Senin, 28 November 2011

Heute Herbst

Cerpen Desi Puspitasari
Dimuat di Koran Tempo, 20 November 2011

BEL yang digantung di pintu berkelinting.

�Menjelang musim dingin yang beku!�

Katja Heinenmann menaikkan kacamata tuanya. Ia melihat Klaus, salah satu profesor tua sekaligus pelanggannya yang setia, melepas mantel. Laki-laki itu baru pulang dari kampus tempatnya mengajar.

�Kopi susu, ya? Seperti biasanya.� Klaus menampilkan senyum lebar di antara wajah lelahnya.

�Aku juga punya kentang tumbuk dan sosis hangat.�

Klaus berpikir sejenak. �Bratwurst saja.�

Katja memang sudah tua dan tidak gesit lagi, tapi tidak perlu waktu lama baginya untuk menyiapkan pesanan. Sambil membawa nampan berisi makanan, ia keluar dari dapur dan menuju satu pojok favorit para pelanggan kedainya. Pojok dengan ukuran lumayan luas dengan rak buku raksasa dan dialasi karpet tebal. Ada juga beberapa meja kecil dan bangku bagi yang membutuhkan.

Klaus bersandar santai dengan buku tebal dalam genggamannya. Buku biografi Albrecht D�rer, pelukis Jerman abad ke-16 yang memadukan gaya ghotik Jerman abad ke15 dengan gagasan-gagasan Renaissance yang berkembang di Italia. �Penting untuk menjaga keseimbangan otakku, Frau. Mempelajari teknik membuat pesawat terbang canggih dan membaca perihal kesenian sekaligus.�

Klaus mengangguk ketika Katja meletakkan pesanannya. �Danke.� Secangkir kopi susu panas dan sepiring sosis hangat. �Bitte.� Katja berlalu. Klaus kembali sibuk dengan buku bacaannya.

Jalanan sepi. Lembaran daun kering terlunta-lunta tertiup angin September. Ranting tua pepohonan bergoyang sepi. Ini awal musim dingin yang menyedihkan. Bukan bagi dunia. Karena Jerman tak lagi suram semenjak proses reunifikasi tahun 1990 lalu. Tapi menyedihkan, setidaknya bagi Katja. Seperti ada melankoli yang berbeda.

Ini pasti karena usia. Oh, masa tua, keluh Katja sambil menyeduh secangkir teh mint bagi dirinya sendiri. Kalau saja ia masih 20 atau 40 tahun setidaknya akan cukup banyak alasan baginya untuk menghabiskan waktu dengan melakukan seabreg aktivitas. Sekarang apa yang bisa dilakukannya? Ketika usia telah menginjak angka 70 dan seluruh anggota keluarga telah pergi satu persatu? Suaminya telah meninggal. Kedua anaknya berpencar ke kota yang berbeda-beda. Saat-saat seperti ini ia selalu merasa kesepian. Musim dingin sendirian. Lalu musim semi yang dilanjutkan dengan musim panas. Pesta Biergarten.

Jantung Katja tiba-tiba terasa nyeri ketika ide biergarten iseng mampir di pikirannya. Pesta yang berhasil mengumpulkan ribuan orang untuk minum bir bersama-sama. Sekitar 1300 ahli bir didatangkan, dan 160 liter bir siap sedia untuk dihabiskan.

�Anda tidak minum bir?� tanya Katja muda heran. Ia menatap laki-laki berwajah Asia di hadapannya.

Nein.� Laki-laki itu menolehkan kepala. �Sebenarnya aku mencari air mineral kalau ada.�

�Kalau hanya untuk mencari air mineral, kenapa repot-repot datang ke sini?� Katja mengeraskan volume suara, mengalahkan suara riuh rendah di sekitar mereka. Ia mencondongkan tubuh.

�Aku hanya ingin merasakan suasananya,� jawab laki-laki itu sambil tersenyum. �Dan sekarang rasanya aku sudah cukup tahu. Mari.� Ia berpamitan dan meninggalkan kerumunan manusia yang memenuhi deretan meja dan kursi.

Katja menenggak sisa birnya. Lalu melompat cepat menyusul laki-laki asing itu. Ia masih muda dan merdeka, dan tidak pernah merasa bersalah ketika ingin melakukan apa yang dia mau. Yang diikuti sedang membelok ke salah satu minimarket dan tak lama keluar dengan sebotol air mineral. Laki-laki itu sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Katja berhenti dan merasa tidak tahu sebenarnya apa yang hendak dilakukannya. Ia hampir saja berbalik pergi ketika laki-laki itu memanggilnya. �Ternyata Anda lagi. Kebetulan sekali.�

Katja memutuskan untuk tidak jadi pergi. �Ada yang ingin kutanyakan.�

Bitte.�

�Kenapa Anda tidak mencoba bir? Sekadar menghilangkan rasa haus? Sekadar memenuhi rasa penasaran?�

�Karena aku tidak dianjurkan untuk minum alkohol.�

�Anda muslim?� tanya Katja memastikan. Ia punya beberapa teman dari India, Turki, dan Malaysia yang selalu mengatakan alasan yang sama.

Laki-laki itu mengangguk.

Itu artinya tidak ada alasan lain sedikit pun bagi Katja untuk bisa menggoyahkan keyakinan makhluk asing tersebut. �Apa Anda tidak kepingin tahu bagaimana rasa bir?�

Laki-laki itu diam sebentar. �Tolong katakan padaku bagaimana rasanya.�

Katja mengerutkan kening. Mencoba mengingat-ingat kenikmatan minuman yang masih tersisa di tenggorokan. �Ya. Sedikit pahit. Setidaknya kau akan bergidik karena rasa pahit. Sedikit manis. Kau bisa mencecap sisa-sisanya yang tertinggal di lidah. Dan rasa seperti terbakar di tenggorokan. Lalu tubuhmu akan terasa hangat. Rasanya seperti menyebar perlahan-lahan di dalam tubuh.�

�Sekarang aku sudah tahu rasanya minum bir,� kata laki-laki itu pelan.

Katja terdiam. Cara yang bagus untuk menjawab. Namun membosankan.

Bel yang dipasang di pintu kembali berkelinting. Katja tua menghentikan lamunannya. Ia bergegas keluar dapur. Suami istri Henkel duduk di kursi sambil menggosok-gosok telapak tangan mereka yang dingin. �Nekad sekali,� sapa Katja.

Pak Henkel menoleh. �Begitulah. Istriku yang sudah tua, namun keras kepala ini sudah sangat kepingin mampir.�

�Aku ingin sup sapi. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun tidak makan sup resep orang tuamu.� Bu Henkel mencoba membela diri. �Dua rindfleischsuppe dan dua cokelat panas.�

�Mudah-mudahan sop dan cokelat itu bisa menolak penyakit masuk angin,�gerutu Pak Henkel.

Katja baru saja menuang sup resep orang tuanya ketika bel pintu kembali berkelinting. Ia keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup. Langkahnya terhenti ketika melihat laki-laki yang beberapa bulan lalu ditemuinya di pesta bir.

�Hai.� Laki-laki itu pun seperti kaget. Ia lalu tersenyum demi melihat Katja.

�Selamat datang!� seru ibu Katja dari balik meja kasir.

Katja muda tersadar. Ia mengantarkan sup pesanan pelanggan kedai sebelum mampir ke meja laki-laki itu.

