Minggu, 24 April 2011

Pesan Tengah Malam

Cerpen Mashdar Zainal
dimuat di
Berita Pagi Palembang, 24 April 2011

SATU

Malam berkawin dengan hitam. Angin berpeluk dengan sepi. Larut dan gigil. Jarum jam terus berdetak. Detaknya menyerupai suara mesin ketik tua yang terbata-bata. Lampu masih menyala. Buku-buku masih terbuka. Kulirik jam dinding yang terus berkemeletik, mengetikkan waktu: jarum panjang di angka dua belas, jarum pendek mendekati angka enam. Mataku mengerjap-ngerjap. Berat. Aku harus pergi tidur.

DUA

Lampu kamar kumatikan. Separuh korden jendela kusingkap tepikan. Paku pandangku menembus langsung ke wajah bulan. Ketika tubuh mulai kurebahkan. Selimut kubentangkan. Dan kelopak mata siap-siap kupejamkan. Tiba-tiba, hape di sebelah bantal bergetar, layarnya berkedip-kedip. Diterima sebuah pesan.

Maaf, malam-malam menganggu. Ini aku. Masih ingat?

Menyebalkan. Seperti orang tak punya nama saja. Tak kuacuhkan. Aku yakin, itu hanya ulah seorang teman. Beberapa menit kemudian. Sebuah pesan masuk lagi. Dari nomor yang sama.

Sungguh, Kawan. Aku butuh bantuan.

Aneh sekali. Setelah mengajak main tebak-tebakkan, tiba-tiba minta bantuan. Masih tak kuhiraukan. Namun tak lama kemudian, hape memekik lagi.

Aku sungguh-sungguh. Untuk membuatmu percaya, apakah aku harus bersumpah atas nama tuhan?

Mengapa harus membawa-bawa nama Tuhan. Berlebihan sekali kata-katanya. Namun, setelah pesan itu. Tiba-tiba aku menjadi gugup. Dalam remang, kupencet tombol-tombol huruf yang menyala di sana.

Maaf. Ini siapa?

Klik. Terkirim. Beberapa detik kemudian�

Ini aku, Lilla. Masa lupa?

Klik. Balas.

Lilla? Lilla Nurlilla. Lilla Kalideres? Lilla anak IPA III?

Kirim. Terkirim.

Tak lama, satu pesan diterima.

Memangnya kamu kenal berapa Lilla?

Hatta perbincangan berlanjut panjang

Hehehe� btw apa kabar nih?

Btw? Btw apaan maksudnya? Buwat?

Hih, tell me banget. Btw singakatan dari By The Way: ngomong-ngomong.

Oh� sekarang ngomongmu pake bahasa ingrris, ya.

Ya, dong. Hari gini, gak bisa bahasa inggris� eh, nomormu kok gonta-gonti terus, kayak orang pacaran aja.

Iya, HP yang dulu ilang. Nomornya ikut ilang.

Kabarmu bagaimana?

Kabarku buruk.

Buruk? Buruk bagaimana?

Buruk sekali. Makanya aku sms. Aku butuh bantuanmu.

Bantuan? Bantuan apa?

Maaf, ya, belum-belum sudah merepotkan.

Walah, kayak orang baru kenalan aja. Denger-denger kamu kerja di Hongkong, ya?

Iya, lebaran lalu saya pulang.

Mudik?

He�eh.

Kok gak kabar-kabar.

Habis denger-denger kamu sibuk. Sudah jadi penulis, novelis. Sudah jadi sastrawan.

Ah, siapa bilang. Saya juga babu kok! Babu tinta. Hahaha

Ikut seneng, kamu sukses.

Amiiin. Jadi, bagaimana?

Apanya yang bagaimana?

Katanya kamu mau minta bantuan.

Oh, iya aku lupa.

Dari dulu penyakit lupamu gak sembuh-sembuh, ya.

Hehe�

Belum nikah kok sudah punya penyakit pikun?

Hehe�

Kamu belum nikah, tho?

Hehe�

Kok hehe hehe terus?

Mana ada laki-laki yang mau sama babu lulusan SMA?

Ada. Laki-laki yang babu yang lulusan SMA juga. Hahaha�

Gak lucu�

Maap. Control Z, deh.

Control Z?

Maksudnya kembali ke laptop. Jadi bagaimana?

Apanya yang bagaimana?

Aduuuh, tak jitak gundulmu. Katanya mau minta bantuan.

Hehehe, iya, aku mau minta bantuan. To the point aja, yah� Kamu bisa, gak, mengantarkan sesuatu ke alamat rumahku?

Lho, memangnya kamu sekarang gak di rumah?

Enggak. Sekarang saya berada di tempat yang sangat jauh. Jauuuuh sekali.

Di luar negeri?

Bukan. Lebih jauh dari itu.

Di luar angkasa. Hahaha�

Di alam baka� Hahahaha�

Kalau begitu, aku sedang ngobrol dengan hantu, dong!

Kalau hantunya cantik tak masalah, kan?

Sssst� aku sudah ada yang punya.

Iya, aku tahu. Lagian mana mungkin cowok keren sepertimu mau sama aku.

Baru tahu, ya, kalau aku keren. Hahaha�

Iih Narsis. Control Z, ya. Kembali ke permasalahan.

Yups. So?

Langsung saja. Di sebuah gardu kosong, deket lapangan bola, deket rumahmu, ada sebuah kardus. Aku minta, kamu mengantarkan kardus itu ke keluargaku.

Ih, kayak recidivis, aja. Kenapa gak langsung dianter ke rumahku aja.

Kalau bisa, ngapain aku minta tolong kamu. Mendingan tak bawa pulang sendiri. Tapi, ya, itu. Aku benar-benar gak bisa. Makanya aku minta tolong sama kamu. Toloooooong banget. Ya? Pliiis!

Lalu siapa yang naruh kardus itu di gardu? Aneh-aneh saja, atau jangan-jangan isinya narkoba, atau malah bom.

Gak kok! Tak jamin, isinya bukan narkoba, apalagi bom.

Lalu apa, dong?

Nanti setelah sampai rumahku, kamu akan tahu.

Walah, malah main teka-teki. Ogah, ah, kalau nggak jelas.

Ini jelas. Jelas sekali. Ayolah! Pliiis! Ini yang terakhir kali. Benar-benar yang terakhir kali. Ya? Oke?

Ya lah� tapi masa harus sekarang?

Gak. Besok pagi atau siang juga gak papa. Sekarang kalau mau istirahat, silahkan istirahat. Teima kasih, ya. Dadaaaa�

Lho? Jadi ceritanya sudah bosen nih ngobrol sama teman lama?

Takut ganggu istirahatmu aja.

Dari tadi sudah ganggu. Ganggu sekalian aja. Terlanjur basah, ya sudah, mandi sekali. Terlanjur malu ya sudah, malu sekali� (dangdutan.com)

Hihi, gak nyangka kamu dangduters juga.

Emang kenapa?

Gak papa sih.

Seolah-olah, kalau cowok suka dangdutan kegagahannya ilang.

Aku gak bilang gitu.

Tidak secara langsung.

Ngomong-ngomong, pulsamu masih ada nih?

Yeee, ngelunjak. Mau tak telpon. Tak telpon nih!

Gak, gak, gak usah. Percaya kok. Penulis pasti duitnya banyak. Hehehe

Tapi kayaknya masih banyakan duit yang baru pulang dari luar negeri, deh!

Jika saja kau tahu bagaimana nasib TKW.

Jika saja kau tahu bagaimana nasib penulis.

Kalau aku bisa nulis, mendingan jadi penulis daripada jadi TKW.

Kalau aku malah pingin jadi TKW. Eh, salah, maksudku TKP: Tenaga Kerja Pria. Hahaha bisa jalan-jalan ke luar negeri.

Penulis malah bisa jalan-jalan keliling dunia, lewat tulisannya. Hahaha�

Ya, deh. Pokokke diyukuri aja. Eh, btw, kabarmu waktu di Hongkong bagaimana? Galakan mana majikanmu sama anjing lacaknya pak polisi.

Hush! Majikanku orangnya baik, ya.

Tapi, denger-denger bayak juga TKW di luar negeri yang dijadiin sate, dijadiin roti bakar setrika. Pulang ke kampung sudah pada gosong semua.

Ya, kalau aku bilang sih untung-untungan juga.

Jadi, kamu termasuk yang untung?

Ya, Alhamdulillah.

Ya, ya, ya� (manggut-manguut)

Kayaknya sudah kehabisan bahan obrolan, ya! : -)

Kamu sudah ngantuk, ya?

Dengan keadaanku yang sekarang, aku tak mungkin mengantuk.

Memangnya sekarang kamu lagi ngapain, sih? Di mana?

Aku berada di sebuah tempat.

Iya, nama tempatnya apa?

Aku sendiri tak tahu harus menyebutnya apa.

Kamu tersesat?

Mungkin.

Kok, mungkin?Kamu bener-bener aneh.

Ya, ini memang aneh.

Apa kau baik-baik, saja?

Tidak.

Hei, jangan bercanda, jangan bikin perasaanku gak enak.

Aku pingin nangis.

Ya sudah, tak telpon, ya!

Klik. Pesan terakhir terkirim.

Kubuka pesan masuk terakhir. Rincian pesan. Nomor. Simpan nomor: Lilla Kalideres. Klik. Kutekan tombol dial.

Tut� tut� tut� tut� tut�.

Tidak tersambung. kembali kutekan dial.

Tut� tut� tut� tut� tut�.

Tidak tersambung. Tiba-tiba perasaanku kacau. Aku teringat tentang kardus di gardu usang yang ia pesankan. Rasanya ingin kuambil kardus itu sekarang juga. Namun, malam begitu menyeramkan. Maka kuurungkan. Kutengok angka di layar HP: 01.45. Tubuh kembali kurebahkan. Selimut kembali kubentangkan. Kelopak mata siap-siap kupejamkan.

Malam terus merangkak. Tubuhku terbuntal rapat seperti molen pisang. Lensa mataku menangkap remang bulan yang tiba-tiba ditutupi arakkan awan. Mendadak aku teringat film-film vampire. Tepat saat adegan serigala mengaum di puncak malam. Bayangannya menyatu dengan wajah bulan. Aku merinding. Tubuh kumiringkan. Bantal dan selimut kurapatkan. Mata kupejamkan. Aku harus pergi tidur.

TIGA

Pagi buta, saat pertama kali kelopak mata tersingkap, tanganku sudah meraba-raba ke bawah bantal, ke sebelah bantal. Hape di mana? Klik. Panggilan terakhir: Lilla Kalideres. Klik dial.

Tut� tut� tut� tut�

Tidak aktif. Ke mana anak ini? Semalam berbalas pesan. Sekarang hape gak diaktifkan. Apa dia kehabisan pulsa? Atau low bateray?

Setelah metahari meninggi, aku segera menghambur ke gardu usang yang ia maksudkan. Ada di tepian gang yang sangat sepi. Gang yang terapit lapangan becek dan tanah kosong. Diantara rongsok kayu dan tumpukan karung-karung bekas, teronggok sebuah kardus yang terbungkus sangat rapi. Rapi sekali. Dilakban di sisi-sisinya, dan dililit rafia tebal sebagai tali pegangan. Kuedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Sepi. Aku mendekati gardu using itu. Tapi tiba-tiba ada bau menyengat. Seperti ikan busuk. Tapi tak ada lalat. Segera kuambil kardus itu dan kubawa pulang.

EMPAT

Menjelang siang, dengan sepeda motor, aku melaju dari Kramatjati ke Kalideres. Kardus bau itu kuikat karet ban dan kubonceng di jok belakang. Sepanjang perjalanan aku memutar otak, mengingat-ingat jalan yang benar menuju rumah itu. Aku pernah ke sana dua kali, waktu masih SMA, dan bertahun-tahun, setelah lulus dari SMA, kami tenggelam dalam kesibukkan masing-masing, kehidupan masing-masing. Kami putus kontak, hingga semalam, tiba-tiba dia menghubungiku lewat sebuah pesan pendek.

Bakda dhuhur, akhirnya aku sampai di depan rumah itu. Masih sama seperti dulu. Hanya cat temboknya berganti warna. Rumah itu pintunya terbuka. Beberapa orang tampak berkerumun di dalamnya. Kuketuk pintu, kulepas salam. Orang-orang yang berkerumun di dalam menoleh ke arahku. Lelaki paruh baya�yang kuingat sebagai bapaknya�segera berdiri dan mempersilahkanku masuk. Tanpa basa-basi, segera kuutarakan maksud kedatanganku, �Semalam Lilla sms saya, Pak, dia minta tolong saya untuk mengantarkan kardus ini.�

�Lilla sms kamu? Semalam?� Seorang lelaki memekik. Semua pandangan terlempar ke arahku. Pertanyaan di kepalaku berkecambah. Semua terdiam. Tak bisa menjelaskan. Hingga seseorang berdiri dan mengambil sebuah koran, telunjuknya terarah pada sebuah kolom tulisan, ada foto Lilla di sana: Gadis korban perkosaan dan pembunuhan. Mayatnya dimutilasi dan dibuang di beberapa tempat yang berbeda. Sampai sekarang, potongan tangan dan kepala belum ditemukan.

LIMA

Mataku tak berkedip menatap kardus itu. Membayangkan isinya.***

Malang, Maret 2011

Lelaki Penunggu Pagi

Cerpen Muhammad Rasyid Ridho
Dimuat di Malang Post, Ahad 24 April 2011

1

An, tahukah kau aku merasa malam ini sangat panjang. Saat kolong langit terlihat kosong, hanya hitam yang menganga. Suara liukan dan gesekan pohon kelapa diluar sana cukup membuat risih, angin memang tak seperti biasanya. Seperti menggumpal-gumpal tenaganya untuk terus bergerak dan menggerakkan benda yang di sekitarnya. Aku tak sabar untuk menghabiskan malam.

