Selasa, 23 Februari 2010

Quattordici



Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jawa Pos, Minggu, 14 Februari 2010
Grekia

DAN di hadapanku tiba-tiba terbentang almanak raksasa. Di sana, dalam kurungan kotak-kotak yang berwarna hijau tahi kuda, angka-angka bersembunyi di balik lambang-lambang yang tak kupahami. Tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku. Laki-laki yang berjanggut putih lebat berombak. Ia mengucapkan selamat datang di Grekia. O, daerah apa itu? Sungguh, aku tak mengerti apa yang tengah menimpaku. Bagaimana aku dapat terpelanting ke tempat yang asing ini. Aku bagai berada dalam kastil yang berpilar lebih dari 14. Bagian dasar dan atas pilar, dihiasi ukiran orang-orang setengah telanjang. Mereka mengenakan kain yang dililitkan di badan. Semacam sari bagi wanita India, atau pakaian ihram bagi jamaah haji. O bukan, sepertinya ia terbuat dari bahan yang agak keras. Semacam kulit. Mungkin kulit kambing. Mereka (dalam ukiran itu) memegang busur dan anak panah yang siap dilesatkan. Aku bagai pernah mendapati motif ukiran-ukiran itu. Entah di mana, aku lupa.

"Kita akan berkelana."

Laki-laki itu menatapku sesaat. Ia sedikit menyalipku. Kini ia sudah berjalan di depanku. Tingkahnya bagai seseorang yang kubutuhkan untuk mencapai tujuan. Aku ikut saja.

Valentino

Hari ini adalah 1740 tahun yang lalu. Kastil Morvelanto, sebuah gereja yang berinkarnasi menjadi masjid tanpa kubah dengan dua menara, menyimpan drama satir Valentino, seorang pendeta yang dihukum pancung oleh Claudius II. Kala itu, Kaisar Romawi itu berlaku berat sebelah. Ia tak menghukum Marius, karib Valentino yang sama-sama menentangnya. Maka, adalah mahfum kiranya bila Valentino mendatangi makam Marius di kastil dekat gerbang Tuscany. Mereka berdebat perihal kesetiaan dalam berkawan. Marius menyanggah tuduhan Valentino yang menyebutnya antek-antek kaisar hingga Claudius meninggal dalam perang melawan serombongan orang berjubah dari Andalusia. Marius bahkan menyatakan Valentino sangat beruntung. Bahkan seharusnya berterima kasih yang tiadatara kepadanya.

"Aku seolah-olah menjadi pengikutmu, Valentino. Padahal kita adalah karib yang sama-sama berjuang menikahkan Julio dan Sophia di penjara kala itu."

Valentino diam. Dan makin mati-taji ketika dengan air mata yang ruah Marius menyatakan betapa laki-laki dan perempuan kini hanya mengingat sahabat seperjuangannya itu daripada dirinya.

"Aku bukan haus pengingatan, Valentino. Aku hanya ingin mengatakan, namamu abadi. Dan bila pada tengah Februari itu orang-orang berlaku baik demi cinta, maka adakah Tuhan kuasa menolakmu bertandang ke kerajaan Yesus, hah?"

Valentino menyeringai. "Kau benar-benar bejat, Marius!"

"Maksudmu?"

"Kau tahu bagaimana belanga api itu memanggil-manggilku. Para pemuda dan gadis itu melunaskan gairah mereka di atas namaku. Va-len-ti-no!"

"Oh, tidakkah itu yang kau perjuangkan, Valentino? Tidakkah kita dulu yang berkoar-bingar bahwa Claudius II sangatlah tak pandai merawat kecemasan. Mengkambinghitamkan kecintaan keluarga dan kekasih sebagai musabab enggannya para pemuda bergabung di armada perang?"

"Ah, pantas kau tak dikenang, Marius!"

"Maksudmu?!"

"Kini berbeda. Bila mereka bergaul serupa sepasang pengantin ketika laki-laki belum disumpah di hadapan pastur, bagaimana dapat kau katakan Tuhan memberkati?"

"Apa urusannya denganmu, Valentino?"

"Mereka mengatasnamakan cinta, Marius?"

"Dan itu adalah kau?" Marius menyeringai.

"Hari itu dipilih mereka untuk merayakan, meluapkan, dan menuntaskan semuanya, hingga perihal yang sejatinya tak halal dilakoni. Hari dipangkasnya kepalaku dari tonggak bahu!"

Marius diam sebelum membias dalam udara yang menyusup dari rongga-rongga tanah. Hilang.

