi setia-buta? Yun memang seperti tak peduli tabiat buram Yang: kerap mabuk-mabukan di Pasarpucuk, memukul-menendang tubuhnya, main serong (kabar yang paling santer: dengan Yin). Tentang Yin, saking tak pedulinya, Yun tak pernah tahu seperti apa nian perempuan itu.Dan hari ini, terjawablah semua. Yun senang tak kepalang. Yang baru saja bilang kalau Yin bukanlah gadis yang layak dirisaukan. Ya, Yun paham sampai keputih-tulang kalau selera suaminya cukup tinggi terhadap wanita.

Diam-diam, Yun kerap memerhatikan lekuk tubuhnya di cermin. Memang, ia tak seramping ketika baru menikah dulu. Daging lengan, pinggang, dan lehernya, sudah mulai menggelambir. Namun, satu hal yang tak terbantahkan. Pendar-pendar kecantikan di wajahnya belum pudar. Lesung pipit masih tertitik di sebelah pipi. Rambutnya masih hitam tergerai; saban Ahad masih rajin ia keramasi dengan lendir lidah buaya dan sari jeruk nipis. Dadanya masih membusung; tak banyakmengendur seperti wanita yang sudah kawin kebanyakan. Jadi, manalah mungkin pembantu buruk rupa itu akan membuat Yang takluk!

"Dik, Abang bawa hadiah untukmu. " Yang memberikan dua kantung plastik besar pakaian. Entah dari mana ia mendapatkan itu. Perasaan Yun, ketika masuk rumah tadi, Yang tak membawa apa-apa selain dua bungkus lontong tahu. Namun tanya itu segera menguap ketika menyadari apa yang diberikan Yang kepadanya.

"Pakaian sebanyak ini sengaja Abang beli untuk kau, Sayang," ujar Yang demi memerhatikan Yun yang terperangah gembira dengan pemberiannya.

Yun masih terperangah ketika Yang mengatakan bahwa memang sepatutnya ia menyenangkan isterinya hari itu.

"Hari ini kau genap 30 tahun, kan, Dik?" Yang menatap mata Yun yangberbinar-binar.

"Ya Tuhan, seumur hidup, baru kali ini hari lahirku dirayakan, Bang!" MataYun berkaca-kaca. Bahagia-raya. Serasa tak percaya atas perlakuan istimewa yang ditujukan kepadanya.

Saking senangnya, Yun membuka kantung plastik itu serta merta. Merobeknya di beberapa bagian. Membuyarkan isinya. Pakaian-pakaian itu tumpah-ruah, menggunung di atas tikar dekat setrikaan. Baru saja ia hendak menyentuh sebuah rok merk terkenal, pintu diketuk seperti terburu-buru. Yun terkesiap. Bukan oleh suara daun pintu yang digedor dengan serampangan. Namun karena mendapati pakaian-pakaian baru hadiah itu telah menjelma menjadi tumpukan pakaian kering yang baru saja diangkatnya dari tali jemuran belakang. Matanya menyapu sekeliling. Bibirnya gemetar. Tubuhnya menggigil. Oh, gunungan pakaian yang belum disetrika, rumah yang belum disapu, makan siang yang belum dimasak, kamar yang belum dirapikan.... Yun dicengkeram ketakutan yang sangat.

Gegas ia ke belakang. Mengambil sesuatu dari dapur. Menyimpannya di balikpinggang. Menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu.

Krek!

* * *

BARU seperempat daun pintu dikuak, Yun terperenyak. Yang menggandeng seorang wanita yang tampaknya beberapa tahun lebih muda darinya. Oh, Yun tak perlu ragu untuk menyimpulkan kalau ia adalah Yin (walaupun tak ditemukan bakat-bakat bekas terbakar di beberapa bagian tubuhnya, apalagi wajahnya; oh,wanita itu sangat cantik, sangat mirip dengannya!).

Baru saja Yun hendak bertanya tentang wanita itu, botol bir murahan ditangan kiri Yang menghantam kepalanya. Oh, biru-hitamlah kini wajahnya�padahal belum hilang bakat ungu di pelipis karena digampar Yang dua hari yang lalu.

"Apa saja kerjamu malam tadi, hah?!" Yang membelalak. Kepala Yin masih menggelayut di sebelah bahunya. "Hendak kawin pula kau dengan Lurah Rojak?!" Bau sepat alkohol menghambur ke wajah Yun.

Malam tadi Yun memang tak sempat pulang dari rumah Lurah Rojak, majikannya di utara kampung. Sekitar 20 kilometer dari kediamannya. Pasalnya, hujan merajam tak alang kepalang, pohon-pohon teleng bagai habis menenggak berderum-derum bir, belum lagi rumah-rumah penduduk yang suram karena gardu di simpang pos ronda di sambar petir.... Selain keadaan alam yang tak memungkinkan untuk pulang, Yun pula tak singkuh menginap karena isteri majikannya ada di rumah.

Yun belum sempat berkata-kata ketika Yang menendang tumpukan pakaian yang belum sempat ia setrika.

"Pakaian-pakaian ini kautumpuk saja!" Yang menggamit Yin ke arah kamar. Tak lama, Yang muncul dari dalam kamar. "Kenapa tak kaurapikan ranjang tu, hah?!"

Gigi-gigi Yun bergemutukan. Dadanya turun naik.

"Atau kau tahu kalau Yin tidur denganku di sana malam tadi?!" Yang terbahak-bahak sembari menunjuk ke arah kamar. Yin tampak merapikan seprei dan baju-celana yang berserakan di sana.

Yun meraba belakang pinggangnya (sementara Yang meneriakinya agar segera memasak mie instan untuk dia dan Yin). Yun berkomat-kamit seolah melafal doa. Bagai meminta Tuhan memaklumi apa-apa yang akan dilakukannya.

"Kenapa? Kau tak senang?" Yang mendekatkan wajahnya ke wajah Yun. "Memangnya kau saja yang boleh tidur dengan laki-laki lain di ujung kampung..." Suara Yang tercekat. Bola matanyabagai mau meloncat.

Yin berteriak histeris. Terburu-buru ia menuju pintu depan. Sayang,langkahnya disenggal kaki kiri Yun. Yin terjerembab. Kepalanya terbentur lantai semen yang tak rata. Berdarah. Tubuhnya hanya sempat beberapa detik menggeliat, sebelum kedua kaki Yun menginjak-hantam lehernya. Yin kaku seketika. Tepat di samping tubuh Yang yang berdarah-darah.

Yun terbahak. Tawanya menggelegar. Membahana. Bagai mempersilakan orang-orang kampung mendatangi kediamannya. Menyaksikan keperkasaannya atas kuasa Yin dan Yang. Atas penindasan yang kapalan ia reguk....

* * *

YUN menyerahkan diri ke kantor polisi di kecamatan. Orang-orang kampung mengiringinya. Bukan, bukan meminta pihak berwajib menghukum wanita itu seberat-beratnya (sebagaimana tuntutan terhadap kasusserupa). Mereka hanya ingin membentang simpati.

Bukan salah dia, Pak Polisi. Kalau menjadi Yun, kami pun akan memelintir leher Yin dan menancapkan pisau ke ulu hati Yang!!! (*)

Lubuklinggau, 19 s.d. 24 Februari 2010

Minggu, 22 Agustus 2010

Tarian Kupu-Kupu

Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Nova, 0
9/08/2010

�Bapakmu mana?�
�Bapakku sudah mati. Bapakmu?�
�Hmm� bapakku, sudah kuanggap mati.�

Penggalan percakapan itu masih menari-nari di bantaran benakku, tanpa menyisihkan sedikit pun suasana lalu yang tergambar. Kala itu kami duduk berdua, di batang pohon yang menjorok ke sungai beraliran deras. Senja telah menyebar menyingkap siang yang meranggas.

Seharusnya tempat yang tidak nyaman itu membuat kami gemetar, karena bisa saja batang pohon itu tiba-tiba menghempas ke sungai dan menggulung kami dalam derasnya aliran.

Kuingat pula Kholid bercerita, pagi itu, belasan tahun yang lalu, dia bangun sebelum ayam jantan berkokok, mengendap-endap di antara semai belukar dan pohon jati, mengintil bapaknya yang menyusup udara dingin membawa buntalan.

Sejak beberapa malam sebelumnya hatinya diundang tanya berkepanjangan, apa yang bapaknya lakukan setiap pagi, membuka pintu kamar, meninggalkan ibu yang terlelap lalu terburu-buru keluar rumah.

Kalau hari-hari sebelumnya bapak tidak membawa apa-apa, tetapi tadi dia membawa buntalan. Semalam Kholid mengintip, bapaknya diam-diam memasukkan beberapa baju dan mencuri perhiasan ibunya.

Bapak mau kabur! Begitu yang ada di otak kecilnya yang sedikit demi sedikit mulai bisa berpikir tentang sikap aneh bapaknya hari-hari terakhir. Bapak tetap bersikap manis, selalu tertawa, pada dirinya, ibunya dan si bungsu yang baru bisa bicara ba-ba-ba. Tetapi Kholid tahu kalau bapak menyimpan rencana. Yang tak pernah dia tahu, apa yang direncanakannya kecuali pagi itu terburu-buru keluar seperti dikejar wabah kolera.

Di ujung jalan kampung berbatu dan kalau pagi seperti ini bukan sebuah jalan yang enak ditempuh tanpa penerangan, bapaknya berhenti, berbisik memanggil-manggil. Kholid tak menangkap apa panggilan itu, tetapi yang jelas, dia melihat seorang wanita tiba-tiba keluar dari kegelapan, berkata-kata yang menunjukkan kelegaan dan bilang kalau dia hampir mati menunggu bapaknya di situ. Keduanya berpelukan, lalu bergandengan tangan penuh bahagia melangkah meninggalkan tempat itu.

Sampai di sana pengintilan yang dilakukan Kholid. Selebihnya dia sudah bisa memamah apa makna dari sikap bapaknya yang sangat aneh dan terburu-buru. Ibu hanya berkata tetapi dengan sikap menutupi kesedihannya kalau bapak tidak pulang-pulang karena ada pekerjaan yang memang membutuhkan waktu lama.

Kholid hanya mendengarkan dengan menekan pedih dalam-dalam. Ibu selalu tersenyum dan tetap bersahaja membesarkannya dan adiknya. Hingga ibunya meninggal, Kholid tidak pernah memberitahu kalau dia tahu kemana dan dengan siapa bapaknya pergi.

�Kemana?� tanyaku kala itu, angin senja menyisir wajah kami berdua. Kulihat kemarahan tergambar jelas di raut Kholid.

�Pergi dengan gendaknya, wanita busuk yang hanya akan melukai hati ibuku bila kukatakan kebenarannya.�

Setelah itu kami buru-buru turun. Bila mendekati malam seperti ini, kupu-kupu akan banyak beterbangan di ladang. Kami pun asyik mengejar kupu-kupu yang menari-nari hingga Magrib datang menyeru alam sembari tertawa-tawa gembira.

Bila sudah mengikuti kupu-kupu menari tak terlihat lagi kemarahan di wajahnya. Dia bisa begitu ekstasi mengikuti kemana kupu-kupu pergi. Tak pernah menangkapnya, hanya melenggak-lenggok menikmati gemulai indah ciptaan Tuhan.

