Kamis, 15 Juli 2010

Memasung Malam

Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Lampung Post, Minggu, 11 Juli 2010

MENUANG arak dari botol penghabisan tak jua membuat Iskandar mau meledak perutnya. Tawanya makin gurih kala tetesan arak yang dihamburkan ke mulutnya berpencaran menetesi dagu dan jatuh memburai di tanah. Lapak kecil yang terletak di pojokan jalan dibahani tepukan penyemangat.

Setelah tetesan terakhir yang bersisa di dagu bagian bawah diusap, lalu dijejalkan ke mulut, tepukan kembali merajai malam kelam. Iskandar bangkit berdiri, menahan huyungan badan. Matanya mulai tak berteman, lingkarannya mengecil dengan sedikit gumpalan di bagian bawah. Kedua tangannya disentakkan ke atas, menantang dingin dan mengirimkan kabar ke pelosok langit.

"Hiaaaaaaa! Mana uangnya? Mana?"

Gofar mengambil setumpuk uang dari saku celananya. Amarahnya mulai mendekati ujung. Di kampung ini dia terkenal sebagai peninum arak tanpa mabuk, namanya sudah mengedar ke segenap penjuru angin. Iskandar datang, takhtanya pun tumbang.

"Besok kita beradu minum lagi," sengitnya sembari melempar uang di meja, menyelinap di antara botol-botol arak dan gelas yang letaknya sudah lintang pukang.

Entah kapan kembalinya anak muda bernama Iskandar yang dikenal sebagai putra tunggal Haji Sobirin itu. Lama tak berkabar kecuali Iskandar melaut ke tanah seberang. Sempat pula membikin Haji Sobirin, yang dikenal sebagai Imam Masjid Al Furqon itu, terperangah dengan mulut menganga, lalu merangkulnya disertai titikan air mata. Putra semata wayangnya yang menurut kabar lenyap di lautan, datang dengan segar bugar.

Teringat pula kepergian Iskandar yang tak pernah jelas, setelah Munah, gadis yang sejak kecil dilimpahi cinta, tiba-tiba dikawinkan dengan lelaki tua beristri tiga. Menikahnya Munah membuat runtuh akar-akar Iskandar, batangnya tumbang dan seluruh daun berluruhan. Siang malam hanya bisa menangis meratapi kesedihan. Lalu tiba-tiba, sosoknya lenyap bersama angin malam. Tak ada yang tahu, Haji Sobirin pun tak paham. Munah menangis diam-diam, tapi tetap menurut digeret ke ranjang, apalah daya karena dia perempuan.

Sebulan kembali ke tanah harapan, Iskandar telah berpaling hulu dan ladang. Dia sudah berani berbaku hantam dengan marbot masjid yang dianggapnya lalai karena satu subuh tak sempat berazan karena masih terlelap. Berani pula menerjang-nerjang di pasar, meminta uang pada para pedagang. Terlebih gila dia mendatangi rumah Munah, berani meraih tangan mengajak Munah lari dari sana. Munah menolak, menjeritkan kalau dia tak kuasa meninggalkan dua putranya yang masih kecil. Iskandar meradang. Munah ditamparnya, dimakinya dengan sebutan yang menyisakan kemarahan. Lalu beberapa orang berseragam membawanya keluar, melemparnya. Untung suami Munah masih bertabik baik meski kemarahannya tak kuasa dibendung.

Haji Sobirin yang merasa siap terlelap panjang menunggu jemputan Izrail dalam naungan damai, merasa perlu berdoa pada Tuhan agar umur diperpanjang dan dia bisa mengembalikan Iskandar ke jalan asal. Karena suami Munah meski dituturkan penuh kelembutan, menebar paku-paku panas di sekelilingnya. Bila tak memandang wajah tuanya, Iskandar akan lenyap dari muka bumi.

"Kau beradu menenggak arak lagi, Is?" Gelegak darahnya menumpah-numpah ketika melihat Iskandar pulang terhuyung limbung membawa uang banyak di tangan. Sebagai imam masjid, tak ada lagi tempat untuk meletakan muka karena semua sudah tahu perihal Iskandar.

Iskandar tertawa sengau, lalu berdahak mirip suara lembu di kandung kala malam. "Tapi aku bawa uang banyak, Bapak. Lihat, lihat� Dengan uang ini, aku akan membeli Munah, Bapak! Karena ini yang bisa membuat Munah lari dariku!"

"Is! Inikah yang kau pelajari dari tanah seberang setelah kau menghilang? Allah murka dengan hamba-Nya yang tak mengindahkan larangan-Nya."

