Kamis, 25 Agustus 2011

Sumpah Paul

Cerpen Setta SS

Dimuat di Story Teenlit Magazine, Edisi 24/Th.III/25 Juli-24 Agustus 2011

PERKENANKAN aku mengenalkan diri terlebih dahulu padamu. Namaku Octopus. Ya, kau benar, arti namaku adalah delapan kaki, sesuai jumlah kaki-kakiku yang menjuntai dari kepala yang sekaligus pusat koordinasi gerak keseluruhan tubuhku.

Aku memiliki tubuh tidak selayaknya susunan organ-organ tubuhmu. Aku memiliki tiga buah jantung. Darahku berwarna biru pucat. Aku bernafas dengan menggunakan dua buah insang. Kaki-kakiku sekaligus berfungsi sebagai tangan-tanganku dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung untuk bergerak di dasar laut�habitat asliku, dan menangkap mangsa. Hampir seluruh bagian tubuhku hanya tersusun dari otot-otot dan tanpa tulang.

Aku tidak memiliki cangkang sebagai pelindung di bagian luar dan tidak memiliki cangkang dalam atau tulang seperti sahabat-sahabatku, Sotong dan Cumi-cumi. Satu-satunya bagian tubuhku yang keras adalah paruh, semacam rahang pada tubuhmu untuk membunuh mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil. Begitulah kehendak Tuhan mewujudkan fisikku yang jauh berbeda dari sosokmu di planet paling subur dan makmur ini.

O, aku hampir lupa, usiaku kini sudah dua tahun lebih. Namun berat badanku tak sampai seperlima dari berat badan normal bangsamu saat seumuran denganku. Tapi perlu aku beritahu agar kau tak mencibirku, nenek moyangku di Pasifik Utara sana ada yang berat badannya mencapai 40 kilogram lho!

Aku tidak tahu pasti lahir di mana tepatnya, tetapi sejauh memoriku mengingat saat membuka mata pertama kali aku sudah berada di Weymouth Sea Life Park, terletak di sebuah negeri kepulauan yang diapit oleh Laut Utara dan Samudera Atlantik. Dari desas-desus yang mampir ke telingaku, Ayah kandungku wafat setelah mengawini ibuku, dan ibu menyusul ayah tak lama berselang setelah ia menelurkanku dan sekitar dua ratus ribu saudara sekandungku. Kemudian aku diboyong ke negeri Hitler saat masih usia hitungan minggu. Tentu kau mengenal sosok yang aku maksud �kan? Di sebuah ruangan berbentuk persegi tersusun dari balok-balok kaca di sebuah kompleks di Oberhausen�bagian barat negeri Hitler terletak tak terlalu jauh dari bantaran Sungai Rhein, aku tinggal sekarang.

Paul, begitu bangsamu�bangsa paling mulia dan tercerdas versi Tuhan, biasa memanggilku di sana. Bukan Octopus, nama kebanggaan warisan kedua orangtuaku. Entah, aku tidak paham kenapa mereka menamaiku Paul. Mungkin karena aku seorang pejantan, dan menurut mereka nama itu cocok untukku?

Huh! Satu hal yang pasti, aku sangat benci dipanggil dengan nama itu. Nama itu hampir identik dengan bencana yang kerap mengintai hidupku sekarang! Atau ada sebagian di antara kalian lebih menganggapnya sebagai sebuah anugerah Tuhan yang wajib kusyukuri karena nama itu membuatku tenar? Fuihh!!

Ketahuilah, sejak perhelatan akbar olahraga aneh memperebutkan sebuah bola oleh dua puluh dua orang dari bangsamu digelar di ujung selatan Benua Hitam beberapa bulan lalu, kurasa akhir hidupku�yang sangat jarang bisa melampaui usia lima tahun, menjadi kian buram. Kini aku memiliki banyak musuh dari golongan bangsamu. Mereka yang menganggapku musuh lebih tepatnya. Aku sangat sedih karenanya. Tapi apalah dayaku?

Coba kau simak beberapa ungkapan kemurkaan sebagian bangsamu yang sampai ke telingaku ini:

�Kita akan mengejar Si Paul dan menaruhnya dalam beberapa potongan paprika. Kita kemudian akan memukul-mukulnya agar dagingnya tetap lembut dan lunak, dan lalu mencemplungkannya ke air mendidih,� ujar Nicolas Bedorrou, seorang koki ternama.

�Aku ingin membunuhnya dan memasukkannya dalam paella�nasi goreng seafood ala Latin,� ujar seorang lainnya.

�Semua yang Anda butuhkan hanyalah empat kentang berukuran sedang, minyak zaitun untuk rasa dan sedikit merica bubuk,� tulis media berjudul El Dia, memberikan resep bagi siapa pun yang berani menangkapku setelah kekalahan tim negaranya dalam olahraga berebut memasukkan sebuah bola ke gawang lawan yang tak kutahu apa namanya itu, hanya gara-gara polah makanku yang dijadikan bahan ramalan di negeri tempatku dibesarkan.

Gila! Ini benar-benar sudah gila! Apa salahku sesungguhnya?

Aku tak pernah berpikir tentang hal ini sebelumnya. Tapi itulah fakta yang harus kuhadapi kini. Dan yang membuatku semakin tidak mengerti, semua ini terjadi karena kebodohan bangsamu sendiri. Tak kusangka, bangsamu ternyata bisa lebih idiot dari bangsaku! Sungguh, aku tak bermaksud merendahkan tingkat kecerdasan bangsamu. Karena aku pernah mendengar makhluk yang tercipta dari cahaya pun sudah mengakui kecerdasan bangsa kalian. Maafkan aku bila kata-kataku tidak berkenan. Tapi aku sangat kesal!

Semua bermula dari aktivitas sekelompok cerdik pandai dari bangsamu. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun menjadikan sebagian bangsa kami sebagai objek eksperimen, mereka menyimpulkan bahwa bangsaku sangat cerdas dan kemungkinan merupakan yang paling cerdas di antara semua bangsa invertebrata.

Bangsa kami mampu melakukan proses pemikiran yang rumit, memiliki ingatan jangka pendek dan jangka panjang�tentu saja sebatas usia bangsaku, mampu menggunakan peralatan, membedakan berbagai bentuk dan pola, dan belajar melalui pengamatan�aku bisa membuka tutup toples dengan belajar dari melihat saja. Saudara-saudaraku yang tinggal di habitat asliku sering memanjat kapal penangkap ikan dan membuka ruangan penyimpan ikan untuk memakani kepiting. Beberapa saudaraku yang lain juga bisa menangkap dan memangsa beberapa spesies ikan hiu. Selain itu, warna kulit tubuh kami bisa diubah sesuai warna dan pola lingkungan sekitar dengan maksud melakukan kamuflase�penyamaran. Dan sebagian spesies bangsaku juga bisa menirukan gerakan dan membentuk postur hewan laut lain untuk mengelabuhi mangsa atau predator kami.

Dari anggapan sebagian cerdik pandai bangsamu itulah deritaku sesungguhnya dimulai. Hingga sebutan si peramal cerdas, ahli nujum, dukun, cenayang atau apalah istilah bangsamu, melekat pada setiap penyebutan namaku sekarang. Lelucon yang sama sekali tidak lucu! Semakin menjadi tidak lucu lagi ketika hal itu hanya didasarkan karena aku lebih memilih menyantap remis�makanan kesukaanku, dalam satu kotak lebih dulu daripada remis dalam kotak yang lainnya.

Padahal, demi Tuhan, aku hanyalah makhluk biasa seperti bangsa kalian yang tak bisa meneropong masa depan. Tak juga mengetahui bagaimana, kapan dan di mana akhir usiaku sendiri.

Aku benar-benar kesal! Tapi baiklah, aku akan ceritakan apa yang sesungguhnya telah terjadi selama ini. Dan kuharap kau akan lebih mempercayai ceritaku ini daripada parade bualan sebagian kalangan dari bangsamu itu.

Adalah Daniel Fey, induk semangku di Oberhausen, pada mulanya ia iseng mengerjaiku. Aku tidak pernah berpikir macam-macam saat dia menceburkan dua buah kotak kaca kecil berukuran sama ke dalam rumah kacaku yang tidak begitu luas. Aku tidak peduli sama sekali dia memasang benda apa saja di dalam kedua kotak kaca yang diceburkannya itu. Di dalamnya masing-masing ada juga sebuah bendera, katamu? Aku tidak mengenal sama sekali benda apa itu. Yang aku tahu, indera penciumanku yang tajam mencium bau remis di dalam kedua kotak kecil itu. Tapi Daniel sungguh cerdik. Dia sengaja menutup rapat kedua kotak kaca yang dijatuhkannya itu.

Kau tahu, aku selalu merasa lapar setiap kali mencium bau remis. Tentu saja aku segera menghampiri salah satu kotak berisi remis yang letaknya paling dekat dengan posisiku. Atau kadang aku iseng mengendus bau remis dari luar kedua kotak kaca itu bergantian terlebih dahulu sebelum memilih salah satu di antaranya untuk kunikmati pertama kali.

Demi Tuhan, hanya ritual itu saja yang kulakukan!

Sungguh aneh jika kemudian pilihanku setiap pertama kali menyantap remis di salah satu dari dua kotak yang berkali-kali dijatuhkan Daniel ke dalam rumah kacaku itu sudah menggegerkan bangsa kalian. Tepatnya dijadikan acuan, apakah negeri tempatku dibesarkan akan memenangkan laga memperebutkan sebuah bola oleh dua puluh dua orang itu atau sebaliknya akan menderita kekalahan.

Oh my God! Sekali lagi aku minta maaf, tapi kali ini benar-benar tampak bodoh bangsamu yang katanya sangat cerdas itu di mataku. Tiba-tiba aku ingin tertawa sekeras-kerasnya, mentertawakan sebagian di antara kalian yang meyakiniku bisa meneropong masa depan. Sebuah pola pikir aneh yang rancu dan konyol di zaman serba canggih ini! Hahahaha�.

Bangsamu tentu belum sepenuhnya lupa. Hampir dua tahun silam, makhluk-makhluk dungu di antara kalian kecele di meja kasino. Entah karena pertimbangan logis apa, mereka telah menjadikan ritual makanku sebagai patokan gambling dalam olahraga serupa. Hahahaha�. lucu, sangat lucu! Namun sekaligus membuatku menangis tanpa airmata. Begitulah yang sesungguhnya telah terjadi selama ini.

Inilah pengakuanku yang sejujur-jujurnya. Aku bersumpah tidak ada rekayasa dan atau paksaan dari pihak mana pun. Bangsamu harus percaya sepenuhnya padaku meski pengakuanku ini tidak aku bubuhi tandatangan di atas materai enam ribu rupiah seperti kebiasaan kalian saat menyatakan sumpah secara tertulis. Hmm� aku juga meminta maaf mungkin terlalu telat untuk mengkonfirmasi hal ini. Berjanjilah, jangan musuhi aku lagi setelah ini! Aku mohon, kasihanilah aku. Aku sudah cukup menderita selama ini.

Dan, ketahuilah, meski sepasang mataku ini bisa membedakan polarisasi cahaya, sesungguhnya aku dan seluruh warga bangsaku mengidap daltonism. Ya, bangsa kalian jamak menyebutnya dengan buta warna�.

Epilog

Hari ini, Selasa, 26 Oktober 2010, Paul si Octopus yang seratus persen jitu meramal selama Piala Dunia lalu mangkat secara alamiah dengan tenang di akuarium tempat ia hidup di Oberhausen Sea Life Center, Berlin, Jerman, pada usia dua setengah tahun. (*)

Selasa, 23 Agustus 2011

Dekapan Sunyi Ayah

Cerpen Mashdar Zainal

Dimuat di Surabaya Post, 21 Agustus 2011

SEWAKTU kecil aku selalu kesulitan mengartikan kata �ayah�. Tapi, kata ibu, ayah adalah sebuah rumah di mana kami�aku dan ibu, tinggal dan berteduh. Ketika itu, aku membayangkan ayah (seperti wajah yang ada dalam foto tahun 70an, kusam dan tak berwarna) menjadi raksasa dan tiba-tiba kakinya yang besar mencengkram tanah dan menjadi batu pondasi yang sangat kokoh, sedangkan tubuhnya membeku menjadi dinding-dinding yang tegap, mata dan telinganya menjelma menjadi pintu-pintu dan jendela, dan rambutnya yang sangat hitam dan tebal menggumpal menjadi atap yang pekat oleh lumut kering. Maka, untuk selanjutnya, dalam kepalaku, itulah ayah.