"Aku ingin tidur, Valentino. Aku lelah." Suara itu menggema di ceruk makam mewah itu.

Valentino pergi. Terbang. Mengawang. Menyaksikan sepasang muda-mudi bertukaran kado di bangku taman dekat alun-alun Bologna, sepasang remaja di bawah 17 tahun tengah berpagutan di balik semak bluebery, seorang jejaka tengah memberikan apel berpita pink kepada gadis berbaju merah toska yang duduk di jenjang colesium....

Lupercalia

Hari ini adalah Minggu. Minggu yang sebenar Minggu. Bila pun Selasa, maka orang-orang yang tengah menanak-rindu yang tak tertanggungkan, akan menulis angka 14 itu dengan pensil merah. Bukan merah muda karena terlalu samar untuk almanak yang berkertas mengkilap. Merah toska biasanya lebih menyala. Dan inilah buah dari kekeliruan yang lebih dari 170 dekade itu. Dewa Zeus dan Hera muntab. Mereka menyalahkan Valentino. Maka, mereka mencari laki-laki pastur itu di seantero bumi. Dan inilah sifat yang kerap menyertai orang-orang kuno: Mereka buta cerita perihal nama-nama negeri yang sudah musnah atau diganti. Mereka tak mendapati romawi sebagai kekaisaran. Mereka tak mendapati Romawi sebagai kerajaan. Maka, tersesatlah mereka hingga di Osaka. Entah, mungkin karena Jepang masih memiliki kaisar, atau apa. Di sana, mereka bingung tak kepalang. Orang-orang berkulit putih bening, alis yang miring ke atas, mata sipit, bagai merayakan perkawinan mereka berdua.

"Oh Zeus, apakah ini Athena?"

"Tentu bukan Hera. Takkah kau lihat wajah mereka serupa boneka yang belum selesai dipahat kedua matanya."

Hera mengangguk. "Tapi Zeus, mengapa mereka merayakan semacam Hari Kekasih?''

"Kau tahu Hari Tujuh di China, Hera?"

"Perayaan cinta?"

"Kupikir, ini tak jauh berbeda, Hera. Mereka pula merayakannya. Tapi..."

''Tapi kau tak mendapati pernak-pernik yang berbau si keparat tak berkepala dari Romawi itu, bukan?"

Hari Putih. Demikian orang-orang Korea dan Jepang menyebut hari ketika perasaan suci dihelat. Namun, mereka tak memilih tanggal bakda sepasang angka paling sial di dunia sebagai waktu perayaan.

"Zeus, ini bukan Lupercalia."

Zeus tercenung. Perayaan perkawinan mereka itu tak bingar lagi. Pikirannya mengembara ke masa-masa Lupercalia dikenang dengan begitu raya. Setiap polis di Yunani akan berpesta. Lorong-lorong kelam yang bersempalan di sudut-sudut kota akan terang seketika karena dalam jarak 20 meter, obor-obor raksasa disulut di atas tonggak-tonggak batu yang berbaris.

Zeus bermata kaca. Hera mengusap-usap bahunya. Hera menatap suaminya. Tatapan iba. Ia bagai memahami kesedihan dan kegalauan sang dewa.

"Kita akan menyongsong hari terakhir Gamellion, Zeus?"

"Gamellion?"

"Ya, takkah kau lupa, kita dahulu menamai tengah Januari hingga tengah Februari sebagai Gamellion," bisik Hera. "Biarlah hari ini milik Valentino, Zeus. Namun esok, tentulah milik kita berdua." Hera hampir saja terkakak apabila Zeus tak membuatnya terhenyak.

"Tak usah berlebihan dalam berharap," ujar Zeus tenang. "Tak ada yang merayakan hari perkawinan kita, Hera. Tak ada Lupercalia. Pun tak ada lagi Gamellion....''

Bulan Renyai

Cerita ini akan segera khatam di di tenggara Asia. Nusantara, demikian dulu negeri ini tertitik dalam sejarah. Cerita ini pula akan ditutup di bulan yang (masih) suka bermain-main dengan hujan. Hujan yang tak sepenuh hati membuat bumi kuyup seperti Januari yang rajin mandi.

Orang-orang di negeri ini merayakan Hari Kekasih dengan sepenuh hati. Mereka bagai terlupa bila dua bulan sebelumnya, Muharram disongsong tanpa riap, Idul Fitri dihelat tanpa hikmah, dan Ramadan ditekuni dengan harap segera bertemu hari raya.