***

Tiga tahun kemudian setelah kematian ibunya, Kholid pergi entah kemana. Padahal usianya baru sebelas tahun. Adiknya dititipkan pada pamannya yang tinggal di desa seberang, yang kemudian kudengar dijual pada seorang wanita dari Jakarta, karena dia tak mampu menghidupinya.

Hal itu sudah kukatakan pada Kholid ketika tak sengaja kami bertemu pada acara pernikahan sahabatku di gedung mewah ini. Rupanya Kholid sahabat dari mempelai wanita. Ketika pertama kulihat, sungguh tak kukenali. Dia telah berubah menjadi lelaki gagah yang tampan dengan jas bagus yang menawan. Tetapi bekas luka pada lehernya membuatku teringat siapa lelaki yang berdiri di hadapanku ini. Dulu, kami sama-sama pernah terjatuh ketika mengejar kupu-kupu, tak sadar hingga ke tepi jurang. Beruntung masih bisa berpegangan tangan pada akar pohon yang mencuat keluar, namun menyisakan kenangan di leher Kholid. Dia tidak menangis, malah tertawa-tawa hingga akhirnya kami bergulingan sejarak setengah meter dari jurang.

�Kholid?�

�Zulfikar?�

Kami sama-sama mengangguk. Bukan hanya tangan yang kami sematkan, tapi pelukan pun kami pautkan. Sejenak kami tertawa-tawa dan berbicara cukup lama seputar pertemuan yang tak disengaja ini. Dari pertemuan itu kuketahui kalau Kholid sudah menjadi saudagar kain di Jakarta, sementara aku sekarang tinggal di Surabaya, bekerja di sebuah instansi pemerintah.

Lepas dari acara pernikahan, kami sama-sama keluar dibalur keramaian dan malam sahdu menuju pelataran parkir. Mobilnya pun mewah, sementara aku hanya menumpang taksi dan sekarang menginap di sebuah hotel.

Kholid mengajakku menginap di rumahnya, tetapi tawaran itu kutolak, dan berjanji besok aku akan mampir ke rumahnya, karena aku memang sengaja cuti untuk menikmati alam Jakarta selama tiga hari. Justru Kholid yang bilang, dia besok akan menjemputku.

Kembali ke hotel yang cukup nyaman, kubayangkan lagi pertemuan dengan Kholid tadi, sahabat masa kecilku yang tak akan pernah kulupakan. Semenjak dia pergi, sungguh aku direjam sepi. Tak bisa kunikmati berayun-ayun atau sekadar duduk-duduk di dahan pohon yang menjorok ke sungai.

Gairahku pun pudar karena tak lagi kutemui tawanya kala mengikuti gemulainya tarian kupu-kupu di ladang yang mulai diredupi senja. Perginya dia membawa luka dalam rupanya dibalasnya dengan kerja keras hingga menjadi orang. Sungguh, tak kuasa kutahan riak kegembiraanku yang menerbit.

Ah, apakah dia masih menganggap bapaknya sudah mati? Atau barangkali memang bapaknya sudah mati. Malam ini aku tidur dengan nyaman, besok aku akan menunggunya di lobby untuk membawaku keliling Jakarta.

Kholid bukan hanya mengajakku pesiar keliling Jakarta, tetapi juga mengajakku makan di tempat-tempat yang selama ini hanya kudengar dari kawan bicara atau kutonton di televisi. Dia tetap sahabat yang selalu menyenangkan, pandai pula bersikap.

�Kau masih bertengger dan berayun-ayun di dahan pohon yang menjorok ke sungai?�

�Dulu iya, sekarang tentu tidak. Kau tahu, tak ada gairahku lagi untuk berlama-lama di sana semenjak kau pergi.�

Kholid tertawa. �Aku memang harus pergi. Oya, kau masih ingat gerak tarian kupu-kupu yang selalu kita lakukan?�

Aku pun tertawa. �Jelas selalu kuingat. Perut digoyangnya selingkaran, tiga kali ke kanan, tiga kali ke kiri dengan kedua tangan dikepak-kepak layaknya kupu-kupu.�

Kami tertawa berderai. Nikmat apa yang bisa menandingi pertemuan dua sahabat kecil dulu ini. Suasana hangat itu pelan-pelan mulai murung, dimulai pertanyaannya tentang ibuku.

�Ibuku sudah meninggal lima tahun yang lalu.�

�Ah, kau pun yatim piatu pula sekarang.�

�Apakah kau juga yatim piatu?� tanyaku berhati-hati.

Kholid tersenyum tipis setelah beberapa saat hanya menggenggam sendok dan garpunya saja tanpa menyuap. �Sejak dulu pun aku sudah yatim piatu.�

�Kau yakin bapakmu sudah meninggal?�

Kali ini Kholid terbahak-bahak. �Kau lupa yang kukatakan dulu, bapakku kuanggap sudah meninggal. Hingga hari ini pun bapakku sudah meninggal.�

Kutelan ludahnya menangkap kegetiran yang meriap-riap. �Tak kau coba mencari bapakmu?�

Kholid tersenyum tipis. �Untuk apa? Hei, bukankah seharusnya pertemuan kita ini disuguhi hal-hal yang menyenangkan? Bisakah kita tak membicarakan lelaki yang telah melukai hatiku, ibuku dan adikku?�

Terpaksa aku mengangguk. Kembali kilat ceria merona di matanya. Kami lalu menikmati hidangan dengan pesona bahagia tak terkira. Siapa menyangka akan berjumpa lagi dengan sahabat lama? Bukankah ini sebuah anugerah?

Setelah berkeliling Jakarta sekali lagi, Kholid mengajakku ke tempat berniaganya, di sebuah ruko di bilangan ternama. Kukagumi kesungguhan dan keberhasilannya. �Ini hasil kerja kerasku. Aku ingin jadi orang, aku tak ingin jadi seperti bapak,� ujarnya, kali ini tak kusinggung lagi soal bapaknya.

Kholid mengajakku ke ruangannya yang cukup besar. Aku sempat terkesiap sebelum tertawa haru melihat fotoku ada di dindingnya, bergandengan bahu dengan Kholid berlatar belakang ladang dan kupu-kupu yang berterbangan. Aku ingat, dulu, ada tukang foto keliling yang lewat. Dengan uang patungan kami bisa bergaya kala itu.

�Tarian kupu-kupu,� desisnya tersenyum sembari menghidupkan layar komputernya.

Aku tertawa haru sembari menggerak-gerakkan badanku. �Ya, tarian kupu-kupu.� Lalu dia meminta waktu sejenak guna memeriksa data-data usahanya. Kunikmati suasana ini sembari mengkhayalkan lagi masa lalu tak terkira. Lima menit kemudian, pintu diketuk dari luar. Kholid menyuruh masuk tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer.

Sesosok tua agak membungkuk dan terbatuk-batuk masuk membawa teh manis. Kholid berkata, lagi-lagi tanpa menoleh, kali ini terdengar dingin, �Letakkan di situ!�

Kuucapkan terimakasih pada sosok tua yang tangannya gemetar ketika meletakkan dua buah cangkir di meja. Tak sengaja kupandangi wajah tua berkeriput yang sarat duka. Bagai dibetot tambang berukuran besar, jantungku mencelat.

Wajah itu, tak mungkin kulupakan meski rautnya dibebani getir kehidupan. Wajah itu, milik sosok manusia yang dibenci Kholid. Wajah bapaknya! Aku tak sempat menegur karena si wajah tua sudah melangkah keluar, tetap dengan kesopanan yang sama saat dia masuk. Tak sanggup menahan lama, aku berdiri, suaraku tercekat, �Kholid! Bukankah dia��

�Ya, dia bapakku! Tak usah kaubanyak tanya perihal dirinya! Dia harusnya bersyukur karena kutemukan sedang menadahkan tangan di pinggir jalan! Dia harusnya berterimakasih karena aku masih mau menampungnya!� sahut Kholid tetap tanpa menoleh. Lalu berdiri dengan kedua tangan gembira. �Hah, selesai sudah? Kemana lagi kita sekarang?!�

Aku terdiam. Kupandangi wajahnya yang kembali ceria. Apakah kami akan masih menarikan tarian kupu-kupu? Sekarang, aku tak tahu soal itu�***

Mutiara Duta, 4 April � 7 Juni 2010

Sebuah Senyum

Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Sumut Pos,
15/08/2010

Setiap berangkat atau pulang bekerja, Syarif pasti melihat lelaki muda itu penuh semangat menyapu jalan. Sapu lidi bertangkai bambu panjang dan seragam kuning-kuning yang mulai kumal selalu jadi pemandangan pada sosok itu. Gerakannya membuang sampah yang kerap menyebarkan bibit penyakit tak pernah berubah. Cepat. Tangkas dan bergairah tinggi.

Bila hari Minggu seperti ini, sejak pukul enam pagi hingga pukul dua siang nanti, jalan protokol ini selalu ramai oleh orang-orang berdagang. Dari mulai buatan Jepang, Cina, sampai Indonesia pun tersedia. Dari mulai pakaian hingga kendaraan bermotor pun ada. Kesibukan jalan itu selalu memacetkan lalu lintas. Kendaraan diparkir di depan para pedagang yang menghiasai lapak mereka beraneka warna. Ada yang memakai payung besar ada pula yang hanya berpayung kecil atau menempati bawah pohon yang rindang. Keriuhan itu akan berakhir siang nanti, dan menyisakan sampah yang sangat banyak.

Lelaki muda itu dengan sigap menyapu jalan sepanjang lima kilometer dan berarti sepanjang sepuluh kilometer kanan kiri dia berpeluh menarik gerobaknya. Namun semangatnya tak pudar sedikit pun. Mantap tertancap pada wajah gigih. Berapa gajinya?

�Cukuplah untuk bertahan hidup di Jakarta, Pak,� sahutnya kala satu hari Syarif sempat bertanya.
Bekerja sepanjang pagi, dilanjut kala sore ditambah extra kerja pada hari Minggu, rasanya kurang layak diberi gaji seperti itu.

�Layak atau tidak layak kan tergantung kita menyiasatinya, Pak,� sahut si lelaki lagi sambil tersenyum.
Jawaban yang patut diacungkan jempol. Syarif jadi teringat dengan suasana rumahnya. Di rumahnya yang berukuran 6 x 9 meter ditambah tiga meter halaman di depan rumah, rasanya terlalu sempit dibanding jalan raya yang lapang ini. Hanya ada dua kamar. Satu ditempati ibu mertuanya. Sebuah kamar lagi ditempati dia, istrinya dan anak mereka, Bandi, yang baru berusia tiga tahun. Tak ada pembantu, meski mampu membayar. Mau ditempatkan di mana?

Tiba-tiba Syarif menggigil setelah ingatan tentang rumah semakin dalam. Istrinya memang wanita pilihan yang baik hati dan mau menerima apa adanya, tapi ibu mertuanya, selalu cerewet dan kadang bikin dia kesal. Semua ditelannya saja tanpa perlu dikunyahnya. Bekerja sebagai guru di dua sekolah sebenarnya cukuplah untuk biaya bulanan rumah, tapi suasana rumah terkadang bikin kepalanya berputar ke belakang. Makanya, bila satu hari lagi tidak ada jam mengajar, Syarif merasa lebih baik keluar rumah. Kemana saja, bertandang ke rumah temannya pun dilakoni meski si teman nampak sudah gerah selalu didatangi.