Kau tentu tahu, aku tak terlalu suka malam yang terlalu lama mengendap. Memang aku tak suka malam, karena aku lebih suka pagi. Saat matahari mulai keluar dari peraduannya, dengan sinar kemerah-merahan menyerupai wajahmu saat tersenyum malu. Dan terang cahayanya pun mirip dengan mata jelimu itu, aku sangat suka itu. Terlebih lagi udara yang berhembus lembut nan menyegarkan. Hmm, tak ada yang menandingi kesegarannya.

Dengannya aku merasa, luapan pikiran dan belitan masalah sehari lalu menguap dan terlepas. Aku meyakini ketika hari beranjak pagi, maka akan ada harapan-harapan baru yang bisa aku raih. Aku percaya, adanya pagi setelah malam pekat guna melumatkan hitam dengan terang putih cahayanya. Pagi itu hamparan cahaya bagi seluruh makhluk di bumi. Pagi itu bidadari jelita yang menawan semua makhluk di dunia.

Kuingat katamu terakhir waktu itu An, �Tunggu saja setiap pagi Riz, aku ada di situ.�

Maka aku harus memaksa sepanjang malam begini, menemani malam dan menunggu pagi. Sudah tak terhitung berapa purnama telah berlalu, namun aku setia menunggu pagi disini. Sampai diriku saja lupa aku rawat, kini mata hitamku sayu dan tubuhku kurus ringkih. Biarlah, bagiku menunggu pagi itu nomor satu. Karena, aku menunggumu yang hadir di pagi hari, entah itu kapan aku akan tetap menanti.

Tapi, malam ini beda sekali. Malam sepertinya bertahan disini. Sudah sejak tadi aku menunggu pagi disini, tapi malam seperti tak ingin beranjak pergi. Seolah-seolah waktu terus terdiam, hanya jam saja yang berputar namun waktu tidak, tetap tak bergerak sejak tadi. Udara malam yang biasanya aku benci, kali ini kupaksa untuk kucintai hanya untuk menunggu pagi. Ya, aku menunggu pagi dan masih terjaga sampai saat ini. Asal kau tahu An, aku sungguh merindu dengan pagi, merindu senyum cerahmu itu terlihat lagi.

2

Beda memang dengan dirimu, kau selalu memuji malam.

�Lihat purnama itu, indah sekali bukan? Aku suka malam� bisikmu malam itu.

Aku hanya mengangguk tak berkomentar, aku sadar kutelah berdusta pada hatiku yang tak pernah menyukai malam. Namun, padamu apapun yang kau sukai maka itu pun akan aku sukai. Karena itulah menurutku cinta, aku tak akan membuatmu terluka disebabkan sedikit saja ego yang aku punya.

Ah, itulah waktu kita bersama memandang malam di langit itu. Kita duduk bersebelahan di gubuk tua milik pak Kus. Petani renta yang sudah ditinggal istrinya meninggal, namun semangatnya tiada bandingnya itu. An, Menemanimu saja aku gembira, cukup itu saja. Aku tak akan minta apa-apa. Aku hanya ingin kau bahagia, cukup bagiku waktu itu. Kau pun tampak bahagia bersamaku, sungguh rasa bahagia ini terlampau sangat, An. Semoga perkiraanku ini benar.

Aku ingat suatu ketika pak Kus, menghampiri kita saat asyik duduk menikmati malam di gubuknya. Dan dia berkata,

�Walah, Rizza sama siapa kamu lee?�

�Ini Anjali pak Kus, anak baru di desa ini. Orang tuanya, tempat kerjanya pindah ke desa kita selama tiga bulan pak. Awalnya dia di kota, lihat saja perawakannya gak seperti gadis desa pak Kus. Iya khan Anjali?� Jawabku sambil tersenyum dan menoleh padamu, dan kau pun hanya diam tersenyum dengan wajah kemerah-merahan malu.

�Kamu cocok tuh Riz, sama cah ayu iki� kata pak Kus kemudian.

Kita pun kaget bukan kepalang, kau dan aku saling menoleh berpandangan. Dan serentak kita berkata tanpa komando,

�Lha, kenal aja baru deket-deket ini, koq sudah dibilang cocok Pak?� sambil cengas-cengis di hadapannya.

�Yo, aku liat-liat aja kaya�e kalian cocok. Yo wes, aku tak pulang dulu lee� lanjut pak Kus langsung melenggang pergi. Dan kita pun hanya tersenyum-senyum.

Setelah merasa puas memandang langit malam di gubuk tua itu, selalu saja kau mengajakku pulang melewati jalan-jalan pinggir sawah yang becek itu. Aku tahu kau sangat menyukai itu, ya paling tidak aku harus paham daerah dan suasana seperti itu tidak ada di kota. Apalagi suasana malam purnama yang terang benderang yang menurutmu indah itu. Aku yakin kau tak akan mampu melihatnya sempurna purnama ketika di kota, kau hanya bisa melihatnya ketika di desa saja. Di gubuk tempat biasa, memandang malam yang kau sukai itu.

Sesudah sampai depan rumah, selalu pasti kau di sambut oleh orang tuamu yang kemudian bertanya tentang keadaanmu yang sepertinya mereka khawatirkan sejak tadi. Tentu saja mereka khawatir, karena besok kau harus bangun pagi untuk sekolah. Lalu, orang tuamu menghadap padaku yang masih berdiri di halaman rumahmu dan keduanya tersenyum padaku. Dan aku pun membalas senyum itu, cukup itu saja. Sesudah itu aku segera mengundur pamit, dengan isyarat menundukkan kepala pada orang tuamu. Segera aku pulang meninggalkan halaman rumahmu yang suasana masih tersisa di hatiku sampai kini itu.

Sebenarnya, aku masih merasa ganjil di setiap malam ketika bertemu orang tuamu. Ada rasa kekhawatiran mereka tidak suka dengan keberadaanmu sedekat itu dalam waktu yang cukup cepat ini. Ditambah lagi, aku anak desa yang punya pakaian seadanya, tak seperti dirimu anak kota yang hampir punya segalanya. Aku segera membuang pikiran itu jauh-jauh, menghentikan lamunan itu sebelum diketahui oleh dirimu atau kedua orang tuamu, dan segera aku melangkahkan kaki pergi meninggalkan halamanmu. Hampir tiap malam begitu, entah kau melihat dan sadarkah atau tidak tentang itu.

3

An, andai kau tahu sebenarnya aku menyetujui apa yang pernah pak Kus bilang. Jujur saja, saat pertama kali bertemu denganmu aku merasa ada yang lebih dengan pertemuan kita ini. Jika aku meraba hati ini, sepertinya aku telah jatuh hati padamu. Ya, sejak pertama kali ketemu waktu itu. Saat kau baru turun dari mobilmu, dan menoleh padaku yang saat itu berada di teras depan rumahku. Kau tersenyum padaku, dan akupun membalas senyummu. Sejak itu pula aku punya tetangga perempuan yang dekat dengan rumahku.

Ternyata tak hanya dekat rumah saja, kau pun adalah perempuan yang mempunyai kedekatan emosional denganku nomor dua setelah ibuku. Itu terjadi saat kau ternyata menjadi murid baru di sekolahku waktu itu. Ternyata kau adalah adik kelasku, kelas satu SMA. Ya, aku waktu itu telah berada dua tingkat darimu, kelas 3 SMA. Ketika kau melihatku juga satu sekolah denganmu, tepatnya ketika jam istirahat di depan kantin kecil-kecilan pak Suryo. Aku tak menyangka kau akan berani mendekatiku dan menyodorkan tangan kananmu berniat bersalaman denganku. Dengan sedikit gugup dan sesegera mungkin menghilangkannya, lalu aku balas sodoran tangan kananmu itu dengan menyodorkan juga tangan kananku. Saling bersalamanlah kita, dan kau menyebut namamu,

�Anjali Kezia� katamu.

Dan aku pun membalas �Rizza� jawabku.

Saling kenallah kita, dan sejak itu pula kau lebih sering menghabiskan waktu istirahat denganku ketimbang dengan teman sekelasmu. Aku masih tak paham, apa alasanmu bersikap begitu. Aku tak mau berpikiran yang aneh dan terlalu jauh. Toh, aku adalah anak desa yang cukup seadanya, sedangkan kau adalah anak kota yang serba berlebihan. Apalagi katamu waktu itu hanya tiga bulan di desa ini, karena ayahmu segera pindah tempat kerja lagi. Oleh, karena aku tak berani banyak berpikir tentang hubungan kita.

Sekolahku bagi ukuran desa cukup besar itu, akhirnya ramai dengan kedatanganmu pertama sebagai siswi pindahan dari kota selama tiga bulan nanti. Jadilah kau perbincangan hangat bagi setiap siswa, karena kecantikan fisikmu dan nilai kekotaanmu yang masih melekat jelas itu. Bagi para siswi kaupun tak kalah menjadi bahasan gossip mereka juga. Pernah kudengar dari salah satu siswi, kedatanganmu yang sebentar itu cukup membuat sekolah desa ini gempar dan mereka dengki karena kau dianggap bak seorang puteri raja. Sebenarnya lebih dari itu, kau tak hanya seolah sebagai puteri raja, namun sebagai bidadari anugerah dari Tuhan yang diturunkan dari langit untuk sekolah ini.

4

Terutama bagiku, kedekatanmu denganku yang tiba-tiba itu telah banyak membuatku tahu tentang dirimu dan keluargamu. Tentang kerja bapakmu, yang mengapa selalu pindah dari kota ini ke kota satunya, atau dari desa satu ke desa berikutnya, begitu seterusnya. Kau bercerita tentang bapakmu yang bekerja di pusat penelitian tanaman dan pertanian di kota dan desa. Kau pun bercerita, sebenarnya tak suka dengan pola pindah rumah dan pindah rumah sering sekali. Tapi, kau pun mensyukuri itu karena dengan itu maka kau akan bertemu teman-teman baru, termasuk bertemu denganku katamu. Ah, mendengar itu An, membuatku bak melayang di langit pagi. Tapi aku sadar, hanya menjadi teman saja sudah seperti itu apalagi ketika aku dianggap lebih oleh dirimu.

Selama tiga purnama yang kita lalui itu, kau memang yang banyak bercerita An. Aku hanya mendengarkan saja. Aku hanya mengamati saja, aku hanya berkomentar sedikit saja, aku hanya ingin membuatmu paling tidak senyum saja cukup. Suatu ketika kau pun berkisah tentang masa lalumu, entah kenapa begitu mudah kau bercerita tentang masa lalumu itu. Kurasa kau memang tak mungkin tahu, apa yang aku rasakan saat ini tentang dirimu. Tapi aku cukup hanya mendengarkanmu saja.

�Kau pernah suka pada seseorang Riz?� tanyamu.

�Hmm, belum� jawabku sekenanya.

�Bener nih?� Tanyamu lagi dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.

�Ya, aku belum pernah suka sama perempuan selama ini An� jawabku lagi.

�Hmm, boleh aku cerita Riz?� tanyamu dengan suara yang lebih rendah.

�Ya, boleh aja An, cerita sajalah gak perlu sungkan-sungkan, kayak kita baru kenal saja�

�Aku dulu pernah suka keseseorang waktu masih SMP Riz, tapi aku gak paham kenapa aku suka ke dia.

Ya, walaupun gitu sampai sekarang aku masih suka ke dia Riz, padahal aku belum tahu apakah dia juga suka ke aku apa nggak? Tapi, denger-denger dari teman dekatnya sih dia juga suka ke aku. Anehnya, kalo kita ketemu di kantin misalnya, dia hanya diam bahkan menyapa aku aja nggak apalagi mau bilang suka ke aku Riz. Padahal aku sangat berharap Riz, ke dia. Ya, sampe sekarang aku gak tahu apa yang dia mau dan dia fikirkan. Padahal aku tetep menunggu.�

Kau terus bercerita tentangnya, tentang masa lalumu yang sangat kau cintai itu. Kurasa aku tak perlu berkomentar tentang ini, andai kau tahu mendengarnya saja sudah mengiris-ngiris hatiku jadi beberapa bagaian yang tak utuh. Apalagi jika ternyata kisahmu benar dia juga suka padamu. Betapa hancurnya hatiku An, aku tak tahu siapa yang meremuk dan melumatkannya. Tapi, pasti remukan dan lumatan hatiku terasa sangat jika itu benar.

5

Kuingat katamu terakhir waktu itu An, �Tunggu saja setiap pagi Riz, aku ada di situ.�
Sudah tak terhitung berapa purnama telah berlalu, namun aku setia menunggu pagi disini. Sampai diriku saja lupa aku rawat, kini mata hitamku sayu dan tubuhku kurus ringkih. Biarlah, bagiku menunggu pagi itu nomor satu. Karena, aku menunggumu yang hadir di pagi hari, entah itu kapan aku akan tetap menanti.

An, semoga perkiraanku benar kau paham dengan apa yang kulakukan selama itu bersamamu, semua itu karena aku mencintaimu. Menemanimu memandang malam, sampai tiga purnama saja itu sangat membuatku bahagia. Apalah lagi jika kau mau menerimaku apa adanya, An. Tapi, aku sangat paham kau sangat sulit melupakan masa lalumu itu. Ya, dari caramu bercerita tentangnya saja bisa aku simpulkan mungkin cintamu cinta mati untuknya. Aku pun tak tahu engkau sekarang ada di mana, entah di kota atau mungkin di desa sebelah.

