Minggu, 29 Mei 2011

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita

Cerpen Ayi Jufridar
Dimuat di Kompas, 29 Mei 2011

KETIKA kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda.

Lelaki itu kamu panggil Ayah John karena perbedaan usia membuatmu lebih sesuai menjadi anaknya. Dia adalah atasanmu di sebuah perusahaan farmasi. Dia memperlakukanmu seperti anak, meskipun sudah memiliki empat anak perempuan di rumahnya. Dia memanjakanmu dengan semua kelebihan yang dimilikinya. Menyewakan sebuah rumah buatmu dengan seorang pembantu dan seorang sopir, tapi dia selalu menjemputmu dari rumah ke kantor dan mengantarmu dari kantor ke rumah. Sopir hanya bekerja kalau Ayah John sedang ada tugas ke luar daerah, sehingga dengan waktu yang demikian panjang, sopir menyambi kerja sebagai tukang ojek.

Kalau ada tanggal merah terutama di akhir pekan, dia mengajakmu berlibur ke Bali, Yogya, Lombok dan beberapa derah lainnya di dalam negeri. Keluar, kalian hanya mengunjungi Singapura, Malaysia dan Thailand karena waktu yang sempit. Namun ayah berjanji akan membawamu ke sebuah nergara di Eropa nanti. �Aku harus menabung untuk itu. Yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia,� kata Ayah John kepadamu dan aku mendengarkannya dari bibirmu.

Kamu pun bahagia setidaknya sampai saat itu. Ayah John memberikan semua yang tidak kamu dapatkan di rumah. Sebagai balasannya kamu memberikan semua yang kamu miliki termasuk kehormatanmu. �Ayah John akan menjadi suamiku. Aku tak peduli jadi istri kedua, itu hanya masalah angka. Aku ingin memiliki anak dari Ayah John.�

Di luar rumah dia memperlakukan kamu seperti anaknya sendiri. Di dalam rumah ia memperlakukan kamu seperti istrinya sendiri. Akhirnya kamu hamil sebelum Ayah John sempat menikahimu. Untuk menenangkan kamu dia berjanji segera menikahimu setelah kesibukannya di kantor selesai. Kamu yakin itu benar adanya sampai kemudian kamu menemukan beberapa tablet kecil obat peluruh kandungan dalam mobilnya. Ketika kamu tanyakan, Ayah John berdalih mobilnya dipakai teman dan obat itu milik temannya. Kamu tidak percaya dan kalian bertengkar hebat. Saat itulah Ayah John memukul perutmu. Pukulan untuk pertama kali tetapi dilakukan dalam beberapa kali. Dia tak berhenti meskipun kamu sudah menangis histeris. Semakin kencang tangisanmu, semakin keras pukulannya.

�Aku tidak tahu apakah itu pukulan seorang ayah terhadap anaknya atau pukulan suami terhadap istrinya. Tapi aku tidak percaya Ayah John melakukan itu.�

Ketika memeriksakan diri ke dokter kandungan, kamu baru menyadari kandunganmu sudah hancur. Ternyata kamu sudah meminum banyak obat peluruh kandungan yang dilarutkan Ayah John dalam minuman kamu, jauh sebelum kamu menemukan sisa obat itu dalam mobilnya. Dokter mengatakan kamu harus dikuret dan dia bertanya apakah kamu sudah menikah.

Kamu mengangguk di tengah kegalauan yang melanda.

�Saya akan memberi rekomendasi untuk dikuret,� kata dokter itu.

Kamu pulang bukan saja dengan kandungan yang hancur, tetapi juga hati yang lebur. Pupus sudah impianmu untuk memiliki anak dari Ayah John. Isi rahimmu dikosongkan sekosong hatimu. Lalu Ayah John pun pergi darimu tanpa pernah mengatakan apa pun. Rumah kontrakan tidak dibayar lagi, pembantu pulang kampung dan supir sepenuhnya bekerja sebagai tukang ojek karena mobil ditarik Ayah John. Bahkan kemudia kamu pun dikeluarkan dari tempatmu berkerja dengan alasan yang tidak kamu pahami dan tanpa pesangon. Ayah John tidak pernah menjawab panggilan teleponmu. Pesan-pesanmu tak pernah ditanggapinya. Semua kemanisan hidup berasama Ayah John berubah menjadi pahit, lebih pahit dari obat yang diam-diam dilarutkan Ayah John dalam minumanmu.