Tiba-tiba Syarif iri pada si penyapu jalan. Betapa tidak, lelaki itu nampak sangat menikmati hidupnya, meski matahari menyalang di atas kepala, membiarkan debu memeluk sepatu ketsnya yang kumal. Derap tangannya terus berderai, mengiring langkah dari ujung jalan ke sudut lampu merah. Adakah terpikir soal keresahan?
�Sering juga, Pak,� sahutnya sambil embuskan asap kreteknya. �Masa orang hidup tidak pernah resah?�
�Tapi kamu selalu gembira.�

�Kalau tidak gembira atau bermalasan, mana bisa makan? Jakarta ibarat raksasa yang bukan hanya siap menendang makhluk-makhluk berhati liliput, tapi juga menginjak-injaknya, Pak.�

Lagi-lagi Syarif salut dengan ungkapan itu. Terbayang lagi ketika pagi mengajar di sebuah sekolah dasar, lakon yang sudah ditekuninya hampir 13 tahun. Betapa keceriaan anak-anak selalu terpancar meski kadang bikin hati berlipat pula. Bila siang, dia pun harus menjalankan sepeda motornya sekitar delapan kilometer ke sebuah sekolah menengah atas. Hati bukan hanya terlipat, tercabik-cabik. Pernah beberapa siswa mengempesi sepeda motornya. Berpeluh Syarif mencari tambal ban. Belum lagi menjalankan sepeda motornya, uangnya hanya lima ribu, tak ada makanan yang mengisi tangki motornya. Terpaksa didorongnya. Tiba di rumah, sambutan sinis mertuanya memakan pula wajahnya. Biasa, tanggal tua begini, ibu mertuanya semakin nyinyir.

�Kau harus bilang sama ibumu, Nah� jangan sembarangan bicara,� keluhnya pada Mutma�innah, istrinya yang biasa dipanggil Inah. Kepalang tanggung bertahan lebih lama, kepala seperti dirajut jarum, berkali-kali tusuk naik.
Bila dia sudah mulai meradang, Inah pasti akan menangis. Jawabannya sudah dihafal pula, �Mau kukirim kemana lagi Ibu, Da? Mau kemana lagi? Kakak-kakakku seperti menutup pintu buat ibu.�

Aku juga ingin menutup pintu rumahku untuk nenek sihir ini, Nah, keluh Syarif, yang sudah tentu tak dikeluarkannya. Bila Inah sudah menangis, malah dia yang ditikam pilu. Dan sekarang, membiarkan bunga tetap bermekaran di hati Inah, diputuskan untuk membiarkan bunga layu di hatinya.

Dan si penyapu jalan itu tertawa. �Bapak ini lucu, kenapa harus marah? Biasalah ibu mertua seperti itu.�
�Hei, memangnya kau sudah menikah?�
�Sudah, Pak.�

�Dari usiamu, hanya tampak sekitar 25 tahunan.�
�Usia saya baru 23 tahun, Pak.�

�Nah, sudah menikah?�
Si penyapu jalan tertawa, mengangguk. �Saya punya anak dua.�

�Istrimu?�
�Di kampung.�
�Rumah sendiri?�
�Ya, peninggalan orangtua saya.�
�Tinggal pula ibu mertuamu di sana?�

�Tidak. Ibu mertua saya sudah meninggal.� Gagang sapu dicengkeram erat.
Banyak cerita yang kemudian membuat Syarif seperti anak kecil yang baru belajar tentang arti toleransi dan kehidupan. Apakah malaikat yang sedang bersamanya?

�Tersenyum, itu ibadah yang mendiang ibuku ajarkan�� kata si penyapu jalan sambil berdiri, lalu melakukan lagi tugasnya.

Mata Syarif mulai sarat berkabut. Dia yang berjarak usia 17 tahun dengan si penyapu jalan seperti baru menguak arti kehidupan sebenarnya. Pulang ke rumah, Syarif berubah. Nyinyiran ibu mertuanya disambut senyum. Sindiran pun dilindungi senyum. Semua serba senyum. Inah terheran-heran melihat tingkah polanya, yang tak bisa menahan kesal bila lelah sudah sampai kepala.

�Senyum itu ibadah, Nah. Seseorang bilang pada Uda, dengan senyum kita bisa menaklukkan dunia.�
Langkah Syarif semakin ringan pelan. Detik yang berjalan pun dibaluri senyuman. Menghadapi murid-muridnya di sekolah dasar dia tersenyum, pun menghadapi murid-murid SMA-nya, dia tetap tersenyum. Seiring senyum yang dilakukannya dunia semakin merekah dan mudah dimasukinya. Ini semua berkat si penyapu jalan. Belajar memang bukan hanya pada orang yang lebih tua, yang lebih muda dan dianggap sebagai garis rakyat kecil pun, bisa mendapatkan manfaat yang lebih banyak.

Kala malam mata Syarif lebih mudah diajak bersahabat. Terpejam rapat hingga adzan Shubuh terdengar. Terlakoni selama seminggu. Di sela hari-hari itu dia kerap mendatangi si penyapu jalan yang telah dianggapnya sahabat mudanya. Cerita pun bertuturan dan ucapan terimakasih berhamburan.
Si penyapu jalan tersenyum saat dia menjabat tangannya erat.
�Terimakasih.�

�Saya yang banyak berterima kasih pada Bapak, karena saya serasa punya seorang kakak.�
�Terimakasih lagi karena menganggap saya sebagai kakak.�
Senja itu Syarif pulang serasa menumpang awan. Ketika mau berbelok ke kiri, dilihatnya si penyapu jalan melambaikan tangan dengan bibir yang selalu tersenyum. Memang benar, dengan senyum semuanya akan terasa mudah.
Lepas shalat Isya pukul delapan malam, Syarif langsung tidur. Dia ingin bermimpi dalam keheningan. Tapi guncangan itu membuatnya tersentak. Tangan Inah dengan hati-hati mengguncangnya, mulutnya berbunyi resah, �Ada orang masuk, Da.�
�Ibu?�
�Bukan� aku dengar pula jeritan Ibu.�
�Jatuh?�
�Bukan��
�Lantas apa?�

Suara Inah terdengar gemas dan panik sekarang, �Ada orang masuk rumah.�
Melonjak Syarif bangkit dari tempat tidur. Suara orang berbisik terdengar sampai ke kamar. Syarif memberanikan diri. Inah mengingatkan untuk membaca bismillah. Bismillah pun terucap sebelum� braaakkk!! Pintu terbuka paksa karena sebuah kaki telah menjejak keras. Tiga lelaki bertopeng masuk, menyergap dirinya dan Inah. Bandi tetap terlelap. Salah seorang mengancam dengan pisau terhunus.
�Serahkan harta bendamu!!�

Syarif tergagap dan kejadian hanya berlangsung singkat. Harta seadanya yang dimiliki digasak habis. Ibu mertuanya menjerit-jerit karena kalung emas satu-satunya dibawa paksa. Tiga orang itu berhamburan keluar dan suara yang berasal dari salah satu motor yang meninggalkan rumahnya, jelas itu sepeda motor miliknya.
Syarif menghela napas, bersyukur tak ada yang luka dalam kejadian itu.

�Allah telah menolong bapak dan keluarga dari kejahatan mereka,� kata si penyapu jalan prihatin.
�Ya, Allah telah menolong keluarga saya.�

�Dan sejak tadi bapak datang, pun setelah menceritakan kejadian buruk itu, bapak lupa tersenyum.� Syarif buru-buru tersenyum. �Ingat, dengan senyum semua akan lebih mudah.�

Syarif mengangguk, lega, bersyukur, tersenyum. Dan senyum pun tetap mengulas bibirnya ketika mengenali yang melingkar di leher si penyapu jalan itu adalah kalung milik ibu mertuanya�***

Mutiara Duta, 21 Februari � 25 Juni 2010

Selasa, 10 Agustus 2010

Suara Tiga Hati

Cerpen Karkono Supadi Putra
dimuat di Malang Post, 8 Agustus 2010

Aku sendiri tidak mengerti dengan diriku.

Aku tahu jika keadaan yang kini aku alami adalah karena kelemahanku. Karena ketakberdayaanku pada cinta. Sebagai seorang putra mahkota, seharusnya dengan besar hati aku menerima perjodohan itu agar dua kerajaan besar ini bersatu. Sudah seharusnya persoalan asmara tidak aku tempatkan di atas kepentingan kerajaan. Namun, sekali lagi aku katakan; aku sendiri tidak mengerti dengan diriku. Aku tidak bisa membohongi nurani dan logikaku. Aku tidak bisa meninggalkan Anggraini dan juga tidak bisa menikah dengan Sekartaji.

Apakah benar cinta sudah membutakan logikaku?

***

Langit sempurna terlumuri warna hitam. Malam perlahan merambat, menggantikan senja yang penuh romansa. Rangkaian resepsi pernikahan usai sudah. Suasana istana berangsur sepi seperti semula. Ada beberapa abdi dalem yang terlihat membersihkan sisa janur di beberapa sisi pintu, membenarkan gebyok yang sebelumnya dibuka, dan ada juga yang mengatur kembali posisi gamelan yang tadi digunakan untuk iringan pahargyan.

Ada kelegaan kurasa di sini, di dalam dada ini. Meski sebenarnya begitu lelah, semuanya serasa hilang karena terganti oleh rasa bahgia yang sulit aku lukiskan. Wanita mana tak akan bahgia disunting oleh lelaki yang selama ini menjadi pujaan para wanita. Akulah wanita yang beruntung itu. Aku kini telah sah menjadi istri Panji Inukertapati, putra mahkota yang termat aku cintai.
Saat ini, aku merasa menjadi wanita paling bahgia di dunia.

***

Bukan permasalahan sakit atau tidak sakit, tetapi lebih pada persoalan harga diri. Dengan dia tidak menerima perjodohan ini, berarti dia lebih memilih perempuan itu daripada diriku. Dia lebih mencintai wanita itu daripada aku. Dan, apakah itu artinya aku kalah menarik dengan wanita itu? Ah, Bagiku itu tidak penting. Yang saat ini ada dalam benakku, aku harus membuat perhitungan dengan lelaki ini. Aku akan tunjukkan pada dia suatu saat nanti, dia akan menyesal karena pernah menolak perjodohan ini.

Aku akan buktikan kata-kataku ini.

***

Dua pekan sudah berlalu.
Pagi berhias pelangi. Pelangi memang indah karena ia hadir bersama rinai gerimis dan matahari. Gerimis pagi ini seperti tak lelah menusuki bumi. Aku termenung di dekat kolam ikan yang di atasnya ada beberapa lembar daun teratai menjalar. Jarum-jarum gerimis itu jatuh di atas jernih air kolam, membuat bundaran-bundaran kecil melebar silih berganti. Aneka bunga di sekitar kolam terasa begitu segar berseri. Tingkahan gerimis justru mencipta suasana syahdu, indah. Seakan sambut bergayung dengan suasana hatiku saat ini. Hatiku serasa penuh sesak dengan bunga, bunga aneka rupa dari negeri yang hanya ada bahgia bertahta di sana.