"O, begitu, lantas mengapa Dia membiarkan Munah dipelaminani lelaki tua yang harusnya berkalang ajal? Kenapa, Bapak? Kenapa?"

Selimbung tubuh Iskandar, batin Haji Sobirin limbung pula. Perkiraannya Iskandar pulang tanpa lagi membawa kepedihan lalu. "Karena itulah batasan dari Allah, Nak, rahasia Yang Mahabesar."

Tangannya mengibas menampar angin, kedua lulutnya bergetar hebat. "Aku tak perlu rahasia, aku ingin terbuka selebar mataku memandang lautan. Aku benci Tuhan, Bapak! Benci! Aku juga benci lelaki yang menikahi Munah! Tak puaskah dia menunai nafsu dari tiga bini yang telah memberinya banyak anak? Tak sudahkah dia menghirup darah segar dari gadis-gadis seperti Munah yang dipayungi kemegahan padahal hati gadis-gadis itu luka? Gadis lain boleh diambilnya, tapi Munah..." Tubuh itu ambruk, lalu tertatih menangis gerung.

Bibir tua Haji Sobirin bergemik-gemik. Terkulai rasanya semua tulang. Tak tahu dia harus menjawab apa. Ketika tahu Munah dipinang oleh Martua, Haji Sobirin bisa merasa kalau degup bahaya akan bertandang ke rumahnya.

Tepat pula yang dipikirkan.

Iskandar sepulang dari berladang meraung ganas, seribu harimau yang bersemayam di tubuhnya berlompatan. Perhelatan Munah dan Martua menjadi ajang prajurit terluka yang mengamuk. Tarup, hidangan, pelaminan semua lintang pukang. Tiga orang tukang pukul Martua memberi kenangan di pelipis Iskandar, hingga hari ini masih ada bekas itu.

Haji Sobirin menghela napas panjang. Lalu penuh kasih sayang dipegang kedua bahu Iskandar yang bergetar hebat. Coba diangkatnya segenap tenaga. Muntahan arak yang menyembur membasahi dadanya tak dihiraukan. Dipapah Iskandar ke dalam. Direbahkan di ranjang penuh haturan terima kasih pada Tuhan karena anak semata wayang pulang.

Disalinnya baju yang membujur arak, lalu disalin pula baju Iskandar. Diselimuti tubuhnya yang tiba-tiba menggigil. Mungkin arak yang telah bergolak atau karena penat batin yang berkarat. Entahlah. Haji Sobirin menungguinya hingga subuh dan memusuhi sepasang matanya kala mengerjap ingin terlelap. Tak mau melewati sedetik yang lewat memandangi Iskandar yang lamat-lamat terbujur tenang. Mungkin pingsan, batinnya. Tapi napasnya teratur seiring doa yang dipanjatkan Haji Sobirin, berharap Iskandar akan berubah.

Tetapi Iskandar semakin menjadi. Tindakannya semakin mengerikan. Warga mulai tak senang padanya, tapi masih memandang Haji Sobirin. Sambil menahan getir yang kian menggaung, Haji Sobirin berulang kali meminta maaf. Dia berjanji akan mengembalikan Iskandar ke jalan yang benar. Dan tak seorang pun yang tahu, kalau hatinya kerap menangis.

***

Gaung azan subuh menyeruak pagi, membangunkan bumi, menjejalkan aroma damai ke seluruh penjuru. Haji Sobirin bangkit mengambil wudu. Lalu mengenakan kain dan kopiah hajinya yang terbaik, selalu begitu setelah kali menghadap Allah. Sesaat terpanggil untuk melihat Iskandar, tapi dilepaskannya, karena baru kali pertama seumur hidupnya, dia akan tiba di masjid setelah dikumandangkan panggilan salat.

Maaf dilantunkan lagi, begitu setiap kali hendak memulai salat, para jemaah tetap menyambut hangat. Hitam yang ditorehkan Iskandar tak menampak di wajah teduh Haji Sobirin, begitu batin mereka. Manusia hanya menanggung dosa dan pahalanya sendiri. Saf pun teratur rapih, Haji Sobirin maju ke muka. Memimpin salat dan berdoa besok tak ada lagi kejadian yang menyusahkannya.

Tiba-tiba suara derap langkah cepat mengudara di latar masjid. Semua menoleh. Terpanggang kejut saat melihat Iskandar masuk bergegas, mengenakan kain sarung dan kopiah bersih. Tubuhnya wangi pula. Entah berapa cepat dia mandi.