Dalam keputusasaan itu, kamu kembali ingat masih memiliki keluarga. Kamu kembali kepada keluarga hanya untuk membuat hatimu semakin hancur. Bapak dan ibu menerimamu kembali tetapi tidak mau turut campur dalam persoalanmu karena sudah mengingatkan jauh-jauh hari. Mereka bahkan tidak pernah mau mendengarkan penderitaanmu akibat perlakuan Ayah John karena menganggapmu sudah cukup dewasa menanggungnya sendiri.

Itu kata-kata yang pernah kamu ucapkan ketika kamu pergi dari rumah untuk hidup bersama Ayah John. �Ayah John bukan saja telah membunuh bayiku, tetapi juga membunuh jiwaku.�

Kamu mengucapkan itu dengan air mata yang mengalir di pipi sambil menatap air hujan mengalir di permukaan kaca. Aku memelukmu dari belakang dan mencium pipimu penuh perasaan. Air mata kita menyatu seperti tubuh kita dan seperti perasaan kita. Ketika penyatuan itu terjadi, bahkan diriku dan dirimu tak bisa membedakan mana air mataku dan mana air matamu. Keduanya mengalir di pipiku dan di pipimu menjadi air mata kita.

***

Ketika kamu bercerita tentang apa yang kamu lakukan terhadap lelaki itu, aku menangis sendiri di dalam kamar yang minim cahaya. Tidak ada hujan di luar sana, tidak ada kemacetan, dan tidak ada kamu di sini. Hanya ada aku, hati yang patah, dan air mata.

Dua tahun kalian menjalin hubungan, jauh lebih lama dibandingkan denganku yang baru dua bulan. Dua tahun bukanlah perjalanan cinta terlama yang pernah kamu lewati. Kamu pernah melewati masa tujuh tahun penuh cinta, tapi dua tahun itulah yang paling berkesan sepanjang hidupmu.

Di kamar sama, kita mulai percakapan soal masa lalumu, masa laluku, serta masa depan kita. Kamu tidak bisa datang malam ini karena �ingin mengunjungi saudara yang sakit�. Aku menelepon sabelum kamu berangkat. Kita bercerita tentang aroma dan lagu, dua hal yang bisa membangkitkan memori kita kepada masa lalu. Aroma dan lagu mengundang kenangan, kita bersepakat soal itu.

Aku pun menyemprotkan aroma lemon yang lembut ke seluruh tubuh agar bisa mengingatkanmu sampai di dalam tidur. Aku ingat aroma tubuhmu saat kita menangis bersama dan kuyakin itulah kenikmatan terbesar dalam hidupku. Kejadian itu lebih kuat terpatri bahkan bila dibandingkan dengan desahan kita di kamar mandi.

Setelah mengucapkan janji untuk tetap mencintaiku, suaramu lenyap dari telinga tetapi tetap melekat di hatiku. Aku tidak pernah menyangka itulah kata cinta terakhir yang kudengar darimu. Malam itu aku membawa kerinduanku ke keramaian, berharap lelah datang dan pulang dengan kantuk yang mengundangmu lebih cepat dalam impianku.

Sampai hari berganti dan kamu tak hadir dalam mimpiku, kabar darimu belum juga datang. Aku harus menghubungimu karena didorong rasa rindu yang tak tertahankan. Panggilan pertama sampai panggilan yang tidak dapat kuingat tak juga mendapat tanggapan dari kamu. Aku mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban. Haruskah kudatangi rumahmu untuk mengetahui apa yang terjadi?