�Dinda Anggraini, hari ini aku harus pergi� ada tugas kerajaan yang harus aku tunaikan�� suara yang begitu akrab terdengar di telingaku seketika mengamuk paksa imajinasiku, sedikit membuatku terkejut. Aku menoleh ke arah pemilik suara: suamiku, laki-laki yang kini menemani indah hari-hariku. Walau samar, ada sebentuk bayang yang datang coba mengeja arti senyum manisnya. Gurat wajahnya mengundang rindu dendam yang kupendam dalam balutan kalbu yang menderu. Sorot mata menjelma kilau bening telaga tersinari mentari. Aku terkesima! Bagiku ia lebih dari sekadar kekasih yang tak pernah lelah bawakan kembang setaman ke atas altar pemujaan khusyuk semedhiku. Sosok yang tak akan kasip untuk datang mendendangkan lagu-lagu cinta yang berkelindan dalam ruang-ruang hampa kesepian jiwaku. Selalu hadir tanya dalam sukmaku, serasa tak percaya bahwa dia adalah milikku, suamiku.

�Tapi... bukankah ini masih gerimis... � jawabku seraya mendekatinya.
�Tidak mengapa Dinda, sebentar lagi juga reda.�
�Kalau begitu, pergilah Kanda, tunaikan tugas kerajaan dengan kesungguhan hati...�

�Aku sangat mencintaimu dan aku berjanji tak akan membelah hatiku menjadi dua. Selalu simpan kata-kataku ini Dinda...� kata suamiku lagi. Beribu kali dia ulang kata-kata itu. Entahlah, sepertinya dia selalu khawatir jika aku meragukannya. Padahal, tanpa dia ucapkan kata-kata itu pun, aku sungguh yakin kalau dia teramat mencintaiku.

�Kanda Panji, aku akan selalu setia menjaga hatiku agar hanya cenderung padamu, bukan pada pria yang lain. Sungguh, sebuah kebodohan jika aku sampai melabuhkan cintaku pada sosok lain selain sosok pria yang begitu menyayangiku ini.�

Setelah mengecup keningku, suamiku pun pergi. Aku mengamatinya sampai kuda yang ditungganginya lenyap ditelan tikungan tembok kerajaan yang tinggu menjulang. Dan, serasa ada yang hilang pada diriku. Ah, mengapa aku jadi khawatir seperti ini? Bukankah cinta Kanda Panji teramat besar padaku? Tidak mungkin dia akan berpaling meninggalkanku. Entahlah, aku melepas kepergian suami dalam suasana gerimis, seperti suasana hatiku yang mendadak gerimis.

Sebenarnya, yang aku khwatirkan bukan pada kesetiaan Kanda Panji. Aku sangat yakin akan kesungguhan cintanya. Namun, bukankah banyak pihak yang tidak menyukai pernikahanku dengan Kanda Panji? Dan, aku harus menyadari sepenuhnya kalau sebenarnya hubungan kami seperti menentang badai.

***

Mengapa tiba-tiba ada rasa cemas saat aku meninggalkan istriku? Apakah akan terjadi sesuatu pada wanita yang teramat aku cintai itu? Kekhawatiranku ini memang cukup beralasan. Banyak yang tidak setuju aku menikahi Anggraini. Bahkan, pernah ayahandaku terang-terangan menginginkan kematian Anggraini.

�Pernikahan kamu dengan Sekartaji adalah keniscayaan untuk bersatunya kerajaan Jenggala dengan Kediri. Kamu harus pertimbangkan itu, jangan menuruti hawa nafsumu semata. Ingat itu, Panji!� kata-kata ayahanda masih terngiang-ngiang di telingaku.

�Maafkan Panji, Ayah! Bukannya Panji tidak menginginkan Kerajaan Jenggala dan Kediri bersatu, tetapi Panji sungguh tidak bisa meninggalkan Anggraini. Panji mohon dengan sangat Ayah memahami perasaan Panji!�

***

�Maafkan aku Anggraini� aku hanya menunaikan tugas dari Ayahanda Lembu Amiluhur. Aku tahu bagaimana perasaanmu� aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa��

�Kakang Brajanata� kalau itu yang Kakang inginkan, dan mungkin juga keinginan semua orang, lakukan Kakang� bunuhlah aku�! Bunuh�!!!�

�Tetapi Anggraini��

�Tetapi apa? Bukankah ini yang akan membuat kalian semua bahagia? Aku rela menerima semuanya. Aku ikhlas melakukan ini demi Kanda Panji. Agar Kanda Panji tidak senantiasa menjadi tumpuan kesalahan keluarga. Jika ini adalah jalan terbaik� sekali lagi aku ikhlas, Kakang��

�Maafkan aku Anggraini! Sejatinya, aku juga kasihan padamu� ini bukan kesalahanmu.�

�Aku sama sekali tidak pernah meminta dalam posisi semacam ini, Kakang. Siapa yang ingin menjadi duri dalam daging bagi bersatunya dua kerajaan besar ini. Jujur, jika bukan karena alasan aku tidak ingin menyakiti hati Kanda Panji, sungguh aku juga tidak menginginkan pernikahan ini. Namun, saat aku menyadari betapa besar cinta Kanda Panji pada diriku, aku kembali berpikir dua kali. Tak adakah jalan lain untuk membuat dua kerajaan ini bersatu selain dengan perjodohan itu? Jalan lain yang tidak akan membuat hati lelaki yang teramat aku cintai tersakiti? Maka, aku pun menerima pinangan Kanda Panji karena pernikahan kami adalah kebagiannya. Tetapi kini, sepertinya jalan lain itu benar-benar tertutup rapat. Perjodohan itu adalah kunci satu-satunya��

�Lantas?� Kakang Brajanata tercengang mendengar penuturanku. Barangkali keputusanku ini mengejutkan, tapi aku tidak punya pilihan.

�Aku rela mati supaya Kanda Panji bisa menikah dengan Dewi Sekartaji.�
�Mengapa kamu sampai berpikiran seperti itu?�

�Biarlah sejarah yang mencatat dalam buku putihnya. Dan kau Kakang Brajanata, sebagai saksinya bahwa kematianku adalah sebagai bukti kecintaanku pada Kanda Panji. Jika aku mati, Kanda Panji tidak akan terbayangi oleh rasa bersalah telah menolak perjodohan politis itu selama hidupnya. Dan, aku tahu, perasaan bersalah itu sangat menyiksa. Sekarang, bunuh aku Kakang! Tunaikan tugasmu, Kakang��

�Anggraini� tapi� apakah ini justru tidak akan membuat Panji terpukul dan sakit?�

�Itu hanya sementara Kakang. Bagiku, mencintai adalah membuat orang yang kita cintai senantiasa bahagia dari waktu ke waktu, meski kebahagiaan itu tidak harus bersama dengan kita. Percayalah, kematianku ini adalah bukti kesucian cintaku. Aku ingin Kanda Panji bahagia dan Kediri dengan Jenggala bisa bersatu.�

�Sungguh mulai hatimu, Anggraini.�

***

Betapa terkejutnya aku saat aku mendapati tubuh istriku tergolek di atas tanah dan berlumur darah, �Tidaaaakkk� Bangun Dinda Anggraini! Bangun!! Kamu tidak mati kan?�

�Panji� relakan istrimu mati� ini sudah suratan takdir��

�Tidak! Istriku tidak mati� dia hanya tertidur� tidak, Anggraini tidak mati� Anggraini akan selalu hidup dan menjadi istriku� Tidaaaaaaaaakkkk!!!�

�Panji..tenangkan dirimu!�

�Kakang Brajanata, katakan siapa yang telah tega membunuh Anggraini istriku� katakan Kakang!�

�Panji... aku sendiri sebagai saksi akan ketulusan cinta Anggraini. Istrimu itu benar-benar wanita mulia. Dia rela mati demi kehagiaanmu. Ketahuilah� betapa terkejutnya aku ketika tiba-tiba dengan gesit Anggraini merebut keris yang saat itu terhunus di tangan kananku. Keris itu dengan keras dia tancapkan di dadanya. Darah segar pun mengalir. Dia pun luruh ke bumi. Tubuhnya yang ramping terkapar lemah di atas tanah. Wajahnya justru menyinarkan cahaya terang bak rembulan. Ia meninggal dengan senyuman.�

�Bohong! Kamu pasti yang telah membunuhnya�� aku meragukan kata-kata Brajanata. Cerita itu pasti rekaan dia saja. Tidak mungkin Anggraini nekad seperti itu.

�Sungguh Panji� itulah yang sebenarnya terjadi.�

***

Aku tidak tahu; aku harus bersedih ataukah bahagia mendengar kabar kematian Anggraini. Aku tidak pernah menginginkan kematian Anggraini. Aku juga tidak berharap untuk menjadi istri Panji. Tetapi, mengapa sudut hatiku yang lain sangat menaruh iba pada Panji. Aku tahu, betapa sakit hatinya kini. Dan, secara tidak langsung, aku turut andil dalam mencipta kesedihan hatinya itu. Aku ingin membuat dia bahagia. Aku ingin menebus segala dosa. Aku ingin mengembalikan senyum ceria yang senantiasa menghias wajahnya. Namun, bagimanakah caranya?

***

Aku harus meninggalkan kerajaan ini. Aku tak mau lagi berada di sini. Aku akan pergi dan akan membawa Anggraini. Dia tidak mati.

***

Ah, apakah aku sanggup menemuinya dalam keadaan seperti ini? Apakah justru bukan muntahan dendam yang akan dia keluarkan saat melihatku lagi? Akulah cuka yang akan menyiram luka hatinya yang masih menganga. Aku tidak mau membuat dia kian terluka. Ah, aku harus menjadi orang lain untuk dapat mengembalikan senyum manisnya yang kini tercerabut paksa.

***

Dinda Anggraini, biarlah kaki ini terus melangkah tak tentu arah. Biarlah langkah ini yang akan menjadi saksi perjalanan cinta kita. Bangunlah Sayang� engkau sudah terlalu lama tertidur, bangun Sayang�

***

Aku sudah menjadi orang lain, kini aku akan menemuinya.
Kasihan sekali dia. Rupanya cintanya yang terlalu besar pada istrinya itu telah memutarbalikkan logikanya. Dia gendong mayat istrinya itu mengikuti langkah kakinya. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau istrinya itu telah meninggal.

�Apakah kamu tidak kasihan pada arwah istrimu, wahai lelaki tampan?� kataku pada lelaki itu. Dia menoleh ke arahku, kelihatan sekali kalau dia terkejut. Dan� betapa mata teduh itu serasa menusuk ulu hatiku. Mata teduh itu menatapku tajam, lama. Serasa tak percaya dengan yang kini terjadi. Tubuhku seketika meriang. Ada keteduhan yang begitu sulit aku gambarkan, dan waktu seakan pucat pasi di hadapannya, menghentikan setiap debaran kata yang ingin terlontar. Aku tidak tahu, mengapa kini ada getaran aneh di dalam dadaku.

�Siapa kamu? Dan apa perlumu mencampuri urusanku?�

�Aku Panji Semirang� Aku hanya kasihan melihat keadaanmu kini. Kamu harus belajar menerima kenyataan, istrimu itu sudah meninggal��

�Sungguh, aku tidak pernah bisa kehilangan istriku ini. Dia tidak sekadar indah, tetapi dia tak akan terganti��

�Berjalanlah di atas kenyataan� jangan logikamu terbutakan oleh cinta. Istrimu sudah meninggal. Dia rela mengakhiri hidupnya demi membahagiakanmu��

***

Walau baru pertama berjumpa, tetapi mengapa aku merasa mengenal lelaki yang mengaku bernama Panji Semirang ini? Aku menemukan ketulusan dari hatinya. Aneh.