Haji Sobirin tersenyum, hentakan bahagia berlagu di dada. Salat terasa lebih khusyuk dari hari-hari sebelumnya, tak lagi terpatri pikiran soal perbuatan Iskandar. Barisan anak panah yang kerap menancap dadanya, yang menggigit gelisah dalam, telah tercabut perlahan dan patah batang sebatang.

�Is khilaf dan minta maaf,� sebaris kata bagai gumpalan salju menyejukkan dada kala jalan bersama menyusuri pagi mengintip siang. �Is sadar, Munah sudah milik orang. Is ingin bertobat.�

Pelukan hangat dicurahkan, barisan doa dalam hati kecil pun didendangkan. Iskandar telah pulang, telah kembali ke jalan awal. Kampung pun jadi tenteram, tak ada lagi yang bikin keributan. Gaung nama besar Haji Sobirin naik setingkat lagi, berproses menjadi seorang ayah yang akhirnya mengembalikan anaknya ke jalan kebenaran. Tak lagi ditemui lapak di pojok jalan tempat Iskandar beradu minum arak. Hawa hitam tak lagi bergumpal di kampung itu.

Gofar murka karena kekalahannya tak terbalas, dia mengamuk, mencari-cari Iskandar yang meminta maaf dan mengembalikan uang yang pernah dimenangkannya. Gofar gembira tapi masih meludah. Dua hari kemudian dia ditemukan tewas di terkapar di tepi pantai. Ada yang bilang itu hukuman atas dosa-dosanya, karma atas perilaku yang mengacau orang yang telah bertobat.

Iskandar tersenyum di belakang rumah, di balik semai rumpun tinggi sambil mengasah parang. Malam menggayut pekat. Dia harus mengubah sikap, tak lagi menunjukkan wajah garang. Santun harus diperlihatkan. Bukankah seperti itu sikap orang-orang berwajah seribu, yang luar biasa banyaknya bertaburan? Dia telah banyak belajar dari tanah seberang, tanah-tanah terhormat, mengapa tidak memanfaatkannya.

Lalu dipandangi parang berkilat tajam.

Dengan langkah yakin, dia melangkah menuju rumah Martua� setelah itu, tinggal mencari domba kurus yang akan ditanggungi beban.***

Mutiara Duta, 15 Maret-2 Juni 2010

Kamis, 08 Juli 2010

Tambuli, Perempuan yang Berdiri di Muka Jendela

Cerpen Denny Prabowo
Dimuat di Jawa Pos, 30/04/2006

Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya malam ini.

Suara-suara. Bergerimit. Di ruang utama. Para tetua adat yang terdiri dari Patih, Mangku, dan Manti berembuk membentuk nanam pancang yang bertugas mengawasi keamanan prosesi sabung ayam dan judi esok hari, yang merupakan kelanjutan pesta begawai hari ini. Di ruangan lain, para wanita dusun Ulu Ekok, Desa Durian Cacar tak kalah sibuk. Asap kretek mengepul dari mulut-mulut mereka, menemani percakapan di sela kesibukan membenahi sisa pesta hari pertama.

Tambuli, begitu perempuan itu biasa di sapa. Dia jatuh cinta untuk pertama kali pada seorang lelaki dari seberang. Seorang mahasiswa jurnalistik yang sedang melakukan KKL di daerahnya. Lelaki itu tidak terlalu tampan. Tapi Tambuli suka setiap kali mendengar suara merdunya melantunkan kalam-kalam yang biasa Tambuli dengar dari corong-corong rumah ibadah suku Melayu, selepas matahari membenamkan seluruh tubuhnya di balik tebing cakrawala.

Lelaki itu tinggal bersama teman-temannya di sebuah rumah tak berpenghuni milik Patih Gading --tetua adat tertinggi-- yang berada tak berapa jauh dari kediaman keluarga Tambuli. Berawal dari permohonan menyediakan makanan bagi mahasiswa-mahasiswa KKL yang tengah membuat film dokumenter adat istiadat Suku Talang Mamak pada keluarga Tambuli, mereka jadi sering bersua. Tapi lelaki itu terlalu acuh pada perempuan, terlalu dingin pada Tambuli. Tidak seperti Andre, salah seorang temannya yang selalu membawa kamera minidivi, yang selalu mencuri-curi waktu berdua dengannya pada setiap pagi, siang dan petang, saat Tambuli mengantarkan makanan kepada mahasiswa-mahasiswa itu. Wajah Andre seperti turis-turis asing yang sesekali berkunjung ke dusun mereka.

Suara tawa di ruang utama. Seolah jadi penanda. Pembentukan nanam pancang telah disepakati. Orang-orang terpilih. Pemuda-pemuda dusun yang cukup disegani. Siap mengawal prosesi sabung ayam dan judi esok hari.

