Sabtu, 27 Maret 2010

Hancur, Minah!

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Surabaya Post, Sabtu, 27 Maret 2010














MINAH terdiam di dudukan kayu di bawah kanopi belimbing yang membiarkan beberapa bercak cahaya menerobos salih-silang dedaunannya. Warung pempek di salah satu sudut pekarangan yang luas itu sudah ditutupnya lebih awal. Awalnya, warung itu ia buka demi mengisi waktu luangnya sebagai ibu rumah tangga yang belum bermomongan. Namun, tak ada yang tahu, akhir-akhir ini, melalui warung itu, ia bisa menyisihkan hingga 150 ribu untuk dikirim ke Bone setiap bulannya.

Kini, terbayanglah olehnya bahwa sebentar lagi warung itu akan dirubuhkan. Dan pekarangannya yang ditanami keji beling, pinang merah, pacar air, kunyit, lengkuas, kemangi... akan segera diganti dengan anakan karet dalam polibeg yang berdesak-desakan. Oh, semua karena suaminya. Andaikan ia bukan ibu rumah tangga saja, pastilah sesiapa tak akan memerlakukan kata-katanya bak angin lalu saja. Termasuk Mali, juga ibu mertuanya.

Minah paham benar bagaimana Mali bertabiat. Bila ibu mertuanya sudah berhasil memengaruhi lelaki yang sudah lima bulan hidup bersamanya itu, maka, ketika hal itu disampaikan kepadanya, ia hanya menjadi pendengar dan pengaminnya saja. Minah memang disilahkan untuk bersuara, namun bukan untuk merubah apa-apa yang telah dikatakan lelaki itu. Tak lebih, hanya demi menampakkan bahwa ia memedulikan apa-apa yang digiati Mali: Minah tahu suaminya tak terlalu bodoh akan anggukan palsunya. Namun, itulah, Mali adalah suaminya. Sekali rumah tangga ditegak, suami adalah imamnya.

�Manusia punya takdir masing-masing, Minah. Kita saja yang kerap tak sadar telah menjalaninya. Pernikahan kalian termasuk jua takdir itu. Tak pernah terpikir Mali yang sudah lama merantau di Sulawesi, akhirnya lulus PNS di kampung halamannya. Jadi, kau berhentilah menjadi PNS di SD tu. Sama-sama kalian membangun hidup di Linggau. Ingat, Minah! Kini, Mali pemimpinmu!�

Minah patuh saja. Pun orangtuanya tiada berkeberatan. Tak ada rasa berat hati ia meninggalkan sekolah beserta murid-murid yang sudah dua tahun ia ajari. Maka, ia berpamitan dengan orangtua dan adik laki-lakinya yang sebentar lagi tamat SMP. Sejatinya, ia melakukan itu bukan demi menunjukkan bahwa ia taat suami. Lebih dari itu, ia yakin saja, Mali adalah laki-laki yang baik. Laki-laki yang akan membuat kehidupannya merah-muda saja. Dan... ketika usia pernikahan memasuki bulan ketiga, baru tahulah ia. Suaminya adalah ibu mertua yang bertubuh laki-laki!!! Maka, sejak itu, Minah menjalani semuanya dengan tak henti berprasangka baik bahwa dialah yang keliru. Atau bilapun ia tak keliru, seiring waktu, ia terus memantik harap bahwa semuanya akan segera baik-baik saja.



? ? ?



UNTUK kesekian kalinya Mali tidak masuk kantor. Minah dengan nada bicara setengah tertahan mencoba mencari tahu.

�Tak usah ribut kau, Minah. Lagipula untuk apa aku ngantor. Mulai bulan depan kita cuma nerima 300 ribu!�

Minah terperanjat. Baru saja ia akan bertanya lebih jauh, Mali sudah menyambung, �Tak usah kautanya ini-itu. Sebentar lagi semua akan kembali! Kau lihatlah. Apa-apa yang disarankan Ibu pasti membuat kita kaya!�

Minah diam. Perasaannya berkecamuk: Gaji 300 ribu, semua akan kembali, saran ibu mertua, jadi kaya.... Oooh, Minah tak mengerti.

Namun berbilang hari, ternyata Mali buka mulut juga. Rupanya Minah masih dianggapnya sebagai pendengar yang baik. Mali meminjam uang di salah satu bank dengan jumlah yang tidak sedikit. Untuk membayar cicilan tersebut, setiap bulan selama 3 tahun, gajinya akan dipotong lebih dari separuh. Mali juga bercerita bahwa sebenarnya ia menerima lebih dari 300 ribu. Tapi karena saban bulan, Mali juga harus menanggung arisan ibunya, maka ia memberikannya saja.

�Kan ibuku ibumu juga, Minah.�

Minah mengangguk terpaksa.

�O ya, pinjaman dari bank itu, akan Kakak gunakan untuk membuka usaha anakan karet. Jadi Kakak sudah membeli lahan kosong di belakang rumah dari Pak Sujud. 66 juta, kes! Pekarangan depan akan jadi usaha anakan karet juga. Jadi, besok, tebaslah tanaman-tanaman kampungmu itu. Juga, warung-warunganmu itu, menganggu pemandangan saja.�

Minah mendongak.

�Ya, Minah. Modalnya cuma 300 rupiah per batang induk. Memang belum termasuk biaya beli batang pucuk, upah penanaman, polibeg, dan pemiliharaan lainnya. Tapi, tahukah kau, kata Ibu, di pasaran harganya bisa sampai 2500 per anakan. Nah, apa tak cepat kaya kita, tu?! Nanti kalau kita kaya, kau juga yang senang, bukan? Bagaimana?!� Mali mengerlingkan sebelah mata, seolah Minah harus bangga memiliki suami secerdas dirinya.

�Mmm... � Minah buka suara.

Mali menatapnya. Menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir istrinya.

�Kalau untuk usaha itu, mengapa harus meminjam uang ke bank segala, Kak?� Hati-hati sekali Minah mulai bertanya. �Mmm... maksudku mengapa tak memanfaatkan tanah yang kita beli dengan tabunganku dulu, Kak?�

�Yang mana, Nah?� Mali mencoba mengingat-ingat.

�Itu... yang di Kenanga Dua Lintas, Kak.�

�Waduuhhh!� Mali menepuk jidatnya.

Minah ikut tergeragap. �Ada apa, Kak? Kejauhan? Kan kita bisa upah orang, Kak?�

�Kakak lupa, Nah. Kan dua bulan lalu, sudah dijual untuk nikahannya si bungsu, Amel. Kakak lupa nyampain ke kamu, Nah. Ya... kemarin Ibu juga yang minta....�

Minah tak kuat mendengar lanjutan kalimat suaminya. Ia hanya meneguk liur.

�Jangan khawatir, Minah. Tak menunggu lama, kita akan beli tanah lagi!�

Semoga, batin Minah. Dadanya sesak. Ia tiba-tiba saja ingat orangtuanya yang hanya berladang di rimba seberang. Ia selalu berkabar bahwa keadaannya baik-baik saja. Tak kurang sesuatu apa. Bahagia, demikian pendapat keluarganya di sana atas apa-apa yang ia jalani di kampung halaman suaminya.



? ? ?



MEMANG benar apa yang dianjurkan oleh ibu mertuanya. Usaha anakan karet mereka terus tumbuh. Para pengumpul banyak mengambil dari mereka. Lagi-lagi, semua tak lepas dari peran ibu-mertuanya yang ternyata berteman baik dengan salah satu pengumpul besar. Terakhir, Ko Siang, demikian pengumpul besar itu dipanggil, meminta agar Mali menghendel semua anakan yang akan ia kirim ke Jambi dan beberapa daerah di Musirawas. Sang ibu langsung mengiyakan.

�Mali, tak masalah itu. Memang, itu sama saja artinya kita memutus hubungan bisnis dengan pengumpul lain. Tapi kau juga tahu, kan, wilayah bisnis Ko Siang itu luas sekali. Sampai ke luar provinsi!�

Mali mengangguk mantap.

Sejak itu, Mali nyaris tak pernah ngantor lagi. Minah yang beberapa kali mengingatkannya, tak pernah ia gubris.

�Mau diberhentikan, ya berhentikan saja! Penghasilan usaha kita berlipat-lipat dari PNS tu, Minah!�

�Tapi, Kak, ini musim-musiman.�

�Musim-musiman?� Mali menyeringai. �Sudah tiga tahun kita usaha ni kau bilang musim-musiman pula? Memangnya orang menyadap karet serupa menunggu durian berbuah. Tak kaulihat sepanjang Talang Belalau itu, hah? Karet saja yang berbaris!�

Lagi, lagi, dan lagi, Minah diam saja.



? ? ?



IBU mertua Minah sudah memiliki mobil pribadi. Tentu saja semua dari hasil usaha mereka. Minah tahu, mobil itu masih kredit. Angsurannya dari pemasukan usaha mereka. Tapi, walaupun ia masih didera perasaan tak menentu setelah Mali melepas PNS-nya, Minah tak memersalahkan hal itu, ia merasa senang jua mendapati usaha mereka yang terus maju. Bulan depan ia sudah berencana untuk mengirimi keluarganya uang dalam jumlah yang jauh lebih besar dari biasanya. Mali baru memberikan uang tersebut kemarin.

Namun... ternyata matahari tak selamanya bergantungan di langit, semua akan kelam ketika malam datang. Ya, sampailah di siang itu. Ketika Minah belum sempat membuka surat yang baru diantar tukang pos, ibu mertuanya datang. Tanpa menutup pintu mobil dan mengucap salam, dengan muka masam, wanita 57 tahun itu langsung berseru.

�Keparat sekali dia, Nah!�

�Ada apa, Bu?� tanya Minah setelah mencium tangan mertuanya itu.

�Mana suamimu?!�

Perasaan Minah tak enak. Ia bergegas ke dalam. Oh, apa yang telah dilakukan Kak Mali, hingga Ibu tampak marah sekali?

�Ada apa, Bu?� Mali di muka pintu. Belum sempat ia meraih tangan ibunya untuk salim, perempuan itu langsung berkoar.

�Kau lihat usaha anakan karet baru di simpang Merasi tu, Mali?�

�Iya. Tahu, Bu. Sudah dua bulan-an,� jawab Mali.

Minah memerhatikan dari balik gorden jendela. Dadanya berdegup kencang.

�Bagaimana kau bisa menjawab pertanyaan Ibu dengan tenang, hah? Tak tahu kau nasib usahamu ini!� Perempuan itu mencak-mencak. Tangannya menunjuk-nunjuk anakan karet yang menghampar di pekarangan mereka.

�Maksud Ibu? Usaha baru itu akan jadi saingan kita?�

Dada ibunya masih megap-megap.

�Biasa itu, Bu. Justru yang lebih kukhawatirkan harga anakan turun jadi 800 per batang!�

Ibunya mengenyitkan dahi.

�Tapi tenang, Bu. Apabila kuhitung-hitung. Dengan seharga itu, kita tidak akan rugi. Bukankah sudah ada Ko Siang yang akan membeli anakan karet kita. Belum lagi kalau yang di Tebingtinggi itu jadi memesan dari Ko Siang, maka... tak ada masalah itu, Bu. Tak pengaruhlah...�

�Hooooi, Bengak[1]! pungkas ibunya berteriak.

Mali tergeragap. Tak menyangka ibunya akan mengeluarkan kata-kata itu.

�Tahu kau siapa pemilik usaha sainganmu itu?!�

Perasaan Minah makin berkecamuk.

�Diam-diam Cina Bangka itu nak membunuh kita!�

�Ja... ja... jadi...?� Wajah Mali tiba-tiba pucat.

�Ya, yang di Merasi itu usahanya Ko Siang keparat!!!!�

Tubuh Minah layu. Ia terduduk. Tak dapat ia bayangkan hancurnya perasaan suaminya. Tiba-tiba pandangan Minah bersitatap dengan surat yang tadi diterimanya. Setelah membaca nama pengirimnya, tergesa-gesa ia merobek amplop surat itu. Oh, adiknya perlu biaya untuk melanjutkan sekolah.

�Minaaah!� Suaminya memanggil. �Sini uang yang kukasih kemarin. Aku perlu untuk menyogok pengumpul lain agar beralih ke kita!�

Minah tak menjawab. Matanya basah. (*)

Lubuklinggau, 24 Mei 2009

________
[1] Bodoh

Senin, 22 Maret 2010

Ketika Perempuan Perang Mengandung

Cerpen Alimuddin

Dimuat di Surabaya Post, Sabtu, 6 Maret 2010








�Ambil semua pakaian, kalau sudah kunci pintunya,� lelaki itu mengucapkan kalimat baru saja dengan nada layu tanpa menatap biji mata perempuan yang disuruhnya.

Perempuan perang masuk ke kamar tidak tergopoh. Membuka almari kayu mereka. Pakaian tidak banyak sekali. Namun cukup kerepotan apabila dibawa seluruh. Maka disaring seperlunya saja.

Masing-masing empat pasang pakaiannya dan milik suaminya. Serta beberapa pasang pakaian dalam. Ke semua itu dibungkus dalam ija krong (kain sarung) kotak-kotak merah.

Barangkali bila kondisi telah kondusif, kelak mereka kembali.

Lalu Perempuan perang menangkap langkah-langkah ketakutan di luar. Pasti kaki itu bergerak sangat tergesa. Seolah harimau di belakang tengah mengintai dengan liur menerkam.