***

Selain rumah yang kami tinggali, wajah ayah (yang dalam arti sebenarnya) hanya bisa kutilik di foto itu. Foto ayah satu-satunya yang dimiliki ibu. Masa kecil tak pernah memberiku pelajaran akan bagaimana sosok ayah yang hilang dan hanya menjelma menjadi sebuah rumah. Ketika kawan-kawan sepermainanku bercerita tentang ayah, aku bercerita tentang ibu. Ketika mereka berwarta bahwa ayah mereka selalu diundang dalam kegiatan Yaasin dan Tahlil, kemudian pulang dengan nasi berkat yang masih mengepul, aku pun selalu menyela bahwa ibukulah yang selalu diundang sebagai juru masaknya. Pernah pula mereka bertanya, apakah aku pernah dipanggul di bahu seorang ayah, maka aku balik bertanya, apakah mereka pernah dipanggul di bahu seoarang ayah yang sekaligus ibu. Ibu yang ayah, atau ayah yang ibu. Dan mereka tak pernah bisa menjawab.

Aku tak tahu, apakah aku lebih beruntung dari mereka, atau mereka yang lebih beruntung dariku. Yang pasti, mereka tak pernah memiliki ibu seperti ibuku. Ibu yang sangat tangguh sekaligus lembut. Ibu yang sewaktu-waktu bisa menjelma menjadi seorang ayah sekaligus seorang ibu.

Meskipun kecil, aku cukup pandai bersilat lidah. Pernyataan atau pertanyaan teman-teman sepermainan�yang selalu dilempar di mukaku, selalu bisa kutangkal dengan lidahku. Meskipun sepulang bermain, sesampainya di rumah, tiba-tiba aku menjadi seorang pemarah dan pemurung. Dan sasaran yang paling tepat untuk melimpahkan semua rasa kesalku adalah ibu. Ibu yang tak pandai bersilat lidah, melawan eyelanku.

�Ibu, carikan aku ayah.� Pintaku dengan hati sebak.

Ibu terantuk kaget mendengar suara yang mengempas dari mulutku.

�Ayah?� ia seperti tak mendengar pintaku.

�Iya, carikan aku ayah.�

�Kita kan sudah punya ayah.�

�Maksudku ayah yang manusia, bukan ayah yang rumah.�

�Ayahmu kan ayah yang manusia. Lihat fotonya, alangkah tampannya ayahmu itu, alisnya tebal sepertimu.� Ibu mencoba mengalihkan perhatian.

�Maksudku ayah yang bisa menyentuhku, ayah yang bisa menggendongku di atas bahunya, ayah yang di undang ke Yaasinan dan pulang membawa nasi berkat. Ayah yang��

Raut wajah ibu mulai berubah, seperti bara yang padam.

�Ayo, Bu. Aku ingin seperti teman-teman yang punya ayah manusia, bukan rumah dan foto saja.�

Kini mata ibu berkilat, seperti kaca tertikam hujan.

�Apakah ibu tidak cukup menjadi ayahmu?� katanya kemudian, berkabut.

�Tapi ibu kan perempuan.�

Ibu kembali terdiam.

�Ibu tak punya kumis dan lengan yang kekar.�

Ibu menunduk.

�Ibu tak bisa mengajariku sepak bola, apalagi silat.�

Ibu pura-pura tertidur.

Setelah ibu sempurna dalam diamnya. Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah pada ibu. Ingin rasanya kembali kumakan kata-kataku. Kalau sudah begitu, aku akan mendekati ibu perlahan-lahan dan menidurkan kepalaku di atas pangkuannya. Supaya bisa kutilik mata ibu dari bawah, apakah ia memang tertidur atau hanya menyembunyikan air mata.

***

Ibu benar, ia tak perlu menjelaskan semuanya. Karena usia lebih sempurna menjelaskannya. Aku tahu, mengapa dulu ibu menyebut ayah sebagai rumah. Ia hanya ingin melukiskan bagaimana sosok seorang ayah�yang tangguh dan selalu melindungi, dari terik, hujan, dan ancaman. Aku tahu, anak delapan tahun takkan mungkin tertimpa beban mengartikan kata �meninggal�.

Ketika usiaku menginjak belasan, dengan sangat perlahan ibu mulai menjelaskan bahwa hidup dan mati adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya akan didatangi kematian�hanya karena mereka pernah hidup. Maka berjubal-jubal pertanyaan berkecambah dalam kepalaku setelah cerita itu.

Dan bagaimana kematian menjemput ayah? Ada badai di paru-parunya yang melupakan bah merah, begitu jawab ibu.

Dan di mana kini ayah dimakamkan? Ada di kampung leluhur ayahmu, jauh sekali dari sini, jauh sekali�

Dan bagaimana kita bisa berada di tempat yang jauh dari ayah? Ayahmu adalah seorang perantau, dan seorang perantau harus kembali ke tanah rahimnya, tak peduli renta atau jasad semata�

Dan mengapa ibu tidak mencari lelaki yang baru? Aku sudah memiliki lelaki yang baru, kau! kenapa aku musti mencari yang lain�

Dan ibu seorang janda, tidakkah itu sangat sulit? Kesulitan yang paling sulit telah kutelan, yaitu ketika ayahmu pergi, dan bahkan jasadnya bagai haram kusambangi�

Sebenarnya aku ingin bertanya yang lebih dari itu: bagaimana ibu bertahan dari dingin tanpa seorang lelaki selama puluhan tahun, namun pertanyaan itu tampaknya tak perlu kuungkapkan. Aku sudah tahu jawabannya, satu kata: tangguh. Ya, ibu hanya tangguh. Sangat tangguh.

***

Usia bagai jalan setapak, dari tempat berangkat akan terus melaju ke tempat tujuan. Di usiaku yang masih labil, rinduku akan sosok ayah kian merajalela. Aku tak ingin mengartikan ini sebagai perjalanan yang timpang, tapi kulihat lukisan keluarga yang terpajang di dinding hatiku begitu suram, tak sempurna. Aku bagai unggas tersesat yang hanya memiliki satu sayap. Tak mampu terbang. Hanya meloncat-loncat.

�Lelaki memang ditakdirkan menjadi ayah, kelak kau pun akan menjadi seorang ayah.� seloroh ibu suatu malam, ketika aku memintanya bercerita kembali tentang ayah. Tentu saja aku terhenyak.

�Menjadi seorang ayah?� balasku gagu, �oh, tentu saja.� Itu yang melesat dari mulutku. Tapi, dalam kepalaku lain. Dalam kepalaku, kubayangkan diriku tumbuh menjulang menjadi sebuah rumah, menjadi seorang ayah. Ah, alangkah rapuhnya jika rumah itu nanti ditempati. Aku tak punya kaki untuk pondasi. Dari mana kuambil pelajaran mejadi sebuah rumah, sedangkan aku tak pernah memiliki rumah.

�Kelak kau akan menikah dan menjadi seorang ayah. Kau akan menjadi rumah untuk keluargamu, untuk istri dan anak-anakmu. Kau akan menjadi pelindung bagi mereka,� kata ibu lagi.

�Kenapa ayah selalu diartikan sebagai sebuah rumah, Bu?� iseng-iseng aku bertanya.

�Karena rumah adalah tempat yang aman untuk berlindung.�

�Apakah itu berarti, jika badai dan puting beliung mempesiang rumah kita, ayah kita akan mati?�

Ibu terdiam. Ia mengusap kepalaku, menyuruhku segera tidur. Sudah malam, katanya. Ia sendiri kembali ke kamarnya dengan langkah terhuyung dan pundak yang berguncang. Maka, setelah ibu kembali ke kamarnya dan malam menjadi sepi, aku akan menggeledah seisi rumah untuk mencari letak wajah ayah. Namun tak pernah kutemukan. Hingga akhirnya aku termangu di ruang tengah. Ruang yang kata ibu, dulu menjadi tempat semedi kesukaan ayah.

Di sana hanya ada sebuah ranjang reot dan kasur tipis yang kapasnya sudah menggumpal. Aku selalu termenung di tempat itu. Membayangkan ayah yang datang tiba-tiba dan memelukku, kemudian mengajakku berbincang panjang. Namun di sana tak pernah ada sesuatu yang lain selain sepi yang menggumpal. Di ranjang itu aku tak pernah bisa memejamkan mata.

***

Entah musabab apa, malam itu, ketika rinduku pada ayah memuncak, malam menjelma menjadi waktu yang sangat panjang, bagai tanpa ujung. Kamar ibu sudah sepi. Barangkali ibu sudah terbang ke alam mimpi menemui ayah.

Dan mataku masih nanar. Aku termangu menekuni malam yang seperti tengah merencanakan sesuatu. Aku tersentak ketika hujan pertama menikam atap rumah bagai hentakkan ujung tombak. Kasar dan keras. Sesekali kilat menjantani malam dengan sinarnya yang hanya bagai kedipan mata. Suara angin begitu nyata bagai tampak wujudnya.

Gemuruh yang gaduh. Gaduh yang gemuruh.

Aku melangkah dari ranjang reot itu. Kuintip ibu yang sudah terbaring pulas di ranjang kamarnya. Kutengok pula malam di luar jendela. Buruk sekali. Hujan dan angin seperti bersatu menuntaskan dendam. Bunga-bunga di halaman rebah bagai tertidur. Pepohonan meliuk-liuk bagai anak kecil yang merajuk. Sepi yang beberapa waktu lalu menggumpal kini mencair oleh tikaman air yang bising dan mengkhawatirkan. Aku kembali ke ranjang reot tempatku bersemedi, hingga kudengar pintu depan berderak bagai didobrak.

�Ayah, kaukah itu?� kata itu meluncur begitu saja. Kutengok ruang depan, pintu sudah menganga. Daun pintu terhempas membentur dinding beberapa kali. Apa aku lupa mengunci pintu? Kudorong daun pintu kuat-kuat melawan angin yang mengibaskan butir-butir air dan membuat kudukku meremang, menahan dingin.

�Ada apa?� suara ibu mengagetkanku.

�Cuma angin.� Jawabku. Lantas ibu menyuruhku cepat-cepat tidur sebelum ia kembali ke kamarnya.

Aku kembali ke ranjang reotku. Di sana kurebahkan tubuh. Mataku tengadah menatap atap yang menghitam. Suara angin dan hujan merajalela. Aku tak bisa memejamkan mata. Yang menderu dalam kepalaku hanya tentang ayah. Di malam-malam galau begini ayah bagai sangat dekat. Dekat sekali. Hingga tiba-tiba telingaku menangkap suara gemuruh yang lebih gaduh dari sebelumnya.

Pada detik itulah atap yang meneduhiku roboh menimpa tubuhku. Seperti adegan dalam sebuah mimpi. Basah mulai mengguyurku. Kurasakan perih dan nyeri di sekujur tubuhku. Di antara reruntuhan, mataku bagai menangkap wujud angin mengibaskan ekornya yang terakhir, menyapu dinding dan kamar ibu. Sempat kudengar teriakkan ibu sebelum perlahan semuanya menjadi sunyi. Sunyi sekali.

Pada detik itu, kurasakan ayah tengah mendekapku. Dan mungkin mendekap ibu. Kami meringkuk tanpa suara dalam dekapan ayah. Dekapan ayah yang sunyi. Sunyi sekali.***

-Malang, Januari 2011

Senin, 22 Agustus 2011

Aku Berlindung dari Godaan Pengarang yang Terkutuk



Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 21/08/11


Ia lebih mirip merpati betina yang sekarat. Tubuh belang tiga. Kepala dan paruhnya hijau tahi kuda. Kedua sayapnya putih salju. Ekornya merah kepiting.


WAJAHNYA YANG KERIPUT tampak letih seolah baru saja terbang dengan sekarung nostalgia di kepala. Ia menghampiri beranda rumah yang kami bangun dari setumpuk kata. Kata-kata itu direkatkan oleh mata pena. Pena pemberian Ibu. Pena Ibu.


Pena dengan tinta airmata, kata Ayah. Tangis Ibu adalah sungai cerita yang menjorok dekat pintu surga, lanjutnya. Jangan tanya mengapa airmatanya berubah menjadi mata air. Yang mampu kuendus adalah, ia bisa mengukur waktu keberadaanya di dunia. Memang ia diserang stroke ketika mendapati buku atas nama pengarang belia yang laris di pasaran adalah draf karangannya yang lama hilang. Namun Ibumu selalu mengatakan: Bukan haus pengakuan dan ketenaran yang menyulutnya pergi dari sastra. Bukan kekecewaan yang menyebabkannya meninggalkan kita. Bukan penyakit yang membuatnya mewarisi pena ajaib dengan aliran tinta tanpa batas. Ibu pergi karena menghormati Malaikat yang berulangkali mengajaknya tamasya ke angkasa.


Benarkah begitu?


