Jumat, 31 Desember 2010

Pelepah Ikan

Cerpen Ragdi F. Daye
Dimuat di Koran Tempo, 26/12/2010

"Mau coba anak hiu? Atau ikan pari ini?"

Laki-laki itu sedang memandang perahu-perahu yang mengerubuti sebuah kapal besar penangkap ikan ketika sebuah suara sengau seperti ditujukan kepadanya. Ditolehkannya kepala ke samping. Dan benar, seorang perempuan kurus berbaju lusuh sedang menjinjing seikat ikan dan mengangkatnya ke depan si lelaki.

"Aku belum pernah makan ikan hiu, juga pari."

Perempuan itu tertawa kecil. Satu ujung giginya yang terlalu panjang dan tidak lurus tampak lebih putih oleh cahaya pagi.

"Rasanya enak, seperti daging ayam, apalagi jika dimasak dengan cabe hijau."

Sebenarnya laki-laki itu datang ke pasar ini tak sungguh-sungguh hendak membeli ikan. Dia hanya ingin melihat-lihat. Mereguk udara yang anyir. Ketika menggelengkan kepala, dia teringat minggu kemarin telah membeli seekor ikan kakap kepada perempuan itu, dan tujuh ekor kepiting yang belum mati.

"Oya, kalau ada anak tuna yang pipih, bukan seperti botol, aku mau satu," katanya.

"Kau memesan?"

"Kalau kau mau. Aku tidak buru-buru."

Perempuan itu beranjak dengan ikan-ikan dagangannya. Sekilas matanya yang redup menjangkau mata laki-laki itu. Langkahnya pendek-pendek dibawa kakinya yang bersandal jepit penuh lumpur.

Laki-laki itu bergeser ke dekat sebuah tonggak kayu berwarna hitam. Diedarkannya pandang. Belum terlalu ramai. Belum ada ikan tangkapan pukat nelayan terdekat. Hanya ikan-ikan yang mati tegang dibekukan es balok yang dipecah-pecahkan dalam peti merah bata.

Padahal dia ingin sekali melihat ikan yang mengerang di tangan-tangan lelaki penjual ikan Pasar Gauh ini yang datang subuh-subuh ke tempat pelelangan ikan dengan tubuh mengeras. Kepala ikan-ikan itu bergetar dengan mulut megap-megap memanggil oksigen dan menyemburkan ludah yang bacin. Setelah semua kekalutan dikalahkan maut, batang tubuh mereka yang licin akan menjadi lemah menyerah. Dia akan menikmati kematian ikan-ikan itu seolah-olah merenangi kematiannya sendiri.

Bagaimana bisa dia langsung mengenalinya? Perempuan itu cukup kaget melihat laki-laki itu berdiri dengan gaya yang persis sama seperti minggu sebelumnya, terpaku memandang jauh ke arah laut. Meskipun dia memakai baju kaos, celana semata kaki, dan sandal karet, dia tetap saja terlalu bersih untuk bertandang ke pasar ikan. Tempat ini terlalu lanyah. Dia bukan pembeli yang cerdik. Dia membayar ikan yang diinginkannya tanpa menawar harga. Begitu saja uang meluncur dari sakunya, seolah-olah untuk sesuatu yang dihendaki, dia tak peduli berapa pun uang keluar. Tak seperti pembeli-pembeli lain, mungkin dia mudah ditipu.

Tapi perempuan itu tak menyesal memberikan harga yang tidak tinggi padanya. Entah mengapa, rasanya bila laki-laki itu mau, dia akan merelakan semua ikan-ikannya dibawa tanpa dibayar. Ketika dia memberikan kantong plastik berisi ikan, dan tangan mereka bersentuhan, perempuan itu merasa seakan-akan telah menyerahkan separuh hatinya.

Ah, betapa gila perasaan itu! Dia lepas dari keluarganya seperti tangkai yang patah dilejang badai. Dia terbuang ke dalam hidup yang cemar. Setiap hari dia berebut ikan dengan lelaki-lelaki bertangan besar yang tak hanya mengincar ikan-ikan di keranjang, tapi juga ikan lain yang mendekam dalam dirinya.

Dengan ember hitam berisi air pelabuhan yang kumuh berminyak, dia menyelipkan tubuh menawar ikan-ikan dari kapal tongkang. Ikan-ikan yang kejang. Kadang dia bersekongkol dengan pemuda-pemuda tanggung bercelana selutut yang digulung sampai pangkal paha untuk mencuri ikan dari perahu atau bongkah es dalam peti. Kadang dia memungut ikan-ikan lecet yang tercecer di lantai Tempat Pelelangan Ikan. Semuanya lalu dia jual kembali pada ibu-ibu cerewet berdompet tipis, nyonya-nyonya sok kaya yang menawar setengah harga, pemilik-pemilik rumah makan yang ingin ikan bagus dengan harga murah, atau siapa pun pengunjung pa sar yang menghendaki ikan segar yang diantar kapal tongkang dari samudra buas. Dulu, dia bertubuh bernas, suai sekali dengan nama kampungnya, Padi Boneh. Sekarang jangan ditanya. Meski setiap hari makan lauk tapi darahnya seakan telah membusuk.

Melihat laki-laki itu lagi di Pasar Gauh ini membuat dadanya terasa sejuk, juga jengah. Kemarin dia menduga laki-laki itu hanya seseorang yang tersesat. Atau sekadar iseng ke mari, atau disuruh orang tuanya membeli ikan. Atau istrinya?

Ah, jangan! Agak gugup ketika tadi dia menyapanya. Laki-laki itu begitu asyik memandang ke arah laut sehingga tak mendengar suaranya. Pada pengulangan yang ketiga, dan dia memukulkan punggung tangannya ke punggung tangan laki-laki itu dengan sedikit keras, barulah si lelaki yang tampak resah menoleh. Dia melihat perempuan itu dengan pandangan melamun. Suaranya yang lirih seperti bicara pada seseorang yang tak ada di tempat itu. Dia minta dicarikan seekor anak tuna pipih.

Pasar telah ramai. Lampu-lampu yang lupa dimatikan tampak pucat seperti sekarat. Perahu demi perahu berlabuh menurunkan keranjang-keranjang rotan dan peti-peti sintetik penuh ikan. Para lelaki berambut coklat terpanggang matahari menggotong keranjang dan peti-peti itu.Menimbang dengan neraca gantung. Membagi dan memilah-milah ikan berdasar ukuran, jenis, dan mutu. Orang-orang lalu lalang. Para penjual ikan menggelar jualannya di lantai pasar yang tergenang air hitam. Ikan-ikan tergeletak tanpa harga diri dan impian. Tiga ekor kucing koreng mengeong di selasela loteng. Beberapa ekor camar terbang menukik. Seorang penjual ikan menembakkan air kencingnya ke tembok pasar di sudut.

Buya, ayah nya, ingin laki-laki itu melanjutkan pendidikan ke tanah para Nabi. Dia ingin anaknya menjadi cendekia agar kelak bisa menyiarkan agama seperti dirinya.
Ah, bagaimana bisa? Laki-laki itu cuma ingin menjadi ikan liar di laut ganas. Dia lebih suka jadi ikan yang terjebak dalam jaring, mengerang kehilangan udara, lalu mati lengang. Biarlah tubuhnya cabik dicekik jaring atau koyak moyak diamuk gelombang, tapi dia menjadi diri sendiri. Menjalani ilusinya, bebas-lepas. Kalau pun dia harus terjebak di tangan nelayan berurat besar, biarlah dia kehabisan oksigen saat insangnya direnggut dari lopak kepala. Biarlah dia hilang dalam pelarian yang sungsang.

"Lobster, Bang? Cumi-cumi juga ada!" Seorang penjual ikan datang mengusiknya. Diabaikannya saja. Remaja tak berbaju itu terus mencoba memancing minatnya."Ini lobster biasanya untuk diekspor, Bang. Tak akan dapat yang semurah ini."

Laki-laki itu menggeleng. Buya tak mengenal siapa dia!

Perempuan itu berjalan riang dengan ember hitam di tangan kiri dan seekor ikan hitam kebiruan di tangan kanan. Dia berhasil mendapatkan seekor anak ikan tuna dengan berat hampir tiga kilogram. Ikan itu pipih dan segar. Dia akan memberi lakilaki itu harga delapan puluh ribu, tetapi tetap terbuka kesempatan untuk tawar menawar.

Laki-laki itu tentu tersanjung sekali atas kemurahan hatinya.

"Engkau baik sekali padaku. Adakah maksud tertentu?"

"O, tidak! Mana mungkin aku merayumu dengan wajah seremuk gundukan ikan teri begini. Kau lihatlah sendiri. Memang benar, aku pernah membiarkan satu-dua lelaki pelabuhan ini berdiang di tubuhku, tapi aku tak akan mengotorkan dirimu dengan tubuhku."

"Maukah kau membantuku memasak ikan ini?"

"Oh! Oh! Aku tidak pandai memasak! Nanti tidak enak."

"Bukankah kau sering memasak anak hiu dan ikan pari?"

"Ouk!" Perempuan itu terpekik ketika tangannya disentak dari belakang. Ember hitam berisi ikan-ikannya jatuh. Anak tuna tampan kebiruan itu terlepas. Belum sempat dia minta tolong, tangan kuat itu membekap mulutnya dan menarik tubuhnya ke dalam ruang dingin yang ternyata gudang es balok. Orang itu menghempaskan tubuhnya ke tumpukan es. Dingin yang ngilu menghantam kepala dan sekujur tubuhnya. Lakilaki itu mengunci pintu. Darah perempuan itu serasa membeku. Hanya air mata yang bergetar saat dalam hitungan detik kepalanya direnggut, lalu dibenamkan ke dalam peti berisi es yang mencair.

"Kau pikir kau cantik sekali, heh, Ikan Tongkol! Jual mahal kau!" Telinganya mendengar bunyi dencing sabuk dilepaskan. Laki-laki berperut buntal itu lalu menarik kakinya, menggulingkan ke atas peti, lantas menyiangi tubuhnya. Dia merasa terhempas ke rumah kecil beratap ilalang di Padi Boneh ketika di sebuah sore yang pekat angin kencang berkecamuk bersama hujan petir meremuk atap dan dinding rumah.

Dahan-dahan kayu patah. Dia, ibunya, dan kakak-kakaknya lari tak tentu arah dengan tangis melolonglolong. Ayahnya tertegak kaku di halaman seperti pohon tumbang. Sesuatu yang besar dan keras jatuh dari pucuk pohon kelapa menghantam tubuhnya. Dia terjerembab dalam dingin yang pedih.

Laki-laki bersepatu bot itu mungkin sudah selesai menggarami ikan dalam tubuhnya. Dia membuang napas berbau tembakau sengak lalu mengangkat tubuhnya yang terasa hilang tulang. Pandangan matanya meremang.

"Mampus, kau!" Seperti suara guruh. Seperti suara debum. Badannya terasa remuk. Dinding dingin merah bata! Oh, apa yang bangsat itu lakukan? Batu-batu bening beku, bongkah-bongkah es menghimpit.

"Eii! Eii! Auh!" Laki-laki itu menutup peti. Menaruh dua peti lain di atasnya. Kemudian menyelimuti dengan terpal.

"Tidak! Tidak! Ini tidak sedang terjadi! Aku mungkin ketiduran dan bermimpi. Aku harus segera mengantarkan anak tuna pipih pesanan lelaki itu! Mungkin saja dia mau jadi ayah bagi kedua anakku. O, tidak! Titidak! Dingin sekali! Sakit sekali! Ngilu sekali!"