�Mau pesan apa?�

�Di sini tersedia menu kotellete?�

�Kebetulan tidak.� Katja mengerutkan kening. �Kau bisa memesan cokelat, kopi, atau sup daging sapi.�

Laki-laki itu memesan secangkir kopi panas. Ketika Katja kembali membawa pesanan, laki-laki itu sudah tenggelam dalam pekerjaan menulisnya. Beberapa buku tebal tertumpuk memenuhi meja. Sebagian terbuka di halaman tertentu. �Sibuk sekali,� komentar Katja yang bingung harus meletakkan cangkir di sebelah mana.

Laki-laki itu mendongakkan kepala. Buru-buru ia menggeser buku, memberi tempat. �Aku sedang mengerjakan tugas akhir. Beasiswaku akan dihentikan beberapa bulan lagi. Kalau aku tidak bersegera, wah�.�

�Aku tidak akan mengganggumu.� Katja meletakkan cangkir kopi.

�Aku tidak merasa terganggu.� Laki-laki itu tersenyum. �Frau, buku apa saja yang ada di rak itu?�

Katja menoleh ke arah yang ditunjuk. �Cuma sekadar rak tua. Beberapa roman milik ibuku, dan tumpukan koran harian yang lama dan baru. Anda bisa membaca koran hari ini.�

�Ah, nein.� Laki-laki itu menggeleng. �Aku hanya kepikiran sesuatu. Seandainya anda menambahkan beberapa buku lagi dan menghamparkan karpet tebal. Itu akan menjadi pojok yang menyenangkan.�

Katja terdiam beberapa saat. �Akan kupertimbangkan.�

Katja tua meletakkan dua mangkuk sup dan cokelat di antara pasangan Henkel. Ia kembali disergap rasa muram ketika kembali ke dapur. Melalui jendela ia memandang jalanan di luar. Begitu sepi. Begitu menyedihkan. Mungkin beberapa hari lagi jalanan itu akan segera mati ketika hujan deras turun berhari-hari.

Hati Katja tertusuk perasaan ngilu.

Bel di pintu berkelinting.

Katja muda melongokkan kepala keluar dapur. Siapa yang nekat menembus hujan deras seperti ini? Laki-laki berkulit eksotis itu menggigil kedinginan ketika melepas mantel tebalnya. Ia menyimpan payung yang basah di kotak penyimpanan di belakang pintu.

�Selamat datang,� seru ibu Katja. �Cokelat panas, ya? Aku takut Anda terserang influenza.�

Ja, Frau. Danke,� jawab laki-laki itu dengan suara sengau.

�Nekat sekali,� komentar Katja ketika akhirnya meletakkan secangkir cokelat dan semangkuk sup panas. Sup itu bonus.

�Entahlah.� Ia mengangkat bahu. �Aku hanya ingin kemari sebelum besok pulang ke rumah.�

�Pulang?� Itu berarti tidak ada lagi kunjungan menjelang sore hingga malam. Dua cangkir kopi panas, semangkuk sup, dan tekun mengerjakan tugas akhir. Dengan cara yang tidak dapat dijelaskan, hati Katja merasa kehilangan.

�Aku telah lulus ujian.�

Katja mengangguk.

�Dan kupikir, kedai kopi ini turut berjasa membantuku menyelesaikan tugas akhir. Itulah kenapa aku memaksa diriku kembali lagi ke sini.�

Katja terdiam. Ia kembali masuk ke dalam dapur. Semacam perasaan kehilangan itu mampir di hatinya. Secara tidak sadar perlahan-lahan dalam diam ia menikmati kehadiran laki-laki berkulit sawo matang selama dua bulan terakhir. Wajahnya yang serius ketika menulis, membaca buku, atau mencoret-coret bagian penting dalam bukunya.

Katja tidak keluar dari dalam dapur ketika laki-laki itu membayar pesanan.

�Ah, Indonesia!?� seru ibu Katja. �Pasti di sana tidak ada sup sapi seenak buatan di sini!�

Laki-laki itu tertawa sopan. Lalu berpamitan.

Melalui kaca jendela dapur yang sedikit buram, Katja melihat laki-laki itu menembus hujan di bawah payung yang digenggamnya erat-erat. Tubuhnya sedikit menggigil kedinginan. Kecipak air di sepanjang trotoar sudah pasti membasahi sepatunya.

Katja mendesah pelan. Indonesia. Negara carut marut itu ternyata masih menyisakan satu sosok yang bisa-bisanya membuat hatinya merasa kehilangan.

�Menjelang musim dingin yang beku ya, Frau,� kata Klaus sambil membayar pesanan.

Ja, Profesor. Entah kenapa selalu saja terasa menyedihkan.� (*)

.

.


.

Catatan

Heute Herbst: musim gugur kali ini.

Kotellete: babi.

Rindfleischsuppe: sup daging sapi.

Minggu, 27 November 2011

Tulang Belulang

Cerpen Mashdar Zainal
Dimuat di Surabaya Post, Ahad 20 November 2011

NAMAKU Mawarni. Aku dibunuh pada hari Senin tanggal 21 Desember tahun 1998, pukul enam petang, di sebuah rumah kecil di pinggiran perkebunan tebu milik ayahku. Ketika itu usiaku 18 tahun. Aku dibunuh setelah tubuhku ditelanjangi dan kegadisanku dilumat habis. Tubuhku dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam karung, lalu dikubur di dalam perkebunan itu. Malam itu juga. Sampai sekarang jasadku belum ditemukan. Bahkan orang tuaku masih belum percaya bahwa anaknya sudah tiada.

***

Pada minggu-minggu awal kematianku, rumahku tak henti-hentinya diselimuti kabut. Siang hari, ayah dan ibuku terus menyebarkan berita kehilangan ke desa-desa tetangga sampai ke ibu kota kecamatan. Malam harinya ibu menuntaskan tangis�sambil memandangi fotoku�di pangkuan ayah sampai tertidur. Ibu tak percaya bahwa anaknya sudah mati sebelum jasadnya jelas-jelas ditemukan. Sedangkan ayah�yang lebih dekat denganku, sudah mengikhlaskan semuanya. Beberapa kali aku menemui ayah lewat mimpi. Kutunjukan pada ayah, kelebat demi kelebat kejadian yang menimpaku. Kukabarkan pula padanya, bahwa mereka tak perlu lagi mencariku. Karena aku sudah pergi ke tempat yang sangat jauh. Tempat yang tak mungkin terjangkau oleh mereka.

Seringkali ayah menceritakan mimpi anehnya pada ibu, �Sudah tiga kali, Ma, aku memimpikan itu. Mimpi yang sama. Dia sudah pergi, Ma, dia sudah pergi. Kita harus mengikhlaskannya.� Hanya itu yang dikatakan ayah pada ibu. Ayah tak sampai mengatakan pada ibu, bahwa dalam mimpinya, seseorang dengan sosok ditelan remang telah memperkosaku dan mencincang-cincang tubuhku. Lalu menguburku bersama pekat malam.

�Itu kan cuma mimpi. Mimpi ya mimpi. Bunga tidur. Aku yakin dia masih hidup. Entah di mana.� Tukas ibu sambil setengah terisak. Dan ayah kembali terdiam.