Sampai saat ini, malam betah di langit sana. Entah kenapa pagi pun tak segera menggantikannya. Apakah ia enggan, menerangi dunia. Ah, aku sendiri tak tahu, An. Sedari tadi aku menunggu pagi dan sabar menemani malam berjalan dengan waktunya. Tapi, sepertinya semua itu sia-sia. Aku yang terbaring ini, tak bisa melihat pagi lagi, An. Hanya malam dan gelap saja yang kulihat. Ibuku pun sampai menangis melihatku seperti ini. Aku sudah tak bergerak, sangat kaku katanya. Oh, aku tak lagi mampu bernafas kata ibuku.

Meski begitu, aku selalu menunggu pagi An. Aku menunggu cerahnya dunia kala itu. Menunggu dirimu datang dengan sunggingan senyummu yang menawan. Serta wajahmu yang kemerah-merahan indah itu, datang di dihadapan jasadku. Aku setia menunggu pagi An, aku setia menunggumu sepanjang malam sampai malam panjang ini. Saat jasadku tak lagi berruh seperti sedia kala, sungguh pagi serta kedatanganmu selalu kutunggu. Itulah kata jantung hatiku An, sampai saat ini sudah tak berguna lagi. Tak ada detak-detak yang mengguncang lagi. Tak ada tanda-tanda hidup lagi. Yang ada hanya jasad lelaki penunggu pagi.

21.04.2011, Rumah Taqwa, Malang.

Gelar

Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Republika, 24 April 2011

MENURUTKU, gelar dan nama adalah dua hal yang tak boleh dipisah-pisahkan. Seperti tubuh dan pakaian, sebuah nama akan telanjang tanpa gelar. Itulah mengapa aku sangat mengutuk orang-orang�terutama mahasiswaku�yang luput mencantumkan gelar pada namaku. Sebagai seorang dosen senior, aku telah menerapkan beberapa pantangan bagi seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahanku. Salah satu di antaranya adalah mengenai gelar itu sendiri.

Mereka�para mahasiswaku�yang berulang kali salah menyebutkan nama berikut gelarku, kujamin akan bernasib buruk. Seperti yang sudah kukatakan, gelar dan nama adalah sesuatu yang sakral bagiku, jadi tak boleh diotak-atik oleh siapa pun.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi hal itu, aku selalu berbaik hati. Pada setiap awal semester, di perkuliahan, aku selalu berpanjang lebar memperkenalkan diri. Para mahasiswa yang belum pernah mengikuti perkuliahanku, mereka akan mendengarkan semua ceritaku dengan khidmat dan sesekali manggut-manggut. Jabatanku di kampus adalah pembantu rektor satu, sekaligus guru besar. Sudah berapa dosen di kampus ini yang dulunya bekas mahasiswaku? Toh, mereka semua menghormatiku.

Tak perlu ditebak, pastinya gelarku cukup mentereng. Setiap awal semester, pada acara perkenalan dengan mahasiswa baru, aku selalu menuliskan nama lengkapku besar-besar di jantung papan tulis. Aku selalu menuliskannya begini: Prof Dr H M Kibari MA.

Bila para mahasiswa yang kuajak bicara mengernyitkan dahi, dengan semangat aku akan menjelaskan pada mereka, bahwa kata prof, dari namaku itu berarti profesor, yakni seorang ahli dalam suatu bidang, bidangku tentu kebahasaan. Untuk meyakinkan mereka, aku selalu menyebutkan prestasi-prestasi akademik dan non-akademik yang telah kukantongi. Sudah bertebaran pula buku-buku barat yang aku terjemahkan ke dalam bahasa ibu. Rasanya tak ada yang kurang dengan prestasiku.

Adapun mengenai huruf Dr, dari namaku ialah singkatan dari kata doktor yang aku peroleh dari S3-ku yang kedua, di Jakarta. Tak pernah ketinggalan pula aku menjelaskan tentang huruf H, yang bertengger pada namaku. Huruf H di sana tentu saja singkatan dari kata haji, itu karena memang sudah berkali-kali aku ke Makkah. Dan untuk huruf M, aku takkan menjelaskan panjang lebar karena M di sana ialah singkatan dari nama depanku, Muhammad.

Dan yang terakhir, huruf MA, master of art, merupakan oleh-oleh dari S2-ku dari negeri yang punya ibu Menara Eifel, Prancis. Hebat bukan?

Tak ada yang perlu diragukan, rasanya gelar itu cukup sepadan dengan kemampuan akademik yang kumiliki. Mungkin bisa dibilang aku ini seorang multitalent. Mulai dari kecerdasan matematis, bahasa, kinestetik, sampai musikal, aku menguasainya. Tak banyak orang tahu bahwa diam-diam aku ini berbakat menggesek biola, itulah yang kukatakan sebagai kecerdasan musikal. Bukannya aku sombong, karena sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Aku tidak begitu, justru aku mengagungkan kebenaran, semua tentangku memang benar adanya, bukan mengada-ada. Aku juga tak pernah memandang rendah orang lain, mungkin orang lain saja yang harus mengakui bahwa aku memang ada di atas mereka, dalam banyak hal.

***

Pada akhir semester seperti ini biasanya aku akan lebih sibuk dari biasanya. Banyak sekali agenda-agenda kampus yang harus rampung sebelum rapat wisuda digelar nanti. Belum lagi urusan konsultasi para mahasiswa yang bebal itu. Beberapa kali mereka datang ke rumah, mengemis-ngemis agar aku dapat menerima konsultasinya lalu mengasese skripsinya yang amburadul itu.

Seminggu terakhir ini, sudah terhitung tiga mahasiswa yang terpaksa aku depak untuk mengulang semester depan. Aku sudah terbiasa dengan wajah-wajah kecewa mereka.

Awal pekan lalu, seorang wanita berkunjung ke rumah. Setelah kuhitung-hitung, aku yakin, itu kedatangannya yang ketujuh. Sepertinya dia lebih pandai mengobral alasan daripada menekuni tugas akhirnya. Kali ini dia datang malam-malam dengan segepok kertas di tanganya. Aku menyesal sekali, istriku mempersilakannya masuk. Terpaksa aku meladeninya.

�Apa kita sudah buat janji sebelumnya?� ujarku tanpa basa-basi.

�Maaf Pak, saya tadi tidak sempat, tadi seharian penuh saya menyelesaikan bab terakhir ini. Dan, waktu saya ke kampus bapak tidak ada.� Dalihnya enteng.

Walah� itu alasan kamu saja, wong sedari pagi saya di kampus kok! Urusan kampus ya selesaikan di kampus. Lha, mengapa kamu berani menemui saya tanpa membuat janji terlebih dahulu. Sudah�, sebaiknya kamu pulang saja, saya mau istirahat�.� Tukasku santai.

�Tapi Pak, minggu depan sudah ujian. Izinkan saya bicara sebentar dengan bapak. Saya mau minta pertimbangan-pertimabangan lagi dari bapak supaya semuanya clear dan lusa saya sudah bisa daftar ujian skripsi.� Ia merajuk, membuatku semakin muak.

�Entah besok ujian, entah minggu depan ujian, itu urusan kamu. Pertanyaannya, selama satu semester ini kamu ngapain aja? Bukannya dead line yang kuberikan sudah kedaluwarsa?�

�Sungguh, Pak�! Ada urusan penting yang harus saya utamakan.�

�Lebih penting dari skripsimu?� tandasku.

Wanita itu tak bergeming, tapi matanya mengilat seperti kaca.

�Sudah, terserah draf itu mau kamu apakan. Yang jelas malam ini saya mau istirahat. Badan saya rasanya remuk semua. Maaf.� Ucapku singkat, lalu beringsut meninggalkannya yang tergugu di ruang tamu. Entah dengan cara apa dia enyah, lagi-lagi aku takkan peduli. Aku benar-benar muak dengan mahasiswa model begitu.

Mahasiswa kedua yang tidak kugubris kedatangannya juga seorang wanita. Ia mengaku tak punya banyak waktu untuk menyentuh skripsinya karena ia repot mengurus balitanya. Bagiku, itu risiko yang harus ia tanggung. Maka, baginya tak ada lagi toleransi. Aku hanya menyarankan padanya supaya ia pandai-pandai membagi waktu.

Yang ketiga ialah seorang pemuda kumal. Dia seorang aktivis organisasi ekstra kampus. Bertubi-tubi ia mengemukakan alasan dengan bahasa yang diplomatis dan dibuat-buat. Dipikirnya itu akan mengubah nasibnya, sama sekali tidak. Bahkan, terang-terangan aku memberinya dua pilihan, skripsi atau organisasi. Aku menyuruhnya pulang dan datang kembali semester depan dengan pilihan yang tepat.

Setelah para mahasiswa error itu, malam ini datang lagi seorang pemuda dengan potongan alim. Kalau tidak salah dia adalah seorang anggota takmir masjid kampus. Entah, aku lupa namanya siapa. Sebenarnya dia itu rajin, tapi untuk soal skripsi dia tak beda jauh dengan mahasiswa kebanyakan. Dari matanya aku masih menangkap kemuakkannya terhadapku. Mungkin dia teringat kejadian beberapa bulan lalu saat aku menegurnya karena kesalahan fatal menyebut namaku tanpa memakaikan bajunya, gelarnya. Pada khutbah Jumat waktu itu aku mendapat jadwal khatib dan dia sebagai bilal. Sebelum aku naik ke mimbar, dia menyebutkan namaku begini: �Dan pada Jumat kali ini, khutbah Jumat akan diisi oleh Bapak Muhammad Kibari.�

Bukankah seharusnya dia menyebut namaku begini: �Dan pada Jumat kali ini, khutbah Jumat akan diisi oleh Prof Dr HM Kibari, MA.�

Iya kan? Seharusnya begitu, kan? Untung saja posisiku waktu itu sebagai khatib, kalau tidak pasti aku sudah melabraknya. Tapi sudahlah, aku sudah melupakan kejadian itu dan memaafkannya. Dan, malam ini aku menerima konsultasinya yang terakhir, tentu setelah dia membuat janji denganku.

�Maaf Pak, ini hasil revisi saya yang terakhir,� ucapnya sambil menyerahkan bendel skripsinya yang tebal. Dengan malas aku meraihnya, lalu membolak-balik halaman itu dengan saksama.

�Apa ini? Sudah mau diwisuda ngetik saja belum becus. Lihat itu! Apa pantes itu dibaca orang.� Pekikku setelah mencoret beberapa kata yang salah redaksi.

�Maaf Pak, mungkin saya memang kurang teliti. Iya, akan segera saya perbaiki.� balasnya. Belum selesai ia bicara aku sudah menemukan lagi kesalahannya yang lebih fatal.

�Ini apa lagi. Rupanya kamu benar-benar tak tahu siapa nama dosen pembimbingmu sendiri. Ini lihat!� Tanganku mengacung pada tulisan: �Dosen Pembimbing: Prof H Kibari, MA.�

�Ini doktornya mana, terus M, Muhammadnya mana? Sudah, sudah, ini bawa lagi skripsimu. Besok saya tunggu di kampus, jam sepuluh. Ingat! Itu yang terakhir kali. Kalau kamu masih salah-salah lagi, saya sarankan kamu ujian semester depan saja! Kamu belajar ngetik dulu sambil menghafalkan gelar-gelar saya.� Emosiku meledak. Setelah sepatah dua patah kata yang terbata, ia memohon diri dengan wajah seperti terbakar.

Esoknya pemuda itu menemuiku di kantor, ia kembali dengan print out yang baru, tapi dasar penyakit, dia membuat kesalahan lagi dengan menghilangkan tanda baca titik pada ujung kata Prof dan Dr. Tanpa berpikir panjang aku menyuruhkannya menuliskan tanda titik itu secara manual, dengan pena yang digenggamnya. Setelah kurasa beres aku segera mengasesenya, aku tak ingin lama-lama berhadapan dengannya, bisa-bisa darah tinggiku kumat.

***

Usai sidang skripsi, aku bisa bernapas lega. Hal yang paling sulit bagiku selama berpuluh-puluh tahun jadi dosen ialah saat menjadi penguji skripsi. Aku selalu dihadapkan pada dua pilihan yang menyebalkan: yakni memelihara kebodohan para mahasiswa itu atau mempermalukan mereka. Namun, aku lebih sering mengambil pilihan yang pertama: memelihara kebodohan mereka dengan dua kata: kamu lulus.

Biasanya, setelah nilai keluar, para mahasiswa bimbinganku yang puas dengan nilainya akan mendatangiku dengan ucapan terima kasih berikut tandanya. Minggu ini sudah terhitung lima tanda mata yang aku terima, mulai dari karangan bunga, kemeja, arloji, hiasan dinding, bahkan sampai sepatu made in Italy.

Dan, malam ini aku menerima lagi sebuah kiriman paket dalam kardus besar tanpa nama pengirim. Aku tersenyum-senyum saja menerimanya. Dari beratnya, aku yakin isinya bukan barang biasa.

�Dapat lagi, Bu!� kataku sambil memamerkan paket kotak itu pada istriku.

�Wah, sepertinya berat sekali. Kira-kira isinya apa ya, Pak?� tanya istriku.

�Yah, pastinya benda berharga, Bu. Mahasiswaku kalau memberi hadiah memang tak tanggung-tanggung.� Balasku girang.

Istriku tersenyum, �Cepet buka, Pak! Saya jadi ndak sabar pingin ngeliat isinya apa.�

�Iya, iya, saya buka. Sabar. Tapi tolong, ibu bikinin teh dulu buat bapak.�

�Iya, ibu bikinin. Tenang saja. Tunggu sebentar ya, Pak,� ujarnya sambil beranjak ke dapur.

Istriku pasti akan terkagum-kagum melihat kado istimewa dari mahasiswaku kali ini. Bagaimana tidak istimewa, bungkusnya saja dari kertas emas berkilauan dengan pita cokelat muda, masih dihiasi bunga-bunga rumput kering pula, artistik sekali. Dan untuk lebih memberi sensasi kejutan, pengirim kado ini pasti sengaja membuat saya penasaran dengan tidak mencantumkan siapa nama pengirimnya.

Maka, dengan tidak sabar aku membuka kardus itu. Satu per satu kulucuti pita dan plester yang rapat membalut kardus itu. Kubuka kertas emas mengilat itu pelan-pelan agar tidak sampai sobek. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk melihat isinya. Mulai kusingkap kardus itu dengan hati dag-dig-dug penasaran. Setelah kubuka kardus itu aku tercekat, kaget bukan main. Dua papan batu nisan dari marmer terbujur di sana. Pada salah satu batu nisan itu terukir tulisan yang sangat indah, berseni. Tulisan itu begini:

Alm Prof Dr H M Kibari, MA.

Jidatku terasa dihantan pendulum satu ton saat kusadari apa yang baru saja kubaca. Kepalaku mulai terasa pening. Bersama dengan batu nisan itu, terselip pula selembar kertas dengan tulisan tangan yang cukup rapi, kubaca tulisan itu perlahan:

.

Bapak Prof Dr H M Kibari, MA. yang ter(gila) hormat. Mohon maaf sebelumnya.

Ini saya kirimkan kenang-kenangan berharga buat Anda. Batu mahal berukir gelar kebanggaan Anda. Jadi, kelak Anda tidak usah repot-repot membayar orang untuk mengukir gelar Anda pada batu itu.

Oh ya, saya juga telah menuliskan satu lagi Gelar bagi Anda: Almarhum. Tentu Anda senang, gelar Anda bertambah satu lagi. Gelar itu akan benar-benar Anda dapatkan, jadi Anda tak usah khawatir. Mohon disimpan baik-baik hadiah dari saya ini. Anda boleh memajangnya di ruang tamu atau di kamar tidur Anda, supaya Anda selalu bisa melihatnya. Semoga bermanfaat.

Salam

Mahasiswamu.

.

Usai membacanya kepalaku berdenyut-denyut tak keruan. Wajah-wajah kecewa itu berkelebat satu per satu menggelayuti dinding kepalaku. Aku seperti menemukan maksud indah yang enggan kuterima kebenarannya. Tanganku masih gemetar menimang batu kuburan itu. Aku tak mau siapa pun tahu akan hal ini. Sebelum istriku melihatnya, secepat kilat kumasukkan kembali batu itu ke dalam kardus lalu membungkusnya kembali rapat-rapat.

�Wah, isinya apa, Pak? Ibu mau ngeliat?� tutur istriku dengan secangkir teh yang masih bergoyang di tangannya.

�Ah, tak perlu, Bu. Ini cuma hiasan batu berukir biasa.� Balasku kecut. Sesuatu yang tidak enak mulai menggeliat di kepalaku lalu meletup-letup di palung dadaku. (*)

.

Malang, 2009-2010

Senin, 18 April 2011

Anak Perempuan Ayah

Cerpen Aida Radar

Dimuat di Berita Pagi Palembang, Ahad 17 April 2011


�Ada apa dengan ayah?�

Demikian benakku tiada hentinya bertanya tentang sikap ayah yang lain dari biasa. Ayah yang tak lagi kurasa seperti ayahku yang dulu. Ia betul-betul berubah. Ketaksamaan sikap ayah yang mengganggu pikiranku ternyata tidak�atau mungkin belum, ditangkap orang-orang rumah lainnya. Mereka jelas tiada tahu menahu akan ke-lain-an sikap ayah yang menjadi kegelisahanku. Ibu saja yang orang paling terdekat ayah, yang kucoba cari alternatif jawaban padanya, hanya mengangkat bahu. Pun begitu dengan Jum, bibi yang telah hidup bersama keluarga kami membantu ibu dalam urusan dapur, juga tak lepas dari bidikan tanyaku yang di akhirnya juga setali tiga uang dengan ibu. Diangkat pula bahunya. Bahkan diikuti gelengan. Tidak tahu pangkat dua pastilah maksudnya.

Perasaan tidak kulihat perubahan dalam diri ayah. Dulu dan sekarang sama saja, tuh!

Ah! Adik lelakiku juga beri pendapat sama ketika kuminta pandangannya. Ugh! Jengkel aku padanya. Bagaimana ia bisa tahu keadaan rumah jika kerja hariannya cuma kelayapan saja?! Menginap di basecamp komunitas motornya hampir tiap malam. Jadi mana bisa perubahan sikap ayah terbaca olehnya. Ah, salah juga aku mau meminta pendapatnya.

�Ayah mengapa bersikap begitu terhadapku, ya?�

Lain apanya, Ria? Dari tadi kauterus curhat tentang sikap ayahmu yang berubah, tapi tidak kau katakan di mana bedanya? Bagaimana saya bisa berpendapat?

Oh astaga! Aku hampir lupa. Gerutuan Dini mengingatkanku kalau belum kuceritakan sebab musabab ayah kubilang berubah sikap. Baiklah, begini ceritanya :

Dulu, sewaktu masih melekat di tubuhku seragam putih biru dan putih abu-abu, hampir tidak pernah aku dilarang ayah keluar rumah. Ikut kegiatan ekskul sampai pulang menjelang maghrib, buat tugas di rumah teman di malam hari, bercuap-cuap dengan sahabat-sahabat hingga tak mengenal waktu, dan aktifitas di luar rumah lainnya; kulakoni tanpa ada batasan waktu yang ayah gariskan padaku. Selama masa itu, tiada ditolaknya izinku untuk berkeliaran di luar dan tidak hidup di dalam rumah. Aku benar-benar berjaya mengatur waktu untuk seabreg kegiatanku.

Namun kini berbeda sudah. Kebebasan masa eSeMPe dan eSeMA itu langsung ditarik kembali oleh ayah dari penguasaanku dan disembunyikannya dalam sebuah sangkar berbentuk ratusan susunan batako yang disisipi hingga dilapisi semen dan pasir 1:5. Yah, di rumah mungil kami itulah ayah kurasa mengungkungi setiap gerak-gerikku. Jangankan berkunjung ke rumah teman hingga tak mengenal waktu, duduk satu jam di rumah tetangga saja, ayah langsung menggunakan hak sangkarnya untuk menarikku pulang.

Dan yang tidak bisa kupahami dari sikap ayah itu, mengapa ia memberi kelonggaran keluar rumah padaku selama masa sekolah eSeMPe dan eSeMA tapi selalu menghalangiku melakukan itu akhir-akhir ini. Dan hal itu berlaku justru ketika aku baru saja pulang dari tempat studi di Makassar. Pasca berhasil menempatkan toga di kepala dan menggamit gelar Sarjana Pendidikan.

Kemarin ba�da sholat Isya, enam hari sesudah kepulanganku dari Makassar, aku berencana ke rumah Dini. Selama lima hari ini aku di rumah terus. Tidak ada yang bisa kukerjakan. Tes seleksi penerimaan pegawai negeri sipil�yang ayah ingin aku mengikutinya, masih akan berlangsung dua bulan lagi. Aku benar-benar suntuk melewati lima hari tanpa kesibukan-kesibukan seperti ketika masa kuliah dulu. Olehnya itu, aku ingin ke rumah Dini yang merupakan teman eSeMA-ku sekedar untuk berbagi cerita. Tentang apa saja untuk mengobati kebosananku di dalam rumah.

Aku berpamitan pergi ke rumah Dini pada ibu yang lagi nonton televisi bersama Jum. Waktu melewati ruang tamu, ayah sedang duduk di sana. Ia sedang membaca koran. Karena tak ingin mengganggu ayah, aku langsung menuju pintu.

�Ria pergi dulu ya, Yah. Assalamu�alaikum.�

�Mau kemana kamu malam-malam begini, Nak?�

Ayah memindahkan wajahnya yang sedari tadi menyeriusi koran dalam genggamannya di pintu keluar tempat aku berdiri dan hendak keluar. Mata di balik kacamata itu menatapiku penuh tajam dan (kurasa) penuh selidik.

�Ng... Anu, Yah. Ria mau ke rumah Dini.�

�Kamu mau ngapain di sana, Nak?�

�Nggak ngapa-ngapain, Yah. Ria hanya pengen ngobrol saja dengan Dini. Ria suntuk di rumah, Yah.�

�Tapi ini �kan sudah malam, Nak. Lagipula tidak ada hal penting yang mau kamu kerjakan di sana. Baiknya besok saja kamu ke rumah Dini. Nanti ayah yang akan mengantarmu biar kamu tidak pergi ke mana-mana. Begitu lebih baik, Nak.�

Aku mematung di tempat tanpa kata-kata. Tadinya aku berharap ayah melarangku pergi dengan suara menggelegar dan menghentak. Supaya kalimat-kalimat perlawanan yang telah kususun dalam kamar sebelumnya bisa kugunakan untuk mengritiki pengungkungan ini. Namun ayah tak melarangku dengan nada keras seperti itu. Ia melarangku pergi dengan kemampuannya yang belum akan pernah bisa aku kalahkan. Ia menjadi pemenang atasku dengan ketenangannya dalam berbicara.

Dalam kata-katanya tadi jelas tidak ada kalimat pelarangan langsung untukku. Tapi secara tersirat, terbaca jeli kalau ayah memang mau menggagalkan rencanaku ke rumah Dini. Kemudian, ayah kembali menyeriusi korannya. Sedangkan aku berjalan pelan kembali ke dalam kamar. Tanpa suara.

***

�Mungkin ayahmu khawatir dengan keselamatanmu makanya beliau bersikap begitu, Ri.�

�Khawatir dengan keselamatanku? Keselamatan dari bahaya apa, Din? Aku itu nggak berniat ngapa-ngapain kok di luar rumah. Mengapa ayah mesti khawatir?�

�Ya, mungkin saja ayahmu khawatir ada orang-orang jahat yang menjahatimu kalau kamu keluar rumah sendirian. Zaman sekarang ini �kan penjahat bergentayangan di mana-mana lho, Ri.�

�Ah, nggak masuk akal, Din. Aku ini sudah dewasa, Din. Sudah sarjana lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri, InsyaAllah. Dan kalau memang ayah khawatir dengan keselamatanku seperti dengan yang kaubilang, mengapa tidak dari dulu ayah bersikap begitu. Mengapa justru waktu eSeMPe dan eSeMA dulu, aku dilonggarkannya keluar rumah. Padahal seharusnya di masa-masa itulah ayah melarangku keluar rumah. Dan seharusnya, sekaranglah ayah memberiku kebebasan itu karena aku sudah dewasa dan sudah sarjana, Din.�

�Iya juga, ya. Wah! Aku tambah tidak paham dengan jalan pikiran ayahmu, Ri. Ayahku tidak pernah bersikap begitu padaku, sih. Jadi, aku nggak ngerti. �

�Jangankan kamu, Din, aku saja nggak bisa paham.�

Aku dan Dini terdiam. Kemudian, aku meneguk jus apel yang disuguhkan Dini. Sudah dua jam aku di rumahnya, tepatnya di dalam kamarnya dan kami tak tidak mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaanku. Segala sakwasangka kami dari tadi malah membuat kami tambah tidak yakin dan kembali bertanya-tanya dengan perubahan sikap ayah.

***

Aku dan Dini hendak keluar dan jalan-jalan di taman kota siang ini andaikan saja ibu Dini tidak mengetuk pintu kamar dan mengatakan pada kami bahwa ada ayah di luar. Ayahmu datang menjemputmu, Ria, kata ibu Dini.

�Apa?! Ayah datang menjemput?�

Ibu Dini mengangguk. Aku memandangi Dini. Seorang gadis dewasa dan sudah sarjana, dijemput ayahnya di siang bolong seperti ini dan disuruh segera pulang? Aku menemukan kalimat tanya itu di gurat ketakpercayaan Dini. Ah, kalau saat ini bisa kupandangai sendiri wajahku di cermin, mestinya akan aku dapati pula raut wajah Dini di wajahku. Seletah berpamitan pada ibu Dini, aku pun mengambil tasku lalu melangkah keluar kamar. Di depan rumah Dini, ayah sudah menungguku di atas motornya dengan sebuah senyum manis menenangkannya yang tak pernah bisa kulawan.

***

Suara dua orang yang tengah bercerita dan suara televisi dengan volume netral di ruang keluarga, membuat telingaku terjaga dan hingga akhirnya seluruh inderaku ikut terjaga pula. Aku melihat bekerku. Pukul 01.14 pagi yang tertera di sana. Siapa yang ngobrol dan nonton TV di tengah malam begini? Kutajamkan pendengaranku. Dan,

Oh! Itu suara ayah dan ibu.

Aku membuka pintu kamar dengan pelan. Sangat pelan. Derit pintunya bahkan tidak terdengar. Di depan televisi yang menyala aku melihat ibu dan ayah duduk bersebelahan di atas sofa sambil nonton. Posisi mereka membelakangiku karena kamarku tepat di depan televisi itu. Mata ayah tidak lepas dari layar televisi yang tengah menayangkan permainan bolakaki Liga Inggris. Ayah memang sangat hobi dengan sepak bola dan ibu rupanya menemani suaminya nonton permainan olahraga kesukaannya di malam yang telah melewati tengahnya ini. Ketika timing permainan sepakbola babak pertama selesai, ibu membuka suara lagi setelah tadi obrolan mereka sempat terhenti.

�Tadi sore Ria curhat sama ibu, Yah.�

�Curhat? Curhat tentang apa, Bu?�

�Katanya semenjak dia pulang dari Makassar, ayah selalu melarang-larang dia keluar rumah. Dia merasa ayah seperti mengungkunginya di dalam rumah. Mau pergi kemanapun selalu ayah tanyakan: mau pergi ke mana, Ria? Dan kalaupun ayah izinkan dia keluar rumah, palingan dua jam kemudian sudah harus pulang lagi. Bahkan ayah datang menjemputnya seperti tadi siang di rumah Dini.�

Oh, Ternyata keluhanku sore tadi, ibu sampaikan pada ayah malam ini. Aku penasaran apa jawaban ayah. Aku pun melihat reaksi ayah. Beliau hanya diam.

�Kemarin itu Ria nanya sama ibu, Jum, dan Fiqri tentang perubahan sikap ayah. Kami jawabnya ayah tidak berubah. Ayah yang sekarang, sama saja dengan ayah yang dulu. Tapi rupanya kami tidak menyadari itu karena sikap ayah memang tidak berubah pada kami bertiga. Ayah hanya berlaku lain pada Ria saja. Sebenarnya ada apa, Yah? Mengapa ayah melarang Ria keluar rumah? Padahal waktu eSeMPe dan eSeMA dulu, ayah tidak begitu. Ria �kan sudah sudah dewasa. Sarjana pula. �Kok ayah malah melarang-larang dia keluar rumah? Ada apa, Yah?�

Ayah masih diam sambil menunduk. Lama ayah dikepung laku itu, sampai sejurus kemudian iya berkata,

�Ria itu anak perempuan kita satu-satunya, Bu. Dia sekarang sudah sarjana. Sudah dewasa. Yah, ayah tahu itu. Namun, justru karena dia sudah dewasa dan sudah sarjana itulah ayah harus membatasi kebebasannya keluar rumah seperti dulu. Dia mesti lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, Bu. Harus! Selama masih ada kesempatan, Ria patut berada terus di rumah ini. Ibu tahu mengapa?�

Ibu menggeleng. Aku semakin penasaran. Ayah melanjutkan kalimatnya,

�Ria harus menghabiskan waktunya di rumah selama masih ada kesempatan. Karena kita tidak akan pernah tahu, Bu. Mungkin besok, mungkin lusa, mungkin minggu depan, dan mungkin tak akan lama lagi, seorang lelaki asing akan datang dan akan sesegera membawa anak perempuan kita satu-satunya itu keluar dari rumah ini. Anak perempuan kita satu-satunya itu mungkin akan sesegera menikah, kemudian menjadi istri orang dan meninggalkan kita, Bu.�

Ibu tercekat. Aku juga tercekat. Mata ayah memandang kosong ke arah televisi. Aku menemukan embun bergelantungan di matanya yang memandang kosong itu. Aku beku di belakang celah pintu.

Oh ayah... Begitukah rupanya perubahan sikapmu?

Dan embun di mata ayah akhirnya berpindah di mataku dan di mata ibu, yang tak lama kemudian langsung berubah menjadi rintik-rintik hujan yang terdengar berjatuhan di genteng rumah kami di luar sana.

***

: Untuk para Ayah di seluruh dunia.

Makassar-Kampus Unmuh Malang, di Agustus yang telah tua, 2010.

Minggu, 17 April 2011

Sang Penulis

Cerpen Noor H. Dee
Dimuat di Koran Tempo, 17 April 2011

PENULIS itu mencopot kedua tangannya dan membuangnya ke tempat sampah. Kedua tangannya menggelepar sebentar lantas diam seperti tangan orang pingsan.

Ia mencopot kedua tangannya begitu saja. Tidak dengan pisau dan semacamnya. Tak ada darah yang membuncah dan semacamnya. Tak ada luka yang menganga dan semacamnya. Ia memperlakukan tubuhnya seperti lego yang dapat dicopot dan dibuang semaunya.

Ada kegetiran yang begitu abstrak, yang tak bisa ia katakan, dan ia mengerti bahwa sejak dahulu kata-kata memang seperti itu: tidak pernah bisa diandalkan untuk menjelaskan segala hal. Kata-kata hanyalah sebuah usaha untuk mendekati kebenaran, tapi selalu berhenti di titik hampir. Ia mengerti sekali akan hal itu.

Ia sudah bertahun-tahun menjadi penulis. Setiap detik ia selalu bergumul dengan kata-kata yang tidak pernah setia: menemukannya, mendedahnya, membongkarnya, dan meragukannya. Itu sebabnya ia tidak tahu mesti berkata apa ketika menyaksikan kedua tangannya teronggok di tempat sampah. Seperti kesedihan tapi bukan itu, seperti kebahagiaan tapi itu pun masih kurang tepat. Entahlah. Ia hanya bisa diam, dan ia merasa betapa diam ternyata masih lebih baik dari segala macam kata yang pernah manusia temukan. Alasan mengapa ia membuang kedua tangannya ke tempat sampah cukup sederhana: ia tidak ingin menulis lagi.

Sebenarnya sudah lama sekali ia ingin berhenti menulis. Pena dan kertas telah ia buang, laptop-nya telah ia hibahkan kepada kekasihnya yang gemar berkata-kata kotor, dan buku-buku yang sekiranya dapat membangkitkan gairah menulis sudah ia bakar di halaman belakang dengan menggunakan beberapa batang korek api dan setengah liter minyak tanah. Tidak lupa, hampir setiap malam ia juga selalu memohon kepada Tuhan yang selama ini sering ia khianati, agar bakat menulisnya segera dicabut sampai ke akar-akarnya. Dan, hasilnya adalah setiap malam ia harus menderita sakit kepala.

Ia kesal karena seluruh usahanya selalu gagal. Ia masih tetap terus menulis. Ia menulis di pintu kulkas, di layar telepon genggam, di bak kamar mandi, di bantal, di cermin, di lipatan baju, di kalender, di meja makan, di sepatu, di kantung celana, di permukaan piring, dan di kaca jendela yang jarang sekali terbuka. Bahkan ketika sedang tertidur pun ia masih mampu menyelesaikan dua buah cerita pendek di selimut tebal tempat ia biasa bersembunyi dari dinginnya malam. Ia juga tidak tahu mengapa semua itu bisa terjadi. Ia tidak mengerti mengapa ia masih terus saja menulis. Karena bingung mesti berbuat apa lagi, sedangkan kegiatan menulisnya tidak juga kunjung berhenti, tanpa pikir panjang lagi ia langsung mencopot kedua tangannya untuk kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Ia berhenti menulis karena ia merasa menulis adalah perbuatan yang percuma. Ia sudah menulis ribuan puisi, ratusan cerita pendek, dan puluhan novel. Belum lagi ditambah dengan beberapa artikel dan essai yang pernah dimuat di beberapa majalah dan surat kabar nasional. Banyak orang yang kemudian mengidolakannya, memborong semua karya-karyanya, bahkan ada yang sampai tergila-gila begitu rupa kepadanya. Ia memang hanya penulis, tapi popularitasnya sudah hampir sama dengan para selebritas. Setiap kali ia meluncurkan buku baru, berbagai jenis manusia dari berbagai jenis penjuru berbondong-bondong memadati ruangan acara itu. Semula ia memang jumawa dengan semua itu. Namun akhirnya ia sadar, bahwa ternyata semua itu adalah percuma.

Semua itu bermula dari pertanyaan sederhana yang terlontar dari mulut seorang gadis pada saat acara peluncuran bukunya sedang berlangsung, �Apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun?� Pertanyaan sederhana itu ia jawab dengan lancar.

�Menulis adalah semacam katarsis, yang dapat membebaskan kita dari kejumudan.� Ia juga mengatakan bahwa seorang penulis bukanlah nabi, yang diutus Tuhan untuk mengubah suatu kaum. �Tugas seorang penulis,� ujarnya melanjutkan, �bukanlah untuk mengubah keadaan, melainkan hanya ingin mengabarkan tentang segala hal yang sedang terjadi di depan mata kita secara apa adanya.�

Semua yang hadir dalam acara itu mengangguk-angguk, merasa takjub, untuk kemudian bertepuk tangan bersama-sama.

Tidak ada yang tahu bahwa sesampainya ia di rumah, ketika ingin beranjak tidur, pertanyaan itu masih terus membututinya: apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun? Keesokan harinya pertanyaan itu kembali terngiang di benaknya. Di hari-hari berikutnya pun demikian. Sampai akhirnya penulis itu lelah, dan mulai merasa gelisah.

Apa artinya menulis jika tulisan kita tidak mampu mengubah apa pun?

Penulis itu gelisah bukan kepalang. Semula ia tidak peduli dengan pertanyaan sepele itu. Semula ia menganggap bahwa tugas seorang penulis ya hanya menulis saja.Titik. Tidak lebih dari itu. Tapi, entah kenapa, akhirnya ia sepakat bahwa ternyata dirinya adalah seorang penulis yang tiada berguna.

Ia sudah banyak menerbitkan buku, tapi ia sama sekali belum bisa mengubah apa pun. Sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang mesti diubah, tapi ia sadar bahwa keadaan memang masih tetap begini-begini saja. Ia sering mengangkat tema tentang kemiskinan dalam setiap cerpen-cerpennya, tapi sampai sekarang kemiskinan itu masih ada dan tak pernah berubah. Ia sering mengangkat tema tentang kerusakan alam di setiap sajak-sajaknya, tapi sampai sekarang masih banyak saja orang-orang yang tidak peduli dengan alam, malah lebih parah dari sebelumnya. Ia juga sering mengangkat tema tentang kemunafikan manusia di setiap novel-novelnya, tapi hingga detik ini kemunafikan itu belum juga hilang.

Begitulah. Akhirnya penulis itu memutuskan untuk berhenti menulis dan membuang kedua tangannya ke tempat sampah.

�Selesai sudah,� gumam penulis itu sambil menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Lebih baik tidak usah menulis sama sekali, ujarnya dalam hati, dari pada menulis tapi tidak pernah dihiraukan sama sekali.

Tidak lama kemudian, penulis itu tertidur.

PENULIS itu terbangun dari tidurnya dan terkejut bukan main. Ia melihat dinding kamarnya sudah dipenuhi dengan tulisan. Begitu pula dengan lemari baju, permukaan piring, sepatu, sampai atap rumahnya pun telah dipenuhi tulisan. Ada yang berupa puisi, cerita pendek, seloka, gurindam, pantun, haiku, dan ada pula yang hanya berupa sekumpulan kata-kata yang tersusun secara acak tanpa bisa diketahui apa maknanya. Penulis itu kembali menderita sakit kepala. Ia yakin betul bahwa semua tulisan itu adalah tulisannya. Bukan tulisan orang lain. Ia tidak tahu kalau pada akhirnya akan menjadi sesulit ini. Ia juga tidak tahu bagaimana ia bisa membuat tulisan-tulisan itu, padahal sepasang tangannya telah teronggok di tempat sampah. Mungkinkah ia menulis dengan kakinya? Atau mulutnya? Atau telinganya? Atau dengan pikirannya? Ia tidak tahu. Kepalanya benar-benar ingin pecah.

�Mengapa jadi sulit begini, padahal aku hanya ingin berhenti menulis? Ah, sepertinya lebih baik aku mati saja!� ujarnya sambil bangkit dari rebahnya, berjalan mendekati lemari pakaiannya yang tertutup, dan susah payah menarik pintu lemari itu dengan gigi depannya.

Di dalam lemari itu tampak sebuah pistol yang mengilat. Ia tersenyum. Ya, lebih baik aku mati saja, ujarnya dalam hati.

Namun seketika itu pula ia terdiam. Ia tidak tahu bagaimana cara menembakkan pistol ke dalam mulutnya. Sebab, ia baru ingat, kedua tangannya telah berada di dalam tempat sampah! (*)

Rabu, 06 April 2011

Aimaro

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Surabaya Post, 3 April 2011

Borok Dunia Akhirat

Tak kuhiraukan petir yang menggelegar di telinga, air bah yang menyeruduk dada, dan zenith matahari yang membakar raga. Seperti apa pun katalismik memamah normalitas, aku belum bisa menerima semua ini. Semua hampa. Bagaimana bisa demam biasa ini menjelma aib yang menjijikkan!

�Aku hanya minta pil pereda panas, mengapa kau sampai memeriksa darahku?!� Aku membelalak sempurna.

Dokter bergeming. Ia memandangiku datar seakan-akan menganggap reaksiku sebagai kewajaran bagi orang yang baru saja divonis mengidap borok dunia akhirat ini.

Dadaku masih megap-megap. Aku masih belum bisa menerima. Tiba-tiba aku teringat kedua orangtuaku, adik-adikku�

�Bersabarlah, Nak�,� Dokter memecah lamunanku.

�Aku punya nama!� sergahku kesal. Pandanganku kosong menembus tulisan �Positif� di surat keterangan hasil tes di tanganku. Tiba-tiba kulihat Si Pirang Mawgen di sana. Ia tengah mengulum senyum kemenangan di liang lahatnya. Dasar setan!

�Mawgeeen!!!�

Serta merta aku bangkit dari tempat dudukku. Napasku tersengal-sengal. Kulihat wajah indo Dokter memerah. Hidung bangirnya kembang kempis. Ia tegang seketika.

�Dia temanmu?� Dokter bertanya ragu.

Aku tak acuh.

�Siapa tadi? Mawgen?�

�Ha... ha... ha�!� Aku terbahak. �Apa pedulimu?� tiba-tiba perasaan hampa mengerubungiku. Aku linglung.

Dokter memandangiku seperti seorang sutradara yang tengah mengaudisi peran psikopat. Aku lelah. Kembali terduduk. Kurasakan surat-keterangan di genggamanku perlahan-lahan beralih ke tangan Dokter. Di balik kacamata tebalnya, nampak beliau begitu serius memerhatikan data singkatku yang tertera di sana.

�RI-YO,� setengah bergumam namaku disebutnya. �Bersabarlah, Rio. Ini��

�Tak perlu menghiburku, Dok. Takkan ada yang mengerti perasaanku! Takkan ada yang percaya bahwa sejujurnya aku sendiri pun tak mengerti dengan semua ini. Aku belum bisa memercayai ini!� Suaraku makin meninggi pada oktaf yang berkejar-kejaran. Tiba-tiba mataku pedih. Tidak, aku tak boleh menangis....

�Ini bukan akhir segala-galanya, Rio,� tampak ragu Dokter menggamit tanganku. Merasa dikuatkan, kubalas menggamit tangannya, lebih erat. Mataku hangat. Oh, airmataku menetes satu-satu. Tak mampu lagi kusembunyikan kepedihan ini....

�Panggil saya Dokter Ardi,� ia menyimpul senyum.

Pandangan sinisku sempat menerobos binar matanya sebelum ragu-ragu aku mengangguk.

�Mmm, Rio,� Ia menengadah. �Bagaimana kalau kita tes ulang?�

�Tes ulang?!� Bergegas kutarik tanganku dari genggamannya. Dokter Ardi tergopoh menstabilkan posisi duduknya yang sedikit goyah karena tindakanku barusan.

Hening.

�Ternyata aku hampir tertipu!�

�Maksudmu?�

�Kau tak lari dari dugaanku. Jika kau adalah sampel dugaanku, maka hipotesis ini absolut kebenarannya.� Entah aku pun sulit memahami kalau kata-kataku begitu tajam, saintifik, dan sok filosofis. Emosi bawah sadar menguasaiku.

�Hipotesis?� Dokter Ardi antusias sekaligus bingung. �Aku tak mengerti. Hipotesis apa?� Tampak sekali perasaan bersalah menggerogoti wajahnya.

�Tes ulang adalah bentuk penghiburan kepadaku. Kosmetik yang biasa kalian poleskan pada perasaan pasiennya. Jujur, awalnya kata-kata dan tindakanmu hampir membuatku menganggukkan kepala bahwa kau benar-benar memahami keadaanku, tapi ternyata aku belum begitu matang dalam berkira-kira. Kau sama saja! Pembohong! Lipsinc!� Megap-megap aku mengatur tempo setiap kalimat yang meluncur. �Nah, kurang jelaskah hipotesisku akan pandangan banyak orang terhadap orang yang mengidap penyakit ini?!�

�Jangan salah paham, Nak��

�Rio!� potongku cepat. �Kata ganti �Nak� tak cukup ampuh mengubah pandanganku terhadapmu. Semua manusia akan menjadi sama saja bila berhadapan denganku!�

�Bagaimana kau mampu menyimpulkan banyak hal dengan gegabah seperti ini, Nak?� Dokter Ardi tampak lebih tenang.

�Sekali lagi, jangan coba berempati kepadaku dengan sapaan �Nak�! Tidak begitu susah bagiku menyingkap tumpukan topeng yang menjejali wajahmu.�

Dokter Ardi mendekatiku. Wajahnya dingin.

�Jangan mendekat!� Aku mundur beberapa langkah.

Dokter tak acuh. Dengan santai ia menuju ke arahku. O o, aku terpojok di sudut ruangan.

�Aaaakhh!�

�Kau hanya perlu sedikit ketenangan, Nak.� Sayup kudengar suara itu sebelum tubuhku layu seketika. Aku tak ingat apa-apa, selain jarum suntik yang secara perlahan dilepaskan dari nadi tangan kananku.

Kurungan

Satu bulan terasa begitu menyiksa. Kedatangan keluarga, sanak kerabat, dan teman-teman yang dapat dihitung dengan sebelah tangan, adalah pepakuan yang memaksa menancap di tembok perasaanku. Walaupun akhirnya tercabut seiring kepergian mereka, tapi lubang-lubangnya tetap menganga di hati ini. Empati mereka tampak begitu teatrikal. Ah, inilah nasibku. Jangankan menjadikan mereka teman berkeluh kesah, berjabat tangan pun bak utopia. Mereka semua bertopeng, senyuman tak lebih seringaian getir.

Aku menerawang lepas dari lantai tiga ruang isolasi rumah sakit ini. Di luar sana, awan tengah meringis, menjatuhkan air yang bergumpal di balik awan yang kusam mengelam.

�Apa kabar, Rio?� Suster Ria menyapaku sesaat setelah membuka daun pintu. Ujung jilbabnya berkibar kecil.

�Basa basi atau etika medis?� jawabku sinis.

Suster Ria memandangiku sejenak. Datar. Lalu mengambil beberapa tablet obat dan segelas air. Suster Ria mendekat.

�Jujur, Rio. Merawatmu membuatku bernostalgia. Aku teringat seorang seorang pasien lama.� Suster Ria menuntun tangannya mendekati bibirku. Dalam hitungan detik, empat butir tablet telah berselancar ditenggorokanku.

�Siapa?� Aku penasaran.

�Sama seperti kamu. Saat itu dia masih SMA. Dia anak yang baik, cerdas, dan berprestasi di sekolahnya. Suatu hari dia mendaki bukit��

�Bukit?� gumamku lirih.

Seakan tak memedulikan pertanyaanku, Suster Ria terus bercerita. ��mendaki bersama dua teman dekatnya. Di tengah perjalanan, mereka terluka oleh semak-semak berduri. Tanpa disadari darah dari luka mereka bertukar tempat, karena saat itu mereka saling membantu mengobati luka masing-masing dengan dedaunan.�

�Aku juga pernah terluka saat hiking. Tak hanya ketika mendaki bukit. Ketika mendaki gunung-gunung pun��

�Siapa yang sebenarnya tengah bercerita, Rio?� Suster Ria menyalip kata-kataku seraya tersenyum. Begitu halus singgungannya.

�Baiklah,� Aku mengalah.

�Temannya meninggal satu bulan setelah itu. Keluarga temannya penasaran dengan kematian mendadak anak mereka, makanya diadakan tes forensik. Hasilnya ternyata anak mereka telah tiga tahun mengidap AIDS.�

�Jadi kedua temannya meninggal?�

Suster diam sejenak. Lalu menarik wajahnya melengos ke jendela. �Hanya satu orang.� Ada tekanan pada nada suaranya. Dapat kutangkap semburat wajah yang merona merah di balik jilbab putihnya. Matanya berkaca-kaca.

�Dia adik suster sendiri, sanak kerabat, atau...?� Ah, mengapa aku tampak begitu solider.

Buliran hangat menyeruak dari mata suster itu ketika ia mengedip lembut.

�Mmm... Rio mohon maaf, Suster�.� Aih, bagaimana aku jadi melankolik pula!

�Dia bukan siapa-siapa, Rio. Namun dia sudah kuanggap sebagai adik kandung. Ia telah memberikan banyak pelajaran, terutama makna dan hakikat persahabatan, kesetiaan, dan ketabahan.�

Aku termangu. Masih menunggu kata-kata suster selanjutnya.

�Kesedihannya begitu mendalam. Setelah kematian teman dekatnya, dia hanya memiliki satu orang sahabat lagi. Tapi jangankan untuk saling menguatkan, bahkan sahabatnya itu pun tak hadir saat pemakaman. Yang lebih membuatnya sangat menderita adalah ketika sahabatnya tersebut menjauhinya saat mengetahui bahwa dia juga terkena AIDS. Dia begitu down, namun kesetiaan dan ketabahannya dalam menghadapi ujian persahabatan tak pernah pudar. Kerap aku mendapatinya tengah memanjatkan doa. Kupikir ia takkan melupakan sahabatnya itu dalam munajatnya....�

�Saat itu Dokter Ardi begitu terpukul.�

Deg. Dokter Ardi! Dokter sok peduli itu. �Dokter Ardi?! Apa urusannya? Terus siapa nama pasien yang suster ceritakan ini?�

�Dokter Ardi adalah ayahnya.� Tiba-tiba wajah suster pucat pasi. �Ya, Tuhan! Suster kelepasan Rio. Cukup sampai di sini. Suster telah melanggar kode etik medis. Ini terlalu jauh. Maaf.� Suster bergegas menuju pintu.

�Tunggu Suster, jujur aku tidak punya urusan yang begitu penting dengan ceritamu. Aku hanya ingin tahu satu hal. Di mana Dokter Ardi? Aku tak pernah melihatnya lagi sejak aku dipindahkan ke ruangan ini. Cuma itu!� Entah susah sekali aku meruntuhkan ego.

�Dia pindah ke Inggris!� Suster berhenti sejenak sebelum menghilang di balik pintu.

Tiga Sekawan

Di ruangannya, Suster Ria membereskan berkas-berkas konfidensial putra Dokter Ardi yang ketinggalan. Besok dia harus segera mengirimnya ke Liverpool.

�Mawgen Ardiansyah,� Suster Ria melafal lirih nama di surat keterangan hasil tes lima tahun yang lalu, seakan-akan ingin meyakinkan bahwa data yang dibereskannya tidak keliru.

Ponselnya bergetar.

Ria, tlg cek di brankas pribadi bapak di lantai 2 RS. Bereskan semua foto2 Mwgn. Kirimkn dgn brkas2 lainnya. Thx.

Segera Suster Ria beranjak ke ruangan kerja Dokter Ardi.

....

Suster Ria terperenyak mendapati foto tiga remaja berseragam SMA. Dua dari mereka begitu dikenalnya.

TIGA SEKAWAN. AIMARO: ANDI, MAWGEN, RIO.

Bergetar bibirnya membaca tulisan yang tertera di balik foto tersebut. Suster Ria bergegas ke ruangan isolasi. Memapas anak-anak tangga. Ketukan hak sepatunya membunuh keheningan koridor yang menjorok ke ruangan isolasi. Belum sempat tangannya meraih gagang pintu. Dari dalam terdengar tangisan keras diselingi teriakan yang berkoar bingar.

�Keparat! Gara-gara kamu aku jadi mayat hidup seperti ini! KEPAAARAAAT!!!�

�Klek.� pintu dibuka.

Rio menoleh.

Suster Ria membelalak. Mendapati foto Mawgen tercerai-berai, berserakan di lantai. (*)

Lubuklinggau, 2007-2010

Senin, 04 April 2011

Jembatan

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu, 03/04/11


DAN KEMBALI bulu kudukku berdiri. Lamat-lamat keringat menyeruak dari pori-pori. Jarak antardegup jantungku makin rapat. Kerongkonganku terasa kering�air liur yang kuteguk terasa sepat. Kalau saja tadi Pak Rahmadi, supir kami tak membatalkan rencananya pulang kampung demi mengemudikan mobil saat ini, mungkin sudah lama kaki kananku menginjak pedal rem secara mendadak ketika tahu bahwa beberapa ratus meter lagi kami akan melewati jembatan; tempat yang menyisakan trauma yang mendalam, ketakutan yang mencekam, kengerian yang tak sanggup kubayangkan�.

Sungguh. Aku tak sanggup menyaksikan keramaian yang tercipta di setiap jembatan. Keramaian yang ganjil. Keramaian yang menyeramkan. Keramaian yang berasal dari makhluk-makhluk yang muncul dari balok-balok besi dan beton penyusun tubuh jembatan (atau yang mucul dari kayu apabila jembatan tersebut masih terbuat dari kayu). Keramaian itu selalu hadir ketika magrib singgah hingga malam datang, hingga malam menua, (mungkin juga) hingga tampah jingga kembali mengintip dari ufuk timur. Itulah alasan mengapa aku selalu menghindari bepergian di malam hari. Dan kali ini aku tak dapat berkelit. Putri, anak kami satu-satunya ngotot ingin ke rumah neneknya.

Bulan lalu Ibuku sowan ke rumah kami. Ia memang sangat dekat dengan Putri. Saban datang, ia selalu menjanjikan sesuatu kepada cucunya yang baru kelas dua SD itu, seolah itu siasat agar ia selalu dirindukan. Seperti waktu itu, Putri sangat senang ketika Ibu membawakan sekeranjang macang, semacam mangga hutan dengan rasa manis yang khas. Ketika itu, aku dan istriku baru ngeh kalau kerewelannya yang minta diantar ke kampung, ternyata untuk menagih buah itu. Beberapa hari yang lalu, ketika Putri kembali rewel ingin ke kampung, kami yakin pasti neneknya sudah menjanjikan sesuatu. Entah bagaimana, aku tak terlalu peduli apa nian janji Ibu. Istriku pun begitu. Meeting-meeting perusahaan yang padat saban akhir tahun, lebih menguras perhatiannya daripada sekadar mencari tahu muasal kerewelan anaknya. Pun di sepanjang perjalanan ini, ia lebih sibuk dengan blackberry-nya. Aku memang tak mau ribut dengannya. Untuk mengajaknya pergi hari ini saja, ia tak berhenti menggerutu karena beberapa meeting penting harus dibatalkan. Huhh!

SEMUA BERMULA ketika aku hendak ke luar rumah tanpa menetapkan tujuan sebelumnya. Maklum, pengarang! Mencari inspirasi kadangkala harus ke mana-mana (walaupun tidak semua pengarang seperti itu). Tapi menurutku, siapa pun dan apa pun (pekerjaan) mereka, tentu akan muak dengan kota ini. Kota yang saban hujan dilanda banjir, kota yang saban kemarau jadi meranggas, kota yang saban dua bulan digoyang gempa, kota yang saban minggu dihantam angin topan, kota yang saban hari menyerakkan potongan-potongan tubuh mayat, kota yang saban menit menggenangi sungai dan got dengan orok berwarna pink, kota yang� (ah, sebenarnya tak ingin aku mengatakan ini karena jangan-jangan ini hanya perasaanku saja) �saban malam diramaikan oleh kerumunan makhluk aneh di jembatan dan sekitarnya. Maaf, aku tak bermaksud menakut-nakuti. Sungguh!

Dalam perjalanan pulang�setelah seharian mengembara ke beberapa sudut kota, dan aku tak mendapatkan satu ide pun untuk dijadikan cerita, aku sangat kesal. Pikiranku justru makin kacau. Bayangkan, dua kali aku ngopi di warteg, dua kali pula aku mampir di warteg yang ada televisinya. Tak ada yang salah dengan televisi itu sebenarnya. Hanya saja kotak ajaib itu menyiarkan berita yang membuatku muak. Hampir semua stasiun televisi menyiarkan, bayi-bayi tanpa kepala ditemukan di pelbagai tempat; sungai, rawa-rawa, WC umum, dan sekitar jembatan. Versi stasiun televisi A; mereka adalah korban aborsi. Versi stasiun televisi B; kepala-kepala mereka dipakai untuk diselipkan di antara sambungan besi atau beton jembatan-jembatan yang tengah marak-maraknya dibangun. Orang-orang yang nongkrong di sana pun seolah tak ingin ketinggalan dengan televisi. Mereka membincangkan beberapa anak tetangga yang hilang. Ada yang bilang, mereka diculik hanya untuk diambil kepalanya. Ada yang menambahkan�seolah hendak diseragamkan dengan berita di televisi, kepala-kepala mereka sangat berguna untuk ritual pembangunan jembatan. Semacam sesajen, imbuh yang lain....

Ah, berita dan pembicaraan yang tak bermutu!

Ketika lelah berjalan menyusuri kota, dan langit mulai merah; entah bagaimana aku memilih rehat di sebuah jembatan yang cukup panjang. Sekitar 150 meter. Jembatan yang tampaknya baru rampung dibangun. Aku bediri di tengah. Aku melongok ke bawah. Semacam ngarai dengan dasar yang dalam dan curam menganga di sana. Tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku. Aku terkesiap. Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Aku kembali melongok ke bawah, tapi perasaanku sudah tak enak. Bulu kudukku menegang. Lamat-lamat keringat menyeruak dari pori-pori. Jarak antardegup jantungku makin rapat. Kerongkonganku terasa kering�air liur yang kuteguk terasa sepat. Aku membalik badan. Pandanganku menabrak semacam papan pengumuman. Ternyata jembatan besar ini belum boleh dilalui kendaraan. Dan... baru kusadari kalau aku berada di tempat yang sepi. Bukan! Aku bukannya takut dirampok, takut dibunuh, apalagi sampai takut dimutilasi. Aku tiba-tiba merasa berada di tempat yang asing. Tempat yang tak pernah kukenali. Kukucek mataku. Berkali-kali. Memastikan bahwa senja sudah pergi. Memastikan bahwa memang tak ada lampu jalan yang menyala. Memastikan bahwa hari benar-benar gelap. Benar-benar pekat. Benar-benar menyeramkan!

Kutarik napas panjang dalam satu helaan hingga bahuku hampir setara dengan dagu. Aku memasang ancang-ancang hendak berlari. Ke mana? Aku belum memikirkannya. Bila aku tak keliru, tadi aku berjalan dari sebuah jalan tol. Ah, lebih baik aku kembali ke sana daripada berlari ke arah yang berlawanan�yang aku tak tahu akan menemui apa. Kubalik kanan. Bersiap mengambil langkah seribu.

O o!

O o!

O o!

Dari kedua ujung jembatan kulihat gerombolan bola hitam menggelinding�. O, bukan! Bola-bola itu bagai merayap (atau berjalan dengan kakinya yang mungil). O Tuhan, hitam itu bukan warna bola, tapi semacam ijuk atau bulu yang menutupinya, atau�. Tidak! Itu adalah rambut. Kerumunan kepala mendekatiku. Makin dekat. Sangat dekat. Aku panik. Sekujur tubuhku basah. Melunglai. Tulang-tulangku terasa lepas dari tungkainya. Kulafalkan ayat-ayat Quran yang kuingat. Aku hanya hafal dua surat pendek. Al Fatiha dan Al Ikhlas. Aku juga ragu, apakah aku melafalkannya dengan benar. Sudah hampir 20 tahun aku tidak pernah shalat. Aku tak kuasa beranjak. Kusandarkan tubuh di bilah-bilah besi yang memagari jembatan. Pelan-pelan kujatuhkan tubuh. Aku terjerembab. Terduduk. Kupejamkan mata. Tiba-tiba tangan kananku menyut pedih seperti ditusuk ujung pisau. Sebuah paku karat yang tertancap di telapak tanganku bagai menegaskan bahwa apa yang tengah kualami bukanlah mimpi!

Kepala-kepala itu telah berada di dekatku. Mengerumuniku. Aku berharap aku segera pingsan�atau mati saja, daripada harus menyaksikan mereka menggigit, menguliti, dan memakan dagingku lamat-lamat. O, Tuhan, apa salahku?!

Sudah cukup lama aku terpejam tapi aku tak merasa tubuhku digigit atau dikuliti. Aku mencoba membuka mata pelan-pelan. Kupicingkan saja mula-mula. Tak ada apa-apa! O o, apakah aku berhalusinasi? Ternyata tidak. Ketika kubuka sempurna kedua mataku, kulihat gerombolan kepala itu merayap (atau berjalan dengan kakinya yang mungil) menjauhiku menuju kedua ujung jembatan. Mereka tidak merayap hingga ke jalan raya yang�mungkin saja�terdapat di kedua ujung jembatan. Mereka kembali ke bilahan-bilahan beton yang menyusun rangka jembatan.
Mereka bagai permen karet yang sangat lentur. Mereka masuk ke celah di antara bilah-bilah itu seolah kembali ke rumah, rumah yang menenteramkan.

Aku baru meninggalkan jembatan ketika sebuah sedan berhenti di ujung jalan (sepertinya pemiliknya adalah orang yang bertanggungjawab terhadap proyek jembatan ini). Kulambai-lambaikan tangan dan berteriak minta tolong seolah aku adalah korban bencana alam yang melihat Tim SAR datang. Ia mendekatiku. Ia membantuku bangkit. Ia memapahku. Ia baik sekali. Ia memberiku sebotol air mineral yang diambilnya dari mobil. Untuk beberapa saat ia tak bertanya apa-apa. Ia seolah paham benar bahwa aku sedang dalam ketakutan yang sangat. Setelah agak tenang, ia mengajakku menuju mobilnya. Aku menurut saja. Ia mengambil kemudi. Aku duduk di sampingnya. Aku lelah. Sungguh, aku tak sabar ingin pulang. Mandi air hangat. Minum teh kelat. Mengempaskan badan di spring bed yang baru dibeli empat hari yang lalu. Dan tentu, tak sabar menemui anak-istriku.

Ia seolah mampu membaca isi kepalaku ketika tiba-tiba ia bertanya di mana rumahku. Aku menyebut sebuah tempat. Kami meluncur. Melewati banyak jembatan. Melewati banyak keramaian. Kerumunan kepala. Dan ia tak menunjukkan keterkejutan dengan semua itu. Ia juga tak banyak bicara. Hanya bertanya tentang jalan bila mendapati mobil kami berpapasan dengan simpang tiga, perempatan, atau beberapa lorong kecil.

�Aku melihat hantu, Mas.�

Ia menoleh.

�Sumpah! Aku tak berbohong!�

�Di mana?�

�Di ��

�Di jembatan tadi?�

�Di setiap jembatan, Mas.�

�Ah, itu bukan hantu. Itu orang-orang yang tinggal di jembatan.�

�Ini bukan pengemis, anak jalanan, atau ��

�Iya, aku paham. Maksudmu kerumunan kepala itu, �kan?�

�Iya. Mas juga melihatnya?�

Ia menyeringai. �Semua orang juga melihatnya kalau hari mulai gelap!�

Aku terperanjat. Apakah ia serius?

�Sudah jarang keluar malam, ya? Berapa bulan? Atau sudah bertahun-tahun?�

Aku diam. Perasaanku makin tak karuan.

�Betul baru kali ini melihat kepala-kepala yang muncul dari jembatan?�

Aku hanya meneguk liur.

�Kota ini kan sudah jadi kota jembatan.�

�?�

�Ya. Karena kendaraan makin banyak. Karena orang ingin sampai di tempat tujuan makin cepat. Karena bencana alam banyak menciptakan jurang, ngarai, dan lembah, sejak ratusan tahun silam.�.�

�STOP!�

Driiiittttt!!!!

Mobil berhenti mendadak. Aku hampir terpelanting ke muka.

�Kenapa?�

�Maaf, Mas,� aku bersungut merasa bersalah. �Rumah saya kelewatan.� Aku setengah tersenyum.

Ia ber-ooo� panjang. Ia mohon maaf. Ia bertanya, apakah mobil perlu diputar balik agar dapat mengantarku tepat di depan rumah. Aku menolak. Ia sudah terlalu baik. Kubuka pintu mobil. Aku menyalaminya dengan badan yang sedikit dibungkukkan. Aku benar-benar berutang budi, bahkan berutang nyawa, kepadanya. Ia kembali ke mobil seraya melambaikan tangan sejenak. Ah, aku lupa bertanya siapa namanya.

ISTRIKU NGOMEL-NGOMEL di pagi yang masih sepia. Ia baru dapat telepon dari kantor. Wajahnya seperti kemeja katun yang belum diseterika. Ia kesal karena malam tadi begadang demi mempersiapkan bahan presentasi untuk meeting yang baru saja dibatalkan.

Kuambil dua potong roti. Kutangkupkan setelah melumuri selai blueberry di tengahnya. Kuiris jadi dua. Yang satu kuletakkan di atas piring Putri yang sudah siap dengan seragamnya. Ia langsung melahapnya. Yang satu lagi kuletakkan di piring di hadapan istriku. Ia melihatku sejenak. Mencangking roti itu. Memakannya. Hanya satu gigitan. Lalu minum setengah gelas jus melon. Membersihkan bibirnya dengan dua helai tisu. Ponselnya berdering. Ia masih mengunyah sisa-sisa roti di mulut ketika menekan tombol OK.

�Halo.�

�Ma, kata Bu Guru, gak baik kalau makan sambil ngomong,� Putri nyeletuk.

Istriku tersenyum kecil sebelum berteriak seolah bintang sinetron yang tengah berakting mendengar kabar kematian anaknya.

�Ada apa, Ma?� tanya aku dan Putri hampir bersamaan.

Ia menyebut sebuah nama yang tak kukenal. Tiba-tiba perasaanku tak enak. Selera makanku hilang. Aku menuang satu gelas air putih. Menenggaknya sampai habis.

�Mutilasi itu apa sih, Pa?� Putri bertanya polos. Kuelus rambutnya yang dikepang.

�Bagaimana bisa teman kantormu jadi korban, Ma?!�

�Dia yang menyuruh orang-orang berburu, eh, dia yang diburu!� jawab istriku ketus.

�Berburu apa?�

�Kepala.�

�???!!!!�

�Untuk proyek-proyeknya. Senjata makan tuan!�

�Senjata makan tuan?� Putri bergumam.

Aku mengernyitkan dahi. Kuisi lagi gelasku yang kosong. Kali ini dengan jus melon. Aku menenggaknya�

�Sayang, ke belakang, ya. Sama Bi Ina. Pakai sepatu gih!� ujar istriku kepada Putri dengan suara yang dilembut-lembutkan. Putri menghambur ke dapur. Memanggil pembantu�.

�Anggota tubuhnya yang lain masih utuh, Pa. Kecuali kepalanya�!�

Bruuurrrrr! Aku menyemprotkan jus melon�yang belum sempat berselancar di tenggorokan�ke wajah istriku.

�?!*%$%&@X#!!�

KAMI MEMASUKI jembatan.

Damn!

Mobil kami tiba-tiba mogok.

�Ini di mana, Pak?� tanya istriku sesaat setelah memasukkan blackbery-nya di tas sandang.

�Jembatan�.� Supir kami menyebut sebuah nama.

�Apa?� Kami berdua nyaris bersamaan berteriak.

�Kenapa Bu, Pak? Pernah mogok di sini pula?�

Aku dan istriku bersipandang.

Putri masih sibuk bermain dengan boneka di bangku belakang.

Seseorang mendekati mobil kami. Aku mengenalnya. Wajah istriku tiba-tiba pias.

�Kenapa, Ma?�

Putri tertawa renyah di belakang. Entah apa yang sedang ia bincangkan dengan bonekanya.

�Itu�.� Istriku menunjuk ke lelaki di luar.

�Mama kenal?�

Istriku mengangguk. �Ia sempat jadi pimpinan perusahaan tempat Mama bekerja.�

�O ya? Kenapa wajah Mama pucat begitu? Dia sangat baik lho, Ma. Dia yang mengantar Papa pulang ketika Mama begadang membuat bahan presentasi malam itu lho�.

Mata istriku membelalak sempurna.

�Pak, dia mengetuk jendela mobil kita. Perlu saya buka?� Pak Rahmadi menunjuk ke arah lelaki di luar mobil.

Belum sempat aku menjawab, istriku berteriak, �Jangan!�

Tawa Putri makin keras.

�Memangnya kenapa, Ma?�

Pak Rahmadi bingung.

�Beberapa jam sebelum mengantar Papa pulang, ia sudah tewas tanpa kepala!�

Aku tercekat. Pak Rahmadi sibuk men-starter mobil yang tak kunjung menyala. Ketukan di kaca mobil makin keras.

Tiba-tiba Putri berseru riang.

�Pa, Ma, betul �kan kata Nenek. Di sepanjang jembatan akan banyak boneka berjalan!�

Kami menoleh ke belakang.

�Itu, Pa, Ma!� Putri menunjuk ke belakang mobil. Ke ujung jembatan.

Gerombolan kepala mendekati mobil kami. Hanya beberapa puluh meter dari mobil.

�Itu juga, Pak!� Pak Rahmadi menunjuk ke depan mobil. Tangannya gemetar. Gerombolan kepala juga mendekat dari ujung jembatan yang lain.

�Buka pintunya, Pak!� perintahku.

�Jangan!� teriak istriku.

Putri masih tertawa-tawa. �Kata Nenek, dekat kampung, ada jembatan tua yang terbuat dari kayu. Di sana, kata Nenek, bonekanya paling banyak! Banyak anak-anak segede Putri�!�

Mobil kami bergerak-gerak oleh gerombolan kepala yang mengerumuni, yang menggoyang-goyangkannya. Istriku memuji-muji Tuhan. Aku dan Pak Rahmadi hanya komat-kamit. Kami tiba-tiba ingat mati. Putri masih terus tertawa ketika aku mencoba mengingat-ingat dua bacaan suci itu.

Al Fatiha dan Al Ikhlas�. (*)

Lubuklinggau, 20 Oktober 2010. Ditulis Ulang 20 Februari s.d. 28 Maret 2011

Kisah Dua Ibu

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Suara Muhammadiyah No.07/Th.Ke-96 1-15 April 2011

Wajah ibu kuning perak, serupa cahaya bulan yang akhir-akhir ini sering dipandanginya di kala malam dari balik jendela bertirai ungu setengah terbuka. Ia berselonjor dengan punggung menyentuh sandaran dipan. Jemari kedua tangan saling mengapit erat, bertengger di atas perut. Jemari itu bagai menggenggam sesuatu yang belum siap ia perlihatkan pada orang lain.

Telah bertahun-tahun ibu seperti itu. Sesekali aku mengintip dari pintu kamar yang sedikit menganga. Selama beberapa menit aku bisa memandang ibu yang terlihat semakin kurus. Pipinya berceruk dan kecerahan telah pudar dari bibir serta keningnya. Dulu bibir dan kening itu seperti berkilau. Banyak tetangga yang mengatakan bahwa cahaya itu berasal dari susuk yang ditanam seorang paranormal tersohor. Tapi aku tak percaya. Karena memang aku tidak pernah percaya apa pun yang orang katakan tentang ibu, kecuali keluar dari mulutnya sendiri.

�Bimo, anakku.�

Aku tersentak. Ibu tahu aku sedang memperhatikannya.

�Kemarilah. Ibu tahu engkau sering berada di sana.�

Aku mendorong daun pintu perlahan, melangkah masuk dengan dipenuhi rasa ragu. Ibu melambaikan tangan. Setelah tak lagi ada jarak ia meraih tanganku, lalu mengusap kepalaku. Gerakannya lemah namun aku merasakan rasa sayang yang sungguh dalam. Tubuhku terjamah cahaya bulan. Ternyata rasanya hangat.

�Baringkan kepalamu di pangkuan ibu.� Suara ibu sangat pelan. �Akan ibu ceritakan sebuah kisah.�

Aku menuruti perintah ibu. Setelah lebih dari dua puluh tahun, baru kali ini aku kembali membaringkan kepala di pangkuannya. Tangan ibu sehangat sinar bulan, tapi tak lama kemudian aku merasakan dua tetes air jatuh di sela-sela rambut.

�Ibu.� Aku memeluknya tanpa mengangkat kepala.

�Bimo, dengarlah.� Suara ibu gemetar.

Ibu lalu bercerita:
Berpuluh-puluh tahun lalu, ada dua kakak beradik. Ning dan Neng. Mereka dianugerahi wajah yang cantik. Ning lebih penyabar dan lembut. Itulah mengapa orang tua mereka terlihat lebih sayang padanya.

Ketika remaja, ada anak orang kaya bernama Agil yang jatuh cinta pada Ning. Orangtua mereka telah saling setuju. Diam-diam Neng juga mencintai Agil. Tanpa sepengetahuan Ning, Neng berusaha mendekati Agil. Agar memiliki pesona di mata Agil, Neng malah pergi ke dukun untuk memasang susuk. Dukun itu juga memantrai Agil agar di setiap malam ia memimpikan Neng.

Entah karena pengaruh susuk atau mantra dukun, Agil semakin dekat dengan Neng. Kedekatan mereka akhirnya memberi ruang pada setan-setan untuk membisikkan rayuan surga seharum bunga. Beberapa bulan kemudian perut Neng menggelembung. Itu merupakan aib. Agil dan Neng diusir oleh keluarga. Mereka pergi ke kota yang jauh. Tapi diam-diam ibu Agil yang merasa kasihan terus mengirim uang hingga Agil bisa menopang kehidupannya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, Neng mulai menyadari kesalahan masa lalu. Ia juga didera kerinduan yang teramat dalam kepada keluarga. Ingin rasanya ia bertemu mereka � ayah, ibu, dan Ning � untuk mohon maaf. Sayang, sampai saat ini keberanian itu belum ada. Namun pikirannya terus-menerus dihujani rasa bersalah, hingga akhirnya penyakit melumpuhkan tubuhnya dan ia hanya bisa berbaring sambil memandang alam raya dari balik jendela ketika senja mulai berkuasa. Semoga akan datang cahaya yang bisa memberinya ampunan dan mampu mencabut susuk-susuk dari wajahnya.

�Neng adalah ibu, Bimo. Dan Agil adalah almarhum ayahmu.�

Kuduk berdiri. Detak jantung meninju dada. Aku semakin merasakan tetesan air di kepala, membuatku semakin erat memeluk ibu. Sinar bulan seperti berubah abu-abu. Tubuhku tak lagi hangat, tapi berkeringat karena keterkejutan yang tiba-tiba. Ternyata aku anak haram. Tapi tak sedikit pun kebencian pada ibu muncul. Malah aku semakin iba padanya. Aku baru tahu nama asli ibu.

�Ibu yakin, kakek dan nenekmu sudah meninggal.� Suara ibu tersendat-sendat.

Itulah jawaban yang aku tunggu-tunggu selama ini. Ketika kecil, aku sering bertanya pada ibu mengapa aku tidak punya kakek dan nenek, tidak seperti anak-anak lainnya di sekolah. Aku sering iri jika mendengar mereka pulang berlibur dari rumah kakek nenek, lalu bercerita di depan kelas atau membuat karangan. Ketika itu, ibu selalu berkata bahwa kakek dan nenekku tinggalnya sangat jauh, di ujung negeri ini. Katanya tidak ada biaya untuk pergi ke sana. Memasuki Sekolah Menengah Pertama aku berhenti menanyakan perihal kakek dan nenek. Aku mulai mengerti bahwa ada rahasia yang disimpan ibu. Suatu saat aku akan mengetahuinya juga.

�Semalam ibu bermimpi bertemu Ning, tantemu.� Kata ibu. �Ia masih tetap cantik seperti dulu. Ia bilang pada ibu sebentar lagi akan meninggalkan dunia ini. Ibu ingin engkau menemuinya. Bila telah tiada, tolong bacakan permohonan maaf ibu di makamnya, juga di makam kakek dan nenekmu.�

�Ibu...� Tenggorokanku tersendat. Aku bisa mengerti apa maksudnya. Kata-kata tak kuasa terucap.

�Sebelum ibu menyusul mereka.�

�Ibu tidak akan pergi sebelum melihat anakmu jadi orang sukses.�

�Ibu sudah lelah menerima kutukan atas dosa masa lalu, Bimo.�

�Jangan ibu.�

Tanganku seakan melekat erat di tubuh ibu. Dan baru kali ini aku menangis di pangkuannya.

***

Seribu satu perasaan muncul bergantian, mengalihkan kesadaranku hingga kondektur bis menutup pintu. Aku sedang menuju rumah kakek dan nenek, juga tante Ning. Sesekali aku buka buku kecil berisi catatan alamat mereka dan kata-kata permohonan maaf yang ditulis ibu. Aku sempat membatin mudah-mudahan mereka masih hidup dan mau memafkan ibu, juga menerima diriku sebagai bagian dari keluarga besar mereka.

Memasuki jalan tol bis melaju cepat. Pepohonan di sisi jalan seolah bergerak. Semakin lama semakin cepat hingga berubah menjadi garis-garis dengan warna warni bergantian. Ibu seperti muncul di setiap perubahan warna. Aku bisa merasakan bahwa ia sedang dipijat atau dikerok oleh Mbok Karmi, pembantu kami. Nanti malam, pasti ibu akan berselonjor di dipannya sambil memandang bulan dari balik jendela. Sekujur tubuhnya akan berwarna perak.

Tiba-tiba aku juga seperti melihat warna perak keemasan berbentuk garis-garis bermunculan dari balik jendela bis. Lambat laun mataku lelah dan kemudian tertutup. Ketika bangun aku melihat keremangan dari balik jendela. Pasti sudah Magrib. Aku segera salat. Salatku dipenuhi harapan semoga permohonan maaf ibu diterima keluarganya. Begitu menoleh ke kanan aku melihat seorang wanita. Menurut perkiraanku umurnya sekitar lima puluh lima tahun. Ia tersenyum sangat ramah.

Melihat aku selesai salat, wanita itu menyodorkan getuk. Katanya itu adalah makanan kesukaan ia dan adik perempuannya. Sekilas aku melihat wajahnya. Masih ada sisa-sisa kecantikan masa lalu. Bulu matanya lentik, mirip bulu mata ibu.

�Mau kemana, Nak?� Ucapannya lembut sekali. Aku menyebutkan nama daerah, tepatnya sebuah desa. Kulihat ia mengangukkan kepala. Melihat keramahannya tanpa sadar aku lalu menceritakan tujuan perjalanku, juga tentang ibu yang sedang sakit keras.

�Kisah itu persis seperti yang dialami saudara ibu.� Katanya.

Aku diam sambil terus mengunyah getuk. Aneh, aku tertarik untuk terus memandangi wajahnya.

Wanita itu lalu berkisah:
Dulu di sebuah desa ada dua perempuan kakak beradik. Mereka sama-sama cantik, dan sebenarnya sama-sama disayang oleh kedua orang tua mereka. Sang kakak kemudian dilamar oleh suatu keluarga dan akan dinikahkan dengan anak laki-laki mereka satu-satunya. Tapi di kemudian hari anak laki-laki itu malah jatuh cinta dengan sang adik hingga terjadi sesuatu yang selama ini dianggap aib di desa itu. Kedua orang tua kakak beradik itu sangat kecewa dan selama dua hari tidak berbicara dengan sang adik. Hingga pada suatu hari lelaki dan sang adik pergi entah kemana.

Dengan berlalunya waktu, kedua orang tua dan sang kakak telah memaafkan sang adik. Mereka terus mencari keberadaannya namun tidak pernah ketemu hingga malaikat maut membawa ruh kedua orang tua itu.

�Percayalah,� kata wanita itu, �saudara ibumu pasti juga sudah memberi maaf. Memaafkan kesalahan seseorang laksana melepaskan penderitaan, Nak.�

Seketika bebanku seakan tercerabut. Aku menarik nafas. Tapi tiba-tiba ada perasaan ingin tahu mengapa ada kisah yang begitu mirip dengan kehidupan ibu. Aku kembali menoleh pada wanita itu hendak menanyakan dimana kejadiannya. Jangan-jangan orang-orang yang ada dalam kisahnya adalah keluargaku. Tapi niat itu kubatalkan ketika kulihat wanita itu tertidur. Alunan nafasnya sangat teratur dan terdengar sangat nyaman. Aku tak ingin mengganggunya. Aku juga kembali pulas.

Keesokan hari, di pagi yang hampir buta, bis berhenti di sebuah terminal. Aku membereskan barang-barang sambil sekilas kulihat wanita itu telah turun. Aku lalu buru-buru mengejarnya. Begitu menginjak tanah aku tak lagi melihatnya meskipun kupandangi seluruh sudut terminal seperti orang bingung. Aku keluar terminal dan menaiki angkutan kecil setelah bertanya pada polisi. Hampir dua setengah jam kemudian aku tiba di sebuah desa. Dari tempat itu tampak gunung di kejauhan.

Aku melangkah menemui tukang ojek yang mangkal di sudut jalan dan bertanya tentang seorang wanita bernama Ning - tepatnya Ningsih - sambil menyodorkan secarik kertas berisi alamat rumahnya.

�Ia meninggal subuh tadi, Mas.�

�Innalillahi.�

�Nanti selesai salat zuhur katanya akan dimakamkan.�

Aku segera minta diantarkan ke sana. Tak lama kemudian aku tiba di sebuah rumah bersih yang setengah dindingnya terbuat dari kayu. Banyak orang berkumpul di halaman. Tukang ojek segera mengenalkan aku dengan anak tante Ningsih, seorang lelaki berbadan kurus. Ia mempersilahkan aku masuk dan mengenalkan istrinya. Setelah itu aku langsung menceritakan semua. Tiba-tiba ia memelukku erat. Lepas dari pelukannya kulihat ada air tergenang di matanya.

�Ibu juga pernah cerita tentang Bulik Nengsih.� Katanya. �Ia pernah bilang sangat kangen. Semua cerita sedih masa lalu telah dikubur.�

�Apakah kakek dan nenek masih hidup?�

Ia menggeleng.

Aku lalu diajak menemui jasad tante Ningsih. Orang-orang diminta untuk memberi ruang. Dengan terbata-bata dan hampir menitikkan air mata aku mengucapkan permohonan maaf dari ibu yang kini sudah tidak mampu lagi berjalan jauh dan hanya memandang bulan di kala malam dari balik jendela bertirai. Besok aku akan ke makam kakek dan nenek untuk melakukan hal yang sama.

�Boleh saya lihat wajah tante Ningsih?� Aku berbisik pada saudara sepupuku.

Ia lalu mengangkat penutup wajah perlahan. Aku sudah membayangkan pasti wajahnya mirip ibu. Dua perempuan berwajah cantik. Begitu tersingkap, badanku langsung gemetar dan terasa dingin. Seperti ada batu es yang tiba-tiba menyentuh kudukku, lalu dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh sepanjang tulang belakang. Wajah itu. Ya, wajah itu. Wajah wanita yang aku temui di dalam bis.