Sempat diambil tas pandan yang dahulu dianyam susah, yang tersembul di bawah pakaian. Dimasukkan lipstik, bedak rodeka, trika (bedak deodorant). Yang ke semua kosmetik murahan itu dibelinya di hari peukan ( Hari pasar ramai-ramai.)

Di luar, lari-lari ketakutan semakin jelas terasa. Kata �bagah dan bagah� (cepat dan cepat) terlontar-lontar. Mulut anak kecil, entah paham sebuah ketakutan, kontan menangis.

�Lama sekali, nanti ketinggalan jauh dengan orang gampong,�

Perempuan perang melongok ke ruang tamu. Asap rokok suaminya tidak sabaran mengepul-ngepul. Lagi-lagi ia mendengar suara suaminya seperti pisau berkarat. Dingin tidak mendesak.

Bukan tidak ingin menyakiti. Tapi menurut mata batin perempuan perang, begitu itu malah lebih perih.

Angin malam memaksa masuk lewat rongga jendela yang tidak disekat apa-apa. Menyapu bibir gelisah perempuan perang. Seiring itu nyamuk berdesing-desing.

Lantas ia buang nafas dengan resahnya. Ia memilih menyentuhkan badan bawahnya ke kasur yang tidak berseprei. Bola mata mengamati nur lampu teplok yang melekat di triplek kamar mereka.

Takutkah perempuan perang dengan suara tapak kaki cemas di luar sana?

Tidak sekali-sekali. Perempuan itu, lebih ketakutan dengan suara dingin tak mendesak suaminya. Dengan suara lelaki itu yang tak menyapanya �dik� lagi sekarang.

Ketika mendadak beralih ke perutnya yang mulai buncit, cahaya mata perempuan perang tak berkedip. Antara sejenak ia menghela-hela sarat kesal.

�Cepatlah... Gampong sudah senyap ini.�

Lima hari lalu selentingan ia tangkap kabar jikalau gampong (kampung) mereka disilang merah tentara pemerintah. Banyak kaum pemberontak hilir-mudik di kampung mereka.

Tentu saja perempuan perang tahu siapa-siapa saja tokoh yang ingin memisahkan diri dari kesatuan negara. Bang Saballah, Bang Him dan beberapa pemuda turut serta.

Seperti lazim orang kampung, perempuan perang akan menjawab tidak tahu meski didesak aparat. Bukan musabab mendukung pemberontak itu. Tapi entahlah. Sepertinya menggeleng atau kata �tidak tahu� adalah jawaban tepat nan bijaksana.

Dan malam ini selentingan itu jadi kenyataan. Akibat itu gampong harus disenyapkan dari penduduk. Andai tidak, Malaikat Izrail akan leluasa memangkas nafas tentu saja.

Dua belas menit kemudian---Setelah sebelumnya sempat mencium kembang jeumpa di sumur tanah samping rumah�kembang jeumpa yang begitu disukainya, perempuan perang bersama suaminya sudah di jalanan rumput lengang. Tepi kiri-kanan lung (kali kecil) disibak-sibak air musabab angin.

Angin menggigil hingga berasa es sampai di bawah ketiak perempuan perang sekalipun. Perempuan itu, memeluk buntelan pakaian demi segelintir hangat. Harusnya suaminya, melingkarkan lengan kekarnya ke bahu perempuan perang.

Tetapi tidaklah hal demikian terjadi. Bungkus pakaian saja dibiarkan dibawa istrinya yang sedang mengandung. Lelaki itu berjalan dua meter di depan perempuan perang. Sekalipun tidak menoleh ke belakang.

Perempuan perang memaksa sama cepat dengan gerak Hasan. Lekas sekali dikaitkan tangan dinginnya ke badan pria itu. Secepat peluk itu terjadi. Secepat itu pula peluk itu rubuh.

�Bang Hasan tidak mencintai adik lagi.�

Lelaki itu seperti biasa jika dihadapkan pertanyaan itu, akan bertindak seperti manusia malang yang sama sekali tidak dianugerahi suara oleh Tuhan.

Bisu. Dan tetap bisu.

�Mengapa Bang Hasan tidak ceraikan adik saja?�

Perempuan perang memilih memendekkan langkah. Membiarkan suaminya itu seperti dalam posisi pula. Berjarak meter darinya.

Kedinginan telah meleleh.

***

Perempuan perang pernah meminta cerai dua bulan silam. Tapi kuping Hasan seperti tidak pernah disinggahi pinta itu. Diam dan diam. Sehingga perempuan itu akhirnya menginsafi bahwa pinta itu tidak lulus.

Suatu sore, perempuan perang begitu melihat Hasan di hujung jalan yang juju ke rumah mereka, sengaja meremas jemari tangan Mahdi�bujang tiga puluh tahun yang belum juga menikah.

Tidak dilepas sampai ia yakin benar bahwa Hasan melihat perbuatan itu. Tapi lelaki itu tidak dengan jantan mendorong tubuh Mahdi hingga terpelanting ke ruangan jalanan. Sekedar melotot ke arahnya pun tidak.

Perempuan perang tahu, Hasan, lelaki yang menjadi suaminya itu tidak memiliki cinta lagi untuk dirinya. Dan ia tahu sekali apa biang dari segala itu. Tahu sekali perempuan perang.

Kehamilannya.

Janin yang kini tengah tumbuh berkembang di dalam perut perempuan itu.

Padahal sudah ia tempuh aneka kata untuk menjelaskan. Bahwa hamil itu bukan atas hendaknya.

Dan memang Hasan seolah mengerti. Tidak mengintrogasi macam-macam. Akan tetapi tidak lagi ada hubungan badan di malam-malam berhujan. Lelaki itu malam lebih memilih rebah di ruang sebelah kamar mereka yang kondisinya tidak lebih baik dari gudang.

Bahkan yang menyakitkan sekedar menatap hangat saja tiada lagi.

Tinggal perempuan perang yang kesepian. Kesepian jasad. Kesepian hati. Kesepian yang mencekam. Kesepian yang sebetulnya teramat ditakutinya.

***

Rupanya kedatangan mereka sudah ditunggu layak artis ibukota Desy Ratnasari yang dinanti para penggemarnya. Ramai berkumpul semua orang kampung di rumah Geuchik Harun (Kepala Desa Harun). Nama mereka didengung-dengung. Para perempuan menatap kasihan ke ceruk mata perempuan perang.

�Kita jangan ambil jalan besar.� Ucap Geuchik Harun.

Dan perjalanan malam dimulai. Meninggalkan kampung halaman. Hanya bintang beberapa yang menjadi benderang jalanan. Sebatas suluh api saja tidak boleh ada. Sebab pergi mereka, seperti maling yang mengendap-ngendap.

Jalanan tikus yang mereka lewati betul-betul gulita. Kiri-kanan adalah kebun kosong yang tumbuh liar semak belukar. Antara sebentar salak anjing dan salak lainnya di nun jauh. Tapak kaki ditahan sebisa mungkin agar tidak lahir bunyi besar. Sekali dua kali mereka harus melompat kecil sebab badan jalan telah ditiduri batang pohon lapuk..

Perempuan perang bersama para perempuan di baris tengah. Anak kecil seperti tidak ada di dalam barisan itu. Di baris depan dan belakang lelaki yang dibagi separuh-separuh.

Perjalanan masih panjang. Kata Geuchik, mereka akan ke Mesjid Kota Geudong. Dua puluh kilo berjarak dari kampung. Di tempat sana, mereka akan berkumpul dengan pengungsi dari kampung yang juga disilang merah aparat pemerintah.

Sambil kaki mengayun, pikir perempuan perang singgah ke bayangan hubungan badan bersama Hasan silam. Indah sekali. Dan jujur, perempuan itu merindui bisa melakukan kembali bersama Hasan.

Lalu tak dapat dicegah pikiran perempuan perang lari ke hari lain. Suatu senja berangin kencang. Ia tengah di beranda menampi beras. Letup-letup senjata. Merunduk di tanah. Ketika badan menegak kembali, ia laksana melihat hantu mengerikan di ambang pagar bambu rumahnya.

Lima pria bersenjata besar.

Diawali dengan introgasi tak masuk akal. Ini-itu yang kali ini benar tidak diketahui jawabannya. Satu pria kurang ajar terkekeh menatapnya. Kemudian diseret paksa ke kamar. Secara bergiliran satu persatu pria bersenjata itu masuk.

Cepat sekali jalan pikiran perempuan perang melintas-lintas. Baru ia terhentak ketika perempuan tua di samping mencolek pinggangnya. Dengan telunjuk bergetar mengacu ke hutan belukar yang samar kelihatan bergoyang-goyang .

�Mau kemana kalian? Kalian pemberontak ya?!

Bukan perkara sulit untuk mengetahui tubuh siapa di dalam hutan. Senter-senter besar bersinar bulan. Tubuh-tubuh tinggi telah berdiri congkak. Dengan sinar senter di arahkan ke mata rombongan silang bergnti.

Jawab Geuchik Harun dihadiahkan bentakan berikutnya. Beberapa lelaki terbata mencoba menguraikan siapa mereka, hendak ke mana tujuan, juga mendapat laku sama.

Keluarlah perempuan perang dari baris tengah. Telinga itu menangkap gumam ucap, �ka matee geutanyoe... Ka matee geutanyoe (Sudah mati kita... Sudah mati kita.)� acap sekali dari mulut perempuan ketakutan.

Ia melewati beberapa lelaki tua yang meurateb (berzikir). Jelas perempuan itu menyimak badan Bang Saballah bergetar di balik seorang pria senja. Ketika berpasan dengan Hasan, ia melebarkan bibir. Lalu dengan berani bertatapan dengan laki bersuara bentak.

�Kalian boleh pergi. Asal perempuan ini tinggal bersama kami.�

Suara bisik-bisik dari mulut-mulut. Sementara semua mata beradu ke mata Hasan, bibir basah perempuan perang segaja melirik bergiliran ke mata pria-pria bersenjata itu. Melihat itu, nyaris meruah isi di dalam perut Hasan.

�Kalau tidak...�

Dua tangan pria tegap kembali mengokang-ngokang badan bedil.

Namun dalam batin perempuan perang gemuruh. Gelisah menanti apa jawaban suaminya Hasan.

Ingin sekali ia jikalau lelaki itu beringsut ke depan dengan muka merah padam. Menarik lengannya. Bila perlu memaki para pria bersenjata sebab telah meminta hal kurang ajar.

Bukan masalah setelah itu kokang senjata ditarik membabi-buta. Peluru timah menembus satu persatu tempurung kepala mereka.

Itu lebih baik menurutnya.

Kepala Hasan mengangguk. Perempuan perang menutup kecewa dengan sebuah sandiwara-- Tertawa besar hingga dada itu berayun-ayun. Tawa yang gatal akan sentuhan.

Hasan memilih memandangi langit.

Satu persatu dari rombongan hilang di tikungan gelap. Di antara mereka sempat menatap perempuan perang dengan perasaan yang susah ditafsirkan. Terakhir Hasan yang berpaling muka dengan menghembus napas.

Bersama perempuan perang enam lelaki menenggak air liur. Sedang Nurmala seperti kuntilanak di televisi, cekikikan mendayu-dayu. Tidak lama. Lalu mata perempuan itu hangat. Air mengalir dalam pekat.

Minggu, 21 Maret 2010

Tujuh Belas Perempuan

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Jurnal Bogor, 7 maret 2010















NURIAH
Wak Nur, demikian aku memanggil kakak semata wayang ibuku itu. Ia sangat tak rasional-menurutku. Ia selalu menjadikan perceraian kakakku Amir dengan Mbak Asih, seorang perempuan Jawa yang ayu itu, sebagai dalih agar membuatku hati-hati dalam memilih calon istri. Huhhh!

DINA
Bila ada yang bertanya padaku siapa wanita paling sopan yang pernah kutemui, maka tanpa ragu-ragu aku akan menyebut nama gadis kelahiran Madiun itu. Tentu saja, takkan kuberikan alamat rumah dan tempat kuliahnya, serta nomor telpon atau handphone-nya, pada sesiapa yang menanyakan itu padaku. Tak perlu kujelaskan alasanku melakukannya. Pun aku tetap bersiteguh dengan sikapku, walaupun kemarin kudengar dari teman kuliahnya kalau dia baru diterima kerja di Batam. Sebagai apa? Lebih baik kau tak tahu, kata temannya itu.

IKA
Walaupun bukan kerabat dekat, namun perempuan ini sangatlah berpengaruh dalam keluargaku. Mungkin cerita tentang ia yang membayari utang-utang Ibu pada rentenir Somad itu, benar adanya. Aku sangat cemas ketika ia melaporkan perihal kedekatanku dengan beberapa gadis yang hal-ihwal keluarganya-dengan sok tahunya-ia pergunjingkan.

JAMILAH
Orangnya ramah. Gigi-giginya berbaris rata. Sungguh indah bila sedang tersenyum dan tertawa. Wajahnya juga mulus sekali. Seolah menanggapi ketakjubanku, ia seringkali berujar bahwa ia tak pernah mengoles bedak pada wajahnya. Nekno-ku juga pernah bertanya apakah perempuan Sunda itu calonku. �Ia itu istrinya Kak Fajar yang tinggal di belakang Baitul Amin, No�,� jawabku kala itu.