Sejatinya, mereka tak perlu tahu perihal Valentino yang dipancung, perihal Kaisar Claudius II yang bertangan besi, perihal Marius yang luput dari hukuman, perihal Hera dan Zeus yang (setiap) hari perkawinan mereka dirayakan dengan sesembahan yang bergema. Mereka pula tak perlu tahu perihal gadis-gadis Romawi yang menuliskan nama mereka di atas kertas berukuran 3 x 3 cm. Menggulungnya. Memasukkannya ke dalam toples kaca sebesar buah kelapa, lalu mempersilahkan para pemuda mengambil kertas itu (seraya berharap dengan cemas bahwa pemuda yang ditaksirlah yang akan mendapatkan kertas atas nama mereka). Tak perlu semua itu. Atau mereka memang tak tahu-menahu kisah itu. Atau mereka tahu namun mengabaikannya. Ah, begitulah tabiat orang-orang negeri ini. Begitulah.

Ya, terlupalah bila ada yang lebih layak ditumpahkan cinta atasnya. Tentang hujan yang tak kunjung tamat riwayatnya. Tentang langit yang mulas berpanjangan. Hingga... kota-kota di negeri ini, kerap kuyup oleh hujan yang merenyai. Sebentar lagi pun, mendung akan muntah. Dan jangankan mensyukuri cinta dan rahmat Tuhan itu, mereka masih asyik membincangkan asmara di hari yang paling merah ini. Bahkan gadis-gadis itu dengan terpaksa mengangkat rok sebatas lulut; melipat ujung jeans; berpayung dengan gigil; menjinjing apel berpita pink, sebatang cokelat murahan, atau setangkai mawar yang tak lengkap lagi jumlah kelopaknya... demi merayakan cinta (apa? cinta?) di Hari Kekasih. Hari yang sudah dinanti-nantikan. Diimpi-impikan.

Pink Morning

Dan aku pun tercekat ketika meregangkan badan dan mengucek mata, pandanganku tertumbuk pada angka merah toska itu: 14. Angka itu bertengger dalam kotak-kotak almanak. Segera kusibak selimut. Aku melompat dari ranjang. Kulihat ponsel. Sembilan panggilan tak terjawab. Dua belas pesan. Dari nomor yang sama. Miranda. Aku segera menuju kamar mandi. Bukan, bukan memenuhi rengekan kekasihku agar aku mengenakan kemeja junkis berwarna merah muda dan membawa kado berpita pink pula. Aku hanya berpikir sebaiknya aku memenuhi ajakan Muksin untuk mengikuti kajian fikih di Masjid Agung Kota hari ini. Tentu saja, tak lupa kukabari dulu si Miranda bahwa hari ini aku tak dapat mengajaknya jalan-jalan ke air mancur Temam sebagaimana janjiku minggu lalu. Mungkin ada baiknya kuketik sebuah pesan pendek untuk gadis itu.

"Sepertinya ini pagi yang cerah, ya? Tentu Om dan Tante sangat senang bila anak gadisnya turut serta ke gereja...."

Pesan terkirim. Entah, aku bagai melepaskan beban berat. Hmmm, kuharap aku akan jalan-jalan ke Yunani, Asia, dan Italia, lagi malam nanti, sebagaimana mimpiku malam tadi. (*)

Lubuklinggau, 24 Januari 2010


Meraih Anugerah Sastra Batanghari Sembilan 2009

Minggu, 21 Februari 2010

Surat-sajak yang Mengantarmu Pulang

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jurnal Nasional, 21/02/2010

1.

KAU pernah bergidik mendengar ombak yang bergemuruh; pucat oleh raungan halilintar; berdegup-kencang karena bumi bergemerutupan; gemetar menyaksikan angin yang memuting. Ah, itu tak ada apa-apanya, Kawan! Adakah yang lebih hebat dari rindu?

Ingin kusimpan surat itu bersama kelopak-kelopak mawar yang menebar bau harum yang khas; bila kau mengubah kata �Kawan� di sana dengan kata �Sayang�. Oh, dapat kubayangkan langit yang tiba-tiba memerahmuda; sehelai selendang sutra berwarna lembayung akan melingkar di bahuku; rambut sepinggangku akan berkibar-kemilau... lalu, aku akan terbang ke langit kedua. Sekadar duduk-duduk sambil menunggu mendung tiba. Keadaan yang mengundang para bidadari untuk turun ke bumi dan mandi di salah satu lembahnya. Tentu saja gadis-gadis cahaya itu akan melewatiku, dan aku pun dengan sesegera bergabung bersama mereka. Akan kuceritakan tentang sebuah tempat yang sangat elok untuk melengkungkan pelangi. Lubuk Nio, sungai yang berasal dari aliran air di bantaran Talang Rejo, lereng Bukit Sulap.