Kamu pernah mengundangku ke rumah dan memperkenalkanku kepada orang tuamu dan ketiga adik lelakimu. Kamu anak perempuan satu-satunya dan sebagi anak sulung orangtuamu mengharapkan kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adik. Kamu diharapkan menjadi tulang punggung keluarga bukan tumpuan tulang selangka Ayah John. Itulah kedatanganku yang pertama sekaligus yang terakhir. Kamu melarangku datang lagi karena kedua orang tuamu tidak merestui hubungan kita. �Bagaimana mereka bisa tahu hubungan kita? Kamu menceritakannya? Bukankan kita sudah sepakat akan merahasiakannya sampai mereka dan dunia tahu dengan sendirinya?�

�Aku masih ingat dengan kesepakatan itu. Tapi aku tak ingin mereka tahu lebih cepat.�

�Mereka takkan tahu kalau kamu tidak menceritakannya. Keluargamu mengira kita hanya sahabat. Dunia juga mengira kita sepasang sahabat.�

�Aku bisa membohongi perasaanku dengan kata-kata, tapi tidak dengan mataku.�

Aku menyukai kekhawatiranmu itu dan percaya memang karena itulah kamu melarangku ke rumahmu lagi. Kalau sekarang aku nekat ke rumahmu untuk mengetahu apa yang terjadi apakah kamu akan marah?

Panggilan kamu datang ketika aku berada dalam kebimbangan. Aku menyambut suaramu dengan gembira, tetapi kemudian kamu membawa kabar duka. Ayah John kena stroke. Ketika aku mendengar itu pertama kali aku malah menduga itulah kabar gembira yang sesungguhnya. Kemudian kamu mengatakan dengan jujur selama ini kamu berada di rumah sakit untuk merawat Ayah John.

�Mengapa harus kamu? Bukankah sudah ada keluargnya?�

�Ayah John yang mengharapkan aku datang. Kami merawatnya bersama.�

�Kami?�

�Aku, istri Ayah John, dan keempat anaknya.�

Aku masih belum dapat memahami. Bahkan setelah kamu menjelaskan panjang lebar kalian (kamu, Ayah John, istrinya dan anak-anaknya) sudah berdamai dan sepakat melangsungkan pernikahanmu dengan Ayah John. Itu janji yang akan dipenuhi setelah Ayah John benar-benar sembuh.

�Ayah John pernah mengucapkan janji yang sama dulu. Tapi dia mengingkarinya�.�

�Beda, sekarang janji di depan keluarganya sendiri dan semuanya menerima. Kami sekarang seperti sebuah keluarga.�

Kamu percaya dengan janji dan perubahan yang cepat sehingga suaramu terdengar sangat bahagia ketika mengucapkan itu. Kamu tidak peduli dengan hatiku yang terluka sehingga dengan enteng mengatakan hal itu seperti mengabarkan sebuah berita ada film bagus yang main malam ini.

�Kenapa?� aku mulai tidak mampu mengendalikan emosi setelah sekian lama terdiam, �mengapa kamu lakukan ini kepadaku?�

�Maaf, Sayang. Aku tahu ini membuatmu sakit. Tapi aku harus mengatakannya. Aku menginginkan seorang anak dari rahimku sendiri.�

Kita pernah sepakat mengadopsi beberapa anak saat kita hidup bersama. Masihkah kamu ingat dengan semua itu?

Suaramu lalu lenyap dari telingaku dan luka hatiku semakin menganga. Aku tidak percaya kamu melakukan semua ini kepadaku, apa pun alasannya. Kamu membunuh jiwaku dengan membuka kembali cinta lama yang ingin kamu kubur di dasar hatimu paling dalam. Jiwaku baru saja mati tetapi jiwamu baru hidup kembali.

Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil terus menangis. Aku ingin kamu berada di sini dan kita menangis bersama sampai air mata kita menyatu seperti dulu. (*)

Minggu, 22 Mei 2011

Perempuan Penyusu

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Tribun Jabar, Ahad 15 Mei 2011

PEREMPUAN itu bernama Gendis Murniati. Sesaat setelah ia melahirkan bayi laki-laki, suaminya pergi entah ke mana. Kabar angin mengatakan wajah bayi itu tidak mirip dengan wajah suami Gendis. Tapi ketika beberapa tetangga menanyakan hal ini pada Gendis, ia tidak mengiyakan atau membantah. Ia hanya berkata lelaki pengecut dan berjiwa kerdil memang selalu kabur dari masalah.