UMI
Ia sangat penyayang. Tapi terlalu konvensional, bahkan irasional. Kupikir pemikiran kolot perihal Linggau-bukan Linggau dalam memilih jodoh hanya ada dalam cerita-cerita usang yang takkan mungkin terwarisi pada generasi-generasi berikutnya-termasuk juga generasi perempuan itu. Tapi aku salah. Ia sangat-sangat mementingkannya. Maka, aku hanya bisa diam ketika ia terus menyebutkan satu-dua suku yang ia �hindari� itu. Mungkin ia tak terlalu memahami filosofi Burung Garuda�.

KUSNAWATI
Ia dingin sekali. Tapi jangan pikir kebaikannya pun membeku dalam pribadinya. Ia suka menolong-seperti gadis Jawa yang kebanyakan kukenal. Walaupun tak pernah ia ceritakan padaku, namun beberapa kali aku mendapatinya memberi nasi bungkus dan beberapa lembar ribuan pada beberapa wanita tua di dekat trotoar. Semua lelaki sama saja, Mbah, katanya pada mereka. Wuiiiiik!

YUAN
Kerudungnya panjang dan lebar. Tak seperti kebanyakan wanita bertutupan kepala itu, ia acapkali mengenakan yang motifnya beragam. Batik, bunga lili, ilalang, koran, bahkan beberapa kali belang harimau. Tak seperti wanita-sepertinya-kebanyakan pula, ia tak terlalu membatasi percakapan dan pembicaraan. Hanya saja ia begitu sulit melafalkan melafalkan huruf F. Ah, gadis Minang yang lucu!

PUSPA
Aku sedikit terkejut ketika ia mengatakan semoga bukan aku Fatimah-nya. Ah, apakah semua ada hubungannya dengan cerita drama-cinta islami yang berakhir kegagalan itu. Sebenarnya ia menjawabnya waktu itu, tapi tak kuingat jelas kalimatnya. Yang kuingat, tak lama setelah itu, ia diterima PNS sebelum mengatakan bahwa ia akan segera berhenti di tempatnya kini bekerja. Kini, aku yakin, sebagaimana kulakukan, ia juga menghapus namaku dari handphone-nya.

ASMAINI
Menggemaskan. Itulah kesan pertamaku berjumpa dengannya. Semua bukan hanya didasarkan pada kedua pipinya yang setengah bantat, tapi juga bibirnya yang mungil, matanya yang sipit, dan tabiatnya yang bicara sekali-kali saja. Ya, tak seperti perempuan Bandung kebanyakan. Ketika kutanyakan apa kesibukannya sehari-hari, ia bilang jualan tempe goreng. Enak dan gurih, tambahnya berpromosi. Seolah ingin meyakinkanku, keesokan harinya ia mengantarkan satu kantong tempe goreng ke rumah. Semuanya basi!

AIE
Percaya diri. Itulah kata yang kurasa pas untuk menggambarkan kepribadiannya. Dia guru di beberapa sekolah dan beberapa Bimbingan Belajar. Dengan setengah tergesa, ia menjelaskan bahwa rumah ibunya di Tulungagung berdekatan dengan SD. Ia sangat senang melihat guru-guru yang mengajar. Aku tersenyum dalam hati. Ia memang percaya diri, tapi tak pandai menyembunyikan raut kesepian dari wajahnya. Ia anak piatu. Ayahnya acap pulang kerja larut malam. Kedua adiknya bekerja di luar kota.

SISI
Dia kelahiran Yogyakarta. Selain wajah-plus senyum-manisnya, kulitnya yang eksotik, rambut sebahu, bulu mata yang mencuat, hidung bangir, dan bibir yang merah penuh, ia juga murah tersenyum. Sudah berapa lama tinggal di Lubuklinggau, tanyaku. Ia tak menjawab. Ia hanya menulis di secarik kertas yang baru kubuka selepas mengunci pintu kamar. Aku bisu, tulisnya. Itu saja.

APRIYANI
Bila ada yang bertanya di mana dapat dicari wanita yang senang menolong, aku akan menunjuk rumahnya. Walaupun baru berkenalan, gadis itu suka sekali membantuku. Bahkan untuk mengurus beberapa proposal-yang sejatinya tanggunganku-ke beberapa tempat yang cukup jauh untuk ukuran gadis belia seperti dia. Aku masih bisa menyembunyikan resah, ketika ia memerkenalkan tunangannya dari Padang. �Se-suku lebih enak,� katanya seolah menanggapi keresahanku yang berhasil diendusnya.

YUNI
Tak jauh berbeda dengan nenekku, adik ibuku ini tak terlalu banyak omong. Tapi� o o, sekali berucap, maka seolah gumpalan magma menyembur dari mulutnya. �Alan dan Ros kemarin pisah ranjang. Tak lama lagi, ia akan senasib dengan Marlis yang ditinggal Milah. Cukuplah kiranya itu jadi pelajaran bagi kau. Jangan menyunting gadis Pariaman!� Huh, tak adil, batinku.

JUWITA
Awalnya kupikir gadis ini sama seperti wanita Jawa kebanyakan. Ayu dalam berbicara dan terlalu menjaga dalam bersikap. Tidak! Bukan, bukannya ia grasak-grusuk dan tak ada adab dalam berkawan, tapi ia seperti orang Linggau kebanyakan. Cuek tapi peduli. Serius tapi santai. Aku tak terlalu terkejut ketika ia menjawab pertanyaanku seputar wiwitan yang diikutinya: �Kalau bukan karena rambutku sempat botak karena menyimpan sisir pas panen dulu, pasti sudah lama aku hilang Jawa-nya?�

KUSMINARTI
Mengapa kau tak ikut grup lawak saja, tanyaku padanya saat itu. Ia sangat suka melucu. Walapun, jujur, kadangkala banyolannya garing. Ia kerap menertawakan cerita-ceritanya sendiri, tentu saja berharap orang lain mengikuti tingkahnya. Mungkin ia ingin meniru gaya Ajo dan One dari kampung ibunya: Piaman. Tapi ia lupa bahwa aku tak mudah terpancing, sampai�. ketika di tengah keramaian, dengan setengah tertawa ia berujar bahwa resletingku sudah sedari tadi terbuka. Yang lain tertawa. Aku juga tertawa, menutupi wajah yang memerah.

SHANTY
Dia sudah menikah. Bahkan satu bulan yang lalu baru saja melahirkan. Aku cukup senang ketika sebuah frase indahku akan dijadikan nama buat putri pertamanya. Orangtua kami tak setuju, tak ada unsur pewayangannya, dalihnya seolah meminta maaf karena tak jadi memakai nama yang kugubah. Ah, aku biasa saja. Yang aku terkejut adalah ketika kudengar ia akan bercerai. Satu setengah tahun kemudian, aku hendak menelponnya sebelum sebuah undangan aqiqahan terselip di pintu rumahku. Ada nama anak kedua mereka di sana.

ANA
Teman laki-lakiku kerap membicarakannya. Gadis paling menarik yang pernah ada. Tak kubiarkan kalian berprasangka bahwa pastilah ia suka memakai legging, tank-top, dan suka berhaha-hihi ketika jalan-jalan sore dengan Mio pink-nya. Ia gadis yang pendiam, bahkan dua bulan yang lalu ia memakai jilbab. Satu minggu yang lalu katanya ia juga bercadar. Masih tak kupersilahkan kalian berprasangka, apalagi menghujatnya, ketika ia digelandang polisi untuk alasan yang kata kalian: bom dan teroris. Mojang Cianjur itu hanya mengutil sabun dan pasta gigi di Linggau Plaza.

RAINAMSA
Ia menjulukiku sebagai orang yang tak pandai mengambil langkah. Tentu saja, ia menyebut mereka yang pernah dekat denganku. Tak kurang satupun. Ia masih ingat semuanya. Ingin sekali kutumpahkan kekesalanku bila tak menenggang bahwa ia adalah perempuan yang melahirkan dan membesarkanku. Setelah puas merepet perihal kawin-kawinan itu� : �DU-A E-NAM!!!� Lagi, ia meneriaki usiaku. Betul �kan? Perempuan memang sangat berlebihan!(*)

/Lubuklinggau, 01 Mei 2009 s.d. 10 Januari 2010

Rabu, 17 Maret 2010

Lelaki Pembaca Berita Lelayu

Cerpen Setta SS
Dimuat di Jurnal Bogor, 14 Maret 2010

















SEJAK lebih tiga tahun lalu saya tinggal di Kota Gudeg ini, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Berita lelayu, yang sering saya dengar dari pengeras suara di atas menara Masjid At-Taqwa, sekitar 100 meter dari tempat kos saya.

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Ada berita lelayu
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun...


Bapak pembaca berita lelayu itu mengucapkan ayat 156 surat Al-Baqarah sebanyak tiga kali, seperti biasanya. Lalu ....

Telah meninggal dunia dengan tenang
Nama : ....
Usia : ....
Alamat : ....
Meninggal pada hari � pukul �


Kemudian dilanjutkan dengan menyebut keluarga yang ditinggalkannya; istri atau suami, kakak, adik, anak, hingga cucu-cucunya, kalau memang ada. Dan pada akhirnya, memohon dengan hormat pada siapa saja yang mempunyai waktu luang dan bersedia untuk bertakziah dan sekaligus mengantarkan si mayit ke tempat peristirahatan terakhirnya di dunia ini, liang lahat!

Saya biasanya hanya mengecilkan volume radio yang sedang saya putar sesaat untuk mengetahui siapa orang yang meninggal pagi itu dan berapa usianya. Selebihnya saya segera memutar lagi volume radio hingga suara pengumuman itu tak terdengar lagi. Begitu juga dengan semua teman-teman sekosan saya.

Bagi saya, berita itu sudah menjadi santapan rutin hampir setiap hari. Biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh sama sekali. Paling isi beritanya ya itu-itu juga. Hanya tinggal mengganti nama orang yang meninggal, usia, dan tempat tinggalnya. Beres!

Seperti yang barusan saya dengar, bapak itu kembali mengumumkan sebuah berita lelayu. Selalu saja tepat menjelang jam enam pagi, saat saya sedang membaca diklat kuliah sambil mendengarkan radio ditemani secangkir teh poci hangat.

Saya sempat tercenung cukup lama tadi. Usia orang yang meninggal pagi ini 105 tahun!

Tadinya saya pikir bapak itu salah baca. Tapi ketika dia mengulangi membaca untuk kedua kalinya, tetap saja suaranya dengan sangat jelas mengatakan usia seratus lima tahun!

Akhirnya, mau tak mau, saya harus mengakuinya juga bahwa saat ini pun ternyata masih ada orang yang usianya melebihi angka seratus! Bah!

Tiba-tiba saya langsung teringat usia saya saat ini. Usia saya baru 21 tahun kurang dua bulan dan sembilan hari. Jadi, kalau seandainya saya juga diberi umur hingga 105 tahun, berarti saya masih punya sisa waktu 84 tahun lagi ya?

Ah, masih jauh, baru seperlimanya! pikir saya santai.

Namun saya bisa menyimpulkan, rata-rata usia orang yang meninggal, yang selalu diumumkan oleh bapak itu, tidak lebih dari 70 tahun. Paling banyak usia enam puluhan. Ada juga beberapa yang usianya di bawah 30 tahun.

Saya masih ingat, dua hari yang lalu, bapak itu membacakan sebuah berita lelayu tentang seorang wanita yang meninggal dalam usia 27 tahun. Tetapi, belum pernah sekalipun saya mendengar usia orang yang meninggal itu 21 tahun, sama seperti usia saya. Apalagi hanya seorang bayi yang baru beberapa bulan hadir di dunia ini.

Entah karena memang tidak ada atau berita lelayu ini hanya khusus untuk mengabarkan mereka yang meninggal dalam usia tua saja, saya tidak tahu. Saya hanya suka saja mendengarkan bapak itu membacakan sebuah berita lelayu di pagi hari. Tidak lebih dari itu! Lagian apa peduli saya?

***


�KENAPA Bapak menangis?� tanya saya heran menyaksikan punggung bapak itu berguncang-guncang menahan isak, bersandar pada dinding masjid di dekat tempat mic.

Tadi saat saya pergi ke warung untuk membeli satu kotak kecil teh poci, bapak itu mengabarkan sebuah berita duka lagi. Iseng, saya melongokkan kepala dari jendela masjid yang terbuka untuk melihat apa yang sedang dilakukannya.

�Setiap kali saya membacakan sebuah berita lelayu, saya jadi teringat akan jatah usia saya sendiri. Saya tidak tahu kapan akan mati, tetapi saya yakin suatu hari kelak akan datang saatnya, giliran saya yang diumumkan telah mati lewat pengeras suara ini,� jawab bapak itu dengan suara bergetar, masih dengan isaknya yang putus-putus.

�Kematian adalah awal siksaan yang sangat menyakitkan bagi orang yang durhaka. Sementara, saya sendiri tidak begitu yakin akan bisa selamat melewati pintu yang satu ini jika waktunya telah tiba nanti,� lanjut bapak itu lagi tanpa saya minta.

Bergegas saya meninggalkan bapak itu setelah dia menuntaskan semua kata-katanya pada saya.

Uh, saya heran, kenapa saya hanya diam saja tadi saat dia bicara tentang hal yang menurut saya biasa-biasa saja itu. Saya seperti terhiptonis! Tetapi ada nuansa lain yang saya rasakan setelah mendengar kata-katanya tadi.