Aku yakin mereka akan terbuai, lalu turun ke bumi bersamaku dengan selendang yang dikepak-kepak. Aku juga akan sangat bahagia ketika kau benar-benar menunaikan kebiasaanmu menunggu Magrib sambil memancing di salah satu tepiannya. Aku hafal sekali kau biasa melakukannya di bawah pohon kam; mungkin menunggu jodoh dari Tuhan. Tak salah bukan, bila sekali-sekali kau mencuci matamu: melihat tujuh bidadari mandi dengan seorang perempuan seperti aku (anggap sajalah aku teman baru mereka).

Yang kutahu kau masih membujang? Apakah kau lebih mementingkan persahabatan kita, hingga keinginan berkeluarga pun terus kau tunda? Mungkinkah itu demi seseorang berambut panjang di Kota Ampera ini?

2.

BILA daun itu tautan, aku akan memberikanmu pepohonan. Bila air itu pelipuran, aku akan menghadiahimu lautan. Bila rindu itu kemilauan, aku akan membawakanmu bebintang. Bila persahabatan itu diriku, tidak berlebihan, bukan, bila kupersembahkan hatiku?

Alim, Alim. Dari hati yang paling dalam, sangatlah ingin diri ini menyambangi kampungmu yang juga tanah kelahiranku itu; ranah tempat kita dulu berkeriapan memapas debu dengan mobil-mobilan papan di salah satu tanganmu, dan boneka pelepah pisang di pangkuanku.

Apalagi surat yang baru saja kuterima ini, untuk kesekiankalinya membuat perasaanku berkebat-kebit. Kau memang pemuja bukti-bukti; bahwa gejolak dapat dikirimkan melalui liukan tinta di atas kertas HVS mangkak 68 kilogram��yang kerap kaugunakan untuk mengukir sajak-sajakmu. (Ah, seharusnya kertas-kertas itu menjadi santapan printer saban kau menyudahi beberapa sajakmu). Kau memang sahabat yang baik (semoga lebih dari itu). Sahabat yang tahu bagaimana sebuah gejolak dapat disambungrasakan melalui tulisan aslimu. Aku tersanjung��walaupun tak selayaknya itu kurasai.

Oh, benarkah tak selayaknya kurasai galau ini.

Semua belum tuntas. Aku belum merampungkan masalah itu: perihal harta gono-gini dengan Bang Markus. Dia sangat baik sebenarnya, tapi... apakah hanya itu syarat sebuah bahtera dapat berlayar jauh hingga ke pulau impian? Aku tak menyalahkannya, Lim.

Penyair atau bukan, itu adalah pilihan hidup yang menyangkut kebahagiaan pribadinya. Tapi... apakah seseorang yang bukan penyair dimahfumkan untuk tidak menebar kehangatan pada tulang rusuk kirinya?

Bang Markus adalah es, yang bila pun mencair hanya menumpahkan rasa dingin pada kebersamaan kami. Apakah hal itu menjadi sah-sah saja seorang laki-laki lakukan pada istri yang belum memberikannya keturunan?

Kau tahu, Lim. Sebenarnya aku telah memeriksakan diriku��maksudku rahim dan kesuburanku��secara diam-diam pada seorang ahli kandungan. Kau tahu hasilnya? Aku tak mendera kekurangan satu apapun untuk berketurunan. Namun... haruskah ini kusampaikan pada suamiku itu? Sedingin-dingin ia, ketika merasa terpojok perihal kelelakiannya, ia pasti mengamuk juga.

Kau tahu bagaimana tumpukan salju��sepanjang Bukit Siguntang��di Alaska ternyata memakan korban tak sedikit saban tahunnya? Bila gunung salju itu bergemuruh, maka pohon-pohon cemara dan rerumahan akan rontok-penyok, atau sekawanan pemain ski akan tunggang-langgang menyelamatkan diri sebelum lengkingan panjang menjadi pembuka penguburan mereka di ranah putih nan dingin tak tepermanai itu.

Dapatkah kaubayangkan bagaimana aku menjalani semuanya? Bila tak menenggang bahwa pernikahan itu adalah permintaan terakhir ayah sebelum ia berjazirah ke liang gulita, aku.... Oh, tak sanggup kulanjutkan catatan sepi ini, Lim.