Malam merayap cepat. Waktu tak mau menunggu. Lelaki itu tak juga tiba. Dua hari lagi dia resmi jadi istri Soleh, lelaki usia tujuh puluh yang lebih pantas jadi kakeknya, dan telah pula memiliki keluarga. Tatapan cemas Tambuli menerobos pekat malam. Setidaknya masih ada waktu dua hari, begitu hati Tambuli berkata menenangkan dirinya sendiri.

***

"Aku akan menemui kedua orang tuamu!"

Tambuli menenggelamkan pandangannya ke lantai kayu. Mereka duduk dipisahkan jarak dua langkah kaki, di rumah yang ditinggali lelaki itu bersama teman-teman mahasiswanya.

"Kau ragu dengan kesungguhanku?"
Tambuli menelengkan kepala. Masih dengan wajah tertunduk. Kedua jemarinya saling tertaut. Meremas cemas.

Perlahan perempuan dua puluh itu mengangkat dagunya. Mencoba mencari masa depannya di mata lelaki itu. Lelaki dari seberang. Yang menawarkan sebuah pernikahan. Tambuli semakin merasa mencintainya. Tapi�

"Aku akan menikahimu!"
Tambuli tidak terkejut dengan pernyataan itu. Semestinya bahagia. Tapi dia malah merasa hina. Kembali perempuan dua puluh tahun itu menenggelamkan wajahnya. Kabut memendar di bola matanya. Meretas. Meninggalkan jejak-jejak kristal di kedua belah pipinya. Sungguh. Tambuli ingin sekali mengangguk saat itu. Tapi pantaskah lelaki itu menanggung semuanya?

Tambuli masih kehilangan kata. Dia berada di sebuah persimpangan jalan. Bimbang menentukan pilihan. Tawaran lelaki dari seberang itu sulit untuk ia abaikan. Wajahnya yang biasa saja tak menenggelamkan cahaya yang membuat Tambuli jatuh hati pada pemilik wajah itu. Biar mati anak asal jangan mati adat! Ungkapan itu berputar-putar di ruang pendengarannya. Adat orang Langkah Lama tak membuatnya berhak menentukan pilihan, lelaki mana yang boleh dia pilih menjadi ayah bagi janin yang tengah dikandungnya.

***

Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Tapi hingga hari kedua begawai, belum juga ada tanda-tanda lelaki itu akan menjemputnya. Waktu telah pula melintasi ambang hari.

Prosesi sabung ayam dan judi siang tadi berjalan dengan lancar, hampir seluruh warga dusun berkumpul menjadi bagian dari salah satu prosesi begawai itu. Tak ada halang yang merintang selama acara berlangsung. Sang Kemantan telah memohonkan kelancaran serta dijauhkan dari roh jahat pada Datuk Patih Si Putih Lintang Awan yang menguasai alam gaib dusun Ulu Ekok. Ayam-ayam milik warga dusun yang mati dan kalah dalam ritual sabung ayam dikumpulkan, dan diberikan pada keluarga pengantin, untuk dimasak sebagai hidangan. Begitulah cara mereka bergotong royong meringankan beban keluarga mempelai.

Sebuah guci dari tanah liat berukuran sedang diletakkan di dekat pintu rumah pengantin, melanjutkan prosesi sabung ayam dan judi. Guci lantas diisi air yang sebelumnya telah dicampur gula putih dan gula merah. Lalu ditutupi daun pohon nangka. Tiga tangkai batang kecil yang memiliki lubang di tengahnya disusupkan di sela-sela daun. Satu per satu warga dusun mencicip air dari dalam guci itu.

***

Riak air sungai Tunu, meredam leguh birahi dua anak manusia. Rerimbun pohon Rimba Puaka menyembunyikan tubuh mereka dari mata siapa saja. Di tanah yang dikeramatkan itu, anak gadis suku Talang Mamak merasai sentuhan seorang pemuda untuk yang pertama kali. Seekor kumbang hinggap di daun sebelum mencelok di bunga, rakus mengisap madu.

"Aku hamil!" ujar Tambuli setelah dia tak lagi mengalami menstruasi sejak satu bulan setelah pertemuan rahasianya dengan Andre di tepi sungai Tunu, di balik rerimbun pohon Rimba Puaka.

"Apa?!" pemuda berwajah indo itu bangkit dari sila di atas tikar tandan.