Ya, sesuatu yang jarang sekali saya pikirkan. Bahkan selalu terlupakan dari ingatan saya selama ini: KEMATIAN. Karena jujur saja, saya sudah cukup sibuk memikirkan bagaimana agar bisa lulus setiap mata kuliah dengan nilai baik, segera menyusun TA, maju sidang, wisuda, dan segera bekerja di perusahaan bonafid impian saya. Dan saya benar-benar terlena dari memikirkan hal yang satu itu.

Tetapi, diam-diam, saya merasakan hawa dingin menelusup, menembus saluran pengeluaran di kulit ari saya. Bulu kuduk saya berdiri!

***


SELEPAS Isya ....

�Nderek mboten, Mas?� sapa seorang bapak setengah baya yang membawa kotak infak masjid kepada saya. Bapak yang selalu mengumumkan berita lelayu itu.

Di luar masjid, bapak-bapak yang lain sudah berkumpul untuk bersama-sama berangkat ke rumah orang yang anggota keluarganya meninggal untuk membaca surat Yasin dan tahlilan.

Tadi pagi saya sedikit kaget mendengar suara kentongan dipukul bertalu-talu. Tadinya saya kira ada maling yang tertangkap, seperti biasanya bunyi kentongan di kampung kelahiran saya. Setelah suara kentongan itu reda, telinga saya langsung menangkap suara khas bapak tadi di pengeras suara mengumumkan sebuah berita lelayu lagi.

Saya baru tahu, ternyata kentongan berdiameter hampir satu meter di samping masjid yang tidak pernah dipakai itu hanya dipukul ketika ada berita lelayu dan orang yang meninggal itu penduduk asli di sekitar masjid ini.

�Mboten, Pak. Saya ada urusan lain,� jawab saya pendek. Saya kurang suka bepergian ke rumah orang yang sedang berduka. Pasti suasananya juga serba kelabu. Diliputi kesedihan.

�Monggo, Mas,� pamitnya pada saya sambil menganggukkan kepala.

Saya juga menganggukkan kepala sambil memasang sebuah senyum tipis. Tanpa sepengetahuannya, saya memperhatikan langkah-langkah bersahajanya menyusul bapak-bapak lain yang mulai berjalan meninggalkan pelataran masjid.

Kalau saya lihat dari perawakan sedangnya yang tampak masih cukup kekar dan sehat, saya tebak usianya sekitar setengah abad, atau kalau pun lebih tak akan terlalu jauh.

Saya bertanya dalam hati, berapa tahun lagi nih bapak akan mati?

Kematian itu seperti buah kelapa jatuh, Mas. Memang banyak kelapa yang baru jatuh di saat sudah benar-benar tua dan penuh dengan pati. Namun, tak sedikit pula yang sudah lepas dari mayangnya pada waktu masih degan, kelapa muda. Bahkan, ada juga yang sudah berguguran kala masih berupa bunga.

Jika selama ini usia orang meninggal yang saya umumkan hampir selalu di atas lima puluhan, bukan berarti maut hanya bagi mereka yang sudah renta saja. Ia akan mendatangi siapa saja tanpa memandang batasan usia.

Saya tersentak sendiri. Kenapa perkataan bapak itu lagi yang ke luar dari memori saya untuk menjawabnya?

Saya merasakan sesuatu yang kasat mata merayapi seluruh permukaan tubuh saya seketika. Sama seperti yang saya rasakan saat pertama kali bapak itu mengucapkannya. Dingin!

Bergegas saya melangkahkan kaki menuju tempat kos saya yang tak berapa jauh dari area masjid itu.

***


SEHARI berselang ....

Tong! Toong!! Toong!! Toong!! Tooongg!!!

Saya terlonjak kaget dari tempat tidur. Reflek, mata saya yang terasa sempit saya kucek-kucek dengan punggung tangan kanan saya. Ternyata saya ketiduran lagi sehabis shalat shubuh tadi.

Toong!! Toongg!! Toonggg!!!

Perhatian saya langsung tertuju pada suara kentongan itu. Tiba-tiba saya langsung teringat sesuatu. Saya alihkan mata ke arah jam weker di pojok meja belajar. Tepat sekali, sekarang pukul enam kurang beberapa menit. Seperti biasanya, memang jam seginilah bapak itu selalu mengumumkan sebuah berita lelayu.

Dan tentunya, sama seperti kemarin pagi, pasti hari ini yang meninggal juga penduduk asli sini. Suara kentongan tadi tandanya.

Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Ada berita lelayu
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun...


Saya merasakan ada sesuatu yang janggal dari nada suara itu. Suaranya tidak seperti biasanya.

Telah meninggal dunia dengan tenang
Nama : Bapak Rabejo
Usia : ...


Tiba-tiba tubuh saya langsung lunglai seketika.

Saya tidak memperhatikan lagi apa yang diucapkan oleh suara itu selanjutnya. Hanya satu hal yang saya ingat, namanya Pak Rabejo, jawab si Ifan, teman sekos saya yang sering ikut mengajar anak-anak TPA di sore hari, saat saya tanya nama bapak yang selalu mengumumkan berita lelayu itu sebulan lalu!


13 Oktober 2oo3 o3:37 p.m.



Catatan

berita lelayu: berita kematian; nderek mboten, Mas?: ikut tidak, Mas?

Selasa, 16 Maret 2010

Menggambar Ayah

Cerpen Alimuddin
Dimuat di Serambi Indonesia, 14 maret 2010

SILAM, buah pikiranku selalu ingati Ibu berwejang:

�Jika rindu, gambar Ayah di pasir pesisir.. Biar rindu itulah berkelana...�

Pada mula aku geleng kepala. Kuajuk Ibu bohong demiku tiada terus rengek. Sehari di laut, aku tahu Ibu tak diciptakan Tuhan demi bohong. Kubawa Dek Nong serta. Di rumah, Dek Nong tak reda rusak kerja Ibu. Aku pikir, Ayahku di suatu tempat dan belum ingin pulang. Tapi Dek Nong kata, Ayah sudah di surga. Adik itu menangis.

Pada suatu matahari petang, kawan-kawan serta gambar Ayah. Kutahan tangis sambil hapus gambar-gambar itu. Itu Ayahku!

Tapi Ibu kata,�Biar saja...Biar saja Agam.�

Lalu aku tak pernah menangis lagi bila teman-teman melukis Ayah.

Kini aku belasan usia, Masyik sudah lelah suruhku ke sikula. Di sikula aku tidak boleh gambar-gambar. Aku telah jadi anak laot.

Pertama gambar Ayah. Ombak datang tiga kali ke daratan, Ayah sudah hidup di pasir.

Aku rindu Ibu. Tapi menggambar Ibu dengan pakai telekung buatku goyang-goyangkan kepala. Kemudian Dek Nong. Rambut adik itu kriwil-kriwil. Aku ingat-ingat senyum Dek Nong dan mulai menggambar.

Lepas itu, aku duduk di sela gambar. Berkisah dengan Ayah, Ibu, Dek Nong. Aku tertawa. Aku berlari ke dalam laut yang punya banyak ombak. Teman-temanku masih menggambar. Lukis mereka adalah Ayah, Mak dan adik-adik.

Cut Mala lukis Ayah, Ibu dan adik bayi. Kasyi melukis Ayah dan adik. Mita lukis paling banyak gambar, Ayah, Ibu, dua kakak perempuan, satu adik laki-laki. Putra hanya melukis Ayah saja.

Kemudian teman-teman susulku ke dalam laut. Kami berdiri ramai dan tantang matahari. Cut Mala berteriak, laut kembalikan Ibuku...Ombak memburu kami seperti bengis. Kami tergulung. Dalam ombak aku menangis.


Oktober akhir Setelah semua selesai.

Engku Badar

Cerpen Aida Radar

Dimuat di Republika, 14 Maret 2010










BADARUDIN Mahifa! Nama yang tertera di jadwal mata kuliahku. Pengajar salah satu mata kuliah yang aku programkan pada semester itu. Staf dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, tempat aku menitipkan nama di daftar absensi.

Meski namanya Badarudin Mahifa, orang-orang menyapanya Engku Badar. Engku adalah sebutan hormat masyarakat untuk guru laki-laki pada masa itu. Aku tidak punya cukup informasi sampai tahun berapa sebutan Engku digunakan. Badar adalah nama kecilnya. Terkenallah dia Engku Badar.

Pertama kali bertatap muka di kelas, ia kutaksir berkepala tujuh. Itu terlihat dari uban yang mengganti rambutnya, keriput-keriput yang bertebaran di wajahnya, langkah kakinya juga sudah sepelan siput.

Meski penampilan fisiknya menunjukkan tuanya, jangan kira ia seperti dosen-dosen tua kebanyakan. Kepalanya tak botak seperti teman-teman seprofesinya. Rambut putih lebatnya selalu mengilap. Pelan langkah kakinya, tiada pernah membuatnya lambat melakukan sesuatu, termasuk mengajar di kelas. Wajah keriputnya bercahaya setiap ia menengadahkannya. Aku tahu asal cahaya itu. Cahaya itu efek air yang selalu ia basuhkan pada anggota tubuhnya lima kali sehari. Aku sering menjumpainya di masjid kampus setiap waktu shalat.

Setiap bertemu, aku sekadar bertutur sapa. Tiada sedikit keberanianku untuk bercakap banyak. Apalagi sampai berlama-lama mengupas topik. Aku tak pernah berani.

Aku sadar. Aku mahasiswanya yang kurang menonjol di kelas. Walau otak tidak jongkok, intinya aku ini tidak menonjol. Karena aku takut tak mampu merespons apa yang disampaikan, cukup dengan sapa saja, aku puas. Tapi, heran, dia hafal namaku. Selalu memanggilku dengan nama lengkap tanpa cacat.

�Faiz Abdul Rahman. Sudah shalat?� ia selalu bertanya seperti itu.

Ah, bahagianya aku. Walau tidak terlalu aktif di kelas, ia mengenalku, tahu nama lengkapku. Sebagai murid, aku merasa dihargai. Itu artinya ia mengenal semua mahasiswanya. Yang aktivis sampai pasivis kelas berat, semua Engku kenal. Satu lagi yang menurutku menarik darinya: caranya berpakaian. Ia tidak pernah ketinggalan zaman. Selalu modis ditambah cara berpikir yang tidak kuno.

�Walau fisik sudah tua, gaya dan cara berpikir harus tetap muda dan sesuai dengan zaman agar kita tidak ketinggalan. Iya toh? Tapi, ikuti perkembangan zaman yang sesuai kepribadian agama dan bangsa. Selain itu, tinggalkan! Lebih banyak mudharatnya.�

Demikian ia menjawab pertanyaan seorang teman di kelasku mengenai penampilannya.

�Seorang guru adalah panutan. Ia cermin murid-muridnya. Setiap kali murid melihat gurunya, hal pertama yang mereka perhatikan adalah penampilannya. Apakah gurunya berpenampilan baik ataukah awut-awutan? Kesan pertama sesuatu yang sulit dilupakan,� ujar Engku Badar mulai membagi ilmunya.

�Meski di kemudian hari mereka lebih mengenali dan mengetahui seberapa hebatnya guru mereka, tetap saja kesan pertama sulit terlupa. Makanya, sebagai calon guru, porsi penampilan harus mendapat perhatian khusus, di samping ilmu yang kalian miliki. Ingat itu baik-baik,� lanjutnya lagi. Dia berhasil! Guruku yang berdiri di depan kelas itu berhasil membuatku terkesan dengan penampilan pertamanya. Waktu berjalan, ia telah menjadi dosen kesayangan teman-temanku dan tentu saja aku.

***

SABAN Sabtu, ia mengajar di kelasku. Hari-hari lain ruang kelas sepi. Tapi, tidak hari Sabtu. Mahasiswa-mahasiswa�bahkan baru pertama kulihat wajahnya�siaga di kelas. Seperti Sabtu itu.

Seseorang duduk di sampingku hari itu. Sebelumnya, ia menyapaku, lalu memperkenalkan diri.

�Hai, apakah tempat ini ada yang punya?� tanya lelaki itu kepadaku.

�Oh, tidak ada. Tempat ini selalu kosong. Duduk saja,� jawabku.

�Terima kasih. Saya Andi Fauzan. Panggil saja Uja. Mahasiswa konversi semester dua.�

�Saya Faiz Abdul Rahman. Panggil Faiz. Mahasiswa kelas ini.�

Dari perkenalan itu, aku tahu banyak hal tentang Engku. Ternyata, Uja juga pengagum Engku. Sebenarnya, ia memilih ikut kelasku karena ingin diajar Engku. Sebab, dosennya untuk mata kuliah ini bukan Engku. Jadi, ia tidak ikut kelasnya.

Tidak hanya Fauzan yang kukenal di kelas Engku. Sabtu berikutnya, aku berkenalan dengan Doni, mahasiswa satu angkatan di atasku. Sabtu berikutnya lagi, dengan Zulkifli, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Sabtunya lagi, aku berkenalan dengan orang-orang yang berbeda. Selalu orang yang berbeda seterusnya. Rata-rata, mereka beralasan sama ketika kutanya mengapa ikut kelasku.

Dari perkenalan-perkenalan itu, aku mengetahui lebih banyak tentang dosen kesayanganku.