***

Sungguh, aku tidak bisa membohongi nuraniku kini. Aku sungguh telah jatuh hati padanya. Aku ingin perjodohan itu benar-benar terwujud. Aku ingin menjadi istrinya. Aku ingin menghapus kesedihannya dan menggantikannya dengan berjuta kebahagiaan. Aku harus mengembalikan jati diriku.

***

�Sekartaji? Kamu Dewi Sekartaji?�

�Iya ini aku� Sudah teramat lelah aku mengikuti setiap jengkal langkahmu Kakang Panji. Aku kasihan melihat keadaanmu� aku hanya ingin membahagiakanmu� terlepas soal perjodohan itu, tetapi aku kini benar-benar ingin menikah denganmu agar aku benar-benar bisa membuatmu bahagia.�

***

Ah, Sekartaji. Beri aku waktu. Waktu tiada bisa menyembuhkan luka, tapi penyembuhan luka perlu waktu. Begitu juga bukan waktu yang membuat sebuah kenangan terlupakan, tapi terlupanya kenangan itu memerlukan waktu. Waktu tak membuat dua manusia bersatu dalam cinta, tapi bersatunya dua manusia dalam cinta membutuhkan waktu.
Dan, air mataku ini kian menderas.

Minggu, 08 Agustus 2010

Seperti Natnitnole

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Merdeka,
Suara Merdeka, 8 Agustus 2010

PESAWAT itu tinggal landas. Menyusur langit yang membentang biru keputihan. Ah, adakah yang peduli dengan apa yang mengeriap dalam diriku? Memang, hidup ini bukan tentang peduli-memeduli. Bukan juga tentang rasa yang makin dibunuh makin menyuluh. Aku tak akan menyeret Yusuf dalam khidmatnya perasaan ini karena laki-laki itu memang tak tampan. Muhammad? O, aku tak mau kualat membawa-bawa suami Khadijah itu; ia hanya lelaki�yang sangat�biasa. Sungguh, aku tak lelah berharap bahwa ini bukan tentang ketakaburan, keberlebihan dalam mencuatkan perasaan�. Ya, demi Tuhan, takkan ada yang menyaingi cintaku padanya. Takkan! Siapa pun itu. Sebelum maupun setelah zaman aku memantik perasaan itu!

***

TAKKAN ada yang melebihi cintanya padaku. Aku tahu dia hanya wanita biasa. Ibu rumah tangga yang melakoni perannya dengan biasa pula. Namun, adalah adil bukan, bila kunyatakan bahwa hanya 0,99% saja wanita kota yang menjalankan peran sebagaimana mestinya! Bukankah, bagi wanita kini, karir menjadi sesuatu yang mesti dikedepankan, mengalahkan segalanya? Memang, ini terkesan memukul rata. Namun, paling tidak, aku ingin menegaskan bahwa, bagiku, ia sangatlah istimewa. Begitu istimewa. Hingga aku rela melakukan apa saja untuk menemukan titik lemahnya. O tidak! Aku gagal, gagal menemukannya! Sudah 16 tahun kami mengayuh sauh. Satu putra dan satu putri mengawaki bahtera kami. Sungguh, aku tak pernah melihatnya menangis serupa tadi. Ia memelukku lama sekali di pelataran bandara. Aku tahu, ia baru akan melepas pelukannya ketika yakin bahwa air matanya tak lagi membekas di kantung matanya. Namun, ketika kami saling merenggangkan badan, ia tak dapat menyembunyikannya. Ya, walaupun ia seri-serikan wajah, tapi itu tak cukup berhasil menutupi sembab matanya. Pula, aku sangat yakin, ketika aku telah berada 11.000 kaki di atas tanah, ia masih menengadah. Dengan tangan yang melambai tak rela. Dengan air mata yang tumpah ruah.

***

MUNGKIN, Papa pikir aku tak pernah mendapatinya memukul Mama hingga terjerengkang di suatu malam. Sebenarnya, tak ada niat sedikit pun untuk menguping apalagi sampai mengintip pertikaian mereka. Namun, suara mereka terlampau keras. Mungkin mereka kira aku sudah tidur sejak pukul 8. Mereka tak tahu bahwa aku baru saja mengerjakan PR pukul 11.30 malam. Setengah jam sebelum aku menyaksikan semuanya. Pun ketika Mama membuat pintu berderit sekitar 15 menit sebelumnya, aku baru saja memeluk guling dengan tampang sok pulas. Padahal, aku hanya ingin Mama mencium keningku sebagaimana sering dia lakukan. Malam itu tidak. Aku pun tak mempermasalahkannya. Mungkin Mama tak mau menganggu tidurku. Mungkin ia tahu bahwa aku terlampau lelah dengan PR-PR. Mungkin�. Ah, yang jelas aku bersyukur bahwa adikku tak tahu semuanya. Bogem mentah Papa yang beberapa kali menghantam wajah, pecutan ikat-pinggang kulit yang beberapa kali mampir di pinggang dan bahu, bahkan tendangan yang aku yakin membuat perut senak, adalah hal yang tak pernah kubayangkan akan diterima Mama. Apa Papa tak tahu bahwa aku anak kelas satu SMA?

***

PAGI itu, Mama tak keluar kamar. Aku tak tahu mengapa. Ketika aku hendak ke kamarnya, Papa melarangku. Kakak juga melarangku. Mereka jadi aneh pagi itu. Maka, aku hanya melahap roti selai kacang setengahnya (biasanya aku habis sampai dua lapis). Di dalam mobil ke sekolah, aku tak berani menanyakan hal itu pada Kakak. Apalagi pada Papa. Yang kutangkap dari raut muka mereka, ada sesuatu yang tak biasa. Papa seperti orang kesal berpanjangan. Kakak yang cemberut sesekali melirik Papa yang duduk di samping sopir. Wajahnya mirip sekali orang yang menahan marah. Semua makin ganjil ketika sampai di sekolahnya, Kakak tak mencium punggung tangan Papa. Entah mengapa, aku meniru tingkahnya ketika aku telah sampai di SMP. Beberapa kali Papa memanggilku. Namun, aku tak menoleh-noleh. Aku tak mengerti. Aku merasa Papa memang harus dicuekkan pagi itu. Pagi itu saja, pikirku. Namun, ternyata tidak dengan Kakak. Kakak tak pernah salim pada Papa lagi. Aku pernah bertanya pada Kakak tentang itu. Kakak selalu mengatakan bahwa aku masih kelas dua SMP. Masih anak-anak. Nanti aku akan tahu sendiri. Uuuh, selalu begitu.

***

AKU tak mengerti bagaimana cinta ini dapat sebegitu rimbun. Ketika kami satu kelas di SMA dulu, sedikit pun rasa itu tak terpendar. Namun, ketika kami terpisah jauh�sungguh aku tak lagi mengingatnya atau mungkin aku sudah melupakannya, tiba-tiba saja, perasaan �suka yang ganjil� lamat-lamat menyusup. Wajahnya, perawakannya, gaya bicaranya, belahan rambutnya� mampu kugambarkan dengan sempurna dalam ingatan. O, sungguh aku tak paham. Akhirnya, aku lelah berselisih dengan perasaan. Maka, aku pun takluk. Aku bagai menyadari sesuatu: Aku adalah wanita yang masih percaya pada Tuhan. Maksudku, kelak, ketentuan-ketentuan-Nyalah yang akan menggiringku ke kehidupan yang sebagaimana mestinya. Jodoh adalah satu dari ketentuan-ketentuan itu. Ketentuan yang penuh rahasia. Rahasia? O maksudku semacam misteri. Misteri? Entahlah, semuanya sumir. Yang kurasai adalah, aku begitu mencintainya, seperti apa pun perlakuannya. Desas-desus dari tetangga, kuanggap, tak lebih sebagai rasa iri yang meluap hingga harus dibagi dengan orang lain. Sungguh, aku mencintainya. Sangat mencintainya.

***

WALAUPUN aku tak dapat menyangkal betapa Papa bukanlah orang yang membuatku (dan adikku) bangga memilikinya, namun aku tak percaya pada pendapat teman-temanku itu (sebagian mereka adalah anak-anak tetangga). Papa suka jalan dengan wanita lain. Dan Mama beberapa kali bilang, para tetangga iri pada kami. Aku sempat bertanya apa yang membuat mereka iri. Ketika kusebut beberapa kemungkinan penyebabnya, Mama menggeleng. Bukan karena Papa selingkuh (sambil berseloroh, Mama berkata, siapa yang naksir dengan lelaki jelek berbadan gempal seperti Papa), bukan karena kami sedikit lebih kaya dari mereka, bukan karena Mama adalah wanita cantik yang selalu ramping, bukan karena Papa-Mama memiliki satu arjuna-satu srikandi�. Bukan itu semua, kata Mama. Mereka iri karena Mama memiliki Papa yang begitu Mama cintai; Papa memiliki Mama yang begitu mencintainya. Aku diam. Alangkah beruntungnya Papa. Hingga, sepulang dari bandara dengan wajah yang memarun, Mama langsung menuju kamarnya. Aku tahu, di sana, kasur dan bantal akan basah. Tiba-tiba, aku sangat bersyukur, Papa pergi dari kami. Dari kehidupan kami. Mungkin, inilah sebabnya, perceraian adalah perkara yang dimungkinkan sekaligus dibenci Tuhan.

***

KATA Kakak, aku tak boleh sedih. Bahkan Kakak menyuruhku bersyukur. Aku tak paham. Aku gegas mengetuk keras-keras pintu kamar Mama. Memanggilnya dengan setengah berteriak. Masih setengah daun pintu dikuak, Mama sudah memelukku. Mama menangis. Aku pun menangis. Dari balik pintu yang terbuka sedikit, kulihat Kakak juga menangis. Kakak pun bergabung dengan kami di kamar itu. Kami saling berangkulan. Aku masih tak mengerti. Aku tiba-tiba saja bertanya, mana Papa. Mama memelukku makin erat. Maka, raunganku mengalahkan tangis Mama ketika Kakak bilang Papa pergi selamanya. Mama buru-buru menimpali bahwa Papa bukannya meninggal. Papa bertugas ke luar pulau. Aku tak percaya. Baru ketika Kakak memberikanku pilihan, aku tersadar bahwa Papa lebih baik tak bersama kami. Adik ingin Papa pergi, atau kita punya dua Mama, tanyanya sembari menyeka air mataku. Akan selalu kungiang kata-kata Kakak itu.

***

O, bagaimana mungkin tenung itu tak dapat dicabut?! O, benarkah yang dikatakan lelaki sepuh itu. Tenung adalah jembatan untuk membuat cinta itu tumbuh. Dan istriku, masih katanya, bukan wanita biasa. Cintanya tumbuh tak tergesa-gesa padaku. Akhirnya, cinta itu melingkupi segenap perasaannya, tanpa ada perkara tenung-tenungan itu. Walaupun aku menyangkalnya tadi, namun hati kecilku mengakui betapa cintanya begitu dalam padaku. Sudah beberapa kali kucoba meluruhkannya. Dari main serong, memukulinya bertubi-bertubi, bahkan ketika aku menceraikannya pun, ia masih bilang bahwa ia tetap mencintaiku. Oohhh! Tak tahukah ia bahwa aku hanyalah mantan remaja yang tergila-gila padanya ketika SMA. Dan itu kuluapkan dengan menguna-gunainya. Dan berhasil. Namun, siapa pula yang sudi memiliki istri yang tak pernah marah dan tak pernah menyanggah. O, alangkah hebatnya guna-guna dukun itu. O bukan, alangkah bodohnya aku!!!