3.

TAHUKAH engkau, mengapa Tuhan menciptakan ruang-ruang kosong di antara jemari kita? Karena suatu saat, orang-orang yang tulus menyayangimu akan memenuhi ruang itu dengan memegang erat tanganmu. Selamanya.

Entah ini surat yang keberapa yang engkau peruntukkan untukku. Andai kau tahu apa yang aku rasakan dulu dan kini benar-benar berbeda adanya, maka... masihkah kau akan merangkai metafora-metafora demi sebuah makna yang maha: kita saling menyayangi. Aku malu sendiri dengan kata yang terakhir itu. Agak risih. Kita tak halal satu-sama lain. Oh Alim, suatu saat aku akan ke Lubuklinggau. Aku akan merajut kedekatan itu lagi. Bukankah kau sudah merindukan suaraku yang melagukan Seroja ketika cintamu ditolak Aisyah dulu?

�Kau harus berpandai-pandai menganyam permainan, Lim,� kataku waktu itu. Engkau diam saja. Kau masih kecewa karena cintamu bertepuk sebelah tangan.

�Kau juga, Lim, tak memilah yang sekufu dengan orang-orang macam kita. Putri semata wayang Haji Mansyur! Bila pun Aisyah mampu kau jerat perasaannya, bukankah kau tahu kalau gadis itu sangat penurut pada abahnya? Takkah kau dengar desas-desus bahwa ia akan dipinang (atau dijodohkan dengan) Mustafa Hasyim, pemuda lulusan Gontor itu?

Sejak itu aku sangat sering menasehatimu agar sering ke masjid; belajar mengaji, dan mengurangi begadang di pos ronda dekat Jalan Lakitan.

4.

JANGAN terlalu mengharap ada yang berubah; seperti yang kumau, seperti yang kaupinta, seperti doa-doa kita. Karena pasti sebelumnya: Kita pernah saling menyayangi apa adanya.

Alhamdulillah, semuanya terselesaikan dengan baik. Aku tak lagi satu rumah dengan Markus. Dia sudah haram bagiku, begitupun aku atasnya. Ah, tak penting itu, Lim. Yang terpenting adalah kita harus membuat garis putih. Kejelasan sebuah jalinan: persahabatan atau nantinya akan mengerucut pada ikatan halal.

Aku baru menonton TVRI Daerah tadi pagi. Hebat ya kampung kita sekarang: diulas di tivi. Bukan tentang bajing loncat, gerombolan penodong di jalan lintas Sumatera; bukan pula tentang tujah-tujahan, tikam-tikaman pisau antarpenduduk; atau perkara ricuh di acara kawinan... tapi tentang sesuatu yang bisa melengkungkan senyum di wajah tirusku. Bandara Silampari akan mulai beroperasi (lagi) dalam waktu dekat. Walaupun hanya pesawat mini (begitu aku menyebut burung besi yang hanya bermuatan maksimal 10 orang itu), tapi paling tidak, aku tidak harus menempuh perjalanan delapan jam yang melelahkan via kereta api, bukan? Ya, aku akan ke Lubuklinggau bulan depan, membawa rindu yang sebenar sungguh!

Oh tunggu dulu! Tidakkah ada sesuatu yang sedikit ganjil? Maksudku, apakah kau memang tak tahu tentang bandara itu, atau memang kau belum mengetahuinya, atau kau tak ingin aku tahu.... Bukankah kau yang tinggal di sana?

Oh sudikah seorang jejaka berteman lagi dengan janda layu sepertiku?

Ah, lupakanlah itu, Lim. Akulah yang salah, seharusnya aku tak terlalu menganggap perjalanan Palembang-Lubuklinggau sebagai sesuatu yang melelahkan. Aku malu dengan sebaris sajakmu itu: �Adakah yang lebih hebat dari rindu?�

5.

DAUN jatuh. Disapu pagi yang masih mengantuk. Kupu-kupu bersayap pelangi mengintip kuncup yang mekar diam-diam. Besok, daun akan jatuh lagi (?), berserakan di daratan yang dilalui Musi.

Tanggapan apa yang mesti kuberikan atas kata-katamu yang berkaki, tangan, sayap, dan menari-nari itu?

Sajakmu masih tetap sama seperti dulu. Bukan isinya maksudku, namun keindahan dan kekhasan pemilihan kata-katanya. Sungguh, semua itu membuatku seolah bercinta dengan mantra yang hidup dengan tiba-tiba!