***

Tak seorang pun akan menduga, bahwa pembunuhku adalah seorang pemuda yang sangat manis. Seorang kuli penjaga kebun yang dikenal warga sebagai pemuda yang santun dan pendiam. Yang kutahu, pemuda itu memang sangat ramah dan murah senyum. Ayah, mempekerjakan pemuda itu di kebunnya empat bulan sebelum ia membunuhku. Tak ada yang tahu dari mana pemuda itu berasal. Awalnya pemuda itu mendatangi Pak RT, ia mengaku sebagai seorang musafir yang kehabisan bekal. Kepada Pak RT ia memohon izin untuk tinggal beberapa hari di mushola desa. Ia juga berjanji akan merawat mushola dan mengumandangkan adzan bila waktu shalat tiba.
Beberapa hari tinggal di mushola, warga desa sudah langsung terpesona melihat perangai pemuda itu. Ia sangat rajin, suaranya ketika mengumandangkan adzan pun sangat merdu. Ia juga sangat santun pada warga dan anak-anak. Bahkan beberapa kali ia sempat mengajari anak-anak mengaji. Maka ketika pemuda itu hendak berpamitan pergi, warga desa berjibaku mencegahnya.
�Jangan pergi, Nak. Tetaplah tinggal di desa ini, kami butuh pemuda sepertimu.� Kata seorang warga desa.
�Iya. Sanak tetaplah tinggal di mushola dan mengajari anak-anak mengaji. Kalau tidak, kalau sanak mau, Sanak juga boleh tinggal di rumahku.� Kata yang lain.
�Iya. Terima kasih, terima kasih. Tapi saya harus pergi� balas pemuda itu.
�Tapi Sanak mau pergi ke mana?�
�Saya akan pergi ke kota. Saya butuh pekerjaan untuk menyambung hidup.�
�Oh, itu masalahnya. Tapi, pekerjaan kan bukan cuma ada di kota.�
�Apakah sanak mau bekerja di perkebunan suami saya.� Tawar ibuku ketika itu, �Kalau sanak mau, saya akan bilang ke suami saya.� Lanjutnya.
�Tapi saya tak punya banyak keahlian kecuali bekerja berat menjadi kuli.� Sanggah pemuda itu.
�Oh, kerjanya tidak berat, kok. Tidak butuh keahlian apa-apa. Cuma menjaga perkebunan. Di perkebunan kami ada rumah kecil yang sebenarnya tidak terlalu buruk untuk ditinggali. Kalau Sanak mau, Sanak bisa tinggal di sana. Pagi sampai siang Sanak bisa merawat perkebunan itu, mempesiang gulma dan mengatur irigasi. Malamnya Sanak bisa mengajari anak-anak mengaji di mushola.�
Setelah berpikir beberapa saat, pemuda itu mengiyakan. Mulailah ia tinggal di rumah kecil di pinggir perkebunan tebu milik ayah. Rumah itu di kelilingi tanaman melon dan cabai�milik ayah juga. Tepat lima belas meter di depan rumah kecil itu, terhampar perkebunan tebu seluas tiga hektar. Aku tak pernah menduga sebelumnya bahwa riwayatku akan berakhir di perkebunan itu.

***
Sore itu, aku berangkat ke perkebunan tanpa sepengetahuan ayah. Aku hanya berpamitan mencari angin. Tanpa firasat apapun, sore itu aku mendekati rumah kecil itu, setelah memetik dua buah melon ranum, yang beberapa hari lagi hendak dipanen. Aku melihat pemuda itu mengawasiku dari balai-balai kecil di depan rumah itu. Dengan seulas senyum, pemuda itu menyapaku dan memintaku mampir.
�Singgahlah sebentar, aku punya sesuatu untukmu.�
�Iya, terima kasih. Lain kali saja. Hari sudah sore. Aku harus segera pulang.� Balasku.
�Benar kau takkan menyesal?� pemuda itu berusaha menarik perhatianku. Maka kuputuskan mendekatinya.
�Ada apa?�
�Masuklah, aku punya sesuatu. Kudengar kau suka mengoleksi perangko.�
Detik itu tak terpikirkan keanehan itu olehku, bagaimana mungkin ia bisa tahu aku seorang pengoleksi perangko. Rasanya tak mungkin ayah menceritakan hal sepele itu padanya.
�Lihatlah!� Ia menunjukan sebuah album berwarna unggu tua. Ia membolak-balik isi buku album itu. Puluhan perangko cantik dan unik terpajang di sana. Beberapa memang sama dengan koleksiku, tapi beberapa yang lain sangat unik, bahkan ada yang berbentuk bintang dan segi tiga.
�Wow, keren sekali.� Aku seperti tersihir. �Apa ini yang kau maksud dengan: ada sesuatu untukku.�
Ia mengangguk dan melemparkan senyum. Aku kembali membolak-balik buku album itu dengan girang. �Bagaimana aku berterima kasih.� Aku masih belum percaya, ia memberika album itu untukku.
Aku terus nyerocos, sementara ia bungkam tanpa suara. Beberapa saat kemudian, baru aku merasa ada yang aneh. Bagaimana mungkin ada orang yang mau menyerahkan barang koleksi yang telah ia kumpulkan bertahun-tahun kepada orang yang belum lama ia kenal. Aku yakin butuh waktu yang sangat lama untuk mengumpulkan perangko-perangko itu. Aku mengalaminya sendiri.
Ketika aku masih asyik dengan buku album itu, ia melangkah dan mengunci pintu dari dalam. Detik itulah, perasaanku mulai tidak enak. Aku juga baru menyadari, bahwa tatapannya sangat aneh dan menjijikan.
�Oh, boleh aku pulang sekarang. Ayah akan marah padaku jika aku terlambat pulang.� Jelasku mulai gugup.
�Begitukah caramu berterima kasih?� kudengar nada sinis dan kejam dari suaranya.
�Aku sangat berterima kasih atas hadiah ini. Tapi, maaf. Aku harus segera pulang.�
�Siapa bilang kau bisa pulang semudah itu.� Pemuda itu mulai mendekatiku. Aku melangkah tergesa, mendekati pintu. Dan pemuda itu menahanku. Ia membungkam mulutuku dengan tangan berototnya sebelum aku sempat berteriak. Aku yakin, sesuatu yang buruk akan terjadi padaku. Aku meronta, tapi pemuda itu mencengkram tubuhku kuat-kuat. Saat itu, yang ada di kepalaku hanya rasa takut yang sangat. Tak ada yang lain.
Seperti sudah sangat terampil, pemuda itu menyumpal mulutku dengan sarung bantal dan mencengkram kedua tanganku. Aku menangis dan hanya menangis. Dengan suara tertahan aku berteriak. Jangan, kumohon jangan lakukan ini. Namun pemuda itu tak memedulikanku. Dengan beringas ia melucuti pakaianku satu persatu. Ia mulai berpeluh. Ia terengah-engah seperti kuda yang terus berlari dalam pacuan. Ia melenguh dan terus menari di atas tubuhku. Menindih tubuhku erat-erat dan menari lagi hingga akhirnya ia terkapar dengan peluh bercucuran di dahi dan leher.
Detik itu aku masih merasa sangat hidup. Namun tubuhku rasanya koyak-moyak tinggal sisa. Detik itu aku tak sempat berpikir apa yang akan terjadi padaku berikutnya. Aku hanya merasa, bahwa aku sudah sangat hancur. Pemuda itu melirikku dengan nafasnya yang masih tersengal. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari rebahnya dan mengambil sebuah parang yang tergeletak di bawah ranjang. Sampai di sini, aku sudah tahu apa yang terjadi padaku berikutnya. Parang itu berkilat, seperti tersenyum, senyum yang akhirnya menjadi seringai yang sangat menyeramkan.