Hampir pukul sepuluh. Pasar ikan akan segera kosong ditinggalkan. Laki-laki itu telah berulang kali pindah dari satu tonggak ke tonggak lain, sempat pula duduk di bangku kayu, dan minum teh botol di warung dekat WC umum. Perempuan itu tak kunjung datang.

"Ah, mungkin dia malu karena tak berhasil mendapatkan ikan tuna untukku."

Sekali lagi dia melayangkan pandang pada sisa-sisa ikan di lantai pasar, pada tubuh-tubuh laki-laki berdaki yang telah bacin, pada sampah-sampah plastik menghitam yang bertebaran, pada langit yang agak buram, pada sebuah kapal di kejauhan....

"Tapi persetan! Aku akan tetap punya alasan untuk datang lagi ke sini."

Dia melangkah sedikit melompat untuk menghindari genangan air kotor. Seekor udang bungkuk yang telah separuh busuk terinjak kakinya.

"Ikan ambu-ambu, Bang? Masih baru, masih segar!" Dia beli dua ekor sekadar untuk pelepas tanya ibunya.

Dia segera pulang dengan enggan ke rumah teduh di sebelah masjid raya. Untuk berenang dalam akuarium indah di lantai dua yang penuh fantasi warna-warni, ikan-ikan plastik, koral-koral, dan bintang-bintang laut palsu.***

Padang, 2010

Senin, 27 Desember 2010

Tuan Kong Bertanya Kabar Zulkarnain

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Merdeka, 19/12/2010

Lalu kurampungkan karangan ini. Cerita tentang seseorang yang kutemui pada masa lalu. Aku tak memaksa khalayak mempercayai karena lelaki mulia itu, orang yang pernah bergumul denganku dalam cahaya, tak pernah mengajarkan itu. Ya, aku tiba-tiba mengagumi apa-apa yang terserla dalam dirinya, petuah dan peritabiatnya. Di masa sebelum aku mati, lalu hidup lagi, mati lagi, hidup lagi�. Begitulah seterusnya. [1]

Ketika itu, pertikaian antarwilayah kekuasaan Dinasti Chou menyebabkan perpecahan [2]. Lalu muncullah kerajaan-kerajaan. Kerajaan-kerajaan kecil. Kerajaan-kerajaan baru. Dengan raja-raja yang baru. Dengan raja-raja yang kecil. Raja-raja itu menjadi simbol negeri yang dititahnya. Masing-masing negeri mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Raja-raja mengharapkan rakyatnya turut membangun negeri. Namun begitu, raja-raja tak menjanjikan apa-apa (apalagi kedudukan di kerajaan) bagi yang (merasa) berjasa. Bagi yang hendak membantu, silakan. Bagi yang tak berhasrat, jangan membuat masalah. Dan bagai mendapat angin yang berkarib, muncullah pemikir-pemikir. Namun, waktu adalah arena pertandingan yang paling makbul. Maka, seperti buah-buah zaitun yang jatuh berserakan di gurun karena diserang tuba dari Saudi, putaran demi putaran bumi merontokkan satu demi satu para pemikir itu.

Kong Fu Chius. Ialah satu dari segelintir pemikir yang masih layak dipandang. [3] Aku kali pertama bertemu dengannya pada 485 Sebelum Masehi, di Pasar Mun Sian, persis dua puluh kaki dari Pasar Zhengguo. Walaupun namanya sudah menggema di mana-mana�termasuk di Tanah Melayu, namun sekalipun aku belum pernah melihat wajahnya. Jadi, wajar saja kalau awalnya aku tak tahu kalau ia adalah Tuan Kong, demikian orang-orang Cina memanggilnya.

Ketika itu, secara tak terencana, pandangan kami ditabrakkan oleh sesuatu yang bernama kebetulan. Tuan Kong menarik kedua ujung bibirnya melengkung ke atas. Aku serta merta membalas senyumnya. Entah bagaimana, tiba-tiba aku melihat ada cahaya putih yang menyeruak dari wajahnya yang bersih. Cahaya itu makin besar, tebal, dan benderang. Aku bertanya-tanya dalam hati. Siapakah laki-laki itu. Laki-laki yang kutaksir usianya dua puluh tiga tahun. Belum sempat terjawab pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak dalam benakku itu, Tuan Kong menghampiriku. Ia menyentuh, menggamit bahuku. Dan orang-orang sekitar yang tengah sibuk keluar-masuk pasar, serta-merta memperhatikan kami. Tak lama, mereka semua mematung bagai ditotok aliran darahnya. Aku tahu�walaupun tebakan ini belum tentu benar�bagaimana aku (maksudku kami berdua) tiba-tiba menjadi pusat perhatian; karena Tuan Kong menyalurkan kekuatan (entah semacam ilmu kanuragan, entah semacam energi positif, atau�entahlah!) yang membuat tubuhku berlumur cahaya (maksudku tubuh kami berdua bercahaya).

Tuan Kong memperkenalkan diri. Aku tertegun. Ia menanyakan sesuatu kepadaku. Kabar Dzulkarnain. [4] (O o, benarkah kabar yang mengawang itu: Dzulkarnain adalah guru Kong Fu Chius?) Dan aku masih tertegun karena belum mampu memahami apalagi menguasai keadaan. Belum sempat kutanggapi keingintahuannya, ia sudah menyambung pertanyaannya. Apa kabar perdebatan tentang Tembok Dzukarnain? Apakah sudah tersurat dan dimaklumatkan bahwa ialah yang membangun tembok raksasa di negeriku itu? [5] Kalau saja para raja yang mengaku-ngaku itu dapat kutemui, ingin kukatakan yang sebenarnya! [6]

Aku tak sempat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang datang bergerombol itu. Sepertinya Tuan Kong sengaja tak memberiku kesempatan untuk menjawab. Lebih tepatnya lagi, Tuan Kong secara halus memeras semua ingatan dan keterbatasan pengetahuan tentang Dzulkarnain dan Tembok Dzulkarnain itu. Tentu aku takkan menduga bahwa Tuan Kong hanya ingin membuatku penasaran. Tentu pula aku takkan berprasangka bahwa Tuan Kong hanya ingin memberitahuku bahwa dia adalah pemikir hebat, orang yang bercahaya, orang yang dapat membagi cahaya. Satu hal yang membuatku benar-benar heran, mengapa Tuan Kong menanyakan Dzulkarnain dan Tembok Dzulkarnain kepadaku? Maksudku, apakah ia tahu bahwa aku tengah meneliti Tembok Besar China?

�Hei, Kisanak!�

Aku tergeragap. Seolah bangun dari mimpi. Orang-orang yang tadi mematung kini mengerumuniku. Mereka bertanya bagaimana Tuan Kong dapat menemuiku, lalu memelukku. Apa? Memelukku? Tentu saja aku tak dapat menjawab pertanyaan itu karena kepalaku bagai bergasing. Kini, justru aku yang bertanya.

�Jadi, kalian juga melihat pemuda itu, eh, maksudku Tuan Kong?�

Mereka terbahak-bahak. Mereka mengejekku sebagai orang asing. Mereka katakan (seolah mengejekku) bahwa Tuan Kong selalu hadir di titik keramaian, tempat rakyat China menyambung nyawa. Di pasar salah satunya. Mereka sering tak menyadari kehadiran Tuan Kong karena ia selalu pandai mengubah penampilan. Hanya satu yang mencirikan keberadaannya (biasanya bila ia menemui seseorang): Cahaya.

�Apakah wajahnya sudah mengeriput?�

�Mengeriput?�

�Mengeriput dengan cahaya.�

Aku masih bergeming.

�Atau matamu sudah lamur?�

Aku tatap mereka satu-satu sebelum memutuskan untuk mengunci mulutku rapat-rapat. Apakah mereka akan percaya bahwa aku bertemu Tuan Kong dalam penampilannya yang lebih muda? Atau aku memang tengah bertemu Tuan Kong muda? Mungkin saja. Sudahlah, aku tak mau merumitkan ingatan mereka tentang Tuan Kong. O o, tiba-tiba aku bagai tersadar. Kong Fu Chius lahir pada 552 Sebelum Masehi!

Aku permisi minta diberi jalan. Mereka membuka kerumunan. Tak seperti dugaanku bahwa mereka akan bertanya ini-itu (yang tentu saja sedikit banyak akan menghalangi perjalananku). O, alangkah mulianya Tuan Kong di mata mereka hingga kepada aku�seorang Sumatra yang hendak mengunjungi Tembok China�yang baru saja ditemui pun, mereka tak kuasa mencuat tanya karena takut kualat telah menganggu �sahabat� Tuan Kong.

Enam tahun berikutnya aku mendengar kabar kalau Kong Fu Chius meninggal dunia. Tampaknya Tuhan hanya membolehkanku melihat wajahnya sekali seumur hidup. Entah bagaimana, ketika aku bertolak menuju China melalui Singapura, pesawat yang kutumpangi tiba-tiba terbang di atas Segitiga Formosa. [7] Kami angslup dalam pusaran waktu. Kami hidup dalam kerajaan Iblis di bawah laut. Kalian tahu, kadang-kadang Raksasa Bermata Satu mengunjungi kami. Kami tak kunjung tahu dari mana ia berasal. Ada yang bilang ia berasal dari Segitiga Bermuda, ada pula yang bilang ia berasal dari Khurasan.

Ah, aku tertawa sendiri kini. Tertawa sendiri mengingat peristiwa itu. Peristiwa yang bila kuceritakan pada keluarga, kawan, ulama, bahkan sejarawan pun, belum tentu ditanggapi dengan serius. Peristiwa klasik yang masih kuredam dalam ingatan. Peristiwa yang dialami diriku yang lain pada masa lalu. Masa ketika aku masih hidup, lalu mati, hidup lagi, mati lagi�.

Begitu seterusnya. ***

Lubuklinggau, Agustus 2009-Agustus 2010

Catatan:

[1] Reinkarnasi pada umumnya sering dimaknai sebagai kelahiran kembali (rebirth). Kadangkala manusia mendapati dirinya dapat berkelana ke alam atau keadaan atau peristiwa pada masa lalu saat ia terlibat di dalamnya (bukan sekadar pengamat atau penonton); dan hal ini sering dimasukkan dalam tanda-tanda bahwa orang tersebut adalah manusia (hasil) reinkarnasi. Bahkan tanda-tanda kecil semacam seringnya seseorang mengalami de javu, juga dimasukkan ke dalam tanda-tanda manusia (yang telah ber-) reinkarnasi. Deborah Sommer dalam Chinese Religion: An Antology of Sources (1995) menyatakan bahwa reinkarnasi hanyalah sebuah istilah yang masih perlu diperdebatkan, karena de javu, dan mind-twist masih sangat lemah untuk dimasukkan ke dalam ciri bahwa orang tersebut manusia-reinkarnasi. Morris Rossabi dalam Khubilai Khan: His Life and Times (1988) bahkan mengumpamakan �reinkarnasi� sebagai sebuah kebetulan yang hanya dikarang-karang oleh para dukun untuk menunjukkan kehebatan semu mereka demi mengelabui para tentara agar tidak mengusir mereka dari Mongolia.

[2] Awal kekuasaan Dinasti Chou di Timur mencakup 170 wilayah yang mayoritas kecil, yang akhirnya berhasil dihimpun oleh wilayah-wilayah yang tergolong besar dan dipersatukan hingga menjadi negeri yang kuat. Dan wilayah-wilayah kekuasaan Dinasti Chou di antaranya adalah Q-Chi di timur, Yan (wilayah yang mencakup daerah ibukota saat itu), Jin di sebelah barat Yan (yang mencakup daerah selatan Shanxi), dan Qin yang terletak di barat-jauh dan barat daya wilayah kekuasaan, mencakupi ibukota lama dan daerah-daerah yang belum dikuasai bangsa Barbar, dan daerah-daerah yang masuk wilayah mereka namun masih tunduk kepada Dinasti Chou. (Stephen G. Haw dalam A Traveller�s History of China, 1988).