�Aku heran, untuk apa kau jauh-jauh terbang ke sini, bukankah kau sudah menceraikannya?� Dukun itu tiba-tiba bertanya.

Aku mengernyitkan dahi.

�Maksudku, kau sudah bisa menikah lagi sekarang,� lanjutnya.

Aku meneguk liur. Kutinggalkan lelaki itu. Sungguh, aku ingin menangis. Aku ingin kembali�.

***

Sebuah buku usang terbuka halaman tengahnya. Di sana terbaca sebuah paragraf.

Natnitnole adalah nama bunga yang selalu jatuh berserakan di taman-taman kota Hatna Hatnareb saban pagi. Orang-orang yang lalu lalang di jalan setapak taman, bagai bersicepat menginjaknya. Makin remuk mahkota dan kelopaknya, maka makin menyebarlah bau-bau harum yang bersumber dari kotak sarinya yang pecah.

Makin hancur bunga itu, makin semerbak wanginya.

Makin dibunuh cinta itu, makin hiduplah ia. (*)

/Lubuklinggau, 10 s.d. 15 Desember 2009

Sesungguhnya Saya Sedang Kasmaran

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Karya, Sabtu, 7 Agustus 2010

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Menahan hawa nafsu.

Mereka harus belajar tak makan-minum seharian. Memaknai bahwa rumahtangga sejatinya bangunan kerontang. Ia bukanlah supermarket yang bernama kebahagiaan. Ia adalah gudang makanan yang kosong dari persediaan. Mereka bukan harus mengambil darinya, namun justru mengisinya, untuk dibawa ke kapal asmara yang sudah ditaut di pelabuhan cinta. Mereka makan ketika dibutuhkan, mereka minum ketika haus saja. Makan pun taklah boleh terlampau banyak.

Tak elok kekenyangan. Alih-alih membuat badan bertenaga, alih-alih menambah semangat bekerja; namun justru membuat rasa malas kian betah. Minum pun jangan sampai membuat perut kembung. Alih-alih menghilangkan haus, namun justru menyebabkan sakit perut. Ya, makanlah sebelum lapar, dan minumlah sewajarnya. Maka, rumahtangga akan dirasai sebagai bahtera yang lunas berlayar bila sesiapa yang ada di dalamnya mampu mengatur persediaan makanan dengan baik, mampu menggunakannya secara tak berlimpah.

* * *

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran!
Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Menahan hawa nafsu.

Mereka harus belajar tak melampiaskan amarah seharian. Memaknai rumahtangga sejatinya kebahagiaan yang diciptakan. Mereka harus sabar menenggang segala salah, silap, dan dosa, yang sangat mungkin dilakukan oleh masing-masing pihak, lalu melukai masing-masing pula, lalu bersemayamlah tungku kebencian yang awalnya adalah kesal-kesal manja, lalu tanpa disadari masing-masing menyiramnya dengan minyak kecemburuan, lalu mereduplah api asmara karena dilumat bara asmara yang menyala-nyala (benci menjadi dengki, cemburu menjadi ragu). Bila tak segera dimatikan, maka rumah kebahagiaan hanya tinggal impian. Bila tak ingin menghadapinya, keselarasan berumahtangga bagai jempol dalam isapan. Maka, bila mencintai, cintailah sekadarnya. Bila membenci, bencilah sekadarnya.

* * *

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memaknai waktu mengolah amanah.

Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma di malam punai. Memaknai bahwa berumahtangga sejatinya tentang kecakapan mengolah amanah. Maka, mereka bertadarus. Mengaji bersama-sama. Menyelesaikan juz demi juz. Mengkhatamkan Al Qur'an. Semuanya tak hanya dianggap sebagai lelaku jamaah. Lebih dari itu, mereka memaknainya sebagai tanggungjawab yang menyenangkan. Bila kehidupan rumahtangga sudah diserakkan oleh onak dan duri, mereka memungutnya. Bersama-sama.

Ya, percintaan adalah kitab suci dengan halaman tak berbatas. Mereka mesti membacanya bila ingin merayu Tuhan agar Dia senantiasa melimpahkan karomah. Mereka akan selalu mengkajinya demi melunaskan penasaran; kapan juz 30 berlabuh?.

Selalu. Sampai bila-bila. Karena mereka tak tahu, di mana surat Al Ikhlas bersemayam demi melafalkan kalimat bahwa Ia Mahabenar dengan Segala Firman. Mereka akan tahu bila tiba-tiba Israil tersenyum dan bilang, "maaf, sudah saatnya kalian pulang" dengan santun dan suara yang halus. Ketika itu mereka tiba-tiba berada di lembar terakhir mushaf. Mereka tutup Al Quran. Tadarusan tunai.

* * *

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Mengeja cinta dengan berbagi.

Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma seharian. Memaknai bahwa berumahtangga sejatinya tentang memberi. Mereka bayar zakat. Mereka perbanyak sedekah. Tentu mereka tahu, betapa masih banyak anak-anak jalanan, janda-janda fakir, dan orang-orang papa, yang terlantar, yang kehadirannya bagai disengaja Tuhan untuk melihat apakah mereka bersedia memberi atau tidak sama sekali. Maka, berumahtangga bukan hanya usaha menggunungkan kebahagiaan. Namun juga usaha mengikisnya perlahan-lahan. Memberikan sebagian kesemringahan agar yang lain jua merasakan nikmatnya kehidupan. Gunung takkan menjadi lembah bakda meletus, bukan? Kebahagiaan takkan sirna ketika berbagi, bukan?

* * *

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran!
Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memaknai waktu sebagai lembaran obituari.

Mereka harus belajar mengingati diri. Bahwa hidup akan bermuara pada pilihan yang dimaklumatkan jauh-jauh hari. Jannah atau jahim. Surga atau neraka. Mereka mengunjungi rumah-rumah mungil yang ditandai papan atau batu kembar. Di sana, di peraduan anggota keluarga mereka (atau juga teman dekat mereka) yang telah menyatu dengan tanah, dengan semua peritabiat yang sedikit-banyak diketahui, mereka akan mengira-ngira; ketika Munkar-Nakir menanyainya tentang Tuhan, rasul, agama, kitab suci, kitab suci, apakah ia kuasa menjawabnya, atau justru gada-bara akan menghantam kepalanya! Maka, rumahtangga adalah titi untuk menggapai impian hakiki itu. Salah-salah melewatinya, akan terjerengkang di sungai api.

Ah, lupakanlah itu! Mereka memejamkan mata sejenak. Salah satu dari mereka pun melafalkan serentetan kata keramat yang telah dihafal mati-matian sebelum ketib, penghulu hadir di hadapan mereka berdua. Oh, bukankah sebuah kebahagiaan tak terkias ketika mendapati iman telah genap (hanya) dari sebuah pernikahan yang akan menunaskan keberkahan demi keberkahan dalam istana yang bernama keluarga? "Bagaimana saksi-saksi?" "Sah?" "Sah!"

* * *

Beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda lebaran! Mungkin lebih tepatnya kukatakan, beruntunglah orang-orang yang akan menikah bakda Ramadhan! Mereka akan menikah setelah melalui satu bulan penuh cabaran. Memperlakukan waktu sebagai amalan.

Mereka harus belajar tak membuang waktu percuma di malam punai. Memaknai bahwa rumahtangga sejatinya tentang kecakapan mengolah kemesraan. Mereka bertarawih di malam-malam yang senantiasa penuh berkah. Beribadah bersama-sama. Menikmati semuanya. Sebagaimana mereka mesti meyakini, mereka adalah pasangan yang akan bersama dalam waktu yang lama, sangat lama, selama-lamanya. Maka, bila merasa jenuh mengunjungi masjid kampung, mereka bersafari ke rumah Tuhan-rumah Tuhan yang lain di kampung tetangga. Bila mereka merasa bosan dengan kebersamaan yang berlaku selama ini, maka pergilah mereka ke tempat-tempat yang indah. Tempat-tempat di mana berbotol-botol air cinta siap dibawa pulang. Sesampai di rumah, mereka siram pohon-pohon kemesraan yang hampir layu dan mati.

Mereka pun menunggu sembari selalu menyiraminya. Berdua saja. Sambil tersenyum dan bercubit-cubitan mesra. Sampai akhirnya pohon-pohon itu berbuah. Biji-bijinya jatuh satu per satu. Bertunas-tunas. Tanpa mereka sadari ada yang berbeda setelah sekian lama:
"Ah, anak-anak kita sudah besar, ya!" ***

Lubuklinggau, di ujung Juli 2010

Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Merdeka, 27 September 2009 | 19:46 wib

BAHU Romli naik-turun bersamaan dengan napasnya yang image megap-megap menahan buncah, mencoba meredam marah yang sangat. Bila tak menenggang bahwa malam itu ranjang pengantinnya digelar di sebuah kamar kediaman mertua, sudah sedari tadi ia mengusir Siti: perempuan yang baru pagi tadi menjadi halal baginya. Halal? Ai, tak ada gunanya itu, jika bunga yang baru dipetik, bentuknya saja yang serupa mawar, tapi baunya lebih jadah dari tahi ayam!

Masih tanpa sehelai kain pun yang membalut badannya, Romli membuka almari, mengambil selipatan kaus oblong dan sepan 1). Memakainya terburu-buru. Menutup kembali tempat pakaian itu dengan tenaga beberapa kali lipat dari biasanya. Lagi, ia menatap tajam Siti yang mencangkung di sudut ranjang. Perempuan itu menangis dengan sedu-sedan yang diredam. Kedua tangannya memegang kain songket dengan gerakan menutup dada. Adakah laki-laki itu mau menerima penjelasan bahwa sesungguhnya dirinya masih suci? Jangankan seranjang dengan lanang lain, sebelum malam itu, berlinjangan 2) pun ia tak pernah. Demi Allah! Demi Rasul!

Siti sudah membayangkan, setelah malam itu, hari-harinya akan buras. Esok, orang-orang kampung pasti telah mencium semuanya. Bukan menanam prasangka bahwa Romli akan mengumbar aibnya, tapi� bila alam dapat meletuskan kalam, langit dan bumi pun membela laki-laki itu: Memang sakit hati suami kau tu... Tapi bolehkah dibuat perbandingan tentang siapa yang lebih jatuh ke jurang dengan malu yang tak tepermanai oleh takdir? (0h, Siti tak marah dengan Tuhan, tapi apa kiranya istilah yang layak menyimpul keperihan itu?).
PRAAAK!

Bak almari tadi, pintu kamar juga ditutup dengan tenaga lebih dan serampangan. Siti bersegera menuju daun pintu yang berderit. Menutupnya segera dengan palang ruyung. Tak ada jua maksudnya untuk berteriak agar laki-laki itu jangan pergi jauh, jangan pergi lama, jangan menjadikannya janda kilat. Tak ada perempuan yang sudi menjadi istri dalam sehari saja. Tak ada istri yang sanggup makan talak sebanyak tiga kali setelah meneguk ijab kabul satu hari sebelumnya. Tak ada dalam sejarah. Tak terukir di dalam adat. Tapi... Siti tampaknya akan membuat itu. Paling tidak, itu yang berpusingan di kepalanya. Oh, hancurnya perasaan. Buruknya nasib.