�Engku Badar itu dosen yang cerdas. Beliau banyak mendapat penghargaan karena kecerdasannya. Beliau telah mengajar sejak berumur lima belas tahun.�

�Menurutku, Engku Badar diciptakan untuk menjadi guru. Terbukti, ia sangat hebat dalam urusan itu.�

�Engku Badar itu seorang duda. Istrinya meninggal karena sakit ketika Engku Badar mendapat tugas di luar daerah. Waktu itu, pernikahan mereka baru lima tahun. Mereka tidak memiliki anak. Sepeninggal istrinya, Engku Badar tidak menikah lagi. Ia sangat mencintai istrinya dan merasa bersalah karena tidak menemaninya di saat-saat terakhir. Jadi, sekarang Engku Badar masih tetap sendiri.�

Masih banyak lagi yang aku tahu tentang prestasi-prestasinya. Bahkan, kehidupan pribadinya.

***

SEBENARNYA, tak terpikirkan olehku kuliah di Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Apalagi menjadi guru. Aku hanya mengikuti kemauan orang tuaku yang menginginkanku menjadi guru seperti mereka. Aku jauh-jauh dari kampung untuk obsesi itu. Obsesi orang tuaku.

Karena setengah hati menuntut ilmu di Keguruan, aku kurang suka kuliah selama semester satu dan dua. Aku selalu membayar dan menyelesaikan keperluan administrasi sebelum perkuliahan dimulai. Baik dan tepat waktu. Namun, semua itu kulakukan agar namaku tetap berada di absensi kelasku. Dan, tentu saja guna menyenangkan hati kedua orang tuaku.

Itu tentunya sebelum aku menjadi mahasiswa Engku Badar. Setelah aku berguru dan lulus dari mata kuliah Engku�dengan nilai lumayan untuk mahasiswa kurang menonjol sepertiku�menjadi guru telah tertanam dalam jiwa dan ragaku.

Meski sudah lulus dari mata kuliahnya, Engku tetap guruku. Bukan karena ia kembali jadi dosen mata kuliah yang kuprogramkan semester berikutnya. Tapi, guru tempatku bertukar pikiran. Di semester itu, aku telah menjadi mahasiswa yang lumayan menonjol. Aku sudah memiliki keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi. Ah, ya, satu lagi. Aku sudah rajin kuliah. Aku mulai tertarik menjadi guru sepenuh hati. Semua itu anugerah Yang Kuasa melalui Engku Badar.

�Kamu tahu mengapa saya jadi guru, Faiz?� tanya Engku Badar padaku dalam suatu kesempatan usai shalat Zuhur di masjid kampus.

�Pasti karena panggilan jiwa, kan, Engku?� jawabku kembali bertanya.

�Ya, itu salah satunya. Tapi, ada yang lebih mendorong saya mencintai profesi ini. Kamu tahu apa itu?�

Aku menggelengkan kepala.

�Umur 15 tahun, saya membaca sebuah buku. Saya sudah lupa judul buku dan pengarangnya. Tapi, saya sangat ingat sepenggal kalimat yang begitu menginspirasi saya. Hmmm.� Ia menarik napas.

�Guru adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah SWT setelah nabi dan rasul-Nya. Begitu bunyi kalimatnya.�

�Guru adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah SWT setelah nabi dan rasul-Nya.� Ia kembali mengulangi kalimat itu.

�Karena, guru mempunyai tanggung jawab yang besar: memanusiakan manusia. Ia punya tanggung jawab mengubah watak buruk seseorang menjadi baik. Menjadi guru berarti kamu telah mempersiapkan pahala-pahala jariyah yang akan terus mengalir walaupun kamu telah berpulang ke pangkuan-Nya nanti. Maka, Faiz, beruntunglah kamu terpanggil untuk pekerjaan mulia ini.�

Ia tersenyum dan menepuk pundakku. Aku meresapi setiap kata yang ia nasihatkan. Dalam hati, kutanamkan kuat kata-kata itu.

***

SUDAH seminggu aku tidak bertemu Engku Badar. Di masjid dan tiap-tiap ruang kelas telah kujajaki untuk mencarinya. Aku ingin bertanya sesuatu padanya. Namun, ia tak terdeteksi. Ia menghilang.

Aku coba bertanya di ruang jurusan. Nihil. Mereka juga, tidak tahu. Pihak jurusan juga mencarinya. Engku tidak pernah mengajar seminggu belakangan.

Aku heran. Apa yang terjadi pada Engku? Tidak biasanya ia tidak mengajar tanpa konfirmasi. Jangankan seminggu, sekali absen dalam satu kelas saja hampir tidak pernah. Untuk menghilangkan rasa penasaranku, aku berencana ke rumahnya sepulang kuliah.

Ketika kembali ke kelas untuk mata kuliah selanjutnya, sebuah kabar meremuk redam hatiku. Tubuhku gemetar.

�Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia dosen kita, guru kita, ayah kita, pemberi ilmu bagi kita, Bapak Drs Badarudin Mahifa, MPd atau yang biasa dikenal dengan Engku Badar. Beliau berpulang hari ini di Rumah Sakit Umum dalam keadaan belum sadar dari koma akibat kecelakaan yang menimpanya satu minggu yang lalu. Semoga amal dan kebaikan beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.� Informasi itu disampaikan seseorang, tetangga beliau.

Butiran asin bening tak tertahankan lagi. Aku terdiam di tempat. Wajahku pucat. Mata memerah. Semua kenangan bersama Engku tiba-tiba berkelebat dalam memoriku. Semua nasihatnya kembali terngiang.

�Ya, Allah, terimalah Engku di sisi-Mu,� lirihku mencoba mengikhlaskannya.

Kelas yang awalnya riuh kini hening. Semua tertunduk lesu. Kehilangan.

�Pak Faiz, sekarang jadwal mengajar bapak di kelas kami.�

Seseorang membuyarkanku dari lamunan masa lalu. Ia adalah Heriansyah. Mahasiswaku di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada perguruan tinggi tempat aku mengajar kini.

Oh, terima kasih, Heri. Kamu duluan, ya. Nanti, Bapak menyusul,� kataku.

�Iya, Pak.� Ia pun berlalu.

Aku mengambil tas dan perlengkapan mengajarku. Dalam hati, aku berjanji untuk memberikan segala pengetahuan yang kumiliki pada mahasiswa-mahasiswaku. Seperti yang Engku Badar ajarkan padaku ketika aku masih berstatus mahasiswa dulu.

Aku berjalan menuju kelas Heriansyah. Sewaktu melewati sebuah kelas, sebelum ruang kelas mengajarku, aku mendengar seseorang berbicara di kelas itu. Tiba-tiba, langkahku terhenti mendengar apa yang orang itu bicarakan.

�Guru adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah SWT setelah nabi dan rasul-Nya. Begitu bunyi kalimat dalam buku tersebut. Guru adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah SWT setelah nabi dan rasul-Nya.�

Aku tercekat. Kata-kata itu?

�Engku Badar.� (*)

Aida Radar, anggota FLP Sulsel & LKIM-PENA Unismuh Makassar.

Cerpen ini meraih juara pertama pada lomba penulisan cerpen Pekan Nasional Pers Mahasiswa (PENA EMAS), Universitas Hasanuddin Makassar, November 2009

Bulan Celurit Api

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Suara Merdeka, 7 maret 2010















MAK MUNA duduk di tubir jenjang. Menengadah ke kelam raya. Bulan berubah menjadi celurit api. Lagaknya mengajak pucuk Limas berseteru. Mak Muna risau. Itu adalah lukisan masa hadapan yang tak berbingkai. Apabila diutarakannya tafsir tentang �peperangan� bulan sabit dan atap rumah pusaka itu, pastilah sesiapa menolak bersetuju.

Firasatnya, kampung akan petaka. Ah, Mak Muna mati-matian menindih-redam ramalan yang menyembul-nyalang itu. Cukuplah praduganya terdahulu yang melesat bak bumerang. Menancap-menusuk kehidupannya.

Ia beringsut mengganti tengkuluk �semacam penutup kepala. Pekan lalu �Mak Muna lupa persisnya, ia diundang Salim (Ai senangnya, diundang, oi!), ketua RT, untuk berkumpul di laman Haji Makmun bakda Isa malam ini. Iyut, tetangga yang ditunggu-tunggunya, tak jua menjemputnya. Mungkin ada perkara syar�i yang menghalangi, atau� Iyut sibuk tengah menemani sanak-sanaknya dari kota; muda-mudi yang pasti beragam ulahnya�.

***

ORANG-ORANG beragam usia, pekerjaan, dan kehormatan berkumpul di tarup. Tarup?! Ya, zaman kini, biasanya tenda lebih banyak dibentang. Ah, serasa kembali ke masa lama saja�.

Walaupun duduk di bagian belakang, tapi, sejatinya, Mak Muna menyimpan kebanggaan. Walau ia juga tahu, tak ada yang memedulikan bunga yang tiba-tiba mekar di dadanya itu. Jarang-jarang berada satu suasana dengan Haji Makmun, orang beruang dan terpandang yang beberapa kali fotonya tercetak di koran. Ah, bulan celurit itu tak menantang pucuk Limas. Aku berlebihan saja dalam berkira�.Mata tua Mak Muna menangkap rombongan ada orkes melayu di panggung. Ai ai, senangnya hati seorang tua. Ia bayangkan, irama senjang dilagukan. Umar Tanjung, pemain gitar tunggal tersohor itu akan dipadu dengan Mak Nur, sejawatnya yang merdu berejung. Anak-anak seumur Mira pun akan bermain sandiwara. Melakonkan Dul Muluk. Atau juga, belasan pasangan muda-mudi menggayung-sambut pantun adat; mengenakan belah bulu, songket dengan badong raja, tanjak di kepala, dan terompah kayu yang kemeretak-kemeretok bagi yang bujang; kain lasem, baju kurung, dan sanggul malang yang ditanam tiga tusuk kembang goyang untuk yang gadis. Elok nian malam ni!

Saking khidmatnya memundur-mundurkan zaman, tiada terasa olehnya; satu dua sambutan telah tunai. Dan� ketika malam meninggi, entah apakah karena usia yang melamurkan telinga dan mata, atau memang ia harus sadar bahwa dunia bukan lagi sangkarnya, apa-apa yang dipidatokan Haji Makmun dengan setengah berteriak itu tiada dimengertinya. Pun mereka yang makan minum sambil berdiri itu, dan� Ya Rahman, joged-jogedan di atas panggung tarup orkes�.

�Ayo� lanjut! �Kucing garong�!!!�

Hai hai hai Mak tua, lupakah, engkau! Kini bukan zaman keresidenan dan pesirah-pesirahan. Bukan jua masa radio kemerosok melayu yang antena peraknya bergoyang kiri-kanan. Ini tahun yang baru, Mak! Indonesia Raya baru saja memilih presiden! Kita jua akan mengangkat lurah!

Mak Muna terhuyung pulang. Hatinya bak ditusuk cuban. Tak pernah ia duga, Salim yang juga pengurus masjid itu, berela-rela mengundang khalayak untuk hajatan tak beradab!

�Ini dari calon lurah kita, Mak.� Seorang pemuda menghampirinya. Memberi sebuah kertas putih berlis garis birumerah yang menyelang-nyeling.

Mak Muna tak sempat bertanya karena pemuda itu gegas menyongsong keramaian. Mengejar tetamu yang berdehem: hendak pulang namun belum mendapat bagian. Mak Muna bermaksud mengembalikan amplop�.

�Mak, dari tadi dicari-cari. Rupanya di sini,� Iyut menghampiri. �Tadi sanakku Maria yang nyusul. Mira menceracau, Mak. Tentulah alamatnya ia sakit lagi�,� kata Iyut cemas.

Tergesa-gesa mereka pulang. Amplop itu masih di tangan. Mak Muna urung mengembalikan. Bahkan, kini, erat sekali digenggamnya kertas putih itu. Di rumah, bertanyalah ia pada Iyut perihal amplop itu. Gadis tua itu mengangguk, seakan paham arah percakapan.

�Kita gabung saja, Mak. Cukuplah membawa Mira ke puskesmas esok.�

Baiknya kau, Yut. Mengapa masih saja kau menunggu Rusli, si Hidung-belang itu, untuk meminangmu? Bungsuku tak bisa diajak bersetia. Tak ada itu, Yut�.

***

SEBATANG badan Mak Muna sudah tak kokoh lagi. Seperti Rumah-Limasnya di Kayu Ara ini; setiap bagiannya bopeng sana-sini bagai menunggu waktu rubuh. Tak ada yang Mak Muna punya selain itu pun menurut ia sendiri kelihaiannya membaca tanda.

Dahulu, pada petang rinai, matanya menangkap pelangi dekat Sungai Kelingi. Kelir lengkungnya buram. Orang-orang tak gubris. �Tertutup kabut ia, Mak,� kata mereka. Tak lama, puak Col dan puak Musi berseteru. Banyak yang jadi korban dalam peristiwa itu. Termasuk Haji Bidin, suaminya yang imam masjid tersohor itu.

Jua, saat kelambit-kelambit berkibaran pada siang pekat. �Ingin pindah rumah rombongan kelelawar itu, Mak,� kata orang-orang yang menangkap kegelisahannya.

Ketika itu, Seno membeli pemancar siaran televisi itu. �Ini bukan parabola biasa, Mak. Siarannya yang bagus-bagus,� kata sulungnya itu sehabis menanam payung besi terbalik di atap rumah. Mak Muna tahu, Seno, Anjani, Yanti, Dewi, dan Rusli, kongsian dari hasil menjual getah karet tiap bulan.

Tak apalah, Nak. Asal itu faedah dan kalian gembira�.