Sebulan kemudian bayi Gendis meninggal. Setelah bayi dikubur, Gendis terlihat murung selama lima minggu, lalu ia terus menangis beberapa bulan berikutnya. Setiap keluar rumah para tetangga dekat pasti mendengar Gendis menangis, begitu juga orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Banyak tetangga yang datang untuk menghibur Gendis sambil membawa buah-buahan. Namun tak satu pun yang mampu menghentikan tangisannya. Tangisan menyayat hati dan penuh rintihan kepedihan.

Gendis baru menghentikan tangisannya tepat pada saat ada tetangga yang melahirkan bayi perempuan rupawan. Sayang, payudara perempuan yang melahirkan itu tidak mengeluarkan air susu. Bentuknya juga kempes, tidak kembung seperti milik seorang wanita yang baru melahirkan. Ibu-ibu ramai membicarakan hal itu, terutama ketika sedang membeli sayuran di muka rumah. Mereka juga kasihan karena perempuan itu tidak mampu membeli susu kaleng.

"Biarlah aku yang menyusui bayi itu." Tiba-tiba Gendis keluar rumah. Orang- orang terkesima, sesaat serupa tugu. Aneh, Gendis masih terlihat sama seperti saat baru melahirkan. Payudaranya terlihat kembung. Yang berubah hanyalah matanya. Di mata itu seperti masih ada genangan air. Sebagian orang menganggapnya buta karena terlalu lama mengucurkan air mata.

Kesediaan Gendis untuk menyusui dilaporkan pada perempuan yang baru melahirkan itu. Pada awalnya ia tidak setuju karena mendengar kabar tentang mata Gendis yang terlihat aneh, tapi karena ia tidak mampu lagi membeli susu, akhirnya ia bersedia bayinya disusui Gendis. Beberapa orang yang semula meragukan apakah payudara Gendis masih mengeluarkan air susu terbukti salah. Malah susu dari payudara Gendis melimpah ruah. Bayi itu menyusu dengan sangat lahap. Bila tiba waktunya untuk menyusu, bayi itu selalu dibawa oleh orang tuanya kepada Gendis. Selama dua tahun bayi itu disusui Gendis hingga tiba waktunya untuk disapih. Bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Kabar itu cepat menyebar. Maka datanglah beberapa perempuan yang memiliki bayi. Bukan hanya para perempuan dengan payudara yang tak mampu menghasilkan susu, tetapi juga sebaliknya. Mereka menginginkan bayi mereka sehat seperti bayi sebelumnya, dan mereka rela antre di depan rumah Gendis selama berjam-jam. Rumah Gendis tak pernah sepi dari tangisan bayi.

Dengan senang hati Gendis menyusui bayi-bayi itu. Terbukti mereka tumbuh menjadi anak-anak sehat. Anehnya, payudara Gendis tidak pernah menyusut dan susunya tidak habis-habis meski sudah puluhan bayi yang disusuinya. Hanya kedua matanya yang semakin mengecil. Makin banyak orang yang menganggap Gendis buta sehingga beberapa orang datang dengan sukarela untuk membantu Gendis mengurus rumah karena sepanjang hari ia sibuk menyusui. Malah seorang pria bernama Bejo mengatakan akan mengabdikan dirinya pada Gendis. Bagi Bejo, Gendis adalah sebuah keajaiban.

Rumah Gendis makin ramai. Beberapa tetangga memanfaatkan kesempatan itu dengan membuka warung. Mereka menjual apa saja yang bisa dimakan. Sisa-sisa makanan mengundang beberapa ekor kucing untuk datang. Di antara kucing-kucing itu ada yang kawin dan melahirkan empat ekor anak. Namun sayang, induk kucing mati.

Mengetahui hal itu, Gendis berkata pada Bejo. "Bawalah anak-anak kucing itu ke sini. Akan aku susui mereka." Bejo terkejut, tapi ia tidak berani membantah. Ia segera mengambil keempat ekor anak kucing itu dan membawanya kepada Gendis. Gendis segera menyusui mereka dan meminta Bejo untuk merawat bayi-bayi kucing yang mungil itu. Dua kali sehari Gendis menyusui mereka, bergantian dengan bayi- bayi manusia yang mengantre untuk disusui. Anehnya, anak-anak kucing itu pun menjadi sehat dan siap untuk dilepas.