"Kau harus menikahinya!"
Tambuli dan Andre terperanjat mendengar suara. Mereka tak menyadari seorang lelaki telah berdiri di ambang pintu rumah, mendengarkan semua percakapan mereka. Lelaki itu. Lelaki dari seberang. Yang membuat hati Tambuli menjadi tak menentu, sebelum dia merasa patah hati karena sikap acuh lelaki itu, dan temannya yang berwajah indo memberikan mimpi-mimpi surga lewat kata-kata dan sentuhan yang mengirimkan getaran ke ruang terdalam seorang gadis belia di setiap perjumpaan mereka ditemani semakhluk iblis.

Andre mengangguk. Ragu. Lelaki dari seberang itu mencekal pundaknya, seperti meminta ketegasan dari temannya. "Baiklah, aku akan menikahinya," katanya kemudian. Lelaki itu melepaskan cengkeramannya, sebelum menatap ke arah Tambuli. Gadis itu tak berani membalas tatapannya.

Tapi saat kicau burung memaksa kelopak mata lelaki dari seberang itu membuka, dia tak lagi menemukan Andre terbaring di sebelahnya. Saat hari telah melewati sepertiga malam tadi, diam-diam Andre meninggalkan rumah penginapan bersama seluruh barang miliknya. Tak satu pun teman-teman mereka yang menyaksikan kepergiannya.

Tambuli tak kuasa memendam pedih, ketika lelaki dari seberang itu menyampaikan kepergian Andre kepadanya.

***

Perempuan itu berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Tapi hingga dia nyaris resmi menjadi istri Soleh, belum juga ada tanda-tanda lelaki itu akan menjemputnya. Teja sempurna membakar cakrawala. Matahari tertatih menenggelamkan tubuhnya ke balik tebing cakrawala. Tambuli belum berhenti berharap. Perempuan itu tak sudi menjadi salah satu istri lelaki tua yang lebih pantas menjadi kakeknya.

Siang tadi mas kawin telah dia terima. Sebuah gelang perak, mata lembing dan lima belas kain mori. Para tetua Mangku berembuk dengan Patih Gading, menelusuri silsilah masing-masing mempelai, agar tak terjadi pernikahan sedarah.

Mengelebat pikiran dalam benak Tambuli, membangun harapan kalau dirinya segaris keturunan dengan Soleh, meski dia sendiri tahu itu tak mungkin. Wajah-wajah bahagia para tetua Mangku beserta Patih Gading seolah menjawab ketidakmungkinan yang sempat mengelebat dalam pikiran perempuan itu.

Seranting kecil pohonan menjadi jalan bagi air dalam guci berpindah ke kerongkongan Tambuli. Perempuan yang tengah berbadan dua itu merasa mual. Dimuntahkan kembali air yang sempat mendiami lambungnya itu ke luar, tumpah dalam guci. Bergerimit suara. Tambuli merasa pijakannya melemah, sebelum tubuhnya menggelosor di lantai kayu rumah.

Para tetua Mangku serta Patih Gading memutuskan penundaan pengesahan, kerena Soleh belum sempat menyeruput air dalam guci yang menjadi penanda sahnya seluruh prosesi begawai yang mereka laksanakan selama tiga hari berturut-turut.

Sambil menunggu Tambuli tersadar dari pingsan, dan siap melanjutkan prosesi pengesahan, sebuah guci baru segera disiapkan. Selepas senja berlalu prosesi pengesahan akan kembali dilaksanakan.

***

Kedua orang tua Tambuli hanya bisa tertunduk saat mengetahui kehamilan anaknya. Siapa lelaki yang telah menanam benih? Tak sekata yang keluar dari mulut Tambuli. Pertanyaan itu tetap menjadi rahasia. Warga Dusun Ulu Ekok menjadi resah. Patih Gading selaku pemangku tertinggi adat segera minta pendapat pada tetua adat lain, sebelum membuat keputusan demi menyelamatkan aib salah seorang warga.

"Mereka telah menentukan calon ayah bagi bayi ini�," lirih Tambuli berucap pada lelaki dari seberang, yang sedang berkemas meninggalkan Dusun Ulu Ekok, setelah kepergian diam-diam temannya yang telah menanam aib dalam rahim suci Tambuli. "Namanya Soleh. Dia dari suku Melayu yang telah lama mendiami Dusun Ulu Ekok. Lelaki tujuh puluh tahun pilihan para tetua adat."

"Kau setuju?"
"Aku tidak bisa apa-apa. Keputusan tetua adat adalah titah yang tak terbantahkan, begitu adat orang Langkah Lama. Tapi�"

"Kau tak setuju?"
"Aku hanya tak mau menikah dengan lelaki itu."
"Kau masih berharap pada bapak dari janin itu?"