Mak Muna miris jua melihat tak satupun anaknya menjadi orang. Keenam-enamnya masih menumpang �bila boleh dikatakan seperti itu�- di rumah pusaka. Jadi, mereka yang jumlahnya hampir 20 beranak itu memang sepatutnya berhibur; melupakan keletihan menyadap karet; mencari titik pandang pada televisi yang selama ini, bila dihidupkan, hanya menampilkan jutaan semut yang mengerlap-ngerlip.

Mak Muna salah lagi. Benar-benar tak paham ia. Walaupun hampir tak pernah ikut berkumpul dengan anak-menantu-cucunya berhahak-hihik atau bersedu-sedan atau� ya berjoged-joged di depan televisi, tapi� apanya yang bagus-bagus, bila cucunya yang bernama aneh-aneh itu �Alberto, Isabela, dan� uuuh, Mak Muna sendiri susah mengingatnya� susah sekali diajak sembahyang. Ah, induk-induknya pun tak sembahyang!

***

DULU, bakda anak-anaknya menjual tanah-tanah warisan dan membelikannya dengan gubuk-gubuk beton untuk bertegak sendiri, hati Mak Muna bergelinjang. Ada jua niat kalian untuk menghidupi keluarga sendiri-sendiri.

Namun, entah Iprit dari mana yang mengajak bersekutu, anak-anaknya termasuk cucu-cucunya ganau, ribut hendak menjual rumah pusaka.

Dan� Mak Muna tak runduk. Pemerintah kota saja memerhatikan rumah panggung ini, dalihnya. Kata-kata itu memang berlapik. Beberapa hari sebelumnya, orang-orang berseragam cokelat muda �mungkin dari Dinas Pariwisata� meminta Mak Muna duduk di kursi rotan di pekarangan rumah, di antara rerumpun pandan kering yang belum sempat dianyam. Mak Muna difoto. Perasaannya merona. Bukan karena foto yang bila telah tersalin di almanak, maka di belakangnya, bersikokohlah rumah kayu yang bagian tengah atapnya menunjuk-nunjuk langit menajam, menantang bulan yang mengarit bila purnama batal bergelantungan. Oh, untuk seorang renta sepertinya, tak guna jemawa! Ia sekedar menyekak anak-anaknya agar tiada mengejek istananya.

Tetapi� berbilang masa, tak jua dicetak tanggalan itu. Maka, bak kacung tua tak berharga, dipojoklah ia. Bahkan beberapa cucunya yang sudah SMP-SMA ikut mengaramkan ketakberdayaannya.

�Kami pamit, Nek. Ke rumah baru.�

Setelah mencabut payung besi terbalik itu, pergilah mereka. Tanpa salam dan cium tangan. Hanya Mira yang ditinggal. Seakanakan bocah gagu itu akan menjadi tukang kabar bila ia mati kelak.

Sejak itu, beberapa kali Mak Muna melihat Alberto dan cucunya yang lain sempoyongan dari panggung musik kampung. Ia tiada menegurnya (Takkan mereka mendengarnya. Bahkan, bisa saja mereka kalap. Menyepaknya hingga menyeruduk tanah). Ah, memang dasar mak-bapaknya tak pernah melarang minum air kelat itu�.

Dari Iyut, ia jua beroleh kabar, Seno dan beberapa saudaranya yang lain sudah jadi preman pasar. Saban malam bermain kartu di lapau Bi Sirah di Pasar Satelit.

�Hanya Rusli yang tidak, Mak!�

Mak Muna tak pecaya itu. Iyut, Iyut, rupanya linjang buta, kau!

Kini, bagi Mak Muna, kegembiraan Mira yang sudah berumur tujuh tahun itu adalah jua kesenangannya. Ia turut sumringah. Membuka tangan lebar-lebar demi menyambut Mira yang berhasil menangkap belalang rusa di semak ilalang; atau bila melihat gadis kecil itu menganggukkan kepala saat mengaji, pertanda ia paham pada ajaran neneknya itu walaupun tak ada bukti, karena ia tiada melafalkannya.

***

PERASAAN Mak Muna berkabut bebal. Ia kerimukkan baju kurungnya. Terkenang almarhum suaminya. Ai Bidin, bertenang kau di liang lahatmu, ya. Iri berkibas. Entah, rasanya berkalang tanah jauh lebih tenang daripada mengonggok di bumi. Menyalang perubahan yang membuatnya bagai boneka ladang�.

�Mak, jadi kan kita ke hajatan Cik Madur?� Iyut memecah nostalgia buramnya.

Mak Muna sigap mengangguk. Ia papah Mira menuruni jenjang. Menitipkannya di rumah Iyut. �Beritahulah sanakmu dari kota tu. Bila Mira menceracau, alamatnya ia menangis. Maklumlah anak bisu, Yut.� �Aman, Mak.� Iyut mengangguk cepat. �Mak jua tak perlu khawatir. Kampung seberang memang nanggap organ tunggal, tapi, tadi sengaja kujerang air. Kusuruh mereka menunggui. Jadi, ada kawanlah Mira tu, Mak.�

Sejujurnya, bila tak mengharap amplop seperti di hajatan Haji Makmun, Mak Muna takkan menghuyung sebatang badan liatnya. Oh, semua demi Mira yang masih demam, panas saja�.

***

BERARTI Mira bisa berobat gratis, Yut?� Mak Muna bergumam.

Khusyuk disimaknya pidato lelaki paroh baya di panggung. Tampaknya hajatan kali ini cukup dimengertinya. �Orang-orang tua seperti Mak akan dapat santunan, Yut!� Nenek tua itu berseru rincah. �Ai, kita pilih Cik Madur saja, Yut!�

Tiba-tiba, saling mencarut, kursi plastik bercentang-prenangan, berbabit-babitan, berlemparan dengan makanan, gelas, kayu�. Perkelahian besar itu pecah.

Mak Muna menoleh ke samping, bermaksud mengajak Iyut menyingkir. Tapi� gadis tua itu tak ada lagi. Mak Muna bergemerudupan, menghuyung badan, menepi ke rimbunan batang pisang yang bersisian dengan semak ubi kayu.

Mak Muna terperanjat. Matanya mendelik ke semak ubi kayu. Serasa tercerabut nyawanya. Bukan, bukan karena ia mendapati beberapa anak-cucunya menjadi bagian rombongan yang mengacaukan hajatan. Bukan pula karena orang-orang di tarup sana sudah bertujah-tujahan; saling tikam dengan pisau�.

Mak Muna pucat. Masih belum dapat ia memercayai apa yang ditangkap matanya barusan. Tiba-tiba, di kejauhan, merah nyala menggapai-gapai bulan yang masih mengarit. Beberapa kali ia usap wajahnya, mencubitcubit lengan keriputnya�. Hanya istighfar yang didesau parau. Api berkibar-kibar di sana, di atap rumah pusaka.

Mak Muna terhuyung. Hampir ia terseruduk di antara bingar perang saudara itu. Lupa ia kalau sebatang badannya sudah reot. Wajahnya yang keriput-marut meringis. Tampak sekali ia kesal pada kerentaannya. Tak jua mampu ia berlari. Tubuh rentanya tak bisa dilawan. Sudah tua-bangka kau tu, Mak! Kepala delapan!

�Pastilah, sanak-sanak Iyut lupa mematikan kompor! Pasti mereka berjingkak-sorai di tarup orgen kampung sebelah!� Mak Muna mengutuk-ngutuk. Matanya menyala saga. Antara tangis dan marah yang bergelora di sana. �Binatang kau, Yut!� teriaknya parau. �Tak beda kau dengan anak-anakku. Wanita jalang!� Mak Muna menunjuk-nunjuk tak jelas arah sembari terus mengayun satu-dua langkahnya, ke Rumah Limas yang membara, ke rumah Iyut yang telah menyulap Mira jadi abu-abu.

�Mak, Rusli dan Iyut diarak keliling Kayu Ara. Mereka tertangkap basah sedang bekacuk di kebun ubi Cik Madur!�� Seseorang membantunya bangkit. Raganya tak kuasa lagi bertegak. Ia hanya menyandarkan tubuh rentanya di tebasan batang-batang tua di tepi jalan kampung.

Ah, mungkin ia terlalu tua hingga tak dapat membaca satu tanda yang menyumbulkan keganjilan yang maha: Bulan celurit api yang menantang pucuk Limasnya beberapa hari yang lalu. Dan kini berbalik: Pucuk Limas itu yang menantangnya dengan bara yang menyala-nyala, hendak memanggang sabit raksasa itu. Ah! Kini, bukan saatnya meraba alamat tanda atau menyesali kebodohan berkira-kira� Ini salah bumi, yang lamur berkurap-kurap, yang berkarat terlampau pekat! (*)

Catatan:

*) bakacuk = berhubungan badan

Lubuklinggau, 22 Desember 2008
Bulan Celurit Api adalah salah satu cerpen terbaik Piala Balai Bahasa 2009

Kampung Anyaman

Cerpen Benny Arnas
Dimuat di Riau Pos, 28 Februari 2010

DAHULU, ketika tepian semenanjung Sumatera Tengah masih bersambung dengan Borneo, kau tak tahu bahwa sebagian besar penduduk negeri yang kaudiami sangat gemar menganyam. Entah pak turut atau karena memang menyukainya, kau pula memiliki kegemaran yang sama dengan mereka.

Kalau tak menganyam, paling tidak kau membuat barang kerajinan rumah. Bakul, sumpit, ambung, katang-katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala, dan alat penangkap ikan yang disebut sempirai, pangilo, lukah� mengonggok di bilik tengah rumahmu.
***

SEJATINYA, kau tak tahu bagaimana kau demikian lihai melipat-kunci bilah, daun, dan temali. Kau tak tahu dari mana datangnya kecakapan itu, layaknya tak tahu (atau memang juga tak pernah ingin tahu), bagaimana kau mengonggok di tanah ini. Kau bagai diterajang begitu saja dari langit. Tak ada ayah, ibu, atau sanak-kerabat. Nasabmu putus (atau memang tak bernasab?). Ya, tak terang bagimu tertib perkaranya. Yang tersangkut di ingatan adalah; ketika mimpi basah pertamakali berlabuh di tengah tidurmu, laut tiba-tiba meluap. Kau �juga para penduduk lainnya� mengira itu adalah banjir. Tapi banjir dari mana, tak ada yang kuasa menyuat kabar. Maka, sejak itu daratan yang kaudiami dibelah oleh laut yang tak begitu luas. Hanya dengan memicingkan mata serta menudungkan sebelah tangan di atas dahi yang berkerut, kau mengeker daratan di seberang.1
***

KAU pun berumah tangga. Kausunting seorang perawan dari pedalaman. (Ia jua pandai menganyam. Layaknya dirimu. Tak lebih, jua tak kurang.) Kau kerap diolok kawan-kawanmu bila kedapatan memanggil gadis berkulit pekang �hitam liat� itu �Putri�. Sejatinya olokan itu bukan cuma tentang kulit pekang, tapi jua tentang istrimu yang tampak berbeda dibanding perempuan kampung kebanyakan.

Bila bercampur ketika menganyam, istrimu agak lebih jemawa. Ia kerap bercerita perihal laki-laki yang tak selayaknya disembah-sembah. Ia memang tak menyulut mereka agar melawan laki. Di lain perkara, ia pula bersetuju dengan pekerjaan sebagian besar laki-laki kampungmu sebagai pedagang (termasuk kau yang berdagang kain). Sangatlah elok. Nabi kita dulu jua menjual kain, katanya.

Namun, buah dari batang-cakapnya adalah, menjadi istri tak usah berlebihan-tunduk pada laki. (bakda itu, buru-buru ia �bagai meralat� berwasiat: laki tetaplah imam kita untuk pergi ke taman langit.). Semoga itu bukan musabab istrimu yang tak beranak hingga kini �atau kau yang tak jantan?
***

OLOKAN pada istrimu itu, selalu diungkapkan bagai tak sungguh-sungguh (entah karena mereka sudah dapat berkira-kira bagaimana bila istrimu yang perkasa itu naik pitam, atau karena menghormatimu sebagai orang sekampung), namun, di belakangmu mereka menceritakannya bagai menanak nasi yang menguap bau pejuh.

Ya, mereka tak rapi mengganti muka. Alahai, seluas apa nian kampung �yang dari kabar yang melawat� ditahbiskan bernama Kampung Anyaman itu.2 Orang-orang kampung ini adalah kerabat. Tak ada perkara yang bernama rahasia. Bila ada satu-dua yang diajak bersekutu, tak ada sumpah yang layak dipegang dengan sebenar. Karena ketika berkumpul menganyam �yang ibarat sembahyang lima kali siang-malam itu� tumpahlah semua kesah. Selain kepada Tuhan, kegemaran menganyam �saban matahari bergelantungan semiring atap rumah� bagai titian untuk mengadu dengan setumpah-tumpahnya. Bila telah diinjak puncak percakapan itu. Lupalah gelok gula yang lengang, gelas-gelas kopi yang tak bergedu, anak-bini yang ngidam beras pulut�. Nah, apakah sekadar rahasia yang berkait dengan orang lain pun dapat dieram?

(Tersenyum miringlah kalian�.)

Kau memang merasa tersudut ketika, suatu waktu, istrimu bercerita. Kau tak perlu khawatir dengan semua gunjingan itu, katanya. Kau sedikit terhenyak, sebelum ia �bak memapas keterkejutanmu� bertubi-tubi menceritakan bahwa kawan-kawanmu lupa perihal hidup yang bukan hanya perkara makan, minum, ranjang, sembahyang, atau menganyam. Mereka adalah orang-orang yang tak paham silsilah puak!