Kata Ayah lagi, Malaikat itu menawari Ibu menjadi editor di sebuah penerbitan baru di sana. Katanya, buku-buku terbitannya kelak, concern mengulas etika berkarya. Tahukah kau, karena shock dengan semua kegilaan itu, Ayahmu ini mengidap penyakit jantung hingga sekarang!


Ah, bagiku, Ayah tengah membual. Aku percaya, Ibu pergi karena karya-karya Ayah, karena cerita dan sajak yang Ayah karang di meja belakang. Meja yang kini diberinama Meja Kenangan (Ayah sok melankolik dalam hal ini). Sungguh, bila hendak kuturutkan mimpi-mimpi yang bertandang ketika aku tidur di atas pukul dua malam, Ayahlah yang melenyapkan Ibu! Ayah selalu menyeret Ibu ke dalam cerita-ceritanya. Ayah bahkan tega-teganya mengikat Ibu dalam puisi-puisinya. Ia membuat frasa dan ungkapan untuk kemudian dilecutkan ke setiap bagian tubuh Ibu. Tanpa rasa bersalah, Ayah selalu menyiksa Ibu sebelum membangkitkannya lagi, menyiksanya lagi.... Begitu seterusnya. Ayah melakukan semua dengan begitu indah, tampak lembut, namun sesungguhnya menyakitkan!


Ibu tidak mati, Ayah! Ujarku suatu waktu. Apalagi hanya karenamu, lanjutku ketus. Ibu pernah bilang, pantang bagi seorang pengarang mati sebelum ajal tiba!


SUNGGUH MENYEBALKAN!


Ayah, dengan hati yang (sok) suci, menawarkan percakapan. Perempuan itu meladeninya seraya sesekali melirikku. Tampaknya ia mengenalku. Tapi aku pikir ia tahu kalau aku tak terlalu menyukainya, tak menyukai kedekatan mereka yang tiba-tiba. (Catat: aku bukan cemburu! Aku hanya berpikir, dengan semua kesalahannya, Ayah belum layak bergembira, titik!)


Kau pusing? Tanya Ayah.


Perempuan itu mengangguk.


Ah, lagak mereka, seolah-olah dua orang Jerman yang baru bertemu setelah Tembok Berlin runtuh!


Kau harus meringankan kepalamu. Aku bisa meminta anakku mengambilkan obat untukmu. Ayah melirikku.


Ah, bodohnya aku. Seperti kucing yang dijanjikan ikan asin, aku menuruti kemauan Ayah. Aku menuju almari obat di ruang tengah. Tak lama, aku sudah kembali dengan dua tablet paracetamol dan segelas air putih. Kusodorkan kepada perempuan itu.


Apa ini? Tanyanya seraya menepis tanganku. Aku butuh obat, bukan permen buatan dokter!
Dadaku megap-megap. Aku emosi. Perempuan gila, hardikku dalam hati.


Kini, giliran Ayah yang masuk ke dalam rumah. Mungkin Ayah punya obat yang lebih mujarab, pikirku. Ya, obat sakit kepala untuk merpati betina ini!


Ayah menyodorkan beberapa gulungan kertas kepada perempuan itu.


Aku melukis lipatan daging di dahi hingga mirip liukan ombak. Apa yang Ayah berikan? Resep obatkah? Sejak kapan Ayah menjadi mantri? Ah, aku tambah bingung. Ups! Tunggu dulu, air muka perempuan itu melengkapi keherananku. Ya, ia tiba-tiba semringah, seolah Ayah baru saja memberinya daftar warisan.


Perempuan itu membuka gulungan kertas itu. Ia membacanya pelan sekali, khusyuk sekali. Kadang ia tersenyum, kadang ia mengernyitkan dahi, kadang ia tertawa kecil, kadang ia memandangi Ayah dengan tatapan yang sarat nafsu, kadang ia mendongak ke langit bagai mengagumi alam semesta....


Ups! Ya Tuhan, bagaimana aku bisa alpa seperti ini! Aku bermaksud merampas kertas-kertas itu. Tapi telat, perempuan itu sudah memakannya. Aku menoleh ke arah Ayah. Ia tersenyum miring di sana.


Pengarang Setan! Aku meneriaki Ayah.


Ayah terkekeh.


Muntahkan! Teriakku kepada perempuan itu.


Ayah tertawa.


Perempuan itu jatuh, ambruk.


Aku gegas mendekatinya.


Tawa Ayah makin keras.


O o, kepala perempuan itu tiba-tiba membuka sendiri seperti ruas kulit durian yang merekah karena terlalu masak.


Ayah menyeretku menjauh dari perempuan itu. Lalu mendorong dadaku dengan kaki kanannya. Aku terjerengkang satu setengah depa di belakangnya.


Ayah menarik rambut perempuan itu�rambut hijau tua. Terbukalah kepala perempuan itu. Dengan serampangan Ayah mengambil isinya seperti menarik kain-kain perca dari tubuh boneka yang robek.


Aku tertegun. Kenapa Ayah membunuh perempuan yang baru saja dikenalnya? Mengapa Ayah menginginkan kenangan yang bersigumpal dalam kepalanya? Ah, Ayah memang kejam! Tega membunuh seseorang dengan puisinya (atau cerita karangannya) dengan alasan yang barangkali ia sendiri tak mengetahuinya.


Ayah memutar kepalanya, memelototiku, seolah ia dapat membaca pikiranku. Kau masih terlalu hijau! Ia mendesis. Kau tak tahu bahwa masa lalu adalah bahan baku terbaik untuk membuat cerita dan menghidupkan puisi! Dasar dungu!


Tatapanku hampa. Aku seolah sampah. Aku kalah! Tunggu pembalasanku! Batinku geram. Gigiku bergemerutupan.


Ayah mendengus sebelum seolah menghiburku: Sebentar lagi, perempuan itu juga akan bangkit. Ia hanya pingsan. Ayah terkekeh lagi seraya mengalihkan pandangan ke perempuan yang terkulai itu. Di sana, kepala perempuan itu sudah kembali utuh!


Aku menjauhi beranda dengan langkah mundur yang tertatih-tatih. Lalu masuk ke rumah tergesa-gesa dengan perasaan tak menentu hingga aku menabrak Meja Kenangan. Aku tersungkur. Salah satu sudutnya yang tajam seolah menusuk kepala. Kuraba pelipisku. Kudapati bercak darah di telapak tanganku. Untung lukaku tidak terlalu serius. Aha! Entah bagaimana aku mengabaikan kepalaku yang masih sedikit bergasing. Seolah baru saja disembuhkan dari amnesia, aku tiba-tiba menjadi sangat bergairah! Aku sigap meraih kursi. Abrakadabra! Bagaimana aku baru menyadarinya sekarang! Ya ya ya, aku juga bisa! Aku sudah banyak belajar dari pengarang busuk itu! Aku tak butuh KBBI atau mempelajari EyD! Aku sudah paham semuanya. Ah, bodohnya aku selama ini!


Kuambil lembar-lembar karangan Ayah dari laci. Cerpen, novelet, draf novel, hingga tumpukan sajak yang tak kumengerti. Tidak! Aku tidak membacanya secara saksama, apalagi memakannya serta merta! Aku tak ingin menjadi korban berikutnya. Aku ambil sebuah cerpen. kucangking Pena Ibu yang tergeletak dekat tumpukan buku. Aku salin bulat-bulat karangan Ayah. Kuubah beberapa penggalan dialog. Kuganti sudut pandang narasi. Kuutak-atik beberapa bagian deskripsi. Pada beberapa kalimat yang kupikir menarik, aku bermain diksi; aku menggubah ungkapan-ungkapan�yang aku yakin takkan ditemui dalam karya-karya Ayah! Dan khusus paragraf penutup, kupiuhkan! Kujungkirbalikkan cerita!


Mati kau! Kututup Pena Ibu. Kugegas melangkah keluar!


MEREKA BERDIRI BERSEBERANGAN dalam rentang dua langkah kaki orang dewasa. Ayah menatap perempuan itu dengan saksama. Oh, kerudung perempuan itu. Ya, kerudungnya yang hijau tua, mengingatkanku kepada seseorang. Baju kurungnya, baju kurungnya yang longgar, baju kurungnya yang berwarna putih, juga memaksaku terbang ke masa lalu. O o, roknya yang landung itu! Ah, bukan itu yang membuatku makin terkesiap. Jingga. Jingga tua! Ya, warna rok itu. Bukan! Tapi juga kerudung dan baju kurungnya! Hijau, putih, jingga! Warna-warna itu adalah warna favorit Ibu.


Aku baru mengerti. Mereka bukan seolah-seolah saling mengenal. Mereka memang sepasang kekasih yang berpisah karena alibi yang tak kuasa diajak kompromi. Ibu seorang pengarang yang idealis. Ayah adalah pengarang yang pragmatis! Dan kini, mereka kembali bertemu.
Memang, walau aku bahagia mendapati apa yang kuyakini selama ini ternyata tak meleset (Semua tentang waktu. Ibu akan pergi dan kembali bila waktunya tiba!), aku tetap sulit mengerti bagaimana semua ini terjadi. Namun begitu, aku adalah saksi mata yang berdiri di antara pengarang keparat dan seekor merpati bersayap patah. Ketika tiba-tiba mereka berpelukan, pakaian mereka bagai dicerabut paksa oleh angin dari angkasa, terburai menjadi perca di mana-mana, terbang berhamburan, berserak di awang-awang. Aku tahu, itu namanya serpihan kenangan.


Benar, kata Ayah.


Replika kenangan! Sergah Ibu sambil mengepakkan sebelah sayapnya seolah mengempaskan sesuatu dari tangannya.


Ya, ya ya, ehmmm ... semacam itu, kata Ayah terbata-bata, seolah ia tengah meralat ucapannya yang pertama. Ia tersenyum kaku kepada Ibu sebelum ia tiba-tiba berjongkok, berjalan merangkak, memungut perca-perca yang berserakan di sekitar kami. Ibu memandanginya dengan sebelah mata yang dipicingkan.


Dasar! Pengarang serakah! Hardik Ibu.


Aku masih terpana menyaksikan Ayah mengumpulkan replika-replika kenangan itu ketika tiba-tiba Ibu menyerobot kertas di tanganku. Ia menarik leher baju Ayah hingga laki-laki itu berbalik badan.


Ini! Ibu melemparkan karanganku ke arah Ayah. Kau harus bangga kepadanya! Ujar Ibu sambil menunjuk ke arahku.


Ayah melirikku sekilas sebelum membacanya. Tubuhku tiba-tiba menggigil. Tubuhku tiba-tiba bertranspirasi. Degup jantungku tiba-tiba ngebut.


Ayah terjatuh!


Aku terkesiap.


Ibu buru-buru menghampiriku.


Apakah kau juga mewarisi tabiat buruknya? Tanya Ibu sembari mengguncang bahuku.
Tidak, Bu! Aku tidak meracuni Ayah dengan karanganku sebagaimana ia sering menyeret dan menyiksamu dalam karya-karyanya!


Lalu, sehebat apa engkau kini, hingga karanganmu dapat membuat penyakit jantungnya kumat?!


Aku ... hanya meminjam karyanya ... untuk kubuat ... dalam versiku, ujarku hati-hati sebelum meneguk liur yang pahit di kerongkongan.


Kau plagiat?


Bukan, aku mengubah sudut pandangnya!


Kau plagiat! Tak beda dengan Ayahmu yang melakukannya terhadap karya-karyaku!


Ayah juga plagiat?


Tak usah terkejut. Aku kecewa kepadamu!


Ibu menjauh. Ia membuang muka. Sepertinya ia ingin terbang. Tapi ia lupa kalau sayapnya patah, dan kepalanya kerontang karena nostalgia yang sudah habis dikeruk Ayah. (*)


Lubuklinggau, 22 Februari s.d. 20 Maret 2011

Kapal Kita Tidak Karam

Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Suara Pembaruan, Minggu, 21/08/11



PERNIKAHANLAH yang mengikat kau dan aku menjadi sepasang kekasih.



Kita seolah-olah membangun kapal. Kau tukangnya, dan aku penyokongnya. Ya, aku yang menyiapkan santapan ketika waktu makan datang, aku yang menyuguhkan segelas es sirup bila kau mulai dahaga, aku akan menghidangkan kudapan bila kau rehat beberapa jenak, dan tentunya aku akan siap memberikan pendapat ketika kau bertanya seperti apa sebaiknya geladak, buritan, atau ruang nahkoda ....


Kata orang, surga adalah pulau terindah yang Tuhan sembunyikan, selorohmu suatu waktu. Kau tahu �kan, Kekasihku, kalau banyak sekali yang bercita-cita ke sana. Paling tidak, kita sudah memiliki kendaraan sendiri kalau pelayaran sudah dibuka. Syukur-syukur bisa mengajak keluarga dan sanak kerabat, lanjutmu seraya tersenyum teduh. Ah, mendengarkanmu adalah menyaksikan mutumanikam berhamburan dari mulutmu, wahai Suamiku.