Tambuli menenggelamkan wajahnya. Karam dalam samudera penyesalan. Air matanya jatuh ke lantai. Tambuli tak tahu apa yang dia inginkan. Semua kemungkinan mendamparkannya pada ruang tak berpintu, yang tak memungkinkannya memilih jalan keluar, selain kepasrahan.

"Aku akan menjemputmu seusai mempersiapkan kepulangan ke Jakarta. Teman-temanku akan menunggu di tepi sungai Tunu."

Tambuli menemukan cahaya. Mungkin ini pintu yang ditawarkan baginya dari Yang Mahakuasa.

***

Perempuan itu masih berdiri di muka jendela kamarnya. Menatap kegelapan di luar sana. Seperti berharap malam tak segera berlalu, dan hari urung berganti pagi. Cakrawala masih menyisakan warna senja yang begitu tua. Sesaat lagi kelambu malam siap dibentangkan. Dia pasti datang! Begitu hati Tambuli menengahi keresahannya. Lelaki itu sudah berjanji akan menjemputnya. Dia tak mungkin dua kali menuangkan muntah ke dalam guci berisi air yang telah dicampur gula putih dan gula merah itu, untuk menunda prosesi pengesahan pernikahannya dengan lelaki tujuh puluh yang telah pula memiliki keluarga.

Dia pasti datang! Sekali lagi hati Tambuli berucap. Lalu sebuah ketukan di pintu. Tambuli ragu membuka. Sesosok bayang menerobos pekat malam baru saja tertangkap ujung matanya, bergerak mendekat ke arah jendela kamarnya.


Rumah Cahaya, 22 Januari 2006

Minggu, 04 Juli 2010

Cerita yang Menyeruak dari Kebun Mawar

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Lampung Post, 3 Juli 2010

LELAKI itu sangat dekat dengan ibunya, walaupun itu hanya akhir-akhir ini. Tepatnya, ibunya yang mendekat-dekatkan diri, seolah ada kesalahan besar yang hendak ditebusnya.

***

Lelaki itu adalah orang yang paling depan berdirinya dan paling keras koarannya bila menghujat ayahnya, pamannya, saudara laki-lakinya, atau teman laki-lakinya. Walaupun sampai kini ia belum juga paham mengapa ketika mereka menatap balik padanya, ada rona skeptis dari mata-mata setan itu. Apa yang kaukatakan, hah? Seakan-akan kalimat itu mencuat dari bibir orang-orang yang dibencinya itu ketika idealismenya akan konsep kelelakian ia ceramahkan. Ya, tanpa kata-kata, hanya dengan bahasa tubuh, mereka balik mengejek laki-laki itu, lebih kejam dan menyakitkan....

�Apakah ini yang namanya karma, atau ini yang disebut azab, atau ini... Aaaah, tidak! Tak ada itu! Lantas, menurutmu apa-apa yang laki-laki itu rasai saat ini adalah sebuah kebetulan, ketiba-tibaan, kelangsungjadian?�

Lelaki itu berkeringat dingin. Ia melangkah keluar rumah. Berharap angin malam dapat menyejukkan pikirannya. Aku terlalu lelah, mungkin. Lelaki itu dengan daya upaya yang ia bisa, mencoba membesar-besarkan hati bahwa semua hanya bunga penatnya.

Angin mendesau pelan, selaras dengan malam tua yang lamban menggeser waktu. Lelaki itu menghirup udara sambil memejamkan mata. Seakan mencoba khusyuk meresapi bunyi dan bau napas yang dengan lembut melewati mulut dan hidungnya. Segaaar!

Perlahan-lahan dibukannya kelopak mata yang berbulu lebat itu. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati sebuah pemandangan ganjil: sekuntum mawar raksasa yang masih kuncup bertegak kokoh di salah satu sisi pekarangannya. Mawar itu seakan-akan tengah menatapnya lekat-lekat.

Lelaki itu menggigil. Ia membalik badan. Menuju pintu rumah yang setengah terbuka. O o, kakinya berat. Lelaki itu merasa seakan-akan sekuncup mawar raksasa itu tengah berjalan ke arahnya perlahan-lahan. Terbayang olehnya, bagaimana adegan beberapa film horor yang pernah ditontonnya: tangan berjalan, kepala terbang, boneka pembunuh yang membelalak, atau ooo... ini mawar!! Perasaannya, dalam film-film horor, bunga itu tak pernah diilustrasikan sebagai simbol pembunuh, setan, hantu, atau apalah! Ooohh...