Kau mendongak. Kau tanyakan, apakah �mereka� yang dia maksudkan juga termasuk dirimu.
Istrimu tak menjawab. Ia membadikmu dengan sebuah pertanyaan maut, yang selayaknya kautanyakan lebih dahulu sebelum pelaminan kalian dibentang dulu. (Ai, bodohnya kau, bagaimana kau menerima saja perihal keluarga penghulu yang dulu diseret sebagai saksi kawin dari pihak perempuan!)

Kau makin terdiam ketika diceritakan bahwa ia pun sama denganmu. Diturunkan begitu saja di tanah ini. Orang tuanya adalah angin yang meliuk-liuk di antara kerumunan penduduk Koto Baru, Solok, Bayang, Simawang, atau Lubuk Alung. Sangat berbeda dengan angin-angin yang menyelip di tubuh orang-orang Sakai, Akit, Hutan, dan Talang Mamak, yang mungkin saja (satu dari lima puak itu) adalah mereka yang dipercaya Tuhan untuk menitismu di kampung ini.

�Kita bahkan lebih hebat dari Isa yang dilahirkan Maryam tanpa ayah, Kak?�

Kau merinding. Perasaanmu berdesir.
***

PEREMPUAN itu berasal dari gugusan tanah Malaka. Enam puluh mil dari Kerajaan Rumbo.3 Ia bercerita pula perihal nenek moyangnya yang berasal dari Semenanjung Malaya dan Semenanjung Malaka. Mereka dikenal sangat suka berpetualang. Menyebar hingga ke negeri-negeri tetangga. Konon, kebiasaan inilah yang menyebabkan kulit mereka pekang-pekang.4
Ketika masih kecil, ia terdampar di pulau yang pernah berjuluk Putri dari Kerajaan Britania.5 Lalu, pernah diajak karibnya menetap di Lubuklinggau. Di sana ia melihat orang-orang membuat terindak�semacam caping dari daun pandan hutan. Dia belajar membuatnya. Lalu mereka mengembara hingga ke Sungai Tatang. Selain menjala ikan, ia pun menyongket. Hendak kembali, mereka singgah di Musirawas. Membuat labu-kayu�tatakan minum/makanan dari labu yang dikeringkan. Dan� sebelum menggapai Malaka, mereka terpisah. Karibnya kembali ke Singapura, sementara ia sendiri tak kuasa melepaskan rantai yang menggelung seonggok daging merah di kiri dadanya.
***

PAHAMLAH kau kini, mengapa perempuan itu sampai khatam menganyam, bagaimana ia tampak sangat jemawa �bukan benci pada laki-laki. Ia berdarah Melayu Jauh, tetangga sebuah negeri yang memindahkan kekuasannya ke Sumatera Tengah, ke daerah yang mejadi induk kampungnya.6 Namun, bagaimana perihal silsilah puak itu?

Bagai membaca ketakpuasanmu atas ceritanya, ia mengoar, �Sejatinya, asal orang Melayu seperti asal orang-orang lain. Dari dongeng.�

Kau takzim menunggu. Kau tahu istrimu �yang kini bagai asing bagimu� itu akan melanjutkan kata-katanya.

�Tak ada mau percaya bukan, bila rambut mulanya adalah putih. Tak ada jua yang takzim menganggukkan kepala bahwa matahari tu putih cahayanya. Kau pun tak percaya bila orang Melayu asli tu kulitnya pekang-pekang�.�

Kau meneguk liur. Kau baru tahu bila istrimu dalam ilmunya. Kau baru tahu bahwa mungkin saja benar dongeng-dongeng yang berkisah pria yang beristrikan putri jadi-jadian. Kau mulai gemetar.

�Hari sudah layu, Kak. Kita diundang Nek Cik turut bergabung makan nasi hadapan. Berhormatlah kau pada cucu tetua kampung yang baru kawin tu!�

Kau mengambil kain bergaris kotak-kotak. Tanpa melepas celana panjang, kau melilitnya di pinggang hingga kain itu turun sebatas betis. Istrimu mengambilkan kopiah hitam lis kuning-emas. Perempuan itu jua berhelat; bakda menangkup sanggul dengan songkok, ia memakai kerudung hijau rumput. Kalian berdua menuruni jenjang rumah panggung.

�Selesai makan kelak, kita akan diajari kecakapan baru, Kak.�

�Apa tu?� tiba-tiba saja kau terpancing menyahut.

�Berpantun.�

�Berpantun?�
***

KAU menangis tua. Istrimu raib. Sungguh di luar prakira. Ya, akhir-akhir ini, perempuan itu tampak bersemangat sekali belajar berpantun, kecakapan baru yang membuat kalian lupa menganyam. Lalu, bagaimana bisa ia pergi? Atau ia tak pergi, hanya belajar membuat tenun Siak? Atau ia dimakan Batu Betangkup?7 Atau�. Oh, kau terus memantik harap. Tak kauhiraukan orang-orang yang coba menghiburmu. Pun, tak kau amini kabar yang berembus bahwa istrimu pergi ke sebuah negeri di barat Tanah Andalas. Negeri di mana laki-laki dibeli perempuan bila hendak berkawin; negeri di mana laki-laki tak hanya menganyam, berdagang, atau berpantun, di tanah kampungnya, tapi jua merayap ke negeri-negeri nun jauh di sana. Oh, mungkin pula, ia tak sabar berketurunan. Anak bujang. Anak yang bila baligh, ia suruh terbang bak kumbang. Merantau.***

Lubuklinggau, 11 Oktober 2009

Catatan:
1 Pada mulanya, Sumatera, Jawa, Semenanjung Muangthai, dan Borneo, adalah satu pulau. Dari waktu ke waktu, seiring suhu bumi yang terus naik yang berakibat melelehnya es di kutub bumi, pulau itu tercerai-berai. Tak heran, bila kebudayaan Melayu dapat ditemui di Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, Thailand, hingga Laos. Namun begitu, tak semuanya terpisah oleh laut yang luas. Singapura sendiri, kota pertama dalam hikayat Melayu, dapat dilihat dari beberapa tepian Riau. (Dictionary of National Biography, XXVI).

2 Riau sangat kaya dengan kerajinan daerah. Kerajinan daerah di Riau sangat erat hubungannya dengan kebutuhan hidup masyarakat. Salah satu bentuk kerajinan daerah yang ditekuni adalah anyaman. Kerajinan ini dikembangkan dalam bentuknya yang aneka ragam, dibuat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah, dan daun rumbia.

3 Thomas Raffles, Sekretaris Pemerintahan di Pulau Pinang, telah berusaha mendapatkan keterangan tentang orang-orang Melayu. Ia mendapati, di pedalaman Malaka, terdapat Kerajaan Rumbo. Raffles berkesempatan berkomunikasi dengan penduduknya. Mereka memiliki dialek khusus. Mereka mengganti /a/ dengan /o/ di ujung kata, seperti �amba� menjadi �ambo�. Dialek itu disebut orang Malaka sebagai bahasa Minangkabau. (C.P.J. Elout, Maleische Spraakkunst, doorden, Haarlem, 1825)

4 Penduduk selat adalah orang-orang pertama yang menjelajahi Sumatera dan mendirikan pemukiman di sana pada abad ke-12. Akibat kedatangan para pendatang, penduduk asli, yang lebih mirip orang Negroid, terpinggirkan ke hutan-hutan dan pegunungan. (History of Sumatera, William Marsden, 1966).

5 Konon, ketika pertama kali orang Inggris mendatangi dan bermukim di selat Malaka, Pulau Penang dijuluki Pulau Prince of Wales. (Asal-usul Kerajaan Melayu, Mr. Francis Light, 1783)

6Nama �Riau� besar kemungkinan memang berasal dari penamaan rakyat setempat, yaitu orang Melayu yang hidup di daerah Bintan. Nama itu besar kemungkinan telah mulai terkenal sejak Raja Kecik memindahkan pusat kerajaan Melayu dari Johor ke Ulu Riau pada tahun 1719. Setelah itu nama ini dipakai sebagai salah satu negeri dari empat negeri utama yang membentuk kerajaan Riau, Lingga, Johor dan Pahang. (Sejarah Sumatera, edisi ketiga/terbaru, William Marsden, 2008)

7 Cerita rakyat yang populer di daerah-daerah Melayu: Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dan sekitarnya.

Senin, 15 Maret 2010

Dongeng

Cerpen Yus R. Ismail
Dimuat di Pikiran Rakyat 21/02/2010


ADA seorang raja, punya anak tujuh orang. Anak yang bungsu ingin diceritakan sebuah dongeng. Begini dongengnya�.


**

ADA seorang raja, punya kekayaan melimpah. Setiap bulan upeti dari kerajaan taklukan mengalir. Ribuan perusahaan kerajaan setiap bulannya menghasilkan uang triliunan rupiah. Tabungan tidak terhingga, batangan emas dan logam mulia lainnya tidak tertampung di bank dalam negeri. Bangunan-bangunan eksklusif dan prestisius dibuat. Patung terindah sedunia, menara tertinggi sedunia, lapangan terluas sedunia, dan banyak bangunan ter.. lainnya.

Tapi sang raja tidak puas. Dia pikir, sebanyak apa pun kekayaan bisa dengan sekejap menghilang. Setiap hari musuh mengincar di mana-mana. Musuh di dalam selimut, siapa tahu setiap pejabat negara punya niat menggulingkannya. Patih, menteri, senapati, bahkan prajurit, siapa yang bisa menebak isi hatinya? Siapa tahu ada di antara mereka yang diam-diam merencanakan menggulingkannya, merampas seluruh harta kekayaannya. Negara-negara tetangga, siapa tahu niat dan perencanaan mereka untuk menyerang diam-diam terus ada. Mereka menunggu kesempatan, menunggu ketepatan untuk menyerang, merebut takhta dan seluruh kekayaan, lalu menghempaskan raja beserta keluarga ke kemiskinan dan kesengsaraan.

Oleh karena itu, sang raja berkeinginan menjadi pemilik kekayaan abadi. Pemilik kekayaan abadi menurutnya adalah seseorang yang bisa membuat emas dari apa pun. Dari kayu, tanah, daun, batu, dan apa pun. Orang seperti itu tentunya tidak perlu takut dirampok, digulingkan dari kekuasaan, direbut seluruh kekayaannya. Karena dengan sebentar dia bisa membeli lagi apa pun, membangun kembali kerajaan, merencanakan pembalasan yang lebih dahsyat.

Tapi kepada siapa belajar? Siapa yang bisa mengubah apa pun menjadi emas? Atas saran seorang penasihat kepercayaannya, sang raja membangun sebuah peristirahatan yang khusus bagi orang-orang alim yang mengembara, orang suci, para guru sufi, para darwish. Bangunan yang berdiri kokoh di pinggir sungai itu terdiri dari dua pintu. Pintu depan untuk masuk, disambut dengan sebuah plang yang berbunyi:

"Selamat datang para darwish, orang suci, guru sufi, yang sedang mengembara. Silahkan beristirahat dan makanlah tiga kali sehari selama tiga hari. Semuanya disediakan dengan cuma-cuma."

Sebelum pintu keluar, ada lagi plang yang berbunyi:

"Wahai orang-orang suci dan arif yang agung! Anda telah beristirahat dan makan dengan baik. Kini tolonglah kami jika Anda mampu. Jika Anda mampu mengubah apa pun menjadi emas, tolong ubahlah apa pun yang ada di bangunan ini menjadi emas."

Bertahun-tahun orang-orang berdatangan ke ibu kota kerajaan. Ada yang sekadar singgah sehari dua hari. Ada juga yang sampai berminggu-minggu, menikmati keindahan pemandangan alam dan keramahan penduduk. Bangunan yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang suci itu selalu dipenuhi pengunjung. Banyak para pelancong dengan jubah yang panjang-panjang. Ada juga sang guru yang diikuti oleh puluhan murid-muridnya. Selama tiga hari tiga malam mereka menumpang di bangunan peristirahatan itu, minum dan makan gratis. Tapi belum juga ada yang mengaku bisa mengubah benda apa pun menjadi emas.

"Siapa tahu orang suci yang sanggup mengubah apa pun menjadi emas itu hanyalah mitos," gumam sang raja suatu senja. Beberapa jenak dia memperhatikan orang-orang yang singgah di peristirahatan yang diperuntukkan bagi orang-orang suci itu. Puluhan orang bersembahyang. Puluhan orang membaca kitab. Siapa di antara mereka yang benar-benar suci?

"Barangkali hanya mitos," gumam sang raja sekali lagi sambil meninggalkan peristirahatan bagi orang-orang suci itu. Jalanan begitu ramai oleh pedagang dan pelancong yang terus berdatangan. Senja begitu cerah. Matahari menebarkan semburat jingga di langit Barat. Cahayanya menebar dipantulkan daun-daun dan air sungai yang berkelap-kelip.

"Sesungguhnya, sejak awal saya tidak yakin ada orang yang sanggup mengubah apa pun menjadi emas. Kalau memang ada, kenapa dia sendiri tidak menjadi orang terkaya, menjadi raja, menjadi penguasa seluruh dunia ini. Memang tidak masuk akal ada orang seperti itu. Ah, saya benar-benar telah tertipu, percaya begitu saja kepada penasihat."