Demi waktu yang menerbitkan dan menenggelamkan matahari, kita membangun kehidupan yang amanah. Kita menjalaninya nyaris tanpa memberikan kesempatan bagi pertikaian besar untuk menginterupsinya. Tentu, Tuhan akan bersama orang-orang yang saleh, katamu suatu waktu ketika kuluapkan kegembiraan mendampingimu membuat kapal. Kaukatakan, kita harus segera menguji ketahanan kapal. Aku sepakat. Siapa tahu kita akan tersesat di Taman Firdaus, kau melepas tawa kecil.



Benar saja! Kapal yang kita layari pelan-pelan menambatkan kita pada sebuah kenyataan yang indah; kita saling mencintai. Saling mencintai demi surga, tegasku. Bagaimana kalau surga dan neraka itu ternyata tak ada, tanyamu. Aku memicingkan sebelah mata. Baiklah, kataku seraya menaikkan kedua bahu seolah-olah menyerah sebelum buru-buru mengimbuhnya: Ya ya ya, kita saling mencintai karena-Nya. Bagaimana? Setuju, Suamiku? Kedua ceruk di bawah alisku memberi ruang bagi bola di dalamnya untuk menatapmu lekat-lekat. Kau tertawa. Kau memelukku, dan berbisik; kau memang istri yang hebat! Dalam hati aku berteriak menang. Apa hadiah buatku, aku merengek di balik bahumu. Bulan depan kita akan merayakan satu tahun pernikahan, bisikmu. Kau akan memberiku apa, desakku. Tiket, pungkasmu. Tiket? Kedua alisku nyaris menyatu oleh kerutan daging di atasnya. Tiket buat kita berdua, jawabmu dingin. Ke mana? Tanganku memukul-mukul manja bahumu seolah meminta kau segera melepaskan penasaran yang melilitku. Tanah Suci, Kekasihku, ujarmu lembut seraya melepas pelukan. Tatapanmu seolah menjadikanku bidadari paling bahagia hari itu. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Aku terlampau gembira. Kita kembali berpelukan, lebih erat.



***



KITA adalah sarjana yang menetas di kawah candradimuka yang berbeda. Kita sama-sama berdikari di kampung halaman. Aku mengajar di sebuah pesantren. Kau menyewa ruko dua pintu di dekat jalan lintas untuk usaha toko buku. Pasti sejak dulu kau memang bercita-cita menjadi pengusaha, pikirku. Aku lebih senang mengenalmu sebagai calon pengusaha daripada ustaz. Bagiku setiap lelaki seharusnya menjadi ustaz sebagaimana setiap wanita seharusnya menjadi ustazah. Ah, sebenarnya tanpa harus diawali pengetahuan tentang pekerjaan masing-masing, kita sudah saling kenal sebelumnya.



Kita selalu satu kelas ketika SMA, tapi kita tak pernah akrab. Aku adalah gadis berkerudung seperti kebanyakan. Aku kalah populer dibanding kamu. Wajahku tak terlalu cantik (walaupun teman-teman banyak bilang aku manis), sementara kau sangat tampan. Tinggiku 160 cm, sementara kau 12 cm di atasku. Aku tidak suka olahraga, sementara kau cakap bermain basket. Perihal akademis, aku memang sedikit unggul darimu (Dan itu tidak cukup membuatku diperhatikan kawan-kawan seantero sekolah). Ya, rangkingku selalu dalam urut belasan, sementara kau selalu masuk zona merah. Beberapa waktu lalu, kau bilang, capaian terbaikmu adalah rangking 30, sebelum kaukatakan waktu itu kelas hanya dihuni 31 siswa. Sebenarnya banyak siswa ber-IQ jongkok yang berada dalam kelompok rangking mengenaskan, namun mereka tidak sepertimu: Tukang bolos yang kerap mengajak�atau memaksa�serombongan siswa untuk melompati pagar belakang sekolah; tukang onar yang suka menyulut kegaduhan bila sebentar saja guru meninggalkan kelas; karena tubuhmu yang ideal kau kerap menjadi�lebih tepatnya ditunjuk sebagai�komandan upacara (ini membuatmu selalu menjadi anak baik setiap Senin); dan tentunya karena kau adalah atlet basket kebanggaan sekolah! Dengan semua kenyataan itu, kawan-kawan satu angkatan, atau bahkan beberapa angkatan di bawah atau di atas kita, pasti menganggukkan kepala ketika ditanya apakah mereka mengenalmu.



Setamat SMA, aku sangat terkejut ketika mendengar kabar: Kau melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah tinggi agama Islam di kota provinsi. Ia memang harus lebih banyak mendapatkan pendidikan agama biar lekas berubah, ujar ibumu enam tahun lalu�waktu itu aku sedang di kampung karena liburan. Aku paham maksud kata �berubah� dalam kalimat ibumu. Saat itu, kupikir, kau takkan bertahan lama. Dan benar! Kau hanya bertahan satu tahun. Namun, aku terperangah ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.



Kau tidak dikeluarkan. Kaulah yang minta dipindahkan. Kata ayahmu, kau sangat aktif di beberapa organisasi kampus. Bahkan memasuki tahun kedua kuliah, kau didukung kawan-kawan untuk menjadi ketua sebuah organisasi kerohanian. Namun, apa mau dikata, kau seolah tak ingin setengah-setengah tercebur ke dunia barumu, ujar ibumu seolah menyesali keputusanmu. Kau memilih Kuala Lumpur untuk menguyupi dirimu dengan ilmu. Kami benar-benar terkesiap, kata ayahmu dengan nada suara ditinggikan. Entah, karena kau anak tunggal, entah karena orangtuamu juragan karet yang banyak uang, atau karena kau mampu meyakinkan mereka..., kau pun melenggang ke sana. Kau mengambil jurusan Ekonomi Syariah. Satu setengah tahun yang lalu kau menyelesaikan kuliah dengan predikat memuaskan.



Sebagai sarjana lulusan luar negeri, kedatanganmu ke tanah kelahiran, menuai pujian sekaligus cibiran. Ada yang menganggapmu sebagai pemuda yang peduli kampung halaman. Tak sedikit pula yang menggelarimu sarjana gagal; tamat kuliah bukannya bekerja di kota besar atau di luar negeri, tapi justru balik kandang; tamat kuliah bukannya menjadi ustaz kondang yang wara-wiri di TV, tapi justru membuka toko buku di kampung... dan masih banyak lagi celotehan yang kauanggap tak penting, tak berisi, tak layak dirisaukan. Termasuk saran orangtuamu untuk bekerja di sebuah bank syariah kautolak secara halus. Kaunyatakan bahwa tak membutuhkan waktu lama untuk menghadiahi mereka sekarung kebanggaan.



Kurang dari enam bulan, kau membuktikan tekadmu! Kau menjadikan cibiran sebagai bumerang yang membuat muka para pencibir merah masai. Kau menjadi wirausahawan yang naik daun. Kau sudah membuka toko buku baru di kota kabupaten. Sementara itu, pengajian dalam lingkaran terbatas yang kaubina, telah diikuti lebih dari 20 murid. Kau juga kerap diundang ke mana-mana (bahkan juga keluar kota) untuk memberikan ceramah. Aku benar-benar takjub. Di pengajianku, ketika menunggu guru datang (atau setelah majelis ditutup), kami kerap membincangkanmu.



***



O, benarkah Tuhan tengah menurunkan mukjizat-Nya?!



Petang itu, bakda melafalkan doa penutup majelis, guru pengajianku mengajak bicara, berdua saja. Ia menyerahkan tiga lembar kertas kepadaku. Aku menerimanya namun tak segera membacanya. Ia memberi isyarat agar aku segera membaca kertas-kertas yang tengah kupegang. Mataku membelalak sempurna, mulutku menganga, dan hanya puji-pujian kepada-Nya yang bisa kulafalkan saat membaca kertas-kertas itu. Kupeluk ia serta-merta. Aku menangis tersedu-sedan. Bukan! Bukan karenaproposal, demikian istilah yang populer dalam lingkup pengajian untuk menyebut lamaran secara tertulis yang ditujukan kepada seorang perempuan lewat guru pengajiannya; Bukan karena di usia 25 akhirnya aku dipinang; bukan karena lelaki itu tak perlu diragukan lagi kesuksesannya; tapi... karena aku sangat mengagumi kesalehanmu!



***



KAU benar-benar imam yang baik. Darimu aku beroleh banyak ilmu. Kurang dari setahun kebersamaan kita, aku sudah membina pengajian. Aku sudah memiliki binaan walaupun tak sebanyak binaanmu. Aku sudah diundang ceramah ke mana-mana walaupun jadwalku tak sepadat jadwalmu. Kita sudah memiliki jamaah walaupun tak banyak. Pengajian yang kita hadiri, tak pernah sepi. Bahkan seorang pengusaha ibukota tertarik mengontrakmu untuk sebuah program Ramadhan di TV swasta miliknya. Kau menolaknya dengan alasan menjaga kemurnian niat. Ah, harta dan ketenaran tak membuatmu silau, Kekasihku.



Dua minggu lagi, kita akan menunaikan ibadah haji. Kita sudah menyiapkan doa khusus. Ya, nyaris satu tahun menikah, belum ada tanda-tanda kita akan dikaruniai keturunan. Rasanya, kapal kita terlalu sepi bila tidak menyertakan buah hati di dalamnya, selorohmu beberapa hari yang lalu.



Namun malam itu, di acara syukuran berangkat haji, kapal yang tengah kita layari menabrak gunung karang. Kita terjerengkang di samudera ganas! Mungkinkah ini akibat kebahagiaan yang begitu sempurna kita rasai, Suamiku? Benarkah kata orang-orang; jangan terlampau gembira karena itu alamatnya akan menderita! Apa salah kita dengan semua nikmat yang tak pernah alpa kita syukuri ini? Lalu, mengapa serombongan orang berpakaian preman itu semaunya saja menuduhmu? Mengapa mereka harus menyeretmu dari ruang tengah, melewati para tamu yang serta-merta berdiri. Suasana sontak gaduh. Yaasin yang baru akan dilagukan pun, serta-merta mereka tutup kembali.... Mereka tak kuasa menolongmu karena dari empat mobil bak terbuka yang parkir di dekat pagar rumah kita, dari seragam yang dikenakan puluhan orang yang berada di dalamnya, mereka tahu kalau polisi tengah meringkusmu.



***



SEPULUH tahun lalu, pernikahan telah mendaulat kita menjadi sepasang kekasih.



Walaupun kau telah dibebaskan setelah serangkaian sidang�yang berlarat-larat dan membuat kita serta keluarga menderita karena malu�tak mampu membuktikan kau bersalah; walaupun mereka (termasuk para murid pengajian dan jamaah kita dulu) dengan lancangnya menggelari kita �munafik�, �sok alim�, atau umpatan dan hinaan yang lebih kasar..., kita selalu saling menguatkan.



Kekasihku, bisikmu ketika aku menghambur di pelukanmu di hari pertama kau dibebaskan, ... kalaupun tidak di dunia, di akhirat nanti, mereka akan mengerti, lanjutmu. Tangisku pecah. Kau mengelus jilbabku seraya melanjutkan kata-katamu: Bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang rencana penembakan presiden, bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang perampokan bank di beberapa kota, bahwa kekasihmu ini tidak tahu menahu tentang bom yang diselipkan ke dalam buku.... (*)



Ulaksurung, 25 Maret s.d. 15 April 2011

Rumah yang Menggigil

Cerpen Mashdar Zainal

Dimuat di Suara Merdeka, 21 Agustus 2011

RUMAH itu menggigil. Perempuan tua itu tinggal dan tersesat di dalamnya. Jika malam tiba, rumah itu tampak seperti gadis kecil yang terkurung dalam kamar mandi, dengan keran air yang terus menyala, mengguyur kepala. Konon, dalam rumah itu, musim hujan memang tak pernah berhenti. Siutan angin menyambar-nyambar. Petir dan kilat bersahut-sahutan. Jika tengah malam tiba, suara-suara gemuruh dari dalam rumah itu kian menjadi. Konon lagi, hujan itu bermula pada sebuah malam celaka. Malam selepas pemakaman suaminya.

***

DIA hartaku satu-satunya, bagaimana aku tidak gila kehilangannya. Selepas anak semata wayang kami pergi ke luar negeri, mencari kerja katanya, dan puluhan tahun tidak kembali, aku tak punya apa-apa lagi kecuali dia. Barangkali dia tampak menyusahkan dan tidak istimewa sama sekali. Namun, dialah bejana emas yang selama ini menampung curah hujan yang terus menderas dalam kepalaku, mengguyur mataku, menguyupkan hatiku.