***
Beberapa saat berikutnya aku sudah berdiri di sebuah ruang dengan lantai, dinding, dan atap yang semuanya berwarna putih. Sebuah ruang yang sangat lapang. Seperti terjadi dalam mimpi. Aku bisa melihat semuanya: bagaimana pemuda itu berjibaku dengan darah dan potongan-potongan tubuhku. Remang buta, pemuda itu membawa karung berlumuran darah dan sekop ke dalam perkebunan, jauh ke dalam sekali. Hampir tiga jam pemuda itu menggali. Galian seperti sumur kecil yang tidak terlalu dalam. Setelah menimbun karung menyedihkan itu, pemuda itu merapikan bekas galian dengan sangat sempurna.
Sementara di ruang yang lain, aku melihat ibu menagis tanpa suara. Sementara ayah dan beberapa orang keluar mencariku jauh selepas malam. Diantara orang-orang yang melakukan pencarian itu, kulihat sosok pemuda itu. Semua berkelebat di mataku: karung berdarah yang ditimbun di dalam perkebunan tebu, ibu yang terus menangis dan menyebut-nyebut namaku, ayah yang berjibaku dengan warga desa meneriakkan namaku di remang malam. Di sini baru kusadari sesuatu: aku tidak sedang bermimpi.
Aku terus memperhatikan semuanya. Teman-temanku yang sibuk membicarakan berita kehilanganku. Pemuda itu�yang tetap bersikap manis dan ramah pada siapapun. Ibu yang larut dalam kabut kesedihan. Juga ayah yang selalu berusaha tegar. Waktu terus merangkak. Hari dan bulan berlalu. Dan aku masih belum ditemukan. Seiring berjalannya waktu, semua mencair, kecuali kesedihan ibu, yang kian hari kian menggumpal.

***

Tahun demi tahun pun berlalu. Bisnis perkebunan ayah semakin maju. Ia membeli tanah beberapa hektar di pinggiran desa dan menanaminya dengan buah-buahan. Kulihat gumpal kesedihan di dada ibu sudah mulai menipis. Ia menyibukkan hari-harinya dengan usaha kue dan kripik yang dibuat dari buah-buahan yang ditanam di perkebunan ayah. Satu hal yang kusesali, pemuda itu kini jadi orang kepercayaan ayah. Rumah kecil tempatnya tinggal telah diperlebar dan dijadikan dua lantai. Pemuda itu itu kini telah menikah dan mempunyai satu anak. Semua ayah yang membiayai. Ayah sudah menganggap pemuda itu seperti anaknya sendiri.

***

Dua belas tahun setelah kematianku. Keadaan desa sudah berubah pesat. Sawah-sawah yang dulu menghijau kini mulai ditanami rumah-rumah. Perkebunan tebu yang telah bertahun-tahun ditanami tebu, oleh ayah takkan lagi ditanami tebu. Hasil dari perkebunan tebu sudah tidak seberapa, kata ayah. Di tempat itu ayah akan membangun ruko untuk disewakan. Ayah juga akan membangun sebuah market kecil untuk menampung usaha kue dan kripik buatan ibu yang sudah mulai punya nama.
Proyek ayah pun dimulai. Ayah menyewa tiga buldoser untuk meratakan tanah-tanah yang menggunduk bekas batang-batang tebu itu tengadah. Tanah mulai rata. Beberapa bagian ada yang sudah mulai digali untuk membuat pondasi. Para pekerja mulai menekuni tugasnya masing-masing.

Tiba-tiba seorang pekerja yang tengah sibuk merapikan galian berteriak, �Hei, di sini ada tulang belulang. Ada tengkorak kepala.�
Para pekerja menjadi riuh oleh temuan tulang belulang itu. Ayah yang mendengar kabar itu pun segera datang. Di antara kerumunan para pekerja, ayah memperhatikan tulang belulang itu, di mata ayah tengkorak kepala itu tampak cantik. Seperti wajah seseorang yang pernah ia kenal. Mimpi-mimpi yang mengusik tidurnya, dua belas tahun lalu, kembali berkelebat. Mata ayah mulai berkabut. ***

* Malang, Januari, 2011
* Cerpen ini terilhami dari novel karya Alice Sebold �The Lovely Bones�, yang pernah difilmkan dengan judul yang sama.

Laila Majenun

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Majalah Ta�dib, Edisi 45/Th.IX/November 2011

Laila - yang hampir setahun murung, melamun, dan mengurung diri - tiba-tiba berubah serta menjadi perbincangan orang banyak. Menurut cerita dari mulut ke mulut, ia sembuh lantaran meminum air zam-zam yang dibawa pulang oleh pamannya setelah menunaikan ibadah haji. Katanya lagi, entah benar atau tidak, air itu telah diberi bacaan oleh seorang syaikh di Arab Saudi.

Laila yang dulu tak tampak lagi. Sinar matanya yang semula sayu, kini musnah. Bola matanya memancarkan rona keemasan. Tajam dan tegar. Dengan pakaian warna putih yang selalu melekat di badan, ia menjelma sosok agung serta mampu mengkhilafkan banyak orang.

Perubahan pada diri Laila tidak berhenti sampai disitu. Ia juga meninggalkan pekerjaannya sebagai seniman patung. Karya-karyanya memang telah bertebaran hingga ke manca negara dan dikoleksi jutaan umat. Tak heran, Laila adalah alumni institut kesenian ternama. Satu persatu patung yang telah ia buat dan menempati ruang pamer di rumahnya berubah menjadi abu. Bahkan sebuah patung besar yang telah ditawar jutaan oleh penggemar seni pun tak luput dari kehancuran. Banyak sekali yang menyayangkan tindakan Laila.

Orang tuanya sendiri bingung, apalagi orang-orang yang selama ini memuja karyanya dan menganggap karya Laila sebagai seni tinggi. Sehingga bermunculanlah orang-orang dari seluruh media menanyakan kenapa ia menghancurkan sendiri karyanya. �Alangkah sayangnya. Beberapa karya agung harus musnah. Bukankah mengundurkan diri dari dunia seni tidak harus diikuti dengan menghancurkan karya sediri?� Begitu kata kebanyakan pengamat seni yang dimuat di berbagai media massa.

Laila menjawab, �saya tidak ingin orang-orang menjadi musyrik. Memuja patung adalah perbuatan syirik walaupun kita tidak bersujud dihadapannya. Dengan ini juga saya memerintahkan kepada kolektor di seluruh dunia yang masih menyimpan patung karya saya untuk memusnahkannya. Patung tidak akan memberikan kedamaian dan keselamatan pada umat manusia. Selamanya mereka bisu. Saya tidak ingin seperti itu. Kini saatnya saya akan membuka suara untuk menyampaikan suatu kebenaran.�

Setelah itu Laila menjadi sangat terkenal. Apalagi setelah ia memproklamirkan dirinya sebagai utusan Tuhan. Juru Selamat baru. Seluruh media cetak dan elektronik tak henti-henti memuat berita tentang dirinya. Berbagai respon bermunculan. Ada yang mengakui kebenaran kata-katanya, namun tidak sedikit yang menghujatnya. Di antara orang-orang yang menolak pengakuan itu menganggap Laila sudah gila. Sehingga dirinya kini lebih dikenal dengan sebutan Laila Majenun.