Baru saja beberapa langkah meninggalkan pelataran peristirahatan itu, sang raja tersentak. Langkahnya berhenti begitu saja. Ada suara yang memanggil-manggilnya dari belakang. Tapi begitu dia berbalik, tidak ada seorang pun yang memperdulikannya. Orang-orang hanya memperhatikan kepentingannya masing-masing.

Begitu sang raja meneruskan langkahnya, suara itu bergaung lagi. "Anakku sang maharaja! Banyak hal yang tidak bisa dimengerti di dunia ini, kalau hanya menggunakan akal dan pikiran. Mahasuci Allah yang menyampaikan berbagai rahasia sebagai keindahan. Tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada yang tidak mungkin.. bagi Allah."

Tapi sang raja tidak memperdulikan lagi suara yang seperti berbisik itu. Suara yang sepertinya hanya dia yang mendengarnya. Karena para pengawalnya tidak seorang pun yang mendengarnya. Dia menyuruh para pengawalnya untuk mengundang para penasihat, dia akan memutuskan bahwa mulai besok peristirahatan bagi orang-orang suci itu harus ditutup.

Belum juga para penasihat itu berdatangan, belum juga bibirnya kering setelah memerintah, ada penjaga tempat peristirahatan bagi orang-orang suci itu yang datang berlari-lari.

"Lapor, Tuan Raja! Di peristirahatan ada seorang tua yang sedang menari dan menyanyi, katanya akan mengubah bangunan itu menjadi emas."

Seperti ada magnet yang menariknya, seperti yang telah tahu apa yang akan dikatakan pengawal, sang raja melesat ke arah peristirahatan yang khusus dibangun untuk orang-orang suci. Di tengah-tengah bangunan itu seorang tua sedang menari. Tangannya bergerak pelan. Kepalanya bergerak pelan. Dari mulutnya sebuah senandung terus diulang.

"La ilaha illallah� Ya Allah! Ampunilah, dosa-dosaku, yang Kau mengetahuinya, lebih baik dariku. Ya Rabbi! Ampunilah, dosa yang dibuat, oleh mataku, ampunilah hambaMu, ampunilah kata-kataku, yang keji dan buruk, dan ampunilah ketidakmampuanku, menahan nafsuku. La ilaha illallah�." *

Orang tua berjubah putih itu terus menari, berputar. Angin berhenti mendengar rintihannya. Orang-orang menahan napas. Sebagian ikut menggerakkan bagian badannya. Senyap begitu mencekam sampai ke bagian terdalam dari hati orang-orang. Sang raja begitu terpesona melihatnya. Matanya tidak berkedip. Nafasnya ditarik pelan seolah sedikit suara pun takut mengganggu senandung mengiba itu. Kakinya bergetar seperti yang tidak sanggup menahan berat badannya. Dan di kedalaman hatinya, di kedalaman hatinya begitu bergejolak perasaan yang baru kali itu mengharubirunya.

Orang tua yang memancarkan cahaya dari tubuhnya itu terus menari dan merintih. Dari tubuhnya menetes keringat yang bercahaya berkilauan. Dari matanya mengalir air membasahi pipi, leher, jubahnya yang tidak lagi berkibar karena basah. Dari air mata dan keringat itulah ribuan cahaya kupu-kupu terbang menembus seluruh bagian dari bangunan itu. Seluruh bagian dari bangunan yang perlahan berubah warnanya menjadi kekuningan, menjadi keemasan. Orang tua itu pun ambruk, bersujud sambil menangis tersedu-sedu.

Orang-orang yang ada di sekitar situ menundukkan kepala. Dari mata mereka masih mengalir air pengakuan, pengakuan bahwa di kedalaman hatinya manusia hanyalah kumpulan kesedihan. Tidak ada yang hirau dengan bangunan tempat mereka berteduh yang seluruh bagiannya telah menjadi emas. Tidak ada yang hirau dengan perut yang telah berjam-jam tidak diisi makanan. Tidak ada yang hirau dengan tenggorokan yang kering karena telah berjam-jam tidak dialiri air. Tidak ada yang hirau dengan apa pun. Sampai orang tua berjubah putih yang dari tubuhnya memancar cahaya itu berdiri dan berjalan pelan meninggalkan bangunan emas itu.

Sang raja tersentak begitu melihat orang tua berjubah putih yang mengubah bangunan menjadi emas itu sudah jauh darinya. Dia berlari dan menghadang di depannya.

"Terima kasih, Pak Tua. Saya baru yakin bahwa orang suci seperti Bapak memang ada. Tapi saat ini, saya tidak menginginkan emas sebetulnya. Karena kekayaan melimpah pastinya banyak yang merencanakan untuk merebutnya. Keinginan saya sesungguhnya adalah ingin bisa mengubah apa pun menjadi emas dengan tangan saya sendiri. Kiranya Bapak bersedia mengangkat saya sebagai murid."

Orang tua berjubah putih itu menarik napas panjang.

"Apa Bapak berkenan?"

"Boleh saja, anak muda! Tapi dengan syarat."

"Apa syaratnya?"

"Engkau harus mengikutiku selama sepuluh tahun untuk belajar. Engkau harus menurut apa pun yang aku perintahkan. Karenanya, tinggalkanlah kekuasaan dan harta kekayaan yang engkau punyai sekarang ini."

Tanpa berpikir panjang, sang raja menyanggupinya. Pikirnya, apa pun harus dikorbankan untuk belajar mengubah apa pun menjadi emas. Seandainya dirinya sendiri yang sanggup mengubah apa pun menjadi emas, selamanya tidak akan ada ketakutan. Kalau ada orang yang merebut, kalau ada kerajaan yang menjajah, tinggal ubah apa pun menjadi emas dan dia menjadi kaya kembali.

Sore itu juga sang raja mengikuti orang tua berjubah putih itu. Setelah berjalan tanpa alas kaki jutaan kilo meter jauhnya, mendaki bukit menuruni lembah, setelah kaki luka-luka dan tidak bisa lagi digerakkan karena lelah, perintah pertama orang tua berjubah itu adalah untuk menyerahkan apa pun kepada takdir.

"Mengubah apa pun menjadi emas itu hal yang mustahil, tidak masuk akal, tidak bisa dimengerti oleh akal pikiran. Itu semua terjadi karena ada Tangan Takdir yang mengaturnya. Serahkanlah apa pun kepada Tangan Takdir itu. Jangan mengeluh karena sakit atau lelah. Karena sesungguhnya, rasa sakit sesakit apa pun adalah kenikmatan. Tangan Takdir mengubah rasa sakit dan lelah seperti apa pun menjadi suatu keindahan. Yakinilah itu."

Sang raja hampir berteriak mendengarnya. Sejak beberapa hari lalu dia sudah tidak kuat melangkah. Sakit dan lelah telah menguasai tubuhnya. Tapi tidak ada izin untuk beristirahat. Dan sekarang, sakit dan lelah yang tidak terkira itu harus dinikmati. Rasa nikmat seperti apa yang ada dari kesakitan dan kelelahan?

"Lawanlah dan tundukkanlah segala napsu yang ada di tubuhmu. Sesungguhnya keindahan itu ada di keberserahdirian."

Tapi sang raja telah pingsan.

Begitu siuman, sang raja mendapatkan dirinya seperti melayang. Tubuhnya serba ringan. Napasnya begitu lega. Dia pikir, dia telah disihir gurunya untuk kemudian diajarkan cara mengubah apa pun menjadi emas. Tapi begitu ditanyakan kapan dimulainya pelajaran mengubah apa pun menjadi emas itu, sang guru malah menjawab:

"Selama engkau tidak bisa menyerahkan diri kepada Tangan Takdir, tidak bisa berserah diri, engkau tidak akan bisa mengubah apa pun menjadi emas. Sekarang mari kita berjalan lagi. Bumi ini begitu luas."

Jutaan kilo meter mereka lalui lagi berhari-hari. Puluhan perkampungan disinggahi, puluhan jurang dituruni, puluhan sungai diseberangi. Kaki sang raja semakin membengkak. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka tergores ranting-ranting dan rerumputan liar. Tapi perjalanan sepertinya belum mau berhenti. Orang tua berjubah itu masih terus berjalan seperti melayang. Jubah putihnya menyapu tanah tapi tidak pernah kotor. Dari wajahnya mengucur keringat, keringat yang bercahaya berkilau-kilau. Luka goresan yang memenuhi tubuhnya dalam sekejap telah sembuh kembali.

"Guru, rasa sakit dan lelah tidak lagi saya keluhkan, tapi kapan pelajaran mengubah apa pun menjadi emas itu dimulai?" kata sang raja saat mereka beristirahat di tepi sebuah telaga.

"Waktu kita masih lama. Sepuluh tahun engkau sanggup mengikutiku. Aku ingin engkau mengenal kekuatan-kekuatan lain dari alam ini. Soal mengubah apa pun menjadi emas, itu gampang."

"Kalau gampang, kenapa tidak dari sekarang diajarkan, biar saya bisa berlatih terus menerus."

"Karena engkau belum tahu ada kekuatan yang lebih dahsyat, yaitu Cinta dan Rahmat Ilahi. Rahmat ini, alkemi Cinta ini, dapat memperlihatkan mukjizat, sebagaimana ia mengubah setan menjadi malaikat, pencuri licik menjadi polisi yang cakap."

Perjalanan berikutnya mereka lalui berbulan-bulan. Di beberapa perkampungan mereka beristirahat beberapa hari. Sepanjang perjalanan mereka menolong apa pun dan siapa pun yang sekiranya patut ditolong. Membantu orang-orang desa memagari kebun agar tidak diserbu babi hutan, membuatkan perahu bagi nelayan miskin, menyembuhkan orang-orang yang sakit dengan ramu-ramuan dedaunan, biji-bijian, dan doa.

Sekali waktu mereka pun memelihara dua ekor burung pipit yang masih kecil-kecil, baru tumbuh bulu. Kedua burung yang masih belum bisa mencari makan sendiri itu sarangnya jatuh dari pohon. Induknya pasti mencari-cari tapi tidak menemukannya atau tidak berdaya untuk memindahkan kembali sarangnya ke atas pohon. Sang raja setiap hari mengunyah beras untuk diberikan kepada anak burung pipit yang selalu dibawa-bawanya. Suatu pagi, setelah memberi makan, sang raja melatih kedua anak burung itu terbang. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, anak burung yang telah tumbuh bulu itu terbang lebih tinggi, lebih tinggi, hinggap di ranting-ranting pohon, dan akhirnya terbang menjauh entah ke mana.

"Wah, mereka menghilang, mereka pasti tidak akan kembali," kata sang raja dengan mata berkeliling mencari dua anak burung pipit peliharaannya.

"Artinya, mereka sudah bisa mandiri. Biarkanlah mereka menikmati dunianya. Bukankah maksudmu semula menolong burung itu sampai mereka bisa terbang?"

Sang raja mengangguk. Tapi ada sesuatu yang mengharukan di dalam hatinya.

"Kalau begitu alhamdulillah, bersyukurlah, engkau telah melaksanakan niat baikmu."

Sang raja masih termangu. Matanya memandang jauh, memperhatikan pepohonan sampai ke jauhnya, sampai ke reranting kecilnya. Di dalam hatinya, meski hanya samar, ada harapan bisa melihat kembali kedua anak burung peliharaannya. Bukan, bukan untuk memeliharanya kembali, mengharapkan kesetiaan dari sepasang burung pipit itu. Tapi sekedar ingin mengucapkan kata-kata perpisahan melalui tatapan mata atau lambaian tangan.

"Kedua burung pipit itu pastinya mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Tapi mungkin bahasanya tidak dimengerti oleh kita. Jadi mari kita berangkat melanjutkan perjalanan."

Sang raja mengikuti sang guru, tapi dengan langkah yang tidak bergairah.

"Adakah engkau merasakan sesuatu?"

"Ya, tentu guru."

"Sesuatu yang mengharukan, yang begitu menggetarkan, yang begitu indahnya?"

"Ya."

"Katakanlah."

Sang raja malah menatap gurunya yang menghentikan lagi langkahnya. Lalu menggeleng dan bilang, "Tidak bisa, Guru. Saya tidak bisa mengatakannya. Tapi saya merasakannya. Merasakan begitu indahnya selama ini bisa menyuapi kedua burung pipit itu, membuatnya kuat dan menikmati dunianya sebagai burung." Sang raja menunduk. Dari ujung matanya menetes sebutir air bening.

"Engkau telah bisa membuat emas itu, Nak."

**

"AKHIRNYA sang raja bisa menguasai ilmu mengubah apa pun menjadi emas?" tanya anak bungsu raja bersemangat. Pendongeng yang sedang memilah teh di gelas melirik tuannya. Dan katanya setelah meminum teh yang telah dingin itu.

"Ya, tentu saja bisa. Dia mengikuti sang guru berzikir, menari, berpuisi, dan bebatuan yang ada di sekitarnya menjadi emas."

"Tapi tentu dia tidak membangun gudang-gudang emas di kerajaannya."

"Tepat sekali. Kenapa Tuan bisa menyimpulkan seperti itu?"

"Karena sang raja mulai merasakan ada yang lebih hebat dan indah dibanding hanya mengumpulkan sebanyak-banyaknya emas."

Malam semakin sunyi. Pendongeng itu mengundurkan diri. Membetulkan selimut tuannya, dan mengucapkan selamat tidur. Tapi sampai subuh menjelang, sampai beratus malam kemudian, anak bungsu raja itu tidak bisa tidur. ***

* Sebuah lagu yang berjudul �Ampunilah Saya� dari kelompok musik Debu