Kabar tentang Gendis yang tidak hanya menyusui anak manusia cepat tersebar. Lalu berdatanganlah orang-orang ke rumah Gendis dengan membawa berbagai jenis binatang peliharaan mereka yang sakit. Bejo sempat bingung. Ia lalu bertanya pada Gendis, "Ibu, banyak orang yang datang ke sini dengan membawa binatang peliharaan mereka untuk disusui. Mereka sudah gila, Ibu."

"Bejo, tidak apa-apa. Biarlah mereka mengantre. Akan aku susui binatang- binatang itu. Mereka juga makhluk ciptaan Tuhan yang perlu kita sayangi." Kata Gendis dengan suara lembut. Matanya berkedip-kedip. Genangan air masih terlihat di sana. Kadang orang yang melihat matanya dengan cukup lama bagai melihat lautan.

Maka sejak itu Gendis tidak hanya menyusui anak manusia dan kucing, tetapi juga anak anjing, monyet, orang utan, siamang, kambing, rusa, gorila, bahkan bayi harimau. Seperti yang sudah-sudah, binatang-binatang itu juga menjadi sehat.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, Gendis semakin dikenal. Bahkan beberapa orang menjulukinya manusia sakti dan keturunan wali. Pemujanya juga terus bertambah. Suatu ketika, seorang wanita paruh baya datang ke rumah Gendis, tetapi bukan untuk meminta Gendis menyusui bayinya atau binatang peliharaannya, melainkan mengadukan masalah keluarga. Ia datang sambil bercucuran air mata.

Wanita itu mengatakan bahwa ia memiliki seorang anak lelaki yang kecanduan narkoba. Kuliah si anak berantakan dan wanita itu telah menjual rumah satu-satunya peninggalan suami untuk biaya menyembuhkan anaknya. Mereka sekarang tinggal di rumah kontrakan yang kecil pada gang sempit. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

"Tolonglah, Ibu Gendis."

"Bawalah anak laki-lakimu ke sini," kata Gendis.

"Bawa ke sini, Ibu?"

"Iya. Akan aku susui dia."

"Baik, Ibu."

Keesokan harinya wanita itu membawa anaknya. Gendis menyuruh Bejo menyiapkan satu kamar kosong. Di kamar itulah pecandu narkoba itu ditempatkan. Pintu dikunci agar pada saat sakaw ia tidak kabur. Setiap lima jam sekali Gendis menyusui pecandu itu. Tiga hari pertama ia muntah-muntah. Semua racun yang telah ditenggaknya keluar bersama muntah berwarna kelam. Hari berikutnya pecandu itu menyusu seperti bayi yang kelaparan. Dua minggu berikutnya ia telah sembuh dari kecanduan narkoba.

Kabar tentang Gendis Sang Perempuan Penyusu terus menyebar. Predikatnya pun makin banyak. Orang-orang yang sangat memujanya memberinya nama-nama pujian. Kini orang-orang yang menyusu padanya bukan hanya pecandu narkoba, tetapi juga tokoh-tokoh politik yang ingin menjadi pemimpin, pejabat yang ingin cepat naik pangkat, pengusaha yang ingin cepat kaya, penyanyi yang goyangannya dilarang, artis yang dianggap melecehkan agama, perempuan dan pria yang susah mendapat jodoh dan pekerjaan, pelajar dan mahasiswa yang ingin cepat lulus, dan masih banyak lagi.

Tapi di balik kemasyhuran Gendis ada beberapa orang yang membencinya. Ia dituduh menyebarkan maksiat dan klenik. Sekelompok orang berpakaian putih-putih datang dan berdemo di depan rumah Gendis. Gendis diminta untuk menghentikan kegiatannya menyusui orang dan binatang. Kalau tidak, rumahnya akan dibakar.

Gendis tidak pernah peduli dengan segala omongan orang dan demo-demo yang menentangnya. Ia terus saja menyusui makhluk hidup apa pun yang datang kepadanya. Ia berkeyakinan selama itu demi kebaikan orang lain dan tidak merugikan pihak mana pun, ia akan terus menyusui hingga akhir hayat.