Semenjak divonis stroke, dia telah menjelma bayi. Setiap hari hanya terbaring di ranjang tidur yang kasurnya kian hari kian lepek dan menggumpal. Makan harus aku yang menyuapinya. Mandi harus aku yang memandikannya. Bahkan, buang air pun harus aku yang menimpal dan mencebokinya. Barangkali memang di situ mukimnya cinta. Tak ada keluh. Tak ada kesah. Semua kujalani dengan debaran yang masih sama. Debaran ketika pertama kali bertemu dengannya. Debaran ketika ia mendatangi abak-emakku untuk memintaku. Debaran ketika dia mulai mengenakanku menjadi pakaiannya. Semua masih sama. Hingga detik ini. Detik ketika dia terlihat sangat bodoh dan tidak berdaya.

***

SUAMINYA meninggal tepat ketika azan subuh berhenti. Pagi hari rumahnya ramai oleh handai tolan yang melawat dan mengikrarkan bela sungkawa. Menjelang siang, jenazah dimandikan dan dikafani, menjelang sore pemakaman baru usai. Petang merembang. Satu per satu tetangga dan handai tolan berpamitan dan pulang ke rumah masing-masing. Petang itu mereka sempat menyaksikan mendung hitam yang sangat tebal, bergulung-gulung di pelupuk mata perempuan itu. Mendung hitam yang mereka yakini akan menjadi pertanda musim hujan yang panjang.

Tepat selepas isya para tetangga dikagetkan oleh raungan panjang dari dalam rumah itu. Raungan panjang yang sesekali diikuti geletar seperti suara petir. Juga desah napas yang terdengar seperti angin yang marah. Dari celah-celah pintu para tetangga juga sempat menilik lampu neon yang nyala-mati, yang mereka yakini sebagai kilat yang berkedip-kedip. Beberapa saat kemudian, orang-orang mulai mendengar titik gerimis yang bergemeletak menikam lantai, meja, dan kursi. Semakin lama titik gerimis itu bergemericik dan menderas. Beberapa orang yang penasaran, berjingkat mendekati rumah itu. Dan dari balik pintu yang terkunci, mereka bersumpah, bahwa mereka mendengar gemericik air yang sangat nyata. Seperti ricik hujan yang sangat deras. Sejak saat itu, rumah limas itu tampak muram. Pintunya tak pernah lagi terbuka.

***

AKU percaya, bahwa kehilangan adalah ibu dari semua duka. Bahkan aku tak bisa melukiskan bagaimana perasaanku ketika dia benar-benar pergi dan tak akan pernah kembali. Sungguh, ditinggalkan selalu lebih miris daripada meninggalkan.

Malam itu, dia mengeluhkan udara yang sangat dingin. Dia mengatakan bahwa tulang-tulangnya seperti membeku dan diremukkan. Jahe hangat kuseduhkan, berlapis-lapis selimut kubalutkan. Dia masih saja menggigil. Matanya mendelik. Tubuhnya gemetar. Bibirnya yang kering mengelupas lapis demi lapis. Semalam suntuk aku mencari sesuatu yang bisa menghangatkannya. Di sebelahnya, kubuatkan perapian kecil dari kayu-kayu yang kucabut satu persatu dari papan dinding. Dia masih saja menggigil.

Kutanyakan padanya, apa yang sekarang dia rasakan? Dia tak menjawab. Tubuhnya masih gemetaran. Tiba-tiba aku sangat takut. Sangat khawatir. Maka, aku tak perlu melakukan yang lain. Kehangatan yang masih tersisa di tubuhku pun kuberikan. Aku memeluknya erat-erat. Seolah dia akan hilang. Malam terus merangkak. Sangat pelan. Sangat pekat. Sangat dingin.

Di akhir sepertiga malam, suara tartil memenuhi udara di luar sana. Dia masih menggigil. Diikuti suara tarhim yang melengking seperti tangisan yang sangat syahdu. Ia masih gemetar. Azan subuh pun memulai kalimat pertamanya. Ketika itu gemetar badanya sedikit sudah berkurang. Namun dari matanya, air terus mengucur seperti hujan. Tepat ketika azan subuh berhenti. Dia tidak menggigil lagi. Tidak gemetar. Tidak bergerak. Tubuhnya sangat dingin. Sedingin besi terendam hujan.

Aku turut kaku. Menatap lelehan yang masih tampak hangat di matanya. Menatap kedua matanya yang mendelik dan penuh kabut. Menatap mulutnya yang menganga, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak pernah sampai. Kurasakan, mendung hitam mulai berarak menutupi penglihatanku. Dari subuh hingga magrib. Menjelang isya mendung hitam itu kian merajalela, membutakan mataku. Aku tak bisa melihat kecuali dunia yang remang, dingin, dan sangat tidak ramah. Detik itu desah napasku gusar. Aku meraung panjang. Sekeras-kerasnya. Setelah itu, hujan mulai turun berdebam dalam kepalaku. Mengguyur hatiku. Mengguyur mataku. Mengguyur rumahku.

***

SETIAP kali menatap rumah itu, kami selalu merasa iba. Membayangkan perempuan tua itu duduk sendiri di sudut kamar. Memeluk lutut. Menggigil kedinginan. Perempuan tua itu memang terlampau larut dalam kesedihan. Tak pelak sesuatu dalam kepalanya rusak, terendam kesedihan yang sangat hitam dan kental. Kami tak pernah bisa menyelami kesedihan yang berkedung dalam kepalanya itu. Bagaimana mungkin kami bisa. Ia sendiri tak mau membagi kesedihan itu pada kami. Ia tak pernah mengizinkan kami masuk ke dalam rumahnya, ke dalam dunianya, lubuk kesedihannya.

Semenjak malam itu� malam ketika hujan pertama turun dalam rumah itu� pada malam selepas pemakaman suaminya. Perempuan tua itu memang tak pernah lagi keluar rumah, kecuali membuang sampah. Kami tak pernah tahu apa yang kemudian ia makan. Tubuhnya kian susut. Ia telah menyerahkan dirinya dalam kesedihan yang paripurna, hingga ia bagai tak punya waktu untuk memikirkan dirinya. Musabab itulah, sebagai tetangga, kami merasa perlu untuk pura-pura bertamu ke rumahnya, entah untuk mengantarkan sedikit makanan, entah bertanya keadaan. Kami rasa, sebagai tetangga, kami pantas melakukan itu. Ketika itu, kami berharap, ia mau membuka diri dan membagikan sedikit kesedihannya pada kami. Namun sungguh di luar dugaan, perempuan tua itu malah melempar kami dengan sandal sambil berteriak-teriak mengusir kami pergi.

Perempuan tua itu telah sempurna menjadi hantu. Rambutnya yang pecah memutih tak lagi ia gelung� ia urai seperti rambut nenek Lampir. Pakaian yang melekat di tubuhnya adalah pakaian terakhir yang ia kenakan, yang kami lihat ketika jenazah suaminya dikebumikan. Sangat kumal dan bau. Kami tahu, kami sudah tak bisa berbuat banyak. Perempuan tua itu telah menyerahkan dirinya pada kesedihan yang tak beranah tepi. Hingga ia tersesat di sana dan tak pernah bisa kembali.

***

HUJAN terus mengamuk dalam kepalaku. Tak kenal jeda. Tak kenal reda. Berkali-kali airnya merembes melalui sudut mataku. Terkadang meleleh dari lubang hidungku. Aku menggigil karena hujan itu. Hujan kelam yang terus menerus mengguyurku. Mengguyur hatiku. Mengguyur mataku. Mengguyur rumahku. Aku sendiri tak tahu bagaimana cara menghentikan hujan itu. Hujan itu hanya akan sejenak reda bilamana aku tertidur. Bilamana dunia kasat mata lenyap dari pandanganku. Dan digantikan mimpi-mimpi yang hangat dan beraneka rasa.

Tubuhku gemetar. Aku menggigil. Aku takkan mampu bertahan jika hujan ini terus mengamukku, mengguyurku sedemikian rupa. Tanpa jeda. Tanpa reda. Aku harus segera tidur. Tidur. Supaya hujan ini berhenti. Tidak membasahi hatiku. Tidak membecekkan mataku. Tidak menguyupkan rumahku. Ya, aku harus segera tidur. Tidur yang panjang. Meski dengan cara paling mengerikan.

***

PADA sebuah malam, kami terheran-heran ketika mendapati rumah itu tiba-tiba sunyi. Tidak ada raungan panjang seperti geletar suara petir. Tidak ada kilat yang berkedip-kedip. Tidak ada pula suara gemericik yang menikam lantai, meja, dan kursi. Kata para tukang ronda, suara gemuruh itu telah reda sejak malam lalu.

Maka, seperti kali pertama kami mengintip bagaimana hujan itu bermula, kami pun ingin tahu bagimana hujan itu reda. Kami berjingkat mendekati rumah itu. Rumah yang tidak lagi menggigil namun tampak lebih muram dan menyedihkan. Rumah itu hening. Sangat hening. Seperti penyusup, kami mengintai dari luar pintu yang bergeming dan kusam. Kami mencari celah lubang pintu untuk mengetahui rahasia rumah itu.

Kami mulai mengintip satu persatu. Dan kami tak mendapati apa-apa selain keheningan. Keheningan yang menyelimuti seonggok tubuh kaku yang berayun-ayun di balik pintu. Di antara mata yang mendelik dan lidah yang menjulur, kami masih melihat sisa-sisa hujan itu. Dan ketika kami menatap mata itu, tiba-tiba mendung hitam bergulung-gulung mendatangi kepala kami. (*)

.

Rabu, 17 Agustus 2011

Resep Airmata

Cerpen Noor H. Dee

Dimuat di Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta, Lingkar Pena Publishing House, 2008



Kami bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran continental yang brengsek. Kami sebut restoran ini brengsek, sebab kami diwajibkan memasak sambil menangis. Bayangkan! Kami mengaduk kuah buntut sambil menangis. Kami memasak nasi goreng, merebus aneka pasta, membuat adonan pizza, memotong daging ayam, mengupas kentang, semua itu kami lakukan sambil menangis. Begitulah. Setiap hari selalu ada saja airmata yang meluncur dari sepasang mata kami; mengalir membasahi pipi, dagu, dan menetes ke dalam setiap masakan kami.



Restoran tempat kami mengais rejeki ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Pagi, siang, sore, malam, tamu-tamu selalu berdatangan. Mobil-mobil canggih berjajar rapih memenuhi halaman parkir. Setiap hari seluruh table tidak pernah kosong. Setiap tamu yang baru datang diwajibkan untuk mengisi buku waitinglist terlebih dahulu. Kalau tidak, para tamu yang baru datang itu tidak akan pernah mendapatkan tempat. Bisa dibayangkan betapa ramainya restoran ini dan betapa sibuknya para Waiter dan waitress yang bekerja di sini. Mereka, para waiter dan waitress itu, dituntut untuk harus selalu bergerak lincah dari satu meja ke meja yang lain. Harus selalu gesit seperti pelari estafet setiap kali mengantarkan minuman, makanan, dan lain sebagainya seperti tusuk gigi, keju parmesan, asbak, tisu, garam, merica, garpu, sendok, saus sambal botolan, dan bon tagihan kepada setiap pengunjung yang memesan. Harus selalu tersenyum seperti bintang iklan pasta gigi setiap kali bertatap muka dengan para tamu restoran. Tidak peduli betapa hati mereka saat itu sedang sedih, gelisah, marah, terluka�pokoknya harus tersenyum. Titik.



Begitulah. Restoran ini memang tidak pernah sepi dari pengunjung. Tentu, ya, tentu ini semua berkat airmata yang berasal dari sepasang mata kami, yang selalu menetes ke dalam setiap masakan kami.



*



Kami memasak sambil menangis. kami menangis sambil memasak. Kami memasak dengan menggunakan resep airmata.



�Jadi, kami harus memasak sambil menangis?� tanya salah seorang rekan kami kepada si pemilik restoran ini, ketika untuk pertamakalinya ia menyuruh kami memasak sambil menangis.