[3] Pokok pemikiran filsafat Konghucu adalah perwujudan sifat-sifat yang bersumber kepada kebaikan, kebajikan, ketaatan, dan ketakwaan, berdasarkan moral dan perilaku positif. Mengenai hal itu, Konghucu mengatakan, �Janganlah kau menyuruh orang lain berbuat sesuatu yang engkau sendiri enggan melakukannya.� (A Concise History of China, JAG Roberts, 1999).

[4] Kisah Dzulkarnain serta berbagai peristiwa dan keajaiban yang terkait dengannya merupakan kisah paling menakjubkan dalam seluruh rangkaian kehidupan manusia. Karena dia merupakan kisah nyata yang titik tolaknya berawal lebih dari 2400 tahun sebelumnya, terutama jika berpatokan pada simpulan penelitian seputar kesamaan sosok Akhnaton, Raja Mesir, yang lahir di mesir sekitar zaman itu, dan peninggalan hidupnya pun masih tersisa sampai sekarang. (Coming of Dzulkarnain, Liu Wenyuan, 1997).

[5] Siapa yang sebenarnya membangun Tembok Besar China hingga kini masih diperdebatkan. Pedebatan itu merujuk pada beberapa raja yang juga berkuasa dan hidup pada masa itu. Perdebatan Dzulkarnain dengan beberapa Dzulkarnain (yang berkemungkinan) palsu perihal siapa yang membangun Tembok Besar China, dapat ditelisik lewat cerpen �Tembok Dzukarnain� karya Benny Arnas di Jurnal Cerpen Indonesia edisi 11 (Akar, Desember 2009).

[6] Dalam subab buku Munculnya Ya�juj dan Ma�juj di Asia (2007), yang bertajuk �Apakah Konghucu Salah Seorang Pengikut Dzulkarnain�, Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid menyatakan bahwa membaca pemikiran dan filsafat Konghucu seolah-olah sedang mengaji lembaran-lembaran pemikiran dan filsafat Islam. Ia meyakini bahwa pemikiran dan filsafat yang demikian tidak akan pernah muncul, kecuali dengan mengikuti petunjuk para rasul dan nabi. Karena Kong Fu Chius lahir dan tumbuh pada masa keemasan Dzulkarnain, maka banyak literatur yang menyebutkan bahwa Dzulkarnain adalah gurunya. Dalam beberapa literatur sejarah, Tembok Besar China-lah yang dianggap sebagai Tembok Dzulkarnain. Kemasyhuran Dzulkarnain itu juga diperkuat pendapat Aisyah Muhammad Said dalam Mengungkap Misteri Perjalanan Dzulkarnain ke Cina (2007) yang menyatakan bahwa Tembok Besar China adalah Tembok (sebagai mahakarya dari) Dzulkarnain sebagaimana termaktub dalam Alquran surat Al Kahfi ayat 83-99.

[7] Penelitian tentang keberadaan kerajaan Iblis di Segitiga Bermuda, juga menyeret nama Segitiga Formosa. Segitiga Formosa diyakini sebagai kerajaan Iblis kedua. Dajjal sendiri, yang dilukiskan sebagai Raksasa Bermata Satu, diceritakan sering berlalu-lalang Bermuda-Formosa demi mengatur kinerja para pungawa kerajaannya (The Bermuda Triangle, Hippy Marl, 1990).

Kiblat

Cerpen Zaenal Radar T

Dimuat di Republika, 19/12/2010

Sejak kabar tentang bergesernya arah kiblat beberapa derajat, masjid di kampungnya Markum tak lagi dikunjungi warga. Alasannya, mereka tidak mau shalat di masjid yang letak kiblatnya salah. Markum, pemuda yang dipercaya mengurus kebersihan masjid, mendatangi warga untuk shalat berjamaah di masjid.

�Kiblat itu arah letak kita shalat. Kalau kita shalat di masjid itu, jangan-jangan kiblat kita selama ini salah menghadap Tuhan?� ujar salah satu warga.

�Tapi, Bang, kan Tuhan ada di mana-mana. Kenapa kita harus mempermasalahkan kiblat? Allah Mahatahu, Bang!� ujar Markum, sambil menatap wajah warga yang diajaknya bicara.

Elo bener Kum, Allah emang Mahatahu. Allah ada di mana-mana. Tapi, semua ada aturannya. Kalau kita shalat menghadap ke kiblat yang salah, jangan-jangan arahnya bukan ke Makkah, tapi ke arah New York?�

�Maksud Abang?� selidik yang lain, tak kalah antusiasnya dengan Markum.

�Kalau kita shalat ke arah New York, berarti kita nyembah orang Amerika!!�

Semua mengangguk-angguk, kecuali Markum.

�Kita jangan menyembah Amerika. Udah ekonomi negara kita berkiblat ke sana, masak urusan yang lain juga kiblatnya sama. Itu namanya menuhankan Amerika!! Apa sih bagusnya Amerika? Bener gak?�

Yang lain kembali mengangguk-angguk. Dan, lagi-lagi Markum cuma diam mematung. Markum jadi bingung, bagaimana cara menjelaskan kepada semua warga, jangan gara-gara arah kiblat yang berubah, terus masjid ditinggalkan.

Seperti menjelang Maghrib kali ini, setelah azan dan iqamah, tak ada jamaah yang datang ke masjid untuk shalat berjamaah. Di sebuah masjid yang lumayan besar, yang bisa memuat sekitar tiga ratus jamaah lebih, Markum shalat sendirian. Ketika shalat, Markum sebenarnya bingung arah kiblat, maka ia geser sajadahnya beberapa senti ke kanan, lalu dia mulai shalat.

Selepas shalat, Markum heran melihat warga yang masih duduk-duduk santai di teras rumah mereka. Anak-anak muda yang habis bermain bola di lapangan gusuran dekat ujung kompleks juga masih terlihat kotor. Markum mendekati mereka seraya mengucapkan salam.

Kok enggak shalat Maghrib di masjid?�

�Nanti aja deh, Bang, soalnya arah kiblatnya belum jelas,� jawab salah seorang anak muda, yang masih bertelanjang dada dan penuh keringat.

�Tapi, kalau enggak shalat di masjid, di rumah juga bisa,� ujar Markum.

�Bang Markum, shalat di masjid atau di rumah sama aja kalau enggak tahu arah kiblatnya,� sela yang lain.

�Jadi, elo semua enggak mau shalat karena arah kiblat belum jelas?�

�Iya Baaang!!� ujar mereka kompak.

Markum pun mengangguk-angguk, padahal dia sulit mengerti dengan jalan pikiran mereka. Lalu, Markum mengucapkan salam dan berlalu.

Markum mendatangi Haji Bantong, sesepuh kampung yang jarang shalat di masjid karena sudah membangun mushala sendiri di samping rumahnya. Haji Bantong sengaja membuat mushala karena menurutnya masjid letaknya terlalu jauh. Padahal, masjid itu berdiri di atas tanah miliknya, yang beliau hibahkan untuk pembangunan rumah ibadah. Selain itu, Haji Bantong sebenarnya salah satu pengurus masjid yang dipercaya sebagai ketua Dewan Kesejahteraan Masjid.

�Assalamualaikum Pak Haji!�

�Waalaikumussalam � eh, elo Kum? Tumben lo mampir? Ada apa?�

Markum pun bercerita tentang masjid yang sepi karena arah kiblat yang berubah. Haji Bantong hanya mengangguk-angguk mendengar cerita Markum. Haji Bantong tampak menarik napas berat, lalu mengembuskannya perlahan. Seperti ingin menumpahkan beban berat pikirannya.

�Kum, lo tahu kan kalau gua punya mushala. Nah, gua sendiri juga udah kagak shalat di mushala. Gua shalat di kamar. Waktu ditanya arah kiblat, gua juga gak bisa jawab. Gua sendiri kagak paham, jangan-jangan gua juga salah menghadap kiblat?�

�Terus jalan keluarnya gimana Pak Haji?�

�Jalan keluar mah gampang Kum. Asal kelihatan pintu, elo buka tuh pintu, elo keluar dah. Hahahaa�.�

�Ah, Pak Haji kok becanda, sih?�

�Abis Kum, gua pusing. Gua mau nanya sama siapa?�

�Pak Haji, pan si Hasan kuliah di Universitas Islam Negeri, tanya dia aja.�

Gua juga emang mau nanya dia. Dia baru pulang dari tempat kosan.�

�Selain si Hasan, yang tahu kira-kira siapa, Pak Haji?�

�Yang tahu itu � yang ngerti. Ya udah, yuk kita cari si Hasan. Mudah-mudahan dia udah istirahat cukup.�

Haji Bantong pun mencari-cari Hasan, putranya yang kuliah di Universitas Islam Negeri itu. Hasan adalah putra bontot Haji Bantong dan satu-satunya anak yang masih kuliah dan belum menikah. Haji Bantong punya tiga belas anak. Hanya Hasan yang masih kuliah dan belum menikah.

�San � Hasan!! Sini lo tong!!� teriak Haji Bantong, saat melihat Hasan yang baru keluar dari kamarnya. Wajahnya masih terlihat lelah.

�Ada apa, Beh?�

�Begini, San, gua mau tanya soal tempo hari yang gua tanyain ke elo di telepon. Soal arah kiblat. Gua pusing, San!�

�Beh, arah kiblat gak usah dipusingin. Babeh tinggal geser aja beberapa derajat ke kanan, terus Babeh shalat deh. Gitu aja kok repot?�

�Kayak almarhum Gus Dur lo, San!� Haji Bantong tampak kesal, lalu dia berkata lagi, �Gesernya ke mana? Berarti gua kudu ngegeser masjid dong?�

�Ya enggak usah segitunya, Beh. Geser aja sajadahnya � beres. Gitu aja kok�.�

�Repot!!� Haji Bantong melanjutkan kata-kata Hasan, yang sejak kecil gandrung pada tokoh almarhum Gus Dur.

�Kalau begitu, habis Isya saya mau geser letak sajadah masjid Pak Haji.�

�Kum, kalau masjid boleh dah elo geser sajadahnya. Tapi, kalo mushala, kayaknya besok gua mau renovasi aja!�

�Maksud Pak Haji?�

�Mushala pan lebih kecil, jadi bangunannya gua miringin sesuai arah kiblat.�

�Pak Haji, kata si Hasan kan cukup sajadahnya aja.�

�Kalau sajadahnya aja, kayaknya kurang afdol!�

�Kalau begitu, masjid juga direnovasi aja Pak Haji!�

�Kalau masjid modalnya kegedean. Nunggu sumbangan warga, jadinya bisa lama!�

�Terus gimana caranya supaya warga mau shalat di masjid, kalau arah kiblatnya masih salah?�

�Nanti juga kalau sajadah udah sesuai arah kiblat, warga mau shalat di masjid!�

Setelah itu, Markum kembali ke masjid. Waktu Shalat Isya sudah tiba. Markum seperti biasa, mengumandangkan azan. Setelah azan selesai, Markum shalat sunah qabliyah Isya dua rakaat. Sesudah itu, menunggu jamaah yang datang barang beberapa menit. Karena belum ada yang terlihat batang hidungnya, Markum pun mengumandangkan iqamah. Karena masih juga tak ada yang datang ke masjid, Markum shalat sendirian. Tak lupa letak sajadah dimiringkan beberapa senti ke kanan, dan Markum mulai shalat sendirian.