Ah Alim, Alim..., kapan kau akan menuruti apa yang kusarankan dulu: Belilah handphone; kita dapat bercakap dan menulis pesan��atau juga sajak��dengan lebih leluasa. Lebih murah dan lebih cepat sampai pula. Tapi (kau tahu) aku tak (akan) memaksamu. Mmm... ya, aku yakin engkau tak bisa berkompromi dengan hal ini, bukan?

Alam itu adalah piranti kehidupan yang dapat memungkinkan semuanya, katamu dulu. Seperti dongeng atau film-film ala Saur Sepuh, beburung pun dapat saja menyambung maksud, katamu lagi. Ah, kau sangat unik, Lim. Unik. Ya unik. Itu bukan bahasa lain dari kuno. Aku takkan menyematkan kata yang biasa orang lain sematkan pada pola pikir dan kebiasaanmu yang anti-teknologi itu (setidaknya pada handphone).

Singkat cerita, aku tahu, kau akan tetap menulis surat-sajak dengan tanganmu. Apakah karena kau tak ingin ber-handphone? Mungkin. Walaupun dapat saja: ternyata kau menentengnya saban waktu untuk bercekakak-cekikikan dengan karib-karibmu (dan aku tak mampu mengendus itu). Oh, maafkan aku, Lim. Aku hanya mencoba bermain-main dengan praduga. Ya, aku percaya kau masih tetap seperti apa yang kaugambarkan tentangmu lewat sebuah surat-sajak; seperti seharusnya aku menyimpul ketakbiasaan hidupmu.

6.

LAKI-LAKI itu mematung di kamar. Ibunya seolah tiada memedulikan. Bahkan mulut wanita��yang sudah layak disebut nenek��itu hanya menyemburkan kata-kata yang membakar perasaan anak semata wayangnya saja.

�Inilah akibat menarik simpati istri orang. Kaupikirkanlah. Bukan kau saja yang masai. Lihat! Untuk apa wanita itu berpisah dengan suaminya bila pangeran yang dinanti pun tidak kunjung menyambanginya; membelai rambut; atau mengecup kening langsatnya... Lihat kau sekarang! Gayamu tak laki-laki sekali!!!�

Puihh! Sejak kapan Mak mahir bersajak?!

�Mengapa kau masih berdiam di depan tivi! Mau menangis kau setelah menonton berita itu?! Pergi sana! Jemput dan menikahlah dengan perempuan di puing pesawat itu!� Nenek tua itu makin ketus. �Takkah kau ingin melihatnya untuk yang terakhir? Ingatlah, belum tentu apa-apa yang kau kira setatar denganmu adalah dia yang akan bersamamu mengayuh biduk hingga ke ujung daratan! Ini karma untuk kau yang rela meninggalkan Maimun dalam keadaan hamil tua! Jangan-jangan janda kanji dari Palembang itu juga menganggapmu masih ting-ting!�

7.

DAUN jatuh. Disapu pagi yang masih mengantuk. Kupu-kupu bersayap pelangi masih mengintip kuncup yang mekar diam-diam. Hari ini daun jatuh (lagi), berserakan di daratan yang dilalui Musi.

Ya, ia memang menyerak di antara mayat-mayat lain yang ikut bergelimpangan di tanah lapang ini. O ya, lihat! Aku tak menangis. Hanya bermata kaca. Walaupun aku takkan mengiriminya surat-sajak lagi, tapi... aku yakin, di malam-malam yang sudah tegak sempurna: ketika orang-orang (termasuk aku di antaranya) sibuk bersetubuh dengan kelam yang berbunga, Tuhan akan menghadiahiku seorang perempuan mati yang merinduiku setengah mati.

Dari mana kau tahu? (tanyamu)

Dari catatan harian yang��aku yakin��ia himpun saban aku menghadiahinya surat-sajak: karena di sana ia seolah bercakap denganku.

Aku meninggalkan bandara. Membawa sebuah organizer-book yang entah bagaimana tak kurang sesuatu apa; tak lecet atau sobek barang secarik. Sangat berbeda dengan dia: tanpa ruh dan terkapar dengan bercak merah di sekujur tubuh.

Adakah yang lebih hebat dari rindu?

Oh, Tuhan baru saja menjawabnya.

Bandara makin ramai. Orang-orang berseragam oranye sibuk mengangkut mayat. Di negeri ini, kecelakaan pesawat seakan-akan sudah lumrah.... ***

/Lubuklinggau, 23 April 2009