�Ya. Kalian harus memasak sambil menangis.�

�Kalau boleh tahu, alasannya apa?�



�Tentu saja agar restoran ini laris. Kalian �kan tahu sendiri, restoran ini selalu sepi. Kalau sepi terus, bisa-bisa restoran ini bangkrut. Dan kalau restoran ini bangkrut, kalian sendiri yang akan rugi. Bukan begitu?�



�Tetapi mengapa harus menangis, tuan? Bukankah laris tidaknya sebuah restoran itu dinilai dari cara pelayanan dan rasa masakannya?�



�Ah. Selama ini saya lihat pelayanan di restoran ini sudah cukup bagus. Para pelayan di sini selalu bersikap sopan dan ramah kepada setiap tamu yang datang. Dan untuk soal rasa, saya yakin semua rasa makanan di sini tidak kalah dengan restoran-restoran yang lain. Tetapi kenyataanya, restoran ini selalu sepi. Omset restoran ini tidak pernah mencapai target. Itu sebabnya, mulai sekarang kalian harus memasak sambil menangis. Teteskan airmata kalian ke dalam setiap masakan yang kalian olah. Mulai sekarang semua masakan di restoran ini menggunakan resep airmata.�



�Kalau boleh tahu, resep airmata itu tuan dapat darimana?�



�Sudahlah, tidak usah banyak bertanya. Pokoknya mulai sekarang kalian harus memasak sambil menangis. Titik!�



�Tapi, bagaimana kalau kami tidak bisa memasak sambil menangis?�



�Kalian akan saya pecat. Mengerti?�



Akhirnya, dengan amat terpaksa karena tidak ingin dipecat, kami pun memasak sambil menangis. Pada mulanya memang agak sulit. Bagaimana mungkin kami bisa menangis kalau perasaan kami tidak menginginkannya? Tetapi, ya, mau bagaimana lagi? Kami harus menangis. Harus. Begitulah. Berbagai macam cara akhirnya kami coba untuk bisa mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami. Mulai dari berkhayal yang sedih-sedih, mengingat sanak-saudara yang sudah meninggal, sampai membayangkan tentang kehidupan di neraka. Ada salah seorang rekan kami yang kesulitan menangis. Tanpa belas kasih, pemilik restoran ini langsung memecatnya. Karena tidak ingin di perlakukan seperti itu, kami pun berusaha semampus mungkin untuk bisa menangis. Detik demi detik berlalu. Hari demi hari berganti. Akhirnya kami bisa juga menangis sambil memasak. Kami tidak perlu lagi membayangkan yang sedih-sedih untuk bisa meluncurkan tetes demi tetes airmata dari sepasang mata kami. Dan, ternyata memang benar apa yang telah dikatakan oleh si pemilik restoran, restoran ini menjadi ramai. Restoran ini menjadi restoran paling laris di kota ini.



�Saya bilang juga apa, airmata kalian itu bisa membuat restoran ini laris,� ujar si pemilik restoran sambil menepuk-nepuk pundak salah seorang rekan kami yang sedang memasak Aglio Ulio Sphageti untuk lima porsi, tentu saja rekan kami itu memasaknya sambil menangis.



*



Dinding dapur kami terdapat sebuah jendela kecil yang menampilkan pemandangan restoran. Dari jendela kecil itulah kami biasa melihat para tamu sedang melahap makanan yang kami buat. Lihatlah, betapa lahapnya mereka. Alangkah rakus! Ah. Kami yakin, mereka yang makan di sini pasti berasal dari kalangan masyarakat yang status sosialnya tinggi. Lihatlah penampilan mereka. Yang lelaki selalu berjas dan berdasi, yang perempuan selalu berblazer dan selalu mengenakan sepatu berhak tinggi, yang kalau berjalan pastilah mengeluarkan suara yang berisik. Ada yang datang sendirian. Banyak pula yang datang secara berkelompok. Sering juga kami melihat beberapa pejabat pemerintah yang gajinya tidak masuk akal itu makan di sini.



Sebelumnya kami sering bertanya-tanya: apa sih keistimewaan airmata kami, sehingga membuat orang-orang kaya itu senang makan di restoran ini? Apakah airmata kami ini adalah airmata ajaib, sehingga bisa membuat rasa masakan kami menjadi begitu lezat? Atau, adakah alasan yang lain?



Kami pernah menyuruh seorang waitress untuk menanyakan hal itu kepada setiap tamu yang berkunjung. Dan, akhirnya kami pun mendapatkan alasannya, yaitu: mereka yang makan di restoran ini selalu mendapatkan kebahagiaan.



Kata waitress itu, kebanyakan dari semua pengunjung berkata seperti ini:



�Saya senang makan di restoran ini. Selain makanannya enak-enak, juga bisa membuat perasaan saya bahagia.�



�Saya sudah mendatangi semua restoran di kota ini. Dan, hanya restoran ini yang bisa membuat perasaan saya menjadi bahagia.�



�Setiap kali saya ada masalah, saya selalu datang ke restoran ini. Sebab, setiap habis makan di sini, entah mengapa semua masalah saya langsung hilang begitu saja. Aneh, bukan? Tapi, ya, begitulah yang terjadi. Semua makanan yang tersedia di sini selalu bisa membuat saya bahagia.�



�Saya senang sekali makan di restoran ini. Sumpah! Tidak tahu kenapa, setiap habis makan di sini, saya selalu merasa bahagia. Kalau boleh saya tahu, resepnya apa, sih?�



�Setiapkali saya makan di sini, saya selalu mendapatkan kebahagiaan.�



Hmm. Kebahagiaan macam apakah itu? Apakah benar kebahagiaan bisa hadir lewat sebuah makanan yang dibumbui dengan airmata? Ah. Sampai sekarang kami masih belum bisa mengerti.



*



�Sampai kapan aku harus menangis terus seperti ini?� keluh salah seorang rekan kami yang sedang menyiapkan garnish nasi goreng untuk tujuh porsi. �aku letih harus menangis setiap hari. Aku letih!� Airmatanya menetes membasahi irisan timun, tomat, selembar daun salada, dan acar.



Salah seorang rekan kami yang lain ikut menimpali, �Aku juga muak menangis terus. Sepertinya aku harus keluar dari restoran brengsek ini. Harus! Restoran ini selalu ramai setiap hari, tetapi kita tidak pernah mendapatkan kenaikan gaji. Dasar restoran brengsek!� ujarnya sambil meneteskan airmatanya ke salmon sandwich yang sedang ia buat.



�Memangnya kamu saja yang ingin segera keluar dari sini? Aku juga ingin keluar,� ujar rekan kami yang lain, yang sedang menggratang empat chicken pie di sebuah mesin calamander .



�Tapi aku bingung,� ujarnya melanjutkan, �setelah keluar dari sini, aku mau kerja di mana lagi? Kalian tahu sendiri, zaman sekarang cari kerja itu susahnya minta ampun. Aku tidak mau jadi pengangguran. Kredit motorku belum lunas.� Airmatanya meluncur seperti gerimis.



�Aku juga tidak mau. Anakku baru saja masuk sekolah.�



�Kamu masih untung baru punya anak satu. Anakku sudah tiga. Semuanya sudah pada sekolah.�



�Tapi, sampai kapan kita harus menangis seperti ini?�



�Iya. Sampai kapan?�



�Entahlah. Sampai airmata kita habis, barangkali!�



Airmata kami masih terus menetes, mengalir, meluncur tiada henti. Tak pernah berhenti.



*



Tamu pergi. Tamu datang. Silih berganti tak pernah henti. Selalu seperti itu dari hari ke hari. Sampai akhirnya, entah mengapa, kami tidak bisa menangis lagi. Ya. Kami tidak bisa lagi mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami.



�Apa?! Kalian tidak bisa menangis lagi?!� tanya si pemilik restoran dengan raut wajah yang sangat terkejut.



Kami mengangguk. �Ya, tuan. Sepertinya airmata kami sudah habis.�



�Kacau! Kacau!� bentaknya sambil memegang kepalanya.



Mesin print pesanan makanan yang bentuknya seperti kotak tisu itu terus berbunyi.



Tretetetetet.

Tretetetetet.



Selembar kertas menyembul. Pesanan-pesanan makanan terus berdatangan.



Tretetetetet.

Tretetetetet.



�Berusahalah kalian untuk menangis! Lihat, tamu-tamu di luar sana membutuhkan airmata kalian! Cepat! Cobalah untuk berpikir yang sedih-sedih, atau apa, kek, yang bisa membuat kalian menangis!� si pemilik restoran panik. Kami juga ikut panik.



�Tidak bisa, tuan,� ujar kami mencoba menjelaskan. �Sepertinya airmata kami benar-benar sudah kering!�



�Saya tidak mau tahu. Pokoknya kalian harus bisa menangis. Titik!�



Mau tidak mau, akhirnya kami berusaha mati-matian untuk bisa mengeluarkan airmata dari sepasang mata kami. Kami memejamkan mata kami dengan sekuat tenaga.



�Cepat! Keluarkan airmata kalian!�



Mesin print pesanan makanan itu kembali berbunyi.

Tretetetet!

Tretetetet!

Tretetetetet.



Kami semakin memejamkan mata kami dengan sekuat tenaga.

�Cepat! Menangislah kalian!�

Tretetetet!

Tretetetet!

Tretetetetet.

Pesanan-pesanan makanan masih terus berdatangan.



�Ayo, menangislah! Cepat!�



Kami semakin menguatkan pejaman mata kami. Benar-benar sekuat tenaga. Dan, pada akhirnya, ada sesuatu yang mengalir dari sepasang mata kami. Kami tersenyum dan menarik nafas lega. Akhirnya kami bisa kembali menangis. Dengan segera kami langsung membuka sepasang mata kami. Ah. Betapa tekejutnya kami ketika mengetahui bahwa yang mengalir dari sepasang mata kami bukanlah airmata, melainkan darah!



�Tuan, lihatlah, tuan. Bukan airmata yang mengalir dari sepasang mata kami, melainkan darah!�



Si pemilik restoran terdiam sejenak, untuk kemudian segera berkata dengan nada yang tekesan dingin namun penuh harap, �Ya sudah, untuk sementara waktu, teteskan darah itu ke dalam masakan kalian.�



Lalu, si pemilik restoran pun berjalan ke luar dapur.

Kami saling berpandangan. Tidak mengerti.



*



Tamu pergi. Tamu datang. Silih berganti tak pernah henti. Kini kami tidak lagi memasak dengan airmata, melainkan dengan darah! Dan, ajaibnya, restoran brengsek ini malah semakin ramai dari biasanya.



Depok, 10-14 Juli 2006

Partitur

Cerpen Benny Arnas

Dimuat di Suara Merdeka, 14 Agustus 2011

AKU tak habis pikir, bagaimana mungkin kalian mengeluarkan penyanyi berbakat itu dari trio! Seolah-seolah dengan membuangku belum cukup untuk memuaskan keserakahan, kalian libas pula murid kesayanganku! Yang membuatku makin sakit hati adalah, seorang banci panggung yang menggantikan posisinya adalah anak orang superberduit! Tunggu! Tunggulah pembalasanku! Aku takkan membiarkan kalian memperlakukanku seolah membuang ampas tebu. Pun aku takkan pernah rela komposisi a capella yang kutulis selama dua tahun itu kalian curi!

***

AWALNYA, kupikir dengan masuknya orang baru itu, musikalitas kalian akan lebih baik, ternyata tidak! Beberapa penampilan yang kutonton diam-diam, justru menunjukkan kalian jalan di tempat. Kalian masih bernyanyi di C Mayor. Untuk nada dasar yang paling jamak dipakai itu pun, kalian harus membidiknya dengan meniup pitchpipe, pembunyi nada dasar, terlebih dahulu! Itu makin menegaskan bahwa kalian masih terlalu amatir dibanding Sang Guru.

Aku pun yakin, kalian tak akan menyadari keberadaanku di antara tamu-tamu yang mengkhidmati penampilan kalian malam nanti. Mungkin, mereka hanya belum terbiasa dengan a capella, hingga takjub; bagaimana mungkin pita suara dapat mengeluarkan bunyi bas yang ritmik, keteraturan yang estetik? Namun, kupikir rencanaku jauh lebih teratur, jauh lebih indah, bila disandingkan dengan dentuman bass yang memang harus kuakui dibunyikan oleh seseorang dengan timbre, warna suara yang lumayan kuat. Lalu, bagaimana bisa kalian mengajak seseorang yang tidak mampu menstabilkan vibra ke dalam trio?! Yang paling mengejutkanku adalah, orang baru itu juga dibenci orang lain! Setidak-tidaknya oleh seseorang yang meneleponku satu minggu yang lalu. Entah bagaimana perseteruan kita terendus, ia memintaku mencelakai orang baru itu pada malam pertunjukan�yang kalian klaim�terakbar minggu depan.

Tunggu dulu! Aku tak picik sebagaimana mereka yang berniat jahat kebanyakan (yang begitu gembira ketika mendapat bantuan dan diberi kemudahan). Ya, walaupun ia terus menghubungiku umpama ornamen cannon, kejar-kejaran antara ornamentasi backing vocal dengan lead vocal dalam sebuah komposisi panjang�, namun aku selalu mengabaikannya seperti berimprovisasi di tengah komposisi klasik yang taat partitur. Hahaha, tentu saja, panggung konser akan diserakkan botol air mineral dan sepatu para penonton�.