***

Keesokan harinya, di mushala Haji Bantong, barang-barang dari material berdatangan. Barang-barang berupa pasir, batu koral, dan semen diletakkan di samping mushala. Rencananya, Haji Bantong bakalan menggeser letak mushalanya beberapa derajat ke kanan, ke arah kiblat. Seperti yang dijelaskan oleh putra bontotnya, Hasan.

Berbeda dengan mushala, di masjid yang lumayan luas, Markum sendirian mengubah letak sajadah, menggesernya beberapa derajat ke kanan. Setelah sajadah digeser semua, kelihatannya memang tidak terlalu rapi. Posisi jamaah nantinya memang akan miring, tidak mengikuti arah bangunan masjid.

Hampir setengah harian Markum berkutat merapikan sajadah-sajadah itu, hingga akhirnya waktu Zhuhur tiba. Sebelum azan, Markum pun mengumumkan di speaker masjid.

�Assalamualaikum warohmatullahi wabarakaaatuh! Kami beritahukan, kepada seluruh warga, bahwasannya letak kiblat di masjid Al-Ikhlas sudah dirapikan. Sekarang kita bisa shalat berjamaah dengan khusuk. Demikianlah pemberitahuan ini, wassalamualaikum warohmatullahi wabarakaatuh!�

Ketika waktu Zhuhur tiba, Markum mengumandangkan azan. Tetapi, sampai Markum usai shalat sunah dua rakaat dan mengumandangkan iqamah, jamaah belum juga datang. Markum pun melaksanakan shalat sendirian.

***

Markum kembali keliling kampung untuk mengabarkan kepada seluruh warga bahwa letak sajadah di masjid sudah diatur sedemikian rupa sehingga arah kiblat tidak lagi salah arah.

�Tapi, Kum, apa ente yakin kalau letak sajadahnya bener-bener ke kiblat?� selidik salah seorang warga.

�Saya sudah melakukannya seperti yang diberi tahu si Hasan, anak Pak Haji Bantong yang kuliah di UIN.�

�Apa si Hasan enggak salah arah, tuh?�

�Anak kuliahan enggak bakalan salah, Bang!�

�Siapa bilang anak kuliahan enggak ada yang salah? Itu yang suka tawuran dan demo kagak karuan, kan anak-anak kuliahan?�

�Si Hasan itu anak Universitas Islam Negeri? Fakultas Tarbiyah! Kalau kagak salah, dia calon mubaligh!�

�Jangankan calon mubaligh, mubalighnya aja bisa keseleo! Bisa salah jalan�!�

�Ya udah, langsung aja deh kalo gitu. Abang, sebenarnya mau shalat di masjid kagak?�

�Kalau arah kiblatnya sudah benar, pastilah!!�

Tiba-tiba dari salah satu arah, dua pemuda berlarian mendekati Markum dan sekumpulan warga.

�Ada apa??�

�Astaghfirullah, Bang! Tadi kita-kita ada di deket masjid, masjid bergeser ke kanan bang!!�

�Bener Bang!! Saya sampai kaget!�

�Astaghfirullaaaah �.!!!� Semua orang beristighfar.

Beberapa warga bahkan gemetaran. Tetapi, ada juga yang masih belum percaya.

Masak sih?? Jangan-jangan ada gempa kecil-kecilan?�

Hush! Kalau gempa, kita juga bisa ngerasain!!�

�Ayo kita lihat!!�

Akhirnya Markum bersama pemuda dan beberapa warga melangkah menuju masjid. Semua memperhatikan letak bangunan masjid. Semua tercengang saat melihat bekas tiang masjid yang seolah-olah telah bergeser. Yang lain juga bisa melihat dengan jelas bahwa tiang-tiang yang lain juga bergeser, mengikuti arah sajadah yang tadi digelar oleh Markum.

�Allah memang Mahabesar!! Masjid ini sekarang arah kiblatnya sudah sesuai!!� ucap Markum, lalu menghela napas lega.

�Alhamdulillaaaah �!!� semua warga bersyukur.

Beberapa saat kemudian, masjid pun sudah dipenuhi warga yang ingin melihat-lihat pergeserannya. Ketika waktu shalat Ashar hampir tiba, satu per satu warga sudah tak lagi ada di dekat masjid. Markum mengumandangkan azan, memanggil jamaah untuk shalat berjamaah. Akan tetapi, setelah azan sudah selesai dalam beberapa menit, belum juga ada jamaah yang datang. Markum pun menunggu beberapa menit lagi. Masih juga belum ada yang datang. Markum akhirnya memutuskan shalat sendirian.

Setelah shalat usai, Markum kembali keliling kampung. Markum ingin bertanya kepada warga, kira-kira setelah arah kiblat di masjidnya sudah benar, apalagi alasan mereka tak mau shalat berjamaah di masjid. ***

Minggu, 19 Desember 2010

Ops!

Cerpen Fahri Asiza
Dimuat di Harian Global, 11/12/2010

Superman diundang ke sebuah seminar yang diadakan di hotel berbintang lima di Jakarta. Manusia baja dari planet Krypton itu datang tepat pada waktunya. Orang-orang terpana melihat kegagahannya. Lampu blizt para fotografer dari berbagai media massa berkilat-kilat. Para reporter televisi dan radio sibuk melakukan liputan langsung. Suasana ramai, menggema.

Superman ternyata lebih gagah daripada yang ada di komik, novel, serial teve maupun dalam film layar lebar. Baju biru ketat yang terbuat dari bahan anti api, peluru, rudal maupun nuklir pas sekali pada tubuhnya yang berotot. Celana dalam merah yang dipakai di luar menambah kegagahannya. Belum lagi jubahnya yang berkibar-kibar saat dia turun dan hinggap di tempat yang disediakan di pelataran parkir hotel itu. Hurup S yang ada di dalam garis berbentuk berlian bercahaya.

Pemimpin seminar adalah seorang menteri terpilih yang berhasil membantu menggulingkan pemimpin yang lama. Dia memberi sambutan kedatangan manusia ajaib dari luar angkasa itu. Konon kehebatan Superman mengalahkan Songoku, Songohan, Songoten, Bezita maupun Trunks, manusia-manusia Planet Saiya yang bisa menjadi manusia super saiya lima.

"Terimakasih pada Mr. Superman yang mau memenuhi undangan kami!" begitu sambutan pertama Pak Menteri di atas podium, di hadapan para hadirin yang untuk hari ini seluruhnya berpakaian resmi. "Undangan ini memang khusus kami tujukan kepada mister, untuk membantu kami menyelesaikan pertikaian demi pertikaian yang terjadi di negeri ini. Anda sebagai manusia baja yang bisa melihat kejauhan dalam jarak tak terhingga dengan sinar X yang Anda miliki, sangat kami harapkan bantuannya untuk memantau keadaan yang ada. Para penjabat tinggi negara, para jenderal, para tamu luar negeri dan saudara-saudara sekali, kami perkenalkan, tamu kehormatan kita! Misteeeerr.... Superman!!" Orang-orang bertepuk tangan ramai. Lampu blizt berpendar-pendar lagi.

Seminar pun dimulai. Masalah kekerasan yang masih terjadi di negara ini menjadi fokus utama. Debat kusir terjadi. Masing-masing berusaha mempertahankan pendapatnya walaupun salah. Bagi mereka, terlihat hebat lebih penting ketimbang diam. Padahal, mereka sedang menata kebodohannya sendiri. Seminar itu tidak membawa hasil apa-apa. Tapi sebuah keputusan didapat, Superman bersedia menggantikan aparat kepolisian yang sudah jatuh bangun, apalagi kini dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Orang-orang bersorak, mengelu-elukannya. Berharap kedamaian akan tercipta berkat bantuan orang terkuat di bumi itu.

***

Yang dilakukan manusia baja itu pertama-tama memantau keadaan dari udara. Dengan kemampuannya melihat kejauhan itu, semuanya dapat dijangkau dengan mudah. Deru baling-baling sepuluh buah helikopter terdengar keras. Lima belas stasiun teve dari dalam maupun luar negeri berlomba-lomba untuk meliput kegiatan Superman. Sisanya para pejabat yang ingin langsung memantau.

Kemana pun Superman pergi, mereka mengikutinya. Hari pertama Superman merasa kepalanya pusing. Dilihatnya kekerasan berserakan di mana-mana. Di sebuah jalan, seorang nenek diperkosa tujuh berandalan. Di sebuah rumah, lima perampok sedang menguras harta benda tuan rumah. Di dalam taksi, dua orang remaja sedang menodong sang sopir. Di depan istana, para demonstran sedang bertarung dengan aparat.Di jalan protokol, para pelajar pecah dalam tawuran. Di sebuah tempat, sebuah bus kota hancur dibakar massa. Di bawah lampu merah, seorang pencopet tewas dihakimi massa. Di dekat halte, seorang polisi sedang menerima tiga puluh ribu rupiah dari pelanggar lalu lintas. Di salah satu bagian ruang pengadilan, seseorang memberikan sebuah kunci mobil pada seseorang yang mengenakan jubah. Di gedung DPR/MPR terjadi perkelahian sengit.

Hari kedua, Superman lebih pusing lagi. Seorang Polisi tewas dihajar preman. Seorang artis dituduh menyimpan shabu-shabu. Seorang pejabat tertangkap basah memperkosa bocah laki-laki berusia 12 tahun. Seorang tante merayu joki three-in-one. Di sebuah desa, aparat kepolisian berperang melawan gerombolan.Sebuah kantor polisi dibakar massa. Bom meledak di sebuah gedung. Seorang lelaki bunuh diri karena pacarnya kabur dengan lelaki lain. Sebagian orang penting, melakukan ruwatan.

Superman yang sedang patroli dari udara melayang turun. Mampir ke toko obat untuk membeli obat sakit kepala. Sebelum penjual obat itu berteriak-teriak kegirangan karena melihatnya, Superman sudah melayang lagi di udara.

"Sejauh ini, Superman belum melakukan tindakan apa-apa," lapor seorang reporter sebuah televisi swasta. "Rupanya manusia baja itu masih terus memantau keadaan yang semakin kacau."

Di rumah-rumah, seluruh rakyat Indonesia menyaksikan perbuatan manusia baja itu melalui layar kaca. Mereka mengelu-ngelukannya. Ada juga yang mengeluh, "Kok cuma terbang melulu? Tidak melakukan tindakan apa-apa?" Ada juga yang bilang, "Kayak lagi study banding, tapi hasilnya apa?"

Hari ketiga, Superman menemui menteri yang memimpin seminar waktu itu. "Maaf, Bapak Menteri. Rupanya kekerasan di negeri Anda ini sudah berada dalam taraf yang parah."

"Itulah sebabnya, saya membutuhkan orang super sakti seperti Anda."

"Sebaiknya Anda mengundang Suma Han saja. Pendekar Super Sakti dari Pulau Es."

"Kami sudah mengundangnya. Tapi menurut Suhu Suma Han, jaraknya sangat jauh dari tempat dia berada. Kalau Anda, kan tinggal melayang saja, Mister."

Superman mengambil sebatang kretek dan mengisapnya. "Walaupun saya memiliki kecepatan melebihi kilat, tapi sulit memberantas kekerasan di negeri Anda ini. Negeri Anda sangat luas. Penduduknya beragam dan banyak sekali. Mungkin dalam setiap detiknya, lima puluh kekerasan bisa terjadi."

"Maksud Anda bagaimana?"