Bahkan, bercerita pada Bi Salma dan Mang Sadi saja ia tak ada daya. Walaupun ia sudah dianggap layaknya putri sendiri, namun laki-laki yang suci pasti muntab dengan apa yang didapatnya. Sesiapa yang bertegak pada keadaan Romli pasti jua menyalahkan dirinya. Dan kemestian itu jua berlaku pada dua orang yang membesarkan dan mengawinkannya pagi tadi itu. Mereka tak akan menyalahkan mempelai pria. Oh, mengapa Tuhan tak menurunkan tanda untuk mengetahui kesucian laki-laki sebagaimana perempuan memiliki gendang-kacang di antara kedua pangkal pahanya? Adakah tanya �yang takkan pernah terjawab� itu hanya sebuah pelarian dari ketakterimaan Siti sebagai perempuan yang menjadi korban sebuah ketaklaziman �yang ia sendiri tak memahaminya?

Memang, tiada penting itu digesah, 3) tapi... Siti masih sebenar-benar gadis, perawan ting-ting. Hanya Tuhan yang dapat menjelaskan bagaimana nasib kelam itu turun padanya, bagaimana gendang itu pecah!!!

***

ADAT dicipta untuk membuat rupa-rupa tingkah, kerja, dan kata-kata menjadi legenda. Adat melahirkan dan menjadikan semua. Jangan menyapu ketika malam memeluk bumi, tak elok, berkurang rezekimu. Ai, adakah malaikat banyak berderma ketika matahari sudah terlelap? Bersiap-siaplah �dengan selayaknya� karena akan ada orang yang bertandang, itu yang dikatakan Wak Sambit suatu waktu, ketika kebetulan ia melihat seekor kupu-kupu tengah menari-nari masuk ke rumah kami. Bukankah dikau sendirilah tamu itu, Wak?

Siti juga masih ingat, ketika usianya belum sama dengan jumlah jari tangan, bersama teman sebayanya (hanya Romli, anak Haji Asep, yang sudah SMP saat itu), ia berlomba-lomba membetet 4) cicak demi mengumpulkan mereka sebanyak-banyaknya. Ini malam Jumat. Berkumpulah di beranda siapalah. Siapkan karet gelang yang masih kuat. Kalian dapat amal banyak nantinya lewat kadal langit-langit itu. Waktu itu Siti baru tahu tahu kalau cicak adalah hewan mulia yang mesti bernasib malang di malam ia biasa mengaji.

Dan...ternyata semua hanya sebagian kecil dari umbul-umbul adat. Ya, Siti tak pernah duduk di depan pintu rumah karena takut jadi gadis tua. Siti tak pernah keluar magrib karena Hantu Wewe �yang tak pernah ia lihat� sudah menanti di pohon belimbing di sisi kanan kandang rumahnya. Siti selalu mengibaskan kain ke kasurnya karena tak ingin dipeluk hantu ketika tidur. Siti tak pernah menyisir rambut di luar rumah karena takut dipinang duda atau lelaki yang sudah beristri tiga. Siti memercayainya. Semuanya. Namun empat tahun yang lalu, ketika ia harus memamah kenyataan sebagai yatim-piatu, larangan seakan dicipta untuk dirinya.
Tak elok anak gadis bersepeda!

Dan Siti merasa bukan saatnya lagi bunga bibir orang yang mengatur hidupnya. Ia tak sedikitpun menggubris hal itu. Bukan perkara ia menemui jawaban yang berbeda-beda dari orang-orang kampungnya atas pamali itu. Tapi banyak hal yang membuatnya harus menutup telinga.

***

SITI lahir di Batu Urip, salah satu kelurahan di Lubuklinggau. Pada usianya yang ke-10, ia sudah ditinggal-mati orang tuanya dalam sebuah tabrakan sepur 5) di Muara Enim. Sejak itu pula ia diboyong keluarga teman lama bapaknya ke Binjai. Ya, hingga kini, ia tinggal di pedalaman Muara Kelingi itu. Membantu Bi Salma dan Mang Sadi nakuk 6) di sebuah rimba. Tapi, Siti lebih banyak di rumah kayu (ia tidak menyebutnya �pondok�). Mengurus rumah; menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam mereka; kadang juga masak pempek taghuk 7) ubi; dan tentu saja bersekolah.

Sekitar enam kilometer jarak rimba dengan sekolahnya. Itu belum termasuk jarak yang harus ditempuhnya agar keluar dari rimba. Oleh karena itu, Siti merasa sangat beruntung ketika mengetahui Mang Sadi memiliki sepeda. Walaupun dengan berat hati, laki-laki itu membolehkannya juga. Siti pun menunggangnya saban hari ke sekolah. Orang kampung biasa menyebut kendaraan roda dua itu kereta unta. Tinggi tempat duduknya hampir setara pinggang orang dewasa, kulit dudukannya mengilap dan licin, stangnya sangat lengkung, rodanya sebundar lubang derum, ciri khas kehadirannya yaitu, kring-kringnya yang sangat nyaring berdengking. Ya, sejak kelas enam SD hingga menamatkan SMP, Siti menunggang unta besi itu.
Pamali itu?

�Sebenarnya tak elok, Nak. Tapi...dengan apa lagi kau bisa bersekolah kalau tidak menunggangnya,� ujar Bi Salma suatu hari.

Nah, bagaimana gadis itu dapat menanggapi gunjingan orang-orang, bila perempuan �yang sudah dianggapnya orang tua�itu saja tak melarangnya. Lagipula, adakah orang-orang kampung akan bersedia memindahkan SMP ke tanah lapang dekat rimba karet-nya? Begitulah. Akhirnya bibir orang kampung pun capai juga. Dan...semuanya berlaku dan berlalu dari waktu ke waktu.

Sampai suatu hari, Bi Salma dan Mang Sadi mengajak Siti berbicara khidmat di beranda rumah kayu. Siti terdiam. Pikirannya berlayar pada keinginan masa kecilnya: Jadi Bu Guru! Sejak Bu Mayang, gurunya di kelas dua SD dulu, memperkenalkan padanya sebuah kata yang langsung menyetrumnya: cita-cita, Siti seakan tersadar bahwa ada mimpi yang lebih harum daripada bunga tidur. Cita-citanya itu seringkali ia utarakan pada orang tuanya sepulang sekolah. Siti harus sekolah yang rajin, yang tinggi, lalu masuk PGSD, begitu kata ibunya, sebelum bapaknya meraih tubuh mungilnya, menggendongnya, dan mengungkapkan bangganya ia pada gadis kecil itu.

Tapi...itu masa lalu, kenangan yang sudah dirampas oleh waktu. Waktu jua yang membawanya harus menjadi gadis yang tahu diri. Bahkan sebagai keluarga yang tak bersanak di Linggau saat itu, ia sangat beruntung dibesarkan dengan penuh kasih-sayang oleh Bi Salma dan Mang Sadi. Maka, cita-cita itu diremasnya hingga remuk, dan melemparkannya ke keranjang sampah yang ia sendiri lupa di mana tempatnya.

�Bagaimana, Nak?�
Siti mengangguk. Gadis itu maklum bila Bi Salma terkesan setengah memaksanya. Ya, ia sadar telah memberatkan �orang tuanya� itu. Lagipula, bila pun ia lebih memilih bersekolah daripada menikah, apakah sanggup pasangan tak berketurunan itu membiayai SMA-nya nanti?

Siti kibaskan semua resahnya. Ia harus mencari pelarian pikiran untuk memerahmudakan semuanya. Romli, ya Romli. Sungguh, tak ia sangka bila kawannya membetet cicak itu menanam rasa padanya, sampai-sampai ia merasa perlu menyusulnya ke Binjai. Oh, Tuhan memang pandai menyusun teka-teki. Siti larut dalam ketakjuban pada ketentuan yang dihadiahkan padanya itu. Ia tak terlalu menyimak Mang Sadi yang bercerita macam-macam: perihal Bi Salma yang seumuran dengan dirinya ketika dipinang dulu; perihal Romli yang akan mengambil kuliah di Kairo, dan...pemuda itu baru dipersilahkan Kiai Asep untuk ke sana bila sudah menikah.

Ah, tak peduli Siti pada itu semua. Mendengar nada dan gaya bercerita Mang Sadi saja ia sudah tahu kalau lelaki itu begitu bangga dengan pinangan Romli. Bi Salma pun diyakini Siti setali tiga uang saja. Mungkin, ini saatnya pula bagi Siti menghidangkan madu pada mereka, setelah sekian lama ia selalu disuapi susu....

�Tentu saja, anak orang alim itu akan memilih istri yang baik. Dan itu kau, Siti.� Mang Sadi memberi tekanan lebih pada kalimat terakhir ini hingga membuat Siti sedikit jumawa. �Tak usah kau pikirkan perihal pandangan orang tuanya. Mereka orang yang baik. Bahkan minggu depan mereka akan ke sini langsung meminangmu. Hanya satu pinta kami, ijab-kabul kalian mesti terselenggara di Binjai, Nak. Biar orang-orang tahu kalau anak gadis ambikkan 8) kami bertuah, dapat dibanggakan...�

Siti tersenyum.

�Sekalianlah malam pertama kalian di rumah panggung sanak kita di kampung ujung...,� lanjut Mang Sadi.

Wajah Siti berona-rona. Malu.

�Cukup luas, Nak,� sambung Bi Salma.

�Ya, setelah itu pergilah kalian ke Linggau, ke Mesir sana...Ai, bangganya kami, Nak.� Mang Sadi menerawang. Air mukanya cerah.

�Jadi...,� kata Bik Salma. �Tak usah kau ber...kereta...�

Wajah Mang Sadi tiba-tiba tegang. Tatapannya tajam pada Bi Salma, seakan-akan wanita itu baru saja mengutarakan sebuah kekeliruan (sebenarnya telah melakukan kekeliruan: kekeliruan yang besar selama empat tahun gadis itu bersama mereka!!!).

Dua laki-bini itu bergegas ke dalam. Dan� perang pun menyala di situ. Mereka saling menyalahkan sekaligus menakutkan terjadinya hal-hal yang dikhawatirkan. Ohhh... pamali itu? Siti tak berani mendekat, bahkan menguping sedikit pun. Tapi...mereka terlampau keras suaranya. Walau tak begitu jelas kalimat yang mereka lontarkan, tapi beberapa kata yang sayup-sayup terdengar, membuat Siti bergidik. Malam pertama, kereta unta, gendang, pecah, darah, perawan....

***

SUBUH masih basah. Embun baru saja menyingkir dari pucuk-pucuk karet. Tapi penduduk kampung sudah mengerumuni rumah panggung itu. Bukan, bukan beberapa mobil mewah Haji Asep beserta rombongannya yang mereka kerubungi. Tapi...perihal gadis berkereta-untalah yang menyeret mereka ke sana. Selanjutnya, mulut-mulut mereka mulai bekerja. Melumat kebanggaan Bi Salma dan Mang Sadi yang belum genap berusia satu hari.

�Pak Sadi, kami malu. Malu sekali. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Kami tak akan memanjangkan tali kelambu. Sesegera mungkin akan kami urus ke KUA. Bila perlu dalam hitungan hari saja surat cerai akan dikeluarkan,� Haji Asep berusaha meredam emosinya.
�Romli...!!!� Hajjah Mala memanggil anaknya. �Sudah kautalak si Siti?!�

Maka bergegaslah Romli menaiki jenjang, menuju kamar pengantin itu. Secepat kilat ia kembali. (Oooh, terbayangkah bagaimana bila engkau yang menjadi gadis pucat bermata sembab di kamar itu?). Lalu Romli segera masuk ke mobil. Diikuti kedua orangtuanya dan serombongan sanak keluarga yang lain.