Sebenarnya cerita awalnya sederhana. Laila yang menikmati hidup sebagai seniman kaya raya dan terkenal tiba-tiba merasakan kehampaan. Apa yang dia ciptakan adalah sebuah salinan dari karyaNya. Ia hanya meniru. Kejenuhan serta kelelahan menyeruak. Batinnya bergolak. Tak pernah reda, hingga proses kreatifnya seketika mandek.

Lalu muncul pertanyaan untuk apa sebenarnya hidup ini? Ia mulai mencari jawaban. Akibat pencariannya selama beberapa tahun, lambat laun Laila memandang dunia hanya sebagai tempat mampir saja, dan hidup manusia dirasakan sebagai senda gurau belaka. Ia sama sekali tak tertarik lagi dengan pekerjaannya. Ia ingin mencari sesuatu dibalik yang kasat mata. Suatu kebenaran yang dianggapnya masih tersembunyi. Sebuah �Diri�, yang tak hanya menciptakan materi untuk patung-patungnya, tapi Pencipta yang telah menciptakan dirinya.

Dalam pencarian itu ia mengalami berbagai peristiwa yang akhirnya membuat fisiknya lemah. Badannya tidak mampu menopang jiwanya yang haus akan �kebenaran yang sesungguhnya�. Pertanyaan dalam dirinya belum terjawab. Perlahan-lahan tubuh itu semakin lemah, sedangkan pikirannya melayang-layang mencari pijakan. Hingga akhirnya air zam-zam itu yang kabarnya mampu menyembuhkannya. Banyak yang menyebutnya mukjizat. Cuma sayangnya ia bersikap sangat aneh, begitu kata kebanyakan orang. Namun tak sedikit yang kagum pada Laila.

Sebagian besar orang yang kagum pada Laila mulai menyebar berita yang bermacam-macam. Ia dikatakan memiliki kesaktian. Beritanya cepat menyebar ketika ia mampu menyembuhkan penyakit. Mereka juga percaya bahwa ia adalah utusan Tuhan atau juru selamat atas kebobrokan moral yang sedang melanda negeri ini dan mengakibatkan munculnya bencana dimana-mana. Pengikutnya sangat yakin bahwa Laila mampu memberikan jalan keluar dari setiap masalah. Ia telah dianggap seperti wali atau orang suci.

Kabar makin cepat menjalar. Secepat angin dan kedipan mata. Maka datanglah orang-orang yang putus asa dalam menghadapi hidup, terutama orang-orang yang merasa hatinya gersang dan mereka yang tidak sembuh-sembuh didera penyakit. Setiap ada kesembuhan akan menjadi berita yang berpindah bak kilat. Makin lama makin banyak orang yang menemui Laila, sehingga ia mengubah ruang pamernya yang sekarang kosong menjadi tempat pengobatan.

Bukan cuma itu, setiap malam Jum�at ia mengundang orang-orang untuk berkumpul dan mendengarkan wejangannya. Mereka harus berpakaian serba putih dan selama 24 jam sebelumnya hanya boleh makan nasi putih serta minum air putih. Laila berkata, �hati kita harus putih dan bersih, maka dari itu semua yang melekat di tubuh kita harus berwarna putih, dan yang masuk ke tubuh kita juga harus makanan yang putih serta murni. Kemurnian adalah sumber dari segala pencerahan.�

Dengan ajarannya, Laila semakin terkenal. Tapi ia makin menunjukkan berbagai keanehan. Salah satu keanehan adalah setahun kemudian perut Laila kelihatan membesar. Para jemaat di perkumpulannya mulai bertanya-tanya: Apakah Laila hamil? Satu dua orang mulai tidak percaya dengan ajaran Laila. Mereka mulai meninggalkannya karena menganggap guru mereka telah hamil di luar nikah, dan itu adalah perbuatan dosa yang tidak boleh dilakukan oleh orang suci yang telah tercerahkan.

Menyadari itu, Laila dengan cepat menceritakan kisah Maryam yang mengandung Nabi Isa. Dengan daya pikat bicaranya yang luar biasa ia berkata, �manusia kini sudah semakin keluar dari jalur kodratnya. Mereka tak lagi menyembah Sang Pencipta, tetapi benda-benda fana. Maka itu Tuhan akan kembali membimbing manusia dengan mendatangkan juru selamat yang akan lahir dari rahim saya. Karena saya memiliki jiwa yang murni dengan hati suci. Tidakkah kalian lihat Nabi Isa yang lahir dari seorang perawan suci? Tuhan, dengan kuasanya, telah menjadikan saya seperti Maryam. Saya jelas sekali mendengar bisikan-Nya setiap malam yang disampaikan oleh malaikat Jibril, Sang Ruhul Kudus.�

Banyak yang kemudian masih tetap mengikuti Laila walau kini jumlahnya berkurang. Bagi mereka yang percaya, Laila benar-benar akan melahirkan seorang juru selamat baru. Anggapan ini datang dari mereka yang telah sangat muak akan perilaku manusia yang telah berubah bagai hewan. Malah kata mereka hewan kini lebih berharga dari manusia. Lihatlah anjing-anjing yang tinggal di rumah mewah. Mereka lebih disayang dari pada gelandangan dan orang-orang miskin. Bau anjing-anjing itu bahkan jauh lebih wangi. Derajat manusia telah jatuh di bawah anjing.

Laila kemudian melahirkan bayi perempuan.

�Mengapa bayi guru perempuan?� Tanya salah seorang pengikut saat mereka berkumpul. Kini jumlahnya tinggal puluhan.

�Seorang juru selamat tidak harus laki-laki. Bahwa yang menjadi pemimpin haruslah laki-laki adalah gagasan yang selalu didengungkan oleh jiwa-jiwa kerdil yang haus akan kekuasaan. Sebenarnya mereka hanya takut tersingkir. Mereka tidak mampu bersaing.�

�Tapi selama ini yang dikirim Tuhan selalu laki-laki. Lihatlah orang-orang suci yang berada di seluruh kitab-kitab?�

Laila diam. Warna keemasan matanya mengarah ke seluruh pengikutnya. Mereka semua tertunduk. Sebentar lagi guru mereka akan mengeluarkan untaian mutiara dari mulutnya.

�Lihatlah diri saya. Bukankah saya juga adalah perempuan, dan saya selama ini telah memurnikan hati kalian. Sehingga kalian tidak hidup dalam kesengsaraan duniawi. Hidup kalian menjadi tenteram bukan. Coba seandainya kalian masih memikirkan harta dunia? Pasti hidup kalian semakin gersang dan mata batin kalian semakin tertutup. Lagi pula, orang-orang suci yang namanya tercantum dalam kitab-kitab itu juga lahir dari rahim perempuan.�

Para pengikutnya mengangguk. Mereka menyadari alangkah indahnya berada di dekat Laila. Mereka tak lagi gelisah dengan segala harta dunia yang selama ini mereka cari dengan susah payah, lalu ditumpuk, diiringi ketakutan akan kehilangan. Sebelumnya mereka merasa bagai budak yang selalu dipaksa untuk memenuhi kebutuhan nafsu perut, bawah dan atas perut.