"Saya mengundurkan diri. Saya tidak sanggup mengatasinya."

"O... saya suka keterusterangan Anda. Mengundurkan diri karena tidak sanggup. Bukan alasan macam-macam, yang pada intinya, sebenarnya memang tidak sanggup. Apakah gaji yang saya berikan kecil?"

"Alasan saya bukan itu. Saya tidak memperhitungkan bayaran. Saya bekerja karena rasa kemanusiaan. Jadi kalau saya mau membantu masalah Anda, memang tulus dari hati saya. Cuma, walaupun saya manusia super, tapi rasanya sulit mengatasi masalah di negeri Anda."

"Sebaiknya bagaimana?"

"Saya akan kembali ke Planet saya. Planet saya memang telah hancur. Tapi saya ingin menatanya kembali. Karena, di Planet saya satu sama lain saling menghargai. Mereka tidak saling mencacimaki atau menghujat. Saya yakin, dalam waktu singkat, planet saya akan menjadi planet abadi yang penuh keindahan dan keharmonisan."

"Jadi... bagaimana sekarang?"

"Negeri Anda yang bisa membuat indah, harmoni dan saling menghargai adalah dari dalam diri sendiri. Bukan atas bantuan orang lain. Apalagi rasa kasihan orang lain. Bila Anda sudah menemukan hal itu, saya yakin, tak lama lagi negeri Anda akan kembali menjadi bumi yang paling subur."

"Apa mungkin?" Bapak Menteri menghapus keringatnya.

"Itulah yang saya tidak yakin� Permisi!" Dua detik kemudian, sosok manusia baja itu sudah tidak nampak lagi.

Bapak Menteri berlari keluar. Ada sesuatu yang lupa untuk disampaikan. Tapi Superman sudah menghilang. Puluhan reporter dan fotografer sudah menunggu di halaman. Begitu melihat Pak Menteri, mereka menghujaninya banyak pertanyaan, yang saling bertabrakan, tumpang tindih dan tak tentu arah.

Pak Menteri tersenyum. Lalu berkata tenang, "Karena tak sanggup, saya mengundurkan diri� dan saya juga menyarankan, bila teman-teman tak sanggup menyelesaikan masalah di negeri ini, sebaiknya mengundurkan diri." ***

Warung Copet-Copet

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jurnal Bogor, 12/12/2010

Tadi aku bertemu Minah sedang jaga counternya Haji Samsul di Pasar Satelit. Katanya ia kecurian uang, Kak?� sigap Dul mengambil posisi duduk di warung Bi Ano. �Kopinya satu, Tin!�

�Alaah paling-paling kelupaan naruhnya,� Jami melepaskan topi koboinya dan menaruhnya di meja.

�Topi baru tuh!� Dul melirik topi koboi Jami.

�Ooo� tadi Subuh nemu di pasar. Yah kupakai saja untuk��

�Untuk apa, Kak?�

�Ngg..ngg..nggak untuk apa-apa.� Jami kikuk. �Sudahlah, nggak usah dibahas! O ya, siapa yang ngantar kamu ke sini barusan? Tukang ojek baru ya?�

�Takut ada saingan ya, Kak? He..he..he�� Dul nyengir. �Itu kawan SMA-ku dari Palembang. Mirip Giring-Nidji, kan?He..he..he�� Dul meraih pisang goreng. �Kebetulan dia liburan ke Linggau, trus ketemuan di jalan, jadi aku minta antar ke sini.�

�Asas manfaat!�

�Dari pada naik ojek, 3.000!�

Jami menghirup kopi pahitnya yang mulai dingin.

�O ya Kak, kata Minah tadi ia benar-benar kecurian��

�Dia kenal orang yang nyuri?�

�Katanya baru kali ini dia ngeliat orang itu di Pasar Satelit. Ceritanya orang itu pura-pura mau ngisi pulsa pagi tadi.�

�Trus?�

�Minah ngambil HP yang biasa digunakan untuk transfer pulsa elektrik ke dalam. Eeeh sepeninggalnya ke dalam, dompetnya raib. Lelaki yang mau ngisi pulsa itu entah pergi ke mana!�

�Ciri-cirinya?�

�Nah, aku lupa nanya, Kak!� Dul menepuk jidatnya.

�Sudahlah, Minah memang sering teledor. Untung bukan uang counter yang hilang!�

�Kok malah menyalahkan Minah, Kak? Kan kasihan��

�Minah itu orangnya memang teledoran, Dul. Kamu masih ingat kan, 3 hari yang lalu dia juga ke pasar atas, terus pulang nangis, ngadu dengan ayukmu. Katanya kecopetan, tak tahunya dompetnya masih ada di bawah bantal tempat tidurnya.� Dul manggut-manggut.

�Sudahlah tak usah berlebihan. Aku tahu kamu naksir dengan adik iparku itu�.� Muka Dul bersemu merah.

�Makasih, Cantik,� Dul tersenyum dengan tatapan nakal pada Tini yang menghidangkan kopi panas pesanannya.

�Dasar mata keranjang!� Jami menyentil telinga pemuda dua puluhan itu.

Tini bergegas ke belakang warung setelah mendengar Bi Ano berteriak untuk mengangkat gorengan tahu. Sebenarnya tanpa diteriaki ibunya pun, Tini juga akan segera berlalu dari hadapan dua lelaki yang kertas bon-nya sudah menumpuk di dinding warung itu.

�Lagi cair, Kak?� Dul menyeruput kopi. Matanya melirik jari jemari Jami yang menghitung beberapa lembar 20 ribuan.

�Hussh!� Jami menyalibkan telunjuk di bibir legamnya. �Jangan keras-keras nanti didengar Bi Ano. Disuruh bayar Bon. Mati aku!�

Dul terkekeh kecil, �Sekalian bayarin bon-nya Dul, Kak!� bisiknya sambil menopangkan sebelah tangannya di dekat telinga Jami.

�Ngawur!� Jami menepiskan tangan Dul. �Ini sebagian kecil simpananku di bawah lipatan pakaian di almari!� Jami memasukkan uang yang sudah tersusun rapi itu ke dalam dompet kumalnya. Satu lembar 20 ribuan terselip di antara telunjuk dan jari tengahnya.

�Untuk Dul, Kak?� Dul sumringah. Matanya membelalak.

�Enak aja kamu!�

�Ya bagi-bagilah kalau ada rezeki.�

�Sudah kubilang ini bukan rezeki tapi simpananku. Itu pun ada perlunya. Memangnya kamu nggak tahu kalau kandungan ayukmu sudah 8 bulan-an.�

�Yaaa �kan brojolnya pas 9 bulan-an. Udahlah Kak, tak baik terlalu pelit jadi orang. Apapun itu namanya, yang jelas Kakak megang banyak uang.�

�Huh! Capek aku ngomong dengan pemalas kayak kamu, Dul! Ya sudah, untuk pagi ini, aku yang bayar sarapanmu!�

�Nah gitu dong!� Dul terkekeh renyah. �Kakak mau ke mana?� tanya Dul demi melihat Jami yang beringsut dari tempat duduknya.

�Ya ngojeklah. Kamu ndiri nggak narik?�

�Entar Kak. Agak siangan dikitlah,� Dul mencangking tahu goreng yang baru dihidangkan.

Tini hanya mengelengkan kepala. �Dasar pemalas!� batinnya.

�Tin, ini 20 ribu untuk kopiku!� Jami menunjuk gelas kopi yang tinggal ampas. Dul berhenti mengunyah. Matanya melirik Jami.

�Iya, iya, Bujang.� Kak Jami menepuk pundak Dul, �Kau itung juga sarapannya Dul. Sisanya kamu ambil.� Tini mengambil uang itu. Kak Jami mengegas motornya, berlalu mengibaskan debu di warung gorengan tepi jalan itu.

�Huh, kalau kamu dikasihnya, Tin. Tapi kalau aku��

�Alah dikasih apanya, Dul,� potong Tini, �uang segini juga nggak ada sisanya kalau ngeliat gorengan-gorengan yang sudah kamu embat!� Dul mesem-mesem.

�Lagipula, kalaupun ada lebihnya, juga nggak bakal cukup nombokin utangnya!� Tini nyerocos sambil membereskan gelas kopi Kak Jami.

�Jadi, Kak Jami itu banyak bon-nya ya, Tin?�

�Masih banyakan kamu, Dul!� Dul tersedak.

�Minum ambil sendiri di belakang,� Tini berlalu membawa gelas dan lap ke belakang. Dul menuju becaknya, berlalu tanpa permisi.

�Ngapain sih, Bu? Dari pagi sampai siang begini, nggak ke depan-depan juga? Di belakang aja mendepnya?�

�Kamu capek jaga warung sendirian?�

�Alah Ibu, tumben sensitif. Ibu juga nggak nganggur di belakang. Tuh, piring, gelas, dan gorengan sudah ibu bereskan.�

�Ibu sedih, Tin. Ibu kecopetan.�

�Kecopetan?!�

�Iya. Dini hari tadi, Tin. Ibu baru sadar kalau lelaki yang ibu kira tak sengaja menabrak Ibu itu ternyata pencopetnya. Ini semua masih ngutang dengan pedagang-pedagang pasar pagi,� Bi Ano menunjuk tahu, pisang, ubi rambat, ubi kayu, sukun, ketan, dan penganan goreng lainnya. �Untung mereka sudah langganan ibu semua. Jadi, mereka percaya saja.� Tini mengangguk-angguk tanda turut merasakan kesedihan ibunya.

Bi Ano memang berbelanja ke pasar pagi saban pukul empat dini hari untuk membeli macam-macam penganan yang akan diogoreng di subuh harinya. Sementara Tini, membereskan warung, menjerang air panas, mencuci gelas-piring, menderek air dari sumur umum di kampung SS . Baru setelah subuh, Tini membuka warung. Bi Ano juga sudah membawa barang-barang belanjaannya ke belakang. Rutinitas itu sudah berlangsung ba�da kematian suami Bi Ano, 8 tahun yang lalu.

�Ibu kenal yang nabrak?�

�Mana tahulah, Tin. Namanya juga pasar, orangnya berdesakan. Lagi pula lelaki itu memakai penutup kepala, jadi wajahnya nggak keliatan. Yang jelas, Ibu hakul yakin kalau lelaki yang nabrak itu adalah copetnya. Yah pokoknya kata orang piling gitu, Tin�

* * *

�Ada Bi Ano, Tin?�

�Ooo Yuk Ling, Minah. Sebentar, dipanggil dulu. ibu di belakang� Minah dan Ling duduk di kursi panjang warung itu sambil mengelus perutnya yang membesar.

�Eeeeh Minah, Ling, tumben. Ada apa?�

�Tadi ada Kak Jami ke sini?� tanya Ling.

�Iya. Biasalah ngopi pagi bareng Dul. Ada apa memangnya, Ling?�

�Uangku dicuri, Bi!�

�Siapa yang nyuri? Bukan suamimu, kan?�

�Bukan, Bi!� Ling menggeleng, �Aku kenal perawakannya Kak Jami!�

�Jadi kamu sempat ngeliat pencurinya?�

�Iya Bi. Tadi sekitar jam 11-an. Waktu itu aku baru pulang dari counter, jemput pembukuan yang tertinggal. Tak tahunya Yuk Ling sudah nangis di samping almarinya yang acak-acakkan. Semua simpanannya raib. Katanya pencuri itu keburu pergi. Tapi Yuk Ling ingat perawakan dan warna bajunya, Bi,� jelas Minah. Di sampingnya Yuk Ling tampak sangat galau.

�Wah susah juga kalau cuma itu yang diingat, Yuk.� ujar Tini lemah.