Bukan! Semua itu kulakukan bukan karena aku masih menyayangi kalian (hueekkkhh!), tapi karena aku tak ingin rencana balas dendamku disusupi kepentingan orang lain. Ya, aku menolak ajakan, atau lebih tepatnya, menolak tawarannya (tawaran dengan sejumlah uang yang menggiurkan). Dan� apabila mereka pikir, penolakan itu berarti mengacuhkan pengkhianatan kalian, ia salah besar!

***

AKU telah mendatangi hall yang tak terlalu luas ini siang tadi, beberapa saat setelah gladi resik untuk penampilan lepas makan malam nanti. Ah, para penjaga hall ini sangat Indonesia, rupanya. Mereka mengerti rupiah sebagaimana dilenakan �Terajana� ketika para calon�yang katanya akan menjadi-wakil rakyat berkoar-koar perihal janji�yang sesiapa pun tahu itu pasti-palsu! Setelah mengatakan bahwa aku adalah teknisi sound system lalu mengeluarkan beberapa lembar seratus ribu dari dompet, mereka mempersilakanku ke belakang panggung. Walaupun, beberapa saat setelah itu, seorang lelaki dengan syal di leher buru-buru menghampiriku. Hampir saja jantungku copot karena merasa rencanaku terendus.

Ia tersenyum. Ah, senyum yang membuatku lega; bahwa ia tak tahu apa-apa tentang yang akan kuperbuat.

Maaf, katanya. Anda pasti mengerti partitur, �kan? lanjutnya seraya membuka gulungan kertas di tangan kiri.

Aku mengangguk serta-merta. Bukan, bukan karena ia bertanya kepada orang yang tepat. Tapi karena aku gugup. Jangan-jangan ia tahu kalau akulah yang mengumpulkan kalian bertiga dalam sebuah grup; akulah yang mengenalkan betapa pentingnya pemahaman tentang not balok dalam mengaransmen ulang sebuah karya; akulah yang mengajarkan betapa penting groove, ruh sebuah lagu; akulah yang mengenalkan head-voice sebagai teknik pamungkas untuk memproduksi suara pada nada yang melampaui oktaf normal; akulah yang tak bosan-bosan mewantiwanti agar jangan selalu terpaku pada pembagian suara do-mi-sol dalam bernyanyi bersama; akulah yang paling bawel bila salah satu dari kalian berimprovisasi sebelum refrain pertama dirampungkan, akulah yang kerap protes bila nada miring terlalu banyak digunakan (termasuk di bagian penutup yang kerap menjadi penanda sebuah komposisi berkualifikasi high-end)�.

Menurut Anda, apakah ending komposisi ini tidak terlalu biasa? Ia seolah membuyarkan pengembaraan pikiranku. Ia menunjuk sederetan not balok di lembar terakhir partitur.

Aku tersenyum. Aku mengikuti telunjuknya. Mataku bertabrakan dengan angka 1-3-5, do-mi-sol, di akhir komposisi. Bukan, bukan karena aku gembira mendapati selera musik kami yang sama, tapi karena aku langsung terbayang seperti apa seharusnya kutelikung nasib kalian malam ini.

Hmm, maaf, memangnya Anda siapa? Aku balas menatapnya.

Ia seperti terkesiap.

Maksudku, apa kepentingan Anda dengan komposisi ini?

Aku hanya seorang undangan, katanya dengan senyum simpul. Aku seorang dosen musik di sebuah universitas. Ia menyebut nama sebuah kampus seni terkemuka di Ibu Kota, sebelum mengutarakan pendapatnya (ia memang pandai memancingku berpendapat): Menurutku, metronom komposisi ini seharusnya pianissimo, lambat. Bukan pianissisimo, sangat lambat seperti ini�.

Tunggu dulu! Kenapa kau bertanya kepadaku? Tiba-tiba aku merasa ada yang aneh. Kenapa, tak bolehkah? Ia mengangkat kedua bahunya. Apa karena kau hanya seorang teknisi sound system, ia kembali terkekeh.

Aku mengangkat alis seraya sedikit menggerakkan kepalaku.

Kadang-kadang, seorang sepertimu ternyata memiliki musikalitas yang tinggi�, nada suaranya sangat pelan, lirih, seolah-olah bibirnya berada dua sentimeter dari daun telingaku.

Bagaimana kau yakin?

Pengalaman, sigap ia menjawab. Aku juga melatih grup vokal di kampus. Aku meminta bantuan seorang teknisi yang selama ini mengurusi sound system di semacam sanggar di kampus itu�.

Dan musikalitasnya bagus? Potongku tak sabaran.

Ya. Bahkan ia yang paling mengerti tentang power, desibel, partitur miring�. dibandingkan anak-anak didikku.

O ya? Aku mengernyitkan dahi.

Ia mengangguk cepat.

1-3-5-6,5-2,5, jawabku cepat seolah hendak menguji kepekaan musikalitasnya.

Do-mi-sol-le-re? Ah, dia berhasil membaca accord �paduan minimal tiga nada yang membentuk harmoni. Estetik, �kan? Kucoba meyakinkannya.

Accord miring yang mengerikan!

Sangat mengerikan, timpalku lirih seraya meninggalkannya ke belakang panggung. Di belakangku, aku yakin, ia bersegera mengambil pulpen dan menambahkan dua not miring di akhir partitur.

***

MALAM merangkak. Sebagaimana komposisi dengan tempo pianissisimo yang akan dibawakan, aku akan mengatur mikrofon kalian dengan echo yang sedikit lebih tebal. Ini akan memberi nuansa klasik yang kelam. Ah, klasik memang berkarib dengan ketukan yang mellow, sebagaimana kenangan memang akrab dengan air mata. Dan malam ini, orang-orang akan menyaksikan bahwa air mata itu bukan hanya menyeruak dari mata para penonton yang menyaksikan pertunjukan a capella�. Air mata itu akan mengalir dari mata-mata kekasih, kakak-adik, dan terutama orangtua kalian! Ah, mereka memang tak tahu apa-apa tentang hukuman buat para pendusta yang mengalunkan lagu cinta!

Makan malam dimulai. Kalian berkerumun di salah satu sudut seolah threesome yang tengah melepas rindu. Sesekali kalian mengangkat gelas bertangkai itu, lalu mendekatkannya satu sama lain hingga menghasilkan suara gelas beradu. Sesekali tawa kalian pecah. Aku tahu, kalian sangat berharap akan ada satu atau dua orang yang menghampiri. Lalu orang itu berseru girang karena bertemu dengan trio yang sudah digadang-gadang akan memainkan lagu sendiri. Taik kucing!

Ternyata laki-laki yang menemuiku sore tadi, ada di antara para tamu. Ia mengambil tempat duduk dekat meja bundar di sebelah kanan panggung. Ah, bagaimana bisa matanya seolah tak membiarkanku bergerak leluasa. O, jangan-jangan, jangan-jangan�. Kualihkan wajah, aku menghadap ke belakang. Keringat dingin mulai tumbuh satu-satu. Aku merasa kemeja yang kukenakan sangat menyiksaku. Aku seolah ikan asin yang dibalut puluhan lapis tisu�.

Pembawa acara sudah meminta para hadirin yang masih berada di ruangan standing party agar segera memasuki ruang pertunjukan. Aku memutar kepala, dan� ups! Akhirnya aku bisa bernapas lega. Dosen undangan itu tak ada lagi. Awalnya mataku mencari-carinya di antara kerumunan penonton, tapi tak kutemui �ah, sudahlah!

Kalian naik pentas. Mengambil tiga mikrofon yang kuletakkan di salah satu sisi pentas. Kalian menyapa para hadirin. Kalian mengucapkan salam, lalu berbasa-basi perihal kegembiraan telah dilibatkan dalam perhelatan akbar malam itu. Ya, siapa yang tak bangga menjadi bagian acara syukuran pejabat yang baru saja dilantik menjadi menteri. Konon, selera seninya sangat tinggi. Ia mahir memainkan flute, sitar, saksofon, dan akordion. Namun hal yang paling seru adalah, ia adalah pejabat yang paling banyak dibincangkan saat ini. Ialah yang membuka kasus korupsi menteri yang ia gantikan. Walaupun, dalam beberapa forum, ia menyatakan bahwa itu adalah wewenang presiden, namun tak pelak, ia dianggap sengaja membuka aib orang demi posisi yang kini ia tempati. Ah, itu bukan urusanku. Walaupun dapat saja, rencanaku ini selaras dengan apa yang tengah berkecamuk di benak mantan menteri itu�, tapi aku tak peduli! Rencanaku adalah murni atas dasar dendam yang menyala-nyala!

Seperti yang kuduga, salah satu dari kalian meniup pitchpipe beberapa saat ketika tepuk tangan para tamu mereda. Kalian membawakan komposisiku, lagu yang membawa kalian menjuarai sebuah festival a capella di Oslo enam bulan lalu!

Kalian membawakannya dengan penuh penghayatan. Jujur, aku kagum pada accord yang kalian hasilkan. Sangat bulat dan padat. Hebatnya, kalian menjadikan suara chopstain, semacam suara falseto, sebagai suara satunya. Kalian membuat pecahan suara di bawah nada dasar: Sol dan mi yang diturunkan satu oktaf. Menjura! Kuatur equalizer demi memastikan bahwa harmoni yang kalian produksi benar-benar jernih. Dan� hampir saja aku melupakan rencanaku sebelum seseorang menyentuh pundakku. Aku menoleh. Aku terkesiap. Dosen undangan tadi sudah berdiri di belakangku.

Mikrofon mana yang akan menyentrum anak Pak Menteri? Bisiknya tepat di telinga kiriku.

Aku meneguk liur. Oh� bagaimana bisa? Wajahku memias. Baru saja hendak kupastikan siapa dia sebenarnya, lidahku tiba-tiba kelu ketika menyadari kepala pistol sudah ia tempelkan di pinggangku.

A-apa maksudmu? Anak Pak Menteri? Anak Pak Menteri yang mana? A-a-aku t-t-tak mengerti �. Sungguh, aku benar-benar gugup.

Kau gila! Matanya membelalak sempurna. Ia menunjuk pentas. Orang baru itu! Damn! Ternyata, kalian memang licik! Menangguk keuntungan dari seorang anak pejabat demi ambisi pribadi atas nama trio yang kurintis. Dadaku megap-megap!

Kalian baru saja menyelesaikan refrain pertama dengan cannon yang sempurna.

Kutarik napas dalam-dalam. Kulepas dalam satu helaan. Kubalas membelalak. Aku tak peduli! Anak Pak Menteri atau bukan, aku akan mencelakai mereka bertiga! Lagi pula apa urusanmu, Pak Dosen Seni yang Terhormat?! Jantungku berdegup tergesa-gesa. Entah bagaimana aku jadi senekat ini, seolah tak memedulikan pelatuk senjata yang tengah ia todongkan itu, dapat ditarik kapan pun ia mau. Ah, brengsek! Bagaimana aku kecolongan seperti ini! Ternyata tindak-tandukku telah diawasi oleh lelaki sialan ini! Aku yakin dialah yang meneleponku beberapa hari yang lalu. Sial!

Kalian telah sampai verse kedua�.

Pentas gaduh! Sebagaimana telah kuatur sebelumnya. Kabel telanjang di ujung mikrofon akan tersambung sendirinya dengan arus equalizer ini, tepat ketika lagu telah memasuki menit kedua lewat dua puluh enam detik, kalian terjerembab dengan mikrofon masih di genggaman. Tubuh kalian kejang-kejang seperti orang ayan. Beberapa panitia mendekat namun tak berani menyentuh. Aku tersenyum dalam hati. Dengan sikap jumawa, aku melangkah mundur seolah tak terjadi apa-apa. Satu, dua, tiga. Kuputar badan ke arah toilet yang berdekatan dengan pintu keluar belakang hall. Selamat tinggal, para pengkhianat!

Dooorrr!!!

Bukan, bukan bunyi tembakan! Aku seolah mendengarkan do-mi-sol-le-re, accord miring yang paling miris, dibunyikan tiba-tiba. Sungguh, paduan yang sempurna! Kelam mencekam! Teriakan di sana-sini. Hall gaduh. Aku sudah bisa membayangkan kepanikan orang-orang di dalam ruangan. Dosen Seni itu pasti berhasil menyarangkan sebutir timah panas ke kepala Pak Menteri�.

Dooorrr!!!

Aku makin terbahak-bahak. Entah, di bagian tubuh Pak Menteri mana lagi yang menjadi sasarannya! Benar-benar kematian yang musikal!