Keteguhan Gendis membuat beberapa orang membelanya. Terutama mereka yang telah merasakan manfaat menyusu pada Gendis. Makin hari makin banyak saja orang yang mendukungnya sehingga terbentuklah aliansi pendukung Gendis yang siap mati jika keberadaan Gendis terus diusik. Mereka membubuhkan sidik jari dengan tinta darah. Ia juga dirangkul oleh partai politik yang menentang penguasa.

Gendis berubah menjadi sebuah fenomena. Ia bahkan terkenal hingga ke mancanegara. Orang-orang yang datang untuk menyusu padanya bukan hanya dari dalam negeri. Beberapa kali ia malah diundang ke berbagai negara. Tentu saja ia selalu ditemani oleh Bejo yang kini juga ikut menikmati kemasyhuran.

Pada suatu ketika Gendis akan menghadiri pertemuan. Sang penguasa menganggap pertemuan itu akan mengusik kekuasaannya. Maka dibuatlah rencana untuk membunuh Gendis dengan memberikan racun pada minumannya. Antek-antek penguasa yang telah sangat lihai dan mendapat pelatihan di luar negeri selama bertahun-tahun ditugaskan dalam misi ini. Entah bagaimana mereka bekerja, akhirnya di depan Gendis ada gelas berisi air putih yang telah diberi racun.

Pada saat Gendis hendak minum, tiba-tiba gelas itu pecah. Gendis tidak mati. Peristiwa yang dianggap langka itu diliput televisi. Para pendukungnya sangat yakin bahwa ada sesuatu di minuman itu. Nama Gendis malah semakin masyhur. Pengikutnya menjadi berlipat-lipat. Sang penguasa harus gigit jari karena kini pengikut Gendis telah melimpah ruah. Itu berarti akan sangat sulit untuk menyingkirkannya, dan jika mencalonkan diri menjadi pemimpin, ia pasti menang. Para pemujanya menjuluki Gendis orang suci.

Kiprah Gendis semakin berkibar. Ia kini bukan hanya menyusui, tetapi juga menentang tindakan main hakim sendiri dalam membela keyakinan. Jurang perbedaan antara sekelompok orang dengan Gendis semakin curam. Bentrokan antara pengikut Gendis dengan sekelompok orang itu tak lagi bisa dihindarkan.

"Tangkap Gendis. Ia telah memilih jalan sesat dan menyesatkan." Begitu kata pemimpin kelompok itu.

"Aku tak akan pernah gentar. Bila ingin menindas orang, langkahi dulu mayatku," jawab Gendis yang kemudian dikutip berbagai media massa. "Aku menyusui karena aku memiliki air susu yang melimpah ruah, dan sangat banyak makhluk yang membutuhkannya. Ini bukan porno dan maksiat, namun suatu bentuk pelayanan pada Sang Pencipta."

Tahun-tahun terus berlalu. Gendis makin tua. Kesehatannya semakin memburuk. Ke mana-mana ia harus didorong dengan menggunakan kursi roda. Tapi ia tetap tak pernah menolak siapa pun yang datang kepadanya untuk menyusu. Anehnya, buah dadanya bukannya makin kempis, tetapi makin berisi, meskipun tubuhnya sudah sangat lemah.

"Aku akan terus menyusui siapa pun yang membutuhkan. Cuma itu yang bisa kulakukan dalam hidup ini di sisa-sisa umurku. Hanya Tuhan yang bisa menghentikan tindakanku. Aku ingin dikenang sebagai Perempuan Penyusu dan menjadi rahmat bagi sekalian alam." Begitu kata Gendis sebelum akhirnya ia menutup mata untuk selama-lamanya. Jutaan orang mengantarkan Gendis ke pembaringannya yang terakhir. Mata mereka tergenang air, persis seperti mata Gendis pada saat tangisan terakhirnya reda. Salah satu dari mereka adalah anak perempuan yang berumur enam tahun. Jika diperhatikan dengan saksama, mata anak itu seperti lautan. Ruh Gendis telah menyusup melalui ubun-ubunnya. Kelak ia akan menjadi perempuan penyusu berikutnya.