Laila melanjutkan kata-katanya, �jika kalian meneliti seluruh kitab-kitab suci yang ada di dunia, kalian akan mengetahui bahwa ada simbol-simbol tersembunyi yang mengatakan akan datang seorang juru selamat yang berjenis kelamin sama dengan ibunya.� Orang-orang yang berada di ruangan itu kembali mengangguk. Bahkan ada beberapa yang menitikkan air mata, lalu mengangkat tangan mereka dan bersujud di depan Laila.

Dengan gencar media kembali meliput kegiatan Laila dan pengikutnya. Beberapa orang merasa penasaran. Mereka menyusup ke dalam jemaat itu selama beberapa minggu, kemudian melaporkan kepada atasan mereka semua kegiatan yang dilakukan dengan membawa buku-buku yang sudah ditulis oleh Laila. Buku-buku tulisan Laila memang sudah diedarkan dan sangat laris. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja telah dicetak ulang beberapa kali.

Beberapa minggu kemudian ada pengumuman resmi yang mengatakan bahwa ajaran Laila sesat. Laila yang selama ini mengaku dibimbing oleh Jibril ditolak oleh orang-orang itu. Mereka mengatakan iblislah yang telah membimbing Laila dan membutakan mata serta hatinya. Ia hanya diberi ilusi dan seolah-olah ia adalah juru selamat utusan Tuhan. Kembali kata-kata �Laila Majenun� menjadi sangat terkenal. Dan ia diminta segera bertobat, kembali ke jalan lurus sesuai dengan ajaran murni yang penafsirannya telah disepakati bersama.

Reaksi orang-orang bermacam-macam. Ada yang mendukung dengan alasan hak asasi manusia, ada juga yang menolak. Seorang intelektual bahkan ada yang membelanya dengan mengatakan bahwa banyak pengikut Laila yang berubah menjadi baik. �Bukankah itu tidak melanggar prinsip-prinsip agama manapun?� Kata intelektual itu. Ia lalu melanjutkan kata-katanya, �biarkan mereka menyembah Sang Pencipta dengan cara mereka sendiri, selama itu tidak merugikan siapa pun. Semua manusia yang baik dan menyembah Tuhan pasti akan masuk surga. Terserah bagaimana mereka melakukannya.�

Namun, jumlah orang yang mencelanya jauh lebih banyak. Bahkan akhirnya ada sekelompok orang yang tidak sabaran mendatangi Laila dan pengikutnya saat mereka sedang berkumpul. Orang-orang yang tidak setuju itu membakar rumah Laila sambil meneriakkan ucapan Tuhan Maha Besar, seolah-olah Tuhan merestui tindakan mereka. Untung kedua orang tua Laila telah lebih dahulu mengungsi ke kampung halaman. Mereka juga takut dan bingung dengan perubahan pada diri anaknya dan reaksi orang-orang.

Tapi Laila tidak pernah patah semangat. Ia selalu menghibur pengikutnya dengan menceritakan kisah nabi-nabi dan orang-orang suci yang selalu mendapat halangan dan rintangan saat menyebarkan kebenaran di muka bumi.

�Kita harus maklum.� Kata Laila. �Mereka adalah orang-orang bodoh. Orang-orang yang tak mampu melihat kebenaran karena hati mereka tertutup oleh debu-debu duniawi. Kalau saja mereka mau melihat dengan mata batin? Sayang, mereka hanya mampu melihat wujud kasar.�

Laila berkata sambil menggendong anaknya yang tertidur. Kini kemana-mana ia membawa anak itu yang katanya akan dipersiapkan untuk menjadi juru selamat baru. Selanjutnya ia mengatakan bahwa anak itu akan dibimbing oleh Jibril untuk membawa generasi berikutnya menuju kekekalan yang indah nan abadi.

Melihat kemarahan dari banyak orang dan selalu dikejar-kejar, pelan-pelan Laila mulai ditinggalkan oleh pengikutnya. Bahkan salah seorang bersaksi di televisi bahwa ia seperti tersihir oleh kharisma Laila. Sehingga ia menganggap Laila benar-benar sebagai penyelamat manusia dan utusan Tuhan yang hadir di akhir zaman.

Dari ratusan akhirnya kini pengikut Laila hanya tinggal puluhan.

�Inilah saatnya.� Kata Laila.

�Saatnya untuk apa guru?�

�Saatnya untuk menemui Dia.�

�Sang Pencipta?�

�Ya.� Kata Laila. Suaranya sangat tenang. �Kalianlah orang-orang yang terpilih. Kalian akan bahagia selama-lamanya. Nanti akan datang lagi generasi baru yang akan dipimpin oleh anak saya. Lalu anak saya akan melahirkan seorang anak lagi. Begitu seterusnya. Karena di setiap generasi akan muncul juru selamat dan pembimbing baru. Merekalah yang akan menjaga rambu-rambu, tapi sayangnya kebanyakan manusia tidak mengerti. Padahal tanda-tandanya bertebaran dimana-mana. Seluruh kitab suci mencatatnya.�

Laila lalu meninggalkan anaknya yang tertidur di sebuah pondok kecil beberapa ratus meter dari pondok mereka yang terpencil. Di pondok itu ia dan belasan pengikutnya telah membungkus diri dengan pakaian serba putih. Lelaki dan perempuan telah mencukur seluruh rambut yang tumbuh di tubuh mereka.

�Jangan lupa minum air putih.� Perintah Laila. �Air itu akan membersihkan sisa-sisa kotoran yang masih ada di tubuh kalian.� Mereka mengikuti apa pun perintah Laila.

Laila dan pengikutnya membentuk lingkaran. Tangan mereka saling mengapit. Lalu terdengar suara-suara senada. Tak lama kemudian mereka kelihatan berada di ambang ketidaksadaran. Mereka terus bergerak. Sampai akhirnya lingkaran itu berputar bagai sebuah roda.


Tiba-tiba muncul titik-titik api yang lambat laun melahap pondok itu. Mereka tak peduli. Mereka terus saja berputar sambil melantunkan syair-syair yang menyayat. Syair-syair penjemputan guna menyongsong keabadian yang tenteram di dunia lain. Dunia kekal yang bebas dari hujatan dan belitan nafsu.

Kini mereka telah terkepung api. Suara-suara itu terus melengking, lalu perlahan melemah, sampai akhirnya tidak terdengar sama sekali. Kini yang tinggal hanya batang-batang kayu dan sisa-sisa tubuh berwarna hitam dan beraroma sate.

Tempat yang jauh dari pemukiman itu kini tak lagi menyuarakan apa-apa, tidak juga nyanyian binatang. Beberapa jam lagi matahari akan muncul. Tapi di sebuah pondok kecil ada cahaya keemasan. Seorang anak kecil telah membuka matanya. Ia tidak menangis. Mata itu bersinar keemasan. Mirip sekali dengan mata Laila.