�Itu persiapan ngelahirin nanti�� Ling mulai menangis.

Bi Ano dan Tini turut terbawa suasana. Mata mereka mulai berkaca, tak tega melihat wanita yang tengah hamil muda tersebut menanggung masalah yang pelik.

�Kalau Kak Jami mampir, sampaikan dengan dia. Aku dan Minah pergi ke rumah emak di Megang. Aku nggak masak, Bi. Nggak ada uang. Mmm�, kalau Bibi ada uang��

�Sabar ya Ling,� Bi Ano mendekati Ling, �Bibi juga baru kecopetan Subuh tadi.� Ling mengangguk. Tak disangkanya kalau Bi Ano bernasib serupa dengannya.

Tini beringsut mendekati Ling. �Cuma ini, Yuk. Pakai dulu untuk ongkos,� Tini menyesakkan selembar uang 5 ribu ke tangan Ling.

�Terimakasih Tin. Aku pergi dulu.�

�Ati-ati, Yuk.�

Tiba-tiba. �Tin, aku bayar utang hari ini! Lunas!� seorang pemuda tanggung melemparkan selembar 50 ribuan di atas kaleng kerupuk. Ling terperangah melihat ke pemuda tersebut. Ling memelototinya dengan seksama.

�Wah banyak rezeki hari ini, Dul!� Tini mengambil uang tersebut. Dul tak menjawab, ia tertegun mendapati seorang wanita hamil di warung itu.

�Kau?!� Ling menunjuk-nunjuk Dul.

�Ada apa, Ling?� tanya Bi Ano.

�Aku nggak nyangka, kamu yang nyuri uangku di almari, Dul!� Ling mencak-mencak. Bi Ano dan Tini terperangah.

�Eh Yuk, jangan asal tuduh! Mentang-mentang aku megang banyak uang dikirain nyuri uang situ!� jawab Dul ketus.

�Ya ya ya, kamu. Enggak salah lagi! Perawakan dan bajumu persis dengan yang nyuri!� Dul bergegas hendak keluar warung. Tapi�

�BUG!� Bogem mentah mendarat di wajah Dul. Wanita-wanita di warung itu berteriak. Meja dan kursi kayu goyah. Beberapa nampan gorengan dan kaleng kerupuk jatuh ke tanah.

�Kak, K�K..Kak�!� Dul terperajat mendapati kerah bajunya dalam cengkeraman Jami.

�Aduh..aduh�, jangan ribut di sini!� Bi Ano panik, mengangkat piring dan gelas yang belum dibereskan ke belakang. �Oalah�warungku!�

Jami menyeret Dul keluar warung dan menghempaskannya di tanah kosong berpasir di samping warung. Minah merangkul Yuk Ling. Mereka sama-sama menangis menyaksikan Jami yang mulai terdesak. Entah dari mana datangnya, Dul sudah dibantu seseorang yang tampak dengan beringas menghajar Jami. Sementara itu, Tini dan Bi Ano berteriak minta tolong. Banyak orang berdatangan, tapi mereka tak banyak berperan melerai perkelahian itu. Mereka hanya menonton, seakan-akan perkelahian yang berkabut debu dan pasir itu menjadi tontonan yang menghibur di tengah teriknya hari.

�Jangan bergerak!� tiba-tiba 4 orang polisi menodongkan pistolnya ke arena perkelahian.

Orang-orang bersorak kecewa, merasa tontonan mereka begitu cepat berakhir.

�Pemuda itu yang mencuri uang saya, Pak Polisi!� Ling menunjuk-nunjuk Dul.

�Ibu ikut kami juga ke Kantor Polisi!�

�Lho kok?� Ling protes.

�Sebagai saksi,� jawab polisi singkat. Tampaknya ia yang berpangkat paling tinggi di antara rekan-rekannya. �Bawa ketiga lelaki itu ke mobil� perintahnya pada yang lain.

�Min, kamu temani ayuk!� Ling menarik tangan Minah.

�Tanpa diminta pun, aku juga akan ke sana, Yuk.� Mereka menaiki mobil bak terbuka bersama ketiga lelaki yang lainnya.

�Apa maksudmu tadi, Min?� tanya Ling sesaat setelah mobil bak terbuka tersebut melesat.

�Lha wong temannya Dul yang ngeroyok suami kakak itu juga pencuri?�

�Maksudmu?�

�Dia itulah yang mencuri uangku di counter tadi, Yuk! Aku memang nggak begitu kenal wajahnya, tapi di Lubuklinggau ini, berapa orang sih yang rambutnya kribo kayak sarang tawon gitu!�

�Tadi aku kira artis yang sering muncul di TV itu lho, Min.�

�Iya Yuk. Aku juga ketipu, mirip-mirip vokalisnya Nidji��

�Siapa? Nidji, Siji��

�Sudah Yuk, nggak penting!�

* * *

Tini sibuk membenahi kerusakan kecil di beberapa bagian dinding, meja, dan kursi kayu warungnya. Mereka belum menerima pembeli. Walaupun kerusakan warung itu tidak terlalu parah, namun Bi Ano masih syok. Tubuhnya lemas. Tampaknya darah rendahnya kumat.

�Udah Bu, biar Tini yang beresin.� Tini mencegah ibunya yang hendak membereskan beberapa gorengan yang berserakan di meja.

�Ini topi siapa, Tin?� tanya Bi Ano dengan ekspresi terkejut.

�Enggak tahu, Bu. Ada apa memangnya? Kok sepertinya ibu tahu dengan topi itu?�

�Ibu ingat, lelaki yang menabrak ibu dini hari tadi memakai topi ini.� Bi Ano mengangkat topi koboi itu.

�Jadi, pencopet itu sempat makan gorengan di sini, Bu?� ***


Senin, 13 Desember 2010

Mata Pencerita

Cerpen Aida Radar
Dimuat di Lampung Post, Minggu 12 Desember 2010

TAK ada yang tahu siapa laki-laki tua itu. Dari mana dia berasal dan mengapa dia bisa berada di kampung ini. Orang-orang dewasa di kampung menyebutnya si tua misterius. Sementara anak-anak meneriakinya "O...rang gila...!" Maka, tiada bayangan jejaknya yang bisa kutelusuri. Hanya satu informasi bahwa ia terlihat di kampung sehari sebelum aku mudik dari tempat studi di Kota Daeng*.

Awal kulihat dia keesokan hari setelah tiba di Goto�nama kampungku di Pulau Tidore. Ketika menyusuri jalan setapak diterangi lampu 5 watt yang bersebelahan dengan perkuburan tua; di tengah sayup-sayup lolongan anjing kampung yang memilu, pukul empat subuh; dan di antara semilir angin malam yang menggoyang-goyang daun pala di atas makam-makam itu; kudapati sosoknya.

Sempat aku terhenyak. Kukira dia salah satu makhluk makam tua itu. Bagaimana tidak. Di waktu seperti itu, di pagi yang masih mendengkur, dipastikan belum ada orang kampung yang berseliweran. Semua masih meringkuk di balik selimut hangatnya. Menikmati malam untuk merehatkan tubuh yang sibuk membanting tulang siang tadi.

Dia duduk sendirian di bawah rimbun pohon pala itu. Entah apa yang sedang dia lakukan di sana. Mataku tak bisa menangkap aktivitasnya karena gelap yang menyelimuti. Lagi pula aku tidak bisa berlama di sana. Waktu yang memasuki subuh mendesakku segera mengumandangkan panggilan menghadap Ilahi bagi hamba-Nya. Maka kutinggalkan sosok itu berteman dengan sepi yang memang telah melingkar sedari tadi.

Hingga cakrawala mulai dilumuri kemilau emas di ufuk timur sekembalinya dari peraduan, menjemput pagi dengan perpaduan kesejukan embun di rerumputan, masih setia sosok tua menyendiri di bawah pohon pala itu. Lelaki yang kini dapat kutatapi wajahnya walau tak dari jarak terdekat.

Sebelumnya kukira ia berkepala lima. Tak seperti perkiraan orang sekampung bahwa ia telah menginjak tujuh puluh lebih. Pikirku berewok dan gondrongnyalah yang membuatnya kelihatan tua. Tapi memang begitulah adanya. Wajahnya berkata ia sudah seumuran kakekku yang koliho asal** sebulan lalu dalam usia tujuh puluh tiga tahun. Kakek yang semangat menuntut ilmunya tinggi hingga mengantarnya bersekolah di universitas bergengsi di luar negeri sana. Kakek yang semangat meraih cita-citanya selalu kupanuti. Yang membanggakanku terlahir sebagai cucunya. Sayang nasib baik yang menyambangi kakek sepertinya tidak berpihak pada lelaki tua itu.

Sunyi raut lelaki tua, lusuh, berewokan dan berpakaian kumal itu. Miskin ekspresi. Kuikuti arah tatapannya. Tiga anak berseragam merah putih yang berdiri di sisi jalanlah objeknya. Kemudian sesungging senyum melengkung di bibirnya. Dilanjutkan dengan bahak paling memiris yang pernah kudengar. Tawa yang menyeramkan. Tak lama sesudahnya, mulutnya komat kamit membahasakan hal-hal yang tidak kumengerti. Tangannya sibuk menggaruk-garuk kulit kepalanya. Mungkin mencari gigitan kutu yang membekas.

Diedarkan pandanganya ke sekeliling. Karena tak mau diketahui bahwa dia sedang kuperhatikan, buru-buru kupalingkan wajah dan berjalan menuju rumah. Menjauhinya yang kurasa sedang menatapiku tajam.

***

"Jangan dekati laki-laki tua misterius itu. Dia berbahaya. Tadi pagi dia melempari temanmu, Dani, dengan batu hingga kepala Dani dijahit tujuh. Padahal Dani hanya ingin menanyakan namanya untuk tugas kampusnya. Benar-benar jahat si tua itu. Bibi Ijah sudah melaporkannya ke polisi. Tapi kata polisi laki-laki itu gila. Dan orang gila tidak bisa ditangkap. Cukup menjauh saja dari dia supaya aman. Jadi ingat itu Rahmat! Jangan dekati dia."

Ibu mewanti-wanti saat kuutarakan niat mengakrabi laki-laki itu. Namun karena dijangkiti penasaran akut, kuacuhkan wejangan itu.

***

Di pagi keenam ketika malam perlahan menanggalkan jubah gelap seperempatnya; subuh telah mengakhiri ritual penghambaannya; dan surya siap-siap menjalankan titah merajai siang, pelan kudekati lelaki tua lusuh itu. Begitu tanganku menyentuh pundaknya yang membelakangi, sontak ia berbalik dan merengkuh kerah baju kokoku dengan kasar. Matanya melototiku yang terkejut mendapat sambutan itu.

"Mau apa kamu hah!? Dasar pengkhianat! Berani-beraninya kau muncul di hadapanku!"

Lelaki itu meneriakiku marah. Lantas mendorongku hingga jatuh terjerembab di tanah. Takut dan bingung memenuhi benakku. Ia meneriakiku pengkhianat? Bagaimana bisa jika baru beberapa hari ini aku melihatnya. Kenal saja tidak.

"Saya tidak ada niat jahat pada Anda. Saya hanya...."

Aku yang hendak berdiri tidak jadi berdiri. Kata-kataku terhenti ketika bersitatap dengan matanya yang menurutku sangar dan mengerikan. Mata yang kurasa hendak menelanku hidup-hidup.

Lalu tiba-tiba aku merasa ada kekuatan magnet yang menarikku. Kuat sekali memasuki mata sangar yang sedang melotot itu. Tak lama tubuhku sudah meluncur dalam labirin gelap. Lumayan lama aku meluncur di dalamnya. Sampai kemudian aku terempas di sebuah tempat asing.