"AAAAH...!!!" Lelaki itu berkeringat dingin. Tak henti ia mengucap syukur bahwa semua hanya mimpi saja. Maka, beranjaklah ia ke kamar mandi. Baru seperempat daun pintu dibuka, seketika ia terperanjat mendapati dinding kamar mandinya sudah dipenuhi daun sirih yang merambat-menjulur. O bukan, bukan itu yang menjadi titik keterkejutannya. Sirih itu, ya sirih itu. Berbuah semangka? Oh, ini bukan saatnya bergurau, Kawan. Daun sirih itu, berbunga. Bunga yang sangat ia kenal. Warnanya.... darah! Merah kelam. Itu... bunga mawar. Bagaimana bisa? Laki-laki itu mengucek matanya beberapa kali. Mencubit-cubit lengan kanannya. Menampar-nampar pipinya. O tidak, ia tidak sedang bermimpi. Ini nyata!

"Nak, cepatlah bangun! Sarapan."

Lelaki itu tersedak mendengar seruan dari luar kamar. Ibu. Ya, itu suara ibunya. Maka, makin terheran-heranlah ia, menyadari bahwa ia benar-benar tidak sedang bermimpi. Gegas ia melangkah keluar kamar, menuju ruang makan. Di sana, ibunya menyambut dengan senyum sabit.

"Kemarin...Ibu lupa namanya. Ada temanmu yang ngantarin puding. Katanya enaknya dimakan hari ini, Nak." Wanita beruban itu menghidangkan beberapa potong puding berwarna kuning yang baru dikeluarkan dari kulkas. Tak lama, ia berlalu ke dapur.

Uuuh... setidaknya lelaki itu bisa bernapas sedikit lega mendapati warna makanan itu. Tidak merah.

Lelaki itu mengangguk. O o, tunggu dulu ini pemberian siapa?

�Kemarin udah Ibu cicip. Maaf ya, Nak. Tak bilang-bilang padamu. Tapi memang enak. Hebat benar teman laki-lakimu itu memasak.� Ibunya berseru dari dapur seakan-akan dapat membaca pikiran lelaki itu.

Laki-lakiku? Mengantar puding...?

"O ya, sepertinya itu puding wortel. Ditambah stroberi juga. Sudah kau coba, belum?"

Lelaki itu tersadar dari lamunannya yang sejenak itu. Sesegera ia membuka plastik minyak berwarna kuning yang menutupi puding tersebut. Beberapa detik kemudian, ups! Lelaki itu tergagap. Bibirnya gemetar. Puding itu...

"Enak, Nak?"

Lelaki itu tak memedulikan suara sumir ibunya yang entah sedang apa di belakang sana. Ia bermaksud mengambil potongan-potongan puding merah hati yang berbentuk mawar di atas meja makan itu, membawanya ke beranda... dan membuangnya,

O o, ada apa dengan dunia ini? Mengapa...?

Lelaki itu teduduk, tersimpuh di beranda. Puding mawar ditangannya terjatuh berkeping-keping. Di hadapannya, di pekarangan yang tak begitu luas itu, rerumpunan mawar yang beranting-ranting menyemak di sana-sini. Di setiap sudut, hingga membentuk pagar daun, pagar duri, pagar mawar. Di salah satu sudut, tampak menonjol sendirian setangkai mawar raksasa yang belum mekar sempurna. Mungkin sebesar itulah bunga raflesia itu, pikirnya. Atau, jangan-jangan, yang ada di hadapannya inilah yang disebut bunga raflesia, batinnya. O tidak, walaupun lelaki itu belum pernah melihat bunga bangkai itu secara langsung, tetapi setahunya, bunga raflesia tak berbatang, tak berkuntum. Ia hanya berbonggol. Ya, itu mawar. Jelas-jelas mawar. Mawar dalam mimpinya!

"Lho, Nak, ngapain duduk di beranda? Kotor."

Lelaki itu menengadah. Mendapati wanita berbaju kurung sudah bediri di muka pintu. Ia tak menyahut. Ia mati kata.

"Mengapa kau serakkan puding-puding itu, Nak?" Ibunya menunjuk ke potongan puding yang menyerak di sekitar si lelaki.

O tidak, potongan puding itu sudah berubah menjadi mawar-mawar dengan beragam ukuran. Oh... lelaki itu terjerembab. Lebih tepatnya, memaksa tubuhnya untuk terjerembab. Pingsan artifisial. Dengan sepenuh jiwa ia berharap, ketika siuman nanti, entah dari tidur atau dari pingsan --buatan--nya, ia akan segera mendapati semuanya kembali seperti semula. Baik-baik saja.

***

"DARI pagi tadi, sejak dibawa ke rumah sakit ini, perutmu belum diisi, Nak. Kata dokter, kamu harus makan makanan yang lembut, halus, dan mudah dicerna, seperti puding ini." Ibunya menyodorkan sepotong puding pada lelaki yang didudukkan di sebuah dipan dengan kasur putih.