Rabu, 02 November 2011

Tapak Tangan di Leher Ayah

Cerpen Hamzah Puadi Ilyas
Dimuat di Pikiran Rakyat, 30 Oktober 2011

Tidak ada seorang pun di negeri ini yang mampu menyaingi ketampanan ayah. Badannya tegap, hidung mancung, rambut ikal, serta alis tebal. Semua berada di kulit berkilau. Selama ini ia tak pernah kalah berkelahi meskipun lawannya lebih besar dua kali lipat darinya. Ibu pernah bilang bahwa ayah akan menang sekalipun berhadapan dengan banteng marah atau harimau lapar.

Silih berganti dan beragam orang datang ke rumah kami untuk menemui ayah. Ada yang berdasi, ada yang berseragam, ada yang keringatnya bau comberan, ada pula yang lengannya tertutup tato. Kadang ayah tertawa terbahak-bahak bersama mereka, kadang pula berbisik-bisik. Begitu pulang, kebanyakan dari mereka akan memberikan amplop.

�Kamu sangat beruntung punya ayah sakti.� Kata salah seorang tamu berbadan besar dan berkulit segelap malam sambil mengelus kepalaku. Logat bicaranya seperti orang mabuk. Saat itu aku berada di teras bermain mobil-mobilan.

Pernah aku mencoba mencuri salah satu amplop yang paling tipis ketika tamu pulang dan ayah sedang ke kamar mandi. Tapi ibu memergoki tindakanku. Ia berteriak, mata melotot dan telunjuk mengarah tepat ke keningku. Nyali menciut dalam sekejap, lalu aku menangis. Malam hari, ibu datang ke kamarku dan meminta maaf. Suaranya selembut busa, namun terdengar seperti menahan tangis. Sebelum aku tidur ia berpesan agar jangan pernah menyentuh, apalagi mengambil amplop ayah sampai kapan pun.

�Kenapa, Ibu?�

�Nanti akan ibu ceritakan.�

�Kapan?�

Tanpa bicara, ibu meraih tanganku. Ia memijat dari pangkal bahu hingga pergelangan tangan. Ketika menggenggam jemariku, ia tiba-tiba meremasnya. Aku menjerit.

�Masih sangat lama.� Ibu lalu pergi.

Tiga tahun kemudian aku masuk SMP. Beberapa teman laki-laki dan perempuan pernah main ke rumah. Mereka mengatakan kenapa wajahku tidak mirip ayah. Wajahku tidak terlalu tampan, dan rambutku lurus. Aku mulai menyadari perbedaan yang jauh antara aku dengan ayah. Apalagi setelah cintaku ditolak teman sekelas. Karena penasaran, aku akhirnya bertanya pada ibu.

Bukannya menjawab pertanyaanku, ibu malah kembali meremas jemariku seperti dulu. Meskipun tidak menjerit, aku masih sedikit merasa nyeri. Aku hanya meringis.

�Belum saatnya engkau tahu.�

Aku sama sekali tidak mengerti sikap ibu. Aku menjadi marah. Apalagi semakin banyak saja orang yang membanding-bandingkan aku dengan ayah. Kemarahanku memuncak ketika di depanku ada tetangga memuji-muji ayah yang berhasil melumpuhkan seekor sapi jantan besar yang tiba-tiba saja mengamuk ketika hendak disembelih.

Akhirnya kuputuskan untuk ikut latihan bela diri. Ingin kubuktikan bahwa, meskipun tidak setampan ayah, aku bisa menyamai keperkasaannya. Dan suatu saat malah mengunggulinya. Setelah satu tahun latihan, aku bisa mematahkan tujuh susunan balok es. Di tanganku seperti ada kekuatan halilintar yang siap memecahkan apa saja. Aku semakin percaya diri. Latihanku semakin serius sampai akhirnya aku bisa push up sebanyak seratus kali hanya dengan bertumpu pada ujung-ujung jemari.

Memasuki SMA, terasa sepatuku mengecil. Aku menemui ibu, bukan ayah, untuk minta uang. Sejak kecil memang aku tidak dekat dengan ayah. Dan semakin besar, aku dan ayah terasa semakin jauh. Ia tidak pernah bertanya perihal sekolahku, dan aku juga malas bertanya tentang sesuatu padanya.

�Tunggu bulan depan.� Jawab ibu.

Aku cemberut, sekilas teringat tamu ayah yang masih sering memberikan amplop. Aku lalu berkata, �kenapa Ibu, bukankah ayah banyak uang. Kalau bulan depan, aku akan curi amplop ayah.�

�Jangan.� Ibu berteriak, seperti dulu. Ia lalu mendekat. Dengan cepat ia meraih tanganku yang kini mulai ditumbuhi otot-otot. Diremasnya tanganku. Tidak sedikit pun aku merasakan sakit.

�Sudah saatnya. Ibu akan beritahu.�

Aku diam, ibu lalu barkata, �anakku, ibu tidak pernah mengizinkan engkau mengambil amplop ayah karena isinya bukan cuma uang, seringkali obat-obatan yang akan merusak masa depanmu. Sekali engkau mencoba, akan ada makhluk gaib yang mengendap di tubuhmu dan perlu waktu panjang untuk mengusirnya.�

Aku masih diam.

�Ibu tidak ingin itu terjadi karena masih ada rahasia utama yang belum engkau ketahui.�

�Apa itu, Ibu.�

Ibu tidak menjawab, lagi-lagi ia menarik lenganku. Kali ini bukan jemariku yang diremas melainkan lengan atas. Aku meringis.

�Engkau belum siap.� Ibu meninggalkanku begitu saja.

Meskipun kecewa, aku mengerti. Mungkin karena aku mulai beranjak dewasa. Kata-kata ibu akhirnya menjadi pemicu. Aku latihan beladiri lainnya, ditambah latihan beban agar seluruh otot yang ada di lengan sekuat besi. Pelajaran sekolah tidak terlalu aku pedulikan. Yang penting lulus. Tiada hari berlalu tanpa latihan. Akibatnya, makanku semakin rakus dan tubuhku menjadi jangkung. Ibu diam saja, apalagi ayah. Tapi kulihat ayah mulai ditumbuhi keriput dan tidak setegap dulu meskipun ia masih terlihat tampan.

Beberapa tahun kemudian, setelah lulus SMA, kulihat keriput di wajah ayah semakin banyak. Ayah juga terlihat lemah. Orang-orang yang dulu datang sedikit demi sedikit berkurang. Hampir tidak ada lagi gelak tawa, begitu juga amplop. Ketampanan ayah juga lambat laun memudar. Di setiap pergantian hari, ayah makin terlihat murung. Sampai akhirnya ia sakit dan hanya berbaring di kamar. Sejak itu tak ada seorang pun yang datang, hingga tahun terus berganti dan aku telah menyelesaikan kuliah.
Aku rasanya semakin kuat. Otot-otot di lenganku telah menonjol, mulai dari pangkal hingga ujung jari. Ibu memanggilku di suatu senja yang hampir turun hujan, setelah aku mematahkan batang pohon jambu besar dengan tanganku. Batang itu menjulur ke jalan dan mengganggu kendaraan serta pejalan kaki yang lewat.