Tidak! Tunggu dulu! Tempat itu tidak asing. Aku mengenalinya. Itu gedung kampusku di Makassar. Hanya saja papan nama kampus bukan bertuliskan Makassar melainkan Ujung Pandang. Suasana kampus pun tidak seramai kampus dengan papan nama bertuliskan Makassar. Meski begitu bangunannya yang tua masih kokoh.

Aku terus memandangi papan itu dalam lamun sampai mataku menangkap dari kejauhan dua sosok laki-laki di antara orang-orang yang lalu lalang. Keduanya dilingkupi warna, sementara selain mereka terlihat hitam putih. Bak gambar televisi tak berwarna era tujuh puluhan.

Dua laki-laki itu akrab sekali. Mereka jalan berangkulan dan tertawa bahagia. Sempat kudengar mereka memanggil satu sama lain �sahabatku�. Oh... itu artinya mereka bersahabat. Bisa kusebut sahabat kental. Sahabat yang sudah seperti saudara kandung.

Aku ingin mengenali wajah mereka namun yang tampak hanya seorang saja. Wajah yang satunya lagi samar-samar. Kupusatkan perhatianku pada lelaki yang wajahnya tampak itu. Aku tidak mengenalnya. Namun aku mengenali matanya. Yah... itu mata yang sama dengan mata yang menarikku ke tempat ini. Hanya saja arti sorot keduanya berbeda.

Kemudian aku merasa sekitaranku berputar. Aku seperti berada dalam benda bulat yang diputar-putar. Ketika berhenti aku telah berada di sebuah ruangan remang-remang dengan kepalaku yang malah berputar-putar. Ruangan dua kali tiga itu kukira sebuah kamar indekos mahasiswa. Rak yang dipenuhi buku-buku dan jadwal kuliah menjelaskan itu.

Aku baru menyadari bahwa bukan hanya aku di ruangan itu. Seseorang duduk dan menyembunyikan kepalanya di balik sepasang lutut yang tertekuk di sudut kamar. Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya. Loh! Itu lelaki di kampus tadi? Yang kukenali matanya. Tapi mengapa tak kulihat sorot bahagia dalam matanya seperti tadi. Justru sebaliknya, ada amarah bercampur kekecewaan dan tangis di sana. Ia meremas-remas selembar kertas di tangannya. Lalu ia buang kasar remasan kertas itu sambil berteriak marah.

"Pengkhianaaaaaaaat......! Pengkhianaaaaaaaaat........! Hu...hu...hu..."

Aku tersentak dengan teriakan marah diikuti segukan itu. Aku dekati ia. Duduk di depannya dan memegang pundaknya. Mencoba menenangkan. Namun tanganku tak bisa menyentuh pundaknya. Terasa seperti memegang angin. Rupanya aku ini hanya bayangan. Dan rupanya pula, ia tidak mengetahui keberadaanku. Maka berdirilah aku dan kuraih remasan kertas yang ia buang tadi. Kubaca asal kemarahan lelaki itu.

Maafkan aku sahabatku. Aku tahu aku bersalah padamu. Tapi dengan cara inilah aku bisa mewujudkan impianku. Beda dengan kau yang masih punya kesempatan meraih beasiswa itu di lain waktu karena kecerdasanmu. Sementara aku tak bisa begitu. Maka cara ini kutempuh. Sekali lagi maafkan aku, Sobat.

Aku ternganga dengan isi kertas itu. Astaga! Sebuah pengkhianatan dari sahabat sendiri kah? Oh... betapa hancur hatinya menghadapi kenyataan itu jika begitu adanya. Meski aku tidak tahu apa bentuk pengkhianatannya, iba juga aku melihat lelaki itu. Ketika itu ia menangkap pandanganku. Dan mata amarah penuh kekecewaan itu sekonyong-konyong menarik tubuhku hingga terjungkal di dalamnya. Aku kembali berada dalam labirin gelap dalam waktu lama. Tak lama di depanku muncul cahaya. Aku pun meluncur masuk dalam cahaya itu.

***

Mata itu masih menatapku tajam. Mata dengan sorot amarah penuh kekecewaan yang sama. Mata yang dimiliki lelaki tua gondrong dan dipanggil orang gila oleh anak-anak sekampung.

"Kau sudah lihat semuanya, kan? Kamu sudah tahu pengkhianatan itu, kan? Sahabat yang telah kuanggap seperti saudara kandung merampas hakku. Bahkan berkata Aku masih punya kesempatan di lain waktu. Huh! Tidak tahukah dia kalau untuk biaya kuliah di Ujung Pandang sana saja orang tuaku menjual tanah dan kebun pala hingga tak tersisa? Tidak tahukah dia kalau dengan mendapat beasiswa itu aku bisa melanjutkan kuliah yang terancam putus karena tak ada lagi biaya? Tidak tahukah ia kalau namaku dalam daftar penerima beasiswa yang ia ganti namanya telah menghancurkan hidupku? Dan dia berkata aku masih punya kesempatan lain? Cuih....!"

Napasnya megap-megap mengeluarkan rasa hati yang telah berkarat karena �pikirku�terpendam lama itu. Meski begitu ia tetap menatapiku tajam. Aku mematung di tempat tanpa suara. Bermain dengan keterkejutan dan iba pada lelaki di depanku. Tak berani kupandangi ia.

Lama kami diselimuti diam. Sampai ekor mataku menangkapnya berjalan mendekatiku. Aku ketakutan karena di genggaman tangannya aku melihat sebuah batu. Di jarak duapuluh cm tiba-tiba aku mendengar sebuah bunyi. Dan oh... bunyi itu berasal dari perutnya.

"Aku lapar. Beri Aku makan. Beri aku makan..."

Di antara tatapan menusuk itu ia mengiba. Mengharap belas untuk keroncongan perutnya yang terus bernyanyi ria. Menyirnakan keterkejutanku atas sikap ganasnya yang tiba-tiba melunak. Dan menumbuhkan rasa kasihanku akan kepayahannya.

"Saya tidak bawa makanan sekarang. Kita ke rumah ya? Ibu saya masak nasi goreng. Kita makan nasi goreng sama-sama di rumah saya. Itu di sana rumahnya. Yang bercat biru. Dekat, kan?" kuajak ia menghilangkan laparnya sambil menunjuk rumah orang tuaku.

Ia diam saja. Tidak menggeleng tidak juga mengangguk. Aku salah tingkah dibuatnya. Aku hendak mendekati dan menuntunnya ke rumah. Namun aku masih berjaga-jaga jangan sampai batu di tangannya ia ayunkan padaku. Maka bersitataplah kami dalam diam. Hingga sejurus kemudian ia mengangguk lemah. Batu di tangan ia lepaskan. Ia berjalan mendekatiku dan serak berbisik padaku.

"Aku lapar. Beri Aku makan sekarang."

***

Rumah kelihatan sepi. Ayah dan ibu pasti sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Kusuruh lelaki tua itu duduk sebentar di kursi teras. Aku akan mengambil nasi goreng untuk kami berdua. Kemudian makan di teras ini.

"Tunggu di sini ya. Saya ambilkan nasi gorengnya. Kita makan di sini sambil menikmati mawar-mawar ibu saya yang merekah."

Ia tak mengangguk tapi langsung duduk. Matanya merambati setiap bagian teras dan taman bunga kecil di depannya. Kutinggalkan ia dan masuk ke dalam rumah.

Aku mengisi dua piring dengan nasi goreng di atas meja. Satu piring kusendoki hingga menggunung. Itu untuk lelaki tua di depan sana. Kemudian aku menyeduh teh manis hangat. Kubawa sarapan itu dengan nampan ke teras. Baru tiga kali melangkah tiba-tiba...

Prang...!

Aku terkejut mendengar sesuatu seperti kaca pecah. Lalu suara teriakan dan beling yang diinjak-injak. Arah suaranya dari ruang tamu. Segera kutaruh kembali nampan di atas meja makan dan berlari ke depan.

"Pengkhianaaaaa......at! Pengkhianaaaaa......at!"

Itu teriakan lelaki tua lusuh itu. Ia seperti kesetanan. Kakinya berlumuran darah karena menginjak-injak beling bingkai foto yang pecah di lantai. Mulutnya terus meneriaki kata pengkhianat dan menunjuk-nunjuk foto berbingkai pecah itu. Aku terhenti di pintu. Terdiam dan lemas dalam keterkejutan yang sangat. Tahulah aku sekarang. Gambar dalam foto yang sedang diinjak-injak lelaki tua dengan beringas itu adalah dia, sahabatnya, almarhum kakek kebanggaanku.

Tidore-Makassar, Oktober 2009-Juni 2010

Catatan :

* Kota Daeng : Sebutan lain Kota Makassar.

** Koliho asal : Ungkapan orang-orang Tidore ketika mengabarkan seseorang meninggal dunia. Koliho asal artinya kembali ke asal manusia yaitu pada Allah swt.

Minggu, 05 Desember 2010

Arafah Bak Padang Masyhar

Cerpen Pipiet Senja
Dimuat di Republika, 28 November 2010

Setelah tiga hari tiga malam berada di Makkah, rombongan haji pun disiapkan untuk menuju Arafah. Sejak saat ini, catatanku agak eror. Kadang kuisi, tapi lebih banyak blank-nya. Sebab, aku lebih fokus kepada kesehatan dan pelaksanaan rukun-rukun hajinya. Hampir tak ada kesempatan untuk menulis berbagai peristiwa yang kulakoni. Jadi, aku berusaha keras untuk mencatatnya di memori otakku saja.

"Inilah prosesi haji yang sesungguhnya.

Alhamdulillah, musim haji ini adalah Haji Akbar, pahalanya ratusan kali lipat dari haji biasa."

"Sesungguhnya, rukun-rukun haji itu terdiri dari ihram, wukuf, thawaf ifadah, sai, tahalul atau bercukur, dan tertib." "Inilah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan. Bila salah satu tidak terlaksana, ibadah hajinya tidak sah."

Saat itu tepat 8 Dzulhijjah. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan Makkah menuju Mina, lalu dilanjutkan ke Arafah, tempat jamaah melakukan wukuf. Arafah terletak di luar Kota Makkah, sekitar dua mil. Jamaah pria kembali mengenakan baju ihram. Ibu-ibu berbusana serba putih. Larangan berihram pun dikenakan dan berkali-kali diingatkan oleh para muthowif.

Jamaah haji yang diangkut oleh bis dua--kami menyebutnya rombongan Sofitel--agaknya lebih dahulu tiba di tenda Mina. Mereka bisa leluasa mencari tempat atau sudut yang diinginkan, bahkan dapat mengangkat koper kecilnya masing-masing. Rombongan Intercontinental harus rela mendapatkan sudut-sudut yang tersisa. Aku bahkan tak mendapatkan sudut yang bisa bergerak leluasa, selain sebidang lajur sekadar untuk bisa meringkuk, tanpa alas yang empuk selain hamparan selimut di antara deretan kasur. Nah loh, bisa dibayangkan tidak, Saudara? Intinya, ini sisi yang sesungguhnya tidak nyaman sama sekali.

Tak mengapa, tidak hanya diriku sendiri, ada dindaku Sari dan Euis Muharom menemani. Lagi pula, banyak juga jamaah yang tetap memelihara rasa kepeduliannya untuk berbagi dalam hal apa pun. Mungkin ini yang terbaik dan inilah rezekiku. Demikian Allah SWT menjamu diriku. Segera kuperbanyak zikir dan berdoa, ku bergegas ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan kudirikan shalat sunah taubat. Sungguh, aku merasa takut sekali akan azab-Nya.