O o. O o. Aku terkejut mendapati kerumunan orang itu. Ya, mereka seolah hendak menyerbuku. Keparat! Mereka benar-benar menyerbuku. Bagaimana mereka bisa tahu rencanaku?! O tidak! Bagaimana mereka menjadi sangat bodoh seperti ini. Lihat! Aku tidak memegang pistol! Bukan aku yang menembak Pak Menteri! Bukan aku! Ah, dasar tolol! Lihat, Dosen Seni yang ada di dekat kalianlah yang melakukannya.

Ooo, alih-alih memedulikan teriakanku, mereka malah bernyanyi dalam komposisi yang mengeriapkan bulu kuduk. Mereka terus menuju ke arahku. Mereka menerobos saja Dosen Seni itu seolah tubuhnya tembus pandang. Kini mereka mengerumuniku, mendesakku, seraya tetap bernyanyi di accord do-mi-sol-le-re yang mematikan! Aku menutup kedua telinga! Aku meraung-raung. Tiba-tiba aku merasa kesakitan yang sangat di beberapa bagian tubuh. Aku jatuh, terjerembab. Mereka meraba-raba tubuhku. Meraba kakiku, ah! Meraba perutku, ah! Tangan-tangan mereka berlumuran darah.

Darah luka, sepertinya.

Luka tembakan, lebih tepatnya. (*)

.

.

Lubuklinggau, 12-15 Juni 2011

Senin, 01 Agustus 2011

Jarwo Ngablak

Cerpen Mashdar Zainal

Dimuat di Annida-Online, 25 Juli 2011

Namanya Sujarwo, karena kalau tertawa mulutnya ngablak-ngablak, maka ia dipanggil Jarwo Ngablak. Jarwo Ngablak asli orang Jawa, ia asli Ponorogo, merantau ke Jakarta pun alasanya tak muluk-muluk: ingin melihat ibu kota. Ia tinggal membujang di kamar petak yang telah ia kontrak selama bertahun-tahun. Sebagai lulusan SD, tentu ia tidak bekerja di perusahaan, apalagi pegawai negeri. Sehari-hari Jarwo Ngablak mangkal di Stasiun Pasar Senen, jualan bensin eceran dan pulsa, nyambi jadi tukang parkir. Keadaan itu tidak pernah membuat Jarwo Ngablak mengeluh, toh apalagi menangis.

Jarwo Ngablak memang orang yang humoris. Kelewat humoris. Ia gampang sekali tertawa. Ia bisa menertawakan apa saja, siapa saja, termasuk dirinya sendiri. Cara tertawa Jarwo Ngablak pun sedikit berlebihan dibandingkan kebanyakan orang. Jika ia tertawa matanya akan menyipit hingga hampir terperjam. Hidungnya akan kembang kempis seperti anjing pelacak. Bahunya pun akan berguncang naik turun seperti sedang naik becak di jalan yang penuh lubang. Dan mulutnya, akan menganga beberapa senti, ngablak-nagblak, hingga menyerupai gua kecil yang sanggup menelan bola kasti. Begitulah, Jarwo Ngablak takkan dipanggil Jarwo Ngablak tanpa alasan.

Maka, jika seseorang tengah dilanda melo-drama, ia akan berlari menemui Jarwo Ngablak, minta dikasih resep tertawa yang awet. Selain jago tertawa, Jarwo Ngablak juga ahli dalam membuat lelucon. Orang yang tak pernah tertawa pun akan terbahak-bahak mendengar leluconnya. Apalagi kalau sudah menyangkut lelucon negeri ini. Jarwo Ngablak memang seolah ditakdirkan menjadi oase bagi orang-orang yang mengalami penyakit cemberut dan sulit tertawa. Selain pawakan Jarwo Ngablak memang sudah lucu. Hingga melihat raut mukanya saja, seolah orang sudah bisa tertawa.

Sambil tertawa, jarwo ngablak pernah berujar, �Hidup itu cuma sekali, buat apa dibawa susah. Lha wong sudah susah. Mendingan tertawa, supaya kesusahan itu akrab dengan kita. Kalau sudah jadi teman, kesusahan itu ternyata lucunya minta ampun. Hahaha��

Melihat kehidupan Jarwo Ngablak kadang-kadang bisa membuat orang iri. Hidup yang mengalir dan penuh tawa, tak ada keluh-kesah, tak ada sedu-sedih, tak ada iris-tangis. Benar-benar mendekati sempurna. Bahkan, orang kaya sekalipun belum tentu bisa seperti Jarwo Ngablak: memenuhi hidupnya dengan gelimang tawa. Semua berjalan dengan sahaja, hingga tiba-tiba, pada sebuah senja di hari Jum�at, Jarwo Ngablak duduk selonjor di depan pintu kamar kontrakannya denga wajah tertekuk. Tentu saja pemandangan itu ganjil.

�Kamu sedang tak enak badan, Wo?� Tanya Sukamto, teman yang ngontrak di kamar sebelah.

�Saya cuma pingin nangis.� Jawab Jarwo Ngablak apa adanya.

Mendengar jawaban itu, Sukamto ingin tertawa tapi tak jadi, �memangnya kenapa? Ada berita duka dari kampung, ya?�

�Bukan.�

�Lha terus?�

�Saya cuma pingin nangis. Pingin nangis aja.�

Melihat raut muka Jarwo Ngablak, tawa Sukamto benar-benar meledak. Lucu bin aneh. Jarwo Ngablak ingin menangis tanpa sebab? Apa kata dunia? Ketika tawa Sukamto mulai reda, perlahan Jarwo Ngablak memulai ceritanya. Cerita yang menjadi musabab kenapa ia bersikeras ingin menangis.

�Tadi, waktu khotbah Jum�at, Pak Khotib bercerita panjang lebar. Ia menceritakan kisah-kisah sahabat di jaman Rasulullah, kisah-kisah yang mengharukan, hingga beliau sendiri berkhutbah sambil sesenggukan, bahkan banyak juga jama�ah yang menitikkan air mata. Dan saat itu, saya merasa asing. Saya perhatikan cuma beberapa orang saja yang tidak menitikan air mata, termasuk saya.

�Menjelang akhir khotbahnya. Pak Khotib juga menyampaikan, bahwa menangis itu sehat. Menangis itu menandakan kelembutan hati seseorang. Beliau juga mengutip ayat-ayat, katanya Tuhan menyuruh manusia untuk lebih banyak menangis daripada tertawa. Dan kata beliau lagi, terlalu banyak tertawa itu bikin hati mati. Orang kalau tidak bisa menangis, katanya hatinya sudah mati, sudah jadi batu. Detik itu saya mencoba sekuat tenaga untuk menangis, dan ternyata saya gagal. Saya memang sudah tak bisa menangis. Hati saya sudah mati, hati saya sudah jadi batu.�

Mendengar cerita Jarwo Ngablak, tiba-tiba Sukamto tercengang. Ia kembali ke kamarnya seperti batu yang sedang berjalan, tanpa salam, tanpa ekspresi. Hari-hari , Jarwo Ngablak semakin larut dalam obsesinya: ingin menangis. Beberapa orang yang datang padanya dengan wajah murung akan kembali dengan wajah semakin murung, karena Jarwo Ngablak tidak lagi membagi-bagikan resep tertawa. Jarwo Ngablak tidak lagi memaparkan lelucon-lelucon. Kepada orang-orang yang menemuinya, Jarwo Ngablak justru menceritakan isi dari khotbah Jum�at yang disimaknya beberapa hari lalu, sambil meminta balik resep yang jitu untuk bisa menangis. Menangis memang jauh lebih sulit dibanding tertawa.

Namun, apapun yang terjadi, Jarwo Ngablak bersikeras ingin menangis. Ia harus bisa menangis. Meski ia sudah benar-benar lupa bagimana cara menangis. Bahkan ia sudah tak ingat, kapan terakhir kali ia menangis. Berbagai upaya telah ia lakukan supaya ia bisa menangis. Namun tetap saja hasilnya nihil. Air matanya seperti raib entah ke mana.

Jarwo Ngablak semakin murung. Ia teringat kembali petuah Pak Khotib, bahwa jika seseorang tidak bisa menangis berarti hatinya sudah jadi batu. Jarwo Ngablak merinding, membayangkan seonggok batu bersarang di dadanya, tentu berat sekali, sesak sekali.

�Mungkin sesekali kamu perlu nonton sinetron �Anak Tertukar�. Setiap jam delapan malam, di sinetron itu selalu ada adegan menangis,� saran seorang teman.

�Sudah! Melihat mimik mereka menangis saya malah tertawa terbahak-bahak.� Balas Jarwo Ngablak.

Jarwo Ngablak juga sudah nonton film india yang paling sedih yang direkomendasikan Sukamto. Tapi tetap saja, air matanya tak bergeming, malah Sukamto sendiri yang menangis tak karuan, sampai-sampai air juga keluar dari hidungnya.

�Ngupas bawang, ngupas bawang!� saran seorang teman yang lain.

�Ini hubungannya dengan hati. Ngupas bawang nggak ada hubunganya dengan hati. Saya pingin nangis yang bener-bener nangis, nangis yang dari hati.�

�Berhubungan dengan hati, ya? Jangan-jangan hatimu memang sudah mati gara-gara banyak tertawa, coba kamu silaturrahim ke ustadz atau kiyai, barangkali mereka bisa membantu.�

Karena bersikeras ingin bisa menangis, Jarwo Ngablak pun akhirnya nekat mendatangi seorang ustadz. Ustadz yang beberapa waktu lalu menyampaikan khotbah Jum�atnya. Tanpa basa-basi, Jarwo Ngablak pun menceritakan kegelisahan hatinya. Mendengar cerita Jarwo Ngablak, ustadz tersenyum geli sambil sesekali manggut-manggut.

�Hati yang mati itu hanya sebuah kiasan saja,� ustadz memulai petuahnya, �segala sesuatu akan lapuk, usang, hilang, dan bahkan rusak jika tidak kita gunakan. Termasuk air mata. Seperti air-air yang lain, air mata pun memiliki mata air. Mata air air mata takkan mengalir lancar jika ia terus kamu timbuni dengan tawa berlebihan, bisa-bisa mata air air matamu tersumbat dan kering. Kalau sudah begitu, tentu saja kamu takkan bisa menangis.�

�Solusinya bagaimana, Ustadz?� Jarwo Ngablak menyela.

�Basahi terus mata air air matamu.�

�Dengan apa ustadz?�

�Dengan mempersedikit tawa. Tertawa boleh, tapi kalau berlebihan juga bahaya.�

�Akhir-akhir ini saya hampir tak pernah tertawa, Ustadz. Saya malah berusaha keras supaya bisa menangis, tapi tetap saja, saya tidak bisa menangis. Bahkan tahun lalu, ketika bapak saya meninggal, saya tidak menangis sama sekali. Barangkali orang-orang memandang saya tegar. Tapi entahlah, ketika itu saya juga sangat sedih. Hanya saja saya tidak bisa menangis.�

Ustadz geleng-geleng kepala, �Ternyata, tidak bisa menangis itu menderita, ya?�

�Sangat, Ustadz.� Ujar Jarwo Ngablak dengan wajah memerah, mata memerah. Sesekali ia mengusap matanya. �Barangkali hati saya memang sudah jadi batu, Ustadz.� Ujar Jarwo Ngablak lagi sebelum ia terdiam agak lama.

�Ayolah! Keluarkan uneg-unegmu. Saya akan jadi pendengar yang baik.�

�Ya itu, Ustadz. Saya pingin normal, seperti orang-orang. Saya pingin bisa menangis. Saya tidak mau hati saya ini jadi batu. Tapi sepertinya semua sudah terlambat.� Jarwo Ngablak kembali menyeka matanya. Ustadz tersenyum dan kembali menggeleng-gelengkan kepala.

�Tidak bisa menangis memang susuatu yang patut ditangisi. Apa kamu tak sadar, dari tadi kamu ngoceh sambil menangis.�

Jarwo Ngablak mengangkat kepala mendengar tuturan ustadz, ia kembali menyeka matanya, punggung tangan dan jari-jemarinya basah.

�Tak apa. Teruskan! Menangis itu sehat. Menangis itu melegakan.� ujar ustadz lagi.

Jarwo Ngablak masih belum percaya kalau yang diusapnya sedari tadi adalah air mata. Air mata yang mulai basah dan merembes dari sumbernya, dari mata airnya: hati. Jarwo Ngablak pulang dengan hati plong. Ia tak pernah merasakan kelegaan semacam itu seumur hidupnya.

Di dalam kamar kumalnya, Jarwo Ngablak berbaring dengan mata terpejam. Ia membayangkan di dadanya menyembul sebuah mata air yang airnya mulai merembes perlahan, merambati dinding hatinya. Air itu mengalir sangat lancar sampai ke sudut matanya.***

Malang, Juni 2011