Ibu menyuruhku ke lantai dua. Ada satu kamar kosong di sana. Sebenarnya aku tidak suka kamar itu karena apek dan banyak kotoran tikus. Tapi demi ibu, aku menurut. Ketika melewati kamar ayah, aku mendengar dengkurnya yang terdengar seperti penderitaan. Kubuka pintu kamar. Ayah terlihat sangat lemah. Dia mirip makhluk aneh. Mulutnya setengah tertutup dan tangannya sedikit terangkat seperti hendak mencakar. Terbersit di benakku, kenapa ayah tidak mati-mati. Apakah mungkin karena terlalu banyak ramuan dan obat-obatan yang telah menjalar di tubuhnya. Kembali kututup pintu kamar. Ada perasaan kasihan, tapi sedikit sekali.

Ternyata kamar di lantai dua telah bersih dan berbau harum. Ada jambangan berisi melati di setiap sudut dan tikar pandan di tengah-tengah. Aku langsung bersila di atasnya. Tak lama kemudian ibu masuk sambil membawa pendupaan yang mengepulkan asap. Ia berpakaian putih-putih, juga ada bunga kamboja putih di atas telinganya. Ia memang telah tua, tapi masih terlihat molek.

Aku menganga. Apa yang akan ibu lakukan? Ia serupa penyihir cantik.

�Julurkan tanganmu.�

Aku menuruti perintah ibu. Ia meremas-remas lenganku. Tampaknya ia meremas dengan sekuat tenaga. Bagiku, rasanya seperti sedang diusap-usap dengan kapas.

�Otot-otot di lenganmu sudah sangat kuat,� kata ibu. �Sudah saatnya.�

�Saatnya apa, Ibu.�

�Mewarisi ilmu tapak tangan ayahmu.�

Ilmu tapak tangan ayah? Ada gambar ayah di pikiranku. Seorang lelaki lemah yang tengah terbaring sakit. Ia tidak bisa bergerak. Tidak hidup, namun belum mati. Mungkin seperti dalam cerita-cerita silat, sebelum malaikat maut menjemput, seorang pendekar akan mewariskan ilmu pada anak atau murid kesayangannya.

�Bukan dari lelaki yang ada di bawah.�

Aku terkejut, punggungku seketika terangkat. Ibu seperti bisa membaca pikiranku.

�Dia bukan ayah kandungmu, anakku.�

Mulutku kembali menganga. Banyak sekali yang mengejutkan hari ini. Belum sempat mulutku terkatup, ibu langsung bercerita: dulu, ada seorang pendekar bernama Satria. Ia berasal dari seberang pulau dan pergi berkelana sampai akhirnya tiba di suatu kampung. Di kampung itu ia jatuh cinta, dan gadis yang dicintainya pun memiliki perasaan yang sama. Tapi orang tua si gadis tidak menyetujui karena ia akan dinikahkan dengan anak orang kaya. Meskipun anak orang kaya itu sangat tampan, si gadis tidak terlalu mencintainya. Akhirnya mereka kabur ke kampung pedalaman yang hampir mendekati tengah hutan.

Anak orang kaya itu juga pendekar. Ia mengejar si gadis. Terjadi pertempuran. Satria memenangkan pertarungan. Ia menggunakan aji pamungkas, yaitu jurus tapak tangan. Kata Satria, jurus tapak tangan itu hanya untuk orang-orang yang otot tangannya sekeras baja. Jika tidak, lengan orang itu bisa terbakar. Hanya dengan merapalkan mantra tiga kali dan menghirup ramuan tertentu, jurus itu bisa dikuasai. Satria memberitahu mantra dan ramuan itu pada si gadis.

Hampir setahun kemudian, anak orang kaya itu datang kembali. Mereka bertarung lagi. Tapi kali ini jurus tapak tangan tidak berdaya. Ternyata anak orang kaya itu telah menguasai ajian pajaka. Ajian pajaka tidak populer di kalangan para jawara saat itu, karena siapa pun yang ingin menguasainya harus dikebiri. Demi harga diri, anak orang kaya itu rela melakukannya. Akhirnya Satria tewas, dan gadis itu dibawa oleh anak orang kaya ke kota dalam keadaan hamil muda.

�Satria adalah ayah kandungmu. Si gadis adalah ibu, dan anak orang kaya itu adalah ayah tirimu yang ada di bawah. Ia dulu pendekar sakti yang dikebiri. Itulah mengapa kamu tidak punya adik.�

Rasanya semua rambut di sekujur tubuhku berdiri. Ada yang bergolak di dada, percampuran antara terkejut, gembira, gelisah, khawatir, marah, kesal, cemburu, dendam, dan sedih. Hawa dingin dan panas datang silih berganti.

�Kamu siap menerima ilmu tapak tangan, anakku?�

Tanpa sadar aku mengangguk.

Beberapa jam lagi langit cerah. Aku tiba-tiba sadar. Badanku terasa sangat segar, dan kedua lenganku laksana bunga yang baru mekar. Aku rasanya bisa meremukan apa saja. Dunia ada dalam genggaman. Semua penghalang bisa kutebas dengan tangan. Kulihat ibu duduk bersandar di dinding ruangan. Satu lengannya memegang kalung melati.

�Anakku, ibu lelah. Ibu ingin beristirahat sebentar.�

�Baik, Ibu.�

Aku turun. Aku seperti manusia baru, merasa benar-benar bagai seorang pendekar sakti. Bukan hanya yang selama ini aku tonton di televisi.

Ketika melewati kamar ayah, lamat-lamat aku mendengar erangan kepedihan bergumul keputusasaan. Kudorong daun pintu. Posisi ayah masih seperti sebelumnya: mulut menganga dan tangan terangkat seperti hendak mencakar. Aku masuk dan mendekati ayah tiriku. Matanya melirik. Sekilas aku melihat rona wajahnya seperti sedang berhadapan dengan malaikat pembawa maut.

Ayah berkata sangat pelan. Tak jelas, aku tak mengerti. Ia terlihat ingin berkata-kata lagi. Kudekatkan telinga ke mulutnya. Akhirnya engkau datang juga, begitu kira-kira yang kudengar. Ia kemudian melanjutkan bicaranya dengan sangat terbata-bata, cepat lakukan, aku sudah tidak tahan dengan penderitaan selama bertahun-tahun. Ilmu dan kekuatanku telah musnah. Tapi jiwaku masih terperangkap di jasad ini. Menyakitkan sekali.

Aku mengangkat kepala. Kupandangi wajah ayah. Rasa kasihan muncul. Kali ini sangat dalam. Belum pernah aku merasa kasihan pada seseorang sedalam ini. Tanpa sadar, tanganku terangkat. Seolah ada maha kekuatan yang menggerakannya. Jari-jemari terbentang, dan perlahan merambat ke leher ayah. Dalam sekali cengkeraman, tangan ayah yang tadi sedikit terangkat telah turun. Mulutnya tak lagi menganga, melainkan tertutup dan membentuk garis senyum. Ketika cengkeramanku terlepas, ada bekas tapak tangan di leher ayah berwarna kemerahan yang dibarengi sedikit kepulan asap berbau melati.

Aku keluar. Kulihat ibu telah berada di ruang tengah. Kalung melati masih digenggamnya. Aneh, ada beberapa helai uban di rambut ibu.

�Ibu.�

Aku memeluknya.

�Tidak apa-apa, anakku.� Ia membelai kepalaku. Suaranya lebih halus dari angin sepoi-sepoi. �Sekarang pergilah engkau ke rumah Pak RT. Beritahu bahwa ayahmu telah tiada. Ibu akan menyiapkan tikar untuk para pelayat.�

Aku mengangguk.