Ya Allah, jauhkanlah hamba-Mu yang lemah ini dari azab dan siksa-Mu. Sembunyikanlah segala aib dan dosaku. Demikian kutasbihkan dalam hati. Sekitar pukul sembilan malam, kurasa semua jamaah Cordova telah memasuki tenda. Di sini mulailah aku menyaksikan sifat aslinya, sejatinya karakter manusia, dan topengtopeng pun berlepasan sudah.

"Pssst, ingatlah jangan bergunjing, Saudariku. Kita sedang berihram."

"Alah, Teteh ini ngapain sih paspes-paspes mulu dari tadi. Dikasih tahu sekali juga gue paham!" "Ini punya siapa sih gede banget tasnya? Dikata kemping sebulan!" "Woooi, mana tisu basahnya?" "Sini ada, men! Jangan malu-malu deh, entar malah jadi malu-maluin!" Kulihat dindaku Ennike terperangah hebat, menggeleng-gelengkan kepalanya dan bergumam perlahan, "Ya Allah, Teteh, kenapa pake cay-coy, man-men segala tuh bahasa?" "Iya Dinda, prokem aming," tak terasa mulutku pun terkuak tiba-tiba. Begitu menyadari, buru-buru aku mengucap istighfar. Aku tak berhak mencela, sebab seperti itu pulalah bahasaku jika sedang bergaul ria dengan putriku. Mungkin saja, mereka melakukan hal itu sebagai penghilang stres. Prosesi haji ini memang sungguh menguras pikiran, lahir batin, jiwa, dan raga.

Jika mental kita labil, niscaya bisa dipastikan bakal stres.

"Selama menjadi dokter haji, banyak sekali kutemukan jamaah yang mendadak gila," kata dokter Erry, dokter rombongan yang jelita dan sangat modis itu.

"Hah? Mendadak gila bagaimana, Bu Dokter?" "Yah, stres hebat, gila dalam tanda kutip!" `Kepala Suku' memberi tahu bahwa rombongan akan bergerak kembali pada pukul dua belas malam.

Mendengar hal ini, suara-suara mendadak berhenti total, kemudian semuanya berusaha untuk merehatkan badan.

Dendang batuk pun mulai terdengar secara serempak bagaikan paduan suara ajaib tengah malam di Maktab 110, pertendaan Mina.

"Gimana nggak, bikin batuk. Lha wong tendanya selama setahun ditutup. Musim haji baru dibuka kembali, mungkin gak sempat dibersihin," seseorang menjelaskan tanpa diminta. Kucermati memang ada banyak kotoran berupa debu dan seperti kapas-kapas kecil beterbangan dari arah kipas angin. Jangankan bagi ibu-ibu sepuh, semuanya tak terkecuali terserang batuk dan beberapa sesak napas. Kurasa, asmaku pun bisa kumat.

Ustaz Satori sering bergurau tentang batuk ini, "Semuanya dipastikan terserang batuk, kecuali unta."

Selama berhaji, bukan hal yang aneh dan patut dicemaskan secara berlebihan apabila jamaah terserang batuk. Di sinilah kembali muncul jurig songong itu.

"Alhamdulillah, sampai saat ini aku sehat-sehat saja, bahkan batuk pun cuma sedikit," sahutku ketika beberapa pengurus meluangkan waktu mendatangiku dan mereka menanyakan kondisi kesehatanku.

Pada tengah malam, rasanya hanya sekejap bisa rehat. Ternyata kami disiapkan untuk berangkat lagi.

Suasananya sungguh terasa heboh, kisruh, dan luar biasa crowded.

"Kalau tidak lebih awal jalan, khawatir lalu lintasnya terlalu padat dan kita terhambat sampai di Arafah.

Targetnya kita bisa shalat Subuh di tenda Arafah," terang seorang muthawif menyikapi suara-suara protes.

Di tengah cuaca yang sangat dingin serasa menyengat pori-pori kulit, kami bergegas kembali menuju kendaraan. Meskipun bajuku sudah dirangkap sampai tiga-empat, tetap saja masih terasa dingin.

Tambahan anginnya lumayan kencang, meskipun bukan puting beliung. Cuaca di kawasan Mina tidak bisa diprediksi, awalnya cerah dan panas mendadak banjir bandang datang.

Air bah pun tanpa ampun melumat seluruh kawasan tenda, bekas mabit sebagian jamaah Indonesia.

Beruntung tidak harus menanti lama, kedua bis pun muncul. Serta merta kami bergegas menaikinya. Kusadari batukku dan rasa gatal di tenggorokan semakin meningkat dan mulai serasa menyiksa pula. Kepala berdenyaran, telinga berdenging tak keruan, ditambah agak demam, air mata bercucuran nyaris tanpa henti. Entah air mata apa pula ini. Walaupun telah menelan obat batuk pemberian dokter Erry sepanjang perjalanan menuju Arafah, batukku kian gencar saja. Suasana lalu lintas tengah malam itu ternyata sungguh padat. Kendaraan berbagai jenis campur-baur dengan orang-orang yang berjalan kaki. Manusia entah kaya atau miskin, semuanya saja sudah tak peduli bagaimana pun caranya mereka lebih suka bermalam di kawasan antara Mina dan Arafah.

"Bagaimana kita mengambil batu-batuannya, Ustaz?" tanyaku kepada muthawif Fauzi saat teringat tentang Muzdalifah.

"Tenang sajalah, Bu Pipiet. Kita sudah menyiapkannya," sahutnya meyakinkan.

Aku belum mengerti, lalu kutanya kembali, "Maksudmu, kalian akan mengambilkannya untuk jamaah. Begitukah Ustaz?" Fauzi hanya mengangguk sambil tersenyum.

Dini hari kami tiba di kawasan Arafah. Tenda-tenda telah didirikan dengan berbagai panji dan bendera travel dari Indonesia. Rombongan kami memiliki tenda yang dikhususkan untuk wukuf dan sebuah mushola yang nyaman dengan penyejuk ruangannya.

Akhirnya, banyak juga jamaah dari travel lain yang ikut bergabung mengikuti program wukufnya rombongan kami, di bawah pimpinan Ustaz Satori.

"Subhanallah, tendanya indah sekali, yang paling depan itu, ya," komentarku saat melihat tenda sebuah travel Indonesia yang tarifnya termahal.

Kutahu hal ini ketika bertemu dengan salah seorang jamaahnya, seorang ibu muda di Masjidil Haram. Ia mengaku berhaji bersama suami dan dua orang anaknya. "Berapa?" tanyaku ingin tahu.

Jamaah travel yang terkenal sering membawa para artis, seleb, dan elite politik itu menjawab dengan ringannya, "Hanya 110 juta saja kok, Bu."

"Apa? Berempat totalnya jadi 440 juta, ya?" seruku tertahan. Ia mengangguk mantap. Dengan naifnya aku malah bilang lagi, "Maaf yah, Bu. Kira-kira sebanyak apa tuh uang hampir setengah milyar begitu?" Pastinya, aku tampak bloon banget. "Kalau ditambah lain-lainnya buat persiapan walimatus safar dan oleh-oleh, semua lebih dari 900 juta, Bu." Tukasnya.

Mataku niscaya melotot hebat. Mulutku membentuk, "Oooo!" Panjang sekali. Kemudian kulanjutkan, "Begitu yah, hampir satu M! Bisa buat sekolah anak miskin segitu mah, Bu."

"Ah, Ibu ini ada-ada saja!" sahutnya sambil tertawa renyah. "Masing-masing kan sudah ditetapkan rezekinya oleh Sang Khalik." Nah, siapa bilang bangsa kita miskin? Itu sungguh tidak benar. Setidaknya, bagi para jamaah ONH Plus, kecuali diriku ini yang diberangkatkan gratis, tentunya.

Tenda untuk jamaah kami pun bagus dan nyaman di areal Arafah ini. Beberapa saat kami bisa rehat, melempangkan punggung. Tapi, banyak juga yang langsung bergelimpangan tidur di kasur busanya masing-masing.

Baru saja kurebahkan tubuhku, tiba-tiba kusadari bahwa aku tak mampu bersuara lagi. Beberapa kali aku berusaha keras memperdengarkan suaraku, tapi tidak bisa! Bahkan, aku sampai sengaja berteriak-teriak hingga keringat membasahi sekujur tubuhku.

Lenyap, benar-benar suaraku menghilang, ya Rabb?

Beberapa jenak aku pun hanya bisa bengong, tak tahu apa yang harus kulakukan. Dengan tatapan hampa kulayangkan mata ke deretan para jamaah. Mereka sedang tertidur lelap. Aku merasa sangat sedih sendirian di Arafah dan tanpa suara.

Seketika berbagai gambaran menakutkan bermunculan di benakku. Dalam sepuluh tahun terakhir, selain menjadi penulis lepas aku pun sering diundang untuk workshop dan seminar kepenulisan. Tanpa suara aku takkan pernah bisa menjadi pembicara lagi, menularkan virus menulis ke seantero negeri. Waduh, ini sungguh gawat! Aku lalu bangkit dengan rasa pedih tak teperi, terhuyung-huyung kuayunkan langkah menuju kamar mandi. Ya, aku harus segera mengadukan ikhwalku ini langsung kepada Sang Pemilik Suara. Suasana di kamar mandi masih sepi, tak ada orang selainku yang akan mengambil air wudhu dengan sangat khidmat. Meleleh air mata penyesalan dan rasa bersalah atas dosa di masa silam. Segala khilaf melembayang di tampuk mataku.

Aku kembali ke tenda, mendirikan shalat taubat, dilanjutkan dengan tahajud, dan berzikir secara terusmenerus. Sehingga, kurasa ada semacam aliran hangat ke dalam dadaku menyemburat terus ke leher. Aku terus tertunduk dalam bisu yang suwung. Ketika seorang jamaah di sebelah menanyakan jam, seketika mulutku terbuka untuk menyahut. Suaraku muncul, meskipun sangat parau dan niscaya terdengar buruk sekali. Tak mengapa, yang penting suaraku telah kembali.

Alhamdulillah, ya Rabb, sungguh Engkau Maha Pengasih! Aku berlari kembali ke kamar mandi. Kali ini untuk buang air kecil. Tak disangka, begitu keluar dari areal kamar mandi, ndilalah, (lagi) aku nyasar. Beberapa saat aku hanya mondar-mandir, bolak-balik mencari tenda Cordova. Otakku kembali nge-blank, tak tahu peta dan arah, ampyuuun! "Teteh, kulihat dari tadi bolak-balik saja di situ, lagi ngapain sendirian?" Mas Ton, suami dinda Ennike, tibatiba menghampiriku.

"Iya nih, Mas Ton. Pssst, jangan bilang-bilang, aku ini sebetulnya lagi tersasar," jawabku dengan suara yang masih timbul tenggelam, perpaduan antara sakit tenggorokan dan kecemasan tak bisa kembali ke rombongan.

"Ya Allah, Teteh aya-aya wae atuh! Ayo kutunjukkan jalannya!" Mas Ton menahan tawanya. Ternyata jalan itu pula yang sejak tadi ada dua-tiga kalinya kutempuh, bolak-balik tak keruan. Kulihat panji-panji dan terutama bangunan mushalanya yang indah itu.

"Jangan bilang-bilang, yah. Malu ah!" pesanku kepada bapak dua orang anak itu dengan nada berseloroh. Pada kenyataannya, mulutku sendirilah yang menggelontorkan soal sasar-menyasar ini kepada beberapa sahabat jamaah. ***