Kendaraan-kendaraan mewah itu menderu menerbangkan embun-embun debu. Mereka ke Binjai cuma mengantarkan orang-orang kampung seikat bahan gunjingan baru, untuk mereka lalap di kedai, meja makan, anak jenjang, jamban anak Musi, dan rimba-rimba karet. Tak ada yang peduli pada gadis yatim-piatu di dalam rumah pengantin itu. Sambil mengulum senyum, mereka hanya menonton Bi Salma yang menenangkan suaminya yang membanting-banting unta besi di halaman rumah panggung. 35)

Lubuklinggau, 12 April 2009

Catatan:
1) Celana panjang, biasanya terbuat dari bahan kain.
2) Berpacaran
3) Dibicarakan
4) Membidik �istilah ini disematkan pada yang melakukannya dengan karet gelang, ketapel, atau sejenisnya.
5) Kereta api
6) Menyadap karet
7) Daun �lebih sering dipakai untuk sayur (daun-daunan)
8) Pungut
(/)

Minggu, 01 Agustus 2010

Sesungguhnya Dia Sangat Cemas

Cerpen Benny Arnas & Rama Dira J
Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 01 Agustus 2010

MESKI malam telah sempurna, perempuan itu masih saja termenung di mulut pintu. Ia tak bisa tidur. Kebimbangannya menggunung. Adik-adiknya telah sedari tadi dibekap mimpi. Pikirannya berlari-lari, berputar-putar, sampai akhirnya bermuara pada seorang lelaki yang sehabis magrib tadi turun melaut bersama beberapa kawan.

Apakah ia akan pulang dengan selamat? Pertanyaan itu seolah mengabaikan kelakuan alam yang tak patut dirisaukan; langit yang cerah, bintang-bintang yang berserakan, bulan yang jingga penuh, atau angin laut yang berembus sewajarnya, membawa air asin beriak, lamat-lamat menggapai tubir pantai...

Ia tak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Meski lelaki itu sudah dikenalnya semenjak masa kanak, ia memang jarang menaruh perhatian berlebih padanya. Ia seolah menganggapnya bocah kecil yang terpisah dari dunianya; menjelma si pengembara yang tersesat di kampung halamannya, lalu Tuhan menciptakan sebuah perkenalan yang memaksa jantung mereka berdegup tak sewajarnya. Bagai dapat membaca semuanya, dan nyaris tanpa mukadimah, laki-laki itu menyuntingnya. Tanpa didampingi orang tua dan keluarga. Tanpa antar-antaran. Hanya dengan Alquran murah bersampul warna emas, telekung tipis berenda kembang mangkok, dan --ini yang dikatakan laki-laki itu sebagai mutumanikam dari langit-- setangkai cinta!

***

DI usia yang dapat dihitung dengan jemari yang tumbuh di kedua tangan; bersama kedua adiknya, lelaki itu dipaksa menjadi yatim piatu. Orang tuanya bagai membuang najis mugholadoh ketika mencoret mereka dari daftar buah hati. Entah, bagaimana bila kalian mendapati kenyataan yang lebih kelam ini: ayah-ibunya membuat keluarga baru, dengan pasangan yang baru, dengan anak-anak yang baru!!!

Hidupnya limbung. Ia tak pernah sempat bergaul dengan kawan sebaya sebab keadaan memaksanya menjadi dewasa lebih cepat. Ketika anak-anak turun sekolah, ia justru ikut melaut sebagai anak buah kapal. Ia terpaksa menggantungkan hidup dari hasil tangkapan. Tak seberapa sebenarnya yang didapat. Ia hanya dijatah satu-dua ikan yang tak laku dijual. Bila majikannya sedang baik, barulah beberapa lembar uang ribuan mengisi kantungnya.

Lalu, nasib membawanya ke kampung ini. Kampung yang tak jauh beda dengan tanah kelahirannya. Kampung yang dikepung oleh laut dan nyiur. Kampung yang menabrakkan mereka dalam sebuah asmara yang nyaris tak beriak.

Perayaan Agustusan tiga bulan silam. Ketika pertandingan tarik tambang dihelat. Regu perempuan itu berhadapan dengan regu kampung seberang. Jelang kemenangannya; tambang ditarik dengan sepenuh kekuatan, selepas-lepasnya napas, dan semeletupnya amarah. Regu lawan terhuyung ke muka. Perempuan itu, yang menjaga baris belakang, ikut terjerengkang. Seharusnya tulang belakangnya sudah mencium punggung batang kelor yang berada tak jauh dari arena pertandingan, bila laki-laki itu tak menamengkan tubuhnya, membuka kedua tangannya, dan... ups! setengah jongkok ia menahan beban perempuan itu. Serta merta tepuk sorai bergemuruh. Keriuhan itu bukan hanya untuk kemenangan regu kampung si perempuan, namun juga diselipkan olok-olokan: oooiii, ada perawan jatuh di pelimbahan bujang! Tawa-tawa itu pecah bagai menyemprotkan cairan merah muda di wajah mereka yang tiba-tiba melepaskan rangkulan. Keduanya baru tahu, cinta bisa hadir kapan pun ia mau.

***

MENGAPA ia tak membawa azimat penolak balak? Perempuan itu masih meredam buncah; cemas yang berkeriapan. Sebuah kalung yang terbuat dari kain serba kuning dan tersebar rajah tulisan Arab gundul dengan tinta hitam, lupa dibawa suaminya.

Suaminya pernah bercerita. Ia pernah lepas dari aksi perompakan berkat azimat penolak balak. Malam itu, sebuah kapal motor milik segerombolan perompak merapat ke perahu ketinting miliknya. Ia sendirian. Sedangkan gerombolan perompak itu berjumlah sekitar sepuluh orang. Para perompak ini bermaksud mengambil mesin ketinting dan hasil tangkapannya untuk dijual lagi. Mereka sudah mengarahkan senjata padanya dan beberapa di antaranya bersiap-siap turun dari kapal motor. Sebelum mereka berhasil merompaknya, dalam hitungan detik, ia bersama perahu ketintingnya menghilang dari penglihatan para perompak itu. Berhadapan dengan keganjian yang tak bisa dinalar, para perompak ciut nyali. Mereka buru-buru meninggalkan tempat itu dan menganggapnya sebagai hantu laut.

Sejujurnya, sebelum malam ini, ia menganggap cerita itu bualan semata. Bila pun benar, ia yakin ada yang dilebih-lebihkan. Namun kini, ohhh, semua yang berpeluang menumpuk kekhawatirannya, bagai berlomba-lomba menjelma kenyataan; memerudukkan kecemasannya yang kian memuncak.

Kini pikirannya mengembara pada cerita-cerita orang tentang para perompak di laut ganas. Dalam aksinya, para perompak tak segan melakukan kekerasan terhadap para pelaut yang dituju. Dan... jika sampai bertemu para perompak itu, tentulah kawanan suaminya akan sangat mudah diringkus. Selain tak membawa azimat keberuntungan, kondisi kapal dongfeng (sebutan yang merujuk pada merk mesin diesel yang dipakai sebagai penggerak kipas di buritan kapal) bisa menjadi sebabnya. Meski berusaha melarikan diri, kecepatan lari kapal yang mereka awaki itu tentu hanya menjadi bahan tertawaan kapal motor para perompak dengan mesin ganda yang berkekuatan 100 pk itu.

Bagaimana kalau mereka dibuang para perompak itu ke laut? Meski tahu suaminya seorang nelayan yang sedari bocah sudah biasa bercengkerama dengan laut, ia belum sepenuhnya yakin bahwa ia seorang perenang andal. Ia tak pernah mendengar cerita kalau-kalau suaminya pernah berhadapan dengan badai. Katakanlah perahunya terbalik atau pecah oleh hantaman ombak ganas hingga terpental ke laut, dan ia berenang menyelamatkan diri, bisa mencapai tepian dengan selamat. Ia belum pernah mendengar kisah penyelamatan diri semacam itu dari bibir suaminya. Belum pernah!

Ah, bodoh benar jika aku sampai berpikir yang macam-macam, jangan-jangan ia tak melaut?

O o, bagaimana bisa keraguan ini dapat hadir serta merta? Tapi... bukanlah rahasia lagi jika para suami di kampung nelayan itu sering berulah. Berpamitan pada istri untuk melaut mencari ikan, padahal perahu mereka tak mengarah ke laut. Mereka ke kedai Agas, sebuah kompleks perjudian dan pelacuran kumuh di ujung kampung. Hugh! Nelayan jenis ini adalah pecundang sejati. Mereka tak risau menghabiskan uang hasil tangkapan beberapa minggu di laut (meski telah bergumul dengan badai dan maut) hanya dalam waktu semalam saja di meja judi dan ranjang pelacur. Ya ya ya, meski suaminya tampak lurus-lurus saja, perempuan itu tiba-tiba tak bisa memastikan apakah lelaki itu bisa abai pada pengaruh buruk; menolak tawaran kenikmatan semacam itu. Tiba-tiba ia merasa menjadi begitu polos: aku tak sepenuhnya bisa memahami lelaki dan dunianya.

***

MESKI malam hampir tunai, perempuan itu masih duduk termenung di mulut pintu. Baginya, malam serasa tak bertepi. Malam dengan amarahnya itu mengurungnya, dan membuat rasa khawatir tak pergi-pergi meninggalkannya. Hujan semakin deras. Petir dan guntur semakin riang mewarnainya. Laut bagai mengamuk dan perempuan itu tetap tak mau beranjak dari mulut pintu. Ia berusaha menerbangkan pandangannya, melewati tumpahan hujan, menerabas badai, melintasi kilat; berharap bisa melihat pertanda kehadiran kapal dongfeng yang ditumpangi sang suami.

Apakah kapal dongfeng tua itu masih kuat menahan terjangan ombak? O o, pertanyaan itu tiba-tiba meloncat menyeringai di hadapannya, ketika ia tatap laut yang terbentang. Mendadak angin berembus begitu kencang. Langit menggelap. Awan-awan hitam menelan bulan dan bintang-bintang. Air laut yang tadi tenang, kini semakin resah. Gulungan ombak tak lagi indah dipandang, namun makin garang, bergulung-gulung mengganas hingga ke tepi.

DUARRRRR!!!

Pasti ada sebatang nyiur yang terbakar oleh sengatan petir... Tentu, perempuan itu takkan membisikkan kecemasan yang kini membuncah: mungkin saja ada sebuah kapal dongfeng yang tersungkur di tengah samudera...

***

MESKI malam telah memuai, perempuan itu masih saja termenung di mulut pintu. Dengan mata yang merah. Dengan pipi yang basah. Dengan isak yang ditelan debur ombak. Beberapa nelayan lalu-lalang di sekitar pantai. Sebentar lagi, ikan-ikan yang tak laku akan diasinkan, dikeringkan, untuk dijual beberapa hari ke depan.

''Sudah subuh, ya?'' Salah seorang adik iparnya bertanya dengan mata yang masih berat, dan mulut yang setengah menguap. (*)

Tarakan & Lubuklinggau, Juni 2010