"Puding? Ooo tidaaak!" Lelaki itu menggeleng dengan mata terpejam.

"Makanlah. Puding ini kiriman istrimu, Nak."

Istri? Siapa istriku?

Lelaki itu membuka matanya perlahan. Sangat perlahan. Tiba-tiba ia menggeleng. Ia ketakutan. Bukan, bukannya mendapati puding yang berbentuk, berukir, dan berwarna mawar. Tetapi... mendapati sekuntum mawar yang sudah mekar sempurna, setinggi tubuh orang dewasa, berdiri di samping ibunya.

"Ada apa, Nak?"

Lelaki itu beringsut menarik selimutnya, bersandar di kepala dipan. Tampak sekali ia memaksa memejamkan matanya. Kepalanya masih menggeleng. Wajahnya pucat.

"Takkah kau merinduinya? Sudah lama tak bertemu, bukan? Yah, Ibu mohon ma�af kalau dulu tak menyetujui pernikahanmu. Tapi sekarang Ibu sudah merestuiya, Nak. Walaupun tak berhasil jua Ibu meyakinkan ayahmu dan saudara-saudara laki-lakimu itu." Wanita itu menatap putranya lekat-lekat. Membelai rambutnya, seolah ia adalah anak belasan tahun. "Semua bukan karena Ibu sudah bercerai dan tak satu pun saudaramu yang ingin ikut Ibu, tapi... ah, sudahlah, Nak. Ibu tahu, kau tak memerlukan restu binatang-binatang itu, bukan?"

Lelaki itu menggigil. Ia sungguh tidak mengerti dengan semuanya. Bahkan, ia pun tak tahu, apakah ia tengah bermimpi atau tidak. Kalaupun iya, alangkah panjangnya mimpi ini? Alangkah membingungkan dan menakutkannya mimpi ini? Atau... sebenarnya ia sudah mati. Seperti inikah alam sesudah hidup itu? Absurd, ganjil, aneh, asal-asalan. Tak ada sebab-akibat lagi! Sungguh, sungguh yang sebenar sungguh, lelaki itu sudah lelah dengan semuanya. Lelah yang sangat. Gila!!

"Mark, tolong tenangkan suamimu, ya," wanita itu menoleh pada sekuntum mawar raksasa di sampingnya, sebelum tersenyum tipis pada lelaki itu.

Aku suami dari Mark? Mawar raksasa itu? Mark-Mawar? Apa-apaan ini, Tuhan?

Mawar raksasa merapatkan kuntum hijau berdurinya pada lelaki itu, seolah-olah hendak memeluk lelaki itu, menenangkan suaminya.

Lelaki itu berteriak. Terus berteriak hingga tak ada lagi suara. Ia mempingsan-pingsankan diri. Memejam-mejamkan mata. Memaksa membunuh diri dan jiwanya dengan perasaan yang menghunjam-hunjam, yang tiada dipahaminya.

Para pasien lain dan orang-orang yang ada di sekitar ruang inap itu berkerumun di sana.

"Bukan salah kau, Mak."

"Lagi pula bukan kehendakmu tak pulang selama 20 tahun, kan, Mak?"

"Memangnya dia bisa merasakan susahnya mencari uang sebagai TKW!"

"Sudahlah, Mak. Tak ada dalam adat percintaan macam seperti itu."

"Bila anak bujangmu gila, mungkin itu balasannya, Mak."

"Sudahlah, Mak. Pulang saja. Anggap kau tak pernah beranak."

"Bukan!" bantahnya. Ia membelalak pada perempuan-perempuan yang seolah-olah peduli padanya dan anak lelakinya. Hampir saja ia tumpahkan beban yang menyesak itu. Namun ia bagai tersadar bahwa takkan ia katakan bahwa semua ini salah suaminya. Lelaki yang berulangkali menunggangi anak lelakinya yang kala itu masih belia di kebun mawar belakang rumah, ketika ia memeras keringat di Hong Kong. Perempuan itu mengutuk-ngutuk, sebelum menangis, meraung sejadi-jadinya, seperti orang gila.

Ada yang bersitatap; memastikan bahwa tak hanya ia sendiri yang berempati. Ada yang menunduk saja. Ada yang bermata-kaca. Tak ada yang berani menyanggah. Walaupun semuanya masih singup, namun mereka bagai dapat menyimpulkan; terlalu berat perkara itu untuk jadi bahan pergunjingan.... (*)

Lubuklinggau, Januari 2009 s.